Catatan motobiker : perjalanan Wonosobo – Jogja
7 Agustus 2017
Aku pernah membacanya dari akun media sosial salah satu temanku. Nyasar, adalah seni dalam sebuah perjalanan. Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi, kenyasaranku belum lama ini membuatku menjadi manusia yang cukup kreatif, target oriented, mawas diri, dan bertanggung-jawab.
Suatu pagi di bulan Agustus 2017, rasanya agak malas untuk segera mandi, sarapan, dan bersiap-siap ke Jogja. Tapi, malamnya aku sudah menyanggupi pesanan mie ongklok instan seorang kawan (yang bahkan belum pernah kutemui) yang akan pulang kota. Ya, pulang kota, karena area Jakarta adalah kota. Hehehe J Akupun mandi, sarapan (entah mana yang duluan dilakukan), menyiapkan motor, dan bruuuum… berangkaaaat.
Aku memutuskan, pada perjalanan Wonosobo-Jogja kali ini akan melewati jalur alternative yaitu via Silento aka Slento. Aku pernah 3 kali melalui jalur ini, seingatku. Dan posisinya, aku menjadi penumpang yang bahkan tidak bisa mengingat belokan mana yang harus ditikung. Maka, malam harinya aku sudah mempelajari jalur-jalur tersebut. Dan membuat reminder khusus di kepalaku “oh, yang ini bukan belok kesana tapi kesini, padahal logikaku berkata harusnya kesana.” Ya. Aku akan ingat itu. Pasti donk. Mengapa tidak.
Di pagi yang cerah ceria aku berangkat, kalau tidak salah sekitar pukul 9.00 WIB. Mampir membeli carica untuk beberapa kawan di Jogja. Melanjutkan perjalanan yang terasa semakin panas. Dalam perjalanan, aku masih ingat dimana harus berbelok menuju Jogja, dan bukannya lurus. Karena jika lurus akan menuju ke Purworejo. Aku mengingat hal ini bukan tanpa alasan. Tak lama sebelumnya, aku pergi ke acara kondangan nikahan mbak senior tercinta bersama sepasang muda-mudi yang mana merupakan adik angkatanku sendiri.
Tidak ada persimpangan yang cukup menyesatkan sejauh itu. Hingga sampai di pertigaan dimana sebatang pohon beringin ambruk. Dalam benakku, aku harus berbelok ke kanan. Maka berbeloklah aku ke kanan. Menyusuri jalan Bener yang membuatku merasa bener tapi ada keraguan. Aku ingat kepalaku “oh, yang ini bukan belok kesana tapi kesini, padahal logikaku berkata harusnya kesana” tapi mungkin bukan pertigaan tadi. Aku mengendarai motorku dengan adanya rasa ragu. Maka akupun berhenti di pinggir jalan, setelah aku melihat tulisan “Purworejo” di tebing. Ponsel aku keluarkan dari tas, dan aku buka google map. Ya, jalanku masih benar, arahku masih benar. Tapi aku tidak melihat keseluruhannya. Jadi, aku terus saja mengendarai motorku dengan kepercayaan diri yang sudah meningkat daripada sebelumnya. Tapi, aku masih merasa aneh. Mengapa membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sampai di Magelang? Dan perbukitan yang terhampar di depan mata itu nampak seperti Perbukitan Menoreh. Aku kembali memeriksa rute perjalananku. Oh!! OKE!! AKU DI PURWOREJO!!! Melenceng jauh dari jalur yang ingin aku tempuh demi menghemat waktu. Karena aku harus bertemu dengan pemesan mie ongklok instan kira-kira pukul 13.30 WIB. Dua jam, harusnya aku sampai Magelang dan satu jam lagi bisa sampai Jogja. Tapi, justru nyasar di Purworejo? Oke. Akhirnya aku cek rute perjalanan dengan lebih teliti dan seksama. Keputusan yang membuatku nggondok dan merasa bodoh tapi sekaligus brilian, aku lewat Kulon Progo. Artinya melipir Menoreh. Kau tahu? Beberapa hari sebelumnya, aku seharusnya pergi ke Menoreh. Just hang out sama beberapa sahabat, tapi tidak jadi ikut. Dan mungkinkah ini balasan atas ketidakhadiranku? Hahaha…
Yah, aku menuju Jogja melewati Purworejo – Kulon Progo. Menoreh bukan tempat yang terlalu asing buatku. Mengingat penelitian skripsiku di lokasi tersebut dan orang-orang baik yang kukenal di sana. Aku pernah melewati jalan itu beberapa kali saat harus ke Purworejo dari Menoreh dan sebaliknya. Dengan penuh keyakinan tidak akan nyasar lagi, aku kebut motorku di jalan yang memungkinkan. Tapi, di tanjakan-tanjakan aduhai di sekitar Katerban, aku harus berhati-hati. Melewati jalan familiar ini, ada beberapa yang baru aku sadari. Bahwa pariwisata di daerah Menoreh sungguh sangat berkembang pesat. Tentu saja, mulai dari Purworejo yaitu Jalan Kaligesing, aku sudah bisa menjumpai plang-plang petunjuk objek wisata ke daerah Kaligesing di perbukitan Menoreh. Goa Seplawan, itu yang paling kuingat. Yah, mentang-mentang sudah pernah ke goa itu.
