Ranger Merah adalah nama yang saya berikan kepada motor bebek keluaran Jepang yang sudah menemani saya selama beberapa tahun ini. Saya dan adik saya sepakat memberi nama Ranger Merah karena kami adalah Changcut Rangers (fans yang ter edan-edan sama band The Changcuters). Changcut Rangers mengandarai Ranger Merah. Terdengar sangat gagah.
Namun sudah 11 hari terhitung dari tanggal 9 April 2011 lalu, saya tidak bisa melalui hari-hari indah saya bersama Ranger Merah. Semua ini karena saya dan Ranger Merah terjatuh ketika dalam perjalan pulang dari Jogja. Ada pengendara sepeda motor lain yang tiba-tiba membelok tanpa melihat kaca spion dahulu (beranggapan bahwa kita mempunyai dua mata sakti di belakang kepala dapat membahayakan kesehatan orang lain, camkan itu!!)
Ibarat Kesatria Baja Hitam yang terpisah dengan Belalang Tempurnya, saya merasa terpuruk tak berdaya *nangis darah*. Selama bebarapa hari saya hanya bisa beraktivitas di dalam rumah karena tangan dan kaki saya terluka. Lalu apa yang saya lakukan ketika saya tidak bersama Ranger Merah?
saya memeriksakan diri ke dokter dan bisa meminum obat dengan sukses
Selama 24 tahun saya hidup di dunia, Bodrexin dan Contrexin adalah dua-dua nya obat yang sangat bersahabat dengan saya. Mereka sangat mengerti kepribadian saya yang sangat manis. *meluk Bodrexin sama Contrexin*. Segala macam bentuk ataupun ukuran obat, selama namanya masih OBAT, saya tidak bisa meminumnya. Namun kemarin, semua berubah. Ya, berubah. Ternyata Anastan dan Amoxicillin yang gedenya segaban-gaban itu, bisa berdamai dengan saya. Saya bisa meminumnya tanpa hambatan yang berarti. Kenapa? Karena saya ingin sembuh. That’s it! *big applause please…*
saya menjadi ANKER selama dua hari
Saya mendapat istilah anker dari tetangga saya. ANKER adalah nama kerennya anak kereta (berasa keren aja naik kereta yang punya jalan sendiri tanpa sebel dengar teriakan2 klakson dari kendaraan lain). Kaki saya masih sakit jadi untuk sementara saya menggunakan transportasi kereta untuk menuju ke Jogja. Dari Stasiun Jenar Purworejo, hari Jum’at saya naik Kereta Api Progo yang berangkat dari Purwokerto. Cukup dengan 9000 IDR (bacanya sama kok dengan sembilan ribu rupiah) saya bisa turun di Stasiun Lempuyangan. Kereta ini tidak menurunkan penumpangnya di Stasiun Tugu. Jangan Tanya kenapa, saya tidak tahu.hehehe
Hari Sabtu, saya memilih untuk naik kereta Api Prameks (Prambanan Ekspres) dari Jogja menuju Purworejo. Kereta ini sangat familiar bagi para penglaju (saya bingung Bahasa Indonesianya apa). Jika Anda berangkat dari barat dan ingin menikmati kereta pertama, harus dipastikan Anda sudah berada di Stasiun Kutoarjo (Purworejo) minimal 5 menit sebelum pukul 05. 34 pagi. Terlambat 5 menit saja, kereta akan berangkat tanpa ada Anda di dalamnya (pengalaman pribadi saya. hehehe). Kereta terakhir tiba di Stasiun Solo Balapan pada pukul 20. 10. Sedangkan dari arah timur, kereta pertama berangkat dari Stasiun Yogyakarta (Tugu) pada pukul 04. 20 dan kereta terakhir tiba pada pukul 19.56 di Stasiun Yogyakarta juga. Harga tiketnya juga murah, hanya Rp. 9000, 00 (kalo mau baca dengan bunyi sembilan ribu IDR juga boleh). Dulu saya terheran-heran, What?? Solo-Kutoarjo naik kereta cuma sembilan ribu? *muka dongo*. Namun pikiran saya segera tercerahkan dengan tulisan di loket pembayaran “Solo-Kutoarjo: 18. 000” (maka saya pun ber oooh panjang…). Kereta Api Prameks relatif lebih nyaman daripada Kerta Api Progo. Tempat duduknya berhadap-hadapan, dan tersedia tali pegangan yang bergelantungan di bawah atap, berasa naik kereta di Jepang gitu! :D. Kondisi keretanya pun bersih dan bebas bau yang tidak senonoh. Anda merasa laper dan haus sementara ga bawa makanan? Ouw… jangan sedih… ada penjaja-makanan-keliling-resmi-berseragam yang siap berjalan maju dan mundur (dua orang depan belakang soalnya) mendorong dan menarik semacam trolley sambil membunyikan lonceng. klinting… klinting…
saya berselingkuh dengan Kebo Merah Jambu
Apa pula sekarang Kebo Merah Jambu? Itu juga nama yang saya berikan kepada sepeda motor Om saya. Karena bentuknya yang segeda bagong, dan warnanya yang pink unyu-unyu gitu, maka tercetuslah nama itu. Saya berselingkuh sementara dengan Kebo Merah Jambu karena kaki kiri saya masih sedikit kaku untuk bisa mengendarai Ranger Merah. Memang jika dibanding Ranger Merah, Kebo Merah Jambu lebih halus suaranya dan getaran ketika di jalan pun tidak begitu terasa. Namun secara sensasi, lebih dapet ketika saya bersama Ranger Merah membelah jalanan raya., yeah! Sensor motorik saya juga tidak bekerja secara optimal ketika saya bersama Kebo Merah Jambu, yang aktif hanya tangan sementara kaki nganggur. Dulu pernah ketika saya mengendarai motor yang bergenre sama, saya sempat panik ketika akanmenginjak rem, karena kaki saya tidak menemukan rem. Sepeda motor jenis ini hanya mempunyai rem tangan, jadi harus beradaptasi dulu. Untung saya tipe gadis supel, jadi dengan cepat saya bisa beradaptasi dengan Kebo Merah Jambu (???). But still, my heart is just for you, Ranger Merah…
can’t wait to see you soon the great Ranger Merah…


Last but not least, I also give my thanks for my family. My mom, my dad, my sist, thank you guys! (gaya Agnes waktu nerima piala AMI). Oh iya, kemaren Ibunes lupa kalo kemaren itu tanggal 28, dan beliau membayarnya dengan kecupan sayang di pipi kanan dan pipi kiri ku (padahal tadinya ngarep dibayar sama modem atau blek beri). Weits, hampir lupa. Dapet kado juga dari salah satu pelanggan setia TELKOMSEL: Kangen geNduk *emote pipi merona*.