CAFELO SERIES (Episode 1)

Pagi ini, matahari datang dengan tergesa-gesa. Aku merasa sinarnya memaksa masuk-dengan tidak sopan-lewat celah-celah tirai kamarku. Aku selalu tidak ingin malam Minggu cepat berganti dengan kesibukan esok hari. Ya! Cafelo tidak libur di akhir pekan. Justru, akhir pekan adalah our hectic days. Belum hilang ‘pegal Sabtu’ di sekujur tangan dan kakiku dan kini harus siap menerima ‘pegal Minggu’. Sinar matahari membangunkan imajinasiku terlebih dahulu. Dibawanya otakku melayang dan membayangkan deretan kertas yang bergantung di papan order berisi list order makanan yang harus kami sajikan. Kali ini, ia berhasil membuka paksa mataku dan memutar paksa pula leherku ke kiri karena ia masuk dari sisi kanan. “Auuwwhh, silauuu!” rintihku dari tenggorokan yang paling dalam. Pandangan pertama yang aku lihat setelahnya adalah jam weker yang kedua jarumnya kompak mengarah di angka 7. Sekarang aku yang memaksa mataku terbuka maksimal. Aku bangkit dari ranjang-Putri Salju-ku karena aku sadar bahwa aku telat bangun pagi.  Continue reading “CAFELO SERIES (Episode 1)”

Kajian Kebijakan Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup terhadap Permasalahan Pencemaran akibat Kegiatan Pariwisata di Provinsi Bali

Disusun oleh: Cucu Hayati, MICD Batch 3, 11/322781/PMU/07030

Pendahuluan

Eksotika Pulau Dewata Bali memang telah mendunia. Bukan hanya karena pantai-pantainya yang menawan tapi juga atmosfir budaya dan adat yang terbangun kokoh di tiap-tiap langkah hidup masyarakatnya, telah menjadi magnet bagi wisatawan-wisatawan asing. Ada lebih dari 13 pantai di Bali yang dikenal sebagai tujuan wisata, namun yang paling diminati adalah Pantai Kuta, dimana detik-detik terbenamnya matarahi terindah di Bali, terjadi di pantai ini. Oleh karena itu, daerah-daerah di sekitar Pantai Kuta dan pantai-pantai di Bali lainnya menjadi incaran para investor untuk mengembangkan usahanya.

Masyarakat Bali mengimplementasikan sebuah konsep kehidupan yang disebut konsep Tri Hita Karana (tiga jalan menuju kebahagiaan): berhubungan baik dengan Tuhan, alam dan manusia. Sehingga, setiap langkah yang mereka ambil harus menyeimbangkan ketiga unsur tersebut. Bukan hanya itu, pemerintah daerah Bali juga telah mengeluarkan sebuah peraturan daerah (perda) Nomor 4 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Dan Perusakan Lingkungan Hidup. Dengan begitu, harapan pembangunan berkelanjutan dapat terwujud.

Dari prinsip tersebut, harusnya masalah pencemaran dan perusakan lingkungan tidak terjadi. Namun, apa yang terjadi saat ini bertolak belakang dengan hal tersebut. Tumpukan sampah menjadi pemandangan tiap harinya. Warna laut yang alaminya biru, kini berubah menjadi gelap dan keruh. Hal-hal tersebut mengindikasikan terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan pantai.

Pantai Kuta, misalnya, pada awal Maret 2011 juga tercemar bakteri dan warna air laut berubah menjadi coklat. Bakteri itu menyebabkan iritasi pada kulit.Satu bulan kemudian, Pantai Kuta kembali menjadi sorotan ketika sampah menumpuk di pantai tersebut. Hal ini menjadi sorotan internasional ketika ditulis di majalah Time edisi 1 April 2011. Di sini, air laut bergerak sangat dinamis sehingga pencemaran pun dapat cepat menyebar ke pantai lainnya. Hal ini menjadi ancaman serius karena pantai menjadi kekuatan utama pariwisata Bali.

Isu dan masalah

Sebelumnya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali memprediksi, pada tahun 2015 Bali akan mengalami krisis air bersih dan kekeringan. Hal itu disebabkan adanya pencemaran sampah di 13 pantai di Bali yang berasal dari sampah hotel. Terkontaminasinya pantai wisata di Bali diungkapkan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bali yang merilis sebanyak 13 pantai di Bali yang tercemar limbah.

pencemaran di pantai kuta

Pantai yang telah tercemar limbah adalah Pantai Kuta, Pantai Sanur, Pantai Mertasari (Sanur), Pantai Serangan (Denpasar), Pantai Benoa (Denpasar), Pantai Lovina (Buleleng), Pantai Soka (Tabanan), Pantai Tandjung (Kuta), Pantai Candidasa (Karangasem), Pantai Padangbai (Karangasem), Pantai Tulamben (Karangasem), Pantai Pengambengan, dan Pantai Gilimanuk (Jembrana).

Pencemaran ini dapat menyebabkan kulit menjadi gatal ketika berenang di pantai, apabila dibiarkan, pencemaran ini juga menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut. (BLH) menemukan beberapa zat pencemar, seperti zat nitrat, zat dari detergen, minyak, dan timbal. Pencemaran ini tidak tampak jika diamati dengan kasatmata. Berdasarkan pantauan di Pantai Sanur dan Kuta, air laut tampak relatif bersih dan masih banyak wisatawan yang berenang atau melakukan kegiatan air lainnya.

Seperti yang telah diberitakan dalam http://www.today.co.id bahwa pada Rabu (11/5/2011) siang, BLH melakukan pemeriksaan sarana prasarana pengolahan limbah di sejumlah hotel dan tempat usaha yang berada di sekitar kawasan pantai. Persatuan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Bali, meminta pemerintah Provinsi Bali melakukan penyelidikan sebelum melayangkan tuduhan kepada hotel dan restaurant sebagai dalang pencemaran sampah yang telah mencemari 13 pantai yang ada di Bali. Apabila sudah ditemukan, Pemerintah Provinsi Bali akan memberikan peringatan sebanyak tiga kali. Jika masih terbukti mencemari pantai, hotel atau restoran yang bersangkutan dapat terancam ditutup.

Berikut ini Review Kebijakan, Pembahasan dan Lesson Learned oleh penulis ….

Continue reading “Kajian Kebijakan Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup terhadap Permasalahan Pencemaran akibat Kegiatan Pariwisata di Provinsi Bali”

Aplikasi GIS pada Analisis Aksesibilitas Masyarakat Kabupaten Rembang Terhadap Fasilitas Kesehatan, Pendidikan, Perdagangan dan Rekreasi/ Hiburan di era Otonomi Daerah (tahun data 1996 dan 2006)

Berikut ini adalah hasil analisis GIS tentang akses desa-desa di Kab. Rembang terhadap layanan kesehatan, pendidikan, perdagangan dan rekreasi/ hiburan di era otonomi daerah, yakni tahun 1996 dan 2006.

