“GASHUKU & UJIAN DAN ZONA II KALIMANTAN” CATAT SEJARAH PERKEMBANGAN KARATE DI BARITO TIMUR

Sebanyak 100 lebih karateka penyandang sabuk coklat (Kyu 1) dari Inkai berbagai wilayah di Kalimantan, yang ‘menyerbu’Kabupaten Barito Timur 6) untuk mengikuti pelaksanaan Gashuku (latihan bersama) serta Ujian Dan karate21(penyandang sabuk hitam/ black belt), membawa sebuah kesan tersendiri begitu perhelatan ini usai. Bukan hanya prestasi “lulus” dalam ujian telah mereka capai, namun juga kesuksesan pihak panitia yang notabene merupakan pengurus dari daerah baru, berhasil menggelar acara ini dalam waktu mepet.

Seperti yang dikatakan oleh Shihan Harmen L Tampodung  dari Dewan Guru pusat, semula, kesiapan panitia di Kabupaten Barito Timur (Bartim), para pengurus Inkai Bartim, sempat diragukan oleh jajaran Dewan Guru. “Mengingat jadwal kami begitu padat. Nyaris tak ada hari kosong. Apalagi Inkai Barito Timur baru saja berdiri. Tapi berkat kegigihan panitia, serta pertimbangan prospek Karate di Kalimantan, maka akhirnya kami bersedia terbang ke sini,” tutur Karetaka senior yang beberapa kali sempat jadi lawan tanding aktor Advent Bangun itu.

Shihan Harmen mengakui tadinya pun ia sempat meragukan apakah pesertanya mencapai target yang diharapkan. Namun begitu melihat dengan mata kepala sendiri, nyaris ia tak percaya, Karateka-karateka di Kalimantan begitu antusias baik dari semangat maupun jumlahnya. -iwan p

Oleh eksozona Dikirimkan di news

Polres Bartim Gelar Focus Group Discussion ( FGD ) tentang Deradikalisme

Polres Bartim Gelar Focus Group Discussion ( FGD ) tentang Deradikalisme

Tamiang Layang, eKSOZONA – Istilah “Deradikalisasi” menjadi seperti tren belakangan ini. Tren yang perlu diwaspadai, tepatnya. Apa itu deradikalisasi? Kata deradikalisasi di ambil dari istilah bahasa Inggris “deradicalization” dan kata dasarnya adalah: radical.
Radikal sendiri berasal dari kata ”radix” dalam bahasa Latin artinya ”akar”. Maka yang dimaksud ”deradikalisasi” adalah sebuah langkah untuk merubah sikap dan cara pandang yang dianggap keras menjadi lunak; toleran, pluralis, moderat dan liberal.
Deradicalization dengan imbuhan awal “de” dalam bahasa Inggris memiliki arti, “opposite, reverse, remove, reduce, get off” (kebalikan atau membalik), kemudian imbuhan akhir yang dilekatkan pada kata “radikal” menjadi radicalize, akhiran “ize”, berarti, “cause to be or resemble, adopt or spread the manner of activity or the teaching of” (suatu sebab untuk menjadi atau menyerupai, memakai atau penyebaran cara mengajari). Sehingga dalam imbuhan “de”—tidak mengalami perubahan bentuk. Sedangkan imbuhan akhir “ize” menjadi “isasi”, yang memberikan makna proses atau upaya untuk menghilangkan radikalisme.
Dengan demikian, bias dibesut kurang lebihnya; Deradikalisasi adalah segala upaya untuk menetralisir paham-paham radikal melalui pendekatan interdisipliner, seperti hukum, psikologi, agama, dan sosial-budaya bagi mereka yang dipengaruhi atau terekspose paham radikal dan/atau prokekerasan.
Deradikalisasi terorisme diwujudkan dengan program reorientasi motivasi, re-edukasi, resosialisasi, serta mengupayakan kesejahteraan sosial dan kesetaraan dengan masyarakat lain bagi mereka yang pernah terlibat terorisme maupun bagi simpatisan, sehingga timbul rasa nasionalisme dan mau berpartisipasi dengan baik sebagai Warga Negara Indonesia.
Isu inilah yang belakangan dikupas bersama antara Kapolres Barito Timur, dengan Kepala Kesbang Pol, Kepala Kemenag dan Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kab Bartim dalam Rangka Pembinaan dan penyuluhan hukum tentang “Radikalisme dan Ideologi anti Pancasila” yang dilaksanakan belum lama ini. (Kamis , 25 agustus 2016 di Aula Polres Barito Timur)
Adapun sebagai narasumber dalam acara FGD tersebut adalah Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kab Barito Timur Drs M Yamin. MBA, Kepala Kantor Kementerian Agama RI Kab Bartim H Abdul Rahman MPd, Ketua MUI Kab Bartim KH Muchtar Abdurahman dan Kasat Intelkam Polres Bartim AKP Maino SE.
Adapun materi yang disampaikan Kepala Kesbangpol adalah tentang Peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) demi terciptanya Harmonisasi Kehidupan Beragama sebagai Antisipasi Gerakan Radikalisme, kemudian Kepala KanKemanag Bartim adalah Peran Pemerintah dalam menjaga dan memelihara kerukunan Umat beragama di Indonesia, Ketua MUI tentang Deradikalisasi Faham keagamaan menurut Sudut Pandang Islam, serta Kasat Intelkam pengertian Radikal dan cara pencegahan Radikalisme dan terorisme agar tiddak semakin menjamur terutama di bangsa indonesia ini.
Acara FGD ini ditutup dengan nota kesepahaman yang ditandatangani oleh pihak-pihak terkait, dan diharapkan diskusi ini dapat disampaikan secara luas kepada publik, sebagai salah satu antisipasi berkembangnya bibit deradikalisme di Nusantara pada umumnya dan Kab Barito Timur yang bersemboyan Gumi Jari Janang Kalalawah (menjadi jaya untuk selamanya) ini. tyo/ wi

