Cerita yang akan Saya tulis disini adalah berasal dari sebuah kisah nyata tentang sepasang sepatu
There’s a very famous quote about shoes. It is said “Good Shoes will take you to a good place” Jujur saja, saya termasuk salah satu perempuan mainstream yang ga pernah punya alasan untuk tidak membeli sepatu setiap kali Saya ada lebihan budget. Pun bila tidak membeli, bahagia kok rasanya dengan hanya mencoba-coba sepatu di kaki Saya saat Saya berada di toko sepatu. Kadang-kadang ya kalo gw travelling ke satu tempat baru, gw suka loh sengaja beli sepatu hahaha alesannya cheesy banget, biar semangat menjelajah dan pasti pulang travelling, ada satu sepatu yang dibeli (minimal) hahahaha

Ok, itu baru pembukaan cerita, kini kita masuk ke cerita sesungguhnya…
Ada seorang anak laki-laki yang tinggal disebuah desa terpencil yang hanya memiliki satu pasang sepatu. Jadi sepatu itu lah satu2nya yang menemani langkah2 kecil kakinya untuk berjalan ke sekolah, untuk berolahraga, untuk datang ke acara pesta, yah bisa dibilang ini adalah sepatu one for all. Anak laki-laki ini menyadari betul betapa berharganya sepatu yang dia miliki ini. Oleh karena itu selalu dibersihkan setiap kali selesai dipake.

Sampai pada suatu hari, sepatu itu akhirnya jebol. Bagian bawah tapak kakinya terbuka, mungkin karena lem-nya sudah tidak berfungsi lagi. Selayaknya anak-anak, maka dia pun merajuk rayu kepada Bapaknya untuk minta dibelikan sepatu baru. Namun si Bapak, hanya diam saja tanpa melihat kondisi sepatu si anak yang sudah jebol. Bisa dibilang hampir setiap hari si anak meminta si Bapak untuk dibelikan sepatu baru dan setiap hari pula si Bapak hanya diam saja. Karena meminta tak kunjung dibelikan, si anakpun akhirnya membeli lem dan voila sepatu tersebut akhirnya bisa dipergunakan. Namun, lem tersebut tidak selamanya bisa melindungi sepatu yang jebol tersebut sampai pada akhirnya sepatu tersebut sampai pada kondisi sudah tidak bisa lagi digunakan.
Bapak si anak pun, akhirnya melihat sepatu si anak yang ternyata memang sudah tidak bisa lagi dipergunakan dan keesokan hari, Bapakpun menggajak anaknya untuk pergi ke toko sepatu BATA – sengaja sebut merek karena dari siempunya cerita, zaman dia kecil, toko sepatu BATA ini merupakan toko sepatu mewah dan keren lah bagi anak-anak dizaman beliau bisa punya sepatu merek BATA.

Cerita ini berhenti sampai disinI. Lalu tak lama beliau bertanya kepada Saya dan suami “Boleh ceritain Sama saya ga persamaan cerita sepatu ini dan cerita Mba dan Mas yang hari ini datang konsultasi ke Saya?”

Saya pun mulai menjawab seperti ini : Harus Sabar, Ikhlas, Ga mudah menyerah jadi apa yang kita inginkan akhirnya bisa didapatkan. Tapi sepertinya jawaban Saya ini tidak memuaskan beliau. Kata beliau 3 jawaban Saya itu masuk urutan2 terakhir. Saya dan Kakang Suami pun saling lihat sambil senyum dan berpikir keras. Apa yah jawaban yang paling tepat yang ada diurutan pertama dan kedua?
Beliau pun memberikan jawaban seperti ini. Yang berkuasa unuk membelikan sepatu siapa ayo dalam cerita ini? Kami pun menjawab “Bapak si anak”. BETUL SEKALI – Lalu sebagai anak, yang bisa dilakukan apa? Kami pun menjawab lagi “minta lah sama si Bapak”. BETUL SEKALI jawaban Mba dan Mas. Beliaupun mengatakan bahwa Bapak adalah orang yang berkuasa untuk membelikan sepatu, jadi suka-suka si Bapak mau beliin atau engga dan kalo dibeliin suka-suka dia mau beliin kapan dan sebagai anak hanya bisa meminta sampai akhirnya si bapak membelikan sepatu baru.
Beliau pun melanjutkan : Mba dan Mas ketemu dan konsultasi sama Saya bukan karena Saya bisa membuat impian Mba dan Mas untuk punya anak terwujud, yang punya kuasa itu ALLAH Subhanahu Wata’ala, jadi sebagai hamba-Nya minta aja lah terus tiap hari, jangan pernah bosan. Pokoknya minta terus, in syaa Allah nanti dikabulkan. Banyak kok pasien Saya yang udah 8 tahun, ada yang 13 tahun, ga Saya apa2in tau2 udah positive hamil.
Yang bisa Saya lakukan sekarang ke Mba dan Mas adalah mencari penyebab kenapa sampai hampir 7 tahun ini – pasca keguguran di tahun 2011, Mba dan Mas belum juga Hamil. Kita mulai lagi prosesnya dari awal ya, Mba akan tes CR-HSG (ini harus dilakukan hari ke-10 Haid)- Saya mau lihat apa ada sumbatan atau engga pada saluran jalur sperma menuju sel telur, lalu Mas akan tes Sperma (4-5 hari jangan berhubungan kalo mau tes sperma). Ga perlu di Rumah Sakit sini ya, test ini ada di semua rumah sakit besar, cari saja yang deket rumah. Saya ga kasih obat atau vitamin. Setelah hasil testnya keluar, ketemu Saya lagi ya dengan tambahan catatan tanggal 3 bulan terakhir haid hari Pertama.

Tapi ingat ya, Saya sebagai dokter kandungan ga bisa bikin Mba dan Mas Hamil, karena hamil atau engga itu hak preogratif Allah Subhanahu Wata’ala. Jadi intinya MINTA TERUS ya sama Allah Subhanahu Wata’ala setiap hari.
Masya Allah baru kali ini Saya pergi ke dokter kandungan menDapatkan cerita yang seperti ini. Rata2 dokter kandungan dengan usia Saya yang 36 tahun dan sudah 6 tahun menikah belum juga hamil sampai sekarang, langsung diarahkan ke bayi tabung.
Cerita sepatu tadi adalah cerita masa kecil dari Dr.dr. M. Soemanadi, SpOG. Beliau praktek di Rumah Sakit Pondok Indah. Bismillah semoga ikhtiar Kami kali ini mendapatkan ridho dari Allah Subhanahu Wata’ala dan Kami jalanin prosesnya, Kami akan meminta setiap hari dan mengikhlasan apa pun takdir Allah kedepannya.
Yuk teman-teman seperjuangan, kita sama2 berdoa ya dan minta terus plus semangat semoga ada rezeki anak-anak yang sholeh dan sholehah dalam hidup kita Aamiin Allahumma Aamiin