Belum lama ini saya bertemu dengan seorang laki-laki. Entahlah siapa namanya. Saya lupa. Mungkin dia pernah menyebutkan namanya, tapi saya benar-benar lupa. Yang jelas, laki-laki itu tampak tidak terawat. Jaketnya hitam mungkin karlit (tiruan kulit) atau mungkin juga dari bahan oscar. Di balik jaket itu hanya ada kaos oblong (orang jawa menyebutnya seporet, saya curiga dari kata sport). Jaket itu dibiarkan terbuka, sehingga saya dapat melihatnya dengan jelas. Warna kaos itu sudah tidak putih lagi. Ya, mendekati kecoklat-coklatan karena sudah lama.
Dia memparkir motornya di dekat bengkel. Angin sangat kencang waktu itu, belum lagi butiran air hujan yang besar dan keras. Betapa sakit mengenai kulit. Hujan itu membuat saya lebih menepi, mencari tempat berteduh agak ke dalam. Kebetulan tempat saya berteduh itu tidak jauh dari bengkel, sekitar tiga meter.
Saya tetap bersikeras mencegat angkot. Jalan itu hanya dilewati satu angkot yang akan membawa saya ke Jalan Solo. Kalaupun ada angkot atau bis lain, pastilah saya harus berganti dua bis lagi untuk sampai ke tujuan. Ah, betapa tidak praktis, bukan. Untuk itu saya hanya percayakan pada satu angkot yang setia saya tunggu kapanpun dia datang.
“Jalur 16 habis-nya jam berapa?” tanya saya pada seorang penjaga warung.
Asal tahu saja, di Jogja tidak semua angkot narik sampai malam. Tidak seperti di Bandung, kan? Jadi penumpang angkot dan bis wajib tahu kapan bis dan angkot terakhir berjalan. Baiklah, di Jogja memang ada TransJogja, tapi percayalah bis itu memiliki jalur tertentu yang tidak mungkin mencapai pelosok dan jalan raya lainnya. Hampir bisa dikatakan, TransJogja hanya mencapai beberapa titik penting berkaitan dengan pariwisata dan pendapatan daerah lainnya, seperti bandara, stasiun, terminal, pusat perbelanjaan mall dan pasar), dll.
“Biasanya bis habis jam empat, Mbak…” jawab penjaga toko yang juga sedang ketar-ketir lihat hujan campur angin. Bagaimana tidak? Seng di depan tokonya hampir melayang gara-gara angin. Bahaya!
Saya semakin cemas saja. Wah, kalau tidak ada angkot, aku akan berjalan ke perempatan untuk cegat jalur 7 yang habisnya paling tidak jam tujuh sampai jam delapan (kalau tidak salah ingat). Baru saja berniat akan berjalan di antara hujan gerimis, laki-laki setengah baya tadi menegurku.
“Bareng saya saja, Mbak. Nanti saya antar sampai perempatan. Di sana banjir”
Saya percaya jalan yang akan saya lewati nanti memang banjir. Saya pernah lewat jalan itu sebelumnya.
“Maaf, pak. Tidak usah…”
”Tidak apa-apa. Saya naik motor kok. Nanti mbak-nya tidak klebus.” Klebus itu artinya basah kuyup.
Saya tetap menolaknya dengan halus, sambil minta maaf berkali-kali, tapi dia juga tetap menawarkan jasanya sambil beralasan berkali-kali. Saya jadi curiga lama kelamaan. Apa yang dia inginkan dari saya? Apakah saya cukup cantik atau saya kelihatan memiliki barang berharga, emas misalnya? Ah, saya tidak cantik, saya kira. Emas juga tidak ada. Hp? Yah, hp saya juga hp murahan. Maaf ya, kenikmatan seks? Saya sama sekali tidak seksi dan suara saya tidak mendesah resah. Jadi, tidak mungkin! Oh ya, kadang perempuan terlihat seksi ketika basah. Saya juga sempat berpikir seperti itu, tapi please deh. Saya kan sudah bilang, saya menghindari hujan. So, saya tidak basah. Wah, saya jadi bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan saya itu.
Baiklah, apapun itu. Saya lihat dulu motornya. Bebek! Saya tidak perlu menyebutkan mereknya. Pastinya, itu motor tua yang pendek dan lebih sering terdengar ‘batuk-batuk’. Lalu, saya perkirakan kemampuan laki-laki itu secara fisik. Saya pikir pawakannya tidak terlalu tinggi, kemudian dari matanya yang kemerahan, sepertinya dia sering minum. Badannya juga tidak terlalu kuat: kurus kering dan lemas. Saya perhatikan juga titik-titik yang memungkinkan saya untuk menghentikannya suatu saat kalau perlu. Biar bagaimanapun, saya harus berjaga-jaga.
