The Prisoner of Beauty Kept Me a Prisoner for 2 Years.

Halo halo semua. I’m back with my (annual) blogging with another review of my favourite drama. Kali ini period Chinese drama yang udah hampir 2 tahun saya tunggu tayangnya, karena di Cdramaland, apapun bisa terjadi meskipun produksi dramanya udah selesai. Like, bisa aja drama yang udah selesai kena sensor dan harus potong episode, atau salah satu castnya tiba2 kena masalah yang dinilai amoral atau melanggar hukum sama pemerintah. This drama, The Prisoner of Beauty (TPoB) was one of my most anticipated dramas because I love Liu Yuning (the male lead), dan ngeliat dari teaser yang udah keluar, it was a visually stunning drama. I haven’t watched Song Zuer (the female lead) in anything, jadi saya cukup kaget waktu tau kalo ternyata SZE itu child actor, jadi dia udah lama banget jadi aktor.

Dramanya selesai produksi sekitar akhir 2023 dan direncanain tayang tahun 2024, saat tiba2 berita tentang tax eviction SZE keluar. This was a “death” sentence for a Chinese actor career, if proven true. So TPoB was caught in a limbo for more than a year, ga tau bakal tayang atau ga, tergantung dari hasil penyelidikan pemerintah. So that’s why, when 2025 arrived, I was more pessimistic rather than hopeful that it will air. Akhirnya saya putuskan untuk baca novelnya, versi terjemahan English non resmi pake AI jadi banyak bahasanya yang menurut saya kaku, but it’s fine, I’ll survive the bad grammar.

And then, comes May 2025, ketika tiba2 salah satu drama SZE tayang, airdropped (semua episodenya langsung keluar tanpa promo), dan mulai berhembus kabar TPoB pun akan tayang, karena kasus pajak SZE sudah clear dan dia terbukti ga bersalah (dia kabarnya difitnah salah satu mantan pegawainya, it’s a long story for another day). I was so ready, tapi khawatir juga kalo ternyata ga sesuai ekspektasi. Ternyata setelah tayang beberapa hari, review awal mulai keluar, it was very well received, baik di China maupun international audience. Saya yang nonton via WeTV VIP pun sampai bela2in beli paket express 60rebu biar bisa dapet episode lebih cepet. Huaaa.

It became one of my top Cdrama ever. It might not be the best drama ever made, but the feels it gave me was something that was a warm tingling happiness. I love the drama far better than the novel. Akan saya jelasin satu2 faktor kenapa saya sampe promosi ke temen2 buat nonton, ikutin semua video behind the scenes yang super cute, dan nontonin video interview dan livestreaming mereka setelah ternyata TPoB booming dimana2. Secara objektif, saya bisa mengakui kalau TPob lebih merupakan drama romance dibandingin drama politik, and it works so well in that regard. Penonton yang lebih suka intrik politik rumit dan perebutan kekuasaan mungkin bakal bilang kalau TPoB boring, and I can see why. But man, I love this drama so much, with all of its flawed writing and rushed ending regardless.

Read More »

Lovely Runner. The Little Drama That Could.

Hello everyone (like there’s anyone still reading this abandoned blog). Iya saya udah ga nulis blog 2 tahun, dan iya, di Instagram story sering banget ngeshare mau nulis ini itu, dan ga ada yang terlaksana. Ya beginilah kalau jadi orang yang acutely procrastinating. Pas ada ide mau nulis apa ga segera dilaksanain, akhirnya terlupakan. Nah postingan kali ini semoga bisa menjadi awal dan penggerak (halah) buat kembali nulis, meskipun kemungkinan besar udah jarang orang yang mampir ke blog. I should do it for myself. To remind me how satisfying it is reading your own thoughts and rambling immortalized in some way. Okay, enough rambling and excuses, let’s start the post by saying that this post is gonna be pretty long.

