Ibuku, Inspirasi Suksesku

Sebenarnya kisahku ini telah membuat aku malu seumur-umur. Namun setelah kupikir panjang dan kutimbang-timbang, akhirnya aku berkesimpulan bahwa kejadian ini bisa menimpa siapa saja. Oleh karena itu tak jadi soal, meski aib diri ini terbongkar. Pastilah ada hikmah yang lebih baik dari pada hanya menjadi konsumsi pribadi. Kejadian ini terjadi sekitar pertengahan 2006 sampai akhir 2008. Rentang waktu yang cukup lama saat aku masih berjuang menyelesaikan studiku di Teknik Mesin Undip.
Kejadian bermula pada medio 2006. Saat itu aku masih duduk di semester 7. Sebagaimana semester sebelumnya, aku kembali mendapatkan tugas dari Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM), organisasi kemahasiswaan di kampusku untuk memfasilitasi pembayaran internet dan registrasi HMM dalam semester baru. Tugas ini sudah 2 kali kulakukan. Rekan-rekan di HMM mempercayakan hal ini padaku karena aku sudah terbiasa dengan pekerjaan ini. Juga karena akulah mahasiswa yang paling sering kelihatan di kampus dan terkenal jarang pulang kampung. Bahkan saat liburan sekalipun.
Ada 2 pembayaran yang harus kukelola yakni iuran internet sebesar Rp 100.000,00 dan iuran HMM Rp 25.000,00 per mahasiswa. Saat itu, aku bersama dengan 2 adik kelasku yakni Yugo dan Manov. Dengan imbalan Rp 400.000,00 untuk 3 orang, selama jangka waktu 2 minggu kami berusaha menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Mulai jam 8 pagi, selesai jam 3 sore. Begitu tiap harinya. Untuk tempat, kami memilih sudut bagian kiri ruangan TU, Gedung A. Sudut ini kami pilih karena dirasa lebih longgar dibandingkan sudut-sudut yang lain.
Di awal tugas, semua berjalan standar dan lancar. Masalah pasti ada, tapi masih sederhana dan selalu bisa dicari solusinya dengan segera. Namun sayang seribu sayang, konsistensi ini goyah. Petaka itu ternyata datang. 3 hari sebelum tugas ini usai, aku dihadapkan pada permasalahan yang cukup pelik. Aku tidak punya uang untuk membayar SPP semester ini. Padahal waktu pembayarannya paling lambat tinggal besok. Saat itu aku juga sedang banyak tanggungan. Biaya kos-kosan yang belum terbayar, batas terakhir pinjaman yang sudah jatuh tempo dan berbagai problem keuangan yang lain. Semua permasalahan ini datang menyerbuku bertubi-tubi, seakan meminta penyelesaian secara bersamaan.
Sejatinya aku mendapat beasiswa, namun uang beasiswaku sudah habis untuk membayar pinjaman. Dari awal kuliah, aku memang berusaha untuk tidak merepotkan orang tuaku yang hidup sederhana. Ayah yang berprofesi sebagai buruh tani dan ibu yang profesinya menjadi penjual tempe, sebenarnya tidak mendukungku secara finansial untuk bisa kuliah. Keinginan kuat dan doa restu orang tualah yang membuatku bisa kuliah dan terus bertahan sampai sekarang. Agar tidak merepotkan orang tua, aku tidak mau bercerita tentang masalah-masalah yang menderaku selama ini. Seperti permasalahan SPP ini, aku sama sekali tidak menceritakan kepada orang tua, terutama ibu, kalau aku sampai berhutang hingga 5 jutaan untuk membiayai kebutuhan kuliahku di Semarang. Aku hanya menceritakan kabar dan berita yang baik-baik saja. Kabar-kabar yang kurang mengenakkan berusaha kututup-tutupi sementara waktu. Akan kuceritakan semuanya nanti jika masalah itu berhasil kulewati. Cuma belakangan aku tersadar bahwa jujur dan menceritakan saja apa adanya kepada kedua orang tua, terkait apapun yang terjadi pada diri kita, adalah langkah yang lebih baik.
Mengenai uang bayaran SPP ini, otomatis aku kelabakan dan terus memutar otak bagaimana caranya agar mendapat uang setidaknya Rp 800.000,00. Uang ini perinciannya sebagai berikut: 700 ribu untuk pembayaran SPP, 50 ribu untuk pembayaran internet, 25 ribu untuk SAC (semacam laboratorium bahasa) dan 25 ribu untuk pembayaran HMM. Namun tak lama kemudian aku teringat dengan pengalamanku di 2 semester silam. Dulu aku mendapatkan uang SPP dari meminjam ke bendahara HMM dengan syarat segera mengembalikan. Akhirnya aku terpikirkan melakukan hal yang sama.
