MACAN TUTUL 豹 LEOPARD
06 Minggu Jul 2025
Posted in jepang
06 Minggu Jul 2025
Posted in jepang
04 Rabu Jun 2025
Posted in jepang
Pengetahuan sains, bukan pengetahuan agama, adalah aset dan bahkan senjata untuk merebut kesempatan yang tersedia sehingga cukup banyak aku melahap buku-buku untuk memperkaya nalar yang dituntut oleh masyarakat modern.
Tuntutan alam yang melemahkan daya ingat juga mesti diterima, jadi sekitar seribu eksemplar buku sudah dikosongkan dari rak buku, disumbangkan atau diserahkan ke perusahaan daur ulang, sebagai jawaban paling lengkap atas pertanyaan mau diapakan dianya.
Kini jangankan menyerap pengetahuan dari buku, informasi yang terkandung dalam benak pun sudah meleleh banyak seperti salju pada awal musim semi.
Sampul buku terlampir ditemukan yang melambungkan bayangan ke masa lebih dari 15 tahun yang lalu saat menjelajahi Republik Fiji, negeri mungil yang tergeletak di atas Lautan Pasifik. Kaum buruh yang diboyong dari India oleh Inggris dan menetap di sana banyak yang beragama Hindu dan sebagian Islam.
Boleh jadi pribumi (yang dulu melakukan kanibalisme) merasa bergidik menengok tradisi Hindu yang menyakiti diri sendiri demi memenuhi tuntutan agama yang mereka boyong dari India.
Di Indonesia sendiri kasihan aku melihat anak laki-laki yang penisnya dikudungi demi memenuhi tuntutan agama impor dari Arab.

06 Selasa Mei 2025
Posted in jepang
A long time ago, in a fishing village called Pantai Air Manis in West Sumatra, there lived a widow named Mande Rubayah and her only son, Malin Kundang. She loved him dearly and often spoiled him. Malin Kundang was a diligent and obedient boy.
Life was not easy for the widow, who made a modest living selling sweet treats to provide for their needs. On Malin Kundang’s forehead was a noticeable scar—a reminder of a childhood accident when he fell while running.
One day, Malin Kundang fell gravely ill. His mother nursed him back to health with tireless devotion and love. From then on, their bond grew even stronger as they cared deeply for one another.
In this matriarchal society, sons traditionally did not inherit their parents’ wealth; property and inheritance were passed down to daughters. For boys, leaving the village to seek fortune elsewhere was a common practice. Since Malin Kundang had no siblings, he was set to inherit only the small hut they lived in. Determined to escape poverty, he decided to leave the village in search of a better life.
One day, a large ship docked at Pantai Air Manis, offering him a chance to fulfill his dream.
“Don’t go, Malin,” his mother pleaded. “I’m afraid something terrible might happen to you so far from home. Stay here with me.”
Her words echoed the universal hope of a mother who could not bear to part with her beloved child.
“Mom, don’t worry,” Malin reassured her, holding her hand. “Nothing will happen to me. This ship is my chance to change our lives. Another like it may not come for a long time.”
Though her heart was heavy, Mande Rubayah finally relented. “It pains me, but I will let you go,” she said while weeping heavily. “Be careful in the foreign land. Come back soon. I’ll always be waiting for you.”
On the day of his departure, Mande Rubayah accompanied him to the pier, handing him seven parcels of rice wrapped in banana leaves for his journey.
“I promise to work hard and return for you, Mom,” Malin vowed as he boarded the ship.
As the vessel sailed away, he waved to her one last time. She stood on the pier, her eyes brimming with tears, until the ship disappeared beyond the horizon.
Every day, Mande Rubayah gazed out to sea, praying for her son’s safety. Years passed without any news of him. Each time a ship arrived, she would rush to the pier, asking passengers if they had seen Malin Kundang. But no one knew of him.
As time went on, Mande Rubayah grew old and frail. One day, she met the captain of the ship that had taken her son to the faraway city. “Your son has married a nobleman’s daughter and lives a wealthy life,” the captain told her.
Hearing this, her heart filled with hope. She prayed for her son’s happiness and eagerly awaited his return. But months passed, and Malin Kundang still did not come home.
