Rindu Tak Tertahankan

Apalah arti rindu?

Mungkin seperti ini rasanya

seperti tenggorokan yang kering dan lidah yang pahit

dadaku sakit karena detak jantungku mengalahkan pengucapanku

ingin panggil namamu

lalu bibirku bertambah gemetar

sebab hilang sudah kata-kata dari lapisannya

 

ah, semoga semua baik-baik saja

sehat sealu dan rinduku

semakin besar meski tak ingin aku melelehkannya dengan serta merta

biarkan saja

toh rasa adalah pelengkap asa

biar berlari saja

hingga kaki tak lagi berpijak

dan nafas hilang desahnya

selamat tinggal!

 

Tawa Hafizh dalam Cinta

Satu lagi buku yang aku baca. Bersampul hijau pudar dengan gambar dedaunan dan bunga yang tua di bagian cover-nya. Satu nama tertulis di sana Daniel Ladinsky yang menulis buku Hafizh: “Aku Mendengar Tuhan Tertawa”

Ini buku dapat pinjam dari seorang kawan. Anam namanya. Awalnya kukira ini buku wacana, ternyata isinya puisi semua.  Buku setebal 239 halaman ini memuat 60 puisi Hafizh tentang pengembaraannya mencari cinta illahi dan proses belajarnya menuju cinta yang abadi.

Ia bersama gurunya, Muhammad Athathar telah melewati beberapa fase untuk kemudian sampai pada kesempurnaan cinta. Perjalanannya dimulai dengan cinta pada seorang gadis kaya raya yang tidak mempedulikannya yang membuatnya berkhalwat di makam para wali 40 hari 40 malam. Di malam terakhir ia didatangi sosok (seperti malaikat, Henry S. Mindlin dalam tulisannya mengutip dan menyatakan bahwa sosok itu adalah malaikat Jibril, tapi saya tidak terlalu yakin) yang mengatakan, “Jika utusan Tuhan itu Indah, pastilah Tuhan lebih Indah!” Perkataan itu membuat Hafizh tertarik mencari Tuhan dan melepaskan tujuan semulanya: meraih cinta sang gadis pujaan.

Aku telah jatuh cinta pada seseorang

Yang sembunyi di relung dirimu

Kita mesti bicara tentang masalah ini –-

Kalau tidak,

Tak’kan kutinggalkan engkau sendiri

(Kita Mesti Bicara tentang Masalah Ini by Hafizh)

Hafizh dituntun oleh sosok itu menemui seorang sufi, yang nantinya menjadi gurunya, Muhammad Athathar. Ia seorang guru yang keras, sekaligus lembut. Terkadang ia batu yang sangat keras, namun pernah juga ia menjadi air yang bergitu menyejukkan. Nyatanya, Hafizh tidak pernah menyerah melayani gurunya itu dengan penuh hati demi hubungannya dengan Tuhan.

Jika hanya seorang tua penjaga Kedai

Yang mampu mendekatimu dengan sesungguhnya

Lalu intim bersamamu,

Betapa dahsyat

Hubungan itu

Dengan — Allah, Allah, Allah!

(Seseorang Memanggil Namamu)

 

Ia mengembara seperti orang buta yang gila cahaya, haus cahaya Ilahiyah dan kelaparan dalam kebahagiaan. Hafizh menuntun pembaca untuk tetap berjalan di atas jalan berbatu yang sulit dengan puisi-puisinya yang bagaikan cahaya penerang itu. Ia, tentu saja, pernah melewati jalan itu, jadi tidak pernah sungkanlah ia memberi tahu kit a tentang lika-liku jalan menuju cinta ilahi.

 

Di mata manusia

Dalam permainan cinta yang rumit ini,

Mudahlah untuk menjadi bingung

Dan menganggap engkaulah sang pelaksana.

Tetapi dari Kepastian  Tuhan yang Tanpa Batas,

Dia selalu Tahu

Dialah Satu-satunya

Yang semestinya diadili.

(Satu-satunya)

Satu puisi yang menurutku menyentuh berjudul Aku Bertekad. Ia berkata seoralh-olah sedang dalam batas akhir hidupnya. Lihat saja!

