Suatu Hari di Amerika: Tentang Prom

Untuk para “high school seniors” atau murid-murid kelas 3 SMA di Amerika, ada hal yang mereka tunggu selama 4 tahun bersekolah, yaitu menghadiri acara PROM. Prom biasanya diadakan pada bulan Mei sebulan sebelum acara kelulusan di bulan Juni. Tradisi prom sudah berlangsung sejak tahun 1800 meskipun saat itu prom yang berasal dari kata PROMENADE yang berupa perayaan yang berakar dari “debutante balls” hanya diselenggarakan bagi para mahasiswa di perguruan tinggi di wilayah utara dan timur Amerika Serikat. Debutante balls adalah perayaan untuk memperkenalkan gadis-gadis yang telah mencapai usia tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan jodoh. Sejarah prom beriringan dengan sejarah Amerika yaitu ada saatnya prom harus dipisahkan untuk warga kulit putih dan kulit berwarna yang biasanya dimaksudkan sebagai warga African-American. Bahkan di sebuah daerah di negara bagian Mississippi hingga tahun 2008, prom di sebuah SMA masih dilangsungkan secara terpisah. Prom menjadi sebuah tradisi penting bagi para remaja SMA setelah tahun 1950 sesudah Perang Dunia II usai. Tujuan perayaan prom adalah mengajarkan para gadis dan pria remaja untuk berlaku terhormat, bisa menampilkan diri mereka secara berkelas dan cantik serta tampan. Beberapa film Hollywood seperti Grease, Pretty in Pink dan She’s All That menggambarkan cerita seputar prom. Tetapi jangan menyamakan prom yang ada di film dengan prom seperti yang diadakan SMA anak-anak saya juga SMA lainnya di wilayah kami. Prom yang sesungguhnya bukan yang penuh dengan keliaran murid yang bisa menyelundupkan minuman beralkohol, sex bebas, bullying dan hal-hal lain yang membuat geleng-geleng kepala. Aturan prom sangat ketat, bahkan untuk membawa “prom date” yang bukan murid sekolah tersebut, seorang yang diundang ke prom harus mengisi formulir khusus yang harus ditandatangani yang bersangkutan dan disetujui pihak sekolah. Sewaktu mau memasuki gedung tempat prom diadakan, petugas keamanan berupa satpam sekolah beserta guru dan staf sekolah akan memeriksa setiap anak menggunakan alat pendeteksi portable.

Sebelum perayaan prom berlangsung, ada sebuah proses yang biasanya melibatkan upaya pencarian gaun prom paling indah, aksesoris paling gemerlap dan sesuai dengan gaunnya, sepatu yang setara dengan sepatu Cinderella dan bagi remaja prianya berarti tuxedo atau setelan jas yang paling keren. Selain itu, prom tidaklah lengkap tanpa pemilihan make up dan gaya rambut yang menawan. Itu masih ditambah lagi dengan perawatan khusus untuk kuku-kuku baik tangan maupun kaki. Bisa dibilang, prom adalah saat di mana orang tua harus menyisihkan uang lebih demi kelangsungan acara sekali seumur hidup ini. Pencarian gaun prom mulai dilakukan sejak bulan Februari atau selepas “winter break” supaya ada kesempatan memilih model gaun yang paling bagus dan mengagumkan serta sesuai ukuran dan kalau bisa yang ada diskonnya. Itu pula yang saya dan kedua putri saya lakukan saat mereka menjadi senior di SMA. Si gadis sulung merayakan promnya pada tahun 2017 dan adiknya merayakannya tahun lalu. Proses mencari gaun prom ini bisa menjadi kenangan manis dan unik bagi sebuah keluarga, karena meskipun kesannya itu cuma gaun prom tapi seluruh anggota keluarga bisa turut andil memberi masukan. Ada beragam gaun prom yang bisa dipilih dengan harga yang bisa disesuaikan anggaran. Saya dan kedua putri saya membuat kesepakatan terlebih dulu sebelum mencari gaun prom yaitu mengenai patokan harga tertinggi untuk sebuah gaun. Saya membatasi $300 paling tinggi dan kedua putri saya membeli sendiri gaun mereka memakai uang hasil jerih-payah mereka. Hal yang utama saat memilih gaun prom adalah selain modelnya harus sesuai karakter si pemakai, gaunnya harus nyaman apalagi nantinya akan dipakai untuk sekian jam berjoget, bergurau dan kemungkinan melonjak-lonjak kegirangan.

Putri sulung saya, Emily, dengan gaun promnya.
Putri kedua saya, Audrey, dengan gaun promnya.

Sesudah urusan mencari gaun prom beres dan ini tidak semudah yang dibayangkan. Karena kami harus mendatangi beberapa department store guna mendapatkan model yang paling cocok di hati kedua putri saya juga kantong. Lalu kami harus membuat janjian untuk salon untuk menata rambut dan kuku serta merias wajah. Anak-anak saya menggunakan kepandaian kawan-kawan mereka merias wajah juga kuku selain menata rambut. Saat prom si sulung, dia meminta tolong teman adiknya untuk menata rambut dan merias kuku-kuku tangannya. Sementara riasan wajahnya dia serahkan ke professional di salon. Sedangkan adiknya, pergi ke salon untuk menata rambutnya dan meminta tolong kawannya menyiapkan kuku-kuku palsu yang dihias cantik untuk ditempelkan di hari prom. Dia meminta kakak kawannya untuk merias wajahnya yang saya bayar layaknya jasa professional. Di sela proses menuju acara prom ini ada kesibukan lainnya yang dihadapi setiap senior yaitu ujian SAT dan ACT, khusus untuk kedua putri saya yang bersekolah di SMA berdasarkan berbagai aliran seni, mereka harus menyiapkan capstone (tugas akhir). Jadi bisa dianggap, prom itu layaknya perayaan untuk menghibur dan memberi selamat serta semangat bagi para senior sebelum kelulusan mereka. Saat prom menjelang, setiap anak akan sibuk dengan persiapannya. Ada anak yang memutuskan tidak hadir dan itu bukan hal aneh bagi kedua putri saya dan teman-temannya. Ada anak yang membuat sendiri gaun promnya terutama kalau dia memang mahir menjahit dan merancang pakaian. Prom bisa menjadi kenangan berharga.

Co Op High School Prom 2019
Co Op High School Prom 2017

Tradisi lain yang melingkupi prom adalah “prom date”, penyematan “corsage” dan penggunaan limo atau limousine (disebut juga stretched car karena mobilnya yang panjang) untuk menuju tempat prom diadakan. Putri sulung saya pernah menjadi “prom date” dua kawannya saat dia masih kelas 10 dan 11. Saat dia kelas 10, dia mendampingi seniornya seorang gadis sesama murid program musik string di sekolah. Tidak ada kesan istimewa saat itu. Namun sewaktu putri saya menjadi “prom date” seniornya saat dia kelas 11 yang menciptakan kenangan manis. Si remaja pria datang menjemput dengan sebuah mobil limo putih yang berhenti di depan rumah dan menjadi perhatian setiap mobil yang lewat . Sorakan demi sorakan dan siulan datang dari mereka saat melewati limo yang parkir serta putri saya dan kawannya ke luar rumah. Kawan putri saya membawa “corsage” yaitu karangan bunga yang disematkan ke pergelangan tangan layaknya gelang sebagai pelengkap gaun prom. Acara penyematan corsage dilakukan di teras rumah dan disaksikan ibu serta kakak perempuan si remaja pria, saya serta adik-adik si sulung dan juga tetangga dan orang lain yang turut bergembira melihat betapa imutnya putri saya dan prom date-nya. Sedangkan sewaktu putri kedua saya menjalani senior promnya, dia bersama sahabatnya saling menyematkan corsage. Mereka datang tanpa “date”.

