Setelah Bumi Hancur

“Tolong katakan dengan jelas, siapa nama perempuan yang kau cari itu, anak muda?” tanya pria berseragam biru yang duduk di balik meja informasi itu kepadaku. Aku tak langsung menjawab. Kepalaku masih pusing serasa baru dihantam jutaan palu godam. Dalam ruangan seukuran hangar pesawat terbang ini aku tak sendirian. Ada lebih dari seribu orang yang juga sedang mengantri di depan meja-meja informasi dan mengalami kebingungan yang sama denganku  sekarang.

“Saya beri waktu kamu ceritakan pelan-pelan. Apa saja yang kamu ingat tentang perempuan itu?” tanya petugas itu kemudian.

“Sebentar,beri saya waktu untuk mengingatnya.”

“Ceritakan apapun yang kau ingat tentang dia. Pekerjaannya, sifatnya, hal-hal yang menjadi kesukaannya, apa saja lah. Terserah. Saya akan coba bantu.”

“Memang databasenya bisa sampai selengkap itu?”

“Kau mau dibantu atau tidak?” tanya petugas itu sebal.

“Oh, baik.”

“Oke. Silakan.”

“Dia partner saya.” Aku mulai bercerita. “Perempuan yang menyangka dirinya adalah rockstar. Penggemar langit sore. Hobinya segala yang berhubungan dengan fotografi. Dan pekerjaannya adalah…”

“Fotografer?” potong petugas itu

“Bukan.”

“Lalu?”

“Pekerjaannya sama dengan saya. Kami nggak punya kantor. Kami hanya bekerja kalau ada permintaan..”

“Saya jelaskan ya, anak muda.” Ucap petugas itu cepat. “Waktumu tak banyak. Masih ada banyak orang yang harus saya layani.”

“Baik,” jawabku. “Saya dan dia adalah sepasang pembunuh freelance.”

“Pembunuh bayaran maksudmu?” tanya petugas itu dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi. Seakan pekerjaan ‘pembunuh bayaran’ adalah hal yang biasa saja baginya.

“Yes. Kami sepasang pembunuh bayaran.”

Petugas itu kembali mengetikkan sesuatu keyboard komputernya.

“Ada lagi yang kau ingat?”

“Saya pernah mencari tahu tentang arti namanya di Google.” Jelasku. “Namanya bagus. Artinya Mengerti orang lain. Lembut, baik, pekerja keras. Penuh semangat, mudah beradaptasi. Selalu diberkati. Menarik dan perhatian. Ekspresif, ceria. Artistik, memiliki selera yang bagus. Memiliki kemampuan berbicara yang baik. keuangan naik turun. penolong, penuh keyakinan.”

“Oke, cukup.” Ujar petugas itu. “Pasti ini perempuan yang kau cari,” lanjutnya. “Bersyukurlah, dia juga selamat. Pesawatnya yang membawanya sedang menuju ke sini. Tunggu 1-2 jam lagi.” Tambah petugas itu. Dia lantas menunjukkan foto perempuan cantik di layar monitor itu kepadaku. Tertulis nama dan sebaris angka kode di sana;

PRISKILA EIRENE

XC9878

***

Ditulis untuk kado farewellnya Kila yang mau cabut ke Kanada.

Smashing Pumpkins – Perfect #nowplaying

Laki-laki Dari Masa Depan

“Kelak di masa depan akan ada penemuan luar biasa,” ucapku pada perempuan berparas cantik yang duduk lesehan di sampingku itu. Lalu lintas depan Circle K Kemang Raya masih ramai, kendaraan berlalu lalang dari dua arah, macet dan semrawut.  Motor, mobil pribadi, Kopaja, hingga bajaj yang knalpotnya mengepulkan asap. Beberapa pejalan kaki di atas trotoar tampak gelisah dan terburu-buru. Samar-samar tercium wangi sate Padang yang dibakar di atas tungku, dan aroma nasi goreng dari gerobak yang mangkal tak jauh dari situ. Perempuan di sampingku tersenyum, kemudian membuka kaleng minuman dingin di tangannya. “Namanya mesin waktu,” lanjutku tanpa mengalihkan pandangan dari kedua mata beningnya. “Dengan itu kamu bisa melakukan sesuatu yang selama ini hanya menjadi khayalan bagi banyak orang.”

“Melihat masa depan?” tanyanya.

“Bukan,” aku menggeleng. “Mesin waktu tak diciptakan untuk itu. Bahkan di masa depan nanti, orang-orang pintar, – para ilmuwan jenius itu tetap akan membiarkan masa depan menjadi misteri. Agar hidup tetap berjalan seru dengan segala misterinya. Agar manusia tak bertindak semaunya setelah melihat masa depan mereka yang indah, juga agar mereka yang bermasa depan buruk tidak dihantui ketakutan yang sia-sia.”

“Bukankah dengan melihatnya, mereka yang masa depannya buruk atau suram bisa menata diri mereka lebih baik agar masa depan itu menjadi lebih indah?”

“Memang benar,” tukasku sambil tersenyum. “Tapi kalau seperti itu, apa serunya hidup? Bayangkan saja kalau kamu bisa pergi ke masa depan, lalu bertemu dengan pasangan hidupmu, anak-anakmu, atau jika terjadi sesuatu yang buruk, bisa saja kamu mendapati kenyataan bahwa di jaman itu kamu sudah mati dan hanya tinggal nama. Bisa dipastikan hidupmu takkan berjalan seperti sekarang bukan?”

“Aku tak berani membayangkannya.”

“Tujuan utama diciptakannya mesin waktu adalah memperbaiki kesalahan,” lanjutku antusias. “Tapi teknologi itu juga bisa kau gunakan untuk mengobati rindu, untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah kau cintai namun tak mungkin lagi kau temui. Mungkin bisa juga untuk meminta maaf pada orang yang telah kau lukai namun belum sempat kau meminta maaf , dan masih banyak lagi kegunaan lainnya. Yang jelas, mesin waktu hanya bisa berjalan mundur, bukan maju ke masa depan.” Pungkasku panjang lebar.

“Dan kelak itu akan dijual bebas?” tanyanya.

“Sayang sekali tidak,” aku kembali menggeleng. “Mesin waktu cuma disediakan terbatas. Akan tertulis di peraturan internasional, satu negara hanya boleh memiliki satu mesin waktu. Untuk bisa memakainya orang harus membayar cukup mahal. Namun bagiku itu wajar, bukankah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan adalah hal yang tak ternilai harganya?”

“Tapi kalau aku hidup di jamanmu, aku tetap tak akan mau kembali ke masa lalu. Rasanya aku tak akan butuh mesin waktu.”

“Kenapa?”

“Bagiku masa lalu hanya untuk dikenang, atau untuk dijadikan pelajaran.” Jawabnya. “Masa depan yang jauh lebih penting. Kalau tadi kamu bilang hidup tak akan seru saat kita bisa melihat masa depan, bagiku hidup tak akan bisa maju kalau kita terus terpaku atau larut menyesali masa lalu yang menyedihkan.”

Kali ini aku yang terdiam. Sebenarnya aku masih ingin membantahnya, dan meyakinkan dia bahwa mesin waktu untuk kembali ke masa lalu adalah penemuan yang sangat berguna. Namun waktuku mampir ke jaman ini hanya tersisa beberapa menit lagi. Setelah ini aku sudah harus kembali ke jaman dimana aku tinggal. Jaman dimana aku sudah menjadi seorang sutradara terkenal dan hidup bahagia bersama seorang istri yang sangat kucintai, dan dikaruniai seorang anak laki-laki tampan yang nakal bukan main, tapi mewarisi sifat teguh dan pantang menyerah dari ayahnya.

“Lalu?” tanyanya. “Untuk apa kamu datang ke sini?”

“Tentu saja untuk..”, aku menghela nafas sebentar. Pemilik sepasang mata bening itu kembali tersenyum, dan aku semakin salah tingkah melihatnya. Jantungku mulai berdegup lebih kencang, pikiranku mendadak kacau. Setengah mati aku berusaha menyusun kalimat yang tepat untuk mengatakan tujuan sebenarnya aku datang ke jaman ini.

“Kamu,” ujarnya setengah berbisik. “Lelaki dari masa depan, untuk apa kamu datang ke sini?”

“Untuk meyakinkanmu,” jawabku cepat. “Ini memang baru pertama kalinya kita bertemu. Tapi kamu harus percaya, kita akan bertemu lagi.”

“Aku masih belum paham.”

“Kita..  akan bertemu.. lagi,” ucapku terbata. “Mungkin.. saat itu kamu tak akan mengenaliku. Karena yang kamu lihat sekarang ini.. hanya tubuh pinjaman.” Lanjutku. Sebisa mungkin aku berusaha agar kalimat absurd itu tidak terdengar mengada-ada. “Kita.. akan bertemu lagi, di waktu dan tempat yang takkan pernah kamu duga sebelumnya. Dan di masa depan nanti kamu akan menjadi…”

Kalimat itu belum selesai kuucapkan, namun seberkas cahaya putih kebiruan sudah kembali datang menerpaku. Earphone yang terpasang di telinga kiriku berbunyi bip..bip..bip pelan, kemudian suara merdu seorang perempuan terdengar dari sana.

“Maaf, waktu anda telah habis. Terima kasih telah menggunakan jasa mesin waktu.”

***

Kemang, 15 Maret

Sheila On 7 – Untuk Perempuan #nowplaying

Senyum Tercantik Di Dunia

Saat aku sedang menulis ini, yang terjadi adalah sebagai berikut.

Hujan deras mengguyur Harmoni dan sekitarnya. Langit yang tertutup awan gelap itu mendadak mengingatkanku pada film End Of Days. Aku sedang duduk manis di dalam kubikel, sesekali memandangi hujan di luar lewat kaca jendela kantor yang basah, ditemani segelas kopi susu yang isinya tinggal separuh, sebungkus kacang atom yang juga tinggal separuh, dan suara Duta Sheila On 7 yang menyanyikan Terlalu Singkat terdengar dari speaker  di atas meja kerja.

Untaian rasa yang kuselipkan

Semoga mampu ‘tuk meluluhkan

Hati pemilik senyum itu

Aku sedang suka lagu ini. Itulah kenapa sejak setengah jam yang lalu, hanya lagu ini yang kuputar berulang-ulang. Menurutku liriknya bagus. Sederhana, namun sangat mengena dan menunjukkan rasa percaya diri yang besar pada seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta.

Dan pikiranku lantas tertuju ke perempuan itu. Sosok yang diam-diam kukagumi dan sering memenuhi pikiranku akhir-akhir ini. Perempuan dengan segaris senyum tercantik di dunia, terukir dengan sempurna di wajahnya.

Aku masih ingat kapan dan di mana pertama kali aku bertemu dengannya. Tapi rasanya terlalu panjang kalau kuceritakan semuanya di sini, dan kupikir kalian juga takkan peduli. Satu-satunya hal yang mungkin perlu kalian tahu adalah, hari itu aku masih terlalu pengecut dan belum berani berkenalan dengannya. Aku bahkan tak tahu namanya, dan tentunya dia juga tak tahu namaku. Namun saat pertemuan berikutnya, sekitar dua  minggu kemudian,  aku sudah berani menyapanya. Kemudian kami berkenalan, saling menyebutkan nama, aku tersenyum kepadanya, dan dia membalas dengan senyum cantik yang langsung membuatku yakin kalau dunia ini sudah sangat indah tanpa perlu lagi surga.

Berbagai cara akan kucoba

Agar aku takkan kehilangan

Pandangan dari senyum itu

Dan bisa aku katakan

Jadi kekasihku akan membuat

Kau jauh lebih hebat

*

“Lalu di mana kita bisa bertemu besok?” tanyanya di telepon.

“Halte Bank Indonesia?” tawarku.

“Kenapa harus di situ lagi?”

“Lagi? Bukannya minggu lalu kita tak jadi bertemu di sana?”

“Bagaimana kalau halte Sarinah?” dia bertanya balik. “Letaknya juga tak jauh dari Monumen Nasional kan?”

“Hmm.. Oke.”

“Nah. Deal. Berarti kita akan bertemu di sana besok, jam 19:19.”

“Sebentar,” selaku. “Kenapa harus jam 19:19?”

“Besok akan kuceritakan deh.”

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Kenapa halte Sarinah?”

“Karena di seberang halte itu,” jawabnya. “Maksudku di Sarinah, ada tulisan, ‘Karena Cinta, Kami Kembali’. Tagline di banner re-opening Mc Donald.”

Aku tidak berkata-kata lagi. Dan percakapan di telepon itu berakhir sampai di situ.

Kisah ini memang hanya tentang sebuah senyum tercantik di dunia. Tepatnya pemilik senyum tercantik di dunia. Dan seorang laki-laki yang sedang mengaguminya.

Tak ada yang lain, hanya dia.

Jika kau pernah merasakan, bahwa jatuh cinta bisa membuatmu kehilangan kata-kata, dan ujung-ujungnya hanya menjadi cerita tak jelas seperti ini, sepertinya saat inilah aku benar-benar sedang mengalaminya.

***

Cinta Terakhir Di Cintanya

Oke, Bay. Sekarang jelasin kenapa lo ngajak gue ke tempat ini, tengah malam begini?”

“Ini belum tengah malam,” jawab laki-laki lawan bicaraku itu. “Masih ada beberapa menit lagi,” tambahnya.

Aku melirik jam di pergelangan tangan kiriku, masih jam 11 lewat sebelas menit. Waktu yang tepat untuk mengatakan rindu kepada orang yang kita sayang. Itu mitos yang sering aku baca dan dengar dari kalangan teman-teman di twitter circleku.

“Gue akan mengalami hal yang luar biasa malam ini,” jelasnya. “Sebuah kabar bahagia, dan lo harus jadi orang pertama yang mendengarnya.”

“Hah? Kenapa harus gue?”

“Karena ini hal yang sangat luar biasa,” jawabnya. “Dan sebagai teman terbaik, lo harus jadi orang pertama yang tahu.”

“Hmm..”

“Gue mau nelepon Maya!”

“What?” aku makin tak habis pikir. “Yang seperti itu lo bilang luar biasa?”

Baik, sebelum kulanjutkan ceritaku, ada baiknya kuberitahukan dulu fakta-fakta ini pada kalian.

Sekarang sudah mendekati tengah malam. Kami sedang berada di pinggir jalan, -tepatnya di halte bis kota yang letaknya persis di depan Monumen Nasional, sambil menikmati kopi dalam gelas plastik yang kami beli dari penjual kopi bersepeda. Orang yang sedang bersamaku ini bernama Bayu. Dia temanku, dan perempuan bernama Maya adalah pacarnya sejak setahun terakhir. Satu fakta lagi yang juga harus kalian tahu, Maya bekerja sebagai call center di sebuah perusahaan seluler. Pekerjaannya tentu saja mengangkat telepon dan melayani keluhan customer tentang banyak hal. Mulai dari saran, keluhan, kritik, komplain, cacian, makian, bahkan kadang juga pria-pria hidung belang yang iseng mencari mangsa dan mencari teman tidur.

“Gue mau coba telepon Maya,” ulang Bayu.

“Ke nomor call center? Lagi?”

“Yes.”

“Gila! Bukannya selama ini lo gak pernah berhasil?”

“Memang. Selama ini gue udah sering coba, dan selalu bukan dia yang mengangkat teleponnya.”

“Pikirkan ini, Bay. Petugas call center nggak cuma Maya, customer yang nelepon jam segini juga nggak cuma lo. Kecil sekali kemungkinan lo bisa ngobrol sama pacar lo di jalur call center.”

“Ya, gue tahu. Tapi ini sama sekali bukan masalah kemungkinan.”

“Keyakinan dan sugesti?” tanyaku.

“Bukan juga.”

“Lalu?”

“Hati dan cinta.”

Sungguh, aku tak bisa berkata-kata lagi mendengar jawaban Bayu yang absurd barusan.

“Oke. Malam ini lo akan jadi saksinya,” cetus Bayu lagi. Tangannya kemudian menekan sebaris nomor di handphonenya, dan tak lama kemudian sudah ada jawaban dari seberang sana.

“……”

“Ya. Selamat malam, Mbak Maya.” Jawab Bayu dengan suara yang diberat-beratkan. Dia mengacungkan jempolnya, lalu melirik dan tersenyum lebar ke arahku. Aku terperangah dan geleng-geleng, tak menyangka dengan kebetulan yang sangat-sangat jarang terjadi ini.

“……”

“Ada, Mbak.” kata Bayu dengan nada datar, masih dengan suara yang diberat-beratkan.

“……”

“Tidak mbak…”

“……”

“Mmm..bukan juga mbak..”

“……”

“Jadi, saya mau minta tolong sama mbak Maya..” ujar Bayu. Kali ini nada bicaranya mulai serius.

“……”

“Tolong jawab pertanyaan saya ya, Mbak.”

“……”

“Anindya Maya Safitri,” Bayu memelankan suaranya. “Maukah kamu menjadi pilihanku, menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau menikah denganku?” lanjutnya. Kali ini sudah dengan suara normal, suaranya sendiri, bukan suara yang diberat-beratkan.

“……”

“Aku pertegas ya, Nyit…” tambah Bayu lagi. “Sayangku, Anindya Maya Safitri. Maukah kamu menikah denganku?”

“……”

Yeah, ‘Nyit’ adalah panggilan sayang Bayu terhadap perempuan yang sangat dicintainya itu. Saat ini tentu saja aku tak bisa mendengar apa jawaban Maya di seberang sana. Tapi melihat raut Bayu yang mendadak terlihat sangat bahagia seperti habis menang undian bermilyar-milyar, rasanya tak perlu lagi aku bertanya. Kabar yang disebut Bayu sebagai hal luar biasa itu tinggal menunggu waktunya, tentang cinta terakhir di kisah cinta mereka.

***

Ditulis untuk Galuh Parantri

Diadaptasi dari cerpen ‘Miss Ringring’ oleh Galuh Parantri

Categories: Fiksi Tags: , ,

Hariku Bersamanya

Jadi, kamu sudah baca draftnya?

Sudah.

Bagaimana?

Overall bagus. Ada haru, romantis, cinta, meski banyak yang kayak curhat habis-habisan.

Hahaha.. Sial.

Tapi benar kan?

Cuma sebagian. Lebih banyak cerita yang difiksikan.

Difiksikan bagaimana?

Disesuaikan dengan,..hmm.. apa ya?

Itu kado valentine buat mantan pacar kamu. Benar?

Hmm..

Kok ‘Hmm..’?

Hmm..

Baiklah, kembali ke topik semula aja. Anyway, aku suka kalimat di cerita terakhir draftmu.

Yang mana?

‘Karena Samsul Bahri hanya menunggu, bukan mendatangi.’

Hahaha..

Kenapa tertawa?

Itu bukan kalimatku. Hanya adaptasi dari kalimat lain yang ada di cerpen sejenis, di blog temanku.

Sejenis? Gay dong..

Hahaha… Bukannn…  Itu dari kalimat lain bunyinya ‘Kalau saling menunggu, siapa yang mendatangi?’

Ngena banget. Cerpennya tentang apa?

Tentang seorang laki-laki yang mengejar cintanya hingga keliling Jakarta.

Hmm..

Kok sekarang kamu yang bilang ‘Hmm..’?

Nggak. Btw, beberapa cerita juga membuatku sampai tertawa-tawa saat membacanya.

Syukurlah.

Kenapa?

Setidaknya aku berhasil membuatmu tertawa.

Lalu?

Karena bisa membuatmu tertawa, bagiku itu surga.

Gombal gagal! But nice try!

Jadi kamu bisa datang bersamaku kan?

Tadi kapan acaranya?

Tanggal 6 besok.

Kita akan bertemu di mana?

Kita?

Maksudmu?

Forget it! Sebaiknya kita ketemu di Halte Bank Indonesia!

Itu di mana?

Ya Tuhan. Jadi kamu nggak tahu halte Bank Indonesia?

Aku jarang naik busway.

Maksudmu bis Transjakarta?

Whateverrrrrrr…

PET!

Layar handphoneku mati.

Baterai yang tadinya sekarat, -dan sekarang benar-benar habis- akhirnya menghentikan chat singkat via DM twitter dengan perempuan yang kukenal tiga bulan lalu itu. Mungkin memang aku harus cepat pulang, kembali ke kost, lalu mencharge handphone untuk melanjutkan obrolan tak tentu arah barusan.

Aku bangkit dari tempat dudukku, kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar kopi dan roti panggang pesananku. Dari luar kedai kopi, sayup-sayup terdengar suara fals pengamen yang sedang menyanyikan lagu Sheila On 7. Ya. Benar-benar fals dan menjurus hancur, tapi masih cukup untuk membuat aku tersenyum-senyum sendiri malam itu.

Lancarkanlah hariku..

Hariku bersamanya, hariku bersamanya..

***

Epilogue

“Pacarmu yang sekarang cantik sekali. Kemarin aku melihatnya di facebook.” Ujarnya sambil tersenyum. Teras toko 24 jam itu sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa bule terlihat sedang bercengkrama sambil menikmati bir dan kripik kentang, serta dua pasang muda-mudi sedang bermain UNO di atas meja-meja kecil berpayung. “Foto kalian berdua,” lanjutnya kemudian.  “Dengan t-shirt lengan panjang bertulis ‘Kugenggam Tangannya Di Transjakarta’, berbeda warna. Kamu memakai warna putih, pacarmu memakai warna hitam.”

“Bagaimana kamu yakin dia pacarku?” aku bertanya.

“Senyum bahagia di wajah kalian. Tak bisa disembunyikan.”

“Hahaha.. Terima kasih.” Ujarku. “Tapi bukannya facebookmu sudah tidak aktif?”

“Aku melihatnya dari facebook temanku.”

“Dasar stalker!” ledekku.

“Biarin.”

“Tapi dia bukan pacarku.” Jelasku.

“Pacar juga nggak apa-apa.”

“Serius. Dia bukan pacarku.”

“Calon pacar?” tanyanya.

“Nanti pada saatnya, pasti akan kuceritakan.”

“Dia cantik, baik dan menyenangkan. Pasti kamu tak kesulitan untuk mencintainya.”

“Kamu tahu kan? Bukan hanya cantik, baik dan menyenangkan yang bisa membuatku jatuh cinta.”

“Iya. Aku tahu. Kau sudah pernah menceritakannya.”

“Malam itu, aku bicara dengannya di telepon. Dan dia menggunakan kata ‘kita’ untuk pengganti kata aku dan dia, lalu aku bahagia.)* Sederhana kan?”

“Jadi benar dia pacarmu?” tanyanya lagi.

“No comment.”

“Comment juga nggak apa-apa.”

“Kamu,” aku terdiam sejenak sambil menatap kedua mata bening itu.”.. nggak berubah.”

“Kamu juga nggak berubah,” balasnya pelan.

Berikutnya, kami sama –sama terdiam. Ada jeda sekian menit yang mulai membuat canggung. Aku mengambil rokok dari saku jaket, mengambilnya sebatang, menyalakannya, lalu menggeser posisi dudukku agak menjauh darinya.

“Kamu? Tumben kelayapan ke sini?” ujarnya memecah keheningan. “Jangan bilang lagi nyasar.”

“Aku sudah mau pulang ke rumah. Tadi ada meeting di rumah teman yang tak jauh dari sini. Aku hanya mampir untuk membeli hot chocolate. Buat ngilangin galau di malam hujan kayak gini.”

“Hanya ingin mampir? Ke tempat yang kamu tahu selalu jadi tempat pelarianku saat lagi galau? How come?”

“Hahaha.. Ge er!” tawaku meledak. “Memangnya kamu lagi galau?”

“Nggak. Kali ini cuma lagi pengen sendirian” jawabnya.”Lagi pengen mikir dengan tenang.”

“Berantem sama pacar?”

“Sok tahu!”

“Hahaha.”

Kembali ada jeda yang membuat canggung. Namun kali ini tak terlalu lama.

“Hujannya sudah berhenti. Aku mau pulang.” Katanya tiba-tiba.

“Masih gerimis.”

“Sudah agak reda. Aku harus istirahat. Besok masuk kantor lebih pagi dari biasanya.”

“Perlu kuantar sampai ke depan rumahmu?” tawarku.

“Yuk.”

Dan perjalanan singkat ke rumahnya dini hari itu terasa menjadi akhir untuk sebuah awal yang baru. Jalanan yang masih basah dan mengkilat, hujan yang belum sepenuhnya reda, tapi masih menyisakan rintik-rintik halus bagai jutaan benang yang turun dari langit. Aku berjalan di sampingnya, masih dengan senyum yang sama, namun kali ini tanpa menggenggam tangannya, dialuni suara Duta Sheila On 7 dari music player di saku kemejaku.

Semoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan..

***

)* Dari tweet Alvin Agastia Zirtaf

Kisah Paling Menyejukkan

12/01/2011 1 comment

“Jadi kalian ingin belajar mengaji disini?” tanya kakek-kakek berjanggut itu.
“Ya, Ki.” Keduanya mengangguk bersamaan. Dua pemuda itu, yang satu berkacamata. Satunya lagi dengan style cuek ala anak muda jaman sekarang.
“Kenapa?” kakek itu bertanya lagi.
“Kami bosan dengan pekerjaan kami, Ki.” Keduanya menjawab kompak seperti koor. Terdengar hampir menggema di ruang musholla yang tidak terlalu besar itu.
“Baiklah, Nak. Apa pekerjaanmu sebelum ini?” tanya kakek itu pada yang berkacamata.
“Saya sutradara film porno, Ki.”
“Kenapa? Tidak adakah pekerjaan lain yang lebih baik?”
“Saya tidak tahu, Ki. Kadang saya juga merasa terjebak dengan pekerjaan ini. Saya sebenarnya tidak punya latar belakang pendidikan di film. Saya hanya learning by doing. Awalnya hanya iseng, membuat film porno dengan media HP, lalu dengan handycam, ternyata pasar menyukainya. Lalu saya coba membuatnya dengan kamera profesional, dan pasar makin menyukai. Akhirnya saya terpaksa melanjutkan hobi dan pekerjaan ini sampai sekarang. Saya terjebak, Ki.” Jawab pemuda berkacamata yang mulai berkaca-kaca itu.

Kakek itu tersenyum kecil, lalu bertanya ke pemuda yang satunya.

“Kalau kamu, Nak? eh.. siapa nama kamu?”
“Dedo.”
“Nak Dildo..”
“De-do Ki.”
“Eh maaf. Nak Dedo, apa pekerjaan kamu?”
“Saya penjaga rental DVD, Ki.”
“DVD porno?”
“Ennggg, benar, Ki.”
“Oh, sutradara film porno dan pengedar DVD porno. Pantas kalian berdua terlihat serasi sekali.”

Dua pemuda itu hanya tersenyum kecut. Kakek-kakek itu lalu menunjuk yang berkacamata, “Nak, kamu seorang sutradara kan? Buatlah film yang mendidik, bukan film porno kacangan seperti yang biasa kamu buat. Di dunia ini ada banyak sekali tokoh-tokoh besar yang semangat dan jalan hidupnya sangat layak untuk dijadikan inspirasi untuk lahirnya sebuah film. Kebijaksanaan Sayyidina Umar, kesabaran Sayyidina Ali, perjuangan tak kenal lelah dan semangat Jendral Sudirman, itu hanya sebagian kecil contoh. Intinya, buatlah film yang bisa memberikan pencerahan dan pelajaran positif buat para penonton. Siapa tahu beberapa tahun kedepan kamu bisa sehebat dan seterkenal Alan Budikusuma.”
Yang berkacamata tampak bingung, tapi tetap mengangguk, “Baik Ki.”

“Dan kamu, Nak Dedo. Kamu pintar menulis kan? sepertinya kamu menguasai penulisan skenario deh. Buktinya kamu mengerti FADE IN/OUT, FLASHBACK, DISSOLVE, CUT TO, dan lain-lain. Gunakan keahlian kamu untuk menulis cerita yang baik-baik saja. Bukan notes gila-gilaan seperti yang biasa kamu tulis. Tulislah cerita yang mengajak orang untuk selalu beramar makruf dan nahi mungkar. Bekerjasama dengan temanmu ini sepertinya juga bukan hal yang buruk. Kamu penulis, dia sutradaranya. Kalian bisa bekerjasama membuat satu film besar. Kalian adalah duet sempurna, tidak kalah dengan duet Dwight Yorke dan Thom Yorke. Tapi ingat, buatlah film yang bisa memberikan pencerahan dan pelajaran positif. Misalnya, Laskar Pelangi, kamu bisa mencontoh semangat tak kenal menyerahnya si Ikal. Kamu paham kan maksud saya?”
Dedo juga terlihat bingung, tapi tetap mengangguk, “Paham, Ki.”

Ki Sadi, – nama kakek itu tersenyum, lalu melanjutkan bicaranya, “Ini bulan baik, Nak. Jangan dikotori dengan dendam, apalagi menulis notes yang tidak-tidak. Besok negara tercinta ini akan merayakan kemerdekaannya. Tak lama setelah itu kita sudah memasuki bulan Ramadhan. Bulan penuh rahmat dan ampunan bagi mereka yang beriman. Bertobatlah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Tak ada dosa yang tak diampuni, tak ada doa yang tak dikabulkan. Kalian masih muda. Kalian orang pintar dengan otak bersinar. Kalian masih punya banyak waktu untuk memberikan yang terbaik buat agama, nusa, dan bangsa ini.”

Dua pemuda berbeda nasib itu hanya bisa menangis terharu, lalu berpelukan.

***

Malang, 16 Agustus 2009

Ditulis untuk membalas notes Fajar Nugros & Dedo Dpassdpe

Diposting ulang hari ini, 12 Januari 2011

Categories: Fiksi Tags: , ,

Cintaku Tertinggal Di Sarinah

Senja itu, aku merindukan cintaku.

Rinduku kali ini berbeda dengan rindu seperti biasanya. Yang ini teramat sangat. Membuat hatiku sesak, dan merasa seakan-akan akulah lelaki paling galau, paling malang, dan paling rapuh sedunia. Aku ingin menangis, aku ingin sekali bertemu dengan cintaku, lalu menggenggamnya erat-erat agar rinduku terobati, dan hatiku bisa tersenyum kembali seperti biasanya.

 

Jadi senja  itu sepulang kantor, ketika hujan deras mengguyur Jakarta, aku yang tanpa payung dan tanpa jaket, langsung berlari dengan semangat  dari kantorku, lalu menuju ke halte Harmoni ini. Berbaur bersama ratusan wajah-wajah lelah dan kusut yang mengantri. Aku akan naik Transjakarta, berhenti di halte yang tak jauh dari sini, lalu mendatangi tempat pertama kalinya aku menggenggam cintaku. Siapa tahu masih ada sisa-sisa rindu yang bisa mengobatiku di sana.

 

“Pemberhentian berikutnya, halte Monumen Nasional. Periksa kembali barang bawaan Anda, dan hati-hati melangkah. Terima kasih,” kata suara yang terdengar dari speaker itu.

 

Bis Transjakarta yang kutumpangi kini berhenti di halte Monas. Beberapa orang yang berdiri di dekat pintu melangkah keluar, lalu digantikan dua orang bapak, seorang ibu, dan seorang gadis berseragam PNS yang masuk lewat pintu berikutnya. Petugas Transjakarta menutup pintu bis, lalu Transjakarta kembali bergerak pelan.

 

Pandanganku menerawang. Di kiri jauh tempatku berdiri, aku melihat api yang menyala di puncak Monumen Nasional itu. Api yang selalu kulihat tiap hari dari jendela ruang kerjaku di lantai 3. Sebuah api cinta, begitu kata orang-orang. Mungkin juga itu sebuah api penyesalan yang tak pernah padam. Api itu tetap menyala, meski diterpa panas dan hujan, meski negeri ini sudah beberapa kali berganti penguasa.)*  Tapi bagiku, api itu adalah rindu yang selalu menyala. Betapa aku merindukan cintaku, dan ingin selalu bersamanya.

 

Ingatanku kemudian mengarah ke waktu itu. Dua bulan yang lalu menjelang senja, saat Jakarta sedang kacau dan porak poranda. Hujan deras yang turun sejak siang hingga sore hari membuat banjir dan macet di mana-mana. Saat  itu aku membuat janji bertemu dengannya, di seberang patung Arjuna Wijaya. Dan cintaku, dia sudah menungguku di sana. Tepat di seberang patung Arjuna dan Bathara Kresna di atas kereta yang berangkat menuju perang Baratayudha itu.  Aku menggenggam tangannya, lalu menyeberang menuju jalan ke Wisma Antara, melintasi Kebon Sirih, melewati puluhan wajah-wajah lelah, gelisah dan marah yang merutuki kacaunya Jakarta sore itu.

 

“Pemberhentian berikutnya, halte Bank Indonesia. Periksa kembali barang bawaan Anda, dan hati-hati melangkah. Terima kasih.”

 

Suara itu kembali membuyarkan lamunanku. Di halte ini tak ada yang turun. Namun ada dua orang perempuan berseragam pegawai, dua orang yang terlihat seperti sepasang kekasih, dan beberapa remaja tanggung berkostum timnas Indonesia melangkah masuk. Aku menggeser posisi berdiriku lebih mendekat ke pintu. Pandanganku langsung menuju ke tempat itu, Djakarta Theater, tempat aku dan cinta duduk di kursi paling belakang, tepat di bawah ruang proyektor dan kugenggam tangannya untuk pertama kalinya.

 

“Pemberhentian berikutnya, halte Sarinah. Periksa kembali rindu Anda, dan hati-hati mencintanya. Terima kasih.” Kata suara itu.

“Ya. Terima kasih.” Ucapku dalam hati sambil melangkah keluar.

 

***

)* Dari cerpen ‘Api Yang Tak Pernah Padam’ (Fajar Nugros)

Categories: Fiksi Tags: , , ,

Menunggu Kekasihnya

“Tempat ini bernama jembatan Siti Nurbaya,” Kata kakek yang duduk sendirian di trotoar itu sambil menyalakan batang rokoknya yang kesekian. “Ini jembatan saksi cinta.” lanjutnya.

 

Aku terdiam sejenak, lalu menatap ke seluruh penjuru jembatan yang di kanan kirinya terpasang lampu-lampu jalan yang artistik itu.  Di atas trotoar, para penjual jagung bakar, roti bakar, kopi dan aneka minuman botol tampak sibuk melayani pembeli, – kebanyakan adalah pasangan muda-mudi. Ada yang saling menggengam tangan, ada yang merangkul pundak pasangannya, ada juga yang terlihat sedang berusaha mencuri cium. Langit yang sedang bulan purnama menambah hawa romantis bagi pasangan-pasangan yang terlihat sedang dimabuk cinta itu.

 

“Kakek sendirian?” tanyaku pada kakek itu.

“Tidak. Saya sedang menunggu istri saya,” jawabnya.

“Istri kakek ada di mana?”

“Di sana,” jawabnya sambil menunjuk ke salah satu sudut tempat penjual jagung bakar. Perempuan yang ditunjuk menoleh ke arahnya sebentar, lalu tersenyum. Entah kenapa aku ikut bahagia melihatnya. Di mataku, senyum nenek itu terlihat sangat tulus dan menyejukkan.

 

“Eh sebentar,” kata kakek itu tiba-tiba. “Tapi kau tahu Siti Nurbaya kan, anak muda?” tanyanya.

“Tentu saja tahu, Kek.” Jawabku.

“Siapa coba?”

“Tokoh fiksi buatan Dhani Ahmad.”

“Bukan, anak muda. Kau ngawur sekali.”

“Lalu siapa, Kek?”

“Itu dari roman karya Marah Roesli.”

“Siapa yang marah, Kek?”

“Tolong hentikan.”

“Apanya?”

“Jayusnya. Tolong hentikan. Kan saya bilang Marah Roesli. Jangan bilang kau juga tak kenal dia.”

“Oh, maaf.” Ujarku sambil menahan senyum. “Saya bercanda..”, lanjutku. ”Saya hanya tahu sedikit tentang cerita Siti Nurbaya. Saya belum pernah membaca bukunya.”

“Di tempat ini, dulu Samsul Bahri menunggu kekasihnya,” lanjut kakek itu seperti tak mengindahkan perkataanku.

“Siti Nurbaya?” tanyaku.

“Bukan. Paris Hilton,” jawab kakek itu dengan muka sebal. “Tentu saja Siti Nurbaya, anak muda.”

“Maaf, kek. Saya akan nggak jayus lagi sekarang.” Ujarku.

“Tapi sayang sekali, malam itu Siti Nurbaya tak jadi datang.”

“Kenapa, Kek?”

“Meskipun terpaksa, Siti Nurbaya akhirnya lebih memilih menikah dengan Datuk Maringgih.”

“Kenapa? Bukankah mereka, Siti Nurbaya dan Samsul Bahri saling mencintai? Kenapa mereka tak menikah? Kenapa mereka mudah menyerah?”

 

“Karena..”, kakek itu terdiam sebentar, menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya asapnya dengan nikmat. “Karena Samsul Bahri hanya menunggu, bukan mendatangi..” Pungkasnya sambil tersenyum kemudian berjalan ke arah istrinya yang sudah menunggunya.

 

***

 

The Sriwijaya Hotel, Padang

22 Oktober 2010

Categories: Fiksi Tags: ,

Arjuna Mengejar Cinta

06/12/2010 3 comments

Lagi-lagi disorientasi arah membuatku kebingungan harus berjalan ke mana.

Kalian tahu patung Arjuna Wijaya di Jalan Merdeka Barat, dekat Monumen Nasional? Di sana ada Arjuna dengan busur dan panahnya di atas kereