Selama pernikahan kami, mungkin ini adalah saat tersulit. Kenyataan bahwa aku bermasalah menjadi dilema dalam diriku.Siapa sih manusia di bumi ini yang tidak ingin memiliki anak? Hal tersulit dari itu semua adalah bagaimana kami harus menjelaskan kondisi kami ini kepada keluarga besar kami, tepatnya keluargaku, ibu. Ibuku selalu memberikan perhatian ekstra kepada istriku agar cepet hamil. Bentuk perhatian itu bermacam-macam, mulai dari jamu, makanan, obat sampai terapi sejenis refleksi dan akupuntur yang sudah mulai Mila tinggalkan karena kesibukannya atau karena tertekan dengan kondisi ini. Istriku, Mila, adalah wanita modern yang berfikir dengan perasaan yang berlandaskan pada logika. Mungkin, jika dokter yang menyarankan, akan beda jadinya. Ibuku menolak untuk memeriksakan kami ke dokter, dan menyarankan kepadaku untuk tidak usah ke dokter. Beliau sangat yakin bahwa aku sehat dan untuk masalah hamil itu adalah sepenuhnya urusan istri. Ibu sangat yakin bahwa aku memiliki bibit unggul. Beliau sedikit memojokkan keluarga Mila karena terlalu membebaskan anak dalam gaya hidup. Padahal, kalau aku mengamati, Mila dan keluarga paham masing-masing sifa mereka. Mila adalah wanita cerdas yang tahu apa yang harus ia lakukan. Pilihan untuk belum periksa kemarin itu karena ia melihat kami berduamasih sangat sibuk dan masih enjoy dalam menjalani hubungan pernikahan tanpa anak. Keputusan untuk check up kesehatan kemarin adalah klimaks dari ini semua. Aku ini anak laki-laki satu-satunya. Adik-adikku, Sasti dan Laras masing-masing telah menggendong baby mereka yang lucu-lucu. Jadi, wajar apabila orang tuaku menanti-nanti momongan dari kami.
Kembali ke masalah kesehatan kami. Setelah kembali dari dokter itu, kami mulai berfikir. Di fikiranku, aku jelas merasakan dilema. Satu sisi aku bersalah karena menyebabkan masalah ini, tapi disis lain aku belum mampu menyampaikan kondisiku ini kepada ibu dan keluargaku. Untuk Mila, apabila hal ini ia ceritakan kepada ibunya, itu pasti. Mereka sangat dekat seperti layaknya sahabat, dan ini akan menjadi rahasia bagi mereka. Namun, aku percaya.
Malam itu…
“Sayank, kamu adalah hal terindah dalam hidupku. Ayo kita jalani ini semua bareng-bareng. Aku yakin, kita bisa. Kita program lagi ajah. Aku akan keluar dari kerjaanku kalau kamu mau. Buat ngisi kegiatan, aku bakal di rumah dan mulai usaha catering kayak bundaku.”
Aku hanya bisa mendekap erat istri yang sangat aku cintai ini. Dia adalah segalanya. Apapun akan aku lakukan demi kebahagiaannya. Jelaslah aku akan menuruti pintanya. Her request is my order.
Seminggu kemudian, aku berkunjung ke rumah ibu. Mila tidak bisa ikut bersamaku karena bundanya ingin mengajaknya berbelanja peralatan masak dan menemui juru masak yang akan membantu Mila mengurusi usahanya yang secara resmi akan dimulai minggu depan. Namun, salam hormat untuk ibu tak lupa ia titipkan padaku.
Di moment ini, aku mencoba menyampaikan kepada ibu tentang kondisi kami.
“Ibu, Pandji sama Mila udah ke dokter untuk priksa. Udah 2 kali priksa ke 3 dokter yang beda. Hasilnya sama. Kita belum bisa punya anak secara normal.”
Hanya kalimat itu saja yang baru bisa aku sampaikan dan kemudian dihentikan oleh ibu.
“Ibu sudah paham. Sudah curiga dengan kondisi istrimu itu.”
“Itu nggak seperti ibu bayangkan,” cobaku menerangkan.
“Harusnya ini urusan Mila sebagai wanita. Kalau tidak mampu, ibu carikan kamu istri yang lain!”
Ibu masih saja berfikir kolot. Dalam urusan seperti in, wanita selalu dijadikan tempat salah. Kesombongan ibu sepertinya membutakan alasan biologis yang sebetulnya terjadi padaku.
Keesokan harinya, tanpa sepengetahuanku, Mila mendatangi ibu. Katanya, dia tidak enak hati atau sungkan karena tidak bisa menemaniku berkunjung. Jadi, ia mencuri waktu untuk berkunjung hari ini. Beruntungnya aku mendapatkan istri sepertinya.