Penyematan corsage adalah bagian dari tradisi prom.
Bergantian saling menyematkan corsage.
Corsage cantik sebagai pelengkap gaun prom.
Sebuah limo putih menjemput si sulung sebagai prom date.
Duduk di dalam limo menuju tempat prom berlangsung.

Prom menjadi kesempatan emas bagi photographer untuk mengabadikan setiap individu yang mengikuti prom. Saya mengatur kedua putri saya beserta kawan-kawannya saat mereka ingin menyimpan kenangan manis prom. Pada kesempatan si sulung menjadi prom date di tahun 2016, saya memilih sebuah taman yang memiliki rumah kaca sebagai lokasi pengambilan photo. Saat kemudian si sulung menghadiri senior prom-nya, saya memilih sebuah museum seni, yaitu Yale Art Gallery, serta kampus Yale University sebagai lokasi pengambilan photo. Kemudian di saat putri kedua saya menghadiri senior prom-nya, saya mengambil photo-photonya di tempat prom berlangsung bernama Cascade yang memiliki taman yang indah. Kesempatan menyimpan kenangan prom kedua putri saya memiliki arti lebih karena membuat proses prom mereka komplit. Saya turut serta dalam segala seluk-beluk persiapan prom hingga kedua putri saya hadir di hari H dan bersenang-senang bersama kawan-kawannya hingga puas. Prom berikutnya, kalau bisa berlangsung, akan lain dari yang lain karena anak bungsu saya seorang remaja pria dan proses persiapan promnya akan jauh berbeda dari kedua kakaknya.

Photo prom di sebuah rumah kaca berisi tanaman tropis.
Photo prom di museum seni, Yale Art Gallery.
Photo prom di sebuah museum seni, Yale Art Gallery.
Photo prom di Cascade Fine Dining.
Photo prom di Cascade Fine Dining.
Co Op High School Prom 2019.

Fine & Dandy Shop, Toko Keren untuk Pria Bergaya

“Clothes maketh a man”, begitu kata Colin Firth di film Kingsman. Bagi yang sudah menonton film itu pasti kagum dengan penampilan para pelakon alias jagoan-jagoan Kingsman yang penampilannya keren sekali atau disebut “dapper”. Penampilan seperti itu disebutnya sebagai “gentleman style”. Contoh lain di mana kita bisa melihat pria berpakaian ala gentleman style adalah di serial seperti Poirot (detektif dari novel misteri Agatha Christie) dan film-film berlatar belakang era tertentu seperti tahun 1920 dan 1930. Di kota New York, ada sebuah toko mungil yang menawarkan barang-barang guna memenuhi upaya pria untuk tampak bergaya dengan gentleman style. Saya menemukan toko ini secara tidak sengaja saat saya menjadi pemandu perjalanan sekelompok remaja dari Indonesia. Kami baru saja mengunjungi Intrepid Museum yang berupa sebuah museum di atas sebuah kapal induk dan berjalan menuju stasiun subway terdekat. Toko bernama FINE & DANDY ini digagas oleh dua orang pria dan bermula dari sebuah toko online. Mereka menawarkan beraneka dasi, dasi kupu-kupu, scarf, saputangan, pelengkap jas seperti cufflinks, pin lapel, topi, neckerchief dll yang diproduksi di Amerika Serikat serta benda-benda unik lainnya . Setelah beberapa tahun berbisnis online, Matt Fox dan Enrique Cramme III yang mendirikan bisnis yang bermotto,”Accessories for Dapper Guys”, di sebuah toko di daerah West 49th Street di daerah kota New York yang dikenal dengan Hell’s Kitchen. Toko Fine & Dandy ini betul-betul mungil dan karena ruangan toko yang satu-satunya dipakai untuk memajang produk mereka tidak luas dan penuh dengan bermacam barang, saat saya bersama 6 remaja Indonesia ke situ terasa toko langsung penuh. Karena banyaknya barang di toko ini, seseorang harus memperhatikan satu persatu supaya tidak terlewatkan barang yang menarik.

Keenam remaja yang saya bawa ke Fine & Dandy langsung berpencar melihat pernak-pernik yang menarik perhatian mereka. Dua di antaranya adalah remaja pria yang langsung jatuh hati dengan barang-barang vintage yang juga bisa ditemukan di toko unik ini. Sejak tahun 2014, Fine & Dandy menawarkan vintage memorabilia dan bekerja sama dengan para desainer kostum dan interior serta penata busana untuk membantu pelanggan yang ingin mendapatkan gaya busana dari era tertentu. Salah satu remaja pria yang saya pandu menaksir sebuah dasi kupu-kupu vintage. Pemuda ini sepertinya memang pecinta gentleman style karena selama di Amerika dia memakai jas. Dia langsung membeli dasi kupu-kupu yang termasuk mahal harganya itu dan langsung meminta pekerja toko memasangkannya. Pemuda berusia 14 tahun itu langsung tampak bangga dan girang memakai dasi barunya. Sementara itu, remaja pria satunya tertarik pada sebuah monocle (kacamata berlensa satu). Saya tahu monocle itu kemungkinan dari tahun 1920-30 dan tanpa berpikir panjang, walaupun harganya lebih dari $100, pemuda itu langsung mengiyakan membelinya. Wow! Saya sempat terpana dengan daya belanja dua pemuda itu. Pekerja toko tentu saja senang sekali karena keenam remaja yang saya bawa ke Fine & Dandy membeli bermacam barang yang totalnya mencapai ratusan dollar. Sebagai tanda terima kasih pada saya karena sudah membawa sekelompok remaja yang senang berbelanja, dia memberi saya bonus – pajangan/mainan dari karet berbentuk Chrysler Building sebanyak 3 buah.

 

fineanddandy11

20171116_144459

fineanddandy1

fineanddandy2

fineanddandy5

fineanddandy6

fineanddandy7

fineanddandy8

fineanddandy10

fineanddandykids

fineanddandy13

 

Suatu Hari di New Haven dengan Bapak Rahmat Shah

Terkadang yang namanya rezeki itu bisa berupa kesempatan bertemu dan berkenalan dengan seseorang yang lain dari yang lain. Saya sudah beberapa kali menjadi pemandu perjalanan orang-orang Indonesia yang datang ke mari, terutama yang mengunjungi kota New York dan New Haven. Selama memandu ini, saya berkenalan dan bertemu dengan beragam orang dengan beraneka latar belakang. Sebelum saya bertemu dan berkenalan dengan bapak Rahmat Shah, saya tidak tahu sama sekali mengenai tokoh penting dan ternama di Indonesia ini. Pengalaman berharga saya ini bermula saat hari Kamis dua minggu lalu, tiba-tiba saya mendapat telepon dari seorang teman. Teman saya ini seorang pengusaha restoran yang memiliki dan mengelola beberapa restoran di sekitar New Haven County. Dia menceritakan mengenai kedatangan seorang tokoh dari tanah air yang akan mengisi kelas Bahasa Indonesia di Yale dengan perbincangan mengenai pengalaman hidup dan prestasinya. Tamu dari jauh itu adalah Bapak Rahmat Shah. Kebanyakan orang mungkin lebih tahu dan kenal putri beliau yang seorang bintang film dan selebriti di Indonesia, yaitu Raline Shah. Teman saya meminta saya untuk menjadi photographer saat perbincangan berlangsung dan pemandu pak Rahmat beserta istrinya, bu Feby, berkeliling kampus Yale.

rahmatyale9

Ibu Feby Shah, saya, bapak Rahmat Shah, Soraya Kaoroptham, Indriyo Sukmono.

