Judul Novel: Sudut Mati
Penulis: Tsugaeda
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman:
Tahun terbit: Sep 2015
Kita akui bahwa novel bergenre thriller di negeri ini sangatlah sedikit terbit tiap tahunnya. Terlebih yang bergenre thriller korporasi. Namun bukan berarti tidak ada, kita bisa menemukan novel bergenre tersebut pada novel-novel karya Tsugaeda dan Tere Liye. Yang murni “memelihara” genre thriller korporasi mungkin hanyalah Tsugaeda. Ya, dengan terbitnya dua novel bergenre sama, Tsugaeda sudah banyak dikenal dalam dunia literasi Indonesia. Terlebih dia telah memulai sebuah karya dengan mengetengahkan genre yang tidak biasa.
Beberapa bulan yang lalu saya pernah meresume novel pertamanya yang berjudul Rencana Besar. Secara cerita dan penceritaan, cukup menarik dan seru. Novel ini terus terang menjadi angin segar bagi variasi genre novel di Indonesia. Dan melalui novel keduanya ini, Tsugaeda mengetengahkan genre yang sama dengan intensitas penceritaan, ketegangan dan konflik yang terus meninggi. Sangat memukai dan telah mengambil porsi waktu secara terus-menerus untuk membacanya hingga akhir. Novel ini berjudul “Sudut Mati”
BLURB
Titan kembali dari Amerika Serikat setelah delapan tahun, tepat ketika Grup Prayogo milik ayahnya sedang krisis dan membutuhkan bantuannya. Selain kesulitan dalam urusan bisnis, ada ancaman dari kompetitor jahat, Ares Inco, yang memiliki keinginan menghancurkan keluarga Prayogo untuk selamanya.
Namun, Titan tak hanya menghadapi itu. Kakaknya, Titok, tak suka tersaingi olehnya di dalam Grup. Adiknya, Tiara, justru menikah dengan putra mahkota musuh. Dan, mungkin ia juga telah membawa kekasih yang dicintainya ke dalam bahaya.
Titan harus menghadapi itu semua. Sementara tanpa ia ketahui, seorang pembunuh dengan kode “Si Dokter” mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.
Titan Prayogo, putra ketiga dari Sigit Prayogo akhirnya mau pulang ke Indonesia. Delapan tahun sudah Titan merantau ke Amerika Serikat setelah kematian ibunya. Kematian yang memiliki sangkut paut dengan kakak keduanya, Teno.
——
Ya, ide besar novel ini adalah konflik korporasi. Konflik antarputera mahkota dua musuh korporasi bebuyutan. Yang satu sangat berambisi untuk bersegera menjadi pewaris takhta, yang satu lagi berambisi untuk membalas dendam pada pesaing bisnis ayahnya. Menarik dan memikat. Penulis menghadirkan jalinan kisah dengan banyak benang yang bertebaran di mana-mana, jika kita skip sedikit bagian saja yang tidak terbaca, maka jalinan benang yang dihadirkan penulis akan terlihat berantakan. Namun jika kita dengan sabar dan intens membaca novel ini tanpa sedikit bagian pun terlewatkan, maka akan timbul kesan bahwa penulis sangat lihai merangkai dan merajut demikian banyak premis dan rantai cerita, untuk kemudian disambung menjadi sebuah karya novel yang utuh.
Tokoh utama di novel ini adalah seorang pemuda bernama Titan Prayogo yang memutuskan pulang dari Amrik ke Indonesia karena mendapatkan kunjungan dari rekan bisnis ayahnya, Danang, yang sudah dianggapnya sebagai paman sendiri. Sebenarnya bukan karena adanya kedatangan Danang yang membuat Titan memutuskan pulang, tak lain adalah secarik kertas misterius yang hanya diisi oleh satu kalimat. Meski begitu, gaya tulisan dan isi tulisan dari secarik kertas itu telah cukup meyakinkan Titan untuk pulang.
Titan diminta pulang untuk mengurus korporasi milik ayahnya Sigit Prayogo. Bisnis yang dibangun oleh ayahnya itu telah berada di titik miris yang tinggal menunggu waktu saja untuk hancur. Situasi tersebut tidak cukup pelik karena ternyata, sebagai seorang usahawan, Sigit mencalonkan diri sebagai presiden RI. Belum lagi ditambah dengan serampangannya sang putra mahkota, Titok, yang sekaligus sebagai kakak tertua Titan. Sangat ambisius, nampu tidak mampu mengurus bisnis ayahnya dengan baik. Ditambah lagi Tiara, adik Titan yang malah menikah dengan putra mahkota musuh grup Ares Inco. Tentu ini membuat konflik semakin rumit dan menyusahkan.
