NGELAMUN JOROK . . .

Dan tibalah saya di penginapan dekat kantor tempat saya bekerja hingga 6 hari ke depan. Tenang, sunyi, sepi. Hingga tanaman yang tumbuh di halaman pun enggan untuk menggangu kesunyian itu.
Kutatap tanaman itu satu persatu, kusenyumi mereka, namun tak terbalas. Mungkin mereka menilai senyumku tak sempurna. Tak sesempurna diam yang selalu mereka lakukan. Ya sudahlah, pikirku, mungkin benar senyumku tak sempurna, tak ikhlas seperti keikhlasan tanaman itu menyajikan warna hijau untuk mataku beberapa hari ini.
Kutinggalkan tanaman-tanaman itu lalu aku masuk ke kamar. Kamar yang berisi 2 tempat tidur, 1 lemari, 1 meja, ac, tv, dan kamar mandi. Tak sabar untuk kurebahkan badan ini di salah satu kasur itu. Nyaman sekali, gumamku. Kututup mataku untuk kuistirahatkan sejenak sebelum kuajak lagi untuk menerima perintah dari otakku.
Baru saja kututup mata sambil menikmati kenyamanan kasur dan sejuknya hawa di penginapan ini, namun tiba-tiba kudengar bisikan. Bisikan dari kasur yang tidak kutiduri. Samar-samar kudengar, kasur itu berkata padaku “EMANG ENAK NGINEP SENDIRI” . . .
Sekejap aku membuka mata kemudian menghadap ke kasur itu lalu berkata “TAHIK” . . .

SAATNYA PULANG ! ! !

jam-dinding

Pada suatu ketika, bertemulah saat ini dan saat itu pada saat yang bersamaan. Pertemuan itu membingungkan semuanya, terutama saat yang bersamaan. Saat ini merasa sangat bahagia, karena tak pernah menyangka impiannya untuk bertemu saat itu bisa benar-benar terjadi. Memang saat ini di saat – saat tertentu sangat mengharapkan bisa bertemu dengan saat itu, karena saat itu hampir selalu memiliki kelebihan dari saat ini.
Namun, di lain pihak, saat itu yang tak pernah ingin bertemu dengan saat ini, dalam bingung ia sekaligus merasa kesal sekali dengan terjadinya pertemuan itu. Saat itu tak pernah menyukai saat ini, karena ia tahu bahwa saat ini bukanlah saat yang baik, karena saat ini selalu iri dengan saat itu.
Dalam pertemuan itu yang menimbulkan keceriaan untuk saat ini dan kekesalan untuk saat itu, saat yang bersamaan menjadi pihak yang paling bingung menghadapi kejadian pertemuan mereka di saat yang bersamaan. Karena kebingungannya itu, akhirnya saat yang bersamaan mengabadikan momen ini dan menamainya SAATNYA PULANG ! ! !

Haru Dalam Diam . . .

Sungguh, ada haru saat itu dalam diriku. Haru yang lahir ketika ku tahu ada perubahan besar yang akan terjadi dalam duniaku, yaitu akan datangnya hari dimana diriku tak lagi menghadapi hari bersamamu. Haru yang semakin berkembang di setiap hari yang menjelang datang, yang membuatku ragu untuk mencapai hari dimana perubahan itu akan terjadi. Haru yang memuncak di saat tatapanmu menusuk sangat dalam ke mata dan hatiku, yang membuatku ingin memutar roda waktu supaya hari itu tak akan pernah bertemu denganku.

Tahukah dirimu, bahwa dalam diamku saat itu ada haru yang kupendam? Tahukah dirimu, bahwa dalam diamku saat itu ada haru yang sedang kulawan? Hatiku mungkin berharap kamu tahu, namun pikiranku tak bisa menerima semua itu, pikiranku melawan dan memaksa diriku untuk terus berdiam dalam haru. Pikiranku juga tahu bahwa hatiku lemah menghadapi haru, dia pun memaksaku untuk diam, dan memaksaku untuk mereduksikan haru itu dengan hanya menatapmu dalam diam di setiap saat bersamamu. Aku pun tak melawan. Siapakah aku yang berani melawan pikiranku sendiri. Dia terlalu kuat untuk kulawan, dia bukan tandinganku. Jadi, kuputuskan untuk mengikuti keinginannya.
– – –
Kemudian, tibalah saat itu, saat dimana perubahan itu harus terjadi, saat terakhir untukku bisa menjalani hari bersamamu. Dan seperti yang pikiranku inginkan, aku hanya mengungkap haru dalam diam. Hatiku pun jadi tak tenang, dia sangat gusar saat itu, karena dia tak mampu menghadapi haru. Namun, pikiranku tahu hatiku gusar, lalu dia berusaha menenangkan hatiku dengan berkata “This too shall pass”. Akhirnya, hatikupun pasrah.

