
Pak Wirya telah kembali ketanah air setelah selesai menunaikan ibadah haji, ketika telah sampai dirumah, acara penyambutan pun telah disiapkan dirumahnya. Para keluarga pak Wirya sibuk melayani & memberi hidangan para tamu, tetapi sang keponakan yang bernama Ezra tampak tidak ada ditempat acara. Sejak kedua orang tuanya meninggal saat dia masih berusia 6 tahun, Ezra diasuh oleh Pak Wirya. Ezra memang dikenal sebagai orang yang sangat keras kepala, bahkan sangat cuek dengan keluarga Pak Wirya. Anak laki-laki Pak Wirya bernama, Zen, Arka, bahkan tak suka dengan sikap Ezra, sepupunya itu, kecuali anak perempuan Pak Wirya yang bernama Laksmi. Sepupu-sepupunya menganggap bahwa Ezra adalah orang yang tidak tahu diri & tidak tahu berterima kasih. Karena Ezra meskipun Pak Wirya sudah merawatnya dari kecil hingga sekarang berusia 23 tahun, Ezra tetap bebal & sering membangkang perkataan Pak Wirya, padahal Ezra diberikan pasilitas kehidupan yang memadai disana, itu dikarenakan karena Pak Wirya adalah orang yang sangat kaya. Bahkan Ezra sering pulang pagi karena saat malam larut sering pergi ke diskotik dan mabuk-mabukan disana. Berbanding terbalik dengan sepupunya Zen, Arka, & Laksmi yang sangat taat beribadah. Pak Wirya juga adalah orang yang loyal & suka membagi-bagikan sedekah kepada tetangga & orang-orang yang tidak mampu. Seiring berjalannya waktu, gelar haji semakin melekat dalam diri Pak Wirya, para tetangga & orang-orang disekitarnya mulai menyebutnya “Pak Haji Wirya”.
Setelah menunaikan shalat subuh berjamaah dirumah, Pak Haji Wirya bersama anak-anaknya berdzikir & berdoa bersama. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Pak Haji Wirya & keluarganya beranjak dari tempat mereka beribadah menuju kedepan rumah. Alangkah terkejutnya mereka ternyata Ezra pulang kerumah dalam keadaan mabuk. Ekspresi marah terlihat di wajah mereka. Pak Haji Wirya mendekati Ezra & langsung menampar pipi Ezra, tetapi Ezra justru mengolok Pak Haji Wirya & berkata,”Dasar Haji bodoh..!! Tolol..!! Hahahaha..!!”
Mendengar penghinaan itu terhadap ayahnya, Arka & Zen langsung memukuli Ezra. Sementara Pak Haji Wirya & istrinya diam saja menyaksikan, Laksmi langsung merelai pemukulan kakak-kakaknya terhadap Ezra.
“Minggir..!! Saya masih mau beri pelajaran..!!” Kata Zen kepada Laksmi yang masih melindungi Ezra.
“Sudah kak, Ezra lagi mabuk.. Biarkan dia beristirahat dulu..” jawab Laksmi
Akhirnya Pak Haji Wirya & istrinya, Zen & Arka pergi meninggalkan Ezra ke kamar mereka masing-masing, sedangkan Laksmi membantu Ezra menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar, Laksmi membaringkan Ezra ke tempat tidur & menutupi tubuh Ezra dengan selimut.
“Makasih ya Laksmi, sepertinya diantara saudara-saudara kita cuma kamu yang tetap peduli sama aku.”Kata Ezra. Laksmi hanya tersenyum lalu mematikan lampu kamar Ezra lalu menutup pintu kamar pergi meninggalkan kamar Ezra. Gadis ini pergi menuju kamarnya.