Jumat pagi, saya bergegas menuju Omni Hotel tempat pak Rahmat dan istrinya bermalam. Karena pasangan ini sedang sarapan, teman saya menyarankan saya menemui mereka di restoran hotel. Restoran bernama John Davenport itu berada di lantai 19 atau lantai paling atas hotel. Begitu saya ke luar dari elevator, pemandangan alun-alun kota New Haven tampak dari jajaran jendela di Davenport’s. Cuaca hari itu sedang cerah sehingga panorama yang terlihat amat menyenangkan. Saya melihat kedua orang yang saya cari duduk di kursi paling pojok di bagian kiri ruangan restoran. Beberapa tamu hotel terlihat sedang menikmati sarapan di beberapa meja lainnya. Saya dekati meja pak Rahmat dan istrinya dan memperkenalkan diri. Sementara mereka menikmati sarapan, kami mengobrol ringan dan saya mempelajari sedikit riwayat hidup pak Rahmat Shah yang mengesankan dan sangat menarik. Bagi segelintir orang, hubungan pak Rahmat dengan binatang menimbulkan kontroversial, karena beliau adalah pemimpin persatuan kebun binatang di Indonesia, tokoh yang bergerak dalam pelestarian binatang, tetapi juga seorang pemburu yang prestasinya diakui oleh dunia. 

 

therahmats

Bapak dan ibu Shah menikmati sarapan di John Davenport’s.

therahmats7

Bapak Rahmat Shah saya photo di depan gerbang Memorial Quadrangle.

Sesudah bapak dan ibu Shah selesai sarapan, saya ajak mereka menyusuri Chapel Street. Chapel Street adalah salah satu jalan utama kota New Haven yang di sisi kiri-kanannya berdiri gedung-gedung tua yang dibangun akhir tahun 1800 dan awal 1900 yang sekarang menjadi jajaran beragam toko, restoran dan museum seni.  Sebagian gedung asrama mahasiswa Yale University juga ada yang bertempat di Chapel Street. Bapak dan ibu Shah menikmati pemandangan meskipun sambil kedinginan karena suhu yang saat itu sekitar 5 derajat Celcius disertai hembusan angin yang lebih dingin lagi. Tujuan kami selanjutnya adalah gedung perpustakaan Yale yang megah, yaitu Sterling Library. Saya ajak bapak dan ibu Shah masuk ke dalam untuk melihat keindahan koridor perpustakaan yang bergaya arsitektur Gothic Cathedral. Langit-langit koridor gedung perpustakaan yang tinggi berhiaskan pahatan dari batu yang menggambarkan tentang beberapa cerita amatlah mengagumkan. Saya mengambil photo pak Rahmat di koridor yang megah ini sambil menunggu kedatangan kawan saya, Soraya. Dari Sterling Library, kami akan menuju sebuah kelas di gedung bernama Harkness Hall di mana kuliah Bahasa Indonesia berlangsung.

therahmats9

Bapak Rahmat Shah di Sterling Library.

Kami berempat, pak Rahmat dan istrinya, kawan saya dan saya, dijemput oleh pengajar Bahasa Indonesia di Yale, bapak Indriyo. Bapak Rahmat Shah akan mengisi kelas Bahasa Indonesia dengan perbincangan mengenai pengalaman hidup beliau. Kami mendatangi kelas tersebut sekitar pukul 10:45. Asisten pak Indriyo, Donnie, sedang mengajar di kelas. Donnie adalah lulusan dari Universitas Udayana dan berasal dari Bali. Acara perbincangan dimulai dengan perkenalan diri dari para mahasiswa yang hadir. Mereka harus memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar,”Nama saya Jason. Saya berasal dari Salt Lake City, Utah”, begitu contohnya. Pak Indriyo memanggil mahasiswa dengan sapaan “mas” sedangkan untuk mahasiswi dengan sapaan “mbak”. Para mahasiswa itu merupakan mahasiswa tahun pertama dan berasal dari berbagai negara bagian di Amerika serta satu orang dari Australia. Bapak Rahmat Shah membicarakan mengenai riwayat hidupnya yang lahir dan besar di Sumatera Utara, beberapa prestasinya termasuk menjadi ketua Federasi Olahraga Karate Indonesia (FORKI) dan ketua Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia sambil memperlihatkan gambar-gambar pada layar memakai slide projector. Kami yang mendengarkan ulasan pak Rahmat kagum akan banyaknya prestasi yang beliau raih. Setelah itu, ada acara tanya-jawab antara mahasiswa dan pak Rahmat. Acara berlangsung santai dan menyenangkan diakhiri dengan berphoto bersama. Lalu pak Indriyo mengajak kami berempat makan siang di dining hall di Silliman College. Makan siang dilakukan ala prasmanan dengan mengambil sendiri makanan yang disediakan oleh pihak dining hall. Hari itu kebetulan menunya masakan Asia, ada nasi jasmine, ayam goreng tepung dengan saus pedas ala Korea, daging sapi suwir juga ala bulgogi Korea dan makanan pencuci mulut seperti brownie dan macaroon kelapa. Saat kami menikmati makan siang, saya ingatkan pak Rahmat janji saya akan mengantarkan beliau untuk sholat Jumat.

Menjelang pukul 13, Saya jelaskan ke pak Rahmat kalau sholat Jumat yang dilakukan oleh warga Muslim yang kuliah dan bekerja di Yale serta kota New Haven dilaksanakan di sebuah gereja di gedung Dwight Hall yang dibangun antara tahun 1842 – 1846. Pak Rahmat sangat tertarik mendengarkan cerita saya mengenai kegiatan sholat Jumat di sebuah gereja. Saya juga uraikan ke beliau kenapa saya suka mendatangi sholat Jumat di situ bersama anak laki-laki saya, karena salah satunya adalah khutbah yang diberikan berbobot dan beberapa benar-benar cerdas sebab disampaikan oleh seorang cendekia, misalkan mahasiswa atau dosen Yale. Khutbah Jumat yang saya dengar saat mengikuti sholat Jumat di kampus Yale mengingatkan saya pada khutbah Jumat saat saya masih kuliah di Universitas Indonesia. Di sini, beberapa Muslimah menghadiri sholat Jumat secara rutin. Saat saya mengarahkan pak Rahmat menuju ruang mengambil wudhu yang berada di dalam kamar kecil, kami kebetulan bertemu dengan seorang mahasiswa Yale dari Indonesia. Saya titipkan pak Rahmat ke dia sementara saya mendatangi kamar kecil wanita untuk mengambil wudhu. Pembawa khutbah Jumat hari itu adalah seorang bapak African-American yang suka saya sapa saat kami berpapasan sesudah sholat Jumat. Beliau gemar memakai topi fedora yang menurut pak Rahmat menjadikan dia tampak keren. Khutbahnya mengenai “loving for the sake of Allah”. Sesudah sholat Jumat selesai, pak Rahmat tampak mendekati bapak pemberi khutbah dan mengajaknya berpose bersama.

Setiap selesai sholat Jumat di Dwight Hall, pengurus komunitas Muslim Yale menyediakan makan siang untuk siapapun yang hadir. Pak Rahmat mengajak saya makan lagi sekalipun kami sempat makan siang sebelum mendatangi sholat Jumat. Menurut beliau tidak enak menolak undangan makan apalagi yang mengajak imamnya sendiri begitu sholat selesai. Saya arahkan pak Rahmat ke ruangan  lain yang berseberangan dengan ruangan sholat Jumat yang sebetulnya diadakan di Dwight Chapel. Saya mengambil salad dan menganjurkan pak Rahmat mencicipi pasta yang dimasak bercampur bayam. Pak Rahmat juga mengambil sepotong ayam. Kami duduk bersama menyantap hidangan sambil mengobrol membicarakan pembawa khutbah tadi dan mengenai kenalan yang saya temui karena menghadiri sholat Jumat di kampus Yale. Setelah menyelesaikan makan siang babak kedua, saya bawa pak Rahmat berkumpul kembali dengan istrinya dan kawan saya. Tujuan kami selanjutnya adalah berkeliling kota New Haven untuk mencari dan membeli oleh-oleh, mengunjungi gedung Yale School of Medicine dll. Di malam harinya, kawan saya yang pemilik restoran mentraktir pak Rahmat dan istrinya juga saya makan ramen. Hal yang saya kagumi dari pak Rahmat adalah bagaimana beliau sudi mendengarkan saya menceritakan pengalaman saya selama tinggal di Amerika lebih dari 2 dasawarsa. Kalau membandingkan riwayat hidup beliau yang sangat berwarna dan kaya prestasi, apa yang saya ceritakan cuma seujung kuku, tapi penghargaan beliau terasa sekali karena beliau menyimak cerita pengalaman saya dengan seksama. Kami nikmati ramen dan panganan lainnya hingga restoran tutup. Kami berpamitan sekitar pukul 22. Kawan saya mengantarkan pak Rahmat dan istrinya ke kota New York dan saya menggunakan lyft kembali ke rumah. Perkenalan dan pertemuan saya dengan bapak Rahmat Shah dan istrinya, ibu Feby, terasa seperti tambahan bumbu dalam pengalaman saya menjadi pemandu perjalanan.