Pada kunjungan ini, Mila dihujani sindiran dan mulai disudutkan oleh ibu dan budhe-budheku. Sampai akhirnya, hatinya tidak bisa menahan itu semua. Dengan sopan, ia bertanya, “Apa Pandji tidak menjelaskan alasannya kepada ibu?”
“Tidak perlu dijelaskan, ibu sudah paham. Kamu bermasalah.”
“Maaf bu. Kalau boleh saya menjelaskan, sebetulnya kondisi Pandji yang tidak memungkinkan untuk kami punya anak secara normal. Tapi kami masih mengusahakan semuanya.”
“Dari dulu, masalah hamil itu masalah wanita. Jangan mencoba melempar kesalahan ke pihak suami! Kualat lho kamu!” tandas ibu dengan penuh percaya diri.
Sepulangnya Mila dari rumah ibu, ibu menghubungiku dan memintaku datang ke rumah. Beliau menceritakan kalau sikap istriku kurang sopan dan menentang adat keluarga kami. Aku masih mendengarkan penjelasan ibu, sampai pada akhirnya…
“Kalau yang bermasalah itu Pandji, memang kenapa bu? Apa tidak mungkin?”
“Maksud kamu, Mila itu….”
“Iya bu. Mila nggak salah. Dia udah menerima semua ini. Dia berhenti dari kerjaanya dan mulai usaha di rumah biar nggak terlalu capek, biar bisa menjalankan program dari dokter.”
Ibu mulai terpukul dengan kondisi ini. Di satu sisi, beliau sedih dan di sisi lain malu. Namun, keangkuhan ibu sepertinya merupakan setting-an default. Susah bagi ibu untuk meminta maaf.
Setelah sampai di rumah, aku melihat istriku sibuk menata perabot usahanya itu. Aku hampiri dia dan kesibukannya pecah seketika. Aku menceritakan aktivitasku hari ini, baik di kantor maupun di rumah ibu. Aku meminta maaf kepadanya. Mila sangat paham. Kemudian, ia memutuskan untuk berkunjung kembali ke rumah ibu 2 hari lagi. Aku akan mendampinginya.
Setelah pertemuan itu, kondisi kami mulai normal.
“Sayank, kita program bayi tabung gimana?”
Aku sudah lama mendengar program bayi tabung dan keberhasilannya. Namun, yang menjadi buah pikirku adalah biaya. Tidak sedikit biaya yang dibutuhkan untuk menjalani program itu. Belum lagi bahwa mungkin ada peluang untuk gagal dan harus memulai lagi setelah kondisi si wanita stabil. Kondisi keuangan kami belum memungkinkan untuk itu semua. Aku pindah ke Jakarta karena proyek pembangunan Mall yang aku tangani ini berada di Jakarta. Bonus sebesar 25% dan segala gaji baru aku peroleh di pertengahan proyek, sisanya setelah proyek ini selesai. Tiap bulannya aku menerima gaji normal yang belum bisa digunakan untuk ini semua. Tidak ada pikiranku tentang kebutuhan kami ini. Andai saja Mila bisa bersabar dengan kerjaanya, mungkin ia bisa mendapatkan bonus untuk menutupi setengah biaya program bayi tabung. Namun, tawaran bisnis catering ini muncul karena bunda Mila sedang kebanjiran job di beberapa hajatan, baik pernikahan maupun acara kantor. Belum lagi dengan kesibukan di toko bakery milik ayahnya yang semakin ramai pesanan. Peluang ini akan diambilnya untuk memperluas marketing usahanya. Aku sangat bangga dengan istriku ini.
Namun, kondisi ini berbeda dengan kondis keluargaku. Ibuku bukan orang yang kekurangan. Beliau merupakan juga punya bisnis perkebunan di Bandung. Namun, kami, anak-anakny, dididik untuk mandiri dalam segala hal. Jarang kami meminta dukungan biaya, kecuali untuk pendidikan hingga S1. Biaya pendidikan itu selalu bisa kami minta karena memang almarhum bapak telah menyiapkan asuransi pendidikan bagi kami. Tapi asuransi itu tidak bisa kami gunakan selain untuk keperluan pendidikan.
“Sayank, kita belum siap biaya buat itu,” jawabku.
“Aku udah bilang bunda. Kata bunda, aku bisa jual tanah warisan nenek, ibunya bunda. Ayah juga mau dukung kita buat sisanya. Ini juga kan buat cucu mereka.”
Sejanak terpukul hatiku. Keluarga Mila sangat peduli dengan kami. Tapi, sifatku ini tidak bisa begitu saja menerima bantuan dari orang lain.
“Aku jadinya nggak enak sama ayah-bunda. Kita usaha dulu ajah yah.. Paling nggak kita setahun dulu ngerencanain, yah?”
“Sayank umur aku udah hampir kelapa tiga. Rentan buat wanita kalau hamil di umur yanng hampir kepala tiga. Ini kita program bayi tabung, lho. Bukan hamil biasa. Anak pertama lagi. Banyak faktor-faktor dan kemungkinan yang mesti dipikirin. Belum lagi kegagalan. Aku pengen sekarang. Biar kita bisa nyiapin kesehatan kita.”