I’ve been watching Korean dramas for as long as I remember, starting from the time of “Winter Sonata” and “Endless Love” era, where my aunt and my mom was so enthralled by the beautiful landscape and the subtleness of the emotional storytelling. Jadi saya nonton Kdrama itu bukan karena ngikut yang lagi booming sekarang2, tapi udah sejak jaman Kdrama ditayangin di RCTI, dan belum ada yang Namanya OTT atau streaming service. Nah, beberapa waktu belakangan, saya kok ngerasa makin kesini formula Kdrama udah makin sama ya, utamanya yang romance atau romcom. Kebanyakan Male Leadnya (ML) adalah tsundere yang keliatan keras dan menyebalkan di luar, tapi ternyata uwu mellow di dalam. Female Leadnya (FL) sih makin kesini makin bagus karakterisasinya, tapi biasanya clumsy, atau candy type. Bisa ditebak nanti mereka bakal ada kiss scene di ep 8, honeymoon phase di ep 9-12, kepisah di ep 13-14, dst. Akhirnya semakin kesini saya justru semakin sering nontonnya kalau romance itu Chinese drama. Kdrama yang lebih sering saya tonton biasanya genre thriller, action, atau yang crime related gitu. Kalau untuk yang slice of life, akhir2 ini Cdrama lebih unggul (“Meet Yourself”, “Hidden Love”, “Will Love in Spring” are my current favourites).

Nah dalam 3 bulan ini ada drama yang judulnya “Queen of Tears” yang hype banget, rating bombastic dan reviewnya sampe mid juga bagus, akhirnya saya mutusin, oke coba nonton yang ini deh. Apalagi dari segi penulis (Crash Landing on You) dan aktor2nya reputasinya juga menjanjikan. The first 8 episodes was good, some great even. Okelah minat nonton saya balik lagi. karena MLnya berhati lembut, dan FLnya yang lebih tough. Jarang kan. Eh tapi kok setelah episode 10 saya nontonnya berasa capek, ceritanya makin lama makin ga menarik, karakternya ga masuk akal, dan chemistry pasangan utamanya kok makin lama makin berkurang. Bukan masalah akting sih yang saya lihat, lebih ke writing dan directingnya. Sampe episode 13 saya udah mulai nonton dengan speed 1.5, dan akhirnya episode 14 saya nyerah. Agak kesel dan menyesal ngabisin waktu nonton 14 episode tapi ga sanggup untuk nyelesaiin. Jadi maaf buat yang menilai drama ini bagus banget, saya beda pendapat ya. Setelah itu saya jadi sebenernya agak males buat memulai lagi, padahal ada drama baru yang udah saya tag pengen nonton karena suka sama Kim Hyeyoon dari dulu. Judulnya “Lovely Runner”, dimana MLnya Byeon Wooseok, model turned actor yang saya waktu itu cuma tahu dari Running Man karena dia jadi bintang tamu.

Karena takut kecewa lagi, saya pengen nungguin sampai episodenya banyakan dulu, baru mulai nonton. Tapi ya tapi, selesai 4 episode tayang, dimana2 mulai muncul banyak banget editan fans yang mengancam spoiler. Dan dari synopsis kok kayaknya ringan ya, tentang seorang fangirl yang time travel ke masa lalu buat nyelametin bias idolnya yang meninggal, diduga self-inflicted. Jadi ini genrenya fantasy romantic comedy. Oke lah, saya mulai nonton karena kok kayaknya ringan. Episode 1, lho kok lumayan deep ya back storynya. Lho, kok sedih, lho kok ketawa. Lanjut episode 2, lho kok ternyata lucu dan receh, dan boom, ending episode 2 yang mengungkap twist POV bener2 langsung bikin saya mikir, oke, harus nonton ini. Jadilah setelah sekian lama saya ga nonton drama ongoing, saya terpaksa nonton ongoing. Selain karena ancaman spoiler, juga karena kebahagiaan yang saya rasain abis nontonnya. Berkesan berlebihan kah? Kalau saya sih prinsipnya, do what makes you happy, enjoy what makes you happy. Kalau ada yang happy nonton Queen of Tears, congratulations! Ga akan ngejudge, yang saya judge dramanya itu sendiri kok. Haha.