Pembahasan meliputi:

  1. Diskripsi atau pembahasan tentang perbedaan dan persamaan krakteristik akses desa terhadap fasilitas kesehatan, pendidikan, perdagangan dan rekreasi/ hiburan
  2. Menguraikan tendensi-tendensi akses data semua fasilitas-fasilitas tersebut
  3. Membuat interpretasi mengapa terjadi perbedaan dan persamaan karakteristik serta tendensi-tendensi tersebut.

Karena tidak semua bidang layanan terdapat data kemudahan pencapaian layanan (aksesibilitas), baik data Podes 1996 maupun Podes 2006, maka digunakan pedoman lain untuk mengukur kemudahannya.Pedoman yang digunakan adalah

  1. Kepmen Kimpraswil No. 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal (SPM)
  2. Standart Fasilitas PU Cipta Karya

Tabel 1. Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal (SPM)

NO.  BlDANG PELAYANAN INDIKATOR  STANDAR PELAYANAN KUALITAS
KUANTITAS
CAKUPAN TINGKAT PELAYANAN
1 2 3 4 5 6
1 Pendidikan Jumlah anak usia sekolah yang tertampung
  • Satuan wilayah kota Sedang/ Kecil
  • Satuan Wilayah Kota Besar/ Metro
Minimal tersedia :

  • 1 unit TK u/ setiap 1.000 penduduk
  • 1 unit SD u/ setiap 6.000 penduduk
  • 1 unit SLTP u/ setiap 25.000 penduduk
  • 1 unit SLTA u/ setiap 30.000 penduduk
  • Minimal sama dengan kota sedang/keci, juga tersedia 1 unit Perguruan Tinggi untuk setiap 70.000 penduduk
Bersih, mudah dicapai, tidak bising, jauh dari sumber penyakit, sumber bau/sampah, dan pencemaran lainnya
2 Perdagangan Tingkat ketersedian kebutuh-an primer dan sekunder Setiap Kecamatan Minimal tersedia 1 (satu) pasar untuk setiap 30.000 penduduk Mudah diakses

Sumber: Lampiran Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001

Tabel 2. Standar Fasilitas

JENIS FASILITAS SARANA MINIMUMPENDUDUK LUAS LAHAN(M2) KRITERIA STANDARD TINGKAT RENCANA KET
PENDIDIKAN
TK 700 1200 –   Lokasi sebaiknya ditengah-tengah kelompok keluarga. 35 –40 murid/ruang kelas Jumlah dan jenis sekolahLokasi (simbol)Jumlah ruang kelas

Daya tampung

3 kelas
SD 6400 1500 –   Lahan ditengah-tengah keluarga.-   Radius pencapaian dari daerah yang dilayani maksimum 1000 meter. 30 murid/ruang kelas 6 kelas (pagi sore)
SLTP 28000 10000 –   Lokasi digabungkan atau dikelompokkan dengan taman dan lapangan olahraga. 30 murid/ruang kelas 7 kelas (pagi sore)
SLTA/SMU 42000 20000 –   Lokasi digabungkan atau dikelompokkan dengan taman dan lapangan olahraga. 30 murid/ruang kelas 14 kelas (pagi sore)
PERDAGANGAN
Pertokoan 2500 1200 –    Lokasi terletak di pusat lingkungan.
P.P. Lingkungan (Toko dan pasar) 30000 13500 –    Lokasi ada jalan utama lingkungan dan mengelompok dengan pusat lingkungan.
REKREASI/HIBURAN
Bioskop 30000 2000

Sumber: Standar PU Cipta Karya

 Untuk mengukur variabel  tingkat kesejahteraan desa, maka digunakan indikator prosentase rasio keluarga miskin dan jumlah keluarga di Kabupaten Rembang. Data keluarga miskin diperoleh dengan menjumlahkan data keluarga yang termasuk dalam kategori pra sejahtera dan sejahteraI.

Pra Keluarga Sejahtera (KS) adalah keluarga yang belum memenuhi salah satu atau lebih syarat berikut: (1). Bisa makan dua kali sehari atau lebih, (2). Mempunyai pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan, (3). Lantai rumah bukan tanah, dan (4). Bila anaknya sakit dibawa berobat ke sarana/petugas kesehatan.

Keluarga Sejahtera Tahap I (KS I) adalah keluarga yang sudah memenuhi syarat tersebut diatas, meliputi: (1). Bisa makan dua kali sehari atau lebih, (2). Sudah mempunyai pakaian yang berbeda untuk keperluan yang berbeda, (3). Lantai rumah bukan terbuat dari tanah, dan (4). Sudah sadar membawa anaknya yang sakit ke sarana/petugas kesehatan.

Tabel 3. Analisis data kuantil

Tingkat Kesejahteraan Tahun
1996 2000 2006
Kesejahteraan rendah pKKmisk > 87,87% pKKmisk > 66,67%  pKKmisk > 71,43%
Kesejahteraan sedang 43,93% < pKKmisk < 87,87% 33,33% < pKKmisk < 66,67% 42,86% < pKKmisk < 71,43%
Kesejahteraan tinggi pKKmisk < 43,93% pKKmisk < 33,33% pKKmisk < 42,86%

Sumber: Analisis, 2011

Berikut ini adalah variabel dan indikator analisis aksesibilitas terhadap fasilitas yang digunakan:

Tabel 4. Variabel dan Indikator Analisis Aksesibilitas

NO.  BlDANG PELAYANAN VARIABEL AKSESIBILITAS
Variabel Indikator
1 Kesehatan RS Kemudahan sebagian besar penduduk untuk mencapai fasilitas1=sangat mudah

2=mudah

3=sulit

4=sangat sulit

RS pembantu
RS bersalin
Rumah bersalin
Puskesmas
Puskesmas Pembantu
Balai Pengobatan
Tempat prakter dokter
Tempat prakter bidan
Posyandu
Pos bersalin desa
Apotek
Toko obat/ jamu
Pos obat desa
2 Pendidikan Jumlah TK Jarak kesekolah terdekat:Mudah= jarak <1000 meter

Sulit= jarak >1000 meter

Jumlah SD
Jumlah SLTP
Jumlah SLTA
3 Perdagangan Ada atau tidak pasar dengan bangunan permanen/semi permanen Kemudahan sebagian besar penduduk untuk mencapai fasilitas1=sangat mudah

2=mudah

3=sulit

4=sangat sulit

Ada atau tidak Kelompok pertokoan 
4 Rekreasi/ hiburan Ada atau tidak gedung bioskop Jarak terdekat dari kantor desa/kelurahan (km)

Sumber: Analisis, 2011

 

PEMBAHASAN dan DISKUSI (selanjutnya)

 

Dim3nsi

Kebersamaan adalah mimpi setiap manusia.

Kebersamaan adalah aku, kamu, kalian dan kita semua dalam satu dimensi makna sebuah cinta.

Sebagai saudara seutuhnya.

Kebersamaan itu yang selalu ada di antara kami

kumpulan anjing-anjing liar dan kelelawar-kelelawar yang menyeringai.

Kami pun layak disebut bidadari pencemburu sedang sebagian menyebut setan yang menangis dimabuk candu.

 Dan kami menamakan kebesaran diri sebagai penjahat-penjahat waktu yang terjebak dalam dimensi tanpa batas, dimensi seni.

Kami haus akan karya, di samping kenyang akan sanjungan.