 

//Satu penyesalan, dunia terkasih,/Yang aku bertekad tak ingin memilikinya/ketika aku terbaring di tempat tidur kematianku/Adalah/ Aku belum cukup menciummu.//

Betapa cinta itu mengkristal sedemikian rupa dan menciptakan kerinduan yang mengila membuat hidup tidak pernah cukup hanya dengan sekali saja ciuman. Ia, yang mabuk cinta itu, telah meneguk anggur keabadian cinta dengan cawan yang diberikan gurunya, tepat setelah semuanya lepas dari tangan. Setelah 40 tahun mempelajari cinta dan melayani gurunya, pun telah kehilangan istri dan anaknya, Hafizh kemudian menyungkurkan diri berpasrah utuh pada Sang Cinta yang utama. Pada saat itulah ia menemui cinta yang sempurna yang telah masuk dalam jiwanya melalui kesengsaraan dan kebahagiaan.

 

Lantas, apakah itu saja? Hafizh jelas mengajak kita bertanya apakah tawa itu? Mengapa pula Tuhan tertawa? Untuk apa Tawa itu? Melihat ketololan kita yang berharap cintanya sebagai pengemis dan pengembara, ataukah tertawa karena meledak bersama cinta kita!

 

Cinta ilahi bukanlah pendeta yang penurut

Atau bankir yang ketat

Ia akan menerjang semua jendela

Dan kemudian terbungkus ke dalam

Hadiah-hadiah suci

….

Sampai akhirnya semua yang mampu dilakukan kalbu

Hanyalah meledakkan tawa sekeras-kerasnya

Dengan penuh cinta!

(Ia Memotong Tali Kekang)

 

Inti dari kebahagiaan mewujud dalam tawa. Sebagaimana keriangan yang ditandai dengan gelak tawa. Cinta yang membahagiakan tentu melahirkan tawa karena keasyikannya. Dan Hafizh telah sampai pada keasyikannya bermain dengan Cinta Tuhan. Ia, yang tertawanya menggelak-gelak karena rasa bahagia pun akhirnya dapat melihat Tuhan tertawa bersamanya.

Ketahuilah bahwa di mata tuhan,

Semua gerak adalah bahasa yang menakjubkan,

Dan musik — musik yang memikat dan elok!

Oh, apa itu tawa Hafizh?

Apa itu cinta dan tawa mulia

Yang menguncup dalam kalbu kita?

Ia adalah suara kemenangan

Dari jiwa yang sedang terjaga!

(Tawa)

Betapa Berharganya Engkau, Seandainya Kau Mengerti

Sudah lama saya ingin menuliskannya, tapi entah kenapa tersesat di tengah timbunan ide-ide lain. Saya khawatir tidak sempat menuliskannya dalam hidup saya. Ah, masih ingat kata seorang kawan, “Apa yang akan kamu tinggalkan pada anak cucumu ketika kamu mati hari ini? Dia belum sempat mengenalmu, maka tulislah apapun. Untuk sekadar menjadi kenangan atau monumen yang mengingatkan atau kau justru menjadi bagian dari sejarah.” Dengan bangga, ia pun berujar, “Aku menulis buku harian. Siapa tahu aku mati hari ini. Betapa berharganya aku ini, bukan?” Narsis memang, tapi menurutku dia benar.

Setiap orang menjadi berharga karena ia bagian dari kehidupan. Belajar dari pengalaman De Saussure. Ia tidak sempat mencatat (membukukan) perkataannya yang berharga tentang lingusitik. Beruntung ada mahasiswanya yang dengan rigit menuliskan setiap kata berharga Saussure sehingga menjadi buku yang kini dapat dinikmati para penggila linguistik. Setidaknya di kampusku. Coba kalau tidak ada dua mahassiswanya itu, Saussure yang berharga namanya pasti tidak sampai melintasi ruang dan waktu hingga sampai di abad digital seperti sekarang.

Orang menjadi berharga apabila ia mulai menghargai dirinya sendiri. O ya, saya juga ingat kata Mario Teguh. Kalau tidak salah begini, bekerja atau melakukan pekerjaan dalam hidup ini bukan hanya berarti menghidupi diri (memenuhi kebutuhan biologis seperti makan, dsb), melainkan untuk dua kata yang spesial: harga diri.

Banyak yang bisa dilakukan untuk menghargai diri sendiri, tanpa harus tinggi hati. Menurutku ini penting. Suatu hari saya bertemu dengan seseorang yang kebetulan dosen. Dia galak bukan kepalang. Tidak ramah. Tidak tersentuh. Saya yakin tipikal ini juga akan anda temui di manapun dengan profesi apapun. Bisa menjadi guru, bisa menjadi pedagang, dsb. Orang yang mempunyai pembawaan galak ini, saya kira, memiliki dua alasan: Tidak mau dianggap remeh dan merasa orang lain selalu menganggapnya rendah, padahal itu hanya perasaannya saja. Orang dengan pembawaan ini biasa disebut sebagai temperemental.