ALL OUT of BARNUSA

Eksotisme, tidaklabarnusah selalu terintepretasi pada satu definisi harfiah saja. Karena musik, sebenarnya adalah eksotisme yang senantiasa ternikmati dalam hidup tanpa sering kita menyadarinya. Oleh karena itulah, jika ingin merasakan betapa indahnya senyawa dalam musik, seorang seniman akan berusaha untuk mengeksplorasi karya yang keluar dari kata hatinya.

Dan menelorkan album rekaman –minimal single-, merupakan impian yang jamak bagi seorang penyanyi. Apapun kelas ataupun skupnya. Dan jalur independen atau indie label, menjadi jawaban bagi penyanyi atau grup musik yang tak mau dikungkung oleh ‘protoler’ pihak mayor label. Label independen, bisa menjadi penyembuh bagi ‘kegatalan’ seorang musisi yang ingin mengeluarkan karyanya.

Hal ini pula, yang ditempuh oleh Bharnusa Mulano, salah seorang penyanyi di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Merasa cukup letih hanya tampil di panggung-panggung, pria yang kesehariannya berprofesi sebagai ASN/PNS itu pun akhirnya memproduksi sendiri sebuah album bermateri lagu-lagu pop rohani. Agak keluar dari konsep mainstream, Bharnusa mengemas lagu-lagunya dalam sajian yang mudah dinikmati telinga alias catchy.

Kepada eKSOZONA, Bharnusa menceritakan bahwa sebetulnya secara pribadi, orientasinya lebih pada musik-musik jazz, blues, folk & country. Juga beberapa grup musik ataupun musisi yang jadi panutannya, seperti kelompok jazz Manhattan Transfer dan penyanyi folk legendaris Bob Dylan. Namun untuk orientasi secara umum, dia lebih condong berkiblat pada penyanyi-penyanyi dalam negeri yang jadi favoritnya seperti Iwan Fals & (alm) Broery Marantika/ Broery Pesolima. Jadi jangan heran, jika ada keterpengaruhan pada olah vokalnya, oleh para penyanyi idolanya itu.

“Mereka penyanyi dengan karakter sangat kuat. Masing-masing punya style sendiri dalam mengaktualisasi lagu mereka. Kalau bicara influence ya tidak bisa kita pungkiri. Tapi saya lebih berfikir bagaimana saya bisa merealisasikan apa yang jadi impian saja. Karena jujur, proyek rekaman menjadi keinginan sejak dulu,” tutur lelaki yang menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan & Perijinan Terpadu (KPPT) Kabupaten Barito Timur tersebut.

