Bismillai Allahu Akbar
Menggali Potensi Indonesia
Ketika disebutkan kata ‘Indonesia’, maka akan terlintas dalam pikiran kita akan sebuah negara kepulauan yang berikhlim tropis, subur dan kaya dengan semberdaya alam dan warisan budaya. Negara ini begitu luas, dengan jumlah penduduk mendekati 300 juta orang.
Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis, berada di kawasan Asia Tenggara. Kawasan memiliki nama abadi: Nusantara. Era penjajahan Eropa di abad-abad silam telah menjadikan rumpun bangsa ini terpecah dalam negara-negara baru pasca Perang Dunia II, mengikuti bangsa manakah yang menjajahnya. Wilayah yang dikuasai Belanda kemudian menjadi Indonesia, wilayah yang dikuasai Inggris kemudian menjadi Malaysia dan Singapura, wilayah yang dikuasai Amerika Serikat kemudian menjadi Filipina. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya penduduk kawasan Nusantara ini tetaplah satu keluarga besar yaitu rumpun bangsa Melayu atau dalam istilah Arab disebut juga bangsa Jawi. Continue Reading »
Posted in History Once Again, Renungan Hati, Sekitar Kita | 5 Comments »
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain.” (Al Hadits)
Dari sekian banyak nasehat Rasulullah SAW, mungkin ini adalah nasehat dari Baginda Rasulullah SAW yang paling banyak dikutip oleh banyak orang. Baik orang dewasa maupun anak kecil pasti pernah mendengar hadits dari Baginda ini. Kebanyakan kita menggunakan nasehat ini untuk memotivasi diri dan orang lain agar melakukan berbagai kebaikan untuk orang lain, menolong orang yang kesusahan dan menunaikan hajat orang lain. Kita pun termotivasi untuk tolong-menolong satu sama lain, bersedekah, bersikat ramah tamah, bertoleransi dan saling maaf memaafkan. Untuk memperkaya lagi khazanah samudera hati kita, marilah kita renungi apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh Baginda Rasulullah SAW dengan nasehatnya ini. Semoga kita dapat menjadi sebaik-baik manusia di muka bumi ini.
Posted in Renungan Hati | 2 Comments »
Saudara, sedang berlaku di hadapan mata kita kini penyakit-penyakit putus asa, kecewa, resah, gelisah, penderitaan jiwa, kacau balau fikiran, rasa rendah diri (inferiority complex), kesunyian jiwa, kekosongan hati, rasa kesendirian (loneliness), ketegangan perasaan dan berbagai macam bentuk penyakit jiwa. Dan sedang berleluasa juga di dalam masyarakat kita hari ini penyakit-penyakit hasad dengki (iri), bakhil, gila dunia, pendendam, emosional, jahat sangka, sombong, riak, ujub dan lain-lain.
Walaupun sakitnya tidak tampak oleh mata kita, namun siapa yang dapat menolak kenyataan ini? Jumlah orang-orang yang menderita sakit atau krisis jiwa di saat ini lebih banyak daripada jumlah penderita-penderita sakit fisik yang ada di rumah sakit- rumah sakit. Tetapi aneh, kepakaran dan keintelektualan tidak begitu serius dicurahkan untuk mengobati kepada penderita penyakit batin ini, sepertimana seriusnya mereka berusaha melakukan pengobatan terhadap tubuh fisik manusia.
Saudara, apakah mereka tidak sadar bahawa penderita sakit jantung, ginjal, kencing manis, kanker dan lain-lain itu tidak pernah bunuh diri dan membunuh orang lain? Tetapi penderita-penderita penyakit batin, krisis jiwa, kekosongan, rendah diri, putus asa, hasad dengki, dendam, pemarah, buruk sangka dan lain-lain itu akan memungkinkan manusia membunuh dirinya sendiri atau membunuh orang lain? Demikianlah satu bukti bahawa penyakit-penyakit batin itu sebenarnya memerlukan perhatian dan rawatan yang lebih serius daripada rawatan kepada penyakit-penyakit lahir. Bukan saja kerana penyakit batin lebih menyiksa individu pesakit, tetapi ia juga memungkinkan terjadinya kekacauan dalam sesebuah masyarakat.