Walau kadang jemu selalu lebih kuat dan menang menerobos selaput pertahanan mimpi kala sang dewi enggan tersenyum 

Bukan aku yang berani bertaruh waktu.

Kemarin saja aku telah lari ke tepian laut sambil membawa seluruh mimpi gapai harapan tanpa usaha ini.

Walau ombak membisikkan rangkaian nada mesra kala sore itu.

 Karena bukan aku, kamu, kalian melainkan kita adalah DIMENSI itu sendiri.

Tanya

Jangan Tanya di mana Baghdad kepada aku hanya pernah mendengar kisah 1000 malamnya saja.

Jangan Tanya siapa Juliet kepada diriku yang belum sempat berkenalan dengan Romeo.

Jangan Tanya bagaimana Eiffel ada kepada ku yang belum pernah mengecup bibir perawan di sana.

Dan jangan pernah tanya di kepada ku apa romantis andai tahu ku tak pandai ungkap kata lewat puisi cinta

Loving Twice (Part 1)

Sore yang masih terlalu sangat cerah untuk ditutup dengan jingganya senja. Kae kecil sedang main petak umpet dengan sahabatnya, Wasta kecil. Hari itu adalah Minggu sore, hari terakhir mereka bermain petak umpet, sebelum Wasta kecil pergi.

“Kae, ayo tangkap aku!!!” teriak bocah laki-laki dengan rambut jabrik. Mata sipitnya dari tadi memperhatikan Kae kecil yang celingukan mencari asal teriakan tengil nan menyebalkan itu.

“Uuuuu-uuuuhhhhh…” jawaban yang memberi isyarat penuh sebal dan jengah.

“…uuussttt!!!… uuussttt!!!”

“Awas yahhhh!!! Wasta curang!!! Pasti tempatnya pindah-pindah?!” setengah manja.

Bocah tengil itu mengendap-ngendap dan berlari kecil mendekati gadis kecil dengan bando renda merah muda di kepalanya. Sampai tepat di belakangnya. “Hhaapp!!! Kena!!!”

Kae kecil langsung membalikkan tubuh mungilnya menghadap target tengil yang dari tadi dicarinya. Sepasang tangan melingkari pinggang gadis mungil yang akrab dipanggil Kae itu, sampai-sampai Kae kecil susah nafas. “Iiiihhhhhhh…. Wasta curang!!!”

Yaudah dehh akhirnya mainnya ganti dengan kejar-kejaran. Wasta kecil mempercepat larinya, namun dia tak pernah tahu ke mana kaki kecilnya itu akan membawanya. Ikuti saja iramanya. Sampai mereka berdua merasakan kelelahan dan menjatuhkan diri ke padang ilalang di belakang komplek rumah mereka. Ilalang-ilalang di sana seperti korden rumah eyangnya Kae kecil. Warnanya, tebalnya, motifnya dan juga tingginya. Empuk banget kalo tidur-tiduran di tumpukan ilalang yang ada bekas belahan tapak kaki mereka.

“Uuuhhhhhh…”

“Aaaahhhhh…”

“…”

“…”

Mereka memejamkan mata. Hanya suara angin yang terdengar silir di telinga mereka. Masing-masing dari mereka sibuk mengatur nafas.

“Wasta curang! Kalau main selalu curang!”

“Usssttttt!!!”

“…” Kae kecil heran dan terdiam. Kae kecil menoleh pada sahabatnya itu dan memandang wajahnya dari arah samping. Kae kecil baru menyadari kalau hidung sahabatnya itu mancung dan di dahi kanannya masih terlihat ada bekas jahitan. Kae kecil ingat, jahitan itu adalah “Stempel Hutang”. Saat Wasta kecil mengajari Kae kecil naik sepeda. Kae kecil paling susah nge-rem sepeda yang hanya bisa ia gowes dengan kecepatan tinggi. Wasta yang saat itu duduk di boncengan langsung melakukan salto dadakan dan dahinya menghantam pagar rumah tetangga yang lumayan runcing. Ada sekitar 8 jahitan kecil-kecil yang membekas di sana. Wasta kecil menyebutnya “Stempel Hutang”, dan jika sampai waktunya nanti, akan Wasta tagih ke Kae dan harus Kae membayarnya.

“Dengerin dehh! Angin… ilalang… dan nafas kita… Angin di sini memang berisik, tapi sebetulnya dia lagi yanyi, tauk. Katanya mereka seneng banget karena kita berdua mau main ke sini lagi….”

“…”

“Wasta sering curhat ke mereka, kalau aku pingin cepet dewasa…” belum selesai dia dengan kalimatnya, tiba-tiba Kae kecil bertanya, “Kenapa Wasta pingin cepet gede?”

“Wasta pingin nikahin Kae. Makanya pingin cepet gede. Kan cuman orang gede aja yang boleh nikah.”

Matanya yang sipit kini mulai membuka perlahan, memandang Kae kecil yang pipinya memerah tersipu malu.

“Gombal!!! Kayak bapak ke ibu aja!!!” lalu menghempaskan lagi tubuhnya ke kasur ilalang, menahan malu.

“Yyeeeee….. malu ya Kae?!” ledek Wasta tengil sambil lari meninggalkan Kae kecil yang paling takut akan kesendirian  karena Kae kecil paling bingung kalau ditanya soal arah mata angin.

***

Kalau mengingat masa kecil emang paling menyenangkan. Dunia anak kecil adalah dunia bermain. Apalagi punya teman bermain yang menyenangkan dan selalu memberikan kejutan sehingga terus membuat kita tersenyum dan tertawa. Sangat menyenangkan dan tanpa beban. Tawa anak-anak adalah tawa yang tulus dan lepas.

Bicara soal sahabatku itu emang nggak ada habisnya. Sejak Wasta pindah ke New York, aku serasa kehilangan mood buat nyari sahabat laki-laki lagi. Menutup diri untuk laki-laki yang akan mengambil celah untuk memasuki hatiku. Itulah caraku untuk menjaga hatiku buat Wasta.

Aku yakin, suatu saat nanti, Wasta akan balik ke sini untuk memenuhi janjinya. Lebih dari itu, aku menaruh harapan besar. Bagaimana tidak? Diusiaku yang orang-orang bilang “kritis tahap awal”, aku cuman bisa jawab “belum siap nikah”. Padahal, hatiku hanya kupersiapkan tak lain dan tak bukan untuk Wasta Mahendra Dinata.

Menurutku pribadi, usia 25 tahun masih belum apa-apa bagiku yang penuh visi dan tujuan dalam karir. Masih ada banyak hal yang mesti aku kejar untuk mencapai kata “mapan”. Aku ini anak tunggal. Sehingga, dipikiranku tertanam prinsip “kalau bukan aku yang memberikan kebanggaan ke orang tuaku, lantas siapa lagi?” Meskipun, kedua orang tuaku tidak pernah menuntut banyak, selain “Ibu dan bapak udah pengen ngegendong cucu, Kae. Gak bisa yah cita-citamu dipending dlu?!” Bagiku, sekali kita membiarkan kesempatan emas lepas begitu ajah, selanjutnya kita gak akan pernah sensitif dengan keberadaan kesempatan-kesempatan lainnya yang datang tanpa sapaan. Siapa bilang kalau kesempatan tidak datang untuk kedua kali? Aku adalah pribadi yang menanut kepercayaan, “kesempatan selalu ada setiap saat, tapi kalau kesempatan datangnya sekarang kenapa harus disia-siakan?!”