Saat itu kondisi kampus sedang liburan. Ketua HMM yang juga rekan seangkatanku yakni Anang dan bendahara HMM yaitu Rinrin tidak ada semua. Kudengar kabar mereka berdua sedang pulang kampung. Walaupun belum bertemu dengan keduanya, aku memutuskan untuk tetap meminjam uang HMM lagi. Akhirnya dengan asumsi bahwa nanti ketika melaporkan keuangan ke bendahara aku sudah bisa mengembalikan uang ini, aku langsung menyimpan semua uang iuran HMM ke rekening BNI-ku. Sesuai prediksiku, uang HMM di rekeningku ini akan terdebet secara langsung sejumlah Rp 700.000,00. Tentu saja, akhirnya aku bisa membayar SPP semester 7 dengan sedikit lega. Dan ternyata, inilah langkah salah yang kuambil. Yang belakangan kusayangkan adalah aku tidak segera menghubungi Anang dan Rinrin via HP atau secara langsung. Saat itu HP-ku sedang error. Dan anehnya, aku juga tidak meminjam HP teman, misalnya. Ya, penyesalan memang selalu datang terlambat.
Awalnya semua berjalan lancar. Namun karena sejumlah uang berada di tangan dan berbagai kebutuhan menghampiri, akhirnya beberapa uang kuambil untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Total uang yang kuambil sebanyak 1,792 juta rupiah. Padahal kebutuhan awalku hanya 800 ribu rupiah. Sepekan setelah mendebetkan uang ke rekening tabunganku, aku menyampaikan ke Anang kalau aku meminjam uang HMM 1,792 juta. Saat itu aku berjanji bahwa dalam 1 semester ke depan akan bisa mengembalikan pinjaman ini. Aku juga menghadap ke Rinrin dan mengatakan yang sama seperti saat bertemu dengan Anang.
Ya, semester 7 ini aku “sukses” berhutang ke HMM dengan nominal 1,792 juta. Di samping untuk berbagai pembayaran kuliah dan kos, uang-uang tersebut ternyata ada juga yang secara sengaja kugunakan untuk hal-hal mubazir. Makan sehari sampai 4 kali misalnya. Kemungkinan besarnya, saat itu aku kalap dan termakan bisikan makhluk jahat dalam diriku, agar santai saja menggunakan uang-uang ini. “Santai saja, kamu pasti bisa mengembalikan uang-uang HMM ini kok, Ri. Jadi, tetap tenang bro!” Begitulah kata-kata ajaib yang sering kudengungkan pada diri sendiri kalau aku teringat hutangku ini. Hal ini terus berlanjut dalam rentang waktu beberapa bulan. Di lain waktu, terkadang aku sadar bahwa yang kulakukan ini benar-benar keterlaluan dan di luar batas kewajaran.
6 bulan berlalu dengan segala lika-likunya. Kembali aku menjadi petugas registrasi HMM. Seperti biasa, kebanyakan mahasiswa yang lain tidak mau repot mengurusi hal ini. Kali ini aku bertugas hanya berdua saja, dengan Beni rekan seangkatanku. Setelah job selesai, tibalah saat aku harus menyerahkan laporan keuangan ini ke bendahara HMM. Dalam waktu yang kujanjikan, bukannya bisa mengembalikan hutang yang dulu, aku malah kembali berhutang lagi sebesar 800 ribu. Lagi-lagi untuk pembayaran SPP. Sehingga total hutangku ke HMM ada 2,592 juta. Yang lebih parah lagi adalah saat penyerahan uang ke Rinrin ternyata ada 400 ribu uang yang hilang entah ke mana. Aku merasa uang sejumlah Rp 6.650.000,00 sudah kuserahkan semua. Tetapi Rinrin mengatakan hanya ada Rp 6.250.000,00 yang dia terima. Ya sudah, meski berat, akhirnya aku mengalah karena mungkin akulah yang salah menghitung.
Selanjutnya aku merasa harus bertanggungjawab, walau tidak tahu juga kapan bisa membayarnya. Secara bertahap aku memang mencicil hutang-hutangku ini. Uang dari hasil mengajar privatku tiap bulan, proyekan-proyekan baru yang menghasilkan uang lumayan serta uang beasiswa yang masih turun, kualokasikan lebih banyak porsinya ke pembayaran hutang ini. Cuma memang tidak bisa langsung. Namun sayang seribu sayang, saat deadline terakhir pengembalian pinjaman ini, ternyata tidak semuanya bisa lunas. Padahal semua cara yang aku tahu dan aku merasa mampu telah kucoba.
Perasaan merasa bersalah tambah memuncak ketika kuketahui Rinrin sampai nangis-nangis karena masalah ini. Juga sikap Anang yang serasa menjauh. Anang juga pernah berstatemen dengan nada marah kepadaku bahwa, “Kepercayan itu mahal harganya, Ri!” Bumi ini terasa begitu sempit dan melakukan apapun rasanya tidak enak. Aku jadi merasa sangat bersalah dan merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia. Aku yang awalnya begitu aktif di mana-mana, sekarang berubah menjadi pemurung. Sering aku mengurung diri di kamar dan jarang mau berkumpul dengan teman-teman. Aku selalu mencari tempat-tempat yang sepi untuk menenangkan diri. Jika pun harus melewati tempat yang ramai, aku berusaha memutar haluan mencari jalanan lain yang lebih sepi.
