Penglukatan bersama Pak Mangku Made
Kami memanggilnya Pak Made. Kadang-kadang beliau juga dipanggil Pak Mangku atau Mangku Made.
Awal pertemuan kami dimulai dari sebuah tempat bernama Puri Damai, sebuah tempat terapi pengobatan usada dan herbal di Tunon, Gianyar. Ternyata disana pula Pak Made menggelar kelas yoga yang khusus diadakan kepada ibu-ibu sekitar daerah tersebut. Singkat cerita kami pun menjadi peserta kelas yoga beliau.
Belakangan baru kami ketahui bahwa sebenarnya Beliau tidak hanya sekedar seorang pengajar yoga. Tapi juga merupakan seorang balian atau penyembuh (healer). Salah satu metode penyembuhan beliau, adalah dengan mengajak pasiennya untuk beryoga.
Selain yoga, beliau juga mengandalkan ritual penglukatan atau pembersihan (ruwat, dalam bahasa Jawa) dengan sarana air. Ada lima macam jenis penglukatan yang beliau adakan: Penglukatan bunga, penglukatan Campuhan Agung, penglukatan laut, penglukatan danau, dan penglukatan Sri Rambut Sedana.
Penglukatan bunga dan penglukatan Campuhan Agung merupakan penglukatan dasar, dan rutin diadakan oleh beliau setiap hari. Umumnya setiap orang yang baru berobat ke Beliau, dianjurkan untuk mengikuti kedua penglukatan dasar tersebut. Sedangkan ketiga penglukatan lainnya merupakan penglukatan tingkat lanjut dan diadakan dengan frekuensi yang lebih jarang seperti misalnya setiap sebulan atau dua bulan sekali.
Modus
Halo. 5 tahun sudah blog ini dibiarkan kosong tanpa tulisan baru. Sebenarnya sih mau beralasan karena ada rumah baru. Tapi sepertinya agak tidak benar juga, karena di rumah baru tersebut juga keadaannya tidak jauh berbeda dengan tempat ini. Kosong berdebu tanpa diisi tulisan-tulisan.
Klise memang post baru di awal tahun. Sepertinya sudah jadi pola umum, dibalik latar belakang bernama resolusi tahun baru: menulis lagi. Tapi sebenarnya yang ini nggak begitu lho. Semenjak resolusi-resolusi tahun sebelumnya yang selalu rutin dibuat di Januari, ditinggalkan di Juli, dan disesali di Desember, akhirnya tahun ini saya berhenti mencoba.
Lalu, ini apa? Sssst, jangan bilang siapa-siapa. Ini sih modus!
This is it?
Barusan habis nonton film cin(T)a yang trailernya keren mampus itu. Meski ini film Indonesia, keinginan menontonnya menggebu-gebu. Gara-gara latar yang dipakai satu lingkungan sama gua, yaitu di kampus Gajah duduk. Dan ternyata benar, nonton film ini kaya nonton cerita hidup diri sendiri. Sial.
Arsitektur. Maketor. ITB dan lingkungan sekitarnya. Idealisme. Filosofi. Film. Rantau.
Beda Agama.
Yeah.
Bedanya, kisah Cina dan Annisa sudah berakhir. ‘This is it‘, kata mereka.
Sementara gua. Yah, gini-gini aja. Takut melihat ke depan. Takut sakit. Takut gak ada kata ‘depan’ buat gua dan dia. Pengecut ya? Padahal yang ngajak dia ngambil resiko ya gua. Yang bikin gua dan dia kaya gini ya gua.
Sempat juga kaya Cina. Bertanya. Kenapa harus ada agama. Tuhan memang menciptakan cinta untuk mempersatukan kita. Tapi kenapa Tuhan menciptakan lagi agama untuk memecah-mecah manusia? Mengkotak-kotakkan yang satu dengan yang lainnya? Kenapa cinta saja tidak cukup?
Gua sangat setuju dengan mencintai Tuhan lebih besar dari apapun di dunia ini. Tapi kenapa ada yang menyamakan Tuhan dengan agama? Tidak bisakah kita tunjukkan rasa cinta kita terhadap Tuhan dengan cara lain selain agama? Jadi, kita harus mencintai agama kita lebih besar dari apapun yang ada di dunia ini? Termasuk Tuhan itu sendiri?
Sadarkah mereka yang mati sebelum waktunya dengan mengatasnamakan Tuhan, bahwa mereka tidak mencintai Tuhan? Mereka mempersingkat umur hidup mereka (dan orang-orang yang mati karena mereka) yang harusnya digunakan untuk mencintai Tuhan. Tolol.
Sorry, terlalu menggebu tampaknya.
Tapi untungnya sekarang gua mengerti kenapa agama itu perlu. Don’t bother explain me. Gua juga ga mau mendefinisikan itu disini, karena salah satu diantara pengertian gua tentang kenapa agama itu perlu adalah, karena (daya tafsir) setiap orang itu berbeda. Jadi antar manusia yang satu dengan yang lain pasti pengertian ini berbeda.