Malam itu aku melangkah pulang, dan pikiranku memaksa untuk tak menoleh ke belakang, meninggalkanmu dalam diam. Dan akhirnya, pasrahnya hatiku berubah menjadi rasa tenang, dan siap melangkah meninggalkan, saat tahu bahwa pikiranku tak mau diriku meninggalkan kenangan bersamamu. Ya, kubawa semua kenangan bersamamu dalam pikiranku. Karena hatiku yakin, saat kenangan itu dipanggil oleh pikiranku, hatiku tahu bahwa dirimu juga sedang mengingat diriku (walau pikiranku tahu, keyakinan hatiku itu tak lebih hanya sekedar harap, namun pikiranku tak sampai hati untuk mengatakan itu pada hatiku).
– – –
Hari pun berlalu, dan yang tak kusangka, saat ini pikiranku mengajak hatiku untuk berdamai. Mereka mengajakku untuk mengungkapkan haru yang dulu pernah hatiku rasakan. Aku pun bertanya kepada pikiranku, “Kenapa? Kenapa saat ini?”. Pikiranku menjawab “Dia akhirnya datang. Kenangan itu, dia datang menghampiriku, mengelilingiku.”

Akhirnya, kuungkapkan haru yang dirasakan hatiku itu melalui sebuah tulisan, sambil menemani pikiranku yang dikelilingi oleh kenangan-kenangan itu. Kuungkapkan haru itu, kunikmati kenangan itu, sambil menyeruput kopiku. Dalam setiap tegukan kurasakan kenikmatan, nikmat yang kembali mendatangkan haru, haru yang dulu kuhadapi dengan diam, hanya diam.

Surat Terbuka untuk Mbak Dance . . .

Hayiii Mak Cipa yang manis, curvy, dan adorable. Apa kabar Mak? Semoga Mak sehat-sehat dan baik-baik selalu. Kami di sini juga selalu berharap supaya kami sehat-sehat dan baik-baik Mak. Dilihat dari kabarnya sepertinya kita mungkin punya kesamaan Mak, sama-sama selalu berharap agar semua sehat-sehat dan baik-baik selalu.
Kesamaan kabar lainnya yang juga saya harap yaitu kami dan Mak sama-sama masih menyisakan rasa haru berkat adegan perpisahan Mak beberapa waktu yang lalu. Berpisah karena Mak akan pindah ke unit kerja baru walau masih dalam satu gedung.
Sungguh Mak, melihat tangismu dan mendengar getar suaramu saat adegan perpisahan itu membuat saya ikut terharu tanpa tangis, apalagi itu semua karena Mak akan meninggalkan saya dan teman-teman. Tangis dan haru yang Mak rasakan saat adegan itu tidak perlu saya pertanyakan kenapa, saya mengerti Mak, dan saya akan selalu mencoba untuk mengerti.
5 tahun bukanlah waktu yang singkat, namun juga tidak terasa cukup. Sangat banyak kisah yang sudah kita lalui bersama dengan teman-teman, dari mulai di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, bahkan sampai Papua. Selama 5 tahun, rasa senang, bingung, sedih, kesal, dan rasa lainnya sama-sama sudah pernah kita rasakan, kadang bersama-sama dan kadang masing-masing merasakannya sendiri. Namun, kebersamaan selama 5 tahun ini, sudah terasa cukup untuk membuat kita cukup peka dengan keadaan teman-teman satu sama lain, seperti saya yang cukup peka (cenderung hapal) saat melihat wajah Mak sedang gusar karena ingin pulang namun kerjaan masih menumpuk. Tidak perlu Mak ceritakan, saya sudah cukup hafal wajah gusarmu Mak. Atau ketika mendengar suara bersin bersahutan dari mulut disusul hidung, Mak cukup peka untuk tahu itu bersin siapa. Serta kebiasaan-kebiasaan masing-masing lainnya.
Hingga tiba saatnya Mak harus meninggalkan kami untuk menuju unit kerja baru yang memang bukan tujuan pindah Mak sebenarnya. Mak sudah berusaha ikhlas menerima keadaan ini, dan kita juga sama-sama berusaha menerima kenyataan perpisahan ini karena semua akan (p)indah pada waktunya ~sebut Richard~.
Selamat menikmati departure dari lingkungan kami dan arrival-mu di lingkungan baru Mak. Terima kasih untuk semua kisah dan rasa yang telah kami rasakan karena kehadiranmu dalam dunia kami selama ini. Maafkan segala bentuk kata atau sikap kami yang mungkin pernah atau bahkan sering menusuk-nusuk hati Mak baik secara langsung atau dititipkan. Kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu Mak. Baik dalam keluarga, baik dalam bersesama, dan baik dalam pekerjaan. Sehat-sehat dan baik-baik selalu Mak. Sehat-sehat dan baik-baik selalu juga untuk Mas Joko dan nak Cipa.
Sampai jumpa lagi dengan keadaan yang baru. Semoga kenangan-kenangan indah itu tetap tersimpan dalam otak Mak, supaya mudah untuk dipanggil saat kita nanti duduk bersama lagi membicarakan masa-masa yang telah lalu.
Maap tulisannya cuma sekedarnya dan sesempatnya, maklum ngetik di bus, jadi kurang panjang dan tidak cukup atraktif. (tulisan ini bersifat sementara, nanti kalo SK lo dibatalkan, gw delete ni tulisan..wkwkwk)