Pada suatu hari, Pak Haji Wirya & keluarga makan malam dimeja makan. Tak lama kemudian Ezra datang bersama seorang gadis. Gadis itu berpakaian sangat seksi layaknya wanita malam. Pak Haji Wirya & keluarganya heran sambil melihat penampilan gadis itu. Isrti Pak Haji Wirya menanyakan kepada Ezra, siapa gadis itu. Ezra menjawab bahwa gadis itu bernama Lara, dia bekerja disebuah klub malam sebagai penghibur. Ezra juga meminta izin & meminta bantuan kepada Pak Haji Wirya untuk menikahkannya dengan Lara si wanita malam. Mendengar perkataan Ezra, Pak Haji Wirya langsung marah besar. Dengan lantang Pak Haji Wirya menolaknya, dia tak ingin dikeluarganya masuk seorang wanita malam. Ezra berusaha membujuknya, tapi Pak Haji Wirya tetap menolak mentah-mentah. Zen kemudian berkata,”ternyata seleranya Ezra hanyalah seorang pelacur..” Kemudian Ezra emosi & langsung memukul wajah Zen hingga terjatuh. Ezra tak terima bila Zen menghina Lara.
“BANGSAT KALIAN SEMUA..!! BAIKLAH, KALAU KALIAN TAK SETUJU SAYA MENIKAH DENGAN LARA, SAYA AKAN PERGI DARI RUMAH INI..!!” kata Ezra dengan penuh emosi.
Arka menjawab,”Hahahaha.. Memangnya siapa yang membutuhkan kamu disini..?? Bukankah malah kamu yang butuh kami disini. Kamu nggak punya pekerjaan, kamu makan disini, kamu tidur disini.. Pergi aja..!! Coba aja kalau kamu bisa hidup tanpa kami..”
Mendengar jawaban Arka, Ezra langsung menggenggam tangan Lara,”Baiklah, saya akan buktikan kalau saya bisa hidup tanpa kalian..!!” kemudian Ezra pergi dari rumah. Keluarga Pak Haji Wirya justru senang Ezra pergi, kecuali Laksmi yang terlihat sedih ketika Ezra pergi.
Sepuluh tahun kemudian, seperti biasa Pak Haji Wirya & keluarganya mengumpulkan para tetangga yang tidak mampu untuk berkumpul didepan rumahnya karena Pak Haji Wirya akan membagi-bagikan sembako.
“Terima kasih Pak Haji, berkat sembako yang diberikan dari Pak Haji, kehidupan keluarga saya jadi sangat terbantu.” kata salah satu warga yang diberikan sembako.
“hehehe.. Biasa aja kok, saya justru senang bisa membantu kalian. Kalian bisa hidup damai, saya pun bisa ikut bahagia karena merasa puas bisa membantu kalian.. Hehehe”,jawab Pak Haji Wirya.
Tiba-tiba saat itu, Laksmi menjadi murung dan langusng masuk kedalam rumah. Bahkan hingga makan siang keluarga di meja makan, Laksmi terlihat murung. Istri Pak Haji Wirya bertanya kepada anak gadisnya itu,”ada apa,nak?? Kenapa dari tadi kok murung terus..??”
Kemudian Laksmi menjawab,”saya ingin mempertemukan dengan seseorang yang punya sifat lebih mulia dari Bapak.”
Mendengar perkataan Laksmi tersebut, mereka sedikit terkejut, tapi Pak Haji Wirya tetap berusaha untuk tersenyum.”Baiklah,nak.. Jika ingin mempertemukan orang itu dengan kami, silahkan.. Bapak siap kapan saja.. Yang penting jangan murung lagi ya, nak.!”
“ya Pak, saya akan segera hubungi dia dan akan membawa mereka besok malam.”Jawab Laksmi.
“Siapa sih orang itu..?? Cowok baru ya..?? Mau mengenalkan aja pake murung begitu. Hehehe..”goda Zen
“besok kalian bisa lihat sendiri, & saya harap besok kalian semua ada disini.” Jawab Laksmi.
Keesokan harinya setelah shalat Isya, pak Haji Wirya & keluarganya menanti kedatangan orang yang kemarin diceritakan oleh Laksmi. Rasa penasaran muncul dalam diri mereka. Tak lama kemudian terdengar suara mobil dari arah depan rumah. Mereka langsung bergegas kedepan rumah. Tampak sebuah mobil berhenti didepan rumah. Lalu pemilik mobil & penumpang disampingnya keluar dari mobil itu. Keluarga Pak Haji Wirya terkejut, karena yang keluar dari mobil itu adalah Ezra & istrinya yang berpakaian busana muslim syar’i beserta seorang anak perempuan berumur 3 tahun. Mata pak haji Wirya beserta keluarganya tak berkedip melihat Ezra & keluarganya. Mereka heran, Ezra yang dulunya berpenampilan sembrono, sekarang berpakaian rapi & cukup agamis. Ezra & istrinya mendekati Pak Haji Wirya & keluarganya.