Balik lagi ke cerita gua sama dia. Sampai sekarang, gua ga tau mau kemana, harus gimana. Tapi kalo tadi gua bilang cerita film cin(T)a banyak miripnya dengan cerita gua sama dia, jadi muncul pertanyaan. Berarti endingnya sama dong?
This is it?
Stranger Than Fiction (2006)
Kay Eiffel: As Harold took a bite of Bavarian sugar cookie, he finally felt as if everything was going to be ok. Sometimes, when we lose ourselves in fear and despair, in routine and constancy, in hopelessness and tragedy, we can thank God for Bavarian sugar cookies. And, fortunately, when there aren’t any cookies, we can still find reassurance in a familiar hand on our skin, or a kind and loving gesture, or subtle encouragement, or a loving embrace, or an offer of comfort, not to mention hospital gurneys and nose plugs, an uneaten Danish, soft-spoken secrets, and Fender Stratocasters, and maybe the occasional piece of fiction. And we must remember that all these things, the nuances, the anomalies, the subtleties, which we assume only accessorize our days, are effective for a much larger and nobler cause. They are here to save our lives.
Satu film keren yang baru saya tonton. Must watch.
Genre: drama komedi (sedikit) fantasi.
Cool sinematography, unusual story, good acting, excellent cast.
Tumben saya bisa suka sama Will Ferrell.
Hail Marc Forster!
(Whoa. Baru nyadar. Ini Marc Forster-nya Quantum of Solace (2008). Makin hail, lah)
3 Doa 3 Cinta

Akting kualitas kakap bertemu dengan skenario kualitas teri. Mungkin satu kalimat itulah yang paling menggambarkan film ini menurut pendapat saya. Agak pedas mungkin. Tapi, hey, ini kritik 🙂
Sebelum membahas lebih jauh penilaian saya, sekilas tentang film ini, menceritakan seluk beluk kehidupan pesantren. Dengan fokus pada ketiga pemeran tokoh utama, Huda (Nicholas Saputra), pemuda tampan kesayangan kepala pesantren, Rian (Yoga Pratama), anak yatim yang datang dari kelas menengah, dan Syahid (Yoga Bagus), yang sedang mengalami kesulitan keuangan untuk membiayai pengobatan ayahnya.
Ketiga tokoh sentral ini memiliki mimpi masing-masing dan ketiganya berjuang dalam mewujudkan impian mereka tersebut. Konflik yang dimunculkan dalam film ini adalah halangan-halangan yang masing-masing temukan dalam perjuangan tersebut. Huda dijodohkan dengan anak kepala pesantren saat dia mengenal Dona Satelit (Dian Sastro), bintang dangdut kampung yang membantunya menemukan keberadaan ibunya. Rian, meski dihadiahi handycam saat ulang tahunnya, harus terima kenyataan pahit yang dibawa ibunya saat berkunjung ke pesantren tersebut. Sementara Syahid yang sawahnya terpaksa dijual semakin membenci kaum kapitalis dan berniat melakukan sesuatu untuk itu.
Saya agak kurang nyaman menonton film ini. Bukan karena saya memiliki latar belakang religi yang berbeda, tapi lebih karena alurnya yang sangat lambat, dan ceritanya cenderung tidak mengalir. Ada potongan-potongan fragmen yang pesannya tidak sampai ke penonton, setidaknya saya. Rasanya sayang melihat totalitas aktornya tak berkutik menghadapi lemahnya skrip dan penyutradaraan. Seorang teman ketika menonton berkomentar, “Rasanya banyak yang bakal ilfil sama Dian Sastro setelah nonton film ini.” Menurut saya berarti, thumbs up berarti buat Dian. Image kampungnya sampai.
Saya akui film ini sarat makna. Penulis cerita dan sutradara memang ingin berusaha menyampaikan sesuatu melalui film ini. Makna yang saya tangkap, bahwa kehidupan pesantren itu kadang tak seindah sekaligus tak seburuk anggapan banyak orang di luar pesantren. Ada pahit manis dan baik buruk yang terjadi disana. Tergantung sudut pandangnya.
Tapi saya bangga menonton film ini. Satu, karena film ini bukan dari kelas genre ‘serupa’ film-film Indonesia lain. Dua karena keberanian sutradara mengangkat topik yang tidak umum. Salut.
Yeah. New House.
Haha, bukan literally kok ini. Cuma habis bersih-bersih rumah saja. Tapi berhubung pembersihannya terakhir kali dilakukan entah-kapan-eh-pernah-gak-ya, jadilah terjadi perubahan yang signifikan pada kondisi rumah sebelum dan setelah dibersihkan. Jadi, view baru deh 🙂
Ngomong-ngomong soal rumah ini, jadi ingin bercerita sedikit tentang sejarahnya sampai saya bisa terdampar disana. Diawali ketika rumah kontrakan yang lama habis masa kontraknya, saya berniat pindah ke kamar kos di daerah Dago Tea House sana. Karena merasa tidak akan mencapai satu tahun berada di kota Bandung (optimis bulan Maret sudah lulus lah, ya) Sedangkan kakak saya, si Abang, yang tadinya serumah kontrakan juga tadinya ingin numpang sementara di rumah Paman saya di Megaraya, daerah Pastur sana karena masa tinggal di Bandung yang lebih singkat (optimis bulan Oktober sudah lulus lah, ya ^^;)
Tapi ternyata, rencana tinggallah rencana. Tante saya yang kebanyakan duit di Bogor menawarkan kemungkinan yang cukup menarik. Ceritanya dia punya rumah di Bandung yang dari sejak dibangun, which is 4 tahun lalu, sampai sekarang (agustus 2007) tidak pernah dihuni. Kata eyang, yang serumah sama Tante di Bogor, “Rumahnya kecil, kok. Tapi untuk kalian berdua kayanya muat.”