One day, a magnificent ship arrived at the pier. The villagers gathered to marvel at its grandeur, and among them was Mande Rubayah. A finely dressed man stepped off the ship with his beautiful wife. He was the owner of the ship. To her astonishment, the man was Malin Kundang.
“Malin! My son!” she cried, rushing to embrace him.
Startled, Malin Kundang and his wife stared at the frail old woman in tattered clothing. “Is this woman your mother?” his wife asked disdainfully. “You told me you came from a noble family like me.”
Ashamed, Malin Kundang pushed his mother away. “You are not my mother,” he declared coldly.
Mande Rubayah, heartbroken, pleaded, “Why, my son? Why do you deny me? I am your mother, who raised you with love and care. The scar on your forehead is proof of who you are!”
But Malin Kundang turned away, climbing back onto his ship. His mother, devastated, collapsed in tears.
Raising her hands to the heavens, she prayed, “Oh God, if this man is truly my son, show me Your justice. If he is not, forgive my accusation.”
The sky darkened, thunder roared, and a violent storm erupted. Towering waves battered Malin Kundang’s ship, overturning it. By morning, the storm had passed, and on the shore lay the remains of the ship turned to stone.
To this day, the rock resembling a ship can still be seen at Pantai Air Manis. Locals say that when waves crash against it, a mournful sound echoes—a voice crying, “Forgive me, Mother!” They believe it is the voice of Malin Kundang, forever regretting his disobedience.
(This legend, which contains moral teachings, was rewritten by Edizal)
=============================
LEGENDA MALIN KUNDANG
Pada masa lalu di sebuah perkampungan nelayan yang disebut Pantai Air Manis di Sumatra Barat, hiduplah seorang janda yang bernama Mande Rubayah bersama seorang anak laki-laki tunggalnya. Sang ibu amat menyayangi dan memanjakan anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang itu. Dia adalah seorang anak yang rajin dan penurut.
Sang ibu yang miskin hanya mampu bekerja sebagai penjaja kue untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua. Di kening Malin Kundang membekas luka yang cukup besar dan jelas karena dia terjatuh waktu berlari-lari. Suatu hari dia jatuh sakit. Itu adalah sakit berat yang membuatnya hampir mati. Tetapi, dia dapat diselamatkan berkat rawatan yang sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang oleh ibunya. Setelah sembuh dari sakit, dia semakin disayangi. Mereka adalah ibu dan anak yang saling menyayangi.
Ada tradisi dalam masyarakat matriarkad ini bahwa anak laki-laki tidak akan menerima warisan orang tua karena semuanya diserahkan kepada anak perempuan. Meskipun tidak ada saudara perempuan, meninggalkan kampung bagi anak laki-laki adalah tradisi yang diwarisi turun-menurun. Jadi, dia berniat meninggalkan kampungnya untuk mendapatkan pekerjaan di tempat yang lain dan minta izin kepada ibunya untuk mencari pekerjaan di kota. Kebetulan pada saat itu ada kapal besar yang merapat di Pantai Air Manis.
“Janganlah berangkat Malin. Aku khawatir terjadi sesuatu denganmu di tempat yang jauh sekali dari sini. Tinggallah di sini dengan ibu,” jawab ibunya sedih.
Itu adalah harapan lumrah dari seorang ibu yang tidak ingin melepas anak satu-satunya yang disayanginya pergi ke tempat lain yang jauh.
“Ibu tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa denganku,” kata Malin sambil menggenggam tangan ibunya.
“Aku ingin naik kapal besar yang sedang berlabuh di dermaga. Ini kesempatan yang baik bagiku untuk naik kapal, pergi ke kota, dan mengubah kehidupan kita. Dalam setahun berikutnya, boleh jadi tidak ada kapal lain yang akan berlabuh di sini. Jadi, aku ingin naik kapal besar itu sekarang,” tambahnya.
“Baiklah, aku izinkan. Hati-hati di rantau orang. Cepatlah kembali, ibu akan selalu menunggumu, Nak,” jawab ibunya sambil menangis.
Pada hari keberangkatan, ibunya mengantarkannya ke dermaga dan menyerahkan tujuh buah nasi yang dibungkus dengan daun pisang sebagai bekal di perjalanannya.