Galak cenderung disamakan dengan kemarahan. Artinya orang menjadi galak ketika ia sedang marah. Saya yakin, tidak semua kemarahan diikuti dengan kegalakan seseorang. Hanya orang-orang tertentu saja yang melakukannya. Saya juga yakin, tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan marah-marah. Lebih sering kemarahan membuat masalah menjadi semakin rumit dan besar.

Meski begitu, bukan berarti kita tidak boleh marah. Marah itu harus untuk kasus-kasus tertentu, hanya saja kendalikan diri sendiri apabila gejala marah itu merambat ke kepala anda. Diamlah sejenak, tariklah nafas dalam-dalam. Kemarahan memacu jantung anda memompa lebih cepat. Nafas anda akan terengah-engah atau tidak teratur. Saya yakin, darah yang mengalir ke otak menjadi lebih banyak. Awas kemarahan yang berlebihan juga dapat mengakibatkan stroke. Sayangi diri anda karena anda sangat berharga.

Marah sudah pasti akan terjadi apabila seserang atau banyak orang melukai harga diri kita. Tidak ada yang mau harga dirinya terinjak-injak. Jangan biarkan harga diri anda semakin rendah dengan hilangnya kontrol terhadap diri sendiri.

Harga diri, kawan, bisa memecahkan perang, tapi harga diri juga bisa menjadi kata yang mencerahkan. Saya tidak ingin menasehati anda. Di sini, saya hanya ingin menuliskan sesuatu yang menurut saya berharga untuk kita, sebab saya percaya anda dan saya adalah orang-orang yang berharga. Bukan peminta, bukan pemamah uang orang lain lain bersembunyi dengan senyum lebar yang innocent, bukan penipu yang menaikkan harga diri sendiri dengan pura-pura pintar, bukan orang yang memanfaatkan kasih sayang orang lain, dan bukan-bukan yang lain.

Belekan

Wow…belum lama ini aku sakit mata belekan. Repot banget deh! Lebih repot lagi menjelaskan seorang kawan dari Sulawesi tentang belekan itu sendiri.

Belekan adalah salah satu penyakit yang menyerang mata. Penyakit ini ditandai dengan pegal pada sekitar mata, mata berair, merah, dan senantiasa keluar kotoran matanya (atau orang Jawa bilang belek). Kadang si sakit menjadi pening bukan kepalang karena merasakan sakitnya, bahkan ada juga yang sampai demam. Aku sempat demam gara-gara penyakit satu ini.

Penyakit mata ini sejatinya disebabkan oleh semacam bakteri bernama streptococcus atau stapilococcus yang bisa saja nemplok ditangan atau barang lainnya yang awalnya disentuh oleh si sakit. Ada juga yang bilang sakit mata ini disebabkan oleh sejenis virus. Entahlah, yang jelas virus dan bakteri penyebab sakit mata ini mudah berpindah tempat. Mungkin juga dibawa angin ke sana ke mari.

Penyakit yang datang saat pergantian musim dari musim hujan ke musim kemarau ini menular dengan sangat cepat. Sekadar untuk jaga-jaga saja, kalau di sekitar anda ada orang yang sakit mata belekan ini sebaiknya anda tidak melihat matanya dan menghindari barang-barang yang pernah disentuhnya, kecuali anda cuci tangan setelah memegang benda yang disentuh si sakit. Kalau mau lebih preventif lagi, ya sebaiknya anda selalu dalam keadaan fit. Biar bakteri maupun virus yang berterbangan bebas di udara kita yang kotor ini tidak menyakiti anda.

Tak Akan Ada Tabur Bunga untuk Pangesti Wiedarti dan Fitri Mardjono

Pagi yang mendung. Seperti biasa Io mengantar koran minggu ke rumah kami. Kolom sastra, begitulah tujuan awal sebelum mata bergerak ke berita-berita lainnya. Tidak ada yang menarik di sana. Ya bukan karena tulisannya yang buruk, tapi kadang saya tidak tertarik karena judulnya atau mungkin karena si penulisnya yang tidak saya kenal. Untuk itu mata saya berhenti saja sebentar, lalu menelusur ke judul-judul besar kecil lainnya. <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Persis di halaman sembilan, saya berhenti. Saya menemukan sebuah foto wajah tersenyum yang sangat saya hafal: Pangesti Wiedarti! Ia bersama suaminya, Dr. Ir. Fitri Mardjono Msc, yang merangkulnya dengan keceriaan. Sekitar dua atau tiga bulan lalu, saya sempat ngobrol dengannya tentang teknologi informasi dan kehidupannya sebagai dosen. Kami jarang bertemu, tapi kami sering berkomunikasi lewat email maupun messenger. Lama juga emailku tidak dibalas. Tidak seperti biasanya. Semakin penasaran, saya memutuskan untuk menelponnya. “Wah…saya belum sempat membalas email kamu, Dhian. Saya harus bolak-balik rumah sakit. Suami saya masuk rumah sakit.” Terdengar dari suaranya bukan sebuah keluhan. Saya juga tidak menemukan ada keberatan yang mengantung dari suaranya, padahal saya tahu suaminya sedang sakit keras. Mungkin juga kondisi fisiknya juga tidak terlalu baik untuk mengurusi suaminya. Ia tidak suka mengeluh, apalagi terlihat tidak sehat apabila bertemu dengan siapapun.

