Layanan Kesehatan dalam Dunia Islam : Rufaidah, Perawat Muslimah Pertama

Tak banyak yang mengetahui bahwa sistem layanan kesehatan dalam Islam telah berkembang sejak jaman Rasulullah Muhammad SAW.   Waktu itu bentuknya seperti klinik berjalan berupa karavan unta.  Karavan ini selalu mengikuti saat peperangan,  berupa tenda yang berfungsi sebagai posko darurat di garis belakang yang relatif aman.  Di dalam tenda tersebut disediakan air minum dan obat-obatan untuk menolong prajurit yang terluka atau kehausan.  Dengan adanya tenda kesehatan ini, prajurit yang terluka tidak harus dibawa ke Madinah yang tentunya sanagt memakan waktu untuk perjalanan. 

Di masa itulah terkenal seorang perawat muslimah bernama Rufaidah binti Sa’ad.  Lahir di kalangan Anshar tepatnya bani Aslam, Rufaidah mempunyai pengetahuan yang luas dalam pengobatan tradisional, dan ia pun memiliki keahlian dalam perawatan luka.  Tak heran karena ayah Rufaidah yaitu Sa’ad al Aslamiyah,  adalah seorang tabib.  Maka Rufaidah kecil pun belajar dari ayahnya.   Dalam pelaksanaan pengobatan, Rufaidah menekankan pentingnya kebersihan dan higienisitas dalam perawatan kesehatan.  Ia menggunakan metode pembersihan luka untuk mencegah infeksi serta membalut luka dengan kain bersih.  Beberapa sumber menyebutkan, Rufaidah menggunakan ramuan herbal sebagai antiseptik alami.  Selain itu ia pun menerapkan pengobatan secara holistik yaitu dengan memberikan motivasi serta doa dan dukungan moral yang dipercaya dapat meningkatkan kesembuhan. 

Rufaidah tidak bekerja sendiri.  Ia melatih sesama muslimah sehingga ia dapat membentuk sebuah tim kesehatan.   Beberapa di antara muslimah yang mendapatkan pelatihan adalah  Asma’ binti Umais, Ummu Aiman, dan Ummu Sulaim.  Para asisten ini membantu dalam berbagai tugas, seperti menyiapkan perban, memberikan air, dan membantu dalam prosedur medis sederhana.  Selain itu, Rufaidah juga telah menyelenggarakan sistem pergiliran kerja, yang pada masa kini dikenal sebagai sitem shift.  Ia pun menyiapkan dan mengatur persediaan logistik, baik peralatan balut membalut maupun rempah-rempah bahan obatnya.  Dengan demikian, Rufaidah telah meletakkan dasar-dasar manajemen klinik layanan kesehatan sebagaimana di jaman modern.  Di luar perang,  klinik Rufaidah pun tetap beroperasi.  Tak jarang Rasulullah mengirimkan orang-orang sakit untuk mendapatkan perawatan khusus di klinik itu.

Mengenal NIPT, Cara Baru dan Mudah Deteksi Kelainan Kromosom

NIPT yang merupakan kependekan dari Non Invasive Prenatal Test, saat ini menjadi rujukan yang sering dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan kromosom pada janin. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa ternyata di dalam darah ibu hamil terdapat DNA janin yang dikandungnya. Jumlah DNA janin (cell free DNA) yang berada dalam darah ibu ini makin meningkat seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Sejak ditemukannya pemeriksaan ini pada 2010, penggunaannya makin meningkat. Di Indonesia sendiri baru diperkenalkan pada 2017 sehingga mungkin belum terlalu memasyarakat.

NIPT dapat dilakukan mulai usia kehamilan 10 minggu. Cara pemeriksaannya cukup dengan mengambil darah vena, seperti kalau kita periksa darah di laboratorium pada umumnya. Hasilnya nanti menunjukkan kemungkinan janin mengalami kelainan kromosom. Adapun jenis kelainan kromosom yang dapat terdeteksi dengan NIPT adalah :

  1. Sindroma Down (trisomi 21) dengan tingkat keakuratan 99,5%
  2. Sindroma Edward (trisomi 18) dengan tingkat keakuratan 97,7%
  3. Sindroma Patau ( trisomi 13) dengan tingkat akuratan 96,1%
  4. Kelainan kromosom lainnya

Selain itu, NIPT juga bisa mengidentifikasi jenis kelamin secara lebih dini. Sedangkan melalui USG, prediksi kelamin melalui pencitraan organ kelamin baru bisa dilakukan pada usia 18 pekan ke atas. Meskipun demikian, hasil NIPT juga tidak menyatakan dengan pasti ada tidaknya kelainan kromosom melainkan dengan istilah low risk, high risk, dan borderline.

Pada dasarnya setiap bumil berhak periksa NIPT. Namun ada beberapa golongan yang sangat direkomendasikan, yaitu :

1) ibu hamil berusia di atas 35 tahun,

2) punya riwayat atau anak sebelumnya dengan kelainan kromosom,

3) Pemeriksaan USG menunjukkan kecurigaan abnormalitas janin

Perlu dipahami, bahwa pemeriksaan ini hanya untuk mengetahui, bukan mencegah atau mengobati kelainan yang diprediksikan. Kalau begitu buat apa kalau hanya sekedar tahu? Mungkin itu pertanyaan yang timbul. Kepentingannya adalah menyiapkan mental orang tua dan keluarga, sehingga tiba saatnya bayi lahir, keluarga “tidak terlalu kaget”. Demikian juga perlu disiapkan tatalaksana dan perawatan saat sudah lahir sampai perkembangan selanjutnya, termasuk masalah pendidikan dan finansial. Persiapan pendidikan ini terutama pada trisomi 21 (sindroma Down) yang merupakan kondisi “paling ringan” dibandingkan sindroma yang lainnya.

Dan ada dua berita gembiranya. Pertama, hasil yang sekarang tidak mempengaruhi kehamilan berikutnya. Kedua, harga pemeriksaan ini semakin turun seiring dengan makin banyak penggunaan di masyarakat.

Daftar Pustaka

  1. TanyaDNA
  2. https://doktermanggalaspog.blogspot.com/2019/08/pemeriksaan-non-invasive-prenatal.html

Surat dari Gaza

Sejak awal perang, tas khusus untuk bepergian  milik saya hanya ringan saja, dan saya hanya punya sebuah tas lagi untuk cadangan.   Suatu hari, saat saya bisa kembali ke rumah saya di Ansar untuk mengambil beberapa keperluan, saya sempatkan juga untuk menngambil beberapa potong pakaian  untuk menghadapi musim dingin. Rencananya, saya hanya akan membawa pakaian ringan yang sudah belel untuk aktivitas seperti memasak di atas kayu bakar. Pakaian belel itu bisa dipakai dengan mudah dan cepat serta mudah dicuci.  Jilbab praktis dan gaun berbahan kain yang cocok untuk 4 musim adalah satu-satunya yang saya pakai selama 10 bulan.  Sebetulnya,  saya memiliki pakaian untuk setiap kesempatan. Namun di  situasi seperti ini tentu hanya dibutuhkan satu atau dua jubah kerja.