By the time we arrive on the spot. Ahahah. Kecil. Ahahahahahaha.
Dua lantai. Tiga kamar ukuran 3×3,5 meter persegi. Tiga kamar mandi. Dua living space (satunya living room, satunya living hall ^^*). Satu kamar pembantu. Plus garasi mobil, halaman depan, dan halaman belakang.
Kecil sih. Untuk ukuran rumah-rumah di komplek perumahan itu. Hehe.
Karena tersedia rumah sebagus itu, gratis pula, hehe, tanpa pikir panjang. Jadilah kita akhirnya membatalkan semua rencana awal tadi. Meski belum siap huni, tapi dengan ‘sedikit’ sentuhan dari si Abang The Great. Voila. Resmilah kami bertiga akhirnya tinggal di rumah itu per agustus 2007.
Yup, bertiga. Saya, si Abang, dan seorang lagi makhluk dari kontrakan lama juga, Mas Faqih. Hehe.
Tapi sekarang si Abang udah lulus dan kembali ke kampung halaman. Mas Faqih sudah berubah jadi Faqih-kun di seberang sana. Tinggallah saya sendiri di rumah bernomor F-2 itu. Entah sampai kapan.
Paling cepat, APRIL. Damn.
Ahahaha. Ada yang mau menemani?
My First Un-Christian Christmas
Hari ini adalah pertama kalinya saya melewati Hari Raya Natal tanpa ada kewajiban untuk merayakannya. Yup. Awal bulan November ini saya beserta seluruh keluarga, yaitu ayah, ibu, dan kakak, bersama-sama mengikuti upacara pindah agama dari Katolik menjadi Hindu.
Untuk detailnya, mungkin akan saya bahas di cerita-cerita lainnya. Yang saya ingin share disini adalah perasaan saya melewati hari ini.
Ketika terbangun di pagi hari tadi, yang saya lakukan pertama kali adalah, menyalakan laptop, lalu memainkan lagu-lagu natal yang kemarin saya copy dari Bung Anggri.
Yup, saya merindukan suasana itu. Meskipun tidak berasal dari keluarga Nasrani yang kental, tapi bagi saya suasana Natal selalu memiliki arti tersendiri. Ada tradisi-tradisi tersendiri yang biasa saya lakukan di hari ini. Ke gereja misalnya. Saya kan dulu benar-benar Katolik Napas, ke gerejanya hanya jika Natal dan Paskah. Hahaha. Kalau saya di rumah, biasanya saya dan kakak akan mempersiapkan pohon Natal dari jauh hari. Lalu mempersiapkan makanan-makanan kecil untuk saudara-saudara yang berkunjung untuk bersilaturahmi. Sambil menonton film-film keluarga bertema Natal yang biasa diputar stasiun-stasiun TV swasta.
Tapi sekarang, saya jauh dari rumah dan TV pun tak ada. Makanya saya merasa ada sesuatu yang hilang pagi tadi. Untungnya lagu-lagu Natal yang diputar mampu mengembalikan perasaan itu, meski tak seutuhnya. Ditambah lagi sms dari teman-teman dan kerabat yang mungkin belum tahu kabar kepindahan saya. Jadilah saya tersenyum-senyum menerima dan membalas sms itu. Ada yang saya reply dengan mengatakan kondisi sebenarnya, tapi ada juga yang saya balas dengan kata terima kasih saja. Malas memberi penjelasan panjang lebar. Hehe.
Tapi toh saya tidak merasa salah. Siapa bilang yang boleh merasakan indahnya suasana Natal dan damainya kasih Tuhan hanya umat Nasrani. Di hari raya-hari raya seperti inilah kepekaan beragama saya semakin diuji. Apakah saya turut berbahagia seperti halnya mereka yang sedang merayakan hari besarnya. Atau saya hanya sekedar senang karena mendapat hari libur tambahan di kalendar. Hehe.
Overall, today was a nice christmas.
Merry Christmas, all. Wish all the bless for you 🙂
(Written: 25/12/2008)
Ada kalanya bintang ingin menyampaikan sesuatu kepada kita
Matamu sudah menampakkan lelah.
Tidurlah kawan.
Gundah
Damn, kenapa sih harus terpisah jarak. Seperti ini membuatku semakin bingung. Inginnya semua ini cepat berlalu. Event itu baru saja berlalu. Dan tidak kupungkiri, mungkin ini bagian dari after effect-nya. Tapi sampai kapan harus begini?
Recent Comments