Wajah tegar dan bahagia itu pula yang tampak menghiasi halaman Keluarga harian Kedaulatan Rakyat. Judul di atas foto pasangan itu cukup besar: Wakafkan Jasad untuk Dunia Ilmu Pengetahuan. Itu artinya, ia akan menjadi cadaver (merelakan seluruh tubuh atau sebagian untuk diberikan pihak medis). Alasannya menjadi cadaver tidak ada lain untuk ikut berpartisipasi bagi dunia medis, agar tak ada keluarga (manapun) yang juga mengalami hal sama. Ia menambahkan, “Pada umumnya, teman-teman merasa ngeri. Padahal it is not a big deal for us karena kami sama-sama ilmuwan yang peduli pada kemajuan bidang media dan masyarakat Indonesia. Kami sudah memikirkannya sejak 1986.”

Di Indonesia, menjadi cadaver masih belum lazim dilakukan. Ia juga paham tentang hal ini, tapi katanya, “Untunglah pada umumnya pihak medis sangat paham tentang niat kami, meski ulama masih pro-kontra.” Dukungan pihak medis semakin memantapkan niatnya untuk menjadi cadaver. “Prof Iwan Dwiparahasto, Pebantu Dekan I Fakultas Kedokteran UGM bahkan mengakui telah lama mengimpikan ada sosok yang suka rela menjadi cadaver.”

Lantas, nantinya jasad Pangesti dan Fitri akan disumbangkan ke mana? Satu jawaban pasti darinya, “Fakultas kedokteran UGM.” Jasad mereka akan menjadi media pembelajaran mahasiswa kedokteran UGM dan civitas akademika lainnya yang memerlukan. Ya, jasad yang ditinggalkan nyawa itu akan mengabadi di kampus biru UGM. Apapun itu, mereka telah merencakannya dengan rapi hingga ke prosesi pelayatan apabila kematian datang seketika menjemput. “Ini bagian dari hak asasi manusia. Kami sudah niat dan sepakat!”

Jadi apapun yang terjadi, sepeninggal Fitri Margono dan Pangesti Wiedarti, keluarga, kerabat dan kawan (siapapun itu) tidak akan menemukan di mana kuburan mereka. Tidak ada pula tabur bunga, tidak ada penggalian kubur, tidak ada batu nisan, tidak ada apapun yang bisa diziarahi.

Selain mengabdi pada ilmu pengetahuan, pasangan itu juga mengurangi pemakaian lahan pekuburan. Tidak perlu bikin kapling atau beli tanah kuburan pula. Nah, kan selain jasad jadi lebih bermanfaat, juga tidak makan tempat. Ini karena sepengetahuan saya, di perkotaan kita harus menyewa tanah kuburan. Kalau sewanya tidak dibayar atau lain hal, kuburan kita akan digusur. Ditumpangi dengan jenazah lain yang kekurangan tempat. Sebenarnya itu tidak masalah bagi saya, tapi mungkin bermasalah bagi keluarga saya yang masih hidup. Tidak masalah bagi saya karena saya berpikir tentang efektifitas dan efisiensi pengeluaran (maklum saja saya harus memperhitungkan banyak hal untuk dapat bertahan di negeri ini). Yah, tapi kalau menjadi cadaver kok saya jadi geli-geli gimana gitu…membayangkan nantinya tubuh saya yang telanjang bulat akan dipelototi sekelompok mahasiswa kedokteran. Ah, ada apa di balik kacamata itu? (he he he…saya sering menemukan mahasiswa kedokteran pakai kacamata). Ngeri deh! Tapi kan saya sudah tidak merasakan apa-apa waktu itu.

Baiklah. Sekali lagi, memilih menjadi cadaver atau menyerahkan jasad pada tanah, itu terserah anda.