Telah datang Nabi Muhammad SAW ke tengah manusia. Baginda melihat kekusutan dan kemungkaran yang sedang meracuni kehidupan masyarakatnya. Seorang diri baginda bangun dan bekerja untuk menyelamatkan manusia. Institusi pertama yang Baginda bangunkan ialah masjid, satu tempat di mana manusia membersihkan hatinya, melembutkan hatinya, menenangkan hatinya, melapangkan dadanya, membebaskan diri dari ikatan dunianya, dengan mengagungkankan Tuhannya melalui sembahyang dan ibadah-ibadah lain. Rasulullah memandang keselamatan manusia adalah pada keselamatan hatinya (ruhaninya) bukan jasad lahirnya. Oleh karena itu, itu baginda bekerja mengubah dan mengobati hati mereka dan Baginda berhasil dengan gemilang.
Kita kini sedang melihat kekusutan dalam masyarakat kita sama sebagaimana apa yang disaksikan oleh Baginda Rasulullah SAW lebih 1400 tahun dulu. Kalau baginda telah berhasil terhadap masyarakatnya, mengapa kita tidak mengikuti jejak langkahnya? Kita obati dulu mazmumah (sifat jahat) dan krisis jiwa kita dan masyarakat kita. Kita ketengahkan kepada masyarakat pengertian hidup yang hakiki yang dapat mengembalikan manusia pada fitrahnya. Kita contohkan satu formula yang menjamin kebahagiaan hati dan keselamatannya. Kita perjuangkan kehidupan yang semuanya membawa manusia kepada syurga dunia dan akhirat.
Saudara, mana ada selain Islam satu cara hidup yang dapat menjadikan kita terhibur dengan kemiskinan, kesunyian, kesakitan, kesendirian, kematian orang yang dikasihi, kegagalan dan dengan segala bentuk ujian? Mana ada selain Islam cara hidup yang mengikat hati antara suami dengan isteri, anak dengan ayah dan ibu, pengikut dengan pemimpin, pekerja dengan majikan? Mana ada selain Islam cara hidup yang mengajar kita berkasih-sayang, bertengang rasa, pemurah, berprasangka baik dan tolong menolong? Mana ada selain Islam cara hidup yang membangkitkan cinta agung manusia pada Penciptanya sehingga kerana itu manusia sanggup mengorbankan hidupnya untuk Tuhannya dan menanti kematian sebagai penantian seorang kekasih kepada pertemuan dengan kekasihnya?
Saudara, Islam mengajak kita menilik hati kita, mengenalinya dan mengobati sakitnya. Apabila hati sudah terobati, saudara akan temui hati-hati saudara penuh dengan cahaya kebahagiaan, ketenangan dan kelapangan. Dan itulah syurga sementara sebelum saudara bertemu Allah untuk menerima syurga yang kekal abadi.
“Hari Qiamat yaitu hari (ketika manusia meninggalkan dunia ini) di mana harta dan anak tidak berguna lagi, kecuali mereka yang mengadap Allah membawa hati yang selamat (QS Asy Syuara’ 88-89)
[Harmony Motivation Center: Mengenal Diri Melalui Rasa Hati]
Posted in Renungan Hati, Sekitar Kita | 2 Comments »
Allah berfirman di dalam Al Quran:
“Beruntunglah orang yang membersihkan hatinya dan rugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams 9-10)
Islam menganggap nafsu itu sebagai musuh manusia. Allah SWT telah menegaskan:
“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan.” (QS Yusuf 53)
Dalam ayat ini digunakan tiga bentuk ketegasan, yakni in–taukik, lam–taukik dan isim fiil mubalaghah. Gaya bahasa ini menunjukkan bentuk penekanan yang sungguh-sungguh bahwa nafsu akan membawa kepada kejahatan.
