Sebuah Pendidikan
Oleh:
Sony Sujartono
Banyak ahli mencoba untuk merumuskan arti sebuah pendidikan. Ki Hajar dewantoro dengan konsep pendidikan Trihayu. Daoed Joesoef yang menjelaskan arti pentingnya pendidikan, dimana beliu menempatkan pendidikan sebagai sebuah alat yang menentukan untuk mencapai kemajuan dalam segala bidang kehidupan, sampai Paulo freire dengan konsep pendidikan pembebasan.
Telah menjadi rahasia umum bahwa kemajuan suatu bangsa hanya bisa dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikan sabagai satu-satunya sarana untuk memanusiakan manusia, membedakan manusia dengan mahkluk lainnya, dapat mengangkat harkat dan martabat, dan itulah fungsi dan tujuan pendidikan.
Hakekat pendidikan adalah sebuah pembebasan. Pembebasan dari kebodohan, pembebasan dari keterbelengguan, pembebasan dari kemiskinan dan membebaskan banyak hal yang selama ini mengurung kita dalam kegelapan.
‘Aidh al-Qarni mengatakan bahwa kebodohan merupakan tanda kematian jiwa, terbunuhnya kehidupan dan membusuknya umur. Kebodohan itu sangat membosankan dan menyedihkan. Pasalnya, ia tidak pernah memunculkan hal baru yang lebih menarik dan segar, yang kemarin seperti hari ini, dan yang hari ini pun akan sama dengan yang akan terjadi esok hari. kebahagian, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Ilmu mampu enembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang, dan menyikap yang tersembunyi.
Lantas apakah pendidikan kita telah mengarah kesana?. Selama ini, pendidikan selalu diidentikkan dengan kurikulum, materi pelajaran, distribusi informasi, inovasi pembelajaran, metode pembelajaran, sertifikasi guru, kompetensi siswa, mahalnya biaya sekolah, biaya buku, biaya seragam, rendahnya penghargaan terhadap guru, dan masih banyak lagi hal-hal yang ramai diperdebatkan sampai melupakan hakekat pendidikan itu sendiri.
Tidaklah mengherankan apabila Paulo freire menyebutkan bahwa pendidikan yang pernah ada dan mapan ini dapat diandaikan sebagai sebuah “bank”. Di mana pelajar, siswa , bahkan mahasiswa diberi ilmu pengetauan agar ia kelak dapat mendatangkan hasil dengan lipat ganda. Jadi, anak didik adalah objek investasi dan sumber deposito yang potensional. Depositor atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga yang mapan dan berkuasa, sementara depositonya adalah berupa ilmu pengetahuan. Anak didik lantas diperlakukan sebagai ‘gelas kosong’ yang akan diisi, sebagai sarana tabungan atau penanaman ‘modal ilmu pengetahuan’ yang akan dipetik kelak. Guru adalah sebuah posisi katif dan anak didik berada dalam posisi pasif. Anak didik hanya diberikan ilmu pengetahuan yang sangat berbeda apabila ilmu itu dibenturkan dengan realitas. Dengan demikian pendidikan akhirnya bersifat negative, dimana guru memberikan informasi yang harus ditelan oleh murid, yang wajib diingat dan dihapalkan. Sungguh sebuah keadaan yang sangat mengerikan.
Solusi?, dengan mengubah paradigma pemikiran kita pendidikan. Selama ini pendidikan hanya dimaknai sebagai kegiatan yang hanya dapat dilakukan didalam ruangan dengan luas tidak lebih dari 5×10 meter. Sebuah ruangan yang sungguh sempit untuk melihat dinamika perkembangan masyarakat.
Ubah paradigma tersebut dengan pengertian bahwa pendidikan itu tidak terikat ruang dan waktu. Bahwa pendidikan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja dan sampai kapan pun harus tetap kita lakukan. Semuanya memperoleh hak untuk menikmati kenikmatan yang kita namai sebagai pendidikan.
Tampaknya kita harus kembali merujuk konsep pendidikan “sekolah kehidupan” ala Poile Sengupta. Sekolah kehidupan adalah sebuah pembelajaran yang mengikuti diamika kehidupan yang terus berjalan. Di sinilah belajar yang tiada henti enjadi teramat penting. Karena dengan terus mengasah diri, menggali informasi dan selalu beradaptasi kita akan mudah memilih dan menentukan arah kehidupan kita. Lembaga yang bernama sekolah hanyalah bagian terkecil dari sekolah kehidupan itu, tetapi ironisnya telah menyita dan merampas hidup anak seolah-olah hidup mereka hanya untuk sekolah.
Dan semoga apa yang dikatakan Robert T. Kiyosaki bahwa, If you want to be rich and happy, Don’t go to school! Tidak sampai terjadi dalam dunia pendidikan, apabila terjadi habis sudah wibawa pendidikan dalam sejarah peradaban umat manusia.