Secarik cerita yg dikisahkan oleh seorang remaja, yang hatinya selalu ingin bebas dari namanya belenggu cinta, cinta yg selalu membuatnya merasa bahagia namun tak jarang pula membuatnya bimbang goyah dan terguncang hatinya. Menyebabkan butian air mengalir tanpa henti di pipi seakan membasahi bumi yg tidak mengerti akan rasa dihatinya. Jiwanya bergoncang karna baginya cinta yg dulu pernah pergi seakan menjajaki perlahan namun pasti ia kembali, perasaan cinta yg selama ini ia pendam dalam-dalam namun perlahan mulai menampakkan diri.
Kini ia beranikan diri untuk memastikan perasaannya itu tanpa ragu ia mulai lah sebuah jalinan tali komnikasi lagi. Namun tak pernah ia sangka ternyata itu semua semakin menyayat nyayat hatinya yg sudah pernah terluka oleh sembilu. Tidak disangka sebuah niat baik untuk menjalin silahturrahmi malah menjadi sebuah penyesalan yg belum berhenti, karna sudah tidak sanggup ia memendam rasa sakit ini ia beranikan lah untuk bercerita kepada ibunda tercinta.
Dia dulu adalah seorang wanita yang berjiwa baja yang sama sekali tidak pernah membicarakan yang namanya cinta. Baginya cinta hanya lah sebuah penyemangat penghibur lara yang tidak akan pernah menyakitinya. Namun kini ia sadar bahwa cinta juga dapat medorongnya ke jurang kegelapan yg membuat hatinya buta akan cinta yg tak jarang berusaha menjajakinya. “Bunda kenapa niat baikku untuk menjalin silahturrahmi lagi dengannya malah menjadi sebuah penyesalan dalam diriku?” tanyanya polos pada ibunda “Wahai anak ku sebuah niat baik jangan pernah engkau sesali, karna tidak ada niat baik yg akan menghancurkan mu nak”, “Tetapi bu mengapa seolah-olah ia sama sekali tidak ingin berkominikasi lagi pada ku bu?. Tanyanya dengan nada sedikit tinggi. “Anakku kamu tidak tahu akan perasaannya yg sebenarnya pada mu, karna rasa yg dulu pernah ia miliki bisa hadir kembali kapan pun tanpa kamu ketahui”. Sejenak ia terdiam dengan penjelasan sang ibunda “Tapi kan bu aku menjalin talisilahturrahmi dengannya tidak bermaksud untuk kembali menjadi kekasihnya bu, aku hanya ingin kembali bersahabat seperti dulu dengannya bu”, “Anakku sebuah pertemanan yg terlalu dekan antara wanita dan pria itu akan menumbuhkan yang namanya benih-benih cinta, mungkin memang kalian sekarang belum merasakannya namun setelah bertahun-tahun kalian bersama semua itu akan hadir diantara kalian berdua”, “Oohh seperti itu bu”.
Setelah mendengar penjelasan dari bundanya iya pun pergi keluar sejenak, ia duduk di sebuah kursi di bawah pohon rindang dan menengadahkan kepalanya kelangit malam. Kala itu lembut angin malam membelai wajahnya yg sembab, tampak olehnya bintang begitu indah bertaburan sembari menemani rembulan yg kesepian dalam kegelapan, Seketika terlintas difikirannya “Aku merasa diriku bagaikan rembulan yg memiliki banyak bintang disekelilingku, ia hanya lah salah satu bintang yg pernah bersinar terang dalam hidupku namun kini ia hanya mulai meredup dan tak tampak lagi olehku, jdi aku yakin ia masih berada disana tanpa ku tau yg ia rasakan sebenarnya, aku hanya berharap ia tetap hidup bahagia dimanapun ia berada”.
~SELESAI~
