Gemericik air yang akhirnya menjatuhkan dirinya dikala sang surya berada tepat pada sepenggala langit. Walaupun dengan waktu yang tak menentu dan mungkin tak dapat dipastikan keberadaannya. Aromanya yang begitu khas dengan kesejukan, meskipun terkadang kepulan tanah basah yang sedikit mengganggu indera penciumanku. Diiringi dengan irama rintikan yang menjadi alunan melodi penghantar akan anganku. Rintisannya yang berkali-kali menimpa dedaunan, begitu pula dengan butiran-butiran kecil yang berdatangan dari ujung helai rambutku. Entah mengapa keindahan alam yang satu ini tak jua pergi dari anganku, tak luput akan ingatanku, seraya ingin menetap dan mengakar hingga tak akan lekang oleh waktu, tak mungkin terbakar walau dalam kobaran api, tak mungkin membeku sekalipun dalam tikaman bebatuan runcing dari alaska, tak’kan gugur walau arah melintang, dan tak lapuk oleh peradaban.
Sebegitu melekatnya arti sebuah karunia Tuhan dalam pancuran air dari langit-Nya. Mereka menyebutnya dengan hujan.
Hujan yang entah dan mengapa kedatangannya selalu berhembuskan akan berbagai kisah yang semua insan pasti menyimpannya. Hujan yang dengan kegigihannnya berjatuhan untuk kesekian kalinya demi menjalankan tugas dari-Nya. Hujan yang dengan kesetiannya menemani hingar bingar panggung sandiwara ini. Hujan yang sejatinya berkawan dengan asap putih pembawa kesejukan, ataupun kepulan awan hitam yang berkesan pembawa bencana. Hujan yang memang kehadirannya dinantikan oleh sang penyair dan penikmat duniawi. Atau mungkin hujan yang dibenci bagi para pembenci alam.
**********
Terlepas dari pengaruh sebuah hujan, namun hujan pun menyimpan kisahku. Meskipun air yang ditumpahkan kala itu mungkin tak’kan pernah sama dengan air-air selanjutnya. Entah mengapa hujan saat ini kembali menggiringku tuk merangkaikan kata demi kata, dan mengulang kisah tanpa makna yang sempat masuk dalam imaji kehidupanku seraya ingin menetap dan tak mau pergi. Sejujurnya tak ingin ku ungkap lagi, tak ingin ku mengingatnya lagi, dan tak ingin ku menuliskannya lagi. Namun, waktu yang semakin memaksaku tuk menguraikannya kembali.
Hujan, mentari, selasar, lorong, lobby, dan lift, serta dinding-dinding yang akan selalu menjadi saksi bisu akan tawaku di penghujung tahun lalu. Anugerah dan Karunia Tuhan yang mungkin tak’kan pernah mampu kudapatkan lagi, dan hadiah terindah dari-Nya yang mungkin tak dapat kurasakan lagi di penghujung tahun ini. Tuhan memberikan sebuah keajaiban dalam sepanjang usiaku hingga saat ini, yang tak mampu kugantikan dan kubalas.
Tuhan menghadirkan makhluk yang sempurna dalam tatapanku yang tepat menjelang suara adzan berkumandang. Tuhan menampakkan keagungan-Nya dalam sorotan tajam dengan warna cokelat tua yang menatapku dengan sedikit kegugupan yang mampu kubaca dari geraknya. Aku tak menampik dalam diriku yang mungkin jauh lebih menyimpan kegugupan dibandingnya. Namun, kembali ku menata sikap dan raut penuh tawa hanya tuk menetralkan kondisi kegugupanku ini. Terlepas dari kau menyadarinya atau tidak, akupun tak menemukan jawabannya. Entah mengapa Tuhan seakan telah merencanakan semuanya, hingga tak pernah kusadari akan detik demi detik yang berubah menjadi menit, hingga waktu yang nampaknya memperhatikan semua gerak gerik kita. Andai saja kau tahu begitu susahnya aku menyembunyikan kegugupan dari raut wajah dan tingkahku kala itu. Kuselipkan senyum dan tawa serta rangkaian kata yang terpatah-patah saat ku mulai meberanikan diri mengajakmu bicara. Hingga ku mampu melihat lengkungan sabit yang begitu indah dari raut wajahmu, seakan menjadi penyemangat dan penghilang rasa gugupku.
Anugerah Tuhan yang tak dapat tergantikan kala kutatap dengan tajam, dan lengkungan sabit itu yang berulang kali kau berikan, Seandainya kau mampu tuk menyadari bahwa itulah penyejuk yang melebihi apapun. Tuhan menganugerahkan senyuman indah yang tak mampu ku imajinasikan dengan lukisan, dan ku uraikan dengan butiran kata, dan itu semua ada dalam pribadimu. Mungkin kau tak pernah menyadari keajaiban yang Tuhan berikan, yang kau miliki dan kau amalkan padaku kala itu.