Nafsu adalah musuh di dalam diri manusia. Sedangkan nafsu adalah sebagian dari diri manusia. Nafsu adalah jismul latif (tubuh halus yang tidak dapat dilihat). Kejahatan nafsu harus dibuang dari diri manusia. Jika tidak dibuang maka nafsu akan menjadi musuh. Tapi walaupun kita ingin membuangnya, nafsu tetap merupakan sebagian daripada diri. Oleh karena itu, melawan hawa nafsu adalah hal yang sangat sulit.
Posted in Renungan Hati | 10 Comments »
Para ulama telah membagi nafsu menjadi 7 peringkat :
- Nafsu Ammarah
- Lawwamah
- Mulhamah
- Muthmainnah
- Radhiah
- Mardhiah
- Kamilah
1. Nafsu Ammarah
Allah berfirman dalam Al Qur’an, maksudnya :
“Sesungguhnya nafsu itu senantiasa mengajak kepada kejahatan.” (QS Yusuf 53)
Ayat tersebut berkaitan dengan peristiwa Nabi Yusuf dan isteri perdana menteri Mesir. Barang siapa yang memiliki nafsu ammarah, maka ia tidak lagi dapat menahan diri untuk menjaga kehormatan dirinya. Bahkan seseorang yang terkenal sekalipun akan jatuh dan terhina jika menuruti nafsu ammarah. Orang yang memiliki nafsu ammarah, tidak mampu lagi menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan maksiat. Karena inilah sehingga seseorang yang tidak pernah kita sangka akan melakukan maksiat, tiba-tiba minum arak, punya wanita simpanan, melakukan korupsi dan sebagainya. Hal ini adalah karena nafsu ammarah yang ada di dalam diri.
Nafsu ammarah inilah yang mendorong manusia melakukan kejahatan. Jika berhasil melakukan perbuatan maksiat, barulah terasa puas. Bahkan akhirnya manusia berlomba-lomba dalam perbuatan maksiat. Seseorang yang berada di peringkat nafsu ammarah tidak peduli dengan Akhirat. Ia mudah merasa kecewa tidak tahan dengan ujian. Kadang Allah memanjangkan umurnya agar puas dengan maksiat dan akhirnya dilemparkan ke dalam api Neraka. Orang yang mempunyai nafsu ammarah adalah ahli Neraka. Walaupun ada juga yang mencoba berpura-pura menjadi baik tapi kebaikan itu bertujuan untuk memudahkannya melakukan kejahatan dan mencari keuntungan pribadi.
2. Nafsu Lawwamah
Seseorang yang sudah memiliki kesadaran dan keinsafan akan menyadari bahwa kejahatan itu dosa dan kebaikan itu pahala. Ia ingin berbuat kebaikan tetapi tidak tahan lama. Ketika jatuh dalam kejahatan, ia merasa resah tak tentu arah. Walaupun merasa puas dengan kejahatan tapi hati menderita karena perbuatan itu. Meskipun begitu, terasa sangat berat untuk keluar dari kejahatan.
Terjadi perebutan pengaruh antara nafsu dan akal di dalam dirinya. Nafsu mengajak kepada kejahatan sedangkan akal mengajak kepada kebaikan. Orang yang memiliki nafsu lawwamah belum dapat membuat keputusan untuk berbuat baik baik. Ia seperti daun yang tertiup angin, terbawa ke mana arah saja angin bertiup. Ia belum ada kekuatan untuk meninggalkan maksiat. Setelah berbuat kebaikan, ia masih melakukan berbuat kejahatan. Kadang-kadang ke tempat ibadah, kadang-kadang ke tempat maksiat. Hatinya selalu merintih kepada Allah ketika tidak dapat melawan nafsu sehingga melakukan maksiat dan tidak dapat istiqamah dalam berbuat kebaikan.
