Untuk para “high school seniors” atau murid-murid kelas 3 SMA di Amerika, ada hal yang mereka tunggu selama 4 tahun bersekolah, yaitu menghadiri acara PROM. Prom biasanya diadakan pada bulan Mei sebulan sebelum acara kelulusan di bulan Juni. Tradisi prom sudah berlangsung sejak tahun 1800 meskipun saat itu prom yang berasal dari kata PROMENADE yang berupa perayaan yang berakar dari “debutante balls” hanya diselenggarakan bagi para mahasiswa di perguruan tinggi di wilayah utara dan timur Amerika Serikat. Debutante balls adalah perayaan untuk memperkenalkan gadis-gadis yang telah mencapai usia tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan jodoh. Sejarah prom beriringan dengan sejarah Amerika yaitu ada saatnya prom harus dipisahkan untuk warga kulit putih dan kulit berwarna yang biasanya dimaksudkan sebagai warga African-American. Bahkan di sebuah daerah di negara bagian Mississippi hingga tahun 2008, prom di sebuah SMA masih dilangsungkan secara terpisah. Prom menjadi sebuah tradisi penting bagi para remaja SMA setelah tahun 1950 sesudah Perang Dunia II usai. Tujuan perayaan prom adalah mengajarkan para gadis dan pria remaja untuk berlaku terhormat, bisa menampilkan diri mereka secara berkelas dan cantik serta tampan. Beberapa film Hollywood seperti Grease, Pretty in Pink dan She’s All That menggambarkan cerita seputar prom. Tetapi jangan menyamakan prom yang ada di film dengan prom seperti yang diadakan SMA anak-anak saya juga SMA lainnya di wilayah kami. Prom yang sesungguhnya bukan yang penuh dengan keliaran murid yang bisa menyelundupkan minuman beralkohol, sex bebas, bullying dan hal-hal lain yang membuat geleng-geleng kepala. Aturan prom sangat ketat, bahkan untuk membawa “prom date” yang bukan murid sekolah tersebut, seorang yang diundang ke prom harus mengisi formulir khusus yang harus ditandatangani yang bersangkutan dan disetujui pihak sekolah. Sewaktu mau memasuki gedung tempat prom diadakan, petugas keamanan berupa satpam sekolah beserta guru dan staf sekolah akan memeriksa setiap anak menggunakan alat pendeteksi portable.
Sebelum perayaan prom berlangsung, ada sebuah proses yang biasanya melibatkan upaya pencarian gaun prom paling indah, aksesoris paling gemerlap dan sesuai dengan gaunnya, sepatu yang setara dengan sepatu Cinderella dan bagi remaja prianya berarti tuxedo atau setelan jas yang paling keren. Selain itu, prom tidaklah lengkap tanpa pemilihan make up dan gaya rambut yang menawan. Itu masih ditambah lagi dengan perawatan khusus untuk kuku-kuku baik tangan maupun kaki. Bisa dibilang, prom adalah saat di mana orang tua harus menyisihkan uang lebih demi kelangsungan acara sekali seumur hidup ini. Pencarian gaun prom mulai dilakukan sejak bulan Februari atau selepas “winter break” supaya ada kesempatan memilih model gaun yang paling bagus dan mengagumkan serta sesuai ukuran dan kalau bisa yang ada diskonnya. Itu pula yang saya dan kedua putri saya lakukan saat mereka menjadi senior di SMA. Si gadis sulung merayakan promnya pada tahun 2017 dan adiknya merayakannya tahun lalu. Proses mencari gaun prom ini bisa menjadi kenangan manis dan unik bagi sebuah keluarga, karena meskipun kesannya itu cuma gaun prom tapi seluruh anggota keluarga bisa turut andil memberi masukan. Ada beragam gaun prom yang bisa dipilih dengan harga yang bisa disesuaikan anggaran. Saya dan kedua putri saya membuat kesepakatan terlebih dulu sebelum mencari gaun prom yaitu mengenai patokan harga tertinggi untuk sebuah gaun. Saya membatasi $300 paling tinggi dan kedua putri saya membeli sendiri gaun mereka memakai uang hasil jerih-payah mereka. Hal yang utama saat memilih gaun prom adalah selain modelnya harus sesuai karakter si pemakai, gaunnya harus nyaman apalagi nantinya akan dipakai untuk sekian jam berjoget, bergurau dan kemungkinan melonjak-lonjak kegirangan.


Sesudah urusan mencari gaun prom beres dan ini tidak semudah yang dibayangkan. Karena kami harus mendatangi beberapa department store guna mendapatkan model yang paling cocok di hati kedua putri saya juga kantong. Lalu kami harus membuat janjian untuk salon untuk menata rambut dan kuku serta merias wajah. Anak-anak saya menggunakan kepandaian kawan-kawan mereka merias wajah juga kuku selain menata rambut. Saat prom si sulung, dia meminta tolong teman adiknya untuk menata rambut dan merias kuku-kuku tangannya. Sementara riasan wajahnya dia serahkan ke professional di salon. Sedangkan adiknya, pergi ke salon untuk menata rambutnya dan meminta tolong kawannya menyiapkan kuku-kuku palsu yang dihias cantik untuk ditempelkan di hari prom. Dia meminta kakak kawannya untuk merias wajahnya yang saya bayar layaknya jasa professional. Di sela proses menuju acara prom ini ada kesibukan lainnya yang dihadapi setiap senior yaitu ujian SAT dan ACT, khusus untuk kedua putri saya yang bersekolah di SMA berdasarkan berbagai aliran seni, mereka harus menyiapkan capstone (tugas akhir). Jadi bisa dianggap, prom itu layaknya perayaan untuk menghibur dan memberi selamat serta semangat bagi para senior sebelum kelulusan mereka. Saat prom menjelang, setiap anak akan sibuk dengan persiapannya. Ada anak yang memutuskan tidak hadir dan itu bukan hal aneh bagi kedua putri saya dan teman-temannya. Ada anak yang membuat sendiri gaun promnya terutama kalau dia memang mahir menjahit dan merancang pakaian. Prom bisa menjadi kenangan berharga.


Tradisi lain yang melingkupi prom adalah “prom date”, penyematan “corsage” dan penggunaan limo atau limousine (disebut juga stretched car karena mobilnya yang panjang) untuk menuju tempat prom diadakan. Putri sulung saya pernah menjadi “prom date” dua kawannya saat dia masih kelas 10 dan 11. Saat dia kelas 10, dia mendampingi seniornya seorang gadis sesama murid program musik string di sekolah. Tidak ada kesan istimewa saat itu. Namun sewaktu putri saya menjadi “prom date” seniornya saat dia kelas 11 yang menciptakan kenangan manis. Si remaja pria datang menjemput dengan sebuah mobil limo putih yang berhenti di depan rumah dan menjadi perhatian setiap mobil yang lewat . Sorakan demi sorakan dan siulan datang dari mereka saat melewati limo yang parkir serta putri saya dan kawannya ke luar rumah. Kawan putri saya membawa “corsage” yaitu karangan bunga yang disematkan ke pergelangan tangan layaknya gelang sebagai pelengkap gaun prom. Acara penyematan corsage dilakukan di teras rumah dan disaksikan ibu serta kakak perempuan si remaja pria, saya serta adik-adik si sulung dan juga tetangga dan orang lain yang turut bergembira melihat betapa imutnya putri saya dan prom date-nya. Sedangkan sewaktu putri kedua saya menjalani senior promnya, dia bersama sahabatnya saling menyematkan corsage. Mereka datang tanpa “date”.





Prom menjadi kesempatan emas bagi photographer untuk mengabadikan setiap individu yang mengikuti prom. Saya mengatur kedua putri saya beserta kawan-kawannya saat mereka ingin menyimpan kenangan manis prom. Pada kesempatan si sulung menjadi prom date di tahun 2016, saya memilih sebuah taman yang memiliki rumah kaca sebagai lokasi pengambilan photo. Saat kemudian si sulung menghadiri senior prom-nya, saya memilih sebuah museum seni, yaitu Yale Art Gallery, serta kampus Yale University sebagai lokasi pengambilan photo. Kemudian di saat putri kedua saya menghadiri senior prom-nya, saya mengambil photo-photonya di tempat prom berlangsung bernama Cascade yang memiliki taman yang indah. Kesempatan menyimpan kenangan prom kedua putri saya memiliki arti lebih karena membuat proses prom mereka komplit. Saya turut serta dalam segala seluk-beluk persiapan prom hingga kedua putri saya hadir di hari H dan bersenang-senang bersama kawan-kawannya hingga puas. Prom berikutnya, kalau bisa berlangsung, akan lain dari yang lain karena anak bungsu saya seorang remaja pria dan proses persiapan promnya akan jauh berbeda dari kedua kakaknya.













































































