“Aku berjanji akan bekerja keras di kota dan akan kembali menjemput ibu,” katanya sebelum naik ke atas kapal.
Malin Kundang melambaikan tangan kepada ibunya saat kapal mulai bergerak menuju lautan. Ibunya terus berada di dermaga dengan linangan air mata sampai kapal itu tenggelam di balik horizon.
Setiap hari sang ibu selalu memandang ke laut lepas dan berdoa akan keselamatan anaknya di rantau. Bertahun-tahun berlalu dia tidak beroleh kabar tentang anaknya yang pergi jauh itu yang membuatnya cemas. Setiap tahun waktu kapal besar berlabuh, dia pergi ke pelabuhan dan menanyakan kepada penumpang yang dikenalnya yang turun dari kapal adakah mereka melihat anaknya di rantau. Tetapi, semuanya menyatakan bahwa tidak pernah melihatnya.
Sang ibu menjadi tua dan berjalan dengan terbungkuk-bungkuk. Suatu ketika dia pergi ke pelabuhan dan kebetulan bertemu dengan nakhoda kapal yang pernah membawa anaknya ke kota. Sang nakhoda menyampaikan, “Anakmu sudah menikah dengan seorang putri bangsawan yang kaya raya dan hidup bahagia di kota yang jauh itu.”
Kabar itu melahirkan sinar kebahagiaan dalam dirinya dan berdoa agar anaknya selalu sehat. Dia juga berharap anaknya akan cepat datang menjenguknya. Tetapi, berbulan-bulan berlalu semenjak dia menerima kabar itu, anaknya tidak juga muncul di dermaga yang selalu dikunjunginya.
Setiap malam dia berdoa dalam sepi, “Cepatlah pulang, anakku. Aku sungguh rindu mau berjumpa dengan kamu.”
Suatu hari sebuah kapal yang besar mendarat di pelabuhan. Banyak orang, termasuk sang ibu, datang ke sana untuk melihat kapal itu. Pemilik kapal yang berpakaian mewah itu turun dari kapal bersama istrinya yang cantik yang membuat sang ibu terpesona. Ketika pasangan itu lewat di dekatnya, dia terkesiap karena pemilik kapal itu adalah anaknya sendiri.
“Kamu Malin Kundang, ya? Kenapa kamu tidak pernah memberi kabar kepadaku, kepada ibu kandungmu ini?” tanya dia sambil memeluk laki-laki itu.
Laki-laki dan istrinya itu sangat terkejut melihat wanita tua yang berpakaian compang-camping itu. Tidak lama kemudian, sang istri bertanya, “Apakah wanita miskin ini ibumu? Bukankah kamu pernah berkata bahwa kamu juga berasal dari keluarga bangsawan yang sederajat denganku?”
Ya, dia adalah Malin Kundang dan wanita yang memeluknya itu adalah ibu kandungnya sendiri. Lantaran malu sekali terhadap istrinya, dia melepaskan pelukan wanita itu dan berkata, “Kamu bukan ibuku.”
Sang ibu sangat terkejut dan terpana memandangnya sambil berkata dengan amat pilu, “Kenapa kamu berkata begitu? Kenapa kamu menolak ibu kandungmu, ibu yang bersusah payah membesarkanmu sejak lahir? Di keningmu juga masih ada bekas luka yang kamu bawa sejak kecil. Bekas luka itu juga adalah bukti nyata bahwa kamu pasti Malin Kundang, anak yang sangat kusayangi dan kurindukan.”
Sang laki-laki mendorong wanita itu sampai terjatuh dan berlalu dari sana dan naik kembali ke atas kapalnya. Wanita yang sudah tua itu terpana, menangis pilu, merasa terpukul sekali, dan pingsan. Ketika siuman, terlihat kapal yang besar itu sudah mulai menjauh dari pelabuhan.
Dia menengadahkan tangan ke atas dan berkata, “Oh, Tuhan. Jika laki-laki itu bukan anakku, maafkan atas perbuatanku itu. Jika dia memang anakku, Malin Kundang, perlihatkanlah keadilanmu kepadaku.”