Tapi, We’ll always miss you Mak Cipa . . .

Kecewa yang bersahabat . . .

kecoak

Mereka sahabatku, pikirku. Entah itu hasrat, atau ego, tapi aku yakin mereka adalah sahabatku sampai kapanpun. Aku sahabat mereka? Kami bersahabat? Belum tentu, bisa jadi itu hanya hasratku, entahlah. Memang, nyatanya ada terselip hasrat untuk dianggap sebagai sahabat. Karena dianggap sahabat itu menenangkan, membuat kita merasa diterima, membuat kita merasa dibutuhkan, membuat kita merasa berguna bagi orang lain.
Lantas, apakah mereka menganggapku sahabat seperti anggapanku terhadap mereka? Dulu, aku selalu ingin tahu itu, sekarang mungkin tidak lebih dari angan sekilas dalam sebatang rokok, hanya sekedar sisa-sisa inginku yang sedikit demi sedikit telah terkikis kecewa. Iya, kecewa, yang kalau dipikir-pikir seperti kecewa yang telah kurencanakan sendiri. Kecewa yang lahir karena adanya harapan.
Atau, mungkin sebenarnya selama ini aku yang tak paham arti sahabat? Hingga berani menelurkan harap seperti itu. Mungkin, yang kuperlukan saat ini adalah memahaminya, sebelum hasrat dan inginku habis, agar bisa kurencanakan lagi kecewaku yang baru untuk menemani sebatang rokokku yang hanya kadang-kadang menemaniku.
Atau, jangan-jangan ini semua karma, seperti kecewa yang selalu menganggapku sebagai sahabat, tetapi aku tak menganggapnya begitu . . .

Maafkanku kecewa, aku hanya tak sanggup menjadi sahabatmu . . .

Istriku, Kasihku, Pelangiku . . .

