Endylusia

Konsep Endylusia dilahirkan pada 13 Maret 2012 oleh dua orang desainer freelance yang ingin bergerak satu visi dalam memajukan dunia literatur. Endylusia adalah “pengemas” suatu produk yang berhubungan dengan literatur, baik itu penulis atau penerbit buku, distributor buku, maupun tempat penjualan atau penyimpanan buku. Dengan adanya Endylusia, diharapkan pelaku bidang literatur lebih mampu menunjukkan value/nilai tambah mereka kepada masyarakat dengan cara yang kreatif dan unik.

Visi Endylusia adalah profesionalisme kerja dan kreatifitas dalam berkarya.

Misi Endylusia adalah menjadi penyedia jasa desain yang terpercaya, berkualitas, dan konsisten dalam meningkatkan value para klien. Fokus utama Endylusia adalah dunia literatur.

Endylusia Creative Library

Endylusia kini hadir dengan media ‘motion graphic” dan “animasi” untuk mendokumentasikan buku dan media literatur lainnya. Menjadikan karya tulis Anda masuk ke perpustakaan digital interactive, memiliki concept dan original soundtrack yang disesuaikan dengan tema buku Anda. Dengan adanya project ini, diharapkan karya kami dapat menambah nilai/value karya tulis Anda dengan cara yang unik dan kreatif. Saatnya dunia literatur bangkit kembali, dan bergabunglah dengan industri kreatif dalam kebangkitannya.

Our first project: Bisik Rindu dari Celah Ginkgo

 

More Info:

phone: 0853 5298 5868

pin : 755C1121

facebook.com/endylusia

Buku VS Film Indonesia

Salam, Comeon Readers!
Kenal dengan gambar-gambar di poster dan buku-buku ini?
Image

Yups, kali ini Lusia mau sharing tentang kisah-kisah fiksi dan non-fiksi dari buku yang diangkat menjadi film.
Film-film yang bersumber dari buku semakin marak meramaikan dunia perfilman Indonesia, bahkan beberapa diantaranya meraih penghargaan dan rating yang lebih tinggi.

Diantara kelebihannya; film tersebut lebih memudahkan sang penulis naskah dan sutradara film karena sudah ada patokan ceritanya, produser film tidak segan untuk mendukung dan membiayai apalagi kalau bukunya best seller, yang berarti masyarakat sudah lebih dulu mengenal, dibanding film baru dengan ide baru, karena harus menghabiskan biaya promosi terlebih dahulu.
Notabene para penonton di bioskop adalah anak-anak muda, yang memang sudah menjadi gaya hidup mereka. Tapi, sang sutradara dan produser bisa mengajak penonton yang lebih berragam ketika mengangkat sebuah film dari buku. Contohnya saja film Habibie & Ainun, siapa yang tidak kenal Pak Habibie? Bukunya saja best seller dan sudah tersebar ke beberapa negara. Sehingga bisa dipastikan film tersebut akan menarik minat masyarakat yang bahkan tidak terlalu suka nonton di bioskop.

Jadinya, para penonton yang hadir tidak hanya penikmat film saja, tidak hanya para penggemar aktor-aktris dan sutradaranya, bahkan para penggemar sang penulis buku pun ingin menontonnya, ingin menyaksikan buku kesayangannya difilmkan, apalagi kalau film tersebut ikut diramaikan dengan soundtrack yang dibawakan oleh penyanyi terkenal, maka semakin manislah film tersebut. Misalnya film Ayat-ayat Cinta yang dibawakan oleh Rossa, Sherina dan Ungu, ada Laskar Pelangi oleh Nidji, 99 Cahaya di Langit Eropa oleh Fatin, dsb.

Dengan mengesampingkan kekurangan pada film; apakah dari hal ceritanya yang keluar dari hikmah dan tujuan bukunya, atau bahkan tidak sesuai prediksi para penonton yang terlebih dahulu membaca bukunya sehingga membuat kecewa, tentu kita perlu menghargai sang sutradara dan para aktor-aktris yang telah berusaha menghidupkan perfilman Indonesia yang terlahir dari buku-buku berkualitas. Diantara alasannya mungkin, karena penulis dan sutradara adalah orang yang berbeda pandangan dan pemikiran, konsumen pembaca buku dengan penonton film juga bisa saja berbeda selera. Maka, ada baiknya kita membaca sumber bukunya, sebab ada tulisan yang tak bisa digambarkan, ada pula gambar yang tak bisa dituliskan. Karena rasa dan imajinasi setiap orang berbeda-beda.

Tapi, dari itu semua, hal ini menjadi kesempatan sekaligus tantangan bagi para penulis Indonesia untuk selalu berkarya dan mempersembahkan tulisan-tulisan yang berkualitas. Bukan berarti tujuan menulis karena mengharap ingin difilmkan, tapi agar Indonesia menjadi lebih kreatif dan produktif, bahkan bisa membawa dunia perfilman menjadi lebih berkualitas.
Nah, itu dari Lusia, sekarang dari para Comeon Readers Endylusia nih… Mungkin ada yang ingin berbagi cerita, perasaan atau pengalaman tentang buku-buku kesayangan yang telah difilmkan. Bisa sebuah pendapat, dukungan, saran atau bahkan kritik yang membangun.

Ini Lusia kasih beberapa daftar film yang terlahir dari buku-buku karya penulis Indonesia yang telah mewarnai dunia perfilman kita lima tahun ke belakang;
5 cm, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, Sang Penari (The Dancer), 99 Cahaya di Langit Eropa, Cinta Brontosaurus, 9 Summers 10 Autumns, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Bahwa Cinta Itu Ada, MIKA, Kata Hati, Rectoverso, Madre, Edensor, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Air Mata Terakhir Bunda, Moga Bunda Disayang Allah, Manusia Setengah Salmon, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Perempuan Berkalung Sorban, Negeri 5 Menara, Cintaku di Saku Celana, Cinta Suci Zahrana, Perahu Kertas, Test Pack, Radio Galau FM, Bidadari-bidadari Surga, Habibie & Ainun, Hafalan Shalat Delisa, Surat Kecil untuk Tuhan.