Ada Emas di Balik Jaket Kumal

 

Belum lama ini saya bertemu dengan seorang laki-laki. Entahlah siapa namanya. Saya lupa. Mungkin dia pernah menyebutkan namanya, tapi saya benar-benar lupa. Yang jelas, laki-laki itu tampak tidak terawat. Jaketnya hitam mungkin karlit (tiruan kulit) atau mungkin juga dari bahan oscar. Di balik jaket itu hanya ada kaos oblong (orang jawa menyebutnya seporet, saya curiga dari kata sport). Jaket itu dibiarkan terbuka, sehingga saya dapat melihatnya dengan jelas. Warna kaos itu sudah tidak putih lagi. Ya, mendekati kecoklat-coklatan karena sudah lama.

Dia memparkir motornya di dekat bengkel. Angin sangat kencang waktu itu, belum lagi butiran air hujan yang besar dan keras. Betapa sakit mengenai kulit. Hujan itu membuat saya lebih menepi, mencari tempat berteduh agak ke dalam. Kebetulan tempat saya berteduh itu tidak jauh dari bengkel, sekitar tiga meter.

Saya tetap bersikeras mencegat angkot. Jalan itu hanya dilewati satu angkot yang akan membawa saya ke Jalan Solo. Kalaupun ada angkot atau bis lain, pastilah saya harus berganti dua bis lagi untuk sampai ke tujuan. Ah, betapa tidak praktis, bukan. Untuk itu saya hanya percayakan pada satu angkot yang setia saya tunggu kapanpun dia datang.

“Jalur 16 habis-nya jam berapa?” tanya saya pada seorang penjaga warung.

Asal tahu saja, di Jogja tidak semua angkot narik sampai malam. Tidak seperti di Bandung, kan? Jadi penumpang angkot dan bis wajib tahu kapan bis dan angkot terakhir berjalan. Baiklah, di Jogja memang ada TransJogja, tapi percayalah bis itu memiliki jalur tertentu yang tidak mungkin mencapai pelosok dan jalan raya lainnya. Hampir bisa dikatakan, TransJogja hanya mencapai beberapa titik penting berkaitan dengan pariwisata dan pendapatan daerah lainnya, seperti bandara, stasiun, terminal, pusat perbelanjaan mall dan pasar), dll.

“Biasanya bis habis jam empat, Mbak…” jawab penjaga toko yang juga sedang ketar-ketir lihat hujan campur angin. Bagaimana tidak? Seng di depan tokonya hampir melayang gara-gara angin. Bahaya!

Saya semakin cemas saja. Wah, kalau tidak ada angkot, aku akan berjalan ke perempatan untuk cegat jalur 7 yang habisnya paling tidak jam tujuh sampai jam delapan (kalau tidak salah ingat). Baru saja berniat akan berjalan di antara hujan gerimis, laki-laki setengah baya tadi menegurku.

“Bareng saya saja, Mbak. Nanti saya antar sampai perempatan. Di sana banjir”

Saya percaya jalan yang akan saya lewati nanti memang banjir. Saya pernah lewat jalan itu sebelumnya.

“Maaf, pak. Tidak usah…”
”Tidak apa-apa. Saya naik motor kok. Nanti mbak-nya tidak klebus.” Klebus itu artinya basah kuyup.

Saya tetap menolaknya dengan halus, sambil minta maaf berkali-kali, tapi dia juga tetap menawarkan jasanya sambil beralasan berkali-kali. Saya jadi curiga lama kelamaan. Apa yang dia inginkan dari saya? Apakah saya cukup cantik atau saya kelihatan memiliki barang berharga, emas misalnya? Ah, saya tidak cantik, saya kira. Emas juga tidak ada. Hp? Yah, hp saya juga hp murahan. Maaf ya, kenikmatan seks? Saya sama sekali tidak seksi dan suara saya tidak mendesah resah. Jadi, tidak mungkin! Oh ya, kadang perempuan terlihat seksi ketika basah. Saya juga sempat berpikir seperti itu, tapi please deh. Saya kan sudah bilang, saya menghindari hujan. So, saya tidak basah. Wah, saya jadi bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan saya itu.

 

Baiklah, apapun itu. Saya lihat dulu motornya. Bebek! Saya tidak perlu menyebutkan mereknya. Pastinya, itu motor tua yang pendek dan lebih sering terdengar ‘batuk-batuk’. Lalu, saya perkirakan kemampuan laki-laki itu secara fisik. Saya pikir pawakannya tidak terlalu tinggi, kemudian dari matanya yang kemerahan, sepertinya dia sering minum. Badannya juga tidak terlalu kuat: kurus kering dan lemas. Saya perhatikan juga titik-titik yang memungkinkan saya untuk menghentikannya suatu saat kalau perlu. Biar bagaimanapun, saya harus berjaga-jaga.