“Assalamu alaikum..” sapa Ezra. Tetapi sangking terpananya melihat penampilan Ezra, Pak Haji Wirya & keluarganya tak menjawabnya. Bahkan penampilan istri Ezra yang dahulu berpenampilan seperti pelacur, sekarang menggunakan pakaian serba panjang & ditutupi dengan jilbab panjangnya.
“walaikum salam.. Mari kak, ayo silahkan masuk..!!” Jawab Laksmi. Lalu mereka semua masuk kedalam rumah & duduk disofa ruang tamu. Pandangan keluarga Pak Haji Wirya tetap terfokus pada penampilan Ezra & istrinya yang sedang menggendong putri kecilnya yang sangat berubah drastis. Ezra terlihat lebih rapi, santai berwibawa. Kemudia Ezra menyapa Pak Haji Wirya & keluarganya dengan santun. Perbincangan pun mulai terjadi. Dalam perbincangan, ada rasa penasaran dari Pak Haji Wirya kepada Ezra, bagaimana mungkin Ezra yang dulunya rusak, sekarang bisa bagus seperti ini. Ezra hanya tersenyum & menceritakan semuanya dari awal.
“Alhamdulillah, ini semua adalah hidayah dari Allah.. Allah yang memberikan kenikmatan ini semua & menunjuk Laksmi sebagai perantaranya, & hikmahnya setelah meninggalnya anak pertama saya.”jawab Ezra.
“Laksmi..?? Jadi selama ini Laksmi selalu bersama kalian..?? Terus tentang meninggalnya anak pertama anda..??” tanya Pak Haji Wirya.
“Ya om, selama ini secara diam-diam, Laksmi telah banyak membantu saya. Ini adalah Marwah anak kedua saya. Kakaknya laki-laki yang bernama Danar telah meninggal akibat kecelakaan. Dari sinilah hidayah dari Allah itu datang.” Jawab Ezra
Keluarga Pak Wirya semakin penasaran & ingin agar Ezra segera menceritakannya. Kemudian Ezra pun menceritakannya.
“Semua berawal dari saat saya meninggalkan rumah ini, saat itu om tidak menyetujui hubungan saya dengan istri saya yang latar belakangnya tak sesuai dengan keinginan om & keluarga. Saya pergi dari rumah ini & tak mempunyai tempat tinggal juga tak punya uang. Laksmi menghubungi saya dan menyewakan tempat kost untuk saya. Selama berbulan-bulan saya tinggal di kost yang dibiayai oleh Laksmi. Laksmi pun memberikan saya modal untuk wirausaha. Saya membeli sebuah gerobak untuk berjualan sayuran.”
“Beberapa bulan kemudian saya menikahi Lara yang menjadi istri saya sekarang ini. Di rumah tangga kami, kami mempunyai anak laki-laki & saya memberikan nama Danar. Laksmi sering berkunjung ke kost kami, Laksmi suka sekali menggendong & bermain dengan keponakannya.”
“Saat Danar Usia 3 tahun, saya, istri, & anak saya berjalan dipinggir jalan untuk membeli sesuatu. Tiba-tiba Danar lepas dari pengawasan kami, Danar tiba-tiba berlari ketengah jalan kemudian ditabrak oleh sebuah mobil yang dikendarai oleh wanita paruh baya. Ibu Pemilik mobil yang panik langsung membawa kami kedalam mobil menuju rumah sakit untuk menyelamatkan Danar. Tapi sayang, Danar meninggal sebelum sempat sampai kerumah sakit.”