Jadi, apa yang bikin saya sampai bilang saya bahagia nonton Lovely Runner? Oke, saya mulai dari technical things dulu ya. Yang bisa diliat secara kasat mata (minor spoilers here and there).

Read More »

Love – Part 11. Wood Anniversary. A Short Reflection.

Hello everyone who somehow stumbled into this messy blog. I should’ve written this post like a month ago, but as usual, being a perpetual procrastinator, it’s already a good thing that this post is even coming out. I don’t know what I’m supposed to write to be honest. But even I know that I should at least try to commemorate something as meaningful as a five-year wedding anniversary, which mine happened like a month ago. Who would’ve guessed that I’m able to being committed to one person for a whole five years? Well, not me. I know I’ve been in a very long on and off relationship before, but it being on and off I guess we can all agree that it didn’t count.

So, how do I feel after living with another person for five years? To be honest, never better. I’d lie if I say that it has always been easy. It hasn’t. We’ve been through so many things that I’ve never imagined I’ll ever survive before. So many trials and tests, including our struggle with fertility in earlier years, financial misfortunes, global pandemic which force us to face each other every minute and every day for almost 4 months straight, and many other things that I’d like to keep close to my chest. The ride could’ve made one of us want to jump out of the ship. But luckily both of us decided to try again and again to stay afloat this far, offering each other life vests when the other one felt like drowning.

There’s one thing that I know for sure now, I will always have my person with me. The one who will grumpily say that I make no sense when I cried watching a drama, but still accept my snuggle because he knows that I need comforting and my love language is hugging. The one who will just shake his head watching and listening to my crazy dance and singing. The one who will give constructive criticism (very carefully) to my cooking. The one who not only understands but also accepting my decisions, and having my back, even when I know that no one else will. The one who will sneakily showing off that I’m good at drawing to anyone who will listen. He and I both are bad at romance and being romantic, but as I’m writing this paragraph, even without the sweet words or the grand gestures, I can’t help to think that our life is pretty romantic indeed.

Hey, you, I know there’s a very slim to non-chance you will read this post, because you hate learning English, which annoyed me to high heaven, but still, If I really must choose my person, knowing what I know now, I wouldn’t want to have it any other way. Happy fifth!

The Carefree Child Inside.

I suddenly found out a big secret.

There’s no adult in this world.

As we grow up, we need to look mature.

Only after we got drunk, and being alone, we’d put our guards down before the one we love and be the carefree child once again.

I really hope that we can become the big heroes that overcome every obstacle and at the same time, the children that are loved.

Sweet Teeth Episode 08

My 5 Weeks Journey Of Chinese Drama. Part 2.

Halo2. The next part that I want to write about is my Cdrama review and recommendation. I know I haven’t had that many Cdrama under my belt. Tapi dari beberapa yang sudah saya tonton sejauh ini bikin saya lanjut pingin nonton Cdrama lainnya. Cara saya buat milih Cdrama yang pingin saya tonton itu buka mydramalist, dan pilih drama2 yang nilainya di atas 8.0 di mydramalist. Sejauh ini tag genre yang saya pilih masih romance doang, karena masih males nonton yang terlalu berat. In this post I’ll write a little synopsis and review, and then I’ll rate it using my own “very trusted” rating system where I’ll give it 1 to 10 score in categories: Story, Acting, OTP (One True Pairing, Pasangan Utama) Chemistry, Happiness Level Afterwards (HLA), and Objective Score. Iya saya setengah nyontek Mydramalist kalau kasih review biar lebih komprehensif gitu maksudnya. Halah. HLA itu lebih ke penilaian pribadi, terlepas dari bagus atau gaknya drama, asalkan saya happy nontonnya, sedangkan objective score lebih ke nilai dramanya kalau kita analisis secara objektif, tanpa matiin logika. Okay, without any more blabbing, let’s go!