Dan menelorkan album, tentu merupakan sebuah totalitas juga bagi Barnusa. Karena di situlah ia bisa mengekspresikan apa yang ingin disampaikannya. Tak beda dengan setiap perform-nya di mana ia terlihat all out.

iwan pras

DESAH DARI BALIK TOBONG

Tini (sebut saja namanya demikian, 30 tahun), duduk termangu di bangku depan bilik tobong (perumahan sederhana tak permanen yang biasanya terbuat dari dinding bambu atau triplek, yang merupakan tempat huni bagi pemain wayang orang atau kethoprak –red). Anaknya tadi merengek minta makan dengan lauk ayam. Sementara ia hanya mampu menyediakan sebutir telur yang dibelinya dari warung. Sebagai ‘manajer keuangan’ rumah tangga, Tini tentu harus pintar-pintar membagi uang yang didapatkan suaminya dan dirinya dari hasil main Kethoprak.

Uang Rp 37.000 yang dia pegang hari ini, terbagi ke banyak kebutuhan. Beli minyak tanah, beras (walaupun dibeli secara literan), bumbu dapur, minyak goreng dan jajan Yuyun, anaknya. Nyaris tak bersisa lagi. Makanya ia hanya bisa membeli dua butir telur sebagai lauk yang bergizi bagi sang buah hati. Padahal nanti malam, Grup Kethoprak YB yang jadi lahan mencari nafkah dia dan suaminya tak main. Pengurus kelompok ini masih menunggu perpanjangan ijin pertunjukan dari pihak yang berwenang.

Kesedihan menyelimuti hati Tini. Beberapa hari lagi memasuki Tahun Ajaran Baru, Yuyun ingin bersekolah. Memang bersekolah di SD tak perlu biaya sekarang. Namun tetap saja perlu uang untuk beli baju seragam, topi, atau alat-alat tulis. Melihat Yuyun yang sedang bermain dengan kawan-kawannya di tanah dengan baju lusuh, tak jauh dari Tini duduk, membuat hati Tini tambah tersayat. Ia bingung, dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya sederhana itu?

Di atas panggung, Tini yang merupakan primadona itu kerap berperan sebagai ratu atau putri kerajaan yang disembah para kawulanya dan bergelimang kecukupan hidup. Tapi itu di panggung. Jauh berbeda dengan di alam nyata di mana ia dan Hardi, suaminya, terpaksa harus sering berpuasa.

Sementara dari sebuah ruangan yang dipakai sebagai ‘kantor manajemen’ Kelompok Kethoprak YB, dua orang lelaki sedang kasak-kusuk sambil memperhatikan dirinya. Dan tak lama, keduanya menghampiri Tini yang nampak agak terkejut melihat kedatangan salah satu dari dua pria itu. “Pak Marno?” sapa Tini ramah.

Lelaki ceking dengan rambut yang hampir penuh uban, yang dipanggil Pak Marno, tersenyum menepuk pundak Tini. Dia merupakan pimpinan kelompok kesenian tradisional ini. “Duduk saja, Tin. Mana Hardi?” tanyanya.

“Ke Desa Delangu, Pak. Ada kerjaan membantu kakaknya yang bekerja sebagai tukang. Ada perlu dengan Kang Hardi?” Tini balik bertanya dengan sopannya. Ia memang menghormati Pak Marno, yang sangat baik dan perhatian padanya.Meskipun…

Oh, tidak. Aku perlu sama kamu, Tin. Bisa kita bicara di bilik depan punyaku itu? Ayo,” ajak Pak Marno membuyarkan lamunan Tini. Tini mengangguk. Ia menghampiri Yuyun dan mengatakan sesuatu yang disambut anggukan kepala Yuyun. Tini pun mengikuti langkah Pak Marno dan pria gemuk yang jadi tamu bos Kethoprak itu.

“Tin, ini Pak Wardiman. Beliau pejabat di sini, dan beliau juga yang menolong kelompok kita sehingga bisa main kembali besok. Dan beliau ini penggemarmu, lho. Beliau sering nonton penampilanmu,” Pak Marno mengenalkan tamunya begitu mereka sudah duduk di bilik yang jadi ‘jatah’ dia selaku pimpinan. Mereka duduk bersila berhadapan. Tini tersenyum dan mengangguk hormat. Disalaminya Pak Wardiman.

