Be Grateful

Bahagia Bersama Allah

Bahagia Mengajar, all you need is Passion

Mendidik

Mengajar.

Tau bedanya dimana?

Bukan, bukan di d-i-d-i-k dan g-a-j-a-r nya,

Tapi, secara makna.

Kmaren abis ikutan TCT di Rumah Nah, pembicaranya Fatan fantastic.

Beliau bilang,

Mengajar itu- To Teach, Transfering Knowledges and Skills

Kalo Mendidik- To Educate, not only knowledges and skills but also values yang berujung pada perubahan behaviour yang diharapkan.

Jadi, mengajar itu orientasinya ga Cuma tau doang. Tapiii membimbing dan memahami bagaimana manusia berperilaku.

Pendidikan sendiri berarti suatu proses tahap demi tahap. Mengembangkan.. membina manusia untuk mencapai pengetahuan, pemahaman dan perilaku yang ideal.

Pendidikan. Suatu transformasi dalam tiga aspek, yaitu

  1. Lahiriah- dengan perilakunya
  2. Aqliyah- pemikirannya
  3. Bathiniyah- perbuatannya

Tujuan pendidikan adalah menyelaraskan ketiga aspek tersebut.

Seperti halnya iman. Yang diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan.

Untuk menjadi pendidik yang sukses dan berbahagia, kita harus punya Passion dalam pendidikan.

Passion adalah emosi yang dalam, yang mendorong, menyetir dan membuat seseorang antusias dan sangat mau melakukan sesuatu.

Adapun competence. Adalah kemampuan seseorang dalam suatu hal

Ada 4 macem manusia.

  1. High Passion, Low Comptence = Developing
  2. Low Passion, High Comptence = Fixed
  3. Low Passion, Low Comptence = Restriction
  4. High Passion, High Comptence = Unique Ability

Yang dibutuhkan seseorang untuk mencapai kebahagiaan melakukan pekerjaannya adalah Passion yang tinggi. Itulah- meskipun competence nya masih rendah dia tetep mau belajar demi mencapai kesempurnaan. Berbeda dengan orang yang passionnya rendah, meskipun dia memiliki  competence yang tinggi, dia tidak memiliki rasa senang dan bahagia dalam melakukan sesuatu. Dia merasakan itu adalah siksaan yang tak berujung. Bukan pekerjaan yang membahagiakan.

Pendidik  dengan high passion dan low comptence memiliki kelebihan untuk melakukan usaha yang menguatkan dari dalam dirinya. Kebahagiaan dalam mendidik merupakan suatu kebebasan yang tidak berurusan dengan orang lain, bukan dengan kurangnya fasilitas. Dia terus berfokus pada dirinya bagaimana cara meningkatkan kompetensinya, untuk memperbaiki diri dan orang lain.

Passion menjadikan sesorang kuat dan tegar melalui segala tantangan dalam mendidik. Dia mengajar dengan hati dan menjadikan cinta dalam proses pendidikan.

Ok!

Mengajarlah dengan cinta ^^

Leave a comment »

aljohan's avatarMenebar Hikmah Menyemai Hidayah

Darul Uloom Al-Arabiyyah Al-Islamiyyah adalah madrasah pertama yang berdiri di negara Inggris. Terletak di sebuah puncak bukit di Holcombe Brook, Bury, Great Manchester, madrasah ini didirikan pada tahun 1973 oleh Maulana Yusuf Motala, seorang santri kesayangan Shaikhul Hadith Maulana Zakaria, penulis kitab best seller “Fadhail A’maal” yang menjadi bacaan wajib jamaah dakwah yang bergerak di seluruh dunia.

View original post 270 more words

3 Comments »

Proyek 1

Jadi gini,

yaaa, sebagai manusia. masing2 kita punya kekurangan kan yah? selalu!

 

tepatnya hari ini, jam 10.32 pagi ak ngerasa kecewa sama diri aku sendiri.

pada setiap kekurangan aku,

parahnya lagi.

kalo lagi berfikir negatif kaya gini ak suka tiba2 ngerasa ga berguna, tiba2 lupa sama mimpi dan harapan. tiba2 ngerasa jenuh dengan diri sendiri dan keadaan.

ngerasa bosen-

bosen sama diri sendiri.

 

aku kasi tau.

kelemahan ak yang paling pengen aku ubah saat ini adalah

dias yuri yang engga tegas-

aaaaa

 

itu sangat menggangu!

dalam kehidupan sehari-hari, aku kurang tegas.

terlebih pada diri sendiri.

aku sering melanggar janji pada diri sendiri, hal spele sih. misal untuk ga makan mie instan, untuk ga nonton kebanyakan, dst.

tapi ternyataaaa, hal kecil itu kalo dibiasain juga ga bagus!

 

aaa

 

oke,

kita mulai perlahan2 yah!

 

slowly but sure deh.

proyek kebaikan aku minggu ini dan seterusnya!

TEGAS! pada diri sendiri dan dalam kehidupan

 

bismillah.

 

gitu tmen,

kalo aku mulai ga tegas,

tolong ingetin ya?

 

 

bukankah itu salah satu dari peran teman ^^

saling mengingatkan dan membantu.

bantu ak yaaa, makasiii ^^

 

Leave a comment »

Pendidikan, Proses Pengenalan Adab

Dimanapun, diseluruh dunia- pendidikan menjadi gagasan yang tak pernah habis untuk diperbincangkan.

Banyak hal menarik dalam pendidikan untuk terus digali dan diaplikasikan. Salah satunya adalah tujuan pendidikan.

Tujuan mendasar dari pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia. Seperti keyakinan benjamin Franklin bahwa pendidikan tidak ada gunanya kalau tidak mengacu pada kebutuhan praktis siswa-siswinya.

Pendidikan memiliki peran untuk mentransfer ilmu bagi manusia.

Dalam islam, ilmu dikatakan berkah ketika ilmu tersebut membuat orang semakin bertaqwa dan percaya pada Allah.

Ilmu tidak akan berguna jika tidak menambah keimanan seseorang.

Agar mencapai keberkahan ilmu tersebut maka ada aspek yang perlu diperhatikan dalam trasfer ilmu ini yaitu.

Pertama; Hendaknya ilmu yang disampaikan mendorong siswa untuk mengetahui adab terhadap diri sendiri. bagaimana cara bersuci, bagaimana cara beribadah..

Kedua; mengetahui dan memahami adab terhadap orang lain baik yang lebih tua ataupun yang lebih muda seperti orang tua, guru dan teman sebaya. bagaimana cara berinteraksi dengan masyarakat luas..

Ketiga; mengetahui adab dalam menuntut ilmu.bagaimana adab terhadap Guru, buku, ilmu.. forum ilmu.. dst

Dan keempat adab kepada Allah dan alam semesta. tujuan utama dari proses pendidikan adalah terbentuknya manusia yg smakin cinta dan Taat pada Tuhannya, makin percaya dan yakin.

Pengenalan adab-adab tersebut sangat penting untuk menunjang pemahaman anak mengenai hakikat kehidupan. Ketika anak mengenal adab-adab tersebut maka anak bisa mempelajari dengan pemahaman yang kuat dan rasional segala hal yang memang harus ia ketahui.

Leave a comment »

Giliranku, kapan?

untuk kesekian kalinya, okeee. saya bahagia dapet undangan pernikahan teman-teman saya

hiihi,

rasanya lucu-

dulu kami masih muda, kecil dan polos.

di fikiran kami hanya bermain, makan, tidur dan sekali kali belajar 😀

seiring berjalannya waktu, bumi yang kami pijak pun smakin renta, semakin tua. tapi kami tetap hidup dan setia menghirup udara yang di sediakan Tuhan untuk kami- hambaNya yang sangat sering lupa untuk bersyukur *ah

seperti orang orang tua yang terdahulu. kamipun sekolah- sampai kuliah, dimana mana diseluruh indonesia, bahkan ada yang beberapa teman kami yang sekolah di luar negri.

setiap detik kami jalani, dengan berbagai macam peraasaan. dan kami menikmatinya ^^ meski tak jarang kami tersedu sedan menghadapi hidup yang kami anggap terlalu keras bagi kami- yang masih merasa sebagai bocah kecil.

pada suatu hari. tiba2 saya kaget. melihat cermin. dan menyadari. betapa tuanya saya. pada umur 20-an seperti ini kami mendapat kabar pernikahan teman-teman kami. kami turut bahagia.

tapi kelak-

kamipun harus menyiapkan hati yang sangat tegar untuk mendapat kabar duka-

ketika teman-teman kami. satu persatu pergi meninggalkan dunia. dan bertanya. kapankah giliranku?

dan seperti yang sering saya katakan sejak dulu. saya merasa belum siap.

2 Comments »

Tugas kita cuma Berhusnudzon

ku tak tahu ini Rahmat atau Bencana, aku hanya ingin berbaik sangka dg semua ketentuan-nya (Salim A.Fillah- dalam dekapan ukhuwah)

 

ya, hidup tidak pernah menjanjikan langit yang selalu biru.

lagi pula ga akan seru kalo idup lempeng lempeng aja- lurus lurus aja.

oke. kita dengan gampang berteori! kalo smuanya itu pasti yg terbaik menurut Allah.

faktanya- kita akan sedikit kesusahan menuju kesempurnaan cara berfikir seperti itu.

kadang, kita manusia kebanyakan ngeluh daripada nyari solusi

kadang, kita manusia kebanyakan marah marah daripada berfikir jernih menyelesaikan masalah.

oke.oke

memang harus dilatih-

smoga kita terbiasa berpositif thinking ya!

Ya Rabb- Tolong kami!

 

Leave a comment »

Kehidupan Sosial Rasulullah

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”.(QS. Saba : 28)

 

Rasulullah adalah contoh tauladan manusia dalam segala hal. Semua prilakunya menjadi panutan umat manusia, karena beliau adalah makhluk paling mulia yang pernah ada di dunia ini. hatinya telah bersih dari segala dosa. Rasulullah adalah panutan yang sempurna dengan teladan yang melebihi kebesaran dan keluhuran manusia.

 

Sepenggal Kisah Rasulullah

 

Sejak kecil, muhammad memiliki sikap dan perilaku yang menawan. Dalam masyarakat muhammad dikenal sebagai sosok yang paling memenuhi janji, paling jujur, paling adil, paling hormat dalam pergaulan dengan tetangganya, menyambung tali silaturahmi, paling menyayangi, paling bersikap lembut, paling bagus pergaulannya, paling bagus akhlaknya, beliau mencintai para fakir miskin dan para yatim piatu, membantu mereka, menghadiri jenazah mereka, dan tidak pernah mencela orang karena kemiskinannya.

Pada usia dua puluh lima tahun, muhammad pergi ke syam menjalankan barang dagang milik khadijah disertai pembantu khadijah yang bernama maisarah. Sepulang dari syam, khadijah mendapati keuntungan yang lebih besar dari biasanya. Menurut penuturan maisarah,muhammad merupakan seorang yang jujur dan pandai berdagang.

Muhammad menikah dengan khadijah pada umur 25 tahun dan beliau tidak pernah menikahi wanita lain sampai khadijah meninggal dunia. Setelah Khadijah meninggal, beliau menikah lagi dengan Aisyah (satu-satunya yang masih gadis) selebihnya, menikahi para janda, sebagian besar berusia lanjut, Itu pun dengan alasan merukunkan 2 golongan, menguatkan aqidah serta menjalankan perintah dari Allah.

Pada usia tiga puluh lima tahun, terjadi perselisihan dalam proses renovasi ka’bah yakni dalam peletakan hajar aswad. Setiap kabilah merasa paling pantas meletakkan hajar aswad ketempat semula. Perselisihan berlanjut hingga lima hari bahkan hampir berujung pada pertumpahan darah. Abu ummayah al mughiroh menawarkan jalan keluar dari perselisihan dengan menyerahkan urusan ini kepada siapapun yang pertama kali masuk melewati pintu masjid.  Dan Allah menghendaki orang tersebut adalah muhammad. Maka kabilah yang berselisihpun menyepakati untuk menyerahkan urusan ini kepada muhammad. Untuk menyelesaikan perkara ini, muhammad meminta sehelai selendang lalu beliau meletakkan hajar aswad ditengah selendang, lalu meminta para pemuka kabilah yang berselisih untuk memegang ujung ujung selendang dan memerintahkan mereka untuk bersama-sama mengangkatnya. Setelah sampai pada tempatnya, beliau mengambil hajar aswad tersebut dan meletakkannya ditempat semula. Pemecahan ini merupakan jalan yang paling jitu dan diridhai oleh semua orang, setelah peristiwa ini muhammad dijuluki al amin.

Setelah perjalanan dakwah sembunyi dan dakwah terang-terangan, muhammad melaksanakan hijrah ke madinah dan membangun masyarakat baru. Yang pertama beliau lakukan adalah membangun masjid nabawi. Masjid ini bukan sekedar tempat beribadah saja akan tetapi juga menjadi tempat belajar atau sekolah bagi orang muslim untuk menerima pelajaran islam serta bimbingan dari rosulullah, selain itu digunakan juga sebagai balai pertemuan untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan semasa jahiliah, sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah  dan menjalankan roda pemerintahan. Disamping itu, masjid nabawi juga berfungsi sebagai tempat tinggal orang muhajirin yang miskin, yang tidak memiliki harta, yang tidak memiliki kerabat dan masih bujangan atau belum berkeluarga.

Tindakan kedua yang dilakukan rosulullah adalah mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar. Tujuannya adalah agar mereka saling tolong menolong. Makna dari persaudaran yang dilakukan nabi ini adalah upaya untuk menghilangkan fanatisme kejahiliahan serta bertujuan agar perbedaaan-perbedaaan keturunan, warna kulit, dan daerah tidak mendominasi dan agar seseorang tidak merasa lebih unggul atau lebih rendah kecuali karena ketakwaaannya.