Sebagai seorang dosen di sebuah universitas, saya tertarik dengan penampilan yang elegan, namun demikian hal itu sama sekali tidak berkaitan dengan sesuatu yang mahal.  Karenanya saya tidak akan bosan dengan  pakaian sholat yang juga dikenakan oleh semua  wanita Gaza.  Bahkan di  saat tidur, saya tetap mengenakan pakaian yang bisa saya pakai dengan cepat dan tanpa merasa “manja”. Memang saat ini saya berstatus  pengungsi, namun saya tidak akan pernah merasa seperti seorang tunawisma.  Saya masih berdiri tegak di tanah air saya, Alhamdulillah.

Pakaian saya untuk beraktivitas di kampus mesti rapi dan terbuat dari bahan berkualitas tinggi. Namun saya sudah meninggalkannya karena tidak cocok untuk kondisi sekarang ini.  Setelah rumah saya hancur total, saya memutuskan untuk mengambil apa pun yang tersisa dari pakaian yang ada.  Hanya dengan melihatnya saja, saya merasa kembali menjadi manusia normal dan merasakan bahwa saya masih dianggap. Ini bukan sekadar pakaian.  Ini adalah karakter yang mencerminkan kepribadian saya.

Hari ini saya memutuskan untuk mengenakan salah satu jilbab untuk pergi ke pasar.  Untuk pertama kalinya dalam 10 bulan, saya merasa seperti hendak pergi bekerja, seperti saya kembali melakukan sesuatu yang baik untuk kemanusiaan.  Saya teringat kembali pada hari-hari dimana  aktivitas akademis, kerjasama internasional, pengembangan sistem pendidikan, dan pembangunan sumber daya manusia menjadi fokus utama—rasanya saya sangat merindukannya.

Apa yang saya temukan di pasar benar-benar membuat saya terkejut karena harga-harga melonjak tinggi. Bayangkan, bawang putih sekarang dijual dalam bentuk bungkusan-bungkusan, seperti kado saja. Tiga siung bawang putih ini harganya 10 NIS (Shekel Israel Baru), setara dengan 2,69 USD.  Yang juga membuat saya terkejut adalah harga sebutir bawang merah. Si penjual rupanya  menengarai keterkejutan saya, jadi dia menawarkan saya sepertiga dari bawang merah tersebut dan dia mengatakan  kalau sekarang orang bisa membeli bawang dalam potongan-potongan (tidak harus utuh). Jadi, sepertiga bawang itu, setelah ditimbang di timbangan, harganya 18 NIS. Saya sempat ragu untuk membelinya, tapi jujur saja, sudah hampir 3 bulan kami tidak makan bawang, apalagi sayuran atau buah-buahan. Tidak ada sama sekali! Apa boleh buat, inilah Gaza Utara!

Mungkin, yang mendorong saya merasa seperti ini adalah berita yang baru saya baca pagi tadi, yaitu tentang kehancuran sisa-sisa bangunan Kampus Ilmu Terapan (University College of Applied Sciences = UCAS). Saya merasa patah hati dan sedih memikirkan kampus, yang sudah saya anggap sebagai rumah kedua tersebut.  Saya masih tidak bisa mempercayainya. Setiap hari kami melihat dan mendengar kehancuran baru di Gaza, tapi kami merasa seolah-olah kami sedang berada dalam mimpi buruk dan akan segera bangun darinya. Kami melihat kehancuran itu dan kami menolak untuk mempercayainya.

Tanah Gaza yang sudah dikenal karena kesuburannya. Berbagai jenis buah dan sayuran tumbuh baik di atasnya.  Namun kini tanah itu telah menjadi tandus.  Penduduknya telah dipaksa hidup tanpa akses terhadap kebutuhan pangan dan bahan pokok. Gaza sedang dihancurkan dengan segala bentuk kekerasan, dan kelaparan adalah salah satunya. Membunuh dengan kelaparan mungkin tampak tidak terlalu brutal, tapi tetap saja itu adalah bentuk pembunuhan.

Semoga Allah memberi kami kekuatan untuk tetap bertahan dan energi untuk membangunnya kembali,  jika kita tetap berada di bumi ini, di Gaza.

diterjemahkan bebas dari tulisan Abeer Barakat, PhD dari Gaza

Tujuh  Kiat Tetap Nyaman Saat Periksa Kandungan

Tidak dapat dipungkiri, sesi periksa dalam saat berkunjung ke dokter kandungan adalah suatu hal yang sangat menakutkan. Bahkan seorang wanita bisa menunda memeriksakan keluhannya atau menghindari skrining Pap Smear hanya karena takut periksa dalam.  Di lain pihak, dokter tidak dapat menegakkan diagnosa dengan baik apabila melewatkan periksa dalam.  Dengan periksa dalam dapat dinilai kondisi alat kelamin luar, vagina, rahim, dan adneksa (area di samping kanan/kiri rahim).  USG transvaginal bisa sangat membantu, namun ada hal-hal yang tidak bisa didapatkan dengan USG saja.  Mobilitas rahim, kekakuan adneksa, dan kenyal atau lunaknya tumor (apabila ada), melekat atau bebasnya antar organ genitalia, itu hanya bisa didapatkan dari periksa dalam.

Selain itu ada pula pemeriksaan untuk melihat saluran vagina, warna maupun kondisi dindingnya, adanya perlukaan/erosi/polip pada mulut rahim, keputihan yang melekat, peradangan dan sebagainya, dengan menggunakan alat bernama spekulum.  Spekulum terbuat dari logam atau plastik, mempunyai 2 bilah yang bisa dibuka dan ditutup.  Bentuknya seperti paruh bebek (sering disebut cocor bebek).  Periksa dengan spekulum ini juga mempunyai peranan yang penting. 

Di bawah ini akan saya berikan tips-tips untuk mengurangi ketegangan dan bagaimana agar tetap nyaman selama dokter melakukan periksa dalam. 

  1. Hindari menggunakan celana panjang atau bawahan berupa rok ketat. Sebaiknya memakai bawahan berupa rok lebar atau gaun terusan yang lebar.  Ini gunanya agar saat melepas celana dalam maka bagian bawah kita tetap tertutup.
  2. Mintalah selimut/kain penutup apabila tidak disediakan
  3. Mengosongkan kandung kemih terlebih dahulu.  Ini akan mengurangi ketidaknyamanan selama pemeriksaan, selain itu juga mempermudah dokter dalam memeriksa.
  4. Sebelum mulai memeriksa, dokter akan memberikan larutan antiseptik terlebih dahulu dan mengoleskan jeli apabila diperlukan untuk memudahkan proses pemeriksaan
  5. Selama pemeriksaan, buatlah agar otot-otot dasar panggul menjadi rileks.  Caranya, tarik nafas dalam lalu hembuskan perlahan.  Letakkan bokong di alas yang disediakan.  Jangan lakukan ini : menahan nafas sembari menegangkan otot atau mengangkat bokong!  Hal ini membuat pemeriksaan menjadi sulit dan menyakitkan.
  6. Terkadang, bercakap-cakap dengan dokter atau bidan pendamping bisa mengalihkan rasa tegang.
  7. Dokter perempuan bisa membuat lebih nyaman
Posisi saat periksa dalam. Pastikan ada penutup tubuh

Ternyata tidak hanya di Indonesia, Dr. Lauren  Streicher dari universitas Northwestern di Illinois dalam penelitiannya terhadap 2000 wanita  menyimpulkan faktor-faktor yang menimbulkan keengganan untuk periksa dalam yaitu:  malu terhadap bentuk badan, khawatir akan aroma genitalia, takut akan nyeri yang mungkin dialami, trauma akibat kekerasan seksual, dan vaginismus.  Saya tambahkan satu lagi alasan untuk di Indonesia, yaitu malu karena terlihat aurat.  Berikut penjelasan yang bisa saya berikan terhadap alasan-alasan tersebut.