“Apa tidak merepotkan?”
“Tidak, mbak…cuma sampai perempatan kan?” ya, tapi perempatan itu lumayan jauh. Kami akan melewati banyak tikungan, gang dan jalan yang kanan kirinya sawah (mbulak).
“Ya, sudah…terima kasih sebelumnya,” kata saya basa-basi.
Akhirnya saya bonceng dia dengan posisi miring. Saya sudah terlatih untuk boceng miring dengan segala konsekuensi. He he he. Ya, secara logika. Bonceng miring memudahkan kita turun dari motor, daripada bila kita bonceng dengan cara melangkah (duduk menghadap depan). Kalau saya lebih tinggi dari motor itu, saya akan memilih membonceng dengan cara melangkah, tapi selain saya tidak tinggi, waktu itu saya memakai rok. Meskipun rok, saya masih bisa menendang karena roknya cukup lebar untuk itu. Awalnya sih, biar kelihatan feminin gitu deh…kan waktu itu malam minggu he he he. Clingk!
Di perjalanan, dia terus saja nyerocos. Cerita tentang banjirlah, sawahlah, macem-macem deh. Nah, saya, sebagai penumpang, merasa harus mengimbangi, maka saya sesekali berkata, “ya”, “O iya ya?”, “he he he”, “Ehm…’, dsb. Saya agak malas mengimbangi pembicaraannya, jadi ya kata-kata itu saja yang keluar dari mulut.
Belum habis perjalanan, motornya mogok di jalan.
“Kenapa, pak?”
“Mungkin businya…”
“O…”
“Kita mampir dulu ke teman saya…pinjam kunci busi”
Ini dia, pikirku. What the hell.
“O ya…di mana itu”
“Tidak jauh kok…”
Kami berjalan sekitar lima menit dan sampailah ke sebuah rumah di pinggir jalan. Dia mengetok pintu. Si empunya rumah keluar. Dia memakai kaos dan celana pendek putih.
“Motorku macet…paling busine…duwe kunci busi?”
“Ono…sik yo” dia masuk sebentar, lalu membawa kunci busi.
“Mbak e iki sopo?”
“Iki mau nunut mbonceng tekan perempatan…”
“Ngapusi…sopo hayo!”
“Tenan…kok! Takoni wae”
“Apa iya, mbak…soalnya dia sering bohong itu…”
“Iya kok…saya tadi berteduh dan saya mau bonceng sampai perempatan.”
Tidak ada apa-apa setelah itu. Saya menunggu untuk menghormatinya, sedang dia utak-atik motornya. Lumayan lama. Saya bahkan menunggu apakah ia mau berbuat jahat. Oh, rupanya tidak apa-apa. Yah, karena lama menunggu dan saya khawatir kehabisan bis, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan saja.
“Maaf, pak…saya jalan saja. Perempatan sudah dekat kok…”
“O ya, mbak..maaf ini motor saya mogok”
“Oh, tidak apa-apa.”
Setelah itu saya berjalan dan menunggu bis berikutnya datang. Di jalan saya terus berpikir. Kalau saja ia mau berbuat jahat, kesempatan itu selalu ada. Saya sempat masuk rumah itu beberapa waktu. Saya juga sempat menunggui dia memperbaiki motor. Lantas, apakah dia menggunakannya untuk berbuat tidak baik. Tidak!
Apakah saya sedang beruntung hari itu? Ya, tidak semua laki-laki memiliki hati emas seperti dia. Masih mau menolong, meskipun ia sendiri dalam kesulitan. Ehm…nyatanya dia memperbaiki motornya dengan serius untuk segera mengantarkan saya ke perempatan.
Yang saya tidak habis pikir, kenapa ya orang di sekitar kita sulit percaya terhadap orang yang sudah biasa berbuat tidak baik. Bukankah orang jahat, apapunlah namanya, masih diberi kesempatan Tuhan untuk berbuat baik selama hidupnya. Meskipun memang ada juga yang tidak memanfaatkan kesempatan itu.
Banyak dari kita yang melihat permukaan, kulit luar, fisik belaka, padahal seseorang dikatakan baik atau tidak baik, bergantung dari hatinya. Ya, begitulah, hati memang tidak bisa dilihat dari luar, tapi itu bisa dibuktikan dengan tindakan.
Apapun itu, sedapat mungkin kita memberi kesempatan mereka untuk memperbaiki diri, tentu juga harus berjaga-jaga untuk bersiap mendapati kemungkinan terburuk sekalipun. Kalau anda yakin dapat membantu orang lain, lakukanlah segera. Sebaliknya apabila anda tidak yakin terhadap diri sendiri, janganlah sekali-kali mencoba. Bukankah keberuntungan tidak didapatkan setiap hari?