Aku hanya tak menyangka,
Ternyata dia selalu menciptakan rindu yang begitu indah dalam jiwaku
Aku pun tak pernah menyangka,
Ternyata dia selalu menciptakan senyum pada bibirku dan pelangi dalam otakku

Pelangi, yang penuh warna dan penuh makna,
Yang selalu hadir dalam setiap akalku dan bawah sadarku
Pelangi, yang menghadirkan banyak kisah dan kenangan,
Yang telah dan akan hadir selamanya hidupku

Ya, dia istriku,
Yang selalu mendampingiku dalam senang maupun sedih,
dalam ria maupun marah,
bahkan dalam setiap keluh dan kesahnya
Dia kasihku,
Yang selalu cantik dalam terangnya,
Dan selalu manis dalam gelapnya
Dia pelangiku,
Yang selalu cerah dalam senyumnya,
Dan selalu indah dalam murungnya

Wahai istriku, kasihku, pelangiku,
Dengarlah rinduku,
Sentuhlah senyumku,
Dan hiasilah terus pelangiku,
Karena indahnya rindu, ikhlasnya senyum, dan cerahnya pelangi dalam diriku takkan pernah sempurna bila aku tanpamu . . .

Rasa . . . itu

Setiap hari, senin sampai jumat, pagi dan sore bahkan terkadang malam. Rasa ini selalu hadir, kemudian pergi, dan lalu datang lagi.
Entah apa nama dari rasa ini. Cinta kah? Tidak juga. Walau kuakui di setiap senin hingga jumat, pagi dan sore bahkan terkadang malam, aku sangat membutuhkannya, menginginkan kehadiran dirinya. Kedatangannya selalu kutunggu. Dalam kantuk bahkan lelah, yang membuat kelopak mata bertarung keras dengan gravitasi, dari kejauhan pun kehadirannya tak dapat mengelabui mata. Ketenangan pun menyelisip perlahan dalam raga saat dia merangkak mendekat ke arahku.

Atau, mungkinkah itu rindu? Kucoba bertanya dalam diri, adakah, pernahkah kenangan bersamanya terbersit dalam anganku? Kenangan kebersamaan yang tak pernah lebih dari 2×60 menit, yang hanya saling merapatkan mulut satu sama lain? Bahkan dari terjaga hingga aku tertidur pun dia tak pernah mencoba berbincang denganku. Kami memang bersentuhan, namun tanpa saling bicara, layakkah itu menjadi kenangan? Sepertinya tidak.

Bilakah itu rindu yang kurasakan, atau bahkan cinta, mengapa rasa itu tak hadir dalam sabtuku atau mingguku? Atau di kala aku harus membatasi langkahku tak lebih dari jarak pandangku dari rumahku, mengapa rasa itu tak pernah sedikitpun menggaruk batinku?
Saat ini, dia tahu aku harus kembali, dia tahu aku menunggunya. Dalam penungguanku ini, rasa . . . itu, (aku definisikan saja dengan “. . . “, mungkin suatu waktu kan terjawab untuk melengkapi kalimat itu) hadir kembali. Membuatku gugup seperti kala aku dan dia pertama bertemu.

Ah sudahlah, entah apa nama dari rasa itu, mungkin tak perlu lagi kucari tahu. Oh Mayasari Bakti AC 34 sungguh aku menantikan kehadiranmu, mataku tak sabar untuk melihatmu, dimanakah engkau saat ini? Aku harus kembali pulang. Cepatlah datang, langit sudah semakin kelam.

Kau yang melukis senyumku . . .

Seketika, aku menarik kelopak mataku selebar mungkin dan semakin lebar. Mencoba menatap lebih jauh dari pendeknya daya tangkap mataku, namun ku tak sanggup. Silau, terlalu silau kurasakan. Mataku tersiksa karenanya.

Kemudian kuubah cara pandangku, tak sengaja sebuah kerlingan cahaya menyingkap ujung mataku. Kucoba melirik walau tak yakin, namun aroma kesegarannya berhasil menyentuh hingga ke dalam hatiku, memaksaku untuk membelokkan arah pandanganku.

Ternyata benar, ada cahaya juga di sana. Cahaya itu berpendar menutup ruang-ruang gelap di sekitarku.

Kudekati cahaya itu, semakin dekat, namun tak kurasakan pedih di mataku. Kutelusuri garis demi garis hingga akhirnya pusat cahaya indah itu kutemukan.

Ternyata,,,itu hatimu.

Iya,,,cahaya indah itu hatimu, sayang…

Kucoba yakinkan hatiku, bahwa cahaya ini takdirku.

Kuberjalan menjauh dari cahaya itu, tetapi dia tetap mengikuti langkahku.