Dalam kesendirian ini, aku jadi teringat dengan masa laluku. Sering air mata ini tumpah tak terbendung. Aku masih ingat dengan keburukan-keburukanku di masa kecil. Sikapku yang begitu manja dan kekanak-kanakan, terutama pada ibu. Saat kecilku, ayah bekerja di Jakarta. Sehingga pada ibulah, aku meluapkan semua emosiku. Aku sering menggerutu kalau keinginan-keinginanku tidak terpenuhi. Bahkan terkadang hal-hal ekstrim seperti membayangkan dan mendoakan hal-hal buruk kepada ibu, juga bisa tiba-tiba muncul di pikiran. Biasanya ini terjadi saat emosiku memuncak. Aku jadi mulai berpikir, “Inilah akibat dari semua perbuatanmu di masa lalu, Er!”. Ya, mungkin ini yang dinamakan hukum karma.
Di kala penyendirian ini, ternyata kebiasaan lamaku menulis di buku harian ternyata malah tersalurkan. Terkadang aku menuliskan puisi, kata-kata motivasi, kisah-kisah pendek, perencanaan-perencanaan dan khayalan-khayalan terkait pelunasan hutang-hutangku ini. Aku masih ingat betul, saat itu aku malah berhasil menyelesaikan karya cerpen pertamaku di bangku kuliah yang kuberi judul “Tikus Aquarius”. Karya ini bercerita tentang kisahku yang berhasil melunasi hutang-hutangku dengan menjadi penulis cerpen. Karya ini kukirimkan ke Majalah Annida. Beberapa karya lain juga sempat kulayangkan ke beberapa redaksi surat kabar seperti Suara Merdeka dan Kompas. Tetapi semuanya nihil tanpa hasil. Bahkan karena untuk mengetik tulisan, mencetak karya dan mengirimkan naskah ini memerlukan biaya, aku terkadang meminjam uang lagi kepada orang yang berbeda. Selama ini uang yang kupunya adalah uangku mengajar privat anak-anak SD, SMP dan SMU. Uang-uang ini baru terkumpul saat aku gajian, sekitar tanggal 28. Mengingat ini semua, aku jadi semakin malu pada diriku sendiri. Bahkan aku juga jadi malu untuk ke kampus. Seingatku, aku sempat beberapa hari tidak berangkat kuliah. Terutama saat rasa malu ini mendominasi pikiranku.
Seiring berjalannya waktu, sejak akhir 2007 aku mulai berbenah. Aku mulai menerima diri apa adanya. Meskipun sering menyendiri, ada kalanya aku terpaksa harus bergabung dan berkumpul dengan rekan-rekanku. Sejauh ini ternyata mereka asyik-asyik saja berinteraksi denganku. Ritme keaktifan seperti yang dulu, mulai kujalani lagi apa adanya. Rapat-rapat organisasi, seminar-seminar, kajian dan jadwal perkuliahan mulai kembali kuhayati. Kebiasaanku membaca buku juga kembali menguat. Buku-buku motivasi untuk sukses dan perencanaan keuangan. menjadi perhatian utamaku saat itu. Hampir semua buku-buku yang kurasa bagus terkait hal ini, berhasil kulalap habis. Berpikir dan Berjiwa Besar karya David J. Schwartz, beberapa buku-buku best-sellernya Robert T Kiyosaki seperti Rich Dad Poor Dad, The Cashflow Quadrant dan Retire Young Retire Rich, ESQ-nya Ari Ginanjar dan Laa Tahzan-nya Aid Al Qarni menjadi temanku saat aku ada waktu. Aku juga kembali menjadi golongan mahasiswa sufi (suka film) dengan menonton film-film yang menghibur nan inspiratif seperti Kungfu Panda, Children of Heaven dan Shaolin Soccer. Tentunya kegiatan menonton film ini kulakukan bersama teman-teman satu kos. Kami biasanya menonton di komputer Taufan. Oiya, Taufanlah, yang selama ini menghiburku kalau aku terlihat bengong dan murung.
Sejak itu aku benar-benar berusaha tidak menggampangkan sesuatu. Jika ada uang titipan dan sejenisnya, aku tidak begitu saja mau menggunakan uang ini untuk keperluan-keperluan pribadi. Meskipun situasi, kondisi dan keadaan sangat mendesak, aku berusaha bersabar. Dengan perenungan yang mendalam, pendekatan kepada Sang Khalik serta komitmen yang membuncah bahwa diri ini harus lebih baik di tahun-tahun setelah 2007, alhamdulillah di tahun 2008 berbagai keajaiban dari Allah mulai datang dan bermunculan tak terduga. Berawal dari keikutsertaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Wirausaha sekitar bulan April 2008, aku yang tergabung dalam tim bersama Yugo dan Riza berhasil menjadi perwakilan kampus untuk menang di tingkatan Jawa Tengah. Saat itu kami mengusung tema “Susu Pasteurisasi Sebagai Brand Baru Oleh-Oleh Kota Semarang”. Kami mendapatkan hadiah uang sebesar 4 juta dari even ini.