 

indonesianclass

Bapak Indriyo, ibu Feby Shah, bapak Rahmat Shah dan saya di kelas bahasa Indonesia di Yale.

indonesianclass7

Bapak Rahmat Shah mengisi kuliah Bahasa Indonesia di Yale.

indonesianclass1

Kelas Bahasa Indonesia di Yale University.

indonesianclass11

Kelas Bahasa Indonesia di Yale bersama bapak Rahmat Shah dan ibu Feby Shah.

 

 

 

 

 

 

 

Suatu Hari di Old Wethersfield

Connecticut berarti “di tepian sungai yang panjang dan berombak”,  termasuk dari 13 koloni pertama yang membentuk Amerika Serikat. Negara bagian ini selama lebih dari 2 dekade menjadi tempat yang saya panggil “home”. Connecticut dibentuk oleh kaum Puritan yang berasal dari Inggris yang tadinya menetap di Massachusetts. Sebelum koloni bernama Connecticut lahir, kaum Puritan mendirikan beberapa dusun, yaitu: Windsor pada tahun 1633, Wethersfield pada tahun 1634 dan pada tahuan 1636 Hartford dan Springfield. Dusun-dusun ini kemudian tumbuh dan berkembang menjadi kota kecil (town) yang menjadi ciri khas daerah-daerah di New England karena alamnya yang indah beserta beragam bangunan peninggalan dari masa Colonial (saat Inggris menduduki Amerika) tahun 1600, masa Revolutionary War (melawan Inggris) pada tahun 1700 dan Civil War sekitar akhir tahun 1800. Daerah New England terkenal dengan ciri khas alamnya yang berupa pegunungan dan pesisir pantai. Banyak kota di daerah New England dinamai berdasarkan pada nama-nama kota dan daerah di Inggris atau England. Peninggalan sejarah berupa bangunan-bangunan tua inilah yang menjadi salah satu daya tarik wisata di Connecticut. Satu kota kecil yang termasuk kota tertua di Connecticut adalah WETHERSFIELD dan saya akan ulas bagaimana menariknya berjalan-jalan di sini.

Ada bagian dari kota Wethersfield yang mendapat julukan istimewa, OLD WETHERSFIELD. Hal itu karena di daerah tertentu di kota ini terdapat beberapa bangunan yang merupakan bukti dari perkembangan sejarah Connecticut saat masih berupa koloni hingga resmi menjadi negara bagian ketiga saat pembentukan Amerika Serikat. Wethersfield memiliki sejarah yang sangat istimewa di mana Jenderal George Washington pernah mendirikan markas dan mengatur strategi dengan komandan militer Perancis bernama Comte de Rochambeau. Pertemuan mereka ini menghasilkan kemenangan pasukan Amerika yang dibantu oleh pasukan Perancis melawan tentara Inggris di kota Yorktown yang terletak di negara bagian Virginia. Kemenangan perang di Yorktown pada tahun 1781 ini makin mengukuhkan kemerdekaan Amerika Serikat. Rumah di mana Jenderal George Washington menginap dan menjadikannya markas masih berdiri di kota Wethersfield dan sekarang menjadi museum. Rumah tersebut dibangun oleh Joseph Webb pada tahun 1752. Anaknya, Joseph Webb Jr. beserta istrinya, Abigail Chester, yang menjadi tuan rumah saat Washington menginap di rumah bergaya Georgian ini.

oldwethersfield3

Rumah Joseph Webb dibangun tahun 1752.

oldwethersfield16

Rumah Joseph Webb yang pernah menjadi markas Jenderal George Washington.

Di jalan utama di kota Wethersfield yang rapi, rumah-rumah bersejarah lainnya berjajar layaknya monumen tanda bagaimana kota ini pernah menjadi tempat penting dalam perjalanan sejarah Amerika. Selain rumah Joseph Webb yang memiliki taman bergaya Colonial Revival, ada rumah Silas Deane yang merupakan diplomat Amerika pertama untuk Perancis. Rumah Deane yang bersebelahan dengan rumah Webb yang juga bergaya Georgian dibangun pada tahun 1770 dan menjadi museum pula.Di antara rumah-rumah tua di Wethersfield ada yang beralih fungsi menjadi bed & breakfast dan ada yang dipergunakan sebagai tempat tinggal pribadi. Dari sekian banyak rumah tua yang menjadikan Old Wethersfield sebagai tempat yang patut untuk didatangi, tampak jelas upaya pelestarian sejarah oleh warga setempat. Rumah-tumah tersebut tampak cantik dan menarik, dan kalau mengingat usia sebuah rumah yang minimal 200 tahun, tidak terlihat betapa tuanya rumah tersebut. Seperti misalkan rumah Hurlbut – Dunham, yang didirikan pada tahun 1804 untuk Kapten John Hurlbut yang bergaya Federal – Italianate. Rumah ini masih tampak anggun dan menawan.

 

oldwethersfield1

Rumah Hurlbut – Dunham yang dibangun tahun 1804 milik Kapten John Hurlbut.

oldwethersfield2

Pemilik selanjutnya dari rumah Kapten Hurlbut, yaitu the Dunham’s, menambahkan gaya Italianate termasuk beranda ini.

oldwethersfield14

Rumah Simeon Belden yang dibangun tahun 1767.

oldwethersfield13

Rumah Simeon Belden ini merupakan rumah yang masih lengkap keasliannya dari segi arsitektur.

oldwethersfield24

 

Saat yang cocok untuk mengunjungi Old Wethersfield adalah saat summer dan fall. Di saat itu museum sudah buka kembali setelah tutup selama winter dan hanya buka saat akhir pekan saat spring. Selain itu, beberapa kedai dan restoran yang ada di situ sangat cocok untuk dinikmati saat summer dan fall. Seperti misalnya kedai ice cream Main Street Creamery yang menempati sebuah rumah tua. Terasnya sangat nyaman untuk duduk bersama keluarga menikmati beragam es krim. Taman-taman yang menghiasi rumah-rumah tua dan bersejarah di Old Wethersfield akan lebih bisa dinikmati saat summer dan fall. Pohon-pohon besar yang berjajar di tepi jalan dan di antara bangunan seakan bisa membawa kita ke keindahan nostalgia masa lalu. Di antara rimbunnya pepohonan yang kekar dan kokoh, berjalan dari rumah A ke rumah B sambil menikmati semilir angin summer dan mengagumi pemandangan, terasa ideal dan romantis. Saat di Old Wethersfiled, jangan lupa mampir ke kedai benih tertua yaitu Comstock, Ferre & Co. yang sudah melakukan bisnis sejak tahun 1811 hingga kini. Benih-benih yang dijual merupakan turunan dari tanaman yang digunakan untuk bercocok tanam sejak ratusan tahun lalu atau disebut “heirloom seeds”. Kedai ini juga berupa cafe dan bakery yang menyediakan bahan pangan alami. Banyak hal menarik yang bisa dinikmati di Old Wethersfield dari mulai menjelajahi rumah-rumah tua yang cantik, mengunjungi beberapa museum yang dikelola oleh Wethersfield Historic Society, menikmati pizza dan es krim, sambil mendapatkan tambahan pengetahun mengenai sejarah Amerika. Kota Wethersfield yang tampak sederhana ini memiliki daya tarik yang menakjubkan yang membuat Connecticut istimewa.