Cuaca yang cerah tiba-tiba menjadi mendung. Hujan turun dengan lebatnya dan petir yang keras menggelegar. Badai yang besar menciptakan ombak yang menggunung yang menghantam kapal Malin Kundang. Kapal itu terguling-guling di laut dan tergolek di kaki bukit karang. Semua penumpangnya tewas.
Pagi hari berikutnya ketika badai sudah berlalu, cuaca menjadi cerah. Di pantai itu terlihat sebuah kapal yang sudah menjadi batu.
Sampai sekarang batu karang yang berbentuk kapal itu masih ada di Pantai Air Manis. Setiap kali ombak menghantamnya, kedengaran bunyi yang seolah-olah suara orang yang meratap pilu, “Ibu, aku adalah anak durhaka. Ampunilah aku, Ibu!” Orang-orang berkata bahwa bunyi yang seperti suara orang yang merintih dalam penyesalan itu adalah suara Malin Kudang yang durhaka kepada ibunya.
(Legenda, yang berisi ajaran moral ini, ditulis ulang oleh Edizal.)

25 Jumat Apr 2025
29 Senin Jan 2024
Posted in jepang
Bangsa Yahudi/Israel, menganggap diri sebagai “bangsa pilihan” dan diamini oleh penganut agama yang lain. Jika benar adanya, tentulah ini bentuk contoh lain dari diskriminasi oleh Tuhan yang maha tidak adil.
Pemerintah Iran ingin melenyapkan Israel dari peta dunia dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggambarkan Israel sebagai negara teroris sembari mengelu-elukan Hamas sebagai kelompok pembebas.
Tentu saja kebencian yang parah itu juga dimiliki oleh banyak warga muslim yang bermukim di negara yang lain.
Kebencian begini sudah hadir dari berabad-abad yang lalu. Kerajaan Yahudi, yang sudah berdiri sejak 3.000 tahun yang silam mendiami daerah Israel sekarang ini, diluluhlantakkan oleh pasukan Romawi pada tahun 70 yang memaksa mereka berdiaspora ke mana-mana.
Pada tahun 1099 Yerusalem direbut oleh pasukan Perang Salib dari Eropa, sekitar 70.000 muslim dibunuhi dan Yahudi yang tersisa digelandang ke sinagog untuk dibakari.
Kendati menyebar hampir ke seluruh dunia, penganut Yahudi tidak tertarik menyebarkan agamanya. Sementara itu penganut agama turunannya (Kristen dan Islam) getol amat mempromosikan dogmanya ke seluruh dunia.
Saat pandemi “Black Death” yang mengerkah 25.000.000 – 30.000.000 nyawa pada Zaman Pertengahan di Eropa, orang Yahudi dijadikan kambing hitam sebagai penyebarnya dan dituding meracuni sumur-sumur. Akibatnya, lebih dari 200 orang Yahudi dibunuh.
Peristiwa holocaust di Eropa menjelang dan semasa PD II bisa dikatakan sebagai puncak kebencian antiyahudi yang melenyapkan sekitar 6.000.000 nyawa Yahudi, sekitar 1/3 dari jumlah mereka di atas bumi. Tetapi, holocaust itu sendiri sudah dimulai jauh hari di Rusia dengan 3 kali kejadian yang tragis.
Sejarah yang amat menggetirkan tersebut tertanam kuat dalam psikologi bangsa Yahudi, membuat mereka belajar dan berusaha habis-habisan mendaki gunung tertinggi agar tragedi atau trauma diskriminasi, penghinaan, dan pembunuhan tidak lagi terjadi terhadap “bangsa pilihan Tuhan”.
Pasukan Hamas, yang menyerang/membunuhi/memerkosa warga sipil Israel pada 7 Oktober 2023, tidak paham psikologi bangsa Yahudi dan wajar beroleh karma yang setimpal bersama puing-puing bangunan hancur lebur di sana-sini.
Warga Gaza yang sebagian besar adalah pendukung Hamas pun terpaksa beroleh karma yang menyakitkan atas laku Hamas yang senantiasa mereka gadang-gadang itu.
