
Dulu ketika negara api belum menyerang…. ketika demam batu akik melanda, bapak-bapak kompleks yang sempat keranjingan bebedilan, ikut juga ketularan.
Kalau mereka ngumpul di pos satpam, bukan lagi main tembak-tembakan atau ngebahas mau berburu kapan dan dimana, tapi semua sibuk sama batu. Bahkan ada yang sampai menjual senapannya buat beli batu.
Payahnya kegemaran batu ini seperti nggak pernah terpuaskan. Selalu ingin beli yang baru. Padahal di tangan kiri kanan hampir semua jari udah ada cincin batu akiknya. Alasannya, yang ini mah beda. Gapapa buat koleksi. Toh nantinya gampang dijual lagi.
Babeh juga sempat ketularan beli beberapa biji. Tapi karena belinya yang murah-murah jadi neng Nopi nggak protes. Dan sampai sekarang itu batu dan cincin juga nggak pernah dipake, karena babeh emang nggak suka pake cincin. Cincin kawin aja nggak pernah dipake.



