sirosis

Definisi
Sirosis hati adalah suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus generatif. Gambaran ini terjadi akibat nekrosis hepatoselular. Jaringan retikulin kolaps desertai deficit jaringan ikat, distorsi jaringan vaskuler, dan regenerasi nodularis parenkim hati.

Klasifikasi dan etiologi
Sirosis hepatic secara konvensional diklasifikasikan sebagai makronodular (besar nodul lebih dari 3 mm), mikronodular (besar nodul kurang dari 3 mm), dan campuran mikro dan makronodular. Selain itu juga diklasifikasikan berdasarkan etiologi maupun fungsional hati, namun hal ini kurang memuaskan. Sebagian besar jenis sirosis hati dapat diklasifikasikan secara etiologis dan morfologis menjadi : alkoholik, post hepatitis, biliaris, kardiak, metabolik, keturunan (genetik), dan terkait obat.
Di negara barat yang tersering akibat alkoholik sedangkan di Indonesia terutama akibat infeksi virus hepatitis B maupun C.Hasil penelitian di Indonesia menyebutkan virus hepatitis B menyebabkan sirosis sebesar 40 %, dan hepatitis C sebesar 30-40 %, sedangkan 10-20 % penyebabnya tidak diketahuidan termasuk kelompok bukan B dan C (non-B non-C)

Epidemiologi
Libih dari 40 % pasien sirosis asimtomatis. Pada keadaan ini sirosis ditemukan pada pemeriksaan rutin kesehatan atau pada waktu otopsi. Keseluruhan insiden sirosis di Amerika diperkirakan 360 per 100.000 penduduk. Penyebabnya sebagian besar karena penyakit hati alkoholik maupun infeksi virus kronis. Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa perlemakan hati akan menyebabkan steatohepatitis nonalkoholik atau yang dikenal sebagai non-alkoholic steatohepatitis (NASH), NASH ini prevalensinya sekitar 4 % dan berakhir dengan sirosis hati dengan prevalensi 0,3 %. Di Indonesia data prevalensi sirosis hati belum ada, hanya laporan-laporan dari beberapa pusat pendidikan saja. Di RS Sardjito Yogyakarta jumlah penderita sirosis hat sebanyak 4,1% dari jumlah pasien yang dirawat di bagian Penyakit Dalam dalam kurun waktu satu tahun, pada tahun 2004. di Medan dalam kurun waktu 4 tahun dijumpai pasien sirosis hati sebanyak 819 pasien (4 % ) dari seluruh pasien di bagian Penyakit Dalam.

Patologi dan patogenesis
Sirosis hati dapat diakibatkan oleh perlemakan hati alkoholik, hepatitis alkoholik, dan sirosis hati post nekrotik.

Perlemakan hati nonalkoholik
Steatosis atau perlemakan hati, hepatosit teregang oleh vakuola lemak dalam sitoplasma berbentuk makrovesikel yang mendorong inti hepatosit ke membran sel.

Hepatitis alkoholik
Fibrosis perivenular berlanjut menjadi sirosis panlobular akibat masukan alkohol dan destruksi hepatosit yang berkepanjangan. Fibrosis yang terjadi dapat merangsang pembentukan kolagen. Di daerah periportal dan perisentral timbul septa jaringan ikat seperti jaring yang akhirnya menghubungkan triad portal dengan vena centralis. Kemudian mengalami regenerasi dan membentuk nodulus. Namun demikian kerusakan sel yang terjadi melebihi perbaikannya. Penimbunan kolagen terus berlanjut, ukuran hati mengecil, berdungkul-dungkul menjadi keras, kemudian terbentuk sirosis alkoholik.
Mekanisme cidera hati karena alkoholik masih belum pasti, diperkirakan mekanismenyanya sebagai berikut :
1) hipoksia sentrilobular, metabolisme asetaldehid etanol meningkatkan konsumsi oksigen lobular, terjadi hipoksemia relatif dan sidera sel di daerah yang jauh dari aliran darah yang teroksigenasi (misal daerah perisentral)
2) Infiltrasi/aktivasi neutrofil, terjadi pelepasan kemotraktan neutrafil oleh hepatosit yang memetabolisme etanol. Cidera jaringan bisa terjadi dari neutrofil dan hepatosit yang melepaskan intermediet oksigen reaktif, protease, dan sitokin.
3) Formasi asetildehid-protein adducts berperan sebagai neoantigen, dan menghasilkan limfosit yang tersentisisasi serta antibodi spesifik yang menyerang hepatosit pembawa antigen ini
4) Pembentukan radikal bebas oleh jalur alternatif dari metabolisme etanol, disebut sistem yang mengoksidasi enzim mikrosomal.

Sirosis post nekrosis
Gambaran patologi hati biasanya mengkerut, berbentuk tidak teratur, dan terdiri dari nodulus sel hati yang dipisahkan oleh pita fibrosis yang padat dan lebar. Gambaran mikroskopis konsisten dengan gambaran makroskopis. Ukuran nodulus yang bervariasi, dengan sejumlah besar jaringan ikat memisahkan pulau parenkim regenerasi yang susunannya tidak teratur.
Patogenesis sirosis hati menurut penelitian terakhir, memperlihatkan adanya peranan sel stellata. Dalam keadaan normal sel stellata mempunyai peran dalam keseimbangan pambentukan matriks ekstraselular dan proses degradasi. Pembentukan fibrosis menunjukkan perubahan proses keseimbangan. Jika terpapar faktor tertentu yang berlangsung secara terus-menerus (misal : hepatitis virus, bahan-bahan hepatotoksik), maka sel sel stellata akan menjadi sel yang membentuk kolagen. Jika proses berjalan terus maka fibrosis akan berjalan terus di dalam sel stellata, dan jaringan hati yang normal akan digantikan uleh jaringan ikat.

