Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu,
wahai seorang wanita di ujung timur kota ini
Jantungku berdegup
Aku berdoa semoga lidahku tidak kelu
Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu
Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu,
wahai seorang wanita di ujung timur kota ini
Jantungku berdegup
Aku berdoa semoga lidahku tidak kelu
Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu
Aku ingin bersamamu
dan katakan apa yang baiknya aku lakukan untukmu
Aku tidak ingin seperti mereka
lelaki yang mendekatimu dan kemudian menghilang
bersama derit-derit waktu
Tahukah kamu apa isi hatiku ?
degup-degup yang semakin mendegup
atas kesempatan yang tercipta dan tertahan selama
jeritan waktu tiga tahun
Aku ingin bersamamu
Waktu serasa berhenti kini
Batu-batu sebuah istana yang telah kususun
untukmu
Kini membisu
Diam setengah jadi membentuk dinding
Entah dilanjutkan atau tidak
Aku gamang
Bingung
Kata demi kata telah ku susun
Ku rangkai menjadi beragam cerita
Telah aku atur permulaan kalimatnya
yang aku yakin akan dilanjutkan dengan cerita yang telah ku susun
Tapi semua buyar!
Aku kehilangan kata-kata memandang wajahmu
Aku tidak mampu berkata di hadapanmu
Entahlah!
Mungkin aku terpesona paras wajahmu
Karena jantungku berdegup memang ditatap kedua matamu
Memang tidak akan ada yang merasa tidak dirugikan
Titian waktu telah dilewati
Benang-benang mimpi telah dijahit
Aku menjadi engkau,
engkau menjadi aku
Tapi roda nasib berputar lain
Berbalik menjadi sebuah putaran gangsing
Dia berputar dan berhenti
Masihkah disesali apa yang telah terjadi ?
Memang tidak ada yang tidak merasa dirugikan
Ada setangkai mawar merah
Terselip diantara tumpukan buku
Debu memenuhi buku
Tetapi tidak dengan mawar
Aku ingin memberikan mawar itu
Kepadamu yang menunggu
Dalam hening dan syahdu
Semoga tak lekang waktu
20 hari lagi
Dan aku akan mengucapkan kata itu
Kata yang tertahan selama ini
dalam naik-turun perasaan,
dalam hening dan ramainya hari,
dalam galau dan optimis
Semoga mimpi menjadi kenyataan
20 hari lagi dan aku akan menjemputmu
bak ksatria penunggang kuda putih
yang menemui permaisuiri di menara istana biru
tunggulah saatnya tiba nanti
Mari sini Iblis jahanam
Mari bermain kembali bersamaku di taman
Taman yang diujung sana Malaikat menangis
kehilangan kedua sayapnya
dan bercak noda mengotori pakaian serba putihnya
Mari sini Iblis terkutuk!
Menarilah bersamaku dalam nada-nada sumbang
Penyimpangan tata nilai dan abnormalitas lainnya
sampai kita tertawa terbahak
Mungkin saja saat ini sejuta doa dipanjatkan
Sejuta harap diucapkan
Tetapi ketika darah dan air mata tertuang,
maka tersenyulah
Aku ingin menemanimu
Apa kabarmu di ujung sana ?
Ketika matahari pagi terbit dan aku ingin menyatakan isi hatiku
Kita duduk semeja malam itu
Engkau meminum teh hangat pesananmu
Kita duduk semeja malam itu
Berbicara dengan tak tentu
Rasanya bertahun-tahun aku mengenalmu
Tapi malam ini kita bagaikan hidup di dunia semu
Asing, penuh keasingan bersamamu
Maafkan aku, wahai wanita yang pernah aku cintai!
Tidak ada lagi degup-degup asmara di hati
Tidak ada lagi romansa tersisa untuk lelaki
Kita telah hidup dengan pilihan masing-masing saat ini