“Apa tidak merepotkan?”

“Tidak, mbak…cuma sampai perempatan kan?” ya, tapi perempatan itu lumayan jauh. Kami akan melewati banyak tikungan, gang dan jalan yang kanan kirinya sawah (mbulak).

“Ya, sudah…terima kasih sebelumnya,” kata saya basa-basi.

Akhirnya saya bonceng dia dengan posisi miring. Saya sudah terlatih untuk boceng miring dengan segala konsekuensi. He he he. Ya, secara logika. Bonceng miring memudahkan kita turun dari motor, daripada bila kita bonceng dengan cara melangkah (duduk menghadap depan). Kalau saya lebih tinggi dari motor itu, saya akan memilih membonceng dengan cara melangkah, tapi selain saya tidak tinggi, waktu itu saya memakai rok. Meskipun rok, saya masih bisa menendang karena roknya cukup lebar untuk itu. Awalnya sih, biar kelihatan feminin gitu deh…kan waktu itu malam minggu he he he. Clingk!

Di perjalanan, dia terus saja nyerocos. Cerita tentang banjirlah, sawahlah, macem-macem deh. Nah, saya, sebagai penumpang, merasa harus mengimbangi, maka saya sesekali berkata, “ya”, “O iya ya?”, “he he he”, “Ehm…’, dsb. Saya agak malas mengimbangi pembicaraannya, jadi ya kata-kata itu saja yang keluar dari mulut.

Belum habis perjalanan, motornya mogok di jalan.

“Kenapa, pak?”

“Mungkin businya…”

“O…”

“Kita mampir dulu ke teman saya…pinjam kunci busi”

Ini dia, pikirku. What the hell.

“O ya…di mana itu”

“Tidak jauh kok…”

Kami berjalan  sekitar lima menit dan sampailah ke sebuah rumah di pinggir jalan. Dia mengetok pintu. Si empunya rumah keluar. Dia memakai kaos dan celana pendek putih.

“Motorku macet…paling busineduwe kunci busi?”

“Ono…sik yo” dia masuk sebentar, lalu membawa kunci busi.

“Mbak e iki sopo?”

“Iki mau nunut mbonceng tekan perempatan…”

“Ngapusi…sopo hayo!”

“Tenan…kok! Takoni wae”

“Apa iya, mbak…soalnya dia sering bohong itu…”

“Iya kok…saya tadi berteduh dan saya mau bonceng sampai perempatan.”

Tidak ada apa-apa setelah itu. Saya menunggu untuk menghormatinya, sedang dia utak-atik motornya. Lumayan lama. Saya bahkan menunggu apakah ia mau berbuat jahat. Oh, rupanya tidak apa-apa. Yah, karena lama menunggu dan saya khawatir kehabisan bis, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan saja.

“Maaf, pak…saya jalan saja. Perempatan sudah dekat kok…”

“O ya, mbak..maaf ini motor saya mogok”

“Oh, tidak apa-apa.”

Setelah itu saya berjalan dan menunggu bis berikutnya datang. Di jalan saya terus berpikir. Kalau saja ia mau berbuat jahat, kesempatan itu selalu ada. Saya sempat masuk rumah itu beberapa waktu. Saya juga sempat menunggui dia memperbaiki motor. Lantas, apakah dia menggunakannya untuk berbuat tidak baik. Tidak!

Apakah saya sedang beruntung hari itu? Ya, tidak semua laki-laki memiliki hati emas seperti dia. Masih mau menolong, meskipun ia sendiri dalam kesulitan. Ehm…nyatanya dia memperbaiki motornya dengan serius untuk segera mengantarkan saya ke perempatan. 

Yang saya tidak habis pikir, kenapa ya orang di sekitar kita sulit percaya terhadap orang yang sudah biasa berbuat tidak baik. Bukankah orang jahat, apapunlah namanya, masih diberi kesempatan Tuhan untuk berbuat baik selama hidupnya. Meskipun memang ada juga yang tidak memanfaatkan kesempatan itu.

Banyak dari kita yang melihat permukaan, kulit luar, fisik belaka, padahal seseorang dikatakan baik atau tidak baik, bergantung dari hatinya. Ya, begitulah, hati memang tidak bisa dilihat dari luar, tapi itu bisa dibuktikan dengan tindakan.