Posted in Renungan Hati | 15 Comments »
Agama Islam yang kita akui dan yang kita warisi itu sebenarnya cantik dan indah. Kedatangan Rasulullah SAW adalah rahmatan lil alamin karena membawa peraturan hidup yang disebut agama Islam (Ad Din Al Islam). Jika agama Islam ini benar-benar dipahami, diamalkan dan diperjuangkan di semua bidang dan aspek secara utuh, bukan hanya di aspek-aspek tertentu, maka sudah tentu agama Islam akan menjadikan manusia berkasih sayang, menghubungkan silaturahim, menumbuhkan ukhuwah, menjadikan anak-anak taat kepada orang tua, ayah ibu senantiasa memberi kasih sayang kepada anak-anak, isteri senantiasa patuh kepada suami setelah taat kepada Allah dan Rasul, suami senantiasa bersimpati kepada isterinya. Seorang pemimpin akan menjadi payung bagi seluruh masyarakat, menjalankan keadilan terhadap seluruh rakyat. Ulama akan menjadi obor, penasehat kepada seluruh peringkat masyarakat. Orang kaya akan terdorong menjadi bank, sehingga tidak perlu lagi mendirikan bank Islam. Selain itu, Islam juga akan mendorong peniaga bertindak jujur dalam perniagaan, orang miskin redha dalam kemiskinan atau setidaknya sanggup bersabar. Masyarakat bersih dari maksiat, krisis, kejahatan, perkelahian dan peperangan. Akhirnya manusia akan hidup harmoni, bersatu padu, aman, damai, selamat dan bahagia. Itulah yang disebut sebagai Al Jannatul Ajilah atau Syurga yang disegerakan di dunia. Syurga sementara sebelum di akhirat nanti akan dihadiahkan Syurga Allah yang sebenarnya kepada mereka yang berhasil mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan itu.
Namun sunggung malang, di dalam pengalaman hidup kita selama ini, kita belum dapat merasakan Islam itu cantik dan indah. Kita belum dapat merasakan ketenangan Islam, kebahagiaan Islam, kedamaian Islam. Kita belum dapat menyaksikan suatu masyarakat yang bersih dari kemungkaran, kejahatan dan bersih dari segala bentuk krisis. Kita belum dapat merasakan kecantikan dan keindahan agama Islam. Mengapa? Karena sudah ratusan tahun lamanya, setidaknya sejak 700 tahun yang lalu, sesudah jatuhnya kerajaan Islam di Timur Tengah, sejak itulah umat Islam seluruh dunia tidak lagi mempelajari, memahami dan seterusnya memperjuangkan Islam secara utuh, secara keseluruhan dan dalam cakupan yang luas. Yang kita pahami hanya dalam aspek-aspek tertentu dan terbatas bada bagian-bagian tertentu.
Posted in Renungan Hati | 1 Comment »
Mari kita membuat kajian tentang pohon yang sempurna dan rindang untuk membantu kita memahami ajaran Islam yang utuh secara ringkas. Pohon apapun kalau akarnya benar-benar menghujam bumi maka pohon itu menjadi gagah, kuat, teguh. Ketika datang angin kencang, pohon itu tidak akan jatuh, tidak akan tumbang. Kalaupun ada yang jatuh, hanya daun-daun kering dan ranting-ranting tua. Begitulah satu isyarat Allah kepada kita bahwa orang yang benar-benar beriman dan berjiwa tauhid dapat merasakan iman dan Islam sampai ke peringkat hati. Mungkin kita sering mendengar ceramah-ceramah atau melalui berita di surat kabar, seruan untuk menegakkan pemikiran yang Islami. Tapi sebenarnya itu saja tidak cukup. Di peringkat awal mungkin pemikiran Islam dapat ditumbuhkan melalui bacaan dan pelajaran tapi pada peringkat selanjutnya seseorang itu harus dididik sehingga dapat berjiwa Islam.
Seorang yang berjiwa Islam tak perlu terlalu banyak ilmunya. Walaupun sederhana ilmunya tapi sampai peringkat berjiwa Islam, imannya kuat, teguh, samapi dapat merasakan takut dengan Allah, gentar dengan Allah, cinta dengan Allah. Yang merasakan adalah hati, bukan akal. Jadi orang yang benar-benar berjiwa Islam, tauhidnya benar-benar tertanam di dalam hati. Orang yang imannya begitu teguh, jika diuji dengan berbagai-bagai ujian, baik diuji dengan nikmat maupun diuji dengan siksaan, imannya tidak akan tumbang, Islamnya tidak akan jatuh, akhlaknya tidak akan runtuh. Walaupun dunia diserahkan kepadanya, diberi pangkat yang tinggi, mobil yang mewah, rumah yang besar, tetap imannya tidak akan tumbang. Bahkan semakin bersyukur dan semakin halus akhlaknya. Sebaliknya, jika diuji dengan penderitaan, walaupun miskin harta sekalipun, tetapi makin kuat imannya, amalan Islamnya tidak akan ditinggalkan, budi pekertinya bertambah halus, akhlaknya bertambah kuat. Tetapi jika iman belum tertanam di dalam hati, baru sekedar berpikiran Islam, jika diuji dengan sedikit ujian, Islamnya akan runtuh dan imannya roboh. Sedikit sakit, sudah tidak shalat atau kalaupun shalat sudah tidak khusyuk.
Posted in Renungan Hati | 2 Comments »
Seseorang yang hanya dapat menegakkan aqidah dalam dirinya tapi ia tidak beramal dan tidak melaksanakan perintah Allah, jika dibaratkan sebuah pohon adalah pohon yang sekedar memiliki akar. Pohon yang semacam itu belum dapat memberikan manfaat kepada kita. Ada orang yang beraqidah dan mendirikan shalat saja. Sedangkan puasa dan zakat tidak dilaksanakan, fardhu kifayah juga tidak ditegakkan. Maka, jika dibaratkan dengan sebuah pohon, pohon itu hanya memiliki akar dan batang, masih belum sempurna. Selanjutnya ada yang rukun Islamnya beres tapi fardhu kifayah tidak ditegakkan, ibadah sunat juga tidak dikerjakan dan seterusnya. Maka, orang yang seperti itu ibarat pohon yang belum sempurna. Kemudian ada sebagian orang dapat melaksanakan perkara sunat walaupun tak penuh, begitu juga hal-hal yang mubah sedikit banyak dapat dijadikan ibadah. Maka orang yang seperti itu ibarat pohon yang sudah ada sedikit daun, sedikit bunga, tapi belum berbuah. Barulah jika seseorang itu sudah memiliki akhlak yang baik, jika diibaratkan sebuah pohon, maka pohon itu sudah menghasilkan buah. Pohon itu sudah sempurna, sudah lengkap, hanya saja belum rimbun dan belum subur.
Jika mayoritas umat Islam telah dapat menegakkan Islam seperti gambaran yang terakhir tadi, tentu umat Islam sudah memilki kekuatan. Persatuan, perpaduan, kemajuan dan peradaban sudah dibangun, syiar Islam sudah terlihat di mana-mana. Terlebih lagi jika pohon itu sudah sempurna, tumbuh rindang dan rimbun. Jika kita melihatnya, terasa indah dan menarik hati. Sejuk hati kita dan semua orang merasa senang. Siapa saja yang berteduh di bawahnya, mendapat perlindungan dari teriknya matahari. Pohon itu dapat memberi manfaat kepada semua orang yang mendekatinya. Semua orang ingin mendatangiya dan ingin berteduh di bawahnya. Bukan hanya manusia, bahkan burung-burung pun menjadikannya tempat bermain.
Posted in Renungan Hati | 2 Comments »
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