Bersambung ke Part 2….

Bertemu adalah kesempatan mencintai.

Seseorang bisa saja berubah, karena sebuah hal baru atau peristiwa yang terjadi sangat tiba-tiba, datangnya cepat dan terasa beda. Terkadang, berubah adalah pilihan yang “terpaksa” harus diambil. Hidup bukan pilihan, namun dalam hidup kita harus memilih.

Inilah jalan kedewasaan. Tua itu pasti, tapi dewasa adalah pilihan.

Cinta Horizontal Mila (3) End

Aku merasa seperti habis main Hysteria di Dufan. Badanku seperti tidak menyentuh bumi. Antara tubuh dan pikiran seperti tidak mau menyatu. Aku mencoba mencari tahu tetang pekerjaan yang sekarang suamiku tangani. Aku cek semua surat masuk, ruang kerjanya, laptop dan email. Ternyata Pandji sudah merubah password emailnya. Laptopnya pun pergi dibawanya. Aku mendatangi rumah ibu. Ibu malah menyalahkan aku. Beliau menuduhku sebagai sumber masalah ini.

“Coba kalau kamu nggak maksa dia buat bayi tabung, pasti hal ini nggak akan terjadi!” begitu sentaknya.

Seluruh keluarga Pandji bersuara sama. Mereka ikut-ikutan menyalahkan aku.

Walaupun aku percaya dengan isi surat suamiku, tapi kenapa sampai harus seperti ini jalan ceritanya. Dia memutuskan pergi secara sepihak. Aneh saja menurutku karena selama ini, kami selalu memutuskan apapun bersama-sama.

Seminggu pertama, aku hampir stress dengan kondisiku. Seolah, aku sendirian di dunia ini. Bunda dan Yanda menawariku untuk tinggal kembali di rumah, tapi aku menolak. Aku hanya ingin, ketika Pandji kembali ke rumah, akulah orang pertama yang membukakan pintu untuknya, kapanpu masa itu akan datang.

Seminggu kemudian, aku sudah mulai membiasakan diri dengan kondisi ini. Segala hal aku tangani sendiri, mulai dari pekerjaan rumah hingga usaha catering yang baru saja aku mulai.

Pagi ini tepat sebulan kepergian suami tercintaku. Tiba-tiba saja badanku terasa lelah dan berat. Harusnya, hari ini aku bertemu dengan klien yang mengamanahiku tugas di acara pernikahannya 3 bulan lagi. Aku menerimanya dan mereka ingin berdiskusi denganku 2 jam lagi. Tapi, saat aku bangun dari ranjang, tiba-tiba saja kepalaku pusing dan perutku mati rasa. Sesaat kemudian, aku memuntahkan sebuah cairan yang berasa asam ke lantai. Rasa mual itu tidak tertahankan.

Dua jam kemudian, bunda dan Faza adik lelakiku datang menjenguk. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisiku. Sebenarnya, aku tidak ingin menceritakan kondisiku ini. Menurutku, ini hanya efek kecapekan yang sudah aku tidak perdulikan lagi. Aku hanya ingin meminta tolong pada mereka untuk menghandle kerjaanku. Aku merasa ada yang tidak beres dengan kesehatanku. Tapi, aku juga tidak ingin menjadikan ini sebagai perhalangku. Jadi, aku meminta tolong mereka untuk meeting dengan klien baruku itu.

Faza segera tancap gas menuju sebuah cafe di tengah kota untuk meeting dengan klier baruku itu. Sedangkan bunda menemaniku ke dokter. Di saat-saat seperti ini, hanya dekapan bunda yang aku butuhkan.

Sesampainya di RS, Krisna yang baru saja turun dari mobil menyapaku dari kejauhan.

“Hey, Mil! Siapa yang sakit?” wajah peranakan China-nya yang ramah menyapaku.

Bunda dan aku saling berpandangan. Krisna mendapati arti pandangan itu. Dia menawariku untuk menjadi pasien pertamanya pagi itu. Aku tidak menolak maksud baiknya. Setelah lama ia memeriksaku, kemudian ia berkata.

“Kalau ini sih aku yakinnya setelah kamu USG. Kalau pake cara China, aku merasa ada 2 denyut nadi. Kamu jadi ikut program bayi tabung?”

Mataku terbelalak, begitu juga dengan Bunda.

“Kamu sudah ngelakuin tes pake test pack?” lanjutnya.

Aku menceritakan kejadian sebulan ini. Krisna jelas terkejut.

“Mila, ini keajaiban! Terima kasih sama Tuhan. Kamu hamil, Mil. Hasil test pack barusan juga sama dengan diagnosaku. Kalau kamu kurang yakin, kita bisa USG.”

Aku segera meng-iya-kan saran Krisna, begitu juga dengan Bunda. Entah aku harus senang atau sedih. Sebuah keajaiban terjadi padaku. Aku merasa sebagai makhluk yang spesial hari ini. Begitu besar rasa sayang Tuhan kepadaku. Kedua hasil test itu menyatakan aku positif hamil.

Sujud syukurku aku persembahkan padaMu Ya Rabb, terima kasih atas berkah yang tak pernah tuntas Engkau berikan kepadaku. Izinkan hamba menjaga amanah ini.

Hal pertama yang aku lakukan adalah mengirim email kepada Pandji. Semoga Pandji membaca dan segera kembali secepatnya. Kemudian, aku bergegas pergi menemui ibu mertuaku. Tapi bukan ekspresi seperti ini yang aku harapkan dari ibu mertuaku. Beliau tidak mempercayai omonganku. Beliau malah menghujaniku dengan fitnah dan tuduhan bahwa aku berbohong dan bahkan telah menyuntikkan sperma pria lain agar cepat hamil. Begitu sadis pemikiran beliau. Aku bersumpah bahwa aku akan membuktikan bahwa ini mukjizat Tuhan. Akan aku rawat kehamilanku dengan sangat hati-hati, hingga akhirnya akan kubuktikan dengan tes DNA.

Setelah kejadian itu, aku mengurangi porsi kegiatanku di luar. Pekerjaan lapangan aku serahkan sepenuhnya kepada Faza. Dia lelaki yang bertanggung jawab, meski masih kuliah semester 7. Namun, doa-doaku agar ayah anakku ini untuk kembali kepelukan kami tidak pernah terhenti.

Suatu pagi di bulan kedelapan kehamilanku, Krisna datang mengunjungiku. Dia datang dengan membawa sepucuk undangan. Ternyata di luar sepengetahuanku, Krisna telah menjalin hubungan yang serius dengan Karina, teman SMA-nya. Mereka telah bertunangan seminggu lalu. Rencananya pernikahan adat China itu akan dilakukan seminggu kemudian. Bahagia rasanya menerima kebahagiaan mereka yang sudi mereka bagi denganku. Tapi karena hamil tua, aku rasa ini akan sulit. Namun, semangatku coba aku bangun. Krisna menyampaikan salam tunangannya yang berdarah Manado itu. Karina adalah seorang designer muda dan khusus untukku, dia telah men-design sebuah gaun yang indah. Susah rasanya menolak permohonan mereka.