Ketakutan dan kepanikanku akan mendung, makin menjadi kala gumpalan awan kelam yang nampak dengan ganasnya ingin menghujam hamparan bumi kala itu. Hembusan angin yang kian berdesir hingga menimbulkan bunyi yang sama sekali tak pernah kusangka akan berkesan seakan dunia ini kan runtuh. Lorong unit yang semakin menunjukkan kegelapannya beserta pancuran air yang kemudian menghantam gedung-gedung pencakar langit ibu kota waktu itu. Entah mengapa aku merasa antara berada dalam zona nyaman dan kekhawatiran yang begitu menyesakkan dada, yang akupun tak mengerti sebabnya.
Namun kau seolah bersikap tenang seakan tidak sedang terjadi apa-apa. Kau pun melihat kepanikanku kala itu yang selalu berusaha kusembunyikan dalam-dalam. Hingga kau mengucapkan kata-kata sajak yang membuatku memendam ketakutanku dan sejenak melupakan rasa khawatir yang menjadi-jadi. Dengan sedikit kau memberi khayalan akan rintikan hujan yang sejujurnya indah dan menyimpan kenangan jika kita berdua duduk di bawah Gazebo dalam hamparan luas padang hijau akan rerumputan alam. Kau seakan mengajakku tuk berimajinasi dan menggambarkan dunia keindahan saat itu dan kita berada disana. Yaah,,kau seakan membuatku merasa nyaman hingga aku benar-benar melupakan rasa takutku.
“Mendung tak Berarti Hujan”
Itulah kata yang melekat dalam ingatanku yang entah sampai kapan ku mampu mengingatnya. Apakah kau merasakan hal yang sama denganku saat itu ? Hanya Tuhan-lah yang mampu menjawabnya dan menggambarkan betapa indahnya waktu yang Dia berikan sebagai hadiah di penutup akhir tahun.
Seakan tak peduli akan waktu yang dengan segannya memberikan ruang kebebasan bagiku tuk menatapmu, mengenalmu, dan mencoba memasuki duniamu yang entah harus ku mulai dari mana. Namun, Tuhan tak sepaham sepertinya denganku kala itu. Belum genap ¼ hari ku menatap bola mata indah itu, dengan diiringi rintikan hujan ku berjalan tepat di sampingmu dan sesekali di belakangmu hanya tuk mengiringi langkah kepergianmu. Mengapa sesak yang kurasakan kian menghujam jantungku waktu itu, namun ku tak menemukan penyebabnya. Semakin sesak dan sungguh sangat sesak sekali rasanya tuk bernafas. Ku mencoba tuk menampik apa yang sejujurnya ku rasakan. Ku mengetahui, namun ku sangat ketakutan tuk mengutarakannya karena takut ini kan menjadi nyata.
Perjalanan singkat yang tak pernah kusangka akan menjadi duri tajam dalam ingatanku, dan peluru berdarah yang meretas hinggap hingga menetap dalam jantungku ini, membuat samudera lara dalam kehidupanku sendiri. Ketakutanku akan tak dapat melihat lagi lengkungan sabit indahmu, perlahan kau sirnakan dengan kata “Sampai ketemu lagi yaa Next Time”. Hembusan nafas kelegaan ku luapkan saat itu, namun tak dapat kuingkari jika resah akan tak mampu ku lihat lagi senyumanmu, yang semakin menjadi-jadi. Berat sekali rasanya menyaksikanmu kala itu. Tetapi hujan yang memanggilmu saat itu, memaksaku tuk melepasmu meski dengan keraguan hati yang sungguh luar biasa dalamnya.
Tuhan berkehendak lain, Dia seakan masih memberiku kesempatan tuk menatapmu. Kau yang kulihat telah berdiri di ujung jalan, dan entah apa yang merasuki jiwa dan pikiranku saat itu, hingga ku membalikkan badanku yang kemudian berlari di bawah hujan hanya tuk menemanimu sekali lagi seraya mengantarkan kepulanganmu. Kebaikan yang diberikan oleh Tuhan dengan memberikan sedikit waktu-Nya bagiku tuk berada disampingmu meskipun dengan jutaan rasa khawatir dalam diriku akan tak dapat melihatmu dikemudian hari. Hingga saat itu tiba, dan memang aku harus benar-benar melihatmu berjalan menjauhiku. Kau pun kembali mengatakan bahwa kita kan berjumpa lagi yang entah kau akan mewujudkannya ataupun tidak. Dan akupun tak ingin beranjak pergi hingga sama sekali tak kulihat bayanganmu dalam kepulanganmu.
**********
Waktu menjawab semuanya.
Hingga fajar yang berujung senja, dan senja yang pergi demi menyambut rembulan yang tak kunjung tiba, dan semua itu terus berputar dan datang bergiliran. Dan Tuhan seakan menamparku, dengan menampakkan dan mewujudkan ketakutanku saat berdua denganmu dalam kenangan bersama hujan.
Kini, ku harus merajut kisah tanpa makna seorang diri dengan tak lagi ku saksikan tatapan dan lengkungan sabit indahmu. Sembari ditemani dan diiringi oleh langkah-langkah kecilku dalam hujan yang tak bersambut. Bahkan hujan saat inipun tak’kan pernah sama dengan hujan di akhir tahun yang entah kau mampu tuk melukiskannya kembali atau sekedar melintas dalam ingatanmu. Bahagiaku adalah ketika Tuhan masih mengizinkanku tuk mengingatnya walaupun hanya sekedar mengenang dan tak terungkapkan.