You Are My Glory (2021)

Genre: Romance, Drama

What can I say, You Are My Glory is my gateway drug to Cdrama. I wasn’t expecting anything watching this but I got hooked on the first episode. It’s about two highschool friends, Yutu (Yang Yang), the handsome number one student yang bercita-cita pergi ke Mars suatu saat, dan akhirnya bekerja jadi aerospace engineer, dan Jingjing (Dilraba Dilmurat), murid yang biasa2 aja, tapi cantik dan pas dewasa jadi salah satu celebrity papan atas. Jingjing confessed her feeling to Yutu in higschool but got rejected, dan mereka ga pernah kontak lagi sejak lulus, sampai suatu saat mereka ketemu lagi secara virtual saat Jingjing dan Yutu tanpa sengaja ngegame bareng (iye game nya beneran ada, PPL gitu deh), dan akhirnya mulai berteman lagi dan pelan2 saling jatuh cinta. Oh, how I love this drama! Memang ada beberapa side story yang menurut saya agak terlalu panjang (cerita coworkernya Yutu yang lagi sakit mungkin bisa dipendekin dikit), tapi ga mengurangi jalan ceritanya yang menurut saya konfliknya realistis. Yutu dan Jingjing hidup di dunia yang berbeda banget, satu scientist, satu celebrity, dan perjalanan mereka buat saling mendukung dan memahami itu menurut saya salah satu contoh drama couple yang komunikasinya sehat. Keraguan Yutu saat awal jatuh cinta sama Jingjing juga masuk akal, karena ngebayangin gaji scientist bisa ga mengimbangi gaya hidup Jingjing, dan ngerasa ga bisa ngasih apa2 ke Jingjing, sampai akhirnya dia menyadari kalau dalam hubungan itu banyak hal yang bisa diberi selain materi. Uwuwu. Dan jangan kuatir soal angst, yang ada nonton ini bawaannya happy berbunga2 gitu. Wajib nonton kalau mau coba Cdrama.

Story: 9/10 ꟷꟷ Acting: 9/10 ꟷꟷ OTP Chemistry: 10/10 ꟷꟷ HLA: 10/10 ꟷꟷ Objective Score: 9/10

Read More »

The Story of How I Got Into Chinese Dramas. Part 1.

Hello everyone. Postingan kali ini sebenernya dibuat karena saya ngerasa lama2 keseringan sharing tentang Chinese drama di Instagram story, atau secara offline gangguin temen2 saya yang selama ini cuma nonton Korean drama aja, promoin ke mereka kalau Cdrama juga punya pesona tersendiri. Daripada saya makin lama makin annoying kan ya, mending saya ngoceh di tempat yang layak, macam blog ini. Jadiii, tanpa sengaja beberapa minggu lalu saya nemu postingan tentang Cdrama judulnya “You Are My Glory”. Iseng ngecek Mydramalist, eh nilainya kok lumayan tinggi. Liat pemainnya, eh kok ganteng dan cantik (I’m shallow, I know). Nonton deh. Eh kok ternyata bagus ceritanya, dan abis nonton bikin bahagia. And since then, I never looked back. Hahahah.

Emang sih, beberapa waktu terakhir ini saya lebih menikmati baca buku (eBooks) atau nonton drama/film yang ringan2. Lagi males mikir berat katanya sih. Kenapa saya kok jadi addicted sama Cdrama (utamanya yang genrenya Romantic Comedy)? Because they all sooo delightfully cheesy. They’re not afraid of cringe, but that what makes it so fun to watch. Memang kalau dari segi sinematografi, Kdrama lebih bagus menurut saya, scene2nya biasanya nuansanya soft, moody. Sedangkan Cdrama kalau diliat2 lebih banyak pakai CGI, bahkan untuk finishing backgroundnya. Jadi yang ga biasa nonton mungkin agak kaget dengan perbedaan utama yang ini. Lainnya juga tentang sound mixing. Beberapa Cdrama sayangnya pakai dubbing untuk dialognya karena katanya untuk menyeragamkan logat dan bahasanya, yang kadang2 bikin kita jadi agak kurang menghayati karena keganggu sama pengucapan yang beda sama suara. Tapi ga semua Cdrama di-dubbing kok. Dan kalau saya sih, selama aktingnya oke, masih bisa dikesampingkan masalah dubbing ini. Satu lagi hal yang agak beda, kalau OST-nya lagi on, di samping kanan layar biasanya muncul text lirik lagunya.

Oiya, buat yang mau memulai dan gemeter liat jumlah episodenya, 1 episode Cdrama rata2 30 menitan. jadi meskipun jumlah episodenya banyak, overall jumlah jamnya ga jauh beda sama standar Kdrama sih.

Okay, now let’s dive into what makes Cdrama delightfully cheesy. Cdrama ga ragu2 menggunakan romcom tropes (klise) yang bikin kita biasanya eye rolling kalau ada di Kdrama karena seringnya dipakai sebagai alat penggerak plot. Klise2 (trope) yang sering dipakai di Kdrama ataupun Cdrama:

  • Childhood connection: hampir semua Cdrama yang udah saya tonton Male and Female Lead nya punya childhood connection. Entah mereka sahabatan waktu kecil, atau salah satu Leadnya menyimpan perasaan sejak kecil, terus kepisah, eh pas udah dewasa ketemu lagi. Saya sempet sebel tiap kali liat ada trope ini, eh terus inget kalau saya sama suami juga punya childhood connection. Duh. Eye rolling level 4 out of 5 – I can do without it.
  • Contract relationship: oh yes, the delicious dance of awkwardness from a fake relationship. Trope yang ga pernah gagal bikin ketawa atau senyum2 if done right. Asalkan eksekusinya bagus, trope ini emang jitu banget buat romcom. Eye rolling level 2/5 – it’s fine, as long as it’s done right.
  • Accidental skinship: Accidental kissing anyone? Kayaknya di kehidupan nyata kalau kita kesandung yang ada kita malu dan benjol yak. Belum pernah denger ada yang kesandung, terus jatuhnya nimpa mas2 ganteng, eh kok bibirnya pas tempatnya sama bibir kita. Eye rolling level 4/5 – I can do without it.
  • Strong Female Lead: Dari semua Cdrama yang saya tonton, somehow saya selalu milih yang female leadnya strong. And this is the trope that I can get behind. Strong bukan berarti bisa tarung atau punya kekuatan gitu. Strongnya bisa dalam bentuk kuat secara mental juga. Ga butuh perlindungan dari male leadnya. Eye rolling level 0/5 – Yes, ten thousand times yes.
  • Protective Male Lead: Setiap kali mbaknya butuh, masnya selalu siap sedia pasang badan entah buat melindungi dari bahaya atau buat peluk, uwuwu. Biasanya juga male leadnya suka dipancing sama second male lead biar cemburu dikit, eh terus jadi protektif deh sama si mbaknya. Kalau udah protektif gini, meskipun saya suka sama strong female lead, tapi tetep aja bikin hati uwuwu. Eye rolling level 1/5 – Gimme mooorrree.
  • Bestie For Life: Every Heroine need cute sidekicks. Hampir semua Cdrama yang saya tonton selalu mengedepankan persahabatan antara female lead sama sahabat ceweknya (single ataupun plural). Meskipun kalau dianalisis secara mendalam mereka ga bakal lulus bechdel test, but I would always choose it over catty girls fighting over boys or jobs. Eye rolling level 0/5 – Yes, ten thousand times yes.
  • Meeting The Parents: somehow semua Cdrama selalu menghadirkan plot ketemuan sama orang tua. Mungkin karena memang peran orang tua penting banget dalam budaya timur (khususnya China dalam hal ini), jadi setiap kali Leadsnya resmi jadi pasangan, Langkah selanjutnya adalah ketemu orang tua masing2. Dan yang bikin saya seneng, hampir semua orang tuanya welcome sama pasangan anaknya. Sejauh ini belum ada ortu Cdrama yang ngasih amplop atau lempar gelas air ke pasangan anaknya. Kalaupun ada keberatan, rata2 alasannya masuk akal dan biasanya endingnya happy semua. Eye rolling level 1/5 – Gimme mooorrree.
  • Bad timing/Noble Idiocy: kalau trope yang ini biasanya dipakai sebagai alat buat misahin OTP (One True Pairing) sementara. Trope yang paling bikin sebel kalau alasannya ga masuk akal. Luckily, Cdrama jarang pakai trope ini di akhir2 cerita. Dan so far belum ada yang bikin kita jambak rambut karena jengkel. Eye rolling level 5/5 – Throw it away in the ocean.
  • Period Talk: yes, I’m talking about THAT period. Saya ga tau ini trope atau bukan ya, yang pasti saya (pleasantly) surprised pas nonton Cdrama karena sering banget mereka nunjukin saat female leadnya lagi dapat period, kayak normal aja gitu. Terus masnya dapet kesempatan buat nunjukin perhatian ke mbaknya dan ngerawat pas mbaknya sakit bulanan. It’s both sweet and revelatory for me. Semoga makin banyak drama/film yang nunjukin hal2 kayak gini buat normalisasi period talk, karena ga semua cowok punya pengetahuan yang cukup tentang masalah ini. Eye rolling level 1/5 – Gimme mooorrree.