  1. Malu terhadap bentuk badan Perlu diketahui bahwa fokus dokter pemeriksa bukan kepada bentuk badan pasien, melainkan otak dokter sedang menghubungkan antara data-data yang didapat dari hasil wawancara dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan didapatkan saat nanti periksa dalam.

2. Khawatir akan aroma dari genitalia

Ada aroma tidak sedap yang disadari oleh pasien dan ada pula yang tidak.  Kalau anda menyadarinya, katakan kepada dokter saat sesi wawancara. Mungkin saja ada hubungannya dengan keluhan yang dialami.  Kalau pun anda tidak menyadari, sedangkan dokter menengarai ada aroma yang tidak wajar maka beliau pasti akan mengatakannya.  Namun ada baiknya memastikan bahwa anda mengenakan pakaian yang bersih.

3. Takut nyeri

Mintalah waktu jeda sejenak sebelum sesi periksa dalam.  Bernafas dalam dan hembuskan sehingga  rileks.  Lemaskan otot dasar panggul.  Fokuskan pikiran ke hal-hal yang menyenangkan dan jangan melawan. Dokter mungkin akan menggunakan jeli untuk memudahkan pemeriksaan dan mengurangi nyeri.

4. Ketakutan akibat pasca trauma seksual

Katakan hal ini kepada dokter sebelum pemeriksaan sehingga dokter bisa mencari alternatif pemeriksaan atau menggunakan spekulum ukuran terkecil.

5. Vaginismus

Vaginismus adalah kekakuan otot dasar panggul termasuk vagina secara spontan dan di luar kendali.  Katakan kepada dokter saat sesi wawancara.  Atau mungkin kunjungan anda ke dokter kandungan dikarenakan vaginismus ini?

6. Malu karena terlihat aurat.

Rasa malu ini wajar, namun jangan sampai berakhir dengan batalnya pemeriksaan.  Untuk meminimalkan, kita luruskan niat bahwa datang ke dokter kandungan untuk menjalani pemeriksaan guna kesehatan diri atau menemukan penyakit.  Karena Allah mewajibkan adanya tanggung jawab bagi setiap diri untuk memelihara jasmaninya.  Kedua, datangilah dokter kandungan yang perempuan, kecuali apabila di suatu daerah tidak ada dokter perempuan atau tidak ada dokter yang keahliannya dibutuhkan kecuali hanya ada dokter laki2.  [nin]

Sekilas Endometriosis,Penyakit 1000 Wajah

Sepekan yang lalu, seorang ibu usia 43 tahun yang didiagnosis kista endometriosis bertanya kepada saya seputar penyakitnya.  Berikut ini penjelasan saya :

Kista : adalah tumor jinak yang berisi cairan. Kista bisa tumbuh dimana saja, namun yang sekarang sedang kita bicarakan adalah kista ovarium (indung telur)

Cairan yang mengisi kista ovarium bisa macam-macam, yaitu :

  1. Cairan jernih (serous)
  2. Cairan kental (mucinous)
  3. Cairan kental coklat (endometrioma, kista coklat)
  4. Padat (kista dermoid)

Endometriosis sangat erat hubungannya dengan endometrium. Karena itu sebelum membahas endometriosis, kita perlu tahu dulu apakah endometrium itu.

Lapisan endometrium (merah tua), sedangkan bercak2 warna merah tua adalah endometriosis

Endometrium adalah lapisan dinding rahim yang melapisi rongga rahim.  Lapisan endometrium ini terdiri dari sel-sel endometrium yang ketebalannya berubah-ubah sesuai siklus haid. Pada saat haid, lapisan endometrium rontok menjadi darah haid.  Setelah haid selesai, lapisan endometrium menjadi tipis, namun kemudian atas pengaruh hormon lapisan itu mulai menebal lagi dan mencapai puncaknya pada pertengahan siklus, yaitu masa subur.  Lapisan endometrium ini menebal dikarenakan fungsinya sebagai lahan tempat tertanamnya hasil pembuahan (apabila terjadi hubungan intim suami istri). 

Endometriosis terjadi apabila sel-sel endometrium tersebut tumbuh di luar rongga rahim.  Ia bisa berada di otot rahim (endometriosis interna = adenomiosis) atau di ovarium, menjadi kista endometriosis (endometrioma = kista coklat), atau berada di organ lain misalnya di otot penyangga rahim, saluran telur di usus, di vagina, bahkan di paru. Kista endometriosis sering disebut dengan kista coklat, karena berisi cairan coklat seperti kental manis. Cairan tersebut sebetulnya adalah darah yang terkumpul dari setiap episode haid. Ini karena sel-sel endometriosis tersebut masih bersifat seperti sel aslinya yang berada di rongga rahim dimana saat haid akan “berdarah”.

Ciri Khas Endometriosis :

– membuat nyeri haid (termasuk dalam dismenore sekunder)

– membuat nyeri saat hubungan suami istri

– membuat sulit hamil

– terkadang ada gangguan siklus haid

– kalau penderitanya bisa hamil maka endometriosis “kalah”

Maka perlu dipertimbangkan apabila seorang wanita dengan endometriosis yang ingin hamil:

– seberapa besar kebutuhan utk hamil (lagi)

– usia saat ini

– keluhan endometriosisnya

– Komunikasikan ke dokter

 Bila tidak ingin hamil lagi :

– gunakan kontrasepsi hormonal

– hindari menggunakan IUD/spiral

– Boleh menggunakan IUD yg mengandung hormon

Kalau endometriosisnya ada keluhan :

– konsumsi obat (komunikasikan ke dokter)

– hindari polusi (asap rokok, bakaran sampah, polusi jalan raya)

Endometriosis tanpa keluhan :

  • Hidup sehat dan hindari faktor pemberat
  • Kontrol berkala 3-6 bulan sekali

Perjuangan Mengatasi Haid di G aza

Haid adalah fitrah seorang wanita.  Bahkan haid bisa menjadi tolok ukur kesuburan dan kesehatan wanita secara umum.  Wanita yang sehat akan mendapati haidnya datang dalam siklus yang teratur.  Sehingga kapan datangnya haid sedikit banya bisa diprediksi tanggalnya. Namun demikian kedatangan haid tetap bersifat tiba-tiba.  Bisa siang, sore, malam dan tidak pandang situasi.  Dia bisa datang saat dalam perjalanan, saat bekerja, saat rapat dan saat tidak terduga lain.  Dalam kondisi normal, tatkala sudah mendekati tanggal datangnya haid biasanya seorang wanita sudah menyiapkan pembalut atau perlengkapan lain.  Sehingga datangnya haid yang tiba-tiba itu sudah diantisipasi. 

Persoalan jadi beda tatkala wanita berada dalam situasi peperangan seperti halnya di G.aza.  Agresi penjajah dengan bombardir perumahan penduduk sipil mengakibatkan warga mengungsi meninggalkan rumahnya.  Selain itu fasilitas-fasilitas umum pun rusak berat kalau tidak bisa dikatakan hancur.  Di hari-hari awal mengungsi mungkin haid masih bisa diatasi dengan sisa pembalut yang ada.  Namun memasuki pekan-pekan berikutnya mulai timbul masalah.  PBB memperkirakan ada 700.000 wanita usia reproduksi (masih haid) di Gaza. 

