Aku menemukannya. Dia tersesat. Dan akulah yang menemukannya. Untuk waktu yang lama kami terdiam. Waktu berdetik. Jantungku yang berdetak. Sudah lama aku mencarinya. Malam selalu jadi pencarian panjang. Setelahnya pagi selalu menjadi akhir dari pencarian. Sesekali aku tersesat. Tak tau arah pulang. Sejenak pernah aku melupakannya. Aku jatuh dipelukan para kijang, tapi hanya dia yang begitu menghangatkan.
‘Aku dari langit’ katanya. Sepertinya dia sedang mabuk. Ocehannya ngelantur. Aku tidak percaya dengannya. Dia bahkan tidak punya sayap. Dia tidak tampak seperti malaikat. Dia juga tidak punya karpet terbang layaknya Aladin. Aku tak menjawab. Hanya mengangguk, mengiyakan ucapannya.
Tangan kananku diraih. Tangannya sangat dingin. Aku tersentak kaget, sontak kutarik tanganku. ‘Tak apa, Sayang’ katanya. Kemudian diraihnya lagi tanganku. Mungkin dia sedang sakit, wajahnya putih pucat, tapi bibirnya tetap merah merekah. Digenggamnya erat tanganku. Dingin. Kemudian diciuminya punggung tanganku. Aku dibuatnya terpana. Terposana untuk kesekian kalinya. Aku berusaha menahan untuk tidak mudah jatuh hati padanya. Kurasa dia memang mudah untuk dicintai.
Dia duduk disampingku. Di atas bangku panjang terbuat dari kayu yang sedikit lapuk. Ada rasa was-was takut jika tiba-tiba bangku ini rubuh. Suasana taman sangat sepi malam ini. Yang terdengar hanya sayup-sayup suara jangkrik taman, yang terus mendendangkan alunan nada yang tak ku mengerti arasemennya. Tak ada pengunjung lain. Pun pemandangannya, tak ada yang menarik di taman ini. Karena memang taman ini sudah terbengkalai. Tak ada yang mengurusnya, mungkin karena masalah dana. Pemda membiarkannya begitu saja. Hanya langit sedang cerah dan lampu taman yang konslet. Hidup – mati – hidup – mati begitu seterusnya.
Matanya terus memandangi wajahku. Setelah mencium punggung tanganku, kini dia menciumi satu persatu jemariku. Caranya mencium jariku seperti sedang mengeja pikiranku. Dia mengeja kata demi kata dari raut wajahku. Dia mendekat. Jantungku berdebar. Tangan dinginnya membelaiku dari belakang. Dentum didadaku semakin kencang.
‘Sedang apa kau kesini’ kuberanikan diri membelai rambutnya. Tanganku sedikit bergetar. Menahan dentuman manis di dadaku.
Dia tertawa lepas. ‘Bukankah kau mencariku?’ tanyanya.
Aku memang mencarinya. Tapi bagaimana dia tau bahwa aku mencarinya? aku tak pernah mengatakan pada siapapun. Aku bahkan tidak punya teman. Seingatku hanya mengadukannya pada peri khayalanku yang ku reka setiap akan tidur, bahwa aku merindukannya. Lagi pula dia juga tidak akan mengetahuinya.
‘Aku datang untuk mu. Kau telah menemukanku. Bukankah kau merindukanku? itukan kau ceritakan pada peri khayalanmu.’ Dia tertawa lagi. ‘Kau pikir peri itu ada dan akan mendengarnya? Tidak sayang. Aku yang setiap malam mendengarkan cerita-ceritamu. Aku selalu mendengarnya’.
Aku tidak habis pikir dengannya. Dia benar-benar membaca pikiranku. Apa mungkin sekarang dia ahli nujum atau dia dukun. Lebih mengerikan lagi jika dia penyihir. Dia bisa saja mengubahku menjadi apapun yang dia mau. Pikiranku semakin terbang jauh kemana-mana dibuatnya.
‘Jika setiap malam kau mendengar cerita-ceritaku pada peri khayalanku, lalu kenapa kau baru datang? Apa kau tidak berani turun ke Bumi? Apa kau disana sakit? Apa kau tidak punya kekuatan? Apa sayap mu hilang? Apa karpet terbangmu diambil Aladin? Apa lagi?’ tanyaku padanya.
Dia tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Sepertinya pertanyaanku benar-benar menggelikan baginya. Kuingat-ingat lagi pertanyaanku yang terucap beberapa detik lalu. Apakah pertanyaanku lucu baginya? Tidak ada yang lucu. Lagi pula aku hanya mengimbangi leluconnya tadi. Bukankah dia yang memulai leluconnya. Dari atas langit. Siapa yang akan percaya hal itu.
‘Apa kau sedang mengkhawatirkanku? Begitukah?’ Tanyanya setelah tertawa keras.
Aku tak menjawab. Aku terdiam, karena tak tau harus menjawab apa. Pertanyaannya seperti menamparku. Mungkin benar aku mengkhawatirkannya. Kemudian kami terdiam cukup lama. Kami berpesta dalam bisu. Mata yang lebih banyak bicara. Dia terus menatap mataku. Dia tahu apa yang ku bicarakan lewat mataku. Dia membaca pikiranku. Aku tidak bisa mengeja pikirannya.