Kucoba berlari dan mengecoh sana-sini namun cahaya itu tetap ada di sekitarku.

Inilah dia, pikirku. Cahaya ini lah takdirku.

Tak bisa lagi kutahan ujung bibirku untuk saling menjauh. Mungkin terlalu bahagia kurasa.

Pengalamanmu dan pengalamanku yang mempertemukan, wawasan kita mendekatkan. Meninggalkan satu persatu kenangan di setiap langkah kita, sebagai tanda jejak masa lalu agar kita tidak kembali untuk menumpuk jejak itu.

Kini, tidak ada lagi aku dan kamu, yang ada adalah kita.

Kita yang memulai perjalanan ini berawal dari seikat janji. Janji yang kita yakini sehidup semati. Janji yang akan selalu menguatkan kita dalam melangkah.

Dengan bahan baku kesetiaan, kita bangun rumah tangga kita. Dihiasi dengan kasih sayang, dan dilindungi dengan pelukan.

Teruntuk dirimu, sayang. Sang Pelukis Senyumku . . .

Konspirasi Oksigen terhadap Manusia . . .

Oge: (bergerak berkerumun diam2 di sekitar hidung Obe)

Obe: (menarik nafas ringan kemudian menghembus dengan tenang) ~lalu berkata~ hmmm, emang paling2 kamu Gen..

Oge: loh, kenapa Be?

Obe: udah lah Gen, ga usah belaga suci..saya tau kok kalo kalian selama ini sedang melakukan konspirasi kan terhadap saya?

Oge: Kalian? Konspirasi? Apaan sih Be? Kamu kurang tidur ya?

Obe: iya, kalian sedang berkonspirasi..kamu dan kawananmu itu melakukan konspirasi untuk mengarahkan saya supaya lupa bersyukur kepada Sang Penguasa Alam

Oge: maksud kamu apa Be?

Obe: iya, kamu sama kawananmu itu sengaja kan berkerumun di depan hidung saya, supaya terus2an saya hirup?

Oge: iya, kami memang sengaja, itu kami lakukan karna memang itu peran kami dlm hidup kamu. Kami diperintah oleh Sang Penguasa Alam untuk terus hidup dekat dengan hidung kamu supaya kamu bisa terus bernafas saat kamu perlu..trus kenapa? Apa salah kami sampai kamu tuduh sedang melakukan konspirasi? Sejak sebelum kamu ada, kami sudah diperintahkan untuk mendampingi kamu hingga ajalmu datang. Jadi sebenarnya selama ini kami justru membantu hidup kamu supaya bisa terus bernafas hingga maut mengambil nyawa kamu. Bukannya berterima kasih malah nyalah2in kami. Dasar OB!!!

Obe: Nah itu dia konspirasi kalian terhadap saya. Kalian ingin menjatuhkan saya kan di hadapan Sang Penguasa Alam? Kalian selama ini sengaja menggerayang di depan hidung saya untuk menggoda saya dengan menawarkan kenikmatan diri kalian untuk saya. Terus dan terus kalian lakukan supaya saya puas menikmati kalian sampai saya lupa diri. Kepuasan itu kalian berikan tiada henti hingga saya tidak sempat bahkan lupa untuk berterima kasih kepada Sang Penguasa Alam. Jangankan untuk saat ini, untuk kenikmatan pertama kali yg kalian berikan saja saya belum sempat berterima kasih kepadaNya.

Oge: ya ampun Be, picik sekali pemikiranmu, pantesan kentutmu sama banyak dengan nafasmu. Kami sengaja dekat dengan kamu bukan untuk menggoda kamu, tapi supaya kamu tidak perlu bersusah payah mencari kami saat kamu perlu. Kamu saja yg terlalu serakah, kamu takut kami habis dihirup oleh kawananmu, sampai-sampai kamu jadi terlalu gegabah memuaskan hasratmu untuk menghirup kami. Hingga kamu jadi lupa untuk mensyukuri kenikmatan kami yg telah kamu rasakan selama ini. Kami hanya menjalani peran kami untuk memberi nafas kepada kamu, tapi malah kamu salah artikan peran kami selama ini.