So those are some of the staples in Cdrama tropes. I might have missed some, but I assure you, once you read this post and then proceed to dip your toe into Cdrama, you’ll know that I’m right on the money with those. Sebenernya saya dari kemarin galau mau lanjutin post ini sama review dan rekomendasi beberapa Cdrama yang udah saya tonton (Romcom ataupun bukan), tapi kok kayaknya postnya nanti bakal jadi panjang bingit yah. Jadi saya putusin kalau review2nya bakal saya posting di post selanjutnya aja. I swear I’m writing it right now and will surely post it in the next 2-3 days. I really hope you can stay tune and wait for it too. See you!

Comfort. Freed. Liberated.

I don’t get how you can like someone so much that your heart pounds.

It’s not that I’ve never liked anyone that much.

I’ve never really liked anyone that much.

Anyway, my heart only pounds when something bad is happening

When I’m embarrassed,

when I’m angry,

before a 100-meter sprint…

It was always for bad things.

My heart never beat fast because I liked someone.

When I really like someone, I think the opposite happens.

My heart beats even slower.

Like I’ve been freed from something.

Like I feel peace in my heart for the first time.

Yeom Mijeong – My Liberation Note Episode 07

Mi-Jeong just gave the perfect answer.

When you’re happy, you just are.

But your heart pounds when you think you have a chance at something.

Like some kind of expectation.

When something’s yours, you just know.

Does your heart pound when you get paid?

No, because it’s yours.

But when it’s not yours and you know it’s not, but you think you might get it if things work out…

That’s when your heart starts pounding.

Relationships are the same.

Some married couples say, “I just knew they were the one at first sight.”

If you ask them, they say when they met, it was like, “You’re the one.”

Their hearts didn’t beat like crazy, but they were just like, “You’re the one.”

You just know that it’s yours.

Relationships are like that.

There’s nothing to long for. It’s yours.

Rich people don’t yearn for designer clothes. They just buy them.

When you desperately long for something, your soul already knows deep down that it’s not yours.

You want it, but you know it’s not yours.

That’s what drives you crazy.

Yeom Changhee – My Liberation Note Episode 07