Keesokan paginya, Krisna menjemputku di rumahku. Karina telah menungguku di butiknya untuk fitting gaunku. Karena aku susah sekali berjalan, maka Krisna menolongku dengan menggandeng lenganku dengan penuh hati-hati sampai aku masuk mobil. Entah mengapa, aku merasa sedang diawasi saat itu. Aku menoleh ke ujung gang, aku melihat bayangan orang baru saja masuk ke mobil dan buru-buru tancap gas. Sepertinya orang yang aku kenal. Suara ajakan Krisna segera memecah lamunanku.

Sekitar 20 menit, kami telah tiba di lokasi. Di depan butik, suasananya sepi karena ini belum masuk jam buka. Ini pertama kalinya aku berjumpa dengan Karina. Dilihat dari fisik dan pembawaannya, jelas dia adalah wanita yang benar-benar tipenya Krisna. Karina itu tinggi, cantik, kata-katanya begitu smart dan mudah bergahul dengan orang baru, seperti aku.

Fitting gaun tidak memerlukan waktu lama. Karina segera harus melayani klien lain, karena ia berencana cuti dan meliburkan pegawainya keesokan hari. Krisna kembali memapahku dengan sabar ke mobilnya dan kami berencana segera kembali ke rumahku.

Saat melangkahkan kaki keluar butik, aku dengan jelas melihat sosok lelaki yang selama ini aku nantikan. Ialah Pandji, suamiku. Aku segera meneriakkan namanya. Tapi secepat itu dia jalan menuju sebuah mobil yang menjandi sandarannya. Aku lari mengejarnya. Krisna berusaha menahanku. Tapi, aku terus saja berlari menuju mobil yang ternyata sama dengan yang aku lihat di daerah rumahku tadi.

Sebelum masuk ke mobil, sosok lelaki yang mirip dengan suamiku itu membuang sepuntung rokok pendek. Hal itu sangat aneh bagiku, tiba-tiba aku menghentikan langkahku karena aku mulai ragu apakah itu suamiku. Pandji bukanlah seorang perokok. Kondisi itu membuatku tidak sadar bahwa aku sedang berada di tengah-tengah jalan raya. Sebuah mobil yang sangat kencang berjalan lurus ke arahku. Aku berusaha menghindah dengan lari ke tepi jalan, dimana Krisna berdiri. Untungnya, mobil mewah itu berhenti   dengan mengeluarkan suara gesekan ban dengan aspal yang sangat kencang. Aku yakin aku bukan korban tabrakan. Namun, kakiku yang sangat ringkih ini tidak kuat menopang badanku yang telah membesar, hingga akhirnya aku tersamdung dan jatuh. Buru-buru, Krisna menarik tanganku dan aku jatuh di pelukannya.

Suara gesekan ban dan aspal itu mengagetkan semua orang di sekitar kami, hingga ke dalam butik Karina. Mereka yang mendengar segera mendatangiku. Aku tidak memikirkan mereka semua. Perhatianku tertuju pada kaki dan pahaku yang tanpa aku sadari telah berlumuran darah.

Bayiku kemungkinan besar terlahir prematur.

***

Semenjak kejadian itu, rasa bersalah selalu menyelimuti fikiranku. Kelahiran Alif, buah cintaku dengan Mila, memberi arti atas hidup ini. Namun, kematian Mila sangat memukul naluriku.

Fikiranku saat itu sangat kalut. Cemburu telah membakar logikaku. Hari pertama aku melihat istri yang aku cintai adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Saat itu, aku berfikir bahwa Mila telah menodai komitment kami. Aku berasumsi bahwa Mila menikah dengan Krisna, dan bayi yang sedang dikadungnya itu adalah bayi mereka. Pemikiran seperti itu terhapus dengan melihat Krisna berciuman dengan Karina di RS sesaat setelah Alif lahir, yang ternyata aku dapati adalah calon istrinya.

Sebuah bogem mentah ia layangkan ke hidungku. Itu ia lakukan setelah mendengar bahwa nyawa Mila tidak bisa diselamatkan. Alif terlahir prematur dan Mila kehilangan banyak darah. Kondisinya berangsur menurun dengan ditandai tekanan darah yang menurun cepat hingga tidak terdeteksi lagi denyut jantungnya.

Hal terindah yang aku dapati dalam hidupku, ternyata harus aku bayar malah dengan penyesalan seumur hidup. Aku tidak mengira mukjizat itu nyata.

Aku membuka laptop istriku yang selalu ia letakkan di samping ranjang. Aku membuka recent document. Di situ berderet foto-foto yang sepertinya ia abadikan sendiri, lengkap beserta video dokumentasi-nya. Ternyata ia menyiapkan semua ini untuk menyambut kedatanganku. Ketidakhadiranku bukan berarti aku melewatkan saat-saat indah proses kehamilannya. Itu cita-cita sederhananya.

Maafkan aku sayank. Mila, kau adalah hal terindah bagiku. Harusnya aku menyusulmu untuk memohon ampunanmu. Tapi, Alif membutuhkanku sayank, untuk menceritakan betapa hebatnya ibunya.

Peluk ciumku untukmu di surga.

Cinta horizontal Mila (2)

Selama pernikahan kami, mungkin ini adalah saat tersulit. Kenyataan bahwa aku bermasalah menjadi dilema dalam diriku.Siapa sih manusia di bumi ini yang tidak ingin memiliki anak? Hal tersulit dari itu semua adalah bagaimana kami harus menjelaskan kondisi kami ini kepada keluarga besar kami, tepatnya keluargaku, ibu. Ibuku selalu memberikan perhatian ekstra kepada istriku agar cepet hamil. Bentuk perhatian itu bermacam-macam, mulai dari jamu, makanan, obat sampai terapi sejenis refleksi dan akupuntur yang sudah mulai Mila tinggalkan karena kesibukannya atau karena tertekan dengan kondisi ini. Istriku, Mila, adalah wanita modern yang berfikir dengan perasaan yang berlandaskan pada logika. Mungkin, jika dokter yang menyarankan, akan beda jadinya. Ibuku menolak untuk memeriksakan kami ke dokter, dan menyarankan kepadaku untuk tidak usah ke dokter. Beliau sangat yakin bahwa aku sehat dan untuk masalah hamil itu adalah sepenuhnya urusan istri. Ibu sangat yakin bahwa aku memiliki bibit unggul. Beliau sedikit memojokkan keluarga Mila karena terlalu membebaskan anak dalam gaya hidup. Padahal, kalau aku mengamati, Mila dan keluarga paham masing-masing sifa mereka. Mila adalah wanita cerdas yang tahu apa yang harus ia lakukan. Pilihan untuk belum periksa kemarin itu karena ia melihat kami berduamasih sangat sibuk dan masih enjoy dalam menjalani hubungan pernikahan tanpa anak. Keputusan untuk check up kesehatan kemarin adalah klimaks dari ini semua. Aku ini anak laki-laki satu-satunya. Adik-adikku, Sasti dan Laras masing-masing telah menggendong baby mereka yang lucu-lucu. Jadi, wajar apabila orang tuaku menanti-nanti momongan dari kami.