(Sumber: Buku, TV, dan internet)
20 Sabtu Jan 2024
Posted in jepang
Terkenang masa lalu, saat musim hangat sudah hengkang entah ke mana. Kutub Utara mengepak-ngepakkan sayap dinginnya menyelimuti kota kecilku yang sunyi.
Sering kali langit bersedih hati tersaput awan kelabu yang sendu. Sebaliknya pepohonan mulai ganti baju, bersolek indah menggincui daun-daunnya, kuning, merah, dan pun cokelat demi mengekang penguapan dalam udara yang kering. Beberapa di antaranya melayang gugur mewarnai jalan yang dilalui murid-murid sekolah menuju impian masa depan mereka.
Pada musim gugur yang dingin begini, membuka mata pagi hari adalah pekerjaan yang berat sekali. Maunya terus saja kutidur pagi siang malam di balik selimut yang hangat. Maunya kumenjadi beruang yang tidur nyenyak selama musim salju. Sayang sekali, tak bisa kumenjelma menjadi beruang.
Jika pada musim panas burung-burung pagi sudah mulai menyayi dengan gembira untuk membangunkan mentari dan dunia, pada musim gugur ini burung-burung pun sering bangun kesiangan. Mentari dan dunia pun tidak mampu membukakan kelopak matanya sebelum pukul 6 pagi.
Saat kucoba bangun dalam rasa kantuk yang terpalun, yang terdengar hanyalah sisa-sisa senandung serangga malam sayu-sayup dari kejauhan yang meninabobokkan.
“Bangun!”
Suara siapa itu yang rasa-rasanya pernah kudengar? Mungkin kubermimpi, jadi begitu saja kukatupkan mata ini dan tidur lagi. Setiap orang tahu bahwa tidur nyenyak adalah salah satu masa paling bahagia hidup di dunia bagi manusia.
“Cepat bangun! Sudah waktu!”
Kali ini suara itu kedengaran lebih keras seperti petir yang menyambar. Sadar aku akan suara itu yang keluar dari mulut bini yang mulai hilang kesabaran dan tegak berdiri di depan pintu kamar tidur berwajah keras kaku. Kulirik dia dari sudut mata sembari merunduk kecut berjelaga. Sosoknya yang mengerikan itu membayangkan sosok harimau yang sering melintasi dusunku pada malam hari di masa lalu.
Jika tak lekas bangun, “harimau ini” akan menjelma menjadi raksasa. Busananya akan koyak-koyak lantaran otot badannya yang mengeras dan membesar. Mulutnya akan menyemburkan api neraka yang sangat panas untuk menjadikanku daging bakar yang gosong.
Geramannya yang amat dahsyat akan menghancurkan flat, menumbangkan pepohonan, dan meruntuhkan Gunung Fuji. Buah dadanya yang besar pun akan memanjang menembus dinding flat. Taringnya yang tajam akan meruncing mengerkah habis badan kurusku.
Aku belum mau mati. Jadi, cepat-cepat kusambar pakaian dan lari menuju kamar mandi. Mengguyurkan air yang hangat ke tubuh buruk ini dalam udara yang dingin sangatlah enak dirasa. Suhu air di-setting sedikit lebih hangat daripada suhu tubuh. Itu juga semacam kebahagiaan yang tidak ternilai harganya dalam udara dingin yang menggigit.
Selepas mandi, kunikmati sarapan yang terdiri dari sepotong roti tawar dengan selai kacang dan secangkir teh tawar sembari memelototi surat kabar pagi. Sehabis rehat sejenak, potongan-potongan pisang yang disirami yoghurt mengisi bagian perut yang masih kosong.
Waktu yang tersisa hanya sedikit menjelang bus jemputan menepi di depan flat. Masa yang beberapa menit ini sering kumanfaatkan untuk melamun sembari memandang ke luar, termasuk melamuni bini yang selalu mempersiapkan kebutuhan diri ini dan lebih berharga daripada Tuhan itu sendiri.
“Bus segera datang! Nanti terlambat!”
“Ya,” balasku sembari menengok jam dinding yang sudah menunjuk angka 7.38 dan keluar tergesa-gesa.