“Kami sangat sedih & terpukul, rasanya saya ingin menghajar ibu itu sampai mati. Tapi tiba-tiba saya melihat wajah ibu itu yang penuh penyesalan, & beliau pun ikut bersedih. Beliau bernama ibu Harmiah, dia berjanji akan bertanggung jawab kepada kami atas musibah ini. Ibu Harmiah yang membiayai pemakaman anak kami. Beliau pun meminta kami untuk tinggal dirumahnya. Ibu Harmiah ternyata tinggal sendiri dirumah yang besar. Suaminya sudah lama meninggal dunia & tidak dikaruniai seorang anak. Beliau menjadikan kami sebagai anak angkatnya, sehingga kami diperlakukan seperti seorang anak baginya. Bahkan saya diberikan perkejaan di perusahaan miliknya. Saya diajarkan cara berbisnis, saya diberikan banyak ilmu kepada beliau. Beliau adalah orang yang sangat sabar, beliau mengajari saya dengan sangat detail agar mudah saya pahami. Dan satu yang paling penting, beliau mengajarkan kami betapa pentingnya agama. Dia berkata bahwa kalau kita taqwa Allah, maka Allah akan memberikan kenikmatan yang tiada tara, bahkan seolah harta yang banyak tak ada artinya jika dibandingkan dengan karuniaNya.”
“Dua tahun kemudian, Bu Harmiah jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Kami sangat sedih, terpukul & merasa sangat kehilangan sosok seorang ibu. Lalu ada sesuatu yang lebih mengejutkan kami. Segala harta warisan beliau diberikan kepada kami. Rumah, perusahaan, dan lainnya diwariskan kepada kami. Karena bagi ibu Harmiah kami adalah anaknya. Satu hal yang membuat kami sedih, sebelum kepergiannya dia berkata bahwa kami adalah anaknya di akhir hidupnya. Makanya dia berkata jangan pernah meninggalkan agama, karena agamalah yang menuntun kita kejalan Allah sehingga kita bisa hidup damai seperti ini.”
Mendengar cerita Ezra, Pak Haji Wirya ikut sedih & meminta maaf karena dulu pernah meremehkan dia & istrinya. Tapi Ezra, malah berkata,”ada hikmah dibalik ini semua. Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, dibalik kesedihan pasti akan ada kebahagiaan & kedamaian, semua itu apabila kita tetap bersama Allah. Allah mengambil anak kami, tetapi Allah menggantinya dengan hidayah & kehidupan lebih layak.”
Ezra mengajak Pak Haji Wirya untuk berkunjung kerumahnya besok siang. Keesokan harinya, Siang hari Pak Haji Wirya sampai kerumah Ezra yang mewah. Ezra langsung menyambutnya dengan sukacita. Tak lama kemudian, datang seorang pengemis berdiri didepan pagar sambil mengulurkan tangan untuk meminta sedekah. Ezra melihat pengemis itu tetapi Ezra hanya diam saja. Malah Ezra langsung mengajak Pak Haji Wirya dan keluarganya kedalam rumah tanpa mempedulikan pengemis itu. Pak Haji Wirya heran mengapa Ezra tak mempedulikan pengemis itu.
Ketika didalam rumah, Pak Haji Wirya bertanya kepada Ezra mengapa Ezra tak mempedulikan pengemis itu? Bukankah dalam harta kita, sedikitnya adalah hak fakir miskin. Pak Haji Wirya menasehati Ezra agar jangan serakah & untuk selalu bersedekah. Tetapi Ezra hanya tersenyum & tidak menjawabnya. Ezra malah mengalihkan pembicaraan lain.
Dimalam harinya saat Pak Haji Wirya & keluarganya telah pulang kerumahnya. Pak Haji Wirya meminta sesuatu kepada Laksmi,”Nak, Bapak minta tolong kepadamu, kamu adalah saudara yang paling dekat dengan Ezra, Bapak mohon kamu nasehati Ezra, agar selalu mengingat fakir miskin & jangan lupa untuk bersedekah. Jangan terlalu rakus akan harta. Coba kamu liat bapak, apakah kamu pernah lihat bapak terlambat dalam bersedekah?? Tidak pernah, bukan?!”
Mendengar perkataan ayah, Laksmi hanya tersenyum,”kemarin saya berkata kepada ayah kalau Ezra lebih mulia dari bapak. Mengapa hingga saat ini saya tetap menilai kalau Ezra lebih mulia daripada bapak meskipun kita melihat tadi siang Ezra tak mempedulikan seorang pengemis? Besok saya akan beritahu jawabannya.”