MASIH BANYAK PHOTO CANTIK DI BAWAH INI!

oldwethersfield18

Rumah Chester – Bulkley  yang sekarang menjadi bed & breakfast.

oldwethersfield8

Kedai benih Comstock, Ferre & Co.

oldwethersfield10

Di dalam kedai benih dan bahan pangan alami Comstock, Ferre & Co.

oldwethersfield21

Teras kedai es krim Main Street Creamery & Cafe yang nyaman dan menyenangkan.

oldwethersfield12

Kedai benih Comstock, Ferre & Co. yang menyediakan benih sejak tahun 1811.

oldwethersfield20

Bahkan pintu pun bisa dinikmati keindahannya.

oldwethersfield15

Menara First Church of Christ yang dibangun tahun 1764.

oldwethersfield23

Fall di Old Wethersfield – Rumah Isaac Stevens dibangun pada tahun 1789.

 

Cerita dari Connecticut: Cinta Pertama Patty

Ternyata sepertinya memang benar istilah “first love never dies”. Saya bisa bilang begitu sesudah saya mendengarkan cerita dari Patty, ibu berusia 60 tahun berasal dari Scotlandia, pemilik laundromat tempat saya mencuci. Suatu hari cuma saya dan Patty di laundromat, dia sedang tekun melipat cucian pelanggan dan saya sedang membaca. Kami bercakap-cakap dan Patty menceritakan asal-muasalnya dia hijrah ke Amerika. Saat dia berusia 18 tahun, dia memutuskan untuk meluaskan sayapnya dan mengejar cita-citanya ke Amerika. Patty minta ijin pada orang tuanya dan bersiap-siap merantau ke Amerika dari negerinya, Inggris. Waktu itu, Patty sedang dekat dengan seorang anak muda bernama Bill yang dua tahun lebih muda dari dia. Dari cerita Patty, saya bisa membayangkan kedekatan mereka.

Bill dan Patty sudah merancang impian berdua, meski Patty lebih memilih untuk mengejar impiannya dulu dan merancang hidupnya sendiri. Patty berharap Bill turut melepaskannya pergi bersama-sama keluarga Patty dan kerabat lain serta orang-orang dari desa mereka. Tapi Bill tidak kelihatan saat Patty akhirnya harus pergi naik bis menuju ke kota besar tempat bandara berada yang berjarak sekitar 4-5 jam jauhnya. Patty bercerita sambil di wajahnya terlihat kesedihan. Saya bisa merasakannya, harapan dia untuk melihat Bill terakhir kali cuma sekedar harapan. Hatinya masih berat karena tidak bisa bertemu dengan Bill. Tapi ternyata saat sedang menunggu keberangkatan di bandara, ternyata Bill datang menemuinya. Rupanya Bill tidak mau melepaskan Patty pergi bersama-sama dengan banyak orang. Dia memilih untuk mengendarai motornya selama berjam-jam melampaui desa dan kota kecil untuk melepas Patty. Patty bercerita sambil berkaca-kaca. Matanya menerawang seakan menggambarkan perpisahannya dengan Bill. Mereka berjanji untuk bertemu lagi, menyambung mimpi-mimpi masa depan.

Sesampainya di Amerika, Patty mendapatkan pekerjaan sebagai au pair (nanny) untuk keluarga mampu di daerah Rochester, New York. Dia bekerja bersama seorang gadis yang berasal dari Inggris juga, yang kemudian menjadi sahabatnya. Sesudah bekerja sebagai au pair, Patty dan sahabatnya bekerja untuk AVON dan diberikan kesempatan untuk meneruskan pendidikan mereka. Saat itulah dimana dua gadis ini menemui kesulitan ketika mereka keluar dari pekerjaan menjadi au pair, Patty berkenalan dengan John, yang kemudian menjadi suaminya. Patty masih selalu mengingat Bill, tapi kebaikan John dan kedekatannya ke Patty membuatnya makin jatuh hati dan memilih John. Sementara itu Bill masih menunggu Patty untuk kembali ke Scotlandia. Mereka kerap berkiriman surat dan sepertinya Bill masih berharap untuk bisa bertemu dengan Patty lagi. Patty menyempatkan diri untuk kembali ke desanya dan memberitahukan Bill rencananya menikah dengan John. Sewaktu Patty bercerita ini, dia terlihat patah hati. Wajahnya terlihat sendu dan agak muram. Patty memutuskan untuk kembali ke Amerika dan menikah dengan John. Dari pernikahannya, Patty dan John memiliki dua orang putra.

Sementara di Scotlandia, Bill butuh 4 tahun lamanya untuk bisa meredakan kesedihan hatinya dan mengenal gadis lain yang kemudian dia nikahi. Bill bergabung dengan angkatan darat Inggris dan merancang karir yang sangat bagus. Dia dan Patty tetap berkiriman surat, hingga suatu waktu mereka akhirnya larut dalam kehidupan masing-masing. Tahun demi tahun berlalu, perkawinan Patty dan John berakhir dengan perceraian. Menurut Patty, tiba-tiba saja suaminya merasa sudah tidak nyaman lagi menjalani perkawinan mereka. Patty yang kesepian suatu hari teringat dengan Bill. Tapi puluhan tahun sudah merentang diantara mereka, mungkinkan Bill masih ingat dia? Patty mencari nama Bill di internet dan menemukannya. Betapa bahagianya dia terutama karena tahu karir Bill yang gemilang menjadikannya dia seorang kepala kepolisian sebuah kota di Inggris. Patty awalnya ragu untuk menghubungi Bill, tapi dorongan hatinya yang dulu ada muncul lagi. Dia mengirimkan email ke Bill dan hubungan mereka pun bersemi lagi. Dari situ juga Patty tahu, Bill sudah berpisah dengan istrinya.

Hubungan Patty dan Bill semarak lagi lewat email dan telepon. Wajah Patty berseri-seri sekali saat menceritakan telepon demi telepon dari Bill ke dia. Tiba saatnya kemudian Bill mengundang Patty untuk kembali ke Inggris dan bertemu dengannya. Patty ragu sekali apalagi karena sudah puluhan tahun mereka terpisah dan tidak pernah bertemu fisik lagi. Tapi karena desakan Bill yang sedemikian kuatnya, Patty memutuskan saat mengunjungi sepupunya di Inggris dan membuat janji bertemu dengan Bill. Patty sampai di Inggris dan tinggal di tempat sepupunya. Mereka merancang untuk bertemu, tapi Bill tidak mau menemui Patty di rumah sepupunya. Maka dia membuat janji untuk bertemu di sebuah taman. Taman yang dia pilih ternyata juga berupa sebuah kuburan, Patty menceritakannya sambil tertawa. Dia tidak keberatan dan sambil berdebar-debar menuju taman itu. Patty duduk menunggu di taman yang juga kuburan itu sendirian. Taman itu indah, begitu Patty bilang, tidak seperti sebuah kuburan. Setelah beberapa saat menunggu, Bill muncul. Wajah Patty berseri-seri menceritakan rupa Bill yang meski sudah berumur tetap kelihatan seperti anak laki-laki 16 tahun yang dia kenal dulu.