Adakah teori evolusi dapat dirujuk untuk memberi jawab atas tanya mengapa perempuan tahun-tahun belakangan ini kelihatannya lebih kuat dan lebih tegas berlaku? Adakah figur asli “bundo kanduang” yang ramah-tamah sudah lenyap ditelan bumi? Bagaimanapun juga mungkin hanya pejantan yang sudah menikah saja yang tahu betapa kadang-kadang seorang bini itu memang lebih mengerikan daripada harimau.
Life must go on. Esok pagi drama yang sama akan terulang lagi.
17 Rabu Jan 2024
Posted in jepang
The largest house stood majestically in the village. This wooden house had two bedrooms filled with my family and my aunt’s family as well. There was also a spacious living room. Even though our house was quiet during the day, it became lively in the late evening because my five cousins often came to spend the night after eating dinner.
Sometimes my uncle had extra money to buy kerosene to light a glass oil lamp that had a wick made from used clothes. Since we always skimped on expensive kerosene, we never used the oil lamp for lengthy periods of time. As usual, girls slept near the bedrooms, while boys slept near the windows. This was an unwritten rule that was strictly followed.
After the light was snuffed out, everyone became silent to await coming dreams. Only a faint sound of crickets, as if in an orchestra, was heard outside.
One day at the brink of dawn, when we were still lulled in our dreams, we were suddenly startled by a terrible scream from my aunt’s bedroom. It was similar to Screaming Jay Hawkin’s shriek in his song “I Put a Spell on You”. What happened?
Everyone woke up. We understood about the commotion. For a few nights, the shamanic midwife had been sleeping in my aunt’s bedroom who was heavily pregnant. Calling this midwife who lived in another village to come suddenly if contractions started at night wasn’t a choice.
With no electric lights or even flashlights to use on the sloping dirt road out front could leave one open to being accosted by a tiger, which would be no fun at all.
In the darkness, we saw my uncle who was sleeping near us quickly stand up. A baby’s screams provided proof that the birth with the help of the shamanic midwife went smoothly. The loud screech also awakened the roosters to orchestrate along with the baby to wake up the sun.
“In your opinion, is the baby a boy or a girl,” asked Undin in a whisper.
“I have no idea,” I answered.
“It’s definitely a boy.”
“Why are you so sure?”
“Because the screaming is so deafening. Full stop,” he stressed with powerful reasoning.
His firm expressions gave birth to happiness that penetrated the recesses of us boys’ hearts. The presence of a baby boy in this little village really would make us very satisfied. Increasing the number of our gender would naturally increase our pleasure. That meant there would be an additional member to be a fruit picker, fisher looking to catch fish in the river, hunter of wild animals for food, firewood collector in the jungle, and worker in the fields. Good deal!
However, reality does not always align with strong and reasonable expectations. It was later discovered that the newborn baby was a girl. This made dark clouds linger around our heads, changing hope into steam.
“She screamed out loud just like me when my butt got stung by a scorpion,” said Inai in a whisper.
“Why do babies cry when they are born?” asked Kalonok.
“Maybe they don’t want to be born as a human,” answered Cilik.
“Maybe babies want to be born as monkeys so they can scramble up trees with ease,” Undin theorized.
“Or, they want to be born as a tiger to be a king of the jungle,” said Siih.
“What is certain is that babies announce their presence with a loud voice to us and the universe,” stressed Irin.
As usual, the shamanic midwife warned against bringing my new, tiny cousin to the weekly market in a nearby village. There was a belief that perhaps a palasik (a wicked woman with supernatural powers) would be there who has the ability to suck babies’ blood from a distance.
She added that it was necessary to shut the door of the house tightly because who knew when a palasik would pass by the front of the house. This story can be inherited by generation after generation, by those who do not receive even an elementary school education.
Whenever a newborn baby dies, rumors immediately spread that the little one had run out of blood because it was sucked by a palasik. In a remote hamlet where the clock of civilization stopped ticking long ago, superstition still lives on today.
Stories like this are believed by many because they are emphatically told by the elders. These kinds of beliefs will continue until the educated and logical younger generations dispel such baseless myths.