 

 

Hadist Yang Berkaitan Dengan Tuntunan Rosul Dalam Hidup Bermasyarakat:

 

  • Seseorang bertanya kepada rosulullah: bagaimanakah islam yang paling baik? Rosulullah menjawab : hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapapun yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal (diriwayatkan bukhari)
  • Rosulullah juga bersabda: Tidaklah masuk syurga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya (diriwayatkan muslim)
  • Orang muslim adalah jika orang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya (bukhari)
  • Seorang diantara kalian tidak disebut beriman sehingga ia mencintai bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (bukhari)
  • Janganlah kalian saling membenci, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara dan orang muslim tidak diperbolehkan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari (bukhari)
  • Orang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya tidak boleh mendzalimi dan tidak boleh menelantarkannya. Barang siapa yang berada dalam kebutuhan saudaranya maka Allah berada dalam kebutuhannya. Barang siapa menyingkirkan darinya satu kesusahan, maka Allah akan menyingkirkan darinya satu kesusahan dari berbagai macam kesusahan di akhirat. Barang siapa menutupi aib orang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. (muttafaq alaih)
  • Kasihilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya yang di langit akan mengasihimu (abu daud dan tirmidzi)
  • Mencaci orang mukmin adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran (al bukhari)
  • Siapapun orang muslim yang mengenakan pakaian kepada orang muslim lainnya yang telanjang, maka Allah akan mengenakan pakaiandari pelapah syurga kepadanya, dan siapapun orang muslim memberi makan orang muslim lainnya yang lapar, maka Allah memberinya makanan dari buah-buah syurga, dan barang siapa orang muslim yang memberi minum orang muslim lainnya yang haus, maka Allah memberinya minum dari minuman yang harum dan tertutup (abu daud dan tirmidzi)

 

Maraji’ :

Al-imam yahya bin syirafuddin al-nawawi . syarah hadis arbain

Syaikh shafiyyurrahman al mubarakfuri, Sirah nabawiyah.

 

Leave a comment »

Sosiologi Komparatif : Sistem Kesejahteraan Negara “Welfare State” antara Inggris & Indonesia

A. Kesejahteraan

Kesejahteraan merupakan kondisi yang diidamkan oleh setiap manusia.  Fitzpatrick menjelaskan bahwa Kesejahteraan mencakup kebahagiaan, rasa aman, memiliki banyak peluang untuk memilih, adanya reward yang sesuai dengan tingkat kontribusi serta ada komparasi relatif [1]. Kebahagiaan merupakan suatu konsep yang sangat relatif. Dalam filosofi yunani, kebahagiaan diartikan sebagai kondisi yang baik, menjadi baik, serta melakukan yang baik. Rasa aman dalam konteks kesejahteraan mencakup rasa aman dari penghasilan, tempat tinggal, kepercayaan, lingkungan serta segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupannya. Banyaknya peluang untuk memilih  membuat seseorang merasa lebih puas karena ia bisa memiliki kemampuan untuk memilih yang terbaik. Dalam pemenuhan kebutuhan, Kebutuhan manusia terdiri dari basic needs, yaitu kebutuhan terhadap udara, minuman, makanan, pakaian, tempat tinggal. Yang kedua adalah non basic needs contohnya adalah kebutuhan seseorang untuk mengembangkan karier serta yang terakhir adalah preferensi. Ketika seseorang bisa memenuhi ketiganya maka semakin sejahteralah kehidupannya. Kesejahteraan juga menuntut adanya distribusi yang adil yang merupakan prinsip moral dalam suatu masyarakat. Reward diberikan sesuai kontribusi masyarakat dalam mendorong kesejahteraan bersama. Meskipun begitu, seharusnya kesenjangan merupakan suatu hal yang sulit ditemui dalam kondisi sejahtera.

B. Kesejahteraan Sosial

Kesejahteraan sosial  menurut miftachul huda yang berdasar dari hasil Pre-conference Working for the 15th international conference of social welfare menyebutkan bahwa kesejahteraan sosial adalah keseluruhan usaha sosial yang terorganisir dan mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat berdasarkan konteks sosialnya. Didalamnya tercakup juga unsur kebijakan dan pelayanan dalam arti luas yang terkait dengan berbagai kehidupan dalam masyarakat, seperti pendapatan, jaminan sosial, kesehatan, perumahan, pendidikan, rekreasi budaya, dan lain sebagainya[2].

Membahas tentang kesejahteraan tentu kita tidak bisa lepas dari konsep kelas. Setiap masyarakat mempunyai lapisan kelas atas dan bawah. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya oleh karena itu peran pemerintah sebagai pemimpin negara sangat dibutuhkan untuk membantu kemerataaan kesejahteraan dari setiap kelas yang ada dalam masyarakat. Dalam sebuah negara, kesejahteraan dikaitkan dengan peran pemerintah untuk memenuhi kebutuhan warganya dalam bidang kesehatan, pendidikan dan rasa aman.

C.  Negara Kesejahteraan (welfare State)

Welfare state merupakan sistem pemerintahan dimana negara bertanggung jawab besar terhadap kesejahteraan warganya. Welfare state ditandai dengan tingginya peran negara dalam pembangunan kesejahteraan warganya. Menurut miftachul huda sebagaimana tertuang dalam Barner & noble, New American Encyclopedia, welfare state dijalankan oleh pemerintahan demokratis yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya. Program ini bertujuan untuk mengurangi penderitaan masyarakat seperti kemiskinan, pengangguran, gangguan kesehatan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, suatu negara yang menerapkan welfare state mempunyai kebijakan publik yang bersifat pelayanan, bantuan, perlindungan atau pencegahan pada masalah sosial.

Negara kesejahteraan dipercayai sebagai suatu konsep yang dibuat oleh kaum kapitalis. Beberapa penulis dari kalangan marxis menjelaskan bahwa welfare state merupakan upaya kaum kapitalis untuk mengurangi dampak negatif yang timbul dari kegiatan produksi dan industrialisasi. Gosta esping-Anderson sebagaimana ditulis oleh miftachul huda menyebutkan bahwa sistem kapitalis menciptakan tekanan untuk membangun negara kesejahteraan. Para pengkritik welfare state mengatakan bahwa welfare state adalah sebuah mekanisme untuk mempertahankan kekuasaan dan kedudukan kaum kapitalis agar kaum borjuis atau buruh merasa terlindungi dan terayomi sehingga tidak melakukan tindakan anarki seperti gerakan sosial atau aksi revolusioner.