Tidak lama berselang sekitar Agustus 2008, bersama Lutvan dan Beni, aku berhasil menggondol juara I di ajang Lomba Karya Tulis Inovatif Mahasiswa (LKTIM) Diknas Jateng. Berawal dari tugas Mata Kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD), tentang keinginan membuat suatu desa yang unik berdasar potensi lokal masyarakatnya, kucoba menggagas “Desa Wisata Tempe” di daerahku yakni di Dusun Sabrang Balong, Desa Gesikan, Kebumen. Ide ini muncul saat dalam perjalananku mengajar privat yang kulalui dengan berjalan kaki sekitar 45 menit. Akitivitas jalan kaki ini kugeluti selama satu semester. Saat itu aku memang benar-benar melakukan penghematan luar biasa dalam segala hal, termasuk biaya ngangkot. Ini kulakukan agar proyek pelunasan hutangku benar-benar bisa sukses. Ide Desa Wisata Tempe ini juga muncul karena kebetulan ibuku adalah pembuat dan penjual tempe. Uniknya, ibuku menjadi penjual tempe favorit warga karena mereka boleh ngutang dulu. Di ajang LKTIM yang cukup bergengsi ini kami mendapatkan reward uang cash sebesar 3 juta rupiah. Setelah dirembug dengan teman-teman tim, 70% dari uang ini dibujetkan untuk melunasi hutang-hutangku di HMM dan beberapa lembaga yang lain. Akhirnya hutangku di HMM dan DPRa benar-benar lunas di bulan Agustus.
Kisah ini belum seberapa. Yang paling membuatku trenyuh dan selalu ingin menangis adalah saat diri ini menjadi finalis Sayembara Penulisan Buku Bacaan SD Tingkat Rendah yang diadakan oleh Diknas Pusat. Saat ada informasi mengenai lomba ini, pikiranku mengarahkan agar tugas ISBDku tentang Desa Wisata Tempe dimodifikasi saja agar bisa layak baca oleh adik-adik SD. Tentunya naskah ini harus menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin. Akhirnya setelah melalui proses pengeditan sekitar 2 minggu, karya ini jadi dan kuberi judul “Ayo Kenal Lebih Dekat dengan Tempe”. Isi buku ini lumayan bagus karena memang cukup detail mengenalkan latar belakang penduduk Indonesia yang agraris namun penuh ironi. Dalam buku ini kutambahkan pula bab tentang teknologi pembuatan tempe dan berbagai tips-tips membuat tempe yang oke serta membuat produk olahan tempe yang enak dan lezat.
Pengalaman sebagai tentor adik-adik SD kelas 1-6, membawa banyak masukan dalam pembuatan buku ini. Beberapa kali aku juga meminjam buku Dhe Vidyan, putra tetangga di kos-kosan yang duduk di bangku kelas 3 SD Islam Diponegoro. Hal ini membawa rasa optimis di dadaku. Deadline pengumpulan pada tanggal 30 Juni sempat membuatku panik. Untungnya sehari sebelum sampai deadline berakhir, karya ini selesai dan langsung kukirim tepat di hari terakhir batas waktunya. Sayangnya aku belum sempat memasukkan salinan karya ini ke pihak kampus. Hal ini karena keterbatasan dana. Mengkopinya juga urung kulakukan, apalagi mengeprintnya. Benar-benar tidak memungkinkan. Meskipun demikian, saat dikirim ke panitia lomba, aku yakin buku ini bisa tembus. Yang lucu, format buku yang kukirim ini masih mirip dengan karya tulis-karya tulis mahasiswa pada umumnya. Tidak nampak seperti buku.
Cukup lama menunggu, sekitar akhir September aku ditelepon oleh pihak Diknas melalui nomor HP Taufan. Ternyata pada awal Oktober aku juga dapat surat dari pihak Panitia Lomba yang isinya menerangkan bahwa bukuku masuk dalam 45 besar naskah yang lolos di tingkat Nasional. Awalnya aku merasa biasa saja dan bersyukur pada Allah. Sampai akhirnya aku kembali ditelepon oleh pihak panitia tentang kesiapan untuk berangkat ke lokasi penyelenggaraan tahap II Sayembara Penulisan ini. Syaratnya aku harus membawa laptop sendiri karena nantinya akan ada sesi perbaikan naskah. Aku mulai pusing memikirkan hal ini. Kebetulan juga, saat itu aku ada beberapa permasalahan. Akibatnya serangan hebat sakit kepala mulai mengganggu aktivitasku.
Suatu saat di hari Minggu, aku ada di laboratorium untuk melakukan pengujian terkait Tugas Akhir (Skripsi) yang sedang kugarap. Lumayan lama aku di sana. Mulai dari jam 08.00 sampai jam 17.30. Bahkan sampai di kosan pun malah baru jam 8 malam karena harus mengerjakan beberapa hal lain yang cukup mendesak. Akhirnya malam itu aku lupa tidak makan. Padahal esok paginya merupakan hari Senin. Biasanya aku selalu berpuasa senin-kamis. Ada banyak manfaat yang bisa kuambil dari kebiasaan baik ini. Di samping dapat pahala (Insya Allah), puasa ini juga sebagai sarana penghematanku sebagai anak kos yang uang bulanannya teramat pas-pasan. Dengan tekad yang bulat aku tetap berpuasa hari itu. Hal ini karena sering juga saat puasa sunnah seperti ini, aku tidak bersahur. Selama ini pun, aku selalu sehat-sehat saja dan tetap kuat sampai adzan maghrib berkumandang.