Apapun itu, sedapat mungkin kita memberi kesempatan mereka untuk memperbaiki diri, tentu juga harus berjaga-jaga untuk bersiap mendapati kemungkinan terburuk sekalipun. Kalau anda yakin dapat membantu orang lain, lakukanlah segera. Sebaliknya apabila anda tidak yakin terhadap diri sendiri, janganlah sekali-kali mencoba. Bukankah keberuntungan tidak didapatkan setiap hari?

 

  

  

  

Pengantin Hutan Lamtoro

Kebun lamtoro di samping gedung utama Univeritas Negeri Yogyakarta diserbu para pengantin wanita (9/1). Dengan baju pengantin ala barat, pengantin perempuan sekitar 30 orang itu bertebaran tanpa pengantin pria. Hanya ada satu pengantin pria saja yang tampak. Pengantin pria ini yang nantinya akan digilir oleh semua pengantin perempuan. Eit….tunggu dulu, ini bukan pesta perkawinan poligami ataupun kompetisi perebutan pengantin laki-laki. Mereka adalah model perwakilan mahasiswa jurusan Tata Rias Fakultas Teknik UNY yang sedang ujian akhir semester ketiga.
berdiri

Pengantin laki-laki itu namanya Kochi Yuhei. Aku tidak tahu kenapa memilih dia sebagai pengantin prianya. Dia kan kaku…hrggggg….aku aja kesel waktu mo foto dia. Tapi okelah, ganteng sih…he he he…
Awalnya aku kira mereka mahasiswa semester enam, ternyata baru semster tiga. Hebat ya! He he he…soalnya aku nggak bisa dandan sih. Lihat yang kayak gitu jadi terpana, tersepona, terngangga, ha ha ha…
Seandainya aku laki-laki….aku akan bawa lari salah satu dari mereka. Terutama mbak yang satu ini. Asalkan si mbak dandan kayak gitu setiap hari dan senyam-senyum ma aku terus…he he he. (eh, cuma becanda….jangan marah ya). Dari semua perempuan bergaun putih di atas rumput itu, hanya mbak ini yang menarik. Kenapa? Dandanannya sederhana, gaunnya elegan (tidak banyak lapisan) dengan bordir di sana-sini, asesories di sanggulnya bunga yang sederhana tapi rapi dan tatanan rambutnya tidak ribet. Ya, itu kan penilaianku…entahlah bagaimana penilaian dewan juri (alias bu dosen tata rias).
Gaun yang dikenakan si mbak (maaf mbak…aku lupa nggak tanya namamu…) memang tidak semewah gaun perempuan lainnya, tapi aura dari si pemakainya itu yang membuatnya menjadi menarik. Dulu waktu aku kecil aku mengingkan rok yang besar dan merekah seperti yang dipakai si mbak, tapi saat sudah besar begini aku cukup senang hanya dengan melihatnya.

Pengantin

hey….coba cari aku…
bem-098

Tahun Baru: Setoples Ceriping dan Setumpuk Pertanyaan yang Dibangkitkan

Tahun Baru riuh terompet…

Aku masih mengunyah keripik tempe dan ceriping singkong bersama ibu di rumah…

Tidak ada gegap gempita, tidak ada yang beda.

“Itu hanya tahun baru…di rumah saja! Nanti kita nonton Peterpen di TV,” kata ibu…

“Jangan lupa beli cemilan,” kata adikku.

Bagiku, tahun baru adalah setoples ceriping dan meriah suara kriak kriuk di tiga mulut malam itu.

Ah, begitu sederhana.

Belumlah mengantuk mata ini setelah pukul 00.00 berlalu, datang sms padaku.

“Apa rencanamu tahun depan nanti?” tanya seseorang padaku. Ini orang kirim sms kok ga pakai nama…

Kujawab agak malas…”Entahlah!”

Seharusnya aku punya rencana, bukan?

Baiklah…aku memang agak malas menghadapi hidup akhir-akhir ini. Tapi itu tidak akan lama kok…sebentar lagi matahari terbit lagi. Hari masih berlanjut dan semoga nyawa belum dicabut. Dan, pastinya aku harus cepat bangkit lagi….

Yah…thank you buat kamu yang sms aku…

semoga kamu baca blogku.

Wow…This Time To Travelling

Wow…kalender bulan Desember punya banyak angka merah! Dan kamu tahu apa artinya? Yuuukk…this time to travelling…

Yup! memang sih di bulan ini banyak ujian yang bikin Jogja kedatangan banyak pengunjung. Yang aku tahu sih ada ujian CPNS di hari Minggu nan mendung kemarin dan ujian BPK-RI di tanggal 10-11 Desember.