Keesokan harinya Laksmi membawa ayah & keluarganya pergi kesuatu tempat. Ternyata tempat itu adalah sebuah panti asuhan. Laksmi membawa mereka masuk kedalam panti asuhan itu. Laksmi & keluarganya menemui pengurus panti asuhan itu. Pengurus panti asuhan itu sangat mengenal Laksmi karena ternyata Laksmi hampir setiap hari kesana. Laksmi meminta pengurus panti asuhan untuk mengambil suatu dokumen di panti itu. Pak Haji Wirya & keluarga bingung, apa maksud Laksmi ingin menunjukkan dokumen itu kepada mereka. Ketika pengurus panti datang & menunjukkan dokumen yang diinginkan, Laksmi langsung membuka dokumen itu dan memperlihatkannya kepada Pak Haji Wirya dan keluarganya. Mereka langsung terkejut ternyata didalam dokumen itu bertuliskan bahwa pemilik panti asuhan itu adalah “Bpk. Ezra.”
Pak Haji Wirya nyaris tak percaya akan hal ini. Lalu Laksmi berkata,”ayah masih tak mau terima kenyataan kalau Ezra lebih mulia daripada ayah..??”
Pak Haji Wirya berkata dengan nada bicara yang seolah tak mau kalah,”jadi hanya karena dia punya panti asuhan, kamu bilang bahwa dia lebih mulia daripada bapak..?? Bukankah kamu lihat sendiri, hampir setiap hari bapak bersedekah dengan tetangga bahkan fakir miskin..?! Coba kamu lihat kejadian kemarin..!! Kamu lihat, bukan?! Dia tak peduli sama fakir miskin yang mengemis didepan rumahnya.”
“Ezra begitu karena ada alasannya, pak.”Jawab Laksmi,”dia mengetahui bahwa pengemis itu adalah pengemis palsu. Bukankah sekarang banyak orang yang menjadikan pengemis adalah sebuah profesi, entah itu ada bosnya atau secara individu. Berpakaian lusuh demi belas kasihan orang, padahal setelah diteliti sebenarnya mereka adalah pengemis palsu & mereka justru memiliki kekayaan. Makanya Ezra tak mau sedekahnya menjadi salah sasaran..”
“soal pengemis palsu atau bukan setidaknya kita sudah memberi, soal dosa itu biar mereka atau pengemis palsu itu yang menanggungnya sendiri, karena telah membohongi orang.”Jawab Pak Haji Wirya.
“Sedekah kepada pengemis menjadi haram jika diketahui pengemis tersebut tidak termasuk golongan orang yang boleh mengemis atau bukan orang miskin. Haram hukumnya untuk meminta-minta atau mengemis kecuali golongan tertentu. Dalam hadist Orang yang diperbolehkan mengemis berjumlah tiga golongan yakni sesuai hadist Nabi Muhammad SAW: “Meminta-minta tidaklah halal kecuali untuk tiga golongan : Orang fakir yang sangat sengsara, orang yang terlilit hutang, dan orang yang berkewajiban membayar diyat” (HR Abu Dawud no 1398)”
Jawaban Laksmi membuat Pak Haji Wirya terdiam sejenak. Tak mau malu karena merasa dikalahkan Laksmi anaknya, Pak Haji Wirya berusaha mencari pembelaan terhadap dirinya,”Oh, jadi hanya karena Ezra punya panti asuhan, makanya kamu bilang kalau Ezra lebih mulia daripada bapak?! Bukankah ayah juga bersedekah sama tetangga kita yang beneran tidak mampu.? Lantas apa bedanya dengan Ezra..??”