Tersiar kabar bahwa para gadis dan ibu-ibu muda mulai menggunakan tablet-tablet penunda haid.  Mereka berharap bahwa agresi tersebut – sepeti waktu-waktu sebelumnya – tidak belangsung lama.  Namun makin lama ekskalasi justru makin meningkat.  Warga mulai terusir dan tidur di tenda, karena tidak ada lagi tempat mengungsi.  Dibuatlah kamp pengungsian di R afah, G.aza Selatan.  Sebagian memilih bertahan di G.aza Utara, sebuah lokasi yang sangat parah kondisinya karena benar.-benar terisolasi.  Sementara itu para dokter juga sudah meperingatkan bahayanya mengonsumsi pil penunda haid secara berkepanjangan. Baca di sini Selain itu, stok obat-obatan juga makin menipis dan akhirnya habis.

Tidak hanya pembalut, kondisi haid menuntut adanya persediaan air bersih yang memadai. Sedangkan air bersih merupakan hal yang langka di G aza.  Jangankan untuk membersihkan diri, untuk minum pun air tersebut sangat terbatas.  Seorang teman di G aza Utara mengatakan bahwa dirinya  mendapatkan air bersih yang dibagikan dari masjid setempat dengan jatah 10 liter per keluarga per hari.  Bisa dibayangkan betapa sedikitnya! Terkadang, apabila turun hujan maka mereka beramai-ramai menampung air dari langit tersebut.  Di kamp pengungsian UNRWA hanya ada 1 toilet untuk 486 orang pengungsi! Bahkan para gadis sampai beranggapan bahwa “Masa haid merupakan mimpi buruk bagi saya!”

Kembali ke masalah ketiadaan pembalut untuk haid, maka digunakanlah kain apa saja yang ditemukan! Tentu saja, kain-kainan ini tidak nyaman digunakan dan tidak terjamin kebersihannya. 

Para wanita di G aza Selatan sedikit lebih beruntung karena dalam paket-paket bantuan untuk keluarga (family package), sebungkus pembalut termasuk dalam item yang masuk dalam paket, disamping sembako.   Sedangkan bantuan untuk G aza Utara seringkali terhambat dan bahkan terhenti sebelum mencapai tujuan.  Penyebabnya siapa lagi kalau bukan serangan tentara penjajah.  Apalagi penjajah sudah membuat batas embarkasi antara G aza Utara, G aza Tengah, dan G aza Selatan.  Artinya, warga harus melewati check point saat melintasi antar wilayah di dalam Gaza.  Risiko dilarang melintas, termasuk risiko ditembak atau dibom adalah konsekuensi yang harus ditanggung!

Alternatif yang bisa dipakai untuk menjalani hari-hari haid dalam situasi ini salah satunya adalah menggunakan menstrual cup, yaitu sebuah cawan mungil terbuat dari silikon, lentur, yang dipasang di dalam vagina untuk menampung darah haid. Kelebihannya : alat ini bisa digunakan berulang kali, cukup dengan membilas dengan air.  Air yang dibutuhkan untuk membilas, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mencuci kain pembalut.  Namun kekurangannya adalah harganya yang cukup mahal.  Di Indonesia, harga berkisar 125.000 -499.000 rupiah per buah. Kekurangan yang lain adalah, perlu berlatih untuk menggunakannya, dan pada awal pemakaian terasa tidak nyaman.  Ukurannya juga berbeda-beda.  Menstrual cup untuk wanita yang belum pernah melahirkan lewat vagina berbeda dengan yang sudah pernah melahirkan normal.  Demikian juga untuk gadis, ada ukuran yang lebih kecil lagi.  Namun khusus untuk gadis, saya tidak menganjurkannya mengingat penggunaannya yang harus dimasukkan ke dalam vagina.   Apa pun caranya, agresi ini harus diakhiri. Genosida harus dihentikan [nin]

Perjalanan Sekarung Tepung Gandum

Sepenting apakah kedudukan tepung gandum bagi warga Palestina?

Saya awali kisah ini saat suatu siang di tahun 2010, saya bertandang ke rumah dokter Amin, salah seorang penerima bea siswa BSMI di Jakarta. Rupanya suami istri itu sedang membuat roti.  Maka jadilah saya menonton demo pembuatan roti khas Palestina tersebut. 

“Peralatan kalian lengkap sekali. Beli dimana?” celetuk saya dalam bahasa Inggris. Waktu itu mereka belum bisa berbahasa Indonesia.

“Ini dikirim khusus dari Gaza!”

“Wow!” Kaget juga saya membayangkan bagaimana oven dan panci bisa masuk koper. Bagaimana pula barang-barang itu bisa melintasi perbatasan Rafah yang terkenal ketat.

“Setiap keluarga di Gaza harus bisa membuat roti seperti ini.  Mangkanya saya sampai minta dikirim peralatannya. Kalau bahan-bahannya, semua bisa dibeli di Jakarta,” urai Niveen, istri dr. Amin.

Tak lama roti pun masak, dan tentu saja saya dapat bagian yang pertama untuk mencicipinya.

Kairo, Januari 2024.

 Empat belas tahun berselang dari saat demo pembuatan roti tersebut. Kami berada di kota Kairo dalam rangka pengecekan dan pengawalan bantuan untuk dikirim ke Gaza. Gaza yang indah kini hancur oleh serangan penjajah sejak 7 Oktober .  Sebelumnya di 2014 dan 2021 memang ada serangan yang menewaskan lebih dari seribu orang, tapi dari semua itu, sekaranglah yang terbesar!

“Tidakkah kalian dari BSMI tertarik untuk menyumbangkan tepung gandum kepada warga Gaza?” tanya seorang staf GDD (Gaza Destek Dernagi) kepada kami di Ismailiyah, Mesir

Saat itu kami sedang berada di gudang untuk memilih jenis bantuan yang sekiranya sangat dibutuhkan oleh warga.  Apakah selimut karena sekarang sedang musim dingin? Atau sembako karena langkanya bahan makanan pokok?  Atau …. tenda, mengingat 80% bangunan perumahan hancur di Gaza sehingga warga tidur di tenda? Namun sepertinya usulan untuk mengirim tepung gandum menarik juga.  Gandum merupakan makanan pokok di Gaza, karena ia merupakan bahan utama pembuatan roti.  Di Gaza, alih-alih makan nasi, warga lebih terbiasa makan roti.  Cara pembuatannya pun sederhana, hanya perlu sedikit garam dan air untuk menguleni.  Untuk memanggang, warga sudah membuat sendiri “oven” sederhana dengan menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya.

Baiklah, akhirnya BSMI memutuskan untuk menyumbang tepung gandum bagi warga Gaza.  Tidak tanggung-tanggung, kami penuhi 1 truk trailer dengan muatan tepung gandum seberat 30 ton.  Untuk mempercepat proses, memang sebaiknya menyumbang langsung 1 truk.  Bila tidak, maka perlu waktu untuk memenuhi muatan 1 truk dengan cara menunggu dari donatur lain.  Apa beda tepung gandum yang akan disumbangkan dengan tepung terigu (yang notabene juga berasal dari gandum) di Indonesia? Tepung terigu dibuat hanya dari daging gandumnya saja, sedangkan tepung gandum yang dibuat dari seluruh bagian gandum utuh atau whole wheat.

Dua atau tiga hari kemudian kami mendapat panggilan untuk menyaksikan pemuatan tepung gandum ke atas truk, namun ternyata itu pemuatan ke truk  lain!  Sabar.  Bagaimana pun tetap ada berita positif yakni banner sepanjang 20 meter yang nantinya akan menutupi badan truk, sudah jadi.  Lelah menunggu sampai menjelang sore, kami balik ke Kairo. Perjalanan memakan waktu 90 menit. 

“In syaa Allah nanti akan saya telepon,” janji Guruh.  Anak muda Indonesia yang menjadi asisten kepercayaan bosnya GDD.  Ia banyak membantu, terutama untuk mengatasi kendala bahasa.  

Dua hari berlalu.

“Besok ya. In syaa Allah truknya BSMI sudah datang. Tepung siap dimuat!” suara Guruh lewat telepon. 

Esoknya, kami berangkat pagi-pagi.  Tepat pukul 10 waktu setempat, kami sudah di pabrik tepung.  Ada 2 truk yang sedang mengantri di gudang.  Truk yang depan sudah berisi setengah muatan .

“Truk BSMI yang di belakang,” terdengar suara Guruh.   Agak terhenyak juga, karena langsung berpikir berapa lama kami harus menunggu mengingat untuk memenuhi seluruh truk trailer itu pasti membutuhkan waktu yang tak sebentar.  Kami khawatir kesorean.  Keresahan kami terbaca juga oleh para staf GDD.  Akhirnya truk BSMI didahulukan untuk pemuatan tepung tersebut.  Alhamdulillah. 

Sedikit saya ceritakan tentang proses di pabrik tepung ini.  Jadi, setelah gandum diolah menjadi tepung, maka dengan otomatis akan masuk ke dalam karung berkapasitas 35 kilogram.  Proses selanjutnya adalah penyegelan karung yang juga dilakukan oleh mesin.  Karung terisi gandum yang sudah diseegel akan menggelinding lewat sebuah terowongan keluar.  Di luar, seorang pekerja menangkap karung tersebut dan memuatnya ke sebuah forklift.  Nah, forklift inilah yang akan memuat ke atas truk.   Begitulah berulang-ulang sampai termuat 30 ton. Oh ya, sebelum mulai pemuatan tepung  banner sepanjang badan truk sudah dipasang terlebih dahulu, dengan bagian bawah banner ditindih oleh beberapa karung tepung.  Nanti, setelah termuat semua, banner tersebut tinggal dibalik sehingga menutupi seluruh muatan. 

Ada sedikit insiden saat pemuatan, yaitu garpu (fork) dari kendaraan forklift menusuk banner BSMI sehingga bolong di 2 tempat! Namun dengan cekatan petugas GDD langsung memperbaikinya dengan selotip.  Sembari mengamati proses pemuatan tepung, saya sempatkan membuat pendek. Demikian pula rekan dari Republika dan Liputan 6 membuat sesi wawancara. 

Sementara itu, prof. Basuki, sang pembina BSMI mendekati seseorang yang rupanya adalah sopir truk .  Warga asli Mesir itu, Syihabuddin namanya.  Ngobrollah mereka dengan bahasa Arab.  Rupanya Syihabuddin ini baru pertama kali juga mengantar barang ke Rafah.  Namun demikian ia tampak kooperatif.  Termasuk ketika prof Basuki meminta agar ia bersedia melaporkan perjalannya sampai ke Rafah, dan mengirimkan video saat berada di perbatasan Mesir – Gaza tersebut.  Maka terjadilah tukar menukar nomor WA, dan tak lupa selembar 100an pound diselipkan ke tangannya.  Biaya sosial memang acap kali diperlukan dalam situasi begini.  Berita dari sopir memang perlu karena sebagai bahan laporan ke para donatur dermawan di Indonesia.

Kami tidak mengikuti proses pemuatan sampai selesai, karena bakda maghrib sudah ditunggu oleh wamenkes untuk beraudiensi di kantornya.  Guruh mengacungkan jempolnya tatkala kami pamitan.  Anak muda ini sangat energik.  Pantas bos GDD sangat mempercayainya.

Perjuangan memang butuh kesabaran.  Kesabaran akan sesuatu yang tidak bisa dipastikan sesuai jadwal.  Ini perang, bung! Walaupun tepung gandum sudah termuat seluruhnya, tidak berarti truk bisa langsung berangkat.  Harus menunggu belasan truk lainnya dengan macam-macam muatan sesuai pesanan dari lembaga donor.  Sampai suatu hari kami mendapat kabar bahwa proses pemuatan seluruh truk sudah selesai dan siap berangkat, itu pun ternyata masih ditunda lagi dikarenakan ada truk yang menyusul mau ikutan konvoi bareng. 

Alhasil, saat rombongan truk benar-benar berangkat tim kami sudah digantikan tim berikutnya.  Tak urung rasa haru memuncak dan doa pun spontan terpanjat tatkala melihat iring-iringan berjalan perlahan diiringi lambaian tangan para pengantar.  Betapa gagahnya truk dengan tulisan “Humanitarian Aid from Indonesia People for Palestinian People” melaju menuju Rafah.  Di bawah tulisan itu berderet logo-logo lembaga yang ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana.  Kami sengaja member kesempatan untuk memasang logo, selain sebagai laporan juga sebagai penghormatan untuk para donatur.

 Masa-masa selanjutnya adalah menunggu kabar dari Syihabuddin si sopir truk.  Ibarat melepas anak panah, tangan kita sudah tak kuasa mengendalikan perjalanan.  Kepada Allah Sang Maha Pengatur kami bertawakkal.  Kami  berpatokan ke perhitungan bahwa perjalanan dari Ismailiyah ke Rafah yang berjarak 400 kilometer itu akan ditempuh dalam waktu 7-10 hari.  Kok lama sekali? Ya memang.  Waktu tempuh yang seharusnya hanya 6-8 jam itu memanjang dikarenakan banyaknya check point yang harus dilalui.  Maka tatkala ada kabar bahwa truk sudah sampai di Rafah Mesir setelah 4 hari perjalanan betapa bersyukurnya hati ini.  Kabar tersebut disertai dengan foto yang agak kabur dan video penuh getaran menggambarkan suasana perbatasan.  Tampak banyak truk dan kendaraan lain serta orang lalu lalang.  Tiga hari sesudahnya, masuk kabar bahwa tepung sudah berada di Rafah Gaza.  Namun tak seperti biasanya, rombongan masuk dari pintu Karim Abu Salim.  Pintu ini terletak di sebelah timur Rafah, atau sisi tenggara dari jalur Gaza.  Pintu ini berbatasan dengan wilayah Palestina yang diduduki Israel. Apa pun, syukur kami berlipat-lipat karena tak lama kemudian tersiar kabar bahwa pemukim illegal datang ke wilayah Karim Abu Salim tersebut untuk menghalangi masuknya bantuan bagi warga Gaza. 