Bill dan Patty bercakap-cakap di bangku di taman itu, berusaha merangkum puluhan tahun yang memisahkan mereka. Serasa cinta muda mereka tumbuh lagi. Di usia mereka yang sama-sama lebih dari separuh baya, kedekatan Bill dan Patty yang telah silam seakan muncul dalam sekejap tanpa hambatan. Bill menginginkan untuk membina lagi hubungan dengan Patty. Patty tadinya agak ragu, tapi dia masih mencintai Bill juga. Bill lalu mengundang Patty untuk berlibur dengannya berjalan-jalan berkeliling daerah di Inggris. Karena kedudukan Bill yang cukup tinggi, dia bisa mendapatkan fasilitas yang sangat baik saat berlibur. Patty bercerita betapa dia dimanjakan oleh Bill, dengan disewakan sebuah kamar hotel bertema era 1800-an yang menawan dan anggun. Tempat tidurnya saja berupa “poster bed”, dengan 4 tiang dan tirainya. Hati Patty dibuat berbunga-bunga oleh Bill seakan dia berusaha menyenangkan hati gadisnya yang puluhan tahun lalu dia tidak bisa lakukan. Namun, meski Bill dan Patty akhirnya menemukan diri mereka lagi dan masih saling menyayangi, Bill memutuskan untuk kembali ke istri dan keluarganya. Patty meski kecewa, mendukung keputusan Bill. Patty dan Bill masih berhubungan lewat telpon. Sewaktu Pattu didiagnosa terkena kanker dan menjalani berbagai operasi, Bill selalu memberikan perhatiannya dari jauh. Patty menyudahi ceritanya sambil masih melipat cucian dengan mata redup dan menyungging senyum. Dia mungkin tidak bisa merancang impiannya bersama Bill, tapi cintanya menjadi penghangat di hatinya. Itu kelihatan sekali dari wajahnya.

 

D. Yustisia

(Seperti yang diceritakan oleh Patty, di sebuah laundromat, saat cinta pertama jadi cerita panjang yang menghangatkan jiwa – ditulis pertama kali pada 7 Agustus 2012. Rest in peace, Patty).

Untuk cinta pertama, N.

 

elizabethpark

Suatu Hari di Boothe Park Rose Garden

Summer adalah musim di saat beragam mawar berbunga. Bulan Juni terutama, adalah masa puncaknya dan waktu yang sangat cocok untuk mengunjungi beberapa taman yang ada di Connecticut. Saya baru tahu ada sebuah taman cantik di kota Stratford sekitar 20 menit jaraknya dari rumah, saat menghadiri perayaan kelulusan teman putri saya bulan Juli lalu. Acaranya diadakan di sebuah taman bernama Boothe Memorial Park & Museum yang masuk ke dalam daftar the National Register of Historic Places. Saya pernah bekerja di kota Stratford selama 3 tahun, tapi saya baru tahu ada taman bersejarah ini di sini baru-baru saja. Boothe Memorial Park & Museum didirikan oleh dua bersaudara, David Beach Boothe dan Stephen Nichols Boothe, pada tahun 1914. Tamannya sendiri sudah ada sejak tahun 1840. Taman ini menjadi milik pemerintah kota Stratford sejak tahun 1949 untuk dinikmati oleh masyarakat umum.

Di dalam taman dengan luas 130.000 m2 ini terdapat beberapa bangunan unik (tampak di dalam photo), antara lain menara jam, kincir angin kecil, chapel atau gereja kecil, blacksmith shop (kedai pandai besi), mercusuar miniatur, museum yang dinamakan Americana Museum, carriage house atau tempat untuk menyimpan kereta kuda dan sebuah rumah pribadi keluarga Boothe yang dimiliki dan ditinggali secara turun-temurun. Rumah kediaman itu bernama Boothe Homesteade dan dianggap sebagai homestead tertua di Amerika yang dibangun di atas fondasi asli dari saat homestead pertama berdiri pada tahun 1663. Tidak jauh dari gedung-gedung yang ada di Boothe Park & Museum terdapat taman bunga mawar. Taman yang termasuk mungil dalam segi luasnya ini tidak kalah menariknya dari taman-taman mawar lain yang pernah saya datangi di daerah lain di Connecticut. Karena saat saya dan anak bungsu saya berkunjung ke taman ini di bulan Juli, tinggal sedikit bunga mawar yang berbunga.

Ada sebuah air mancur cantik di tengah taman yang disekelilingnya terdapat bunga-bunga hosta lily. Kicauan burung-burung serta hembusan angin menambah kenyamanan Boothe Park Rose Garden yang dikelilingi beberapa pohon besar dan tua. Boothe Park berada di atas lereng di tepian Housatonic River. Beberapa bangku tersedia di taman bunga mawar memberi kesempatan untuk siapapun yang berkunjung untuk duduk dan menikmati kedamaian di situ. Sementara itu, sesudah berjalan sebentar meninggalkan Boothe Park Rose Garden terbentang halaman berumput yang luas diselingi pepohonan tua yang besar, rimbun dan kokoh. Burung-burung blue jay tampak berterbangan dan bermain, terdengar jeritan burung elang – red-tailed hawk- yang sedang mencari mangsa nun jauh di angkasa. Mungkin dia melihat kelinci kecil yang kami temui di taman bunga mawar tadi. 

 

boothepark

Boothe Park Rose Garden.

boothepark6

boothepark3

Tampak di latar belakang ada gedung-gedung yang menjadi bagian museum.

meatthepark

boothepark14

boothepark15

Boothe Park Rose Garden.

boothepark4

boothepark13

Pameran Star Wars di The Franklin Institute

Saat ini sedang ramai di media sosial kegiatan dengan tajuk lewat hashtag “10-year challenge”. Banyak orang turut meramaikan dengan memajang photo mereka 10 tahun lalu dibandingkan dengan yang baru. Saya ingin meramaikan kegiatan itu juga, tapi lewat cerita petualangan saya 10 tahun yang lalu (sebenarnya hampir 11 tahun) di the Franklin Institute yang berada di kota Philadelphia. Pengalaman ini termasuk yang istimewa dan karena terjadinya 10 tahun yang lalu, kenapa tidak saya ceritakan saja di sini. Saat itu, kami berencana mengunjungi kota Philadelphia yang bisa ditempuh sekitar 3 jam dari tempat kami tinggal dalam rangka mengisi liburan. Saya kebagian tugas mencari tempat menarik yang bisa kami datangi yang akan menarik perhatian anak-anak yang waktu itu berusia 9, 7 dan 5 tahun. Pilihan saya adalah the Franklin Institute dan saat saya memperhatikan situsnya, saya lihat ada pameran Star Wars yang akan diselenggarakan. Akhirnya kami putuskan untuk ke sana meskipun saat itu anak-anak masih belum paham mengenai Star Wars. Siapa yang menyangka 10 tahun kemudian mereka menikmati sendiri cerita Star Wars lewat film-film Rogue One, the Force Awaken, the Last Jedi dan Solo: A Star Wars’ Story.

The Franklin Institute terletak di pusat kota Philadelphia yang pernah menjadi ibukota Amerika Serikat dari tahun 1790-1800. Institut ini didirikan sebagai penghormatan untuk ilmuwan terkemuka Amerika yang juga seorang negarawan, Benjamin Franklin. Tempat ini merupakan museum ilmu pengetahuan di mana orang bisa belajar sambil bersenang-senang lewat beragam pameran serta kegiatan untuk banyak kalangan dari berbagai usia. Samuel Vaughan Merrick dan William H. Keating memelopori pendirian the Franklin Institute pada tanggal 5 Februari 1824. Pameran Star Wars yang diadakan di the Franklin Institute diselenggarakan dengan menitikberatkan pada bagaimana unsur-unsur ilmu pengetahuan terutama fisika dan mekanik menjadi pendukung film.  Di antara benda-benda yang dipamerkan terdapat beberapa model pesawat antariksa yang menjadi keunikan dan ciri khas Star Wars, seperti: Imperial Star Destroyer, Millenium Falcon dan Imperial TIE Fighter. Beberapa kostum yang dipakai tokoh-tokoh utama Star Wars seperti Han Solo, Chewbacca, Princess Leia, Anakin Skywalker saat kanak-kanak dan dewasa serta Obi Wan Kenobi. Ada pula kostum dari kelompok suku dan masyarakat yang menambah warna cerita Star Wars yang latar belakang keunikannya diambil dari pakaian tradisional suku-suku tertentu yang sesungguhnya. Seperti suku Tuareg yang tinggal di padang pasir yang menjadi pertimbangan kostum Tusken Raiders atau Sand People.

Di pameran ini diketengahkan juga stasiun pembuatan mobil mengapung seperti landspeeder yang dikendarai Luke Skywalker untuk anak-anak yang datang. Mereka bisa merakit beberapa benda yang ada di situ untuk membuat landspeeder mini. Keasyikannya adalah bagaimana bisa menentukan benda yang dirujuk dipasang dengan benar terutama magnet yang akan dipakai supaya landspeeder-nya bisa mengapung. Di dalam semesta Star Wars, kendaraan seperti “speeders” membutuhkan energi yang disebut “repulsorlift” untuk bisa bergerak ke mana-mana. Di dalam dunia nyata, teknologi yang menyerupai hal tersebut yang bisa menghasilkan kendaraan yang bisa mengapung layaknya monorail dan kereta tertentu, yaitu MAGNETIC LEVITATION atau disingkat MAGLEV. Anak-anak menikmati sekali pembuatan speeder mini di pameran. Kendaraan yang mereka rakit mengandung magnet yang disebut “propulsion magnet” yang harus menghadap posisi tertentu supaya bisa menggerakkan mobil yang dirakit. Mobil itu harus diletakkan di bawah kumparan yang akan mempengaruhinya bisa mengapung. Anak-anak diajarkan untuk jeli, membaca petunjuk dengan seksama dan mengenal fenomena dari energi magnet.

Benda-benda yang menjadi prop film yang tidak kalah mengagumkannya adalah kreasi pesawat-pesawat antariksa yang menjadi bagian penting Star Wars. Pesawat utama yang menjadi markas besar Darth Vader, Imperial Star Destroyer, sengaja diambil secara dekat supaya detailnya tampak jelas untuk menghasilkan efek seakan pesawatnya besar sekali. Kamera diletakkan sedekat mungkin dengan model pesawat Darth Vader sampai memenuhi seluruh permukaan. Sedangkan mengenai Imperial TIE fighter tadinya dirancang dengan warna biru. Tapi dikarenakan teknik saat itu belum memungkinkan meletakkan benda berwarna biru di hadapan “blue screen”, model pesawatnya diwarnai abu-abu. Pembuatan model pesawat antariksa yang digunakan dalam film Star Wars ada yang menghubungkan dengan era tertentu automobil misalkan pesawat Queen Amydala yang dibuat dengan sentuhan jaman dulu tapi tampak terawat. Pesawatnya mendapat sentuhan desain aerodinamik yang terinspirasi mobil-mobil di era 1950’an.

Penjelasan di tiap prop yang dipamerkan menambah pengetahuan terutama mengenai cinematography. Seperti bagaimana membuat model pesawat yang sebetulnya serupa ukurannya tampak berbeda di layar. Pembuat film mengambil adegan tiap pesawat dengan jarak yang berbeda dan kemudian menggabungkan gambar-gambarnya untuk menghasilkan efek yang diharapkan. Kenangan saat mengunjungi pameran Star Wars di the Franklin Institute memberi kesan tersendiri buat saya. Karena selain saya bisa melihat lebih dekat unsur-unsur pendukung film Star Wars yang melegenda, saya juga belajar mengenai ilmu pengetahuan yang melatarbelakanginya. Anak-anak juga menikmati pamerannya dan juga kunjungan ke museum sains ini. Sesudah dari pameran, mereka menikmati demo pembuatan kertas, kerja dari beberapa mesin termasuk locomotif, bisa menaiki pesawat jet trainer dan menjelajahi sebuah jantung raksasa.

 

starwars

Luke Skywalker’s landspeeder Prop Star Wars Episode IV: A New Hope.

starwars7

Imperial Star Destroyer Model Star Wars Episode IV-VI

starwars9

Imperial TIE (Twin Ion Engine) Fighter Model Star Wars Episode IV-VI

starwars10

Naboro Royal Starship Model Star Wars Episode I: The Phantom Menace.

starwars11

Millenium Falcon Model Star Wars Episode IV: A New Hope.

starwars12

Tantive IV Rebel Blockade Runner Model Star Wars Episode IV: A New Hope.

starwars4

Imperial Snowtrooper Star Wars Episode V: The Empire Strikes Back.

starwars3

Wampa – Costume Star Wars Episode V: The Empire Strikes Back.

starwars16

Jawa – Costume Star Wars Episode IV: A New Hope.

starwars18

Tusken Raiders/Sand People Costume Star Wars Episode IV: A New Hope.

starwars6

starwars17

starwars13

starwarsme1

starwars15

Building a floating car – Speeders in the Star Wars universe rely on a fantasy technology called repulsorlift.

starwars14

starwars20

Darth Vader Mask Costume Star Wars episode I: Revenge of the Sith.

starwars21

Darth Vader Collar Costume Star Wars Episode I: Revenge of the Sith.

starwarsme2

starwars22

The Benjamin Franklin Institute, Philadelphia.

Yang Unik di Barker Character,Comic & Cartoon Museum

Di sebuah kota kecil bernama Cheshire, terdapat sebuah museum yang lain dari yang lain. Mulanya ini semua berasal dari hobby Gloria dan Herbert Barker mengumpulkan cinderamata dan barang-barang unik yang biasanya menjadi incaran anak-anak untuk dipakai, seperti kotak makan, mainan, alat tulis, dll. Barang-barang ini bergambar atau dalam wujud karakter-karakter yang dikenal oleh anak-anak, seperti tokoh komik atau kartun. Pasangan ini selama 40 tahun telah mengumpulkan hingga sebanyak 80.000 benda yang dipamerkan di museum. Gloria dan Herbert Barker berpikir bahwa upaya pengumpulan cinderamata dan benda-benda nostalgia ini penting bagi generasi selanjutnya. Barker Character, Comic & Cartoon Museum (BCCCM) dibuka pada September 1997 dan menjadi semacam pusat nostalgia baik bagi generasi tua dan pengenalan bagi generasi muda, serta berfungsi semacam pusat arsip bagi sejarahwan yang ingin mempelajari keunikan dari benda-benda tertentu dari sebuah era.

Dari jalan raya, Barker Museum tidak terlihat layaknya sebuah museum. Gedungnya lebih mirip seperti gedung gudang (warehouse) berlantai satu. Biaya untuk mendatangi museum ini sangat murah, yaitu sebesar $5 untuk dewasa, $3 untuk anak berusia 4-17 tahun. Sementara untuk mahasiswa berusia 18-22 tahun dan manula tiket masuknya seharga $4 dan gratis untuk anak di bawah usia 4 tahun. Museum buka hanya untuk 4 hari dalam seminggu dari hari Rabu sampai Minggu dari pukul 11 – 16 waktu lokal. Di halaman museum yang asri terpampang papan-papan kayu dengan ilustrasi beragam cerita dari serial kartun yang saya kenal saat kanak-kanak, seperti: Scooby Doo, Johnny Quest, the Flinstones dll. Selain itu ada beberapa mural yang terpajang di dinding bangunan extra yang ada di halaman museum dengan ilustrasi dari Looney Tunes, Popeye’s dan the Yellow Kid yang merupakan comic strip tertua dari era tahun 1895-1898.