Aku masih tidak mengerti dengannya. Tentang dia yang tiba-tiba hadir lagi. Tentang imajinasinya. Tentang dunia di atas langit dan tentang dia yang terus saja membaca pikiranku. Apa yang kini disampingku benar-benar dia? Aku sangat kacau saat ini sampai-sampai tak sadar bahwa sedari tadi dia masih menggenggam tanganku. Benar tangannya sangat dingin. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Bagaimana bisa dia sedingin ini.
‘Kamu pasti bingung kenapa aku sangat dingin? Kau tak perlu takut, Sayang. Aku baik-baik saja. Aku dari atas langit jadi aku kedinginan. Disana tak kutemui bidadari seperti dirimu. Tak ada yang memelukku. Disana sangat dingin. Apa kau begitu khawatir? Seperti itukah?’
Sialan. Dia membaca pikiranku lagi. Dia membuatku marah pun juga tersipu. Pasti kali ini wajahku memerah. Dari atas langit. Omong kosong apalagi yang dia ucapkan. Lagi pula aku tidak akan percaya dengan hal-hal tahayul. Tentang suatu negeri di langit, bidadari dan omong kosong lainnya itu. Hal tersebut hanya hidup dalam dongeng. Aku tidak hidup dalam dongeng.
Menurutku dongeng hanya hidup dalam imajinasi. Sekedar memperindah hidup sejenak, sebelum benar-benar mengenal kehidupan. Sepertinya dia masih tak mau melepas imajinasinya saat ini. Mempercayai dongeng adalah hal bodoh pikirku.
‘Ikutlah denganku. Hidup bersamaku di langit. Aku akan membuatmu bahagia. Kau tidak akan kehilanganku lagi. Kau tak perlu mencariku. Aku akan selalu disampingmu’ Dia memohon padaku. Wajahnya memelas, seperti kucing yang memelas minta diberi ikan.
Bibirku bergetar. Mungkin seluruh tubuhku bergetar. ‘Aaaa ku tidak punya sayap’ jawabku terbata-bata.
Dia melepaskan genggamannya. Kami tak lagi saling berhadap. Kami memilih menatap kedepan. Melihat lampu taman yang konslet. Hidup – mati seperti kita. Sepertinya dia kecewa. Tapi tak ada kemarahan dalam raut wajahnya. Dia tetap tersenyum saat aku menolaknya.
Cukup lama kami terdiam. Aku tak berani memulai pembicaraan. Kemudian wajahnya berpaling di dekat telingaku. Aku pun menoleh tepat didepan matanya. Mata coklatnya menatapku begitu dalam. Wajahnya terlihat sangat tampan. Aku terbius olehnya.
Kini bibir merah merekahnya hanya berjarak beberapa senti dari bibirku. Nafasnya begitu jelas kurasakan. Jantungku berdebar semakin tidak karuan. Pandangannya beralih. Dia menatap bibirku.
‘Aku tak bisa ikut denganmu’ ucapku pelan padanya. Aku berusaha menetralkan jantungku yang berdebar kencang. Dia tidak menjawab. Dia semakin mendekat. Tak banyak yang dapat kulakukan. Kemudian ku pejamkan mataku. Beberapa detik berlalu dan tak terjadi apa-apa. Aku masih memejamkan mataku. Mungkin dia, entahlah. Tiba-tiba kudengar dia tertawa terbahak-bahak. Aku terkejut dan membuka mataku.
“Kamu ngapain memejamkan mata? Oh jangan-jangan kamu pikir aku akan menciummu? Benarkah?” Dia tertawa lagi
“e… tidak. Kamu saja yang GR. Aku tadi…” Belum habis ku menjawab tiba-tiba dia memelukku. Dia berbisik ditelingaku. “Aku akan pergi sekarang. Jika kamu merindukanku lihat saja langit. Aku ada disana”
Dia berdiri. Langkah kaki membawanya pergi. Beberapa langkah dia berjalan. Dia terhenti sejenak. Menoleh padaku, melemparkan senyum manisnya. Kemudian secepat kilat dia terbang ke langit. Benar-benar menghempas ke langit. Aku seperti tidak percaya. Ku garuk mataku berkali-kali. Dia sungguh terbang. Dia terbang tanpa sayap.
Sedetik yang detak. Aku duduk sendiri. Aku kehilangannya lagi. Dia terbang ke langit tanpaku. Apa dia akan mengunjungiku? Apa mungkin aku menyesal tidak ikut bersamanya?
Sedetik berikutnya aku terbangun. Melihat sekitarku. Aku tak lagi sedang di taman. Aku juga tak lagi duduk dibangku panjang. Aku tidur diatas tempat tidurku. Aku dikamarku. Kemudian aku tersenyum tipis melihat jendela. Matahari sudah tersenyum girang disana, menertawai ku yang telat pergi ke kantor. Aku juga melewatkan sarapan pagi, karena ini sudah hampir tengah hari. Suara alarm tak mampu mengganggu tidurku yang pulas.
Mimpi semalam terasa begitu nyata.
Laki-laki dari langit itu….
Apakah dia akan hadir lagi? Arghhh untuk kesekian kali aku lupa menanyakan namanya.