Kembali ke masalah kesehatan kami. Setelah kembali dari dokter itu, kami mulai berfikir. Di fikiranku, aku jelas merasakan dilema. Satu sisi aku bersalah karena menyebabkan masalah ini, tapi disis lain aku belum mampu menyampaikan kondisiku ini kepada ibu dan keluargaku. Untuk Mila, apabila hal ini ia ceritakan kepada ibunya, itu pasti. Mereka sangat dekat seperti layaknya sahabat, dan ini akan menjadi rahasia bagi mereka. Namun, aku percaya.

Malam itu…

“Sayank, kamu adalah hal terindah dalam hidupku. Ayo kita jalani ini semua bareng-bareng. Aku yakin, kita bisa. Kita program lagi ajah. Aku akan keluar dari kerjaanku kalau kamu mau. Buat ngisi kegiatan, aku bakal di rumah dan mulai usaha catering kayak bundaku.”

Aku hanya bisa mendekap erat istri yang sangat aku cintai ini. Dia adalah segalanya. Apapun akan aku lakukan demi kebahagiaannya. Jelaslah aku akan menuruti pintanya. Her request is my order.

Seminggu kemudian, aku berkunjung ke rumah ibu. Mila tidak bisa ikut bersamaku karena bundanya ingin mengajaknya berbelanja peralatan masak dan menemui juru masak yang akan membantu Mila mengurusi usahanya yang secara resmi akan dimulai minggu depan. Namun, salam hormat untuk ibu tak lupa ia titipkan padaku.

Di moment ini, aku mencoba menyampaikan kepada ibu tentang kondisi kami.

“Ibu, Pandji sama Mila udah ke dokter untuk priksa. Udah 2 kali priksa ke 3 dokter yang beda. Hasilnya sama. Kita belum bisa punya anak secara normal.”

Hanya kalimat itu saja yang baru bisa aku sampaikan dan kemudian dihentikan oleh ibu.

“Ibu sudah paham. Sudah curiga dengan kondisi istrimu itu.”
“Itu nggak seperti ibu bayangkan,” cobaku menerangkan.
“Harusnya ini urusan Mila sebagai wanita. Kalau tidak mampu, ibu carikan kamu istri yang lain!”

Ibu masih saja berfikir kolot. Dalam urusan seperti in, wanita selalu dijadikan tempat salah. Kesombongan ibu sepertinya membutakan alasan biologis yang sebetulnya terjadi padaku.

Keesokan harinya, tanpa sepengetahuanku, Mila mendatangi ibu. Katanya, dia tidak enak hati atau sungkan karena tidak bisa menemaniku berkunjung. Jadi, ia mencuri waktu untuk berkunjung hari ini. Beruntungnya aku mendapatkan istri sepertinya.

Pada kunjungan ini, Mila dihujani sindiran dan mulai disudutkan oleh ibu dan budhe-budheku. Sampai akhirnya, hatinya tidak bisa menahan itu semua. Dengan sopan, ia bertanya, “Apa Pandji tidak menjelaskan alasannya kepada ibu?”
“Tidak perlu dijelaskan, ibu sudah paham. Kamu bermasalah.”
“Maaf bu. Kalau boleh saya menjelaskan, sebetulnya kondisi Pandji yang tidak memungkinkan untuk kami punya anak secara normal. Tapi kami masih mengusahakan semuanya.”
“Dari dulu, masalah hamil itu masalah wanita. Jangan mencoba melempar kesalahan ke pihak suami! Kualat lho kamu!” tandas ibu dengan penuh percaya diri.

Sepulangnya Mila dari rumah ibu, ibu menghubungiku dan memintaku datang ke rumah. Beliau menceritakan kalau sikap istriku kurang sopan dan menentang adat keluarga kami. Aku masih mendengarkan penjelasan ibu, sampai pada akhirnya…

“Kalau yang bermasalah itu Pandji, memang kenapa bu? Apa tidak mungkin?”
“Maksud kamu, Mila itu….”
“Iya bu. Mila nggak salah. Dia udah menerima semua ini. Dia berhenti dari kerjaanya dan mulai usaha di rumah biar nggak terlalu capek, biar bisa menjalankan program dari dokter.”

Ibu mulai terpukul dengan kondisi ini. Di satu sisi, beliau sedih dan di sisi lain malu. Namun, keangkuhan ibu sepertinya merupakan setting-an default. Susah bagi ibu untuk meminta maaf.

Setelah sampai di rumah, aku melihat istriku sibuk menata perabot usahanya itu. Aku hampiri dia dan kesibukannya pecah seketika. Aku menceritakan aktivitasku hari ini, baik di kantor maupun di rumah ibu. Aku meminta maaf kepadanya. Mila sangat paham. Kemudian, ia memutuskan untuk berkunjung kembali ke rumah ibu 2 hari lagi. Aku akan mendampinginya.

Setelah pertemuan itu, kondisi kami mulai normal.

“Sayank, kita program bayi tabung gimana?”

Aku sudah lama mendengar program bayi tabung dan keberhasilannya. Namun, yang menjadi buah pikirku adalah biaya. Tidak sedikit biaya yang dibutuhkan untuk menjalani program itu. Belum lagi bahwa mungkin ada peluang untuk gagal dan harus memulai lagi setelah kondisi si wanita stabil. Kondisi keuangan kami belum memungkinkan untuk itu semua. Aku pindah ke Jakarta karena proyek pembangunan Mall yang aku tangani ini berada di Jakarta. Bonus sebesar 25% dan segala gaji baru aku peroleh di pertengahan proyek, sisanya setelah proyek ini selesai. Tiap bulannya aku menerima gaji normal yang belum bisa digunakan untuk ini semua. Tidak ada pikiranku tentang kebutuhan kami ini. Andai saja Mila bisa bersabar dengan kerjaanya, mungkin ia bisa mendapatkan bonus untuk menutupi setengah biaya program bayi tabung. Namun, tawaran bisnis catering ini muncul karena bunda Mila sedang kebanjiran job di beberapa hajatan, baik pernikahan maupun acara kantor. Belum lagi dengan kesibukan di toko bakery milik ayahnya yang semakin ramai pesanan. Peluang ini akan diambilnya untuk memperluas marketing usahanya. Aku sangat bangga dengan istriku ini.
Namun, kondisi ini berbeda dengan kondis keluargaku. Ibuku bukan orang yang kekurangan. Beliau merupakan juga punya bisnis perkebunan di Bandung. Namun, kami, anak-anakny, dididik untuk mandiri dalam segala hal. Jarang kami meminta dukungan biaya, kecuali untuk pendidikan hingga S1. Biaya pendidikan itu selalu bisa kami minta karena memang almarhum bapak telah menyiapkan asuransi pendidikan bagi kami. Tapi asuransi itu tidak bisa kami gunakan selain untuk keperluan pendidikan.