“Jadi, begini ya Tin. Aku mau ngomong langsung ke inti pembicaraan saja,…” Pak Marno pun menjelaskan maksud kedatangan sang tamu, yang membuat Tini terkejut. Pak Wardiman ingin mengencaninya! Paras Tini yang menawan dan tubuh sintalnya, membuat Pak Wardiman selama ini kesengsem. Tiap menonton penampilan Tini di atas panggung, ia sering membayangkan bisa mengencani sang primadona Kethoprak ini. Dan itulah yang ia sampaikan pada Pak Marno tadi di kantornya, saat bos YB itu mengurus perpanjangan ijin.

Namun Tini tak punya kuasa dan keberanian untuk menolak. Ia punya banyak hutang budi pada Pak Marno. Pimpinannya itu sering memberinya uang dan pekerjaan sampingan buat Hardi. Bahkan dulu saat Yuyun dirawat di Puskesmas, Pak Marno yang mencarikan uang untuk biaya. Dan Tini…tak kuasa menolak manakala pada suatu hari Pak Marno membujuknya untuk melayani dirinya! Tentu saja tanpa sepengetahuan Hardi.

Rasa marah, terinjak, sedih dan terhina bercampur dalam diri Tini saat itu. Nyaris ia berontak dan melaporkan pada Hardi. Namun efeknya tentu akan tak mengenakkan.  Mungkin Pak Marno yang ceking itu bisa dihajar dengan mudah oleh Hardi. Hanya saja, apa ia dan sang suami sudah siap meninggalkan ladang mata pencaharian yang ada? Di mana pula mereka akan tinggal? Maka terpaksa waktu itu, Tini melayani hasrat Pak Marno di sebuah ruangan kosong. Dia hanya pasrah saat Pak Marno mencumbui lalu menaikkan kebaya yang ia pakai. Tini berdiri mengangkangkan kedua kaki, dengan kedua tangan berpegangan di dinding papan dan tubuh agak membungkuk. Sementara Pak Marno memeluknya dari belakang.

Lelaki itu tersengal-sengal melampiaskan gejolak birahinya, sementara tubuh Tini terguncang-guncang dalam pelukannya. Pak Marno pun kemudian mencapai klimaksnya tak lama kemudian. Ia menggeram panjang, tubuhnya menegang sesaat lalu terkulai mendekap Tini dari belakang sembari meremasi –maaf—payudara wanita itu. Nafasnya tersengal-sengal.

Dan peristiwa itu tak terjadi hanya sekali. Melainkan sampai lima kali, dengan rentang waktu tak beraturan. Sepertinya, Pak Marno ketagihan dengan kehangatan tubuh Tini. Ini pula, yang nampaknya terjadi pada diri Pak Wardiman. Seusai Pak Marno meninggalkan mereka (setelah diberi uang Pak Wardiman), lelaki itu menutup pintu. Ia menggelar kasur kapuk yang sudah menipis, yang disediakan Pak Marno.

Tak beda dengan sang bos Kethoprak, pria berambut ikal tipi situ juga seperti tak sabaran. Ia langsung membaringkan Tini, menindihinya, lalu melakukan apa yang sudah lama ia impikan. Dia menjelajah tiap jengkal tubuh padat sintal Tini dengan ciuman panas dan nafas yang menderu. Tiap sudut tubuh Tini tak ia sia-siakan. Kulit telanjang keduanya beradu berhimpitan bergesekan, di antara gerakan-gerakan persebadanan yang dilakukan Pak Wardiman.

Sekitar sepuluh menitan, pergulatan nafsu Pak Wardiman agaknya telah mencapai tahapan yang dia inginkan. Mata pria gemuk itu mendelik, wajahnya berkerut dan ia menggeram panjang. Tini memekik kecil, menahan rasa yang ada di dalam organ intimnya akibat ejakulasi yang dicapai Pak Wardiman. Sesaat kemudian, pria itu melepaskan diri dan berbaring dengan nafas yang terengah-engah. Ia tersenyum puas. Diulurkannya tiga lembar uang seratus ribuan pada wanita yang baru saja jadi pelampiasan hasratnya itu.