Namun keesokan harinya saat hendak berangkat ke kampus untuk ngelab lagi sekitar jam 9, ternyata badan ini memanas. Kepala ini pun memusing. Benar-benar pusing luar biasa. Akhirnya aku sms Ardhan dan Dana, rekan TA-ku bahwa hari ini aku terpaksa ijin untuk tidak ngelab. Saat itu kami berencana hendak membuat cetakan terbaru kampas rem sepeda motor. Kebetulan cetakan yang terdahulu kurang berhasil karena saat dilakukan proses sintering di Mesin Hoffmann, cetakannya malah lengket. Juga karena setelah dipanaskan, kampas rem mengalami retak-retak.
Praktis seharian penuh aku di kamar saja. Saat itu aku menempati kamar Mas Supri yang sedang dinas di luar kota. Pagi dan siang hari, aku dibelikan makan oleh Parno. Saat sore hari, aku dikerokin oleh Diboy yang memang cukup piawai dalam hal kerok-mengkerok. Terutama saat ada saudaranya yang sakit. Malamnya, aku malah dibelikan Jus Buavita rasa Guava oleh Diboy sebagai jus terapi untuk sakitku .
Pagi sampai siang, aku masih di kamar. Saat sore menjelang, pusingku semakin bertambah. Setelah didesak oleh teman-teman, akhirnya aku menyerah dan mau untuk dibawa ke dokter. Dengan alasan biaya, aku lebih memilih ke klinik kesehatan. Saat di sana kami harus mengantri terlebih dahulu. Dokternya ibu-ibu. Setelah melakukan adminstrasi dan ditanya tentang keluhan yang melanda, akhirnya aku diobati dengan cara yang unik, model akupunktur. Ini model pengobatan yang baru pertama kali kurasakan. Pengobatannya dengan menusukkan jarum di beberapa titik tubuh yang diprediksi sebagai sumber sakit. Sebelum pulang, aku sempat bertanya ke bu dokter tentang penyakitku ini. Beliau mengatakan bahwa aku terkena Vertigo. Vertigo ini adalah sakit yang tanda-tandanya penderita mengalami sakit kepala atau pusing yang teramat sangat. Aku sih santai-santai saja mendengar jenis penyakit ini. Belakangan kuketahui bahwa Vertigo lumayan mengerikan karena si penderita rawan terkena penyakit stroke.
Aku juga menanyakan rencana keberangkatanku ke Bandung kepada bu dokter. “Kira-kira dengan sakitku seperti ini, masih memungkinkankah aku pergi ke Bandung? Atau tidak usah, misalnya. Takutnya kalau terjadi apa-apa.” Bu Dokter menjawab, “Yang penting istirahat cukup dan pola makan dijaga.” Jika langkah ini dilakukan dengan baik, 2 hari mendatang kondisiku akan lebih baik. Akhirnya aku pulang ke kosan dengan Parno. Kami memilih naik taksi.
Selama 2 hari berikutnya, praktis aku lebih banyak di kamar. Kala malam datang, pusing itu akan muncul dengan tiba-tiba dan rasanya begitu menyengat luar biasa. Pada malam sebelum berangkat ke Bandung, aku mencoba memikirkan berbagai alternatif personal yang bisa dipinjam uangya untuk menggantikan biaya ke Bandung. Awalnya aku mau pinjam ke Lutvan. Cuma uangnya belum bisa dipinjam. Akhirnya aku mencoba ke Restu, adik kelasku. Kebetulan kami sama-sama dari Kebumen. Untungnya si Restu langsung bersedia meminjamkan uangnya setelah kujelaskan panjang lebar tentang rencanaku ke Bandung. Setelah mengambil uang di ATM, aku mengajaknya ke biro perjalanan terdekat. Kebetulan di daerah Ngesrep ada biro perjalanan yakni Adi Putra Tours & Travel. Biaya pemberangkatan travel Semarang-Bandung dipatok 150 ribu.
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan mulai menyiapkan barang-barang apa saja yang musti dibawa ke Bandung. Saat itu aku meminjam travel bag Gunadi serta membawa tas kecil punyaku. Ada beberapa buah baju yang kubawa untuk ke Bandung dan tentunya kupilih yang bagus-bagus. Satu hal yang belum ada adalah laptop. Untungnya pagi-pagi aku teringat Mas Kuri, rekan bisnis mahasiswaku. Aku mencoba sepagi mungkin sehabis subuh untuk mengontak dia dan memastikan apakah dia bisa meminjamkan laptopnya. Ternyata dia tidak bisa dihubungi saat kutelepon. Akhirnya jalan terakhir adalah meng-sms nomor HP-nya. Ternyata aku sudah kehabisan pulsa, sehingga praktis aku tak bisa sms.