A few weeks later, the shamanic midwife came again to see the baby. I saw her holding the baby’s hands. She repeatedly lifted them high, followed by dropping them down with force. Then she grabbed the baby’s legs, turned her upside down, and repeatedly dropped her legs down, too. Lastly, she held the baby’s head and did similar, rough actions.
“This will make the baby grow tall quickly,” said the shamanic midwife.
Everyone trusted her words and did not feel sorry for the baby who was wailing loudly.
My scholarship project has transformed villagers’ perception on the value of education, including the emergence of having a medically-oriented midwife in the area. A local couple mortgaged their rice field to borrow money for their daughter’s education.
A Kayupasak scholarship fortunately stepped in to complete the tuition fees needed. Now their daughter fulfills that need as a knowledgeable midwife in my village and beyond.
12 Kamis Okt 2023
Posted in jepang
Bernie Sanders, senator Amerika keturunan Yahudi, mengkritik perilaku Pemerintah Israel terhadap daerah Gaza.
Ada perusahaan film Israel yang mendokumentasikan derita anak-anak Gaza, ada pengacara Israel yang mengkritik pengeboman Gaza, ada pilot pesawat tempur Israel yang menolak mengebomi Gaza, dan sebagainya.
Kalau di Gaza ada orang yang berani mengkritik perilaku Hamas, termasuk memenggal kepala bayi Israel, tentulah kepalanya ikut-ikutan terpenggal.
Seperti Pemerintah Iran yang menyokong dan mengelu-elukan gawe Hamas, gerombolan idiot di Nusantara juga banyak yang berlaku begitu.
Beda peradaban.

09 Sabtu Sep 2023
Posted in jepang
Iklim keberagaman di Kota Padang kembali tercemar oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kali ini tindakan diskriminasi dan intimidasi menimpa jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Solagracia Kampung Nias 3 Kota Padang yang pada Selasa 29 Agustus 2023 tengah melaksanakan kegiatan peribadatan di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Banuaran Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun Pelita Padang dari keterangan para korban serta pendamping hukum, rangkaian peristiwa tersebut bermula dari kegiatan peribadatan jemaat GBI Solagracia Kampung Nias 3 Padang. Ibadah keluarga tersebut dimulai pada 20.10 setelah waktu sholat isya. Kegiatan berlangsung di sebuah rumah kontrakan yang disewa oleh J, anggota jemaat dengan dihadiri oleh 15 orang.
Sekitar pukul 20.30 ketika jemaat masih melaksanakan ibadah, seorang perempuan bernama L datang bersama suaminya R, memaksa ibadah untuk dihentikan. Sepasang suami istri itu tinggal di belakang rumah kontrakan tempat dilaksanakan ibadah.
Menurut pengakuan L dan R, rumah kontrakan tersebut adalah rumah milik keluarga besar mereka. Tindakan penghentian tersebut juga disertai kekerasan. Dengan alasan kegiatan ibadah jemaat GBI membuatnya terganggu, perempuan tersebut melempar batu sebanyak dua kali ke jendela hingga kacanya pecah.
Jemaat yang tidak menduga akan menerima tindakan tersebut sontak keluar, sehingga terjadi perdebatan. Di tengah perdebatan, seorang pria bernama Dodo datang dengan membawa parang. Ia mengaku juga merupakan anggota keluarga dari pemilik rumah kontrakan.
“Ini rumah juga ada hak saya, kalian cuma ngontrak! Saya gorok kalian nanti,” ia mengancam. Setelahnya datang lagi N (adiknya L) datang membawa kayu panjang di kedua tangannya dan hendak memukul Martinus, salah satu jemaat yang hadir. Namun ditahan oleh J. Ke-empatnya (L, R, D, N) tetap memaksa membubarkan ibadah. Warga sekitar mulai berdatangan karena keributan tersebut.
Menyusul kegaduhan tersebut, Ketua RT dan RW kemudian datang. Ketua RT menyebutkan ibadah yang dilakukan di rumah tersebut tidak ada izin. Padahal ketika awal kontrak rumah, J sudah memberitahu ke RT. J menjelaskan jika sudah dapat izin dari pemilik rumah kontrakan yang bernama Y. Sementara Ketua RW menyebutkan tidak masalah jika pemilik kontrakan sudah mengizinkan.