Begitu Pak Wardiman selesai dan pulang, beberapa menit kemudian, Tini yang sudah memakai pakaiannya kembali, keluar dari bilik. Tiga ratus ribu rupiah yang dia genggam di tangan kanannya, jumlah yang besar bagi dia dan suaminya yang paling hanya mendapatkan Rp 280.000 (jika penonton ramai) sekali pentas. Itu pun karena berdua. Keperluan rumah tangganya bakal tak jadi masalah sementara ini.  Yuyun pun bisa membeli keperluan sekolahnya. Bahkan jika Tini bersedia, kata Pak Wardiman, lusa pria itu akan mengajaknya ‘bermain’ ulang dan uang akan dia terima lagi.

“Maafkan Ibu, Yun. Ibu lakukan ini untuk memenuhi hidup kita dan keperluanmu, Nak,” gumamnya, melihat Yuyun tersenyum dan mendatanginya. Wajah kotor Yuyun dan kaosnya yang longgar dengan sobek di bahu kiri, membuat Tini memutuskan untuk melakukan sesuatu lagi lusa. Sesuatu yang tak ia ingini, namun harus dilakukannya untuk tidak menyerah kalah pada kemiskinan!

Gegap gempita bila pertunjukan tiba, gemerlapnya panggung dan idealisme “melestarikan budaya daerah sampai mati”, terbukti hanya menjadi bagian dari kehidupannya yang tidak riil. Tak memberikan apapun bagi dirinya, Hardi atau juga pelaku dunia seni Kethoprak lain, yang telah memberikan cinta serta dedikasi yang begtu besar. Tini menggandeng Yuyun menuju toko seberang kompleks tobong, untuk berbelanja barang kebutuhan pokok, seperti gula, sabun, kopi, rokok Hardi, shampoo dll. Sebuah hal yang ‘mewah’ bagi mereka selama ini…** Iwan P

 

** digubah berdasarkan dua tulisan berbeda, dari reportase rekan kami, Sl W dan W Ha, pada sebuah majalah terbitan Semarang, tahun 1999, di dua lokasi tobong sanggar budaya tradisional Kota P dan Sl.

THE WIVES

Menyeret ‘ayam bohay’ (istilah untuk ibu rumahtangga yang bisa pakai alias “bispak” -red), memang bukan hal yang mudah. Mereka bersembunyi di balik status ‘terhormat’ nya sebagai istri dan ibu rumahtangga. Modus operandi mereka pun sangat hati-hati, lantaran kerahasiaan identitas menjadi hal yang mereka utamakan.

Namun lain ladang lain belalang, lain diskotik lain pramurianya. Antara satu daerah dengan daerah lain tidaklah sama. Ada pula yang dengan mudahnya bisa ditemui. Misalnya, di Kab Grobogan, Jawa Tengah. Seorang teman, menyebutkan bahwa di sini ada beberapa tempat yang bisa dengan mudahnya kita mencari “ayam bohay”. Misalnya di Purwodadi (ibukota Kab Grobogan), Godong, Wirosari, Toroh dll.

Ternyata ketika membaca di sebuah media on-line, P, artikel ini juga kami temukan. Di situ dituliskan bahwa  banyak lokalisasi yang bisa dijadikan TKP alias “Tempat Kejadian Persetubuhan”. Selain bisa dicari di banyak losmen atau hotel, juga bisa ditelusuri dengan mudah di lokasi bekas Statsiun Purwodadi, yang dikenal dengan nama “Istana Kuda”.

Soal tarif, komplit menyesuaikan kemampuan kocek konsumen. Paling murah (mungkin untuk kategori short time) : Rp 20 ribu. Yang menengah, agak elit sampai Rp 400 rb. Soal mutu sang ‘pelayan cinta’ dan servisnya, tentu juga tergantung harga.

“Kalau sampeyan ketemu mbak-mbak atau ibu-ibu yang  jual minuman suplemen, jangan dikira mereka hanya menjual minumannya. Melainkan juga siap terima tantangan mencoba reaksi minuman tsb,” cerita teman saya lewat telpon sambil tertawa ngakak.

Ternyata tak salah. Hampir sebagian besar penjual minuman suplemen tsb memang memberi sinyal untuk transaksi yang berikutnya. Sebenarnya, klien utama mereka adalah para pedagang sapi yang banyak terdapat pada hari pasar hewan. Jika pasar sedang ramai, penghasilan para penjaja birahi ini bisa mencapai Rp 300 ribu dalam sehari. Namun, mereka bukan orang yang segmented, kalangan umum yang perlu ‘jasa’ mereka pun akan mereka layani.

