
In our life we can prepare ourselves and anticipate many things, but there are certain times when we encounter inevitable realities that are beyond our preparation, touch our limitation, like aging and morality, illness, broken relationships and daily hurts. This reflection from the book THE PAIN OF BEING HUMAN calls us to meditate the things that we must deal with but nobody could really prepare us for that. How can we live with the grace for bieng imperfect human?
OUR PAIN OURSELVES
Human life is not free from bitterness. Pain has been with us from the beginning of our being in this world. Human beings have undergone uncountable physical pains in many occasions either by nature or by human errors. However, psychologically speaking, there is another inevitable pain, THE PAIN OF BEING HUMAN, being ourselves. Moreover, there is no medicine available for that pain. The only thing to do is to accept and understand it, for our pain is our subjective existence in being human. It helps us to express ourselves, to realize who we are, where we have been whether we love or are loved, and what is our belief.
Our personal pain is formed by and in our backrounds; cultural experiences, relationships, and all of our life stories. It carries the rich, profound and precious meaning of our being human. Accepting and understanding our pain is to stand free and be responsible towards it by our inner strength instead of bieng a victim of fate. The inner strength helps us to find the truth behind the inescapable frustations and longing, and enables us to accept our nature as imperfect and limited being. By experiencing that process our awareness is sharpened and makes us understand more about the meaning of faith and hope. Once we are able to share our tears, our sadness with the others, we learn how to love and be faithful.
Some difficult moments in our relationships could awaken our awareness especially when our loyalty and our trust are challenged. Moreover, if the occasion comes when we are not ready or it is out of expectation and demands too many sacrifices. This suffering deepens our awareness and reminds us of our responsibility of being such a human. Little by little we should put aside and not te exaggerate our fear, but be open because such challenge is part of our being. The more people taste the pain in loving each other the more they realize the meaning of true love and be truly lovers. The pain in our love relationship will never dull us but will make us grow and become mature instead. On the contrary, we will never be developed and grow if we alienate ourselves and run away from such pain.
The struggle in love involves us in the mystery that is a part of every real religion. Our struggle is our cross by which we redeem and are redeemed. Carrying the cross on our shoulders is hard but also fruitful because, through this mystery, we find the fullness of life, the virtue, the spirit of joy and peace.
LUKA YANG DITANGGUNG SEBAGAI MANUSIA
Dalam hidup ini kita dapat memeprsiapkan dan mengantisipasi pelbagai macam hal, tetapi ada saat-saat tertentu kita bertemu kenyataan-kenyataan yang tak terelakkan di luar dari persiapan kita, yang menyentuh keterbatasan kita, seperti usia lanjut dan moralitas, derita sakit, relasi yang hancur, dan luka-luka harian. Refleksi ini mengajak kita untuk merenungkan hal-hal yang harus kita hadapi tetapi tak seorangpun yang sungguh dapat mempersiapkan kita untuk hal tersebut. Bagaimanakah kita dapat hidup dengan rahmat sebagai manusia yang tidak sempurna?
LUKA KITA ADALAH DIRI KITA
Kehidupan manusia tidaklah terlepas dari kepedihan. Luka-luka itu bahkan mungkin telah bersama kita sejak awal keberadaan kita di dunia. Manusia telah mengalami penderitaan pskikis yang tak terhitung dalam banyak kejadian baik oleh alam maupun oleh kesalahan manusia. Meski demikian, berbicara secara psikologis, ada luka lain yang tak terelakkan, yakni luka sebagai manusia, sebagai diri kita. Parahnya, tidak ada obat kimiawi yang tersedia untuk luka semacam ini. Satu-satunya hal yang dapat dibuat adalah menerima dan memahaminya , karena luka kita masing-masing adalah eksistensi kita sebagai manusia. Tetapi luka in justru menolong kita untuk mengekspresikan diri kita, menyadari siapa diri kita, di mana posisi kita, apakah kita mencintai atau dicintai, dan apa sebenarnya keyakinan kita.
Luka pribadi kita dibentuk oleh dan di dalam latar belakang kita; pengalaman budaya, relasi, dan dalam seluruh kisah hidup kita. Luka ini membawa arti yang kaya, mendalam, dan berharga bagi keberadaan kita sebagai manusia. Menerima dan memahami luka kita berarti kita mau bebas dan bertanggungjawab atasnya dengan kekuatan batin kita dari pada sekedar menjadi korban nasib. Kekuatan batin membantu kita untuk menemukan kebenaran di balik rasa frustasi dan kesepian yang tak terelakkan, dan memampukan kita untuk menerima diri kita apa adanya sebagai mahluk yang tidak sempurna dan terbatas. Dengan mengalami proses ini, kesadaran kita dipertajam dan membuat kita semakin mengerti tentang arti iman dan harapan. Sekali kita mampu berbagi kepedihan dan kedukaan kita dengan orang lain pada saat yang sama kita belajar bagaimana mencintai dan setia.
Saat-saat yang sulit dalam relasi kita juga dapat membangunkan kesadaran kita, terutama ketika kesetiaan dan kepercayaan kita ditantang. Terlebih bila kejadian itu datang pada saat kita tidak siap, atau diluar pengharapan kita, dan menuntut banyak pengorbanan. Penderitaan ini memperdalam kesadaran kita dan mengingatkan kita akan tanggungjawab kita sebagai manusia. Sedikit demi sedikit kita harus mengesampingkan dan bukannya melebih-lebihkan ketakutan kita, tetapi semakin terbuka, sebab tantangan seperti ini adalah bagian dari keberadaan kita. Semakin orang merasakan luka dalam mencintai sesama, semakin mereka menyadari arti cinta sejati dan menjadi pencinta yang sejati. Luka dalam relasi cinta kita tidak akan pernah menumpulkan kita melainkan akan akan makin menumbuhkan kita untuk menjadi semakin matang. Sebaliknya, kita tidak akan pernah berkembang dan bertumbuh jika kita mengasingkan diri dan lari dari luka ini.
Perjuangan dalam cinta melibatkan kita dalam misteri yang merupakan bagian dari setiap agama yang nyata. Perjuangan kita adalah salib kita, yang dengannya kita menebus dan ditebus. Membawa luka ini memang berat tetapi juga sungguh bermanfaat, karena melalui misteri ini kita menemukan kepenuhan hidup, kebajikan, semangat kegambiraan dan kedamaian.