D.  Model-Model Negara Kesejahteraan

Welfare state memiliki beberapa model yang menggambarkan keragaman dan perbedaan ideologi yang dianut oleh masing-masing negara. Model-model tersebut yaitu institusional, residual, campuran, korporasi dan minimal [3]. Pertama, model institusional adapun yang menyebutnya model universal- dipengaruhi oleh paham liberal. Kesejahteraan dipandang sebagai hak seluruh warga sehingga pelayanan kesejahteraan dilakukan secara permanan dan tidak memandang strata sosial dan ekonomi masyarakat. Kedua adalah model residual model ini menerapkan pelayanan yang selektif, dipengaruhi paham konservatif dan didorong oleh ideologi neo liberal  dan pasar bebas. Pelayanan diberikan dengan skema waktu yang singkat yang akan diberhentikan jika dirasa sudah cukup. Ketiga adalah model campuran, merupakan bentuk kompromi terhadap pertentangan yang terjadi pada saat krisis ekonomi dunia tahun 1970-an. Model ini menempatkan negara, sektor non formal, volunter dan lembaga komersial dalam posisi yang sama dalam tuhgas pemenuhan kebutuhan warga negara. Keempat adalah model korporasi. Diterapkan dengan memberikan jaminan sosial kepada warganya atas skema kontribusi kerja. Kontribusi jaminan sosial berasal dari tiga pihak yaitu pemerintah, dunia usaha dan pekerja. Dan terakhir adalah model minimal. Negara penganut model ini memberikan anggaran yang kecil dalam belanja sosial karena memang negara tersebut masih tergolong miskin ataupun karena tidak memiliki political will terhadap pembangunan sosial. Pelayanan diberikan secara temporal, minimal dan sporadis.

Gosta esping anderson menyebutkan bahwa negara kesejahteraan terbagi menjadi tiga rezim yaitu sistem liberal, konservatif/korporis statis dan universialism/sosialis demokrat [4]. Dalam sistem liberal, negara kesejahteraan hanya membantu kelompok-kelompok tertentu saja. Kalangan elit yang dianggap mampu tidak masuk dalam skema kesejahteraan sehingga menyebabkan banyaknya asuransi swasta di negara tersebut. Selanjutnya  sistem konservatif, negara menekankan komodifikasi kesejahteraan oleh sisitem kapitalis. Kesejahteraan dikembalikan kepada komunitas dan keluarga. Dan yang terakhir adalah sistem sosialis demokrat/universialis. Tujuannya adalah meningkatkan jumlah kelas menengah sebagai kelas yang membayar pajak dan memberikan pemasukan kepada pemerintah serta mengurangi kesenjangan antara kelas bawah dan menengah. Memiliki prinsip solidaritas, kesetaraaan dan universialisme.

E.  Inggris Sebagai Penganut Model Residual

Inggris merupakan negara yang pertama kali mencetuskan konsep kesejahteraan sosial. Bermula ketika pemerintahan inggris menerapkan Poor Law (undang-undang kemiskinan) antara tahun 1300-an sampai pertengahan 1800-an. Poor law merupakan suatu respon dari berbagai krisis yang melanda pada saat itu. Dampak yang dirasakan adalah setelah perang. Semakin banyak kelaparan, kemiskinan, penyakit, dan kebodohan yang merajarela. Sistem foedal mengalami kegagalan yang tak terbantahan. Bersamaan dengan itu tidak tersedianya bantuan yang tersedia. Pada masa itu penyedia bantuan adalah keluarga, komunitas gereja dan teman-teman dekat akan tetapi krisis yang mencekam telah menghalangi komunitas ini untuk melayani sesamanya.

Tahun 1349 terjadi suatu musibah yang terkenal dengan sebutan black death, disebut demikian karena pada tahun tersebut banyak sekali korban yang meninggal dunia. Black death telah memberikan dampak yang signifikan terhadap berkurangnya populasi penduduk. Raja Edward yang berkuasa pada masa itupun memberikan respon terhadap peristiwa tersebut dengan menetapkan undang undang yang mengatur masalah pekerja dengan fokus para gelandangan dan pengemis. meskipun Raja Edward adalah pelopor utama yang mencetuskan, Poor law yang paling signifikan mempengaruhi kesejahteraan sosial rakyat inggris adalah yang diterapkan oleh ratu Elizabeth I pada tahun 1601 yang dikenal sebagai Elizabethan Poor Law of 1601.

Zaman reneisance telah melahirkan benih revolusi industri di Inggris yang menimbulkan gelombang urbanisasi yang tinggi. Masyarakat pedesaan berbondong-bondong pencari penghidupan di wilayah perkotaan. Kondisi ini ternyata menimbulkan berbagai macam masalah di negara inggris. Sehingga mendorong kerajaan untuk turut serta turun tangan memberikan bantuan. Poor law membagi kategori orang miskin menjadi dua kategori yaitu worthy poor dan unworthy poor [5]. Worthy poor adalah mereka yang tidak memiliki peluang untuk dapat bekerja sehingga wajar hidup dalam kemiskinan misalnya orang buta, orang cacat, lanjut usia, orang tua tunggal dan anak-anak. Kelompok inilah yang mendapatkan bantuan dari pemerintahan inggris. Sedangkan kategori unworthy poor adalah mereka yang miskin karena kemalasan, mabuk, judi dan tidak mau bekerja padahal mereka memiliki kemampuan untuk bekerja. Kategori ini dianggap tidak pantas mendapatkan bantuan dari pemerintah. Mereka diwajibkan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannnya. Pemerintah inggris bahkan mengancan penjara bagi mereka yang menolak mencari pekerjaan dan memenuhi kebutuhannya sendiri.

Pembagian kategori orang miskin di inggris berimplikasi pada berbedanya jenis bantuan yang diberikan pemerintah inggris. Kategori worthy poor diberikan bantuan dengan menempatkan mereka di rumah miskin yang menerima pelayanan mendasar dan kebutuhan hidup mereka. Kategori unworthy poor yang dianggap mampu bekerja dikirim ke panti untuk mendapat pembinaan serta disalurkan untuk menjadi buruh disuatu lembaga pekerjaan

Prinsip pemerintah untuk tidak memanjakan kategori unworty poor dilatar belakangi oleh pandangan protestan ethic dan laissez-faire. Protestan ethic merupakan pandangan yang mendorong seseorang untuk bekerja keras dan berambisi tinggi dan pandangan laissez- faire adalah suatu teori ekonomi yang mendukung pencarian keuntungan yang sebesar-besarnya dari anggota masyarakat namun meminimalkan campur tangan negara dalam aktivitas ekonominya. Pengaruhnya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kesejahteraan ataupun kemiskinan adalah tanggung jawab pribadi bukan tanggung jawab negara. Meskipun poor law sangat dipengaruhi oleh ideologi yang sangat populer dengan ekonomi pasar bebas, poor law diyakini sebagai cikal bakal berdirinya negara kesejahteraaan atau welfare state.

Inggris termasuk kedalam kategori welfare state yang menganut sistem kesejahteraan dengan model residual. Ditandai oleh tiga elemen : jaminan standar minimum, perlindungan sosial pada saat munculnya resiko-resiko dan pemberian pelayanan sebaik mungkin[6]. Sistem kesejahteraan di inggris hampir sama seperti sistem universialis, bedanya di inggris jumlah tanggungan dan bantuan terbilang lebih sedikit. Pemberian perlindungan dan pelayanan sosial diberikan secara ketat dan temporal.