Yang mengejutkan, di antara para pemuas hasrat itu tak semuanya wanita nakal yang memang profesional. Melainkan ada pula beberapa ibu rumah tangga dan malah ada yang berprofesi sebagai guru!

Jika Anda kemudian berpikir, selepas dari transaksi harus ke hotel agar bisa ke tahapan berikutnya, maka itu tak perlu. Sebab menurut seorang warga sekitar lokasi, yang kebetulan bersedia jadi informan (tentu saja dengan diberi imbalan –red), klien bisa saja berkencan di rumah-rumah yang ada di areal TKP, Desa K.

“Nanti banyak yang menawari kok, Mas. Malah biasanya para suami menawarkan istrinya,” ujar lelaki setengah tua tsb. Edan!

Saya jadi teringat penuturan salah seorang kolega dari luar kota, sebut saja namanya Pak Atmojo. Sebagai seorang konsultan sebuah proyek berskala besar/ tender tingkat provinsi & negara, tentu mengharuskan ia sering ke luar kota menemui kontraktor pelaksana proyek. Dan tak jarang, sang kontraktor ‘menjamu’ Pak Atmojo dengan suguhan gadis-gadis yang bisa diajak bercinta seperti lagunya Melinda “Cinta Satu Malam”.

“Kalo yang anak SMA, ayam kampus atau yang sebangsanya, saya udah sering. Sampai kemudian saya bisiki rekanan tsb, ada ibu-ibu rumah tangga yang bisa diajak juga nggak? Buat saya itu lebih menantang. Syukur yang punya kerjaan, jadi staf di perusahaan, guru, atau yang bener-bener bikin penasaran tuh Polwan..Tapi kalo yang ini sih rasanya tak mungkin. Ya yang aman sajalah,” kisah

 

 

 

 

 

 

I

 

Seks Instan: Aman & Nyaman?

 

Banyak artikel dari berbagai media massa mengungkap sedemikian parahnya abrasi moral (sebagian) orang Indonesia sekarang. Miris, jika dikaitkan bahwa negara ini (meski bukan negara agama tapi) adalah negara yang penduduknya beragama. Artinya, ada landasan spiritual yang punya adab, norma dan sanksi. Tapi ironisnya, liberalisasi amoral seolah berkembang subur.

Seks yang dalam kacamata agama merupakan media sakral suami istri dalam melahirkan keturunan, bergeser ke kegiatan yang sepertinya jamak dilakukan. Di era ’70-‘80an dulu, paham seks bebas berada d

alam posisi bahaya laten yang patut diperangi seperti halnya paham komunisme. Tapi sekarang, marak seperti tren pakaian baru yang bisa didapat di mana saja.

Kasus munculnya sekte Children of God di sekitar awal tahun ’80-an, langsung diredam dengan gagahnya oleh para pemuka agama beserta pemerintah. Maklum, di samping penodaan terhadap ajaran Kristen, sekte yang lahir dari Amerika Serikat ini (yang juga ditumpas oleh pemerintah di sana  –red) merupakan wahana pembebasan

seks tanpa ikatan.

Children of God atau klan-klan sejenis mungkin sudah punah, tapi modus-modus yang diajarkan atau materinya, kini terlihat jadi hal yang bukan tabu lagi. Data statistik menyatakan 60 % remaja putri di Jakarta sudah tak perawan lagi, tentu saja ini membuat kita mengelus dada. Begitu mudahkah melakukan hubungan ‘satu itu’? Ternyata pengetahuan dini soal seks dibarengi sumber yang salah, serta gejolak libido muda mereka, membuat anak-anak muda ini kerap meng

ambil jalan pintas yang cepat dan dianggap relatif aman. Aman, dalam arti tidak berisiko mendatangkan kehamilan. Salah satunya, adalah dengan melakukan seks yang praktis alias ‘cepat saji’.