Laksmi menjawab,”jelas beda, pak. Ezra lebih memilih bersedekah diam-diam tanpa ada orang lain yang melihat. Karena dia menilai sedekah itu adalah ibadah & tak perlu diketahui banyak orang. Dia nggak mau bersedekah terlalu menampakkan diri terhadap orang banyak. Dia takut sedekahnya menimbulkan sifat Riya, atau niat beramal & bersedekah agar dipuji manusia. Dia bersedekah murni karena Allah. Berbeda dengan bapak yang terlalu bangga saat bersedekah, apalagi ketika banyak ucapan terima kasih yang mereka berikan. Bapak selalu menganggap bersedekah atas nama pribadi bapak. Sedangkan Ezra, ketika orang yang disedekahinya mengucapkan terima kasih tapi Ezra malah bilang berterima kasihlah kepada Allah. Allah yang memberikan ini kepadamu, saya hanya sebagai perantara. Bahkan saat acara amal ditempat lain, dia tak mau mencantumkan nama aslinya, saat pengisian dia menuliskan namanya dengan sebutan Hamba Allah, agar perbuatan amal kebaikannya tidak diketahui orang. Berbeda dengan bapak yang menulis nama dengan lengkap sekali saat acara amal, HAJI WIRYA..!! Gelar Haji pun nggak pernah bapak tinggalkan, selalu bapak tampilkan dimanapun.. Jujur selama ini saya tak suka dengan sifat ayah yang selalu membanggakan diri saat berbuat kebaikan, mungkin ini sudah waktunya saya menasehati ayah seperti ini.”
Pak Haji Wirya semakin malu atas perkataan anak gadisnya itu, tetapi dia tetap mencari pembelaan,”Kamu permasalahkan gelar haji bapak. Tapi mengapa kamu nggak permasalahkan Ezra yang belum berhaji. Bukankah hartanya sudah banyak..?? Tapi mengapa dia masih belum pergi haji..??”
Laksmi semakin menampakan senyumannya,”siapa bilang Ezra belum pergi haji..?? Sejak Bu Harmiah meninggal, Ezra pergi haji bersama istrinya karena diamanahkan dari beliau.”
“tapi di dokumen panti yang kamu tunjukkan ini masih bertuliskan ‘Bpk. Ezra’.. Seharusnya ini bertuliskan ‘Bpk. H.Ezra (Bapak Haji Ezra)..”Jawab Pak haji Wirya yang terus berusaha mencari pembelaan.
Laksmi langsung tertawa,”hahaha.. Berarti selama ini bapak tak mengerti makna haji.”
“Assalamu’alaikum..” tiba-tiba Lara istri Ezra datang, semuanya kemudian menjawab,”walaikum salam..” Lalu Lara melanjutkan perkataannya,”kalau boleh kalian izinkan, saya akan menjawab pertanyaan bapak tentang makna haji..” lalu mereka mempersilahkan Lara untuk menjelaskan.
“saya akan menjawab mengapa suami saya tidak mencantumkan gelar Haji dinamanya. Karena Haji yang sesungguhnya itu bukanlah sebuah gelar. Haji itu adalah ibadah & merupakan rukun islam yang kelima. Jadi Haji sama seperti Syahadat, Shalat, puasa, & membayar zakat. Haji setara dengan itu. Sekarang saya bertanya kepada bapak, apakah kalau kita shalat itu harus perlu diketahui orang? Atau harus diberi gelar ‘Bapak Shalat Ezra, Seperti pada gelar haji ‘Bapak Haji Ezra..??’ Apakah kita membayar zakat itu harus diketahui orang..?? Apakah harus diberi gelar juga ‘Bapak Zakat Ezra’? Tentu tidak, bukan?! Bukankah haji setara dengan shalat & zakat karena sama-sama rukun islam..?? Itulah sebabnya suami saya tidak mencantumkan gelar haji dinamanya. Karena bagi kami, haji itu adalah ibadah, bukan gelar.” Jawab Lara
Pak Haji Ezra terdiam dan malu, kemudian Lara melanjutkan lagi penjelasannya,”Maaf, saya tak bermaksud menggurui, suami saya pernah menjelaskan kepada saya tentang asal mula gelar haji di negara kita. Gelar Haji sebenarnya adalah warisan Penjajah, Pemerintahan kolonial saat itu sangat membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah. Segala sesuatu yang berhubungan dengan penyebaran agama harus mendapat rekomendasi dari pemerintah Belanda karena dikhawatirkan dapat menimbulkan rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan rakyat pribumi, lalu muncul pemberontakan. Kecurigaan pihak Belanda disebabkan banyak tokoh yang sepulang naik Haji berhasil membawa perubahan dan mendirikan perkumpulan, misalnya KHA Dahkan (Muhammadiyah), Hasyim Asyari (Nadhlatul Ulama), Samanhudi (Sarekat Dagang Islam), dan HOS Cokroaminoto (Sarekat Islam). Makanya Salah satu upaya Belanda mengawasi aktivitas ulama-ulama Indonesia adalah dengan mengharuskan penambahan gelar Haji bagi orang yang telah menunaikan ibadah haji. Pemakaian gelar H memudahkan pemerintah kolonial untuk memburu orang tersebut apabila terjadi pemberontakan. Ketentuan ini tercantum dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903. Makanya, Ezra tak mau menggunakan gelar haji karena sesungguhnya gelar haji adalah warisan penjajah. Ezra bahkan bersumpah demi Allah, bahkan jika saat dia meninggal nanti dia nggak mau nama di batu nisannya ada gelar haji. Karena jelas bahwa Haji adalah ibadah, bukan sebuah gelar yang merupakan suatu keharusan.”