Manifestasi klinis
Gejala klinis
Gejala awal sirosis hati meliputi perasaan mudah lelah dan lemas, selera makan berkurang, perasaan perut kembung, mual dengan atau tanpa muntah, berat badan menurun, pada laki-laki timbul impotensi, testis mengecil, buah dada membesar, dan hilangnya dorongan seksual. Bila sudah lanjut, gejala-gejala lebih menonjol terutama bila terdapat komplikasi kegagalan hati dan hipertensi porta, meliputi hilangnya rambut badan, gangguan tidur, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Mungkin disertai adanya gangguan pembekuan darah, perdarahan gusi, epistaksis, gangguan siklus haid, ikterus dengan air kemih seperti air teh pekat, muntah darah, melena, serta perubahan mental, antara lain mudah lupa, sukar konsentrasi, bingung, agitasi, sampai koma.

Pemeriksaan klinis
• Spider nevi, suatu lesi vaskuler yang dikelilingi vena-vena kecil. Tanda ini sering ditemukan di bahu, muka, dada, lengan atas. Mekanisme terjadinya tidak diketahui, ada anggapan dikaitkan dengan peningkatan rasio estradiol/ testoteron bebas. Tanda ini juga bisa ditemukan pada orang hamil atau malnutrisi berat.
• Eritema palmaris, warna merah saga pada thenar dan hipothenar telapak tangan. Hal ini juga dikaitkan dengan perubahan metabolisme hormon estrogen. Tanda ini dapat ditemukan pada kehamilan, artritis reumatoid, hipertiroidisme, dan keganasan hematologi.
• Ginekomastia, secara histologis berupa proliferasi benigna jaringanglandula mammaelaki-laki, kemungkinan akibat peningkatan hormon aldosteron. Selain itu, ditemukan juga hilangnya rambut dada dan aksila pada laki-laki, nsehingga laki-laki mengalami perubahan ke arah feminisme
• Hepatomegali, ukuran hati yang sirotik bisa membesar, normal, atau mengecil. Bilamana teraba, hati sirotik teraba keras dan nodular.
• Asites, penimbunan cairan dalam rongga peritonium akibat hipertensi porta dan hipoalbuminemia
• Ikterus, warna kuning pada kulit dan membran mukosa akibat bilirubinemia. Ikterik ini paling mudah dilihat pada sklera mata. Ikterik muncul bila konsentrasi bilirubin kurang dari 2-3 mg/dl

Gambaran laboratoris
• SGOT lebih tinggi dari pada SGPT, namun bila transaminase normal tidak mengesampingkan adanya sirosis
• Alkali fosfatase meningkat kurang dari 2-3 kali normal
• Bilirubin bisa normal atau meningkat
• Albumin, karena sintesanya di hati maka panurunan kadar albumin sebanding dengan pemberekan sirosis.
• Globulin, konsentrasinya meningkat pada sirosis
• Protrombin time memenjang
• Natrium serum menurun terutama pada sirosis dengan asites
• Dapat anemia

Radiologis
• USG, digunakan secara rutin karena pemeriksaannya non-invasif dan mudah digunakan, namun sensitivitasnya kurang
• CT scan, tidak dilakukan secara rutindigunakan karena biayanya relatif mahal.

Pengobatan
Penanganan sirosis dipengaruhi oleh etiologinya. Terapi ditujukan untuk mengurangi progresivitas penyakit, menghindarkan bahan-bahan yang menambah kerusakan hati, pencegahan dan penanganan kompliasi. Bilamana tidak ada koma hepatikum, maka diberikan diet yang mengandung protein 1 gram/kg BB dan kalori sebanyak 2000-3000 kkal/hari
Pada hepatitis autoimun bisa diberikan steroid atau imunosupresif. Pada penyakit hati non alkoholik, menurunkan berat badan akan mencegah terjadinya sirosis
Pada hepatitis B, interferon dan lamivudin merupakan terapi utama. Lamivudin diberikan 100 mg/ hari peroral diberikan selama satu tahun. Namun pemberian lamivudin selama 9-12 bulan dapat menimbulkan mutasi sehingga terjadi resistensi obat. Interferon memiliki aktivitas antifibrotik yang dihubungkan dengan prngurangan aktivasi sel stellata.
Bila terdapat tanda-tanda hipertensi portal, maka dapat diberikan obat golongan beta blocker misalnya propanolol, bisoprolol untuk mengurangi hipertensi portalnya. Propanolol diberikan 2 x 10 mg/hari
Untuk asites : diet rendah garam < 1,5 gram/ hari
Spironolakton 100-200 mg/ hari, bila belum adekuat maka dapat dikombinasi dengan furosemide 20-40 mg/ hari hingga dosis maksimal 160 mg/ hari
Parasentesis dilakukan bila asites sangat besar. Parasentesis asites bisa dilakukan hingga 4-6 liter dan dilindungi dengan pemberian albumin.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai