Menjawab Paradoks Omnipotence

Pernah denger paradoks Omnipotence yg diagung-agungkan kaum atheis? Yaitu sebuah pertanyaan paradoksal, “Bisakah Tuhan menciptakan batu besar yg Dia tidak bisa mengangkatnya?” Kalau belum pernah silakan tanya Syeikh Google Al Youtubi…. Kalau sudah, silakan coba menjawab, pasti bingung. Kalau dijawab bisa menciptakannya, berarti bukan tuhan yang Maha Kuat, kalo tidak bisa menciptakannya, berarti juga bukan tuhan Yang Maha Menciptakan Apa Saja… Well, well, well… Pertanyaan ini sebenarnya memakai permainan perspektif bahasa dan pola pikir mendasar otak manusia.
Continue reading

Omong Kosong Itu Bernama Personal Branding

Harus dikatakan, bahwa saya termasuk orang yg menolak pendapat bahwa penulis juga harus pandai berjualan. Sebagai catatan: “harus pandai” berbeda dengan “harus bisa”, kalau sekadar bisa sih gampang, tapi untuk pandai berjualan, maka di situ tidak sekadar publikasi, tapi ada teknik-teknik persuasi dan promosi tentang bagaimana agar orang tertarik membeli. Hal ini bagi penulis sangat rawan, karena bisa jadi ia harus membagus-baguskan karyanya lebih dari yang semestinya. Sedangkan saya selalu penuh cuiga terhadap karya sendiri, bahkan sering menganggapnya musuh, terutama karya yang sudah dipublikasi di media atau diterbitkan sebagai buku. Itulah mengapa meskipun sampai sekarang sudah terbit 5 buku, saya tak menyimpan 1 pun dari 5 buku itu untuk diri sendiri…
Continue reading

Menatap Masa Depan Cerpen Indonesia

Sesungguhnya tidak cukup pantas bagi saya membicarakan masa depan cerpen Indonesia, apalagi dari karir kepenulisan sendiri yang masih seumur laron. Tapi begitulah yang–ironisnya– saya sukai dari dunia non eksak, siapapun boleh bicara apapun, karena nanti hasilnya akan dihargai sebagai kebebasan berpendapat. Jadi, saya pun, dengan kapasitas ini, tergolong bebas untuk berbicara. Dalam dunia eksak tentu tidak mungkin, karena logika eksak menafikan pendapat-pendapat yang tanpa dasar, apalagi yang hanya berdasar permainan logika dan perasaan. “Without data, you’re just another person with an opinion,” begitu kata Ralph Waldo Emerson, tukang sensus dari Amerika. Adapun di dunia non eksak, semua bisa bicara tanpa data, karena “perasaan” dan “pemikirannya” itulah data yang melatari pendapatnya.
Continue reading

Khidir Menggoyahkan Cerpen, Landasan Liberal, dan Wali Syetan

Dalam sebuah status facebook beberapa waktu lalu ketika mengomentari cerpen Lelaki Pemanggul Goni, saya menyebut cerpen tersebut failed di bagian Nabi Khidir. Sebenarnya mudah ditemukan failednya jika kita membaca paragraf cerpen tersebut, lalu membandingkan dengan kisah aslinya dalam Al Quran, meski tanpa harus baca tafsirnya.

Dengan tidak mengurangi hormat saya kepada Pak Budi Darma, apalagi tanggal dan bulan lahir kami sama (versi kalender masehi), tahunnya saja yang berbeda 50 tahun. Saya kaget melihat bagaimana kesalahan beliau dalam menukil kisah Nabi Khidir. Tentu bagian ini tidak banyak berpengaruh terhadap bangunan cerita, tapi tetap aneh saja. Di cerpen itu ditulis, berikut saya kutipkan: Continue reading

Review: Song of The Sea (2014)

songofthesea

Pertanyaan pertama ketika saya mulai menonton film ini adalah, “Apakah mereka serius?” Baiklah, ini film animasi, kartun, cuma gambar berwarna di atas kertas, tapi jika niatnya adalah untuk melawan teknologi modern (yang mana tentu tidak sepenuhnya bisa sebab mereka juga memakai teknologi modern) rasanya ini terlalu nekat. Saya pernah menyebut bagaimana Grave of The Fireflies terasa lebih hidup ketimbang film Doraemon Stand By Me, padahal dari segi animasi yang dihasilkan, Grave of The Fireflies kalah jauh karena diproduksi tahun 1988, yang mana saat itu teknik komputer grafis belum secanggih sekarang. Continue reading