Yang penting happy

“Kita sih pengin ya melakukan hubungan yang sempurna. Tapi kalau check in terus-terusan ke hotel, ya beratlah. Sebagai mahasiswa, duit kita ‘kan dibatasin ortu. Ngelakuin di kost, takut ketahuan. Sementara ‘si Unyil’ nih demo terus, nagih penyaluran. Cara yang bisa gua lakuin ya yang cepet-cepet aja, yang penting gua ama dia puas,” papar Nik (22), mahasiswa sebuah PTS di Kota S, Jawa Tengah, yang berasal dari Duren Sawit, Jakarta Timur, ketika diajak ‘buka-bukaan’ oleh tim eksozona beberapa waktu yang lalu.

Cowok berkulit putih dan berbibir tebal ini menceritakan, bahwa ia dan pacarnya, sering menjalani petting sex, yaitu saling menggesekkan  –maaf–  bgian sensitif masing-masing sampai tercapai ejakulasi. “Nggak sampai telanjang. Gua ama Na ‘kan ngelakuinnya buru-buru. Bagian tubuh yang bisa dinikmatin paling banter ya sekwilda (sekitar wilayah dada  –red) aja, atau oral. ‘Dah! Prinsip gua; kita sama happy,” ia tertawa cengengesan. Baca lebih lanjut

Sunny Leone, sang Erotika Indiaropa

.

F.
Sunny Leone 2009.jpg

foto Sunny Leone di . H-Wood, Hollywood, CA pada bulan  Okt. 22. 2009

Nama asli/ Kelahiran Karen Maholtra]
13 Mei 1981 (1981-05-13) (umur : 29)[2]
Sarnia, Ontario[3]
Warna mata
Coklat.
Warna rambut
Hitam.
Warna kulit
Kecoklatan
Suku India
. .

Jika Anda lelaki normal –yang tak memunafiki diri–, kami sarankan untuk tak menatap pose-pose Sunny Leone berlama-lama. Nenek bilang itu berba-ha-ya-ha-haa!..Ya, Sunny (terlahir dengan nama Karen Malhotra), adalah sebuah magma panas yang sedang menggeser kejayaan bintang porno Asia Carrera dewasa ini. Kelahiran Punjab, India, 39 tahun yang lalu itu, kini terkenal sebagai aktris Indiaropa (India Eropa) superhot.. Atau dalam bahasa lugasnya: Sunny adalah bintang bokep yang tengah bersinar saat ini.

Meski demikian, Sunny juga bermain dalam beberapa fim mainstream dan beberapa show TV (yang tentu saja tak mengijinkan untuk berbuka-buka ria). Sebenarnya, Sunny dulu bercita-cita jadi atlet hoki, dan dia juga menyukai ice skating, meski pada akhirnya dia malah jadi artis panas.

Lucunya, Sunny pernah bersekolah di yayasan Katholik, lantaran orangtuanya merasa aman daripada dia menempuh pendidikan di sekolah umum. Ketika berumur 13 tahun, orangtuanya mengajak pindah ke Michigan, AS, sebelum akhirnya pindah ke California dan menamatkan studinya di tahun 1999.

Tak ada yang menyangka jika langkah Sunny Leone bakal ke jalur film esek-esek. Sebab selesai sekolah dia bekerja di sebuah perusahaan Jerman, bahkan sempat kursus perawat. Baru setelah ia mencari sambilan sebagai penari erotis, pintu ‘kesesatan’ itu mulai terbuka. Ia berkenalan dengan Jay Allen, seorang fotografer Majalah Penthouse yang terkenal itu. Nama Sunny Leone pun mulai dipakai sebagai nama keartisannya. (Nama Leone diberikan oleh pendiri majalah tersebut, alm Bob Guccione). Ternyata, cover majalah dengan memakai model Sunny sukses berat! Sejak itulah, ia laris sebagai model (panas) yang lama-lama merambah ke dunia film biru.

A black-haired woman wearing a yellow top and jeans sitting behind a table looking up at the camera.

// .

A black-haired woman wearing a red dress.Di tahun 2003, .Sunny membintangi video Penthouse Pets in Paradise bersama Tera Patrick and Kyla Cole. .Tera adalah aktris yang baru-baru saja membintangi film Indonesia, dan menuai kritik panas dari sejumlah Ormas yang membawa bendera agama. 

Kembali ke Sunny, ..eh, omong-omong, menurut Anda, apa yang menarik dari dirinya? Bodinya yang memang ..wuuuhhh!..matanya yang sayu, atau guratan eksotisme Indianya?  Iwan P