Sambil mempersiapkan hal yang lain, pada waktu yang begitu mepet aku ternyata mendapat respon positif dari Mas Kuri. Beliau meminta maaf karena baru saja olahraga. Saat itu jam 7 lebih 10 menit. Padahal aku harus sudah di agen Adi Putra agar bisa menunggu mobil travel pada pukul 07.30. Jelas aku kelimpungan. Setelah beberapa kali menanyakan kapan laptop bisa diambil aku langsung putuskan untuk ke Mas Kuri untuk mengambil laptop. Ternyata saat aku ke kos Mas Kuri, dianya malah tidak ada di kosan.
Dengan terburu-buru, kupercepat langkahku sekencang mungkin agar bisa segera sampai di depan pemberhentian angkot. Beruntung tidak lama menunggu, akhirnya aku dapat angkot dan sepuluh menit berselang aku sudah sampai di Adi Putra Tours & Travel untuk menunggu mobil travelnya. Saat kutanyakan ke bapak agen travel yaitu Pa Adi, beliau menjelaskan bahwa mobil baru ada sekitar setengah jam lagi. Mendengar kata-kata Pa Adi, aku langsung menyambar gagang telepon wartel yang memang selokasi dengan Adi Putra Tours & Travel. Kembali kucoba mengontak Mas Kuri. 3 kali tidak ada respon, namun tetap kucoba lagi. Alhamdulillah untuk yang keempat ini, telepon Mas Kuri diangkat. Dan akhirnya kuberitahukan kepadanya bahwa aku sudah berada di Adi Putra Tours & Travel, dekat patung kuda Pangeran Diponegoro. Aku berharap betul beliau mau membawakan laptopnya. Kutunggu hampir seperempat jam, akhirnya Mas Kuri datang dengan membawa tas berisi laptop dan semua perlengkapannya. Setelah mengobrol tentang harga sewa selama 5 hari, akhirnya harga sewa disepakati 300 ribu. Saat itu aku belum ada uang sehingga aku berhutang dulu. Untungnya Mas Kuri bersedia. Alhamdulillah, masalah laptop terselesaikan.
Jam 9 tepat mobil travel penjemputku datang. Aku dan penumpang travel lain masih harus ke berbagai tempat di area Semarang untuk menjemput beberapa penumpang yang lain. Kami sempat masuk ke gang di daerah sekitar Pasar Karangayu. Juga sempat mengambil penumpang di perumahan yang rumahnya begitu bagus dan tertata rapi di kawasan Pantai Marina. Akhirnya, tepat pukul 10 semua penumpang mobil travel ini sudah naik semua.
Perjalanan Bandung-Semarang memakan waktu 8 jam. Dalam perjalanan yang panjang ini, aku harus berbagi konsentrasi agar tetap kuat menahan deraan pusing yang teramat kuat menyergap. Sesampainya di Bandung, hampir 2 jam sendiri kami berkeliling di kota Bandung untuk mengantar penumpang yang lain. Aku berada pada posisi juru kunci saat pengantaran penumpang karena tempat tujuanku adalah Hotel Grand Permata Resto di daerah Setrasari, Bandung. Hotel ini berada di kawasan kampus Universitas Maranatha. Daerah tujuanku ini adalah daerah tujuan paling ujung dibandingkan penumpang travel yang lain.
Tepat jam 20.45 aku sampai di depan pintu hotel. Sampai di sana, aku sudah disambut oleh 2 orang berkostum padu-padan yang begitu rapi. Kemudian aku dipersilahkan menuju bagian resepsionis. Selanjutnya aku diminta untuk mengisi daftar hadir. Akhirnya aku diantar sampai anak tangga terbawah, untuk dibawa ke lantai atas yang merupakan tempat tinggal peserta Sayembara Naskah Buku SD Tingkat Rendah. Aku langsung diberi kunci nomor D 204. Saat itu kepalaku benar-benar masih pusing, pening, penat, cekot-cekot dan hampir muntah. Untungnya aku berusaha menahan semua rasa ini agar orang-orang di sekitarku tidak merasa iba dan kasihan.
Setelah menaiki tangga, aku sampai juga di depan ruangan kamar. Awalnya aku kebingungan untuk membuka kamar hotel tersebut. Ternyata cara membukanya sangat unik yakni memasukkan kartu terlebih dahulu bagaikan suatu sandi. Setelah sensor cahayanya muncul, baru kunci aslinya bisa digunakan untuk membuka kamar tersebut. “Kamarnya besar sekali,” pikirku. Aku jadi teringat dengan kamar hotel saat KKL di Bali 2 tahun lalu. Akhirnya aku meletakkan barang-barangku di kamar tersebut. Lima menit berselang, bergegas aku keluar kamar dan menuju panitia untuk menanyakan selanjutnya bagaimana.
Setelah tanya sana-sini cukup lama, aku mulai paham bahwa acara sudah dimulai 2 jam yang lalu. Sesampainya di ruangan yang ditunjukkan oleh satpam hotel, aku langsung masuk. Begitu masuk, aku menjadi pusat perhatian karena malam-malam begini masih ada peserta yang baru datang. Namun, acara malam itu ternyata sudah selesai.