Sejak tahun 1942 inggris mendirikan National Health Services perawatan kesehatan tanpa biaya, sistem pensiun, pendidikan gratis, perumahan, jaminan keamanan sosial dan peluasan kesempatan kerja[7]. Salah satu contoh pelayanan yang diberikan pemerintah inggris kepada rakyatnya terlihat dalam film dokumenter garapan michael moore yang memperlihatkan bahwa di Inggris, rumah sakit negara memberikan pelayanan gratis bagi warganya. Apapun penderitaan pasiennya baik itu patah tulang, ataupun kangker. Ibu hamilpun memiliki kesempatan rawat inap gratis. Dalam rumah sakit tersebut tidak ditemukan kasir untuk tempat membayar biaya perobatan. Adapun kasir bertugas sebagai pelayanan kesehatan nasional yang bertugas memberikan uang transportasi jika mereka membutuhkan. Dan memastikan apakah pasien sudah benar-benar sehat dan pulang ke tempat yang aman.

Inggris terkenal sebagai negara yang paling mengayomi warganya dibandingkan dengan negara barat dan negara maju lainnya. Kebaikan pemerintah inggris yang berlangsung sejak perang dunia kedua ternyata membuat sebagian besar warga inggris memilih pengangguran untuk mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Sistem yang ditujukan untuk melindungi orang-orang cacat, lansia dan anak pun disalah gunakan. Untuk menangani permasalahan ini, Tahun 2010 negara inggris mulai memangkas anggaran sistem kesejahteraan yang dirasakan rakyatnya[8]. Perdana mentri inggris David Cameron menyatakan bahwa pemerintah akan memotong anggaran tunjangan sebesar 18 miliar poundsterling dalam jangka waktu empat tahun. Pemerintah meminta rakyatnya untuk bekerja lebih keras dan bekerja untuk lingkungan dan komunitas mereka. Pemerintah mengancam akan menghentikan tunjangan jika mereka tidak mau mengerjakan pekerjaan yang mereka mampu melakukannya.

F.   Indonesia, Penganut Model Minimal

Di Indonesia, gagasan kesejahteraan sosial sudah muncul sejak masa kemerdekaan. Menurut soetrisno sebagaimana disebutkan miftachul huda, nilai kepemimpinan yang berwatak jujur, bijaksanan dan baik hati terhadap rakyatnya terdapat dalam cerita wayang yang berkembang di masyarakat jawa[9]. Kemudian secara tegas konsep kesejahteraan mulai tahun 1974 dalam UU No. 6 yang menjelaskan konsep kesejahteraan sosial kemudian disahkan kembali pada 18 Desember 2008 sebagai pengganti undang-undang yang lama. Dalam pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa, “kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.

Jaminan sosial merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengayomi rakyatnya. Berdasarkan metode, jaminan sosial terdiri dari dua kategori yaitu program jaminan hari tua dan program pemeliharaan kesehatan [10]. Jaminan hari tua menggunakan sistem tabungan untuk memupuk dana yang akan diberikan sebagai tunjangan hari tua berupa tunjangan pasca karya maupun uang pensiun. Dalam bidang Kesehatan yang merupakan suatu elemen penting untuk mencapai kesejahteraan, di Indonesia tidak semua masyarakat memiliki asuransi kesehatan. Meskipun pemerintah indonesia yang menganut model minimalis yang hanya memberikan asuransi kesehatan pada keluarga miskin, biasanya masyarakat indonesia lebih mengandalkan pelayanan kesehatan yang murah dan terjangkau di puskesmas.

Dalam kebijaksanaan sosial, Kesehatan penduduk adalah hal yang menjadi dasar untuk setiap pembangunan, kesehatan juga merupakan bagian yang harus diberikan anggaran dana yang besar dalam suatu negara [11]. Indonesia sebagai negara berkembang masih memiliki banyak permasalahan sosial seperti kemiskinan, pengangguran, lingkungan yang tidak sehat, pendidikan yang rendah dan lain sebagainya. Kondisi ini menyebabkan masyarakat indonesia rentan terhadap penyakit dan kematian.

Pajak merupakan sumber dana untuk menjalankan negara kesejahteraan. Akan tetapi di indonesia pajak telah banyak disalahgunakan oleh pemimpin bangsa. Tingkat korupsi kolusi dan nepotisme di indonesia masih sangat tinggi. Perilaku ini menyebabkan terbengkalainya hak masyarakat.

Sistem kesejahteraan di indonesia belum merata sampai kepelosok. Masih adanya kesulitan masyarakat dalam mengakses pendidikan yang merupakan sarana mobilitas vertikal menjadi ciri yang paling mudah untuk diperlihatkan. Kesehatan ibu hamil, anak serta lanjut usia kurang mendapatkan perhatian. Akhir-akhir ini pemerintah malah sibuk menyiapkan gedung baru mereka yang katanya menjadi suatu syarat dan keharusan bagi suatu bangsa yang berkarakter.

Kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah yang korupsi dan melupakan nasib rakyat menimbulkan banyak pertentangan dan gerakan sosial. Perlawanan masyarakat bisa melewati media, internet dan gerakan langsung di jalanan. Gerakan sosial yang dilakukan masyarakat tidak semua berjalan damai. Seringkali terjadi kekerasan, keributan dan bentrok antar pelaku gerakan sosial tersebut. Jika dibiarkan, hal ini akan terus mengurangi kenyamanan dan keamanan warga sehingga kesejahteraan sosialpun tidak tercapai.

Sepertinya indonesia harus mulai bebenah. Pemerintah harus melihat esensi dan akar penyelesaian masalah. Meski berat, indonesia harus memulai untuk lepas dari belenggu negara asing. Penjajahan dimasa belanda memang sudah berakhir, akan tetapi penjajahan bangsa asing terhadap indonesia ternyata belum berhenti. Melalui media masa, budaya, serta westernisasi mereka menyerang bangsa indonesia melalui perang pemikiran. Eksploitasi kekayaan sumber daya alam dan manusia di indonesia juga harus dihentikan. Pemerintah harus lebih serius memikirkan rakyat.

G.  Negara kesejahteraan, Inggris dan Indonesia

Inggris dan indonesia sama-sama merupakan negara kesejahteraan yang berusaha membantu rakyatnya untuk mencapai kesejahteraan. Inggris, negara maju dengan sistem residualnya mulai mengurangi anggaran kesejahteraan bagi rakyatnya. Indonesia, negara berkembang dengan sistem minimalisnya tetap memberikan tunjangan yang sangat minimal bagi rakyatnya.

Meski peran negara sangat memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam proses pembangunan dan kesejahteraan, hendaknya masyarakat tidak terlalu bergantung pada pemerintah. Tanggung jawab kesejahteraan pribadi terletak pada tangan masing-masing orang. Masyarakat tidak bisa terus mengandalkan pemerintahan yang korup. Solusi efektif untuk mencapai kesejahteraan adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik dari aspek intelegensi, kesehatan dan yang paling penting dalam aspek moral dan mental.

Solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi problematika negara indonesia adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di indonesia. Pendidikan menjadi salah satu yang wajib diperhatikan. Jenjang pendidikan masyarakat harus diprioritaskan demi tercapainya indonesia yang merdeka seutuhnya. Meskipun memiliki sumber daya Alam yang melimpah, indonesia jangan terlalu bersandar sepenuhnya kepada SDA, SDA merupakan sumber daya yang terbatas. Ketika kita bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia maka kekurangan SDA bisa disiasati oleh teknologi dan lain sebagainya.

Kritik terhadap pemerintah tidak pernah berhenti. Mahasiswa menjadi salah satu entitas yang terus menyuarakan kepentingan rakyat. Mahasiswa yang memiliki idealisme dimasa perkuliahannya diharapkan terus memegang teguh idealismenya. Jangan sampai tergoda oleh rayuan uang rakyat yang mudah untuk dikorupsi. Mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan. Oleh karena itu pentingnya penguatan prinsip dan idealisme bagi mahasiswa untuk terus membela kepentingan rakyat sangat diperlukan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Andersen, Gosta esping. The three worlds of welfare capitalism. 1988. Blackweel Publishing Ltd. UK

Fitzpatrick, Tony. Welfare Theory: an Introduction. 2001. Palgrave. New York.

Huda, miftachul. Pekerjaan sosial & kesejahteraan sosial: sebuah pengantar. 2009. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Nurhadi. Mengembangkan Jaminan Sosial Mengentaskan Kemiskinan. 2007. Media wacana. Yogyakarta

MacPherson, Stewart. Kebijakan Sosial di Dunia Ketiga. 1987. PT aksara Persada Indonesia. Jakarta.

Hanafi, Ahmad. Liberalisasi di inggris. 2003. Jurnal ilmu sosial & ilmu politik, vol 7 No 1 juli 2003.

Suharto, Edi. Islam dan Negara Kesejahteran. 2008. Disampaikan pada Perkaderan Darul Arqom Paripurna (DAP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tahun 2008, Jakarta 18 Januari 2008.

http://www.republika.co.id  “Inggris Pangkas Anggaran Kesejahteraan Sosial”. Diakses tanggal 15 juni 2011 pukul 13.56.


[1] Tony fitzpatrick, welfare theory: an introduction. 2001. Hlm 1

[2] Miftachul huda, Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial, sebuah pengantar. 2009. Hlm 73

[3] Idem. Hlm 117

[4] Gosta esping Andderson. The three political economies of the welfare state. 1993. Hlm 26

[5] Miftachul huda, Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial, sebuah pengantar. 2009. Hlm 77

[6] Edi Suharto. Islam dan Negara Kesejahteran. 2008

[7] Ahmad hanafi. Liberalisasi di inggris. 1970. Hlm 117

[8] http://www.republika.co.id  “Inggris Pangkas Anggaran Kesejahteraan Sosial”. Diakses tanggal 15 juni 2011 pukul 13.56.

[9] Miftachul huda, Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial, sebuah pengantar. 2009. Hlm 113

[10] Nurhadi. Mengembangkan jaminan Sosial, mengentaskan Kemiskinan. 2007.  Hlm 146

[11] Stewart MacPherson. Kebijaksanaan Sosial di Dunia Ketiga. 1987. Hlm 128

Leave a comment »

Merajut!

note ini dibikin pas lagi KKN, kebetulan masa2 kkn adalah pertama kali sy kenal merajut make 2 jarum-

daaan. merajut itu sangat menyenangkan! 😀

slamet bacaa ^^

Pertama kali jatuh cinta pd Merajut sbenernya ada pas SMP. Wkt itu ada ekstrakulikuler judulnya merajut
=D

seiring brjalan wktu, brubung eskul nya cuma staun, kegiatan mrajutpun terlupakan.


Tiba2, pada suatu pagi pas mau survey KKN, temen sy yg super- si juju adi putri make sarung tangan hasil rajutan. Warnanya biru. Caaaaaantik skali. Aku kira dia bli. Trnyata Bikin sndiriii. Waaaaaa. Mupeng


Abis liat hasil kerjaan si juju, ak jg berminat pengen ngrajut lg. Sapa tau bisa bikinin baju buat anak aku nanti =D

si juju mrekomendasikan POyeng untuk mmbeli bahan2 merajut.

Pertama kali kami ke POyeng, tokonya blum buka.

Kedua kali, bareng rindi antika- poyeng masih tutup. Kami memutuskan bli makan dulu. Nasi padang murah meriah =D

stlah makan dan nunggu 1 jam- (nunggu Poyeng buka) kita langsung capcus ke POyeng

dan horeeee Poyeng sudah buka!

Kita langsung masuk dan milih2 benang yg lucuu.

Ada mba2nyaaa!
Kita skalian blajar gratis sama mba-nya

teknik mrajut yg sy plajari skarang aga brbeda dr yg dulu sy plajari. Kali ini mrajut menggunakan dua jarum yg trbuat dr bambu =D

pertama kali blajar, terasa sangat ribet. Repot. Beraaaaat. Dan pusing

tapi, kalo inget pengen bs bikin baju buat dede bayi, ak trus berusaha! Yeei. Smangat 45!

Banyak plajaran yg ak dpt dr blajar mrajut.

Tidak salah knapa banyak orang menggunakan kata ‘merajut’ untuk disandingkan dgn hal2 sprti mimpi atau hal lain yg harus diperjuangkan. Misal yg sering sy dengar- merajut mimpi, mrajut ukhwah, dsb..

Merajut mengajarkan kesabaran. Konsistensi. Dan keuletan.

Merajut mengajarkan bahwa, hal kecil bisa mengakibatkan dan menentukan banyak hal di masa dpan (serius!) karna ketika salah satu pola saja- slanjutnya akan ada yg salah. Shingga kita harus rela mengulang lg dr awal.

Merajut juga mengajarkan keikhlasan. Ketika kita melihat hasil rajutan kurang rapih… Maka kita harus ikhlas dan rela mengurai dan memulainya lg dari awal (hahaiii)

merajut mngajarkan kita untuk terus berinovasi dan berkreasi. Tidak berhenti pada sebuah syal dua pola. Tapi berlanjut ke spatu bayi, baju, and many more…

Merajut. Mengajarkan kita untuk keep fight! Bahwa kesulitan yg kita hadapi pertama kali bisa jadi belum ada apa2nya dibandingkan ksulitan ksulitan slanjutnya. Makanya kita musti menyiapkan kekuatan, keoptimisan, harapan, usaha dan doa yg LEBIH dari biasanya

hmmmh, Trimakasihbanyak Allah

sabtu pagi, di bangku depan dg slimut kuning trsayang

Leave a comment »

Hakikat Ilmu Pengetahuan dan Resiko Komersialisasi Pendidikan dalam Kehidupan Masyarakat

Dalam pembahasan mengenai solusi pembangunan suatu negara, seringkali pendidikan menjadi salah satu pintu masuk utama menuju kesejahteraan bangsa. Hal tersebut didorong oleh fakta-fakta yang hadir di depan kita. Mayoritas orang bisa mendapatkan hidup yang layak hanya jika memiliki riwayat pendidikan yang bagus. Meskipun memang tidak jarang  juga ada saja  orang-orang  yang mampu berkilau di dalam profesinya meski tidak memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni.