Obe: Begitukah sebenarnya Gen? Kalau begitu, maafkan aku karna salah menilaimu dan arti peranmu selama ini dalam hidupku. Ternyata otakku sudah terhasut oleh hasrat serakahku selama ini. Maafkan aku Gen. Mulai saat ini aku berjanji tidak akan tergoda lg oleh hasrat serakahku terhadap kenikmatan dirimu. Dan, satu lagi yg terlupakan selama ini, terima kasih sudah mau memberikan kenikmatanmu kepadaku sejak aku ada hingga saat ini. Selamanya aku tidak akan pernah melupakan jasamu dalam hidupku.

Oge: sudahlah Be, tidak perlu meminta maaf kepadaku karena aku tidak pernah butuh itu dari kamu dan kawananmu. Aku tidak sama dengan dirimu yg membutuhkan penghargaan untuk semua yg kamu lakukan dlm hidupmu. Tanpa terimakasihmu bahkan bersama dengan hinaanmu kepadaku, aku tetap tidak akan meninggalkan peranku untukmu hingga ajal datang kepadamu. Jadi, cukuplah belajar dr diskusi kita kali ini dan mulailah untuk mensyukuri kepada Sang Penguasa Alam akan kehadiranku dalam kehidupanmu. Dan, selamat menikmati diriku dan kawananku dalam ketenanganmu.

LAPAR tak HARUS MAKAN . . .

Manusiawinya, manusia butuh kebanggaan diri. Kebanggaan yang hanya dapat dirasakan apabila memiliki kelebihan pada hal tertentu dibanding manusia lain atau bisa setara dengan manusia lain yang mereka banggakan.
Kebutuhan akan kebanggaan yang sudah merakyat yang telah menelurkan gen serakah, gen penguasa, hingga gen manusiawi lainnya yang rasa-rasanya malah tidak benar-benar manusiawi.
Bangga karna lebih bahagia, bangga karna lebih merasakan kesusahan dibanding yang lain, bangga karna belum memiliki kebanggaan, dan bangga-bangga lainnya yang pernah, bisa, dan ingin manusia rasakan, yang sekiranya dapat digunakan sebagai dasar untuk merasa lebih dan lebih lagi dari manusia lain.
Sayangnya, manusiawinya, the power of mayoritas (yang secara sengaja atau tidak selalu menekan manusia lain yang mereka bilang minoritas yang selalu digunakan sebagai senjata untuk mengarahkan angan-angan manusia lemah otak bahwa sesisir manusia yang meyakini bahwa kalau lapar itu tidak harus makan adalah manusia laknat)-lah yang ternyata selalu berhasil untuk menggaet manusia-manusia otak ringan untuk ikut meyakini bahwa manusia harus punya kebanggaan. Dan sayangnya juga, situasi ini terus melebar, meluas, bahkan mendalam hingga merasuk ke dalam gen manusia.
Lebih, iya lebih, sudah jelas sesuatu yang terasa lebih menyatakan bahwa ada yg tidak sama dengan pembandingnya. Lebih bahagia, lebih susah, lebih tinggi, lebih rendah, lebih banyak pengalaman, lebih sering mengalami rintangan, lebih ini, lebih itu, dan lebih-lebih lainnya. Lah, ternyata hal yang kurang pun bisa diawali dengan kata lebih dan menjadi kelebihan.
Nah, disini lah manusiawi yang semanusiawinya, inti dari penggunaan kata lebih ini adalah adanya perbedaan dibanding si pembanding. Baik kurang maupun benar-benar lebih tidak lepas dari adanya perbedaan. Lantas kenapa harus selalu berusaha meraih kebanggaan dengan mengejar kata lebih untuk dilekatkan pada diri seperti yg mayoritas yakini, bukankah manusia diciptakan berbeda dengan manusia lainnya, yg artinya manusia sudah jelas memiliki kelebihan dibanding yang lain, yang artinya sejak lahir pun manusia sudah memiliki kebanggaan asal yang tidak bisa dan tidak boleh manusia lain bahkan manusia itu sendiri pungkiri.
Jadi sudahlah, cukuplah merasa puas karena dilahirkan berbeda dari manusia lain. Berhentilah memanusiawikan sikap manusiawi yang diagungkan karena keyakinan mayor, karena sesungguhnya lapar itu tidak harus makan.