Lalu, aku pun menuju kamarku. Aku sekamar dengan Pa Sahlan (40 tahun), Pa Arifin (35 tahun) dan Mas Lian (28 tahun). Pa Sahlan adalah Kepala SMP di Lotim, NTB. Beliau banyak cerita tentang hobinya yang sejak kecil sudah suka menggambar. Kalau Pa Arifin adalah guru kelas 6 SD di Jogja. Saat itu beliau membawa segunung berkas-berkas tugas kantornya karena sedang deadline pembuatan soal-soal LKS yang sedang menjadi proyek bersama dengan tim MGMP di kotanya. Sedangkan Mas Lian terkesan paling santai. Beliau adalah guru Bahasa Inggris kelas 3 SMP di Purwakarta. Sebelum menjadi guru, beliau sempat menjadi EO artis-artis dan even-even berskala besar dengan hasil sangat lumayan. Sekarang, Mas Lian lebih enjoy menjadi guru.
Hari-hari di Bandung benar-benar luar biasa. Berbagai makanan enak yang disantap tiap hari, menjadikan semua peserta betah. Kamar yang begitu besar dan kasur yang begitu empuk membuatku serasa di surga saja. Acara-acara yang ditawarkan juga amat menarik. Selama di Bandung, aku dan finalis lain mengikuti 2 hari pelatihan, 2 hari perbaikan naskah dan 1 hari penentuan juara-juaranya.
Berbagai hal telah kulalui selama 4 hari pertama di hotel ini. 2 hari pertama, aku jadi mengenal banyak penulis se-Indonesia serta menambah pundi-pundi ilmu kepenulisan. Adanya pembicara yang berasal dari berbagai latar belakang dengan kekhasan yang berbeda menjadikan pelatihan 2 hari ini menjadi hidup. Untuk naskah, setelah kubandingkan dengan teman sekamar, ternyata naskahku kurang bagus. Menurutku karya Pa Sahlan paling bagus.
Hari terakhir, hampir semua peserta terlihat sibuk untuk mengedit naskahnya masing-masing. Aku sempat melihat naskah Kang Hendi, penulis dari Bandung. Bukunya benar-benar penuh warna dan lengkap benar. Aku jadi terinspirasi untuk memperbaiki naskahku agar tidak terlihat apa adanya begitu saja. Aku mempermak karyaku yang berjudul “Ayo Kenal Lebih Dekat dengan Tempe” menjadi semenarik yang aku bisa.
Saat beberapa kali melakukan pengeditan naskah ini, aku sempat mendapat beberapa pesan YM (Yahoo Messenger), friendster dan email. Beberapa sms juga kudapatkan dari rekan-rekan di Semarang, Bandung dan Jakarta. Aku sempat juga menghubungi anak-anak Etoser Bandung, komunitas yang dulu sempat kusinggahi saat Studi Banding Mahasiswa ke ITB dan UPI. Aku menghubungi Nur Ahmadi, Etoser Bandung dari daerah yang sama denganku, Kebumen bahwa aku akan mampir ke Etos dan Perhimak Bandung.
Akhirnya pada kamis malam semua naskah harus segera masuk ke panitia. Aku menyerahkan semua naskahku tepat pada pukul 22.00. Ternyata sampai malam-malam pun masih ada finalis yang belum selesai. Keesokan harinya, kami hanya santai-santai saja. Sebelum sarapan pagi, Pa Sahlan tiba-tiba menanyakan apakah aku sudah memberitahu ibuku di Kebumen terkait hal ini. Aku menjawab bahwa aku memang belum menghubungi lagi orang tua di rumah. Saat itu aku sedang tidak ada pulsa. Akhirnya aku dipinjami HP Pa Sahlan. Selanjutnya kukabari ibu dengan menghubungi HP Tanti, sepupuku. Kujelaskan panjang lebar kepada ibu, kalau aku sedang di Bandung dalam rangka sayembara menulis buku dan mohon didoakan agar berhasil. Ibu merespon dengan sangat baik.
Keesokan paginya merupakan hari yang ditunggu-tunggu seluruh peserta sayembara. Seperti biasa, acara dimulai dengan sambutan dan beberapa seremoni upacara. Juga diselingi beberapa hiburan dari penyanyi. Beberapa dewan juri yang hobi menyanyi, menyumbangkan suaranya di sesi ini. Beberapa peserta juga tidak mau kalah. Kemudian pengumuman siapa juara-juaranya diumumkan pukul setengah 10. Ternyata juara 3 dulu yang dipanggil. Sejumlah 20 orang per kategori. Yang tidak kuduga, Pa Sahlan masuk dalam 20 orang ini. Kaget juga, karena aku secara pribadi menjagokan Pa Sahlan menjadi juara 1. Pa Arifin juga dipanggil dalam kelompok pertama ini. Pengumuman kedua tentang 15 orang juara kedua. Mas Lian masuk di kategori kedua ini. Ternyata aku juga masuk. Akhirnya nama-nama yang belum disebut langsung berbahagia karena menjadi 10 yang terbaik. Tercatat ada Mba Amel, Kang Hendi, Bu Suprihatin dan 7 nama lainnya. Belakangan kuketahui, Bu Suprihatin yang sudah berumur lanjut ternyata tidak bisa mengetik. Dia menuangkan ide menulisnya dengan meminta bantuan tukang rental. Ada juga peserta termuda yakni Dhe Faisal kelas 3 SMP beserta ibunya yakni Bu Zahra. Keduanya menjadi finalis dan mendapatkan juara 3. Sesi ini benar-benar menjadi momen yang paling mengharukan.