Beberapa waktu kemudian, barulah dokumentasi dikirimkan oleh pihak GDD.  sejumlah foto dan video itu menunjukkan suasana pembagian tepung kepada warga yang tinggal di tenda-tenda kamp pengungsian Rafah.  Sekarung tepung untuk setiap tenda.  Menurut perhitungan salah seorang kenalan di Gaza, jumlah tersebut diperkirakan bisa mencukupi kebutuhan 1 keluarga selama 2 bulan.  Semoga demikian. Walau pun tampak kecil namun tetap saja kami berdoa tepung tersebut dapat menguatkan fisik para pengungsi.  Aamiin.  [nin]  

Pemusnahan Jimat

Sepanjang perjalanan menjadi dokter kandungan dan memeriksa sekian banyak bumil, acap kali saya jumpai para bumil itu menegenakan jimat. Macam-macam jenisnya, namun kebanyakan berupa peniti, gunting lipat, dan bangle. Sambil saya nasihati, biasanya saya suruh mereka melepas jimat tersebut. Sebagian besar mau melepasnya, namun sebagian kecil menolak dengan berbagai macam alasan. Ya sudahlah, tugas saya hanya sebatas menasihati. Tulisan tentang jimat bisa dibaca di IBU HAMIL, PERLUKAH PAKAI JIMAT? dan di Ibu Hamil….Jauhilah Benda-Benda Ini .

Nah, “koleksi” jimat itu akhirnya jadi banyak. Ada kira-kira 1 toples kecil! Tidak ada maksud lain dari tindakan menyimpan jimat itu selain untuk edukasi. Saya foto untuk dijadikan ilustrasi tulisan, atau saat menjadi pemateri dalam sebuah seminar saya tunjukkan kepada para peserta, seperti apa bentuk jimat itu. Bisa jadi, mereka memakainya tanpa sengaja karena faktor ketidaktahuan.

Pada suatu kesempatan, kami mengundang seorang ustadz untuk memberikan materi tentang rukyah, dan sekaligus berdiskusi setelahnya. Saya ungkapkan bahwa di jaman milenial ini ternyata para ibu muda masih ada yang percaya jimat. Lalu saya tunjukkan “koleksi” saya tersebut kepada beliau. Di luar dugaan ternyata sang ustadz menganggap serius. Beliau malah menyarankan untuk segera memusnahkan jimat-jimat tersebut. Saya kemukakan bahwa selama ini tidak pernah ada kejadian apa pun sehubungan dengan penyimpanan jimat. Namun justru beliau makin kuat menyarankan pemusnahan. Baiklah, saya pikir juga buat apa benda-benda itu saya simpan. Toh dokumentasinya sudah ada. Maka saya ikhlaskan saja proses pemusnahan tersebut.

foto kiri : kumpulan jimat dalam mangkok.

Foto kanan : proses pembakaran

Diputuskan bahwa jimat akan dimusnahkan dengan cara dibakar. Maka kami pun ke halaman mencari tempat aman. Ustadz meminta kertas-kertas tidak terpakai dan salah seorang pegawai menuangkan bensin. Setelah berdoa, ustadz menyalakan api dan ….musnahlah jimat-jimat yang saya kumpulkan sejak 20 tahun yang lalu. Sisa jimat yang tidak terbakar – seperti gunting dan peniti – dikubur. Bereslah. Semoga tindakan ini menjauhkan kami dari gangguan-gangguan yang tidak diinginkan. In syaa Allah. Semoga setelah ini saya tidak pernah lagi menjumpai ibu hamil pakai jimat. Aamiin. [nin]

Para Dokter yang Buka Praktek di Pinggir Jalan

Memasuki hari ke 120 peperangan berkecamuk di sepanjang jalur Gaza.  Tak ada lagi tempat aman.  Penjajah membabi buta menghancurkan perumahan dan seluruh infrastruktur di seluruh Gaza.  Enam puluh enam ton bom yang sudah dijatuhkan membuat 2 juta warga Gaza berstatus pengungsi karena ketiadaan tempat tinggal. Sementara itu tempat aman seperti gedung sekolah, rumah sakit, dan masjid tak luput menjadi sasaran pengeboman.  Tak kurang dari 235 sarana kesehatan yang rusak, dan tercatat 309 orang tenaga kesehatan syahid dan 380 orang luka-luka.  Rumah sakit besar tak bisa berfungsi karena rusak parah!

Namun demikian ketahanan mental warga Gaza memang mengagumkan! Selain itu daya juang dan semangat hidup mereka sangat tinggi. Termasuk para dokter dan paramedis di rumah sakit dan klinik. Walaupun disadari bahwa profesi tersebut menjadikan mereka target pengeboman, namun jiwa kemanusiaan yang sudah mendarah daging membuat mereka tetap memenuhi panggilan tugas.

Salah satu di antaranya adalah Ali Moqat,   seorang dokter yang memiliki  klinik dan apotik di Jabaliya, Gaza Utara.  Apotik dan klinik tersebut hancur dibom. Namun saat kondisi mereda, dengan ketelatenan tingkat tinggi dia kumpulkan satu demi satu obat-obat yang tersisa dan masih bisa digunakan.  Tak lama kemudian, ia pun sudah membuka praktek di pinggir jalan, tak jauh dari RS Al Shifa. Ia menerima konsultasi dan meresepkan obat sembari berdiri di tengah reruntuhan.  Tentu saja, resep tersebut ditebus langsung di apotiknya sendiri. Atas ijinnya, foto-foto ini kami dapatkan.

Rajab Murtaja juga seorang dokter yang berstatus pengungsi.  Ia pun didapuk menjadi supervisor dari kamp pengungsian  Al Falah, yang tadinya merupakan sebuah sekolah di kawasan Sabrah.  Ada 14.000 orang warga bertempat tinggal (mengungsi) di sana, kebanyakan berasal dari Sabrah dan Al Zaitun.  Sebagai seorang dokter, dia tak dapat tinggal diam melihat kondisi pengungsian yang rawan menimbulkan penyakit.  Semangatnya untuk menolong orang tak pudar. Begitu kondisi memungkinkan, ia pun buka praktek di salah satu ruang kelas.  Namun apa daya, obat-obatan yang dia punya sangat terbatas, demikian juga alat-alat kesehatannya.  Ia sangat membutuhkan antibiotik, penghilang nyeri, dan obat-obatan untuk penyakit kronis.  Yang terbanyak dibutuhkan adalah obat anti hipertensi dan obat diabetes. 

“Situasi ini memang sulit. Kami mencari dana kemana-mana. Terkadang ada donasi untuk pelayanan kesehatan di sini. Tak banyak, 20-50 shekel saja

dr. Rajab di Kliniknya.

Alhamdulillah, bantuan tunai BSMI bisa membantunya melangkapi kebutuhan obat-obatan tersebut.  Dia berterima kasih karena dengan demikian usahanya untuk memelihara kesehatan para pengungsi bisa berjalan dengan baik. 

“Ingat tidak sama Dr. Motasem? Dulu, BSMI pernah bantu dia!” Sebuah pesan whatsapp masuk ke ponsel saya.

Pelan-pelan ingatan saya muncul kembali.  Saat itu, Motasem hampir menyelesaikan pendidikan dokternya. Ia kesulitan keuangan dan terancam DO. Alhamdulillah datang kiriman dari BSMI dan ia berhasil lulus. Bahkan, sekarang menjadi dokter spesialis orthopaedi. Tadinya ia bekerja di RS Al Shifa. Namun seiring dengan serangan masif penjajah yang mengakibatkan kolapsnya rumah sakit terbesar di Gaza City tersebut, ia akhirnya  melayani pasien dimana saja dibutuhkan.  Di rumah sakit kecil atau di klinik-klinik yang masih buka.  Namun seringnya ia justru mendatangai pasien – pasiennya di tempat pengungsian.  Ini mengingat kondisi jalan yang sedemikian buruknya serta ketiadaan transportasi sehingga menyulitkan apabila pasien mesti datang ke klinik.