“Sayank, kita belum siap biaya buat itu,” jawabku.
“Aku udah bilang bunda. Kata bunda, aku bisa jual tanah warisan nenek, ibunya bunda. Ayah juga mau dukung kita buat sisanya. Ini juga kan buat cucu mereka.”

Sejanak terpukul hatiku. Keluarga Mila sangat peduli dengan kami. Tapi, sifatku ini tidak bisa begitu saja menerima bantuan dari orang lain.

“Aku jadinya nggak enak sama ayah-bunda. Kita usaha dulu ajah yah.. Paling nggak kita setahun dulu ngerencanain, yah?”
“Sayank umur aku udah hampir kelapa tiga. Rentan buat wanita kalau hamil di umur yanng hampir kepala tiga. Ini kita program bayi tabung, lho. Bukan hamil biasa. Anak pertama lagi. Banyak faktor-faktor dan kemungkinan yang mesti dipikirin. Belum lagi kegagalan. Aku pengen sekarang. Biar kita bisa nyiapin kesehatan kita.”

Suasana mulai memanas. Aku jelas tidak bisa membiarkan istriku memikul beban seberat ini.

“Sayank, iyahh aku mau. Tapi fokus dulu sama kerjaan kamu. Sambil kita periksa ini itu yahh?! Kalau catering udah bisa dipegang sama asisten kamu, okey kita coba. Aku gak pengen kamu capek. Lagian, biar stabil dululah kerjaan kamu. Sayang kalau baru mulai, udah ditinggal.”
“Kira-kira 2 bulan lagi yah?” tanyanya sambil mengeryitkan dahi.
“Iya bisa. Terus, soal biaya itu, aku akan balikin ke bunda sambil nyicil yah? Aku kan juga pengen usaha.”
“Terserah kamulah. Nggak dibalikin juga gak apa-apa. Nggak usah kaku trus sungkan lahh, yank! Orang tua itu jangan disungkani! Entar kita malah jauh dari perhatian dan kasih sayang mereka,” jawabnya singkat.

Kata-katanya memang benar. Namun, bertolak belakang dari prinsipku.

Keesokan harinya, aku menerima telefon dari Alex, sahabatkan yang telah sukses di Samarinda. Ia menawariku proyek renovasi jembatan dan Mall di Samarinda. Nilai proyeknya sangat besar. Pikiranku melayang ke rencana program bayi tabung yang kami lakukan. Aku merasa ini peluang emas bagi kami.. Tidak perlu meminjam uang dari orang lain. Bonus dan gaji yang akan aku terima ini bahkan bisa menutup keseluruhan biaya hingga persalinan.

Lalu, aku sampaikan kabar baik ini. Mila sangat mendukungku. Tapi, memang pekerjaan ini beresiko. Di tempat Samarinda sedang ada konflik adat tentang tanah proyek itu. Mungkin, prosesnya bisa memakan waktuyang lebih lama dari yang direncanakan. Kemungkinan itu semoga bisa dilalui.

Masalah demi masalah mulai menemukan titik terang. Kondisi fisik dan mental, coba kami bangun. Pikiran coba kami arahkan ke hal-hal positif dan pola pikir kami lebih santai, tenang dan positif.

Di suatu malam,,,

“Sayank,,, liat aku coba deh!” Mila memanggilku dengan suara manja. Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan lingerie pink yang sangat seksi.

Kebiasaan ini pernah ia lakukan sesekali dan selalu berhasil membuatku tergoda.

“Apanya yang mesti dilihat, sayank?!” aku menurunkan majalah yang sejak sejam lalu menjadi fokus perhatianku. Kemudian, aku langsung mendekatinya.
“Sayank,,” panggilnya.
“Hemm,,,?” jawabku singkat.
Aku kemudian meraih sebuah handuk yang menggantung tepat di sebelah istriku yang malam itu sangat wangi. Kemudian, handuk itu aku lingkarkan ke tubuh mungilnya dan berkataku, “Sayank, kita begini juga nggak akan berhasil. Cuman program bayi tabung yang bisa bikin kita punya anak. Sabar yah sayank!”

Kemuadian, aku menggendongnya ke kasur. Ia melingkarkan kedua tangannya ke pundakku. Hingga sampai di kasurpun, tangannya belum mau ia lepaskan.

“Sayank, anggep ajah ini hadiah dari aku. Habis ini kan kita masuk program. Jujur, aku nggak pengen ini gagal. Jadi aku bakal menjaga banget kehamilanku. Jadi, mungkin selama aku hamil, aku nggak bisa menjalankan tugasku sebagai istri. Tapi, aku nggak maksud bikin kamu kecewa.”
“Nggak sayank.. aku nggak akan kecewa.”
“Sayank, dibikin nyante dan enak ajah! Yahhhh?!” rayunya.

Entah mengapa, malam itu terasa berarti bagiku. Seperti tidak akan mengalami hal seperti lagi.

Keesokan paginya, aku meninggalkannya sendiri di atas ranjang. Di sampingnya, aku tinggalkan sepucuk surat.

“Sayankku, aku pergi ke Kalimantan untuk beberapa bulan. Sayank nggak perlu cari aku. Di sana juga nggak ada sinyal, tapi aman koq. Ini salary-nya gede banget. Cukup buat rencana kita. Kita saling jaga diri yahh.. Aku janji akan kembali dan kita mulai program bayi tabung kita. Ini buat kamu dan calon anak kita.”

Surat itu adalah bentuk komunikasi terakhir kami. Aku yakin kalau keluarganya akan mejaganya. Mila wanita tangguh dan dia akan memahami kondisiku. Aku pun berjanji akan menjaga diriku untuknya.

(bersambung ke Cinta horizontal Mila 3)

Cinta horizontal Mila (1)

Dear bloggers and all viewers,

Bicara tentang cinta, selalu ada ruang untuk cinta. Cinta bisa berpuisi seribu makna. Cinta itu huge. Saking besarnya, Mila merasa cinta itu harus dibagi kepada siapa, dengan apa, kapan dan dimana saja kita berada. Cinta yang hakiki adalah cinta kepada Tuhan, karena Tuhan menciptakannya agar manusia memiliki hubungan horizontal dan vertikal yang seimbang.

Seperti kisah cinta yang horizontal seperti ini. Kisah Mila.

Namaku, Mila. Selama 25 tahun kehidupanku, aku merasa terlahir sebagai gadis yang biasa-biasa saja. Masa remajaku penuh prestasi, keluargaku mendukung semua impian dan cita-cita, serta perjalananku menjadi wanita juga hampir mulus dimulai sejak aku bertemu dengan Pandji.

Orang-orang di luar menilai Pandji dan aku adalah pasangan serasi. Pandji adalah laki-laki disiplin, cerdas dan sukses, disamping ketampanannya. Aku bersyukur sebagai wanita modern, Pandji mendukung karir dan usahaku. Kami berdua seumuran.