Akhirnya Titan memutuskan pulang ke Indonesia bersama dengan kekasihnya Kath. Tidak butuh waktu lama untuk Titan mengidentifikasi permasalahan apa yang sedang menimpa korporasi ayahnya. Berbagai langkah disiapkannya untuk membuat stabil kondisi grup dan mengembalikan kejayaan perusahaan ayahnya. Namun kebangkitan bisnis Prayogo ini membuat tidak senang Ares Inco. Putra mahkota Ares Inco lah yang berupaya untuk membuat perusahaan milik Sigit Prayogo itu hancur kembali seperti krisis tahun 98.
Titan, meski sekilas memiliki upaya yang mulia untuk menyelamatkan korporasi ayahnya, namun langkah yang ditempuh ternyata tidak selalu bersih. Dari upaya kecil hingga yang paling ekstrem ditempuhnya demi menyelamatkan bisnis ayahnya. Akan tetapi ternyata tidak semua pihak mendukungnya, termasuk akhirnya Danang dan Titok yang jadi muak dengan manuver Titan tersebut. Namun ada yang lebih geram dengan langkah yang ditempuh oleh Titan, dia adalah putra mahkota Ares Inco, suami Tiara (yang-saya-lupa-siapa-namanya).
Cerita berlangsung cepat dan intens. Pembaca akan dihadapkan pada situasi yang dipaksa untuk terus menyelesaikan bagian demi bagian di novel ini. Meski begitu, anda tak perlu khawatir dengan berjejalannya premis-premis yang ada di novel ini. Tsugaeda sepertinya paham benar bahwa ia sedang menyiapkan sebuah novel yang bisa saja gagal jika benang-benang yang bertebaran tersebut tidak dirajut menjadi sebuah kain cerita yang utuh. Jangan khawatir, karena menurut penilaian saya penulis berhasil melakukan itu.
Apakah novel ini layaknya novel thriller lainnya yang menghadirkan baku hantam dan tembak menembak? Ya, tentu saja. Di porsi setengah akhir cerita, sangat banyak adegan itu dihadirkan. Dan menurut saya, ada beberapa premis yang sama antara novel ini dengan novel Negeri Para Bedebah. Apa saja? Saya akan bahas di bagian lain.
Lalu apakah Titan mampu mengembalikan kejayaan korporasi Grup Prayogo? Mampukah ia memberikan penjelasan yang bisa diterima oleh Danang, Tito dan Sigit? Mampukah Titan menghadapi gempuran dari Ares Inco? Lalu apakah hubungan ia dengan Si Dokter? Semuanya terjawab jika anda membaca novel ini (ya iyalah)
Mungkin resume ini tidak menjelaskan secara keseluruhan semua premis cerita yang ada di novel. Saking banyaknya, saya tidak angkat semuanya. Tapi saya pikir semuanya penting dan berperan signifikan dalam jalinan cerita yang dihadirkan oleh Tsugaeda.
Yang menarik lainnya dari novel ini adalah, ada lanjutan cerita atau bisa disebut spin off dari novel Tsugaeda sebelumnya, yaitu Rencana Besar. Selain itu di akhir cerita, Titan diperintahkan oleh Danang untuk menemui Makarim, yang tak lain adalah tokoh utama di novel Rencana Besar. Apakah bakal ada sequel dari novel Sudut Mati (sekaligus sekuel dari novel Rencana Besar juga)? Saya sih berharap banget.
Nah mengenai kesamaan antara sekuel Negeri Para Bedebah (NPB) dan Sudut Mati (SM) ini, saya menghimpunnya jadi beberapa poin
. dua-duanya sepertinya berkaca dua momen nasional. SM pada jatuh bangunnya Grup Bakrie, NPB pada bailout bank century
. ada tokoh yang mencalonkan diri sebagai presiden. Di SM Sigit Prayogo, di NPB ada JD
. tokoh utama di dua novel itu sama-sama dikisahkan muak terhadap tokoh yang ditolong. Di NPB, Thomas muak pada pamannya, di SM Titan muak pada ayahnya
. tokoh utama dua novel ini sama-sama pulang untuk membantu bisnis keluarga. Sama-sama sering berkeliling luar negeri, sama-sama ahli ekonomi dan bisnis
. ada tokoh sentral pendamping tokoh utama yang mendampingi ketika dalam pelarian/upaya balas dendam. Di NPB ada Maryam, di SM ada Kath.
. dst
Demikian resume saya terhadap novel ini. Maaf kalau bahasanya terkesan terburu-buru dan tidak runtut. Terima kasih