Laksmi langsung melanjutkan,”hingga saat ini, gelar haji dinegara kita seperti sebuah gelar. Mungkin dari mereka tak sadar, bahwa gelar haji sesungguhnya adalah warisan penjajah. Sekali lagi saya ingatkan ke bapak, Haji adalah ibadah karena Allah & melengkapi rukun islam yang kelima, ibadah haji itu bukan sebuah gelar.”
Pak Haji Wirya tak sanggup menahan malu, dan akhirnya mulai berkata lantang,”Kamu kok ngajari saya soal agama & sejarah..?! Lancang banget kamu ngajari saya..!! Kamu nggak ingat, dulu kamu dan suamimu itu apa..?? Saya yang lebih dulu beriman daripada kamu, kamu jangan sok mengajari saya..!!”
“Yang menilai keimanan seseorang itu bapak atau Allah..?? Bapak mengaku lebih beriman, apakah bapak yakin..?? Allah yang berhak menilai keimanan seseorang pak, bukan bapak sendiri..”Jawab Laksmi
“Itulah sebabnya mengapa saya bilang bahwa Ezra lebih mulia daripada bapak..!!” Laksmi langsung membela Lara,”Karena bapak selama ini egois..!! Bapak merasa lebih tua merasa lebih terhormat, bapak nggak pernah mau menerima nasehat-nasehat kita meskipun itu benar..!! Karena bapak merasa yang lebih tua, lebih pintar, & selalu ingin dihormati..!!”
Lara tetap tersenyum santai,”saya akui, saya dulu seorang wanita malam, saya akui suami saya dulu adalah seorang pemabuk, tapi mengapa kami tetap optimis untuk mengejar ridha Allah..?? Karena kami percaya Allah Maha Pengampun bagi umatNya yang berdosa jika segera bertaubat. Oleh sebab itu saya & suami saya bertaubat demi mendapatkan ridha Allah.”
Pak Haji Wirya tak bisa berkata apa-apa lagi. Laksmi langsung berkata,”apakah manusia tak punya hak buat bertaubat..?? Apakah manusia tak punya hak buat berubah tuk menjadi lebih baik..?? Allah menilai orang itu berdasarkan ketaqwaannya, bukan berdasarkan kehormatan yang diberikan manusia & gelarnya. Meskipun Bapak udah pulang pergi haji berkali-kali, apakah ayah yakin bahwa Allah akan menerima ibadah haji bapak..??”
Pak Haji Wirya tak kuat menahan malu & tak bisa berkata lagi, dia langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Keesokan harinya, pak haji Wirya membagikan sedekah kepada warganya, tetapi ada yang berubah dari Pak Haji wirya. Dia nggak mau lagi dipanggil orang-orang disekitarnya dengan sebutan “Pak Haji Wirya”, tapi dia hanya mau dipanggil pak Wirya saja. Pak Wirya pun terlihat lebih ramah, dia pula berkata kepada orang-orang yang berterima kasih kepadanya,”maaf, berterima kasihlah kepada Allah, karena Allah yang memberikan ini kepada kalian. Saya hanya sebagai perantara.”
-Tamat-
By: Eka Sona Saputra
Web: http://ekasona.simdif.com
Filed under: a. Cerpen | Tagged: Gelar Haji | 1 Comment »