Memasuki Barker Museum serasa kita dibawa kembali ke masa kanak-kanak saat televisi masih hitam-putih dan membaca komik menjadi hobby mengisi waktu luang. Berderet-deret lemari kaca berisi figurine, boneka, mainan dari berbagai tahun dengan karakter yang kesayangan dari mulai Mickey Mouse, Garfield, Felix the Cat, Smurf, Tweety dan Silverster; juga tokoh-tokoh superhero seperti Superman, Batman dan Robin, Flash Gordon, Wonder Woman, dll. Di antara mainan serta benda-benda unik yang dipamerkan adalah benda tertua berupa mainan dari tahun 1873 yang terbuat dari besi cetak berwujud gajah yang bisa digerakkan dengan tenaga gravitasi. Mainan tertua ini dibuat di kota Bridgeport di Connecticut. Ada pula berbagai memorabilia dari film-film dan tokoh-tokoh film populer, seperti: Shirley Temple, Three Stooges, Star Wars, Star Trek, Godzilla, the Simpson dan masih banyak lagi. Di Barker Museum terdapat patung Hulk, Alvin and the Chipmunks dan keluarga Simpson yang pernah dipakai untuk promosi film dan acara tv-nya. Meskipun sepertinya museumnya ini terasa tidak seberapa luas, tapi koleksinya sungguh membuka wawasan, menyambung nostalgia dan bagi saya yang membawa anak saya ke mari, memberikan inspirasi buatnya. Barker Character, Comic & Cartoon Museum sungguh sebuah wahana yang menghibur dan sangat layak untuk dikunjungi.

 

barkermuseumbeep

barkermuseum

barkermuseum21

barkermuseum3

barkermuseum4

barkermuseum6

barkermuseum7

barkermuseum10

barkermuseum8

barkermuseum15

barkermuseum17

barkermuseum18

barkermuseumhulk

barkermuseum9

barkermuseum13

barkermuseum2

barkermuseum22

barkermuseum20

Rumah-rumah Cantik di New Haven

Buat saya, salah satu cara untuk relax adalah berjalan-jalan di beberapa jalan utama di kota New Haven yang di sisi kiri-kanannya berjajar rumah-rumah tua yang cantik. Sebagai pecinta arsitek, sejarah dan seni, saya bisa menemukan paduan itu semua pada rumah-rumah yang saya temui. Kebanyakan rumah-rumah yang dibangun di jalan bernama Whitney Avenue memperlihatkan warga New Haven yang hidup pada tahun 1800’an dari kelas atas. Rumah-rumahnya bergaya Victorian, Edwardian dan Queen Anne’s dengan keunikannya tersendiri dan keindahan pada detail yang terlihat di bagian luar rumah. Rumah-rumah ini hampir semuanya terbuat dari kayu dan satu kehebatan dari bangunan-bangunan ini adalah kemampuannya bertahan dari usia dan cuaca di Connecticut yang bisa parah saat winter. Guna melestarikan rumah-rumah ini, pihak pemerintah kota mendaftarkannya untuk masuk ke dalam National Historic Places atau daftar State Register of Historic Places (bisa dilihat di sini).

Di lokasi tertentu di sebuah kota, ada bagian yang dinamakan “historic district” dengan tujuan untuk memelihara bangunan-bangunan tua dan mengajak masyarakat untuk merawat dan menjaganya. Ada aturan bagi warga yang memiliki rumah untuk ditempati pribadi dan pihak yang ingin menggunakan bangunan untuk bisnis untuk tidak merubah bentuk asli dari rumah dan bangunan tersebut. Beberapa rumah benar-benar masih terlihat layaknya tidak ada perubahan sama sekali bagian luarnya, meskipun bagian dalamnya ada tambahan hal-hal modern seperti sambungan listrik dan telepon serta tv cable, atau perombakan interior bergaya masa kini. Karena aturan ini, rumah-rumah di jalan-jalan tertentu di New Haven, seperti Whitney Avenue, Orange Street dan Edgewood Avenue terlihat terawat, cantik dan yang pasti menyenangkan dipandang saat melewati jalan-jalan tersebut. Selain pemandangan berupa rumah dan bangunan tua, tambahan lainnya adalah taman yang keindahannya menambah kecantikan rumah serta bangunan dan sekelilingnya. Rumah-rumah yang ada di photo-photo di bawah hanya sebagian dari rumah-rumah tua yang cantik yang ada di kota New Haven. Tiap musim, rumah-rumah ini akan tampak berbeda yang menjadikan kecantikannya selalu istimewa.

beautifulhouse

beautifulhouse1

beautifulhouse2

beautifulhouse3

beautifulhouse4

beautifulhouse6

beautifulhouse5

beautifulhouse7

beautifulhouse8

beautifulhouse9

beautifulhouse10

beautifulhouse11

beautifulhouse12

beautifulhouse13

beautifulhouse14

Musim Semi dalam Sebuah Rumah Kaca

Musim semi adalah musim yang ditunggu-tunggu sesudah musim salju (dan es) di daerah New England yang kadang bisa melewati period 4 bulan. Sesudah memandangi salju dan es di mana-mana, betapa menyenangkannya bisa memandangi warna-warni bunga-bunga. Elizabeth Park, sebuah taman kota yang terbuka gratis untuk umum, menjanjikan itu di permulaan musim semi. Meskipun musim salju masih berlangsung sampai memasuki bulan Maret dan suhu beku masih berlaku, rumah kaca di Elizabeth Park bisa memberi hiburan mata dan jiwa saat diadakannya penjualan tanaman musim semi tahunan. Penjualan tanaman ini diadakan di salah satu rumah kaca yang ada di Elizabeth Park yang terletak di bagian bernama “the Farmstead”. Terdapat 3 rumah kaca di Elizabeth Park yang dibuat oleh Lord & Burnham Company dari New York pada kurun waktu 1898-1899. Taman kota yang terletak di kota sebagian West Hartford dan Hartford ini merupakan hadiah dari Charles Murray Pond, seorang pengusaha kaya dan politikus dari kota Hartford. Dulunya, Elizabeth Park merupakan bagian dari tanah pertanian milik Charles Pond dan istrinya, Elizabeth Aldrich Pond, yang tadinya bernama Prospect Hill. Saat Charles Pond meninggal pada tahun 1894, dia meninggalkan seluruh tanah miliknya untuk kota Hartford dan diperuntukkan menjadi taman kota. Satu permintaan Pond adalah menamakan taman tersebut ELIZABETH PARK seperti nama mendiang istrinya.

elizabethpark2

elizabethpark3

elizabethpark

elizabethpark9

Penjualan tanaman musim semi yang diadakan secara tahunan ini dikenal dengan sebutan SPRING GREENHOUSE BULB & PLANT SALE. Hampir semua tanaman yang dijual adalah jenis tanaman berumbi, seperti: tulip, hyacinth, amaryllis, daffodil, grape hyacinth dan lily. Tanaman lainnya yang bukan jenis berumbi yang dijual adalah beragam pansies, hellebore dan petunia. Setiap kali ke acara ini, saya lebih suka mengambil photo sepuas-puasnya dan tidak membeli tanaman apapun. Pengunjung bisa bebas datang ke rumah kacanya, mengagumi bunga-bunga di situ, mengambil photo, tanpa perlu harus membeli. Hasil penjualan digunakan untuk membiayai kegiatan pelestarian dan perawatan Elizabeth Park yang dibuka untuk umum pada tahun 1897 ini. Rumah kaca di Elizabeth Park menjanjikan kepuasan tersendiri di saat musim salju masih berlangsung. Sementara cuaca di luar terasa beku yang membuat tulang ngilu dan kulit pedih, di dalam rumah kaca terasa hangat dan menyenangkan.

elizabethpark10

elizabethpark13

elizabethpark16

elizabethpark17

elizabethpark15