Sampailah aku di Kulon Progo. What a familiar place! Kepercayaan diri semakin meningkat. Aku tinggal mencari jalan terbaik untuk smapai ke Stasiun Lempuyangan. Dan aku memutuskan untuk mampir sejenak di Toko Buku Togamas sembari mengontrak si dia yang akan bertemu denganku. Saat itu pukul 12.24 WIB. Akupun makan siang di warung makan dekat Togamas. Sedangkan di Togamas hanya melihat-lihat dan kelelahan. Sembari makan siang, aku hanya geleng-geleng kepala dalam imajinasi. Tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Perjalanan melelahkan yang untungnya saja dan Alhamdulillah-nya, aku sampai dalam kondisi sehat dan selamat. Jadi, berapa lama perjalananku Wonosobo – Purworejo – Kulon Progo – Jogja ? Tiga setengah jam (3,5 jam). Kisaran waktu yang sama jika aku menempuh perjalanan Wonosobo – Jogja via Temanggung, dengan rute yang lebih pendek. Jadi, 3,5 jam itu rute lebih panjang. aku harus mengebut di beberapa lokasi enak-kebut dan sepi untuk kejar target.
Makan siang selesai. Aku kembali ke Togamas untuk mengambil tas yang aku titipkan dan motor yang sengaja aku parkirkan di sana. Langsung ke Stasiun Lempuyangan sekitar pukul 13.18 WIB. Bertemu dengan si empunya mie ongkolk instan pukul 13.35 WIB. Mission accomplished!!!
Pelajaran yang dapat diambil dari nyasarnya anak gadis kusam ini yaitu :
- Kreatif
Jadi, apa kreatifnya dari penyasaran ini? Kreatif dalam mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Butuh cara berpikir yang taktis lho ternyata. Meskipun harus diakui bahwa ini berawal dari keteledoran dan kesalahan navigasi. Yah, namanya juga nyasar.
- Target Oriented dan Bertanggung Jawab
Target orientednya dimana? Ya, aku harus sampai di Stasiun Lempuyangan maksimal pukul 13.30 WIB. Dan aku sampai di lokasi sebelum waktu tersebut. Untuk mengantarkan pesanan. Masuk nggak? Masuk donk, please…. 😀 Ini masuk dalam bertanggung-jawab juga lah ya… hahahaha… maunya…
- Mawas Diri
Mawas diri, bahwa aku hanya manusia tempat salah dan lupa. Maka lain kali harus lebih teliti dan mungkin insting itu perlu ditindaklanjuti dengan serius, jangan main-main. Saat merasa nyasar, sudah cek google map, tapi tidak membaca map tersebut secara keseluruhan adalah teledor. Dan mungkin, ada baiknya bertanya pada masyarakat sekitar jika memungkinkan. Meskipun pada kenyataannya, aku tidak melakukannya sama sekali.
You must be logged in to post a comment.