Semoga Allah melindungi mereka, demikian juga para tenaga medis lainnya. Sehingga mereka beserta seluruh warga Gaza yang tersisa bisa menyaksikan kemerdekaan Palestina. [nin]

CINTA DALAM SEBUAH PENYELUNDUPAN

(Cerpen ini menjadi Pemenang ke 3 dalam Lomba Cerpen Palestina dari NPC – Solistina)

“Aku tak dapat menyetujuinya, Nuha. Setidaknya untuk saat ini,” tegas Mohammed. Wajahnya muram. Kerut di dahinya bertambah dalam. Ayah mertua usia 64 tahun yang kesehariannya ramah dan suka tersenyum itu berubah total malam ini.  Meskipun berada dalam ruangan  temaram karena penerangan hanya dari 2 batang lilin – Israel hanya mengalirkan listrik ke Gaza selama 4 jam dalam sehari – Nuha bisa menangkap keresahan di wajah tua Mohammed.

Sementara ibu mertua Nuha, Samah,  duduk di sebelah suaminya.  Pandangannya menerawang. Sesekali ia menghapus air matanya. Mungkin ia teringat Yasin, anak laki-laki pertama yang merupakan suami Nuha.  Yasin berada dalam penjara Israel! Serbuan kerinduan terhadap anak laki-lakinya yang hafal Al ur’an semenjak usia 15 tahun itu membuatnya melelehkan air mata.  Pembicaraan serius antara mereka bertiga – Mohammed, Samah, dan Nuha, mau tak mau melibatkan Yasin.  Situasi menjadi tegang tatkala Nuha menyampaikan sebuah keinginan, yaitu hamil dan melahirkan bayi.  Tak ada yang aneh. Itu sebuah keinginan yang wajar dan normal. Tapi menjadi pelik karena Yasin ada di penjara, dan Nuha menjelaskan bahwa ia akan menempuh jalan pembuahan yang tidak alami, yakni dengan inseminasi.

Menyadari udara dalam ruangan semakin pengap, Samah beranjak membuka jendela.  Angin malam yang menyeruak masuk hanya sedikit saja menolong, karena aliran udara musim panas itu terasa hangat.  Mereka sebetulnya memiliki genset namun  mesin pembangkit listrik tua lagi berisik itu sedang kehabisan bahan bakar.  Situasi kelangkaan listrik, gas, dan bahan bakar minyak di Gaza sebetulnya hal biasa. Perilaku penjajah tak dapat ditebak. Keberadaan listrik dan gas sangat tergantung dari “kebaikan hati” Israel si penjajah.  Kesabaran warga Gaza yang terblokade baik di darat maupun di laut sudah sangat terlatih semenjak belasan tahun lamanya.  Mereka menumpahkan kesah dengan mengakrabi kitabullah dan mendapatkan hiburan dari deretan ayat-ayat Allah di dalamnya.

Nuha masih terdiam di kursinya.  Perempuan 25 tahun itu baru beberapa bulan mengecap kehidupan bersuami istri saat tentara Israel menangkap Yasin.  Saat itu ia 21 tahun dan Yasin 24 tahun.  Sesudah menikah, mereka tinggal bersama keluarga Yasin di Dar el Balah.  Boleh dikatakan kehidupan yang tenang. Ia melanjutkan kuliah diploma pendidikan guru sedangkan Yasin sebagai dosen bahasa Inggris di Islamic University of Gaza. 

Yasin ditangkap lantaran penyebab sepele. Ia beradu mulut dengan tentara Israel tatkala sedang berdemo di acara Great Return March pada 2018 silam.  Sampai sekarang belum ada keputusan sampai berapa lama ia harus mendekam di balik jeruji sel. Kenyataan pahit itu menjadi terlalu biasa bagi warga Palestina. Yasin pun hadapi dengan gagah berani.  Nuha pernah beberapa kali mengunjunginya. Mereka berjumpa di balik kaca. Diawasi oleh tentara bersenjata. Waktu 10 menit berlalu seperti mengambang di udara, dan mereka pun harus berpisah kadang tanpa kata. 

***

Sepekan yang lalu Nuha berkesempatan berjumpa dengan dokter Hakeem Abu Marzouq di kliniknya.  Dokter Hakeem adalah dokter spesialis kandungan.  Ia mendalami bidang fertilitas (kesuburan).  Tentu Nuha tidak sendirian ke klinik yang berlokasi di Rimal, tak jauh dari rumah sakit Al Shifa tersebut.  Ia memenuhi ajakan Ameena, seorang seniornya di kampus.  Ameena bernasib sama dengannya, yaitu suaminya ditahan Israel.  Lebih lama malahan, hampir 8 tahun.  Saat itu Ameena baru saja melahirkan anaknya yang pertama.  Anak itu sekarang tumbuh menjadi pemuda kecil yang tampan dan cerdas.  Di usianya yang ketujuh, sudah 10 juz Al Qur’an dihafalnya.   Ameena sedang menempuh terapi persiapan untuk menjalani proses inseminasi. 

“Setahun terakhir ini berat badanku meningkat drastis, Nuha.  Bayangkan, pertambahan tujuh kilogram dalam waktu 12 bulan saja. Aku sendiri terkejut saat menyadarinya,”papar Ameena. “Akibat berat badanku itu, dokter menemukan sel telurku terlalu kecil.  Tak memadai untuk dibuahi.  Semoga pengobatan dan penurunan berat badan yang kujalani ini segera membuahkan hasil.”   

“Inseminasi atau lengkapnya Inseminasi Intra Uterin merupakan prosedur pembuahan dengan bantuan,” demikian dokter Kareem yang berambut seputih salju itu memulai penjelasannya.  Di depannya, Ameena dan Nuha serius menyimak bagai pelajar sekolah lanjutan di hadapan guru.  “Cairan sperma suami yang sudah terlebih dahulu dicuci, akan dimasukkan ke rahim istri.  Tentu saja, waktunya harus bertepatan dengan masa subur istri, yaitu saat didapatkan sel telur yang matang, sehingga diharapkan bisa terjadi pembuahan dan selanjutnya kehamilan.”

“Jadi, aku bisa hamil tanpa suami?” Nuha terhenyak.

“Bukan tanpa suami. Engkau tahu hal itu hanya bisa dialami oleh Maryam, ibu nabi Isa,” cetus dokter Hakeem cepat. “Maksudku, engkau bisa hamil tanpa kehadiran suamimu, Nuha. Hanya membutuhkan spermanya saja. Tanyakan Ameena, karena dia pun akan menjalaninya.”

Nuha menoleh menatap wajah sahabat sekaligus seniornya.  Ameena tersenyum mengiakan.

“Memperbanyak lahirnya bayi Palestina,” bisik Ameena. Dengan suami dipenjara istri tetap bisa melahirkan anak. Itu yang aku pikirkan. Dan suamiku sepakat.”

Nuha seperti menangkap secercah cahaya.