Dalam membahas pendidikan tentu kita tidak bisa memisahkannya dari ilmu pengetahuan. Jika kita runtut lebih jauh, ilmu pengetahuan telah ada sejak pertama kali tuhan menciptakan manusia pertama di dunia ini. Nabi adam. Dalam Al qur’an disebutkan bahwa Allah mengajarkan Adam nama-nama benda serta pengetahuan lainnya yang malaikatpun tidak mengetahuinya, sehingga disebutkan juga bahwa malaikat harus memberikan sujud penghormatan pada adam. Melihat hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa dari sejak awal manusia diciptakan, ilmu pengetahuan bisa membuat seseorang memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Ketika kitab al qur’an diturunkan ayat yang pertama turun adalah “IQRA” yang berarti bacalah. Dari sini Tuhan ingin mengajarkan kepada kita bahwa untuk memahami ilmu pengetahuan, kita harus menjalani usaha dan upaya seperti membaca. Tidak hanya membaca buku ataupun tulisan-tulisan biasa. Tetapi kita juga dikehendaki untuk mampu membaca lingkungan dan hakikat kehidupan kita.

Sejarah yang tertulis dalam berbagai litelatur ilmu pengetahuan justru dengan sempitnya mengatakan bahwa pendidikan muncul pertama kali  di Yunani dengan maksud untuk  mengisi waktu luang. Manusia pada saat itu mendatangi orang-orang yang dianggap mempunyai kemampuan lebih untuk mendapatkan pendidikan. Dalam perkembangannya, pendidikan menjadi suatu lembaga yang menggantikan pengasuhan ibu, hingga saat ini dapat kita lihat peran sekolah tidak lagi bertujuan hanya untuk mengisi waktu luang, akan tetapi memang hampir menjadi kebutuhan pokok setiap manusia untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya di masa depan.

Sekolah merupakan salah satu sarana dimana setiap manusia yang terlibat di dalamnya bisa merasakan proses pembelajaran. Belajar merupakan usaha bagi seseorang untuk mengetahui, memahami dan pada akhirnya menggunakan apa yang diketahuinya untuk memenuhi kebutuhannya. Pendidikan formal di sekolah biasanya sudah memiliki target, metode dan kurikulum tersendiri untuk mencapai tujuannya.

Jika diperhatikan lebih lanjut, pendidikan pada dasarnya memiliki pengaruh penting sebagai upaya sosialisasi mengenai nilai, moral dan budaya. Seperti yang dikatakan oleh Dr, J Sudarminta, dalam Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma 1990 hal 12) yang dibahas  oleh Tri agus nugroho (2009), Pendidikan secara umum adalah sebagai usaha sadar yang dilakukan pendidik melalui bimbingan, pengajaran dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses pemanusiaan diri ke arah pribadi yang dewasa-susila.

Setiap manusia pasti mengalami tahap-tahap pembentukan karakter dan kepribadiannya, seperti yang diungkapkan Peterson yang dibahas juga oleh Endang Ekowati ia menganggap adanya suatu kondisi yang penting dalam peningkatan tahap perkembangan, yaitu suatu masa transisi diantara satu tahap dengan tahap berikutnya. Setiap masa memiliki masa-masa yang berbeda. Ada beberapa yang bersifat kritis yang ditandai oleh kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Dalam kondisi tertentu, perilaku menyimpang akan berlangsung lebih lama dan terdapat kemungkinan berkembang  dari perilaku menyimpang yang biasanya diremehkan seperti contohnya berbohong, membantah, membolos, dan lain sebagainya. Tidak dapat dipungkiri, godaan untuk memilih berperilaku menyimpang ternyata begitu kuat bagi sebagian besar remaja. Hal tersebut mungkin hanya disebabkan karena dorongan emosionalnya yang ingin menjadi pribadi yang unik dan berbeda dari yang lainnya. Selain itu tentu ada berbagai macam alasan lain yang bisa mendorong remaja untuk melakukan perbuatan menyimpang. Tuntutan dari keluarga terkadang menjadi suatu beban bagi remaja yang menurut kondisi emosinya ingin memuaskan dorongan hedonismenya. Seperti yang diungkapkan Loeber dan schmaling (dalam peterson, 1993) berpendapat bahwa kemungkinan terjadinya perubahan perilaku menyimpang menjadi perilaku mengganggu diakibatkan adanya disfungsi perkembangan yang kumulatif yaitu terjadinya penumpukkan problem yang berlangsung sejak tahap perkembangan sebelumnya. Adapun McFall (dalam Slot, 1984) berpendapat bahwa banyak remaja mengalami ketidak mampuan melakukan penyesuaian karena ketidak seimbangan antara tuntuan dan kemampuan untuk mendapatkan skill. Untuk menangani hal seperti itu tentu kita membutuhkan konsistensi pendidikan sebagai salah satu sarana kontrol sosial juga. Kita tidak bisa membiarkan penyimpangan berlalu begitu saja. Harus ada aksi yang kita upayakan untuk mengatasi dan menyelesaikannya.

Pada hakikatnya, proses pendidikan merupakan suatu hal yang tiada habisnya. Hal tersebut dikarenakan juga kualitas kehidupan manusia semakin lama semakin sering mengalami perubahan. Menurut Freire (1999) yang diungkapkan oleh Martha Kristiana, hubungan guru-murid selama ini di identikkan dengan metode bercerita. Keberhasilan proses belajar bergantung pada kreatifitas dan keaktifan guru.  Jika kita ingin mencapai keberhasilan dari proses pendidikan, maka kita harus mampu meyakinkan setiap pelajar agar tidak bergantung pada pengetahuan yang diberikan para guru di sekolah. Mereka harus memahami bahwa proses belajar tidak hanya terpaku pada proses pembelajaran disekolah. Secara tidak langsung dia juga mengalami pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Pada masa industrialisasi seperti saat ini, konsep pendidikan yang kita lihat adalah sebagai sebuah entitas yang diharapkan dapat menghasilkan para ahli yang mampu menunjang eksistensi dunia industri. Seperti yang di ungkapkan Bowles dan Gintis bahwa pendidikan merupakan suatu respon atas industrial kapitalisme. Mereka juga menganggap bahwa dunia pendidikan adalah replika dari sistem dunia kerja.

Melihat kondisi dari awal mula munculnya pengetahuan hingga peran pendidikan dalam masa industri saat ini, tentu dapat disimpulkan bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat urgen dalam tata hidup masyarakat. Menyadari akan urgensi pendidikan, tentu kita harus mewaspadai resiko-resiko yang akan muncul setelahnya. Salah satu yang patut kita fikirkan adalah komersialisasi pendidikan. Sejauh ini sudah jelas terlihat akan praktek komersialisasi pendidikan terlebih di negara indonesia. Lembaga pendidikan seakan dijadikan sarana penggalian bahan tambang yang akan menghasilkan uang terus menerus.