Aku yakin setelah pada stress ujian (cie…sok tahu bgt sih)..mereka paling enggak melepas lelah di tempat-tempat wisata Jogja. Ya, tinggal pilih aja…mo wisata belanja di Malioboro dan sekitarnya, wisata kuliner, wisata sejarah, wisata alam, atau yang lainnya.

Nah, menurut pengalamanku selama aku nganterin kawan, saudara,  dll. buat berwisata di Jogja aku jadi pengen kasih tahu beberapa hal yang penting dan harus diingat.

Yuk ya…ane tahu deh…yang namanya bersenang-senang kaum pinggiran (he he he)…kayak kita-kita ini ya mesti pakai perhitungan kalau mo belanja, dll di tempat lain. Ya tho! jangan sampai uang dihabisin cuma buat senang-senang aja…kan kita harus mikirin untuk beli buku, dll.

Nah, ni ada tips (sekadar tips ringan sih…)

1. Kalau kamu ga punya kendaraan buat pergi keliling Jogja…mending ya naik transjogja aja. Emang sih, belum semua tempat wisata jogja dapat dijangkau dengan transjogja, tapi lumayanlah. Di Jogja, bisa cuma sampai jam 9 (itu pun kalau kita sedang beruntung). Nah, kalau transjogja habis jamnya kalau ga salah jam 10, jadi bisa bantu kita nganter kalau ga ada bisa kota.

2. Kalau mau naik taksi, hati-hati juga dengan tarifnya. Mending tanya-tanya dulu ma kawan yang sudah sering naik taksi atau berdomisili di Jogja. Kalau kamu carter taksi di pagi hari itu lebih baik. Biasanya nih (entah mitos atau apalah), kalau transaksi pertama tidak jadi itu bisa bikin sial si sopir taksi. Contohnya begini, biasanya Jogja-Borobudur itu dikasih harga 250.000, tapi kamu nawarnya 190 kebetulan hari itu pak taksi belum dapat penumpang. Nah, itu artinya kamu adalah orang pembuka rejekinya hari itu. Kemungkinan besar harga yang kamu tawarkan itu mau tidak mau diterima si sopir. So, itu hari keberuntunganmu!

3. Nah, buat ibu-ibu dan mbak-mbak yang gila belanja…Jogja punya Malioboro yang bikin kamu ketagihan! Kalau kamu pinter nawar, u pasti dapat barang segudang deh…(he h ehe). Kalau nawar bikin setengah harga…kalau kamu tahu harga bahannya itu lebih baik. Beli batik aja deh…coba kamu sentuh kainnya, kalau tipis dan kasar, agar berbulu, dan ringkih. Kain itu tidak akan bertahan lama, bisa jadi cepet sobek. Mending beli yang bagus dan agak mahal sekalian, daripada kamu menyesal kemudian.

4. Kalau kamu kepengen naik becak atau andong, coba kamu lihat dulu jauh dekatnya. Kalau cuma dekat, ga perlu naik becak deh…jadi saranku sebelum jalan-jalan sebaiknya kamu punya map atau peta wisata atau denah atau semacamnya. Selain kamu tidak tersesat, kamu juga kelihatan kayak dah tahu Jogja…biar ga ketipu gitchu….

5. Kalau kamu pergi di saat musin hujan begini…jangan lupa bawa payung atau mantel.

6. Lihat dulu isi dompetmu. Jangan sampai kamu gila belanja sampai lupa kalau hidupmu bukan hanya hari itu saja.

7. Hati-hati kalau bawa dompet di pasar Beringharjo. Tasmu mending ditaruh depan karena kita tidak akan tahu siapa saja yang ada di sekitar kita. Copetkah?

8. Jangan mudah percaya dengan orang lain.

9. Kalau bertanya tentang jalan di Jogja dan kamu sedang naik motor, mending kamu turun lalu matikan dulu mesin motormu. Selain untuk kesopanan, kadang kamu bakal dikasih jalan yang menyesatkan. Ya, mereka tidak bisa dipersalahkan, karena mereka mementingkan sopan santun. Bukan menundukkan badan saat berbicara, tapi bagaimana caramu memanusiakan manusia.

10. Menolaklah dengan tegas ketika ditawari sesuatu kalau memang kamu tidak ingin membelinya. Kalau kamu ragu-ragu…wah bisa-bisa kamu diikuti sampai WC…he h ehe…becanda.

Previous Older Entries

Design a site like this with WordPress.com
Get started