***

“Begitulah, Mama, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini.  Beruntung, aku menemani Ameena ke klinik.  Alhamdulillah, Allah berikan berikan ilham dan kemudahan selepas pertemuan itu,” Nuha tuntas menumpahkan gejolak pemikirannya kepada ibu mertuanya

            “Biar aku saja yang bicara kepada Baba. Percayakan kepadaku,” bisik Samah. Aku tahu sifat Baba.  Dia agak konservatif, namun sebetulnya ia khawatir pandangan keluarga besar” 

***

Beberapa pekan kemudian …

Sepagi itu Nuha sudah berada di klinik dokter Kareem. Di ruang tunggu yang sederhana, hanya hening yang ada.  Lukisan bunga sepatu warna merah merona menjadi satu-satunya hiasan yang menempel di dinding.  Nuha mencoba mengurangi ketegangannya dengan murajaah Al Qur’an.  Dipilihnya surat Al Mukminun. Ia larut dan tenggelam dalam pemikiran 15 ayat pertama yang menjelaskan tentang tahap demi tahap penciptaan manusia.  Sesekali, bayangan Yasin tetap berkelebat dalam benaknya tatkala ia sampai di ayat 5 sampai 7.  

“dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa yang mencari di balik itu (zina),  maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”  1)

Diulang-ulangnya ketiga ayat tersebut, karena ia sangat membutuhkan penjagaan Allah di tengah kesendirian, kerinduan terhadap suami, serta keinginan adanya keturunan. Khusus keinginan terakhir tersebut, ia memohon agar dimantapkan niat bukan hanya hawa nafsu semata, namun lebih karena di masa depan diperlukan penerus generasi untuk perjuangan kemerdekaan Palestina.

Selain itu, Nuha juga mengulang-ulang ayat 12 sampai 14 :

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain.  Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik”2)

Proses pembuahan yang dalam ukuran manusia sangat sulit ternyata mudah saja bagi Allah. Meski dokter sudah menyatakan dirinya sehat baik fisiknya maupun organ reproduksinya,  tetap saja berbagai konsumsi berbagai suplemen, obat penyubur, dan suntikan hormon harus dijalaninya.  Semua atas advis dan pantauan ketat dokter Kareem.  “Tugas” Yasin untuk mengeluarkan sperma di dalam penjara pun tak mudah.  Secara fisik maupun psikis sangat berat.  Nyawa menjadi taruhan.

“Semoga engkau sabar, anakku. Aku harus pastikan bahwa kondisi sel telurmu harus benar-benar matang dan siap menerima pembuahan tatkala sperma suamimu tiba,” dokter Kareem sabar menjelaskan. 

Nuha memang harus berpagi-pagi datang setelah semalam datang panggilan dari klinik. Ada rentang 3 hari dimana ia diperkirakan berada dalam masa subur.  Namun juga harus diperhitungkan dengan kedatangan sperma.  Jadilah hari ini, tanggal yang sudah dijadwalkan untuk sebuah keputusan.  Apakah ia menjalani proses inseminasi atau justru harus melalui prosedur bayi tabung. Tentu saja yang terakhir itu akan lebih rumit dan membutuhkan lebih banyak tindakan medis yang harus ia jalani.  Kalau tidak, puluhan tablet penyubur dan suntikan hormon sejak awal haid bisa jadi percuma.  Sementara, sperma Yasin sudah berada di klinik itu sejak sehari – tepatnya 18 jam –  yang lalu.  Salah seorang staf klinik sudah berpengalaman, sukses menyelundupkan cairan berharga itu dari penjara. Bersicepat dibawa ke Gaza, karena cairan itu tak kan bertahan lebih dari 48 jam.

“Saudariku, mari masuk,” ajak perawat berseragam biru muda. “Dokter akan menyampaikan keputusannya, apakah anda bisa dengan inseminasi saja atau harus dengan bayi tabung. Semua tergantung dari kualitas sperma. Tenang saja, yang akan melaksanakan prosedur inseminasi adalah dokter Khaleeda. Ia asisten dokter Kareem. Sikap santai namun tawakkal, itu pilihan terbaik,” perawat mencoba mencairkan suasana. 

“Assalaamu’alaikum, Nuha. Sobahul khair! Semoga Allah memberkahimu, anakku,” sambut  dokter Kareem. Ia tampak bersemangat sekali pagi walau tak dapat menyembunyikan gurat kelelahan di wajahnya. “Semalam ada operasi darurat harus yang kutangani. Maaf terpaksa panggilan mendadak untukmu.  Ini, bacalah,”ujarnya sambil mengangsurkan selembar kertas. 

Nuha menerima dengan tangan bergetar. Ia tahu, di kertas itu tertulis hasil analisa sperma. Angka-angka yang tercetak, menjadi dasar keputusan apakan ia bisa menjalankan teknologi reproduksi berbantu ini sekarang atau … tidak sama sekali.

“Hasilnya mengejutkan, aku pun hampir tak mempercayainya.  Benih-benih itu masih sehat, berenang dengan cepat saling mendahului.  Hari ini juga kuputuskan, engkau menjalani program inseminasi,” kata dokter setengah baya itu.  “Setelahnya, engkau boleh pulang. Banyak berdoa. Sesudah sperma dilepaskan, ia akan mencari jalannya sendiri dengan tuntunan Allah. Tunggu empat belas hari ke depan, lihat apa yang terjadi.”

“Aah … aku … aku … masih belum jelas, dokter. Terutama soal kejadian di empat belas hari lagi itu. Apa lagi yang harus kuperbuat?” Nuha agak kebingungan.

“Ooh, engkau ini, Nuha,” dokter tertawa terbahak-bahak.  “Yaah … aku baru ingat, engkau belum pernah hamil sebelumnya.  Pasti bingung.  Begini, kalau sperma itu berhasil membuahi sel telur dan kemudian terjadi kehamilan, maka engkau tidak akan mendapati haidmu di tanggal yang semestinya, jelas?”

Giliran Nuha yang tersipu. Betul juga.  Bukankah kedatangannya kesini untuk memperoleh kehamilan. Walau tidak sepenuhnya alamiah, melainkan dengan campur tangan manusia.  Istilahnya, teknologi reproduksi berbantu.  Namun ia yakin, Allahlah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan dan teknologi.  Manusia mendapatkan setetes saja dari samudera ilmu itu untuk menolong manusia lain. Dalam konteks lebih besar, untuk Palestina yang dijajah ini, kelahiran generasi penerus menjadi hal yang sangat besar urgensinya. Maka tidak ada salahnya memanfaatkan teknologi untuk mencapai tujuan tersebut.

Suaminya, Yasin,  sudah sabar menanggung penderitaan di penjara – siapa pun tahu bagaimana kejamnya penjara Israel. Pasti untuk bisa memperoleh sperma dan menyelundupkannya bukan hal yang mudah. Nyawa taruhannya. Maka sudah semestinya Nuha mengimbangi dengan perjuangan yang sama. Menerima takdir kehamilan tanpa adanya suami, termasuk mungkin pertanyaan-pertanyaan dari kerabat atau bahkan kecurigaan dari tentara penjajah saat ia menjenguk Yasin, suatu saat nanti. Entah kapan.

            Nuha mulai menapaki jalan perjuangan itu tatkala empat belas hari kemudian dia menengarai bahwa haidnya memang tidak datang. Tiga hari kemudian tetap tidak datang. Dan sebulan kemudian haid itu masih tak kunjung muncul, disusul ada rasa mual menyergap lambungnya di pagi hari … maka ia pun berucap, “Selamat datang buah cinta untuk Palestina!”

Catatan kaki

  1. Surat Al Mukminun ayat 5-7
  2. Surat Al Mukminun ayat 12-14