Setelah semua beres, kami mengambil uang hadiah dan penggantian biaya transportasi. Aku benar-benar mendapatkan uang hadiah tersebut yakni 15 juta rupiah. Dengan tambahan untuk akomodasi selama di Bandung serta dipotong pajak 15 %, kuhitung ada uang Rp 14. 250.000,00 di amplop warna cokelat. Lalu kukabari Arif, sahabat karibku dari SMP tentang hal ini via sms. Aku juga mengabari Nasikhin via YM, temanku di UI yang kebetulan sedang online.
Sebelum pulang ke Semarang aku sempat istirahat 2 jam di Asrama Etos. Karena waktu sudah tidak memungkinkan untuk mampir ke Asrama Perhimak, akhirnya kuputuskan untuk membatalkan singgah di sana. Aku dan Nur Ahmadi bergegas menuju ke Stasiun Kereta Api Kiara Condong. Sebelum ke stasiun, kami menyempatkan ke Pasar Baru di Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) untuk berbelanja. Namun, sesampainya di sana, pasar sudah tutup. Akhirnya kami membeli oleh-oleh berupa dodol dan keripik tempe. Untuk oleh-oleh ini, 2 tasku terisi penuh barang-barang ini. Aku juga menitipkan sebagian oleh-oleh ini ke Nur Ahmadi untuk rekan-rekan Etoser Bandung. Kami memutuskan untuk makan malam dulu karena memang belum sempat makan.
Akhirnya aku naik kereta api eksekutif saat pulang menuju Semarang. Nur Ahmadi mengantarku sampai tempat duduk. Kemudian kami berpisah. Saat itu pukul 20.30. Aku duduk bersebelahan dengan Mas Trian, anggota TNI yang dinas di Aceh dan sedang dalam perjalanan pulang ke Semarang karena istrinya melahirkan. Di seberangku ada Pa Tri, peserta sayembara penulisan naskah dari Semarang juga. Sama seperti aku.
Pagi-pagi sekitar jam 5, kami sampai di Stasiun Tawang dan aku minta ke Pak Tri agar shalat terlebih dahulu. Beliau dengan senang hati mempersilahkan. Hari itu hari minggu. Beliau yang beragama Kristen mulanya ada jadwal ibadah pagi. Cuma karena diprediksi akan tetap terlambat, beliau mengatakan akan mengambil jadwal ibadah yang siang saja. Saat menuju rumah Pa Tri kami memilih naik taksi. Rumah Pa Tri ada di Jalan Pakis III/55, Klipang Alam Permai. Selama perjalanan, kami banyak mengobrol tentang keluarga dan pekerjaan Pa Tri. Setelah Pa Tri turun, taksi pun melaju melanjutkan perjalanan menuju kosku di daerah Jalan Banjarsari, Gg Nirwanasai I/1, Tembalang.
Saat sampai di Tembalang, suasana kos masih sepi. Aku langsung menuju kamar dan istirahat. Setengah jam kemudian, ternyata Bayu masuk kamar dan mendapatiku sudah sampai di kos. Kontan dia kaget dan berteriak histeris, “Woi…, Pa Eri sudah pulang dari Bandung”. Akhirnya praktis seharian itu aku bercerita panjang lebar tentang pengalaman selama di Bandung. Sore hari aku membeli roti brownies 10 pak, kemudian kubagi-bagikan ke pihak-pihak lain yang sudah kurencanakan. Setidaknya 2,5 % dari hadiah ini kualokasikan untuk zakat. Ya, semacam syukuran, lah.
Keesokan harinya aku langsung mengagendakan pulang kampung. Saat ayah dan ibu melihat kepulanganku, mereka begitu bahagia. Bahkan saat kuberitahu tentang besarnya hadiah yang kubawa mereka benar-benar terharu dan tidak menyangka. Ibu bercerita dengan begitu antusias bahwa setelah kutelepon dari Bandung beliau langsung bermunajat kepada Allah dan banyak-banyak berdoa agar aku diberikan yang terbaik. Mataku menjadi berkaca-kaca.
“Alhamdulillah ya Allah, semoga ke depan aku makin lebih baik. Dan semoga pula aku kian mantap dalam upaya membahagiakan kedua orang tuaku, terutama ibu. Aku akan berusaha mempersembahkan yang terbaik semampuku. Spesial untuk ibu, terima kasih untuk semua inspirasi, dedikasi dan perjuanganmu selama ini. Maafkan atas segala kesalahanku di masa lalu. Ibu, aku akan selalu mencintaimu dan berbakti kepadamu sampai di ujung waktu,” doaku dalam hati.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.