Salah satu contoh yang masih hangat dalam ingatan kita adalah kasus mengenai BHP. Badan Hukum Pendidikan, sebagaimana diamanatkan pasal 53 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Banyak muncul pro-kontra atas reaksi Undang-undang tersebut.

Pihak yang menyetujui adanya UU BHP mengatakan bahwa UU BHP akan mampu memberikan otonomi penuh bagi perguruan tinggi untuk mengelola sendiri lembaganya termasuk mengenai dana dan lain sebagainya. UU BHP juga mendorong kreatifitas lembaga pendidikan untuk mampu meningkatkan kualitas dan kontribusinya agar bisa bersaing sehat dengan lembaga pendidikan yang lainnya.

Sedangkan kelompok orang yang menentang UU BHP mengatakan bahwa UU BHP akan menimbulkan keresahan kalangan masyarakat. Dari mulai biaya yang khawatir akan meningkat lebih tinggi, pihak  yayasan dari berbagai lembaga pendidikan yang mengaku merasa dirugikan jika UU BHP diberlakukan hingga anggapan bahwa UU BHP merupakan bentuk lepas tangan pemerintah dari tanggung jawabnya.

Terlepas dari pro-kontra UU BHP yang terus mewarnai panggung lembaga pendidikan di indonesia ini, realita seakan membuka lebar mata kita untuk memahami bahwa dunia pendidikan saat ini semakin hari semakin  berbau komersil. Dari musim bertemu musim, komersialisasi pendidikan muncul dalam beraneka wujud. Seperti misalnya ketika pendaftaran siswa baru, sebagian rakyat kita yang terbiasa dengan budaya instan menggunakan cara-cara yang tidak jujur untuk mendapat kursi di sekolah yang dituju. Sehingga dari fenomena tersebut kita bisa merenungi berberapa pelajaran  yaitu, tujuan utama penyebaran ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kemuliaan seseorang  justru pada saat ini menjadi bumerang dan menjadikan manusia semakin buta terhadap aturan-aturan dan etika. Selain itu lembaga pendidikan juga kian salah dalam menafsirkan makna otonomi yang dipercayakan kepadanya. Lembaga pendidikan sudah tidak lagi memikirkan kualitas dari murid didikannya melainkan lebih kepada praktek penggalian harta karun yang tiada habisnya. Beberapa dampak akan muncul dikemudian hari ketika ternyata hasil didikan lembaga sekolah tersebut ternyata tidak memiliki kualitas yang baik. Dan jangankan mensejahterakan bangsa, mensejahterakan pribadinyapun masih jauh dari harapan.

Realita mengajarkan pada kita bahwa otoritas yang dipercayakan kepada lembaga pendidikan ternyata sebagian besar hanya dijadikan sebagai topeng untuk membudayakan praktek komersialisasi. Seharusnya setiap kita harus kembali memahami akan makna suci dibalik ilmu pengetahuan agar tidak lagi harus lelah mengejar target yang bukan hak kita. Melihat fenomena komersialisasi yang terus merajarela, maka bukan tidak mungkin akan lahir masalah-masalah baru yang meramaikan panggung lembaga pendidikan yang akan otomatis menghambat tujuan utama penyelenggaraan pendidikan di masyarakat.

Adapun contoh kecil dari implikasi komersialisasi pendidikan. Lembaga sekolah tidak mampu atau bahkan tidak mau membayar gaji para guru dengan harga yang lebih manusiawi ternyata menyebabkan berbagai macam masalah lagi. Ketika para guru mencari uang dengan kerja sampingan yang tidak berhubungan dengan lembaga sekolah itu masi bisa ditolelir, akan tetapi ketika para guru mencari penghasilan lain dengan cara-cara yang tidak baik seperti menjual soal kepada siswa, menaikkan tarif harga buku dan lain sebagainya maka siapa yang pantas disalahkan?

Ketidak jujuran dari praktek komersialisasi pendidikan tidak berhenti sampai disitu saja. Dampak yang lebih besar adalah munculnya para pejabat-pejabat pemerintah berhati manipulasi yang mengutamakan ketidakjujuran dan kecurangan dalam mengelola bangsa ini. Bisa dibayangkan ketika orang-orang macam itu yang mengendalikan hajat hidup orang banyak. Akan dibawa kemana masa depan bangsa ini?

Idealnya sekolah atau lembaga pendidikan harus mampu menjalankan fungsinya sebagai pusat pembelajaran dan sosialisasi kebudayaan dan transformasi kebudayaan. Segala macam nilai yang lahir di lingkungan sekolah harapannya mampu melahirkan generasi-generasi yang berkualitas dan jujur. Tidak hanya cerdas intelegensinya saja akan tetapi emosi, sosial dan spiritualnya juga bagus.

Meskipun kita memiliki banyak mimpi mengenai idealita lembaga pendidikan, realita yang harus kita hadapi memang masi menyuguhkan kepahitan. Lembaga sekolah kita belum mampu untuk menjalankan fungsi dasarnya dalam tujuan-tujuan pendidikan di masyarakat. Kita juga selalu berharap bahwa lembaga sekolah mampu menjadi agen perubah yang mampu memperbaiki kehidupan bangsa kita yang masih berantakan tak karuan ini.

Sudah saatnya Indonesia bangkit meninggalkan ketertinggalan dan kebodohan, untuk mencerdaskan bangsa tentu kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Sebagai makhluk sosial kita harus mampu bahu membahu menuntaskan pembanguan bangsa Indonesia.

REFERENSI

Nugroho, Tri Agus, 2009, kuliah dengan tema Pendidikan Pemikiran Kritis, Pendidikan Kemasyarakatan, Universitas Gadjah Mada, Jurusan Sosiatri, Yogyakarta 13 mei

kristiana, martha & Amitya, 2006, Pengaruh Metode Hadap Masalah Terhadap Moral Remaja, oktober, Vol 19 no 2, hal 481-499.

Ekowarni, endang. 1993, Kenakalan Remaja: suatu tinjauan Psikologi perkembangan, no 2, hal 24-27.

Esti, mamia, & heru. 1996, Efektifitas Pelatihan Komunikasi Efektif pada Kelompok remaja, no 2, hal 31-39.

http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal, Pendidikan/Remaja.Diunduh tanggal 29 Mei 2010.

http://sawali.info/category/pendidikan/blog-blogwalking-net/, Benarkah Dunia Pendidikan kita sedang “sakit”?. Di akses pada tanggal 31 mei 2010 jam 11.45 AM

http://www.kabarindonesia.com/, Komersialisasi Pendidikan. Diakses pada tanggal 9 juni 2010

http://stembasurabaya.wordpress.com, Komersialisasi Pendidikan Memprihatinkan. Di akses pada tanggal 9 juni 2010

http://id.shvoong.com, komersialisasi pendidikan. Di akses pada tanggal 9 juni 2010

Leave a comment »

Design a site like this with WordPress.com
Get started