Suasana mulai memanas. Aku jelas tidak bisa membiarkan istriku memikul beban seberat ini.
“Sayank, iyahh aku mau. Tapi fokus dulu sama kerjaan kamu. Sambil kita periksa ini itu yahh?! Kalau catering udah bisa dipegang sama asisten kamu, okey kita coba. Aku gak pengen kamu capek. Lagian, biar stabil dululah kerjaan kamu. Sayang kalau baru mulai, udah ditinggal.”
“Kira-kira 2 bulan lagi yah?” tanyanya sambil mengeryitkan dahi.
“Iya bisa. Terus, soal biaya itu, aku akan balikin ke bunda sambil nyicil yah? Aku kan juga pengen usaha.”
“Terserah kamulah. Nggak dibalikin juga gak apa-apa. Nggak usah kaku trus sungkan lahh, yank! Orang tua itu jangan disungkani! Entar kita malah jauh dari perhatian dan kasih sayang mereka,” jawabnya singkat.
Kata-katanya memang benar. Namun, bertolak belakang dari prinsipku.
Keesokan harinya, aku menerima telefon dari Alex, sahabatkan yang telah sukses di Samarinda. Ia menawariku proyek renovasi jembatan dan Mall di Samarinda. Nilai proyeknya sangat besar. Pikiranku melayang ke rencana program bayi tabung yang kami lakukan. Aku merasa ini peluang emas bagi kami.. Tidak perlu meminjam uang dari orang lain. Bonus dan gaji yang akan aku terima ini bahkan bisa menutup keseluruhan biaya hingga persalinan.
Lalu, aku sampaikan kabar baik ini. Mila sangat mendukungku. Tapi, memang pekerjaan ini beresiko. Di tempat Samarinda sedang ada konflik adat tentang tanah proyek itu. Mungkin, prosesnya bisa memakan waktuyang lebih lama dari yang direncanakan. Kemungkinan itu semoga bisa dilalui.
Masalah demi masalah mulai menemukan titik terang. Kondisi fisik dan mental, coba kami bangun. Pikiran coba kami arahkan ke hal-hal positif dan pola pikir kami lebih santai, tenang dan positif.
Di suatu malam,,,
“Sayank,,, liat aku coba deh!” Mila memanggilku dengan suara manja. Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan lingerie pink yang sangat seksi.
Kebiasaan ini pernah ia lakukan sesekali dan selalu berhasil membuatku tergoda.
“Apanya yang mesti dilihat, sayank?!” aku menurunkan majalah yang sejak sejam lalu menjadi fokus perhatianku. Kemudian, aku langsung mendekatinya.
“Sayank,,” panggilnya.
“Hemm,,,?” jawabku singkat.
Aku kemudian meraih sebuah handuk yang menggantung tepat di sebelah istriku yang malam itu sangat wangi. Kemudian, handuk itu aku lingkarkan ke tubuh mungilnya dan berkataku, “Sayank, kita begini juga nggak akan berhasil. Cuman program bayi tabung yang bisa bikin kita punya anak. Sabar yah sayank!”
Kemuadian, aku menggendongnya ke kasur. Ia melingkarkan kedua tangannya ke pundakku. Hingga sampai di kasurpun, tangannya belum mau ia lepaskan.
“Sayank, anggep ajah ini hadiah dari aku. Habis ini kan kita masuk program. Jujur, aku nggak pengen ini gagal. Jadi aku bakal menjaga banget kehamilanku. Jadi, mungkin selama aku hamil, aku nggak bisa menjalankan tugasku sebagai istri. Tapi, aku nggak maksud bikin kamu kecewa.”
“Nggak sayank.. aku nggak akan kecewa.”
“Sayank, dibikin nyante dan enak ajah! Yahhhh?!” rayunya.
Entah mengapa, malam itu terasa berarti bagiku. Seperti tidak akan mengalami hal seperti lagi.
Keesokan paginya, aku meninggalkannya sendiri di atas ranjang. Di sampingnya, aku tinggalkan sepucuk surat.
“Sayankku, aku pergi ke Kalimantan untuk beberapa bulan. Sayank nggak perlu cari aku. Di sana juga nggak ada sinyal, tapi aman koq. Ini salary-nya gede banget. Cukup buat rencana kita. Kita saling jaga diri yahh.. Aku janji akan kembali dan kita mulai program bayi tabung kita. Ini buat kamu dan calon anak kita.”
Surat itu adalah bentuk komunikasi terakhir kami. Aku yakin kalau keluarganya akan mejaganya. Mila wanita tangguh dan dia akan memahami kondisiku. Aku pun berjanji akan menjaga diriku untuknya.
(bersambung ke Cinta horizontal Mila 3)
0.000000
0.000000