Salah satu jemaat GBI Solagracia Kampung Nias 3 Padang kemudian pergi ke Polsek Lubeg untuk melapor meminta perlindungan. Sebagai tindak lanjut, polisi dari Polsek Lubeg datang dan membawa L, R, D, N ke Polresta Padang untuk diperiksa.
Menanggapi kejadian ini, Ketua Pelita Padang Angelique Maria Cuaca menyayangkan tindakan pelanggaran hak kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) tersebut.
“Pelarangan beribadah adalah tindakan yang mencederai hak asasi manusia. Setiap manusia itu apapun etnik dan agamanya adalah setara dan semartabat, sudah seharusnya saling memberi ruang. Bukan sebaliknya malah meniadakannya kelompok yang berbeda,” ungkap Angelique dalam keterangannya, Kamis 31 Agustus 2023.
Dengan demikian Pelita Padang sangat menyayangkan mengapa penolakan yang berujung pada tindakan kriminal itu bisa terjadi. Pelita Padang meminta pemangku kebijakan maupun aparatur negara menjamin kebebasan beragama dan bekepercayaan warga negaranya. Dalam kasus ini, pemerintah kota sampai level terkecil yakni tingkat RT dan RW wajib memfasilitasi dan memastikan setiap warganya bisa mengekspresikan keagamaan mereka dengan aman dan nyaman.
@ FB Pelita Padang, 1-9-2023
(*Judul bukan dari Pelita Padang)

24 Kamis Agu 2023
Posted in jepang
Pendidikan zaman dahulu di Sumbar melahirkan banyak tokoh-tokoh nonagamais yang mampu berbicara di tingkat nasional dan internasional.
Kebebasan berpendapat mendapat tempat dan orang-orang seperti Tan Malaka, Syahrir, dan Moh. Hatta bisa mengeluarkan ide-ide bernas bagi kemajuan negeri ini. Yang terakhir ini mampu menduduki kursi wapres.
Bandingkan dengan Sulsel yang pula melahirkan wapres dan bahkan presiden, terlepas dari rute yang mereka lalui. Pakar bidang nonagamais yang terkemuka juga banyak lahir di sini. Provinsi ini dulu melahirkan Raja Karaeng Pattengaloan yang mencintai ilmu pengetahuan, pintar matematika, membaca banyak buku berbahasa Portugis, dan pada 1654 mengimpor teleskop Galileo ke Makassar. Petinggi yang haus akan ilmu sains MIPA ini berpengaruh besar bagi masa depan generasi mudanya.
Sekarang pendidikan yang memberikan udara kebebasan sudah tidak terlihat lagi di Sumbar dan orang-orang sibuk mengamini saja ajaran impor dari Arab dan tidak menyediakan ruang kesadaran kritis yang sangat dikedepankan orang dahulu.
Siswi sekolah dipaksa mengenakan jilbab dengan aturan yang supercanggih sehingga mereka tidak bisa berkutik lagi, tidak bisa meneriakkan suara hati yang asli. Ini berakibat fatal bagi masa depan generasi muda. Sebab, aturan bau agamais sukar dilenyapkan, kecuali rakyat memiliki kesadaran dan logika yang tinggi dalam tataran rasional yang demokratis.
Ahli pendidikan menolak menimba ilmu dengan hafalan, apalagi hafalan bahasa Arab yang tidak mampu mengembangkan kreativitas sama sekali.
Bahkan Unand sebagai universitas terbaik di Sumbar mampu menggadaikan keilmiahannya dengan merekrut mahasiswa lewat hafal ayat Qoran yang mencengangkan kaum akademik di universitas yang lain dan menjadi bahan tertawaan bagi orang di negara maju.
Orang-orang dan lembaga begini beranggapan strategi irasional tersebut sangat bagus bagi masa depan generasi muda, sementara pihak lain menganggapnya sebagai usaha sahih untuk menghancurkan masa depan Sumbar.
Kelak para badut irasional ini akan kembali menjadi tanah dan tidak bisa diminta pertanggungjawabannya yang sudah bikin sumbar tidak hanya jauh ketinggalan secara teknologi, tetapi juga luluh lantak sekali dengan kebijakan basi ini.