Di antara kecocokan fana tersebut, kami memiliki karakter yang beda. Latar belakang keluarga yang membentuk perbedaan itu. Keluarga Pandji menganut kultur Jawa-Solo yang menjunjung tinggi adat istiadat. Keluargaku adalah keluarga campuran Jawa-Sunda-Palembang-Bali, panjang jika dirunut. Intinya, cara pandang kami sangat universal dan demokratis dalam menjalani hidup. Keluargaku menghormati adat dan tradisi orang lain, karena kami campuran. Namun, segala permasalahan hidup, kami kembalikan kepada hukum Islam.

Setelah aku menyelesaikan S2 di Ausie dan Pandji rolling kerjaan ke Jakarta, kamipun merealisasikan rencana pernikahan kami. Dan di sinilah, aku menyadari bahwa aku adalah wanita yang disayangi Tuhan dengan luar biasa.

Semua indah dan membuat kami nyaman. Sampai pada tahun kedua pernikahan, kami baru menyadari sesuatu yang kurang di antara kami. Kami belum dikaruniai anak.

“Assalamualaikum,” sapa orang di seberang.

“Waalaikumsalam. Ibu, apa kabar? Ramai sekali pasti yah bu di rumah?” jawabku.

“Iyah ini, nduk. Budhe-budhe pada ngumpul. Lagi pamer cucu. Ibu juga pengen mamerin cucu nih.”

“…” sejenak aku terdiam.

“Ehh gimana, jamu dari ibu sudah kamu minum, nduk? Pandji juga sudah minum, kan? Tokcer nggak?”

Pandji melihat perubahan pada wajahku. Dia jalan mendekatiku dan meraih hp merahku ini pelan-pelan.

“Yank, coklat anget enak nih! Yahh sayank yahhh?!” pintanya sedikit manja.

Kemudian obrolan mereka lanjutkan berdua.

Malam harinya, seperti biasa Pandji mendekapku ke dalam pelukan badannya yang kokoh dan lebar. Bibirnya menempel seperti tidak mau lepas dari leher dan daguku. Aku merasa dia sangat menyayangiku. Kemudian, aku membalikkan badan menghadapnya. Pandangan pertamaku jatuh pada dadanya yang bidang. Perlahan, aku menyelipkan telapak tanganku ke dalam kaosnya yang malam itu berwarna putih dan begitu tipis. Pelan-pelan, ia membuka mata dan mata kami bertemu.

“Yayank, koq belum tidur?” tanyanya sambil menarik pinggulku mendekatinya.

“Ini saat terlemahmu. Aku mau mengibarkan bendera perang!” jawabku.

“…” mata suamiku langsung membelalak. “Panglima perang selalu punya strategi khusus, sayank”

“..” aku balas dengan kedipan mata genit.

Malam itu, aku berusaha membahagiakannya. Seperti itu saat terakhirku.

Pagi harinya, aku mendapat bbm dari sahabatku, Krisna. Ia sahabatku dari sejak SMA dan kami bertemu lagi di Ausie saat dia mengambil spesialis.

Mil, aku sudah seminggu di Jakarta. Kapan nih hang out bareng?

Hari itu, aku merasakan dua kebahagiaan. Bahagia bertemu dengan teman lama dan bahagia karena ada orang yang bisa aku ajak konsultasi tentang kehamilan. Krisna adalah dokter spesialis kandungan. Tentunya, aku harus mendapat ijin dari suamiku dulu sebelum periksa kandungan ke dokter manapun, termasuk Krisna.

“Yank, aku pingin periksa kandungan aku ke dokter.”

Suamiku terdiam sejenak. Tapi, hal ini bukannya berarti dia kaget karena baru menyadari kondisi kami, tapi karena kaget bahwa inisiatif itu berasal dariku. Aku mengenal suamiku sebagai sosok yang sabar dan sangat menjaga perasaan orang lain.

“Aku juga pingin. Berdua yuk, yank?!”

Aku sangat surprise dengan responnya. Lalu aku menawarkan untuk check up ke Krisna. Pertama, Pandji menolak untuk periksa ke Krisna. Ia terlihat begitu cemburu saat kusebut nama dokter  tampan itu. Yah, dr.Krisna memang tampan dan nyaris sempurna. Tapi, hubunganku dan Krisna hanya sebatas sahabat. Kami paham norma-norma pertemanan. Bahkan, saat aku menikah dengan Pandji, perlahan Krisna juga mengatur dan menjaga cara pergahul denganku. Dia tidak pernah curhat ataupun mendekatiku secara personal. Itu dia lakukan karena dia juga tidak ingin pasangannya kelak berkelakukan yang sama.

Akhirnya, Krisna memberiku solusi dengan merekomendaikan dr. Emma dan dr. Erik, disamping Krisna juga mengawasi progress hasil pemeriksaannya nanti.

Deal. Lalu, keesokan harinya, Pandji dan aku mengambil cuti untuk melakukan check up. Pemeriksaan dilakukan kepada kami berdua.

Seminggu kemudian, Krisna mengabariku bahwa hasil tes sudah keluar. Hari itu, masing-masing dari kami tidak bisa mengambil cuti, karena itu akhir tahun. Kerjaan di kantor menumpuk. Beruntungnya kami, Krisna berusaha nego dengan dr.Emma dan dr.Erik. Akhirnya, pertemuan di-rescedhule di sore hari.

Di ruangan itu, hanya ada kami berdua dan dua orang dokter tadi.

Betapa kagetnya kami mendengar hasil pemeriksaan itu. Kedua dokter tersebut sepakat menyatakan bahwa kami tidak bisa mendapat keturunan secara normal. Kami berdua tidak jelas belum bisa menerima kenyataan ini.

Sepanjang perjalanan, Pandji konsentrasi pada kemudinya, sedangkan pikiranku menerawang jauh keluar mobil. Kondisi di dalam mobil ini berbanding terbalik dengan kondisi jalanan yang ramai dengan PKL dan pengamen.

Sampai di rumah…

“Sayank, aku mohon rahasiakan hal ini dari orang tua kita yah! Kita check sekali lagi di dokter lain. Aku kurang sreg dengan dokter-dokter itu,” pinta suamiku.

Lalu, langkah kakinya lemas menuju kamar.

Malam itu, aku merasakan dekapan suamiku lebihkuat dari biasanya. Aku tidak merespon. Timbul rasa bersalah dalam diriku. Apakah aku mandul? Hasil tes tadi tidak menunjukkan bahwa aku mandul.

Akhirnya, kami mendatangi spesialis kandungan ternama di Jakarta. Selain, kami ingin mengetahui kondisi kesuburan masing-masing dari kami, kami juga ingin mengetahui peluang kehamilan yang bisa terjadi padaku. Tapi ternyata hasil test kali ini tidak memberikan jawaban yang kami harapkan. Dokter ini menyatakan hal yang sama, bahwa kami belum bisa memeliki anak secara normal. Dari dokter ini, kami mendapat jawaban atas tanda tanya dalam pikiran kami. Kondisi ovarium dan rahimku tidak ada masalah. Namun, Pandji ternyata mengalami Oligoasthenoteratozoospermia atau OAT. Kemudian ada istilah asthenozoospermia atau pergerakan sperma tidak normal. Sehingga ini menyebabkan masalah pada kesuburannya.

(bersambung ke Cinta horizontal Mila 2)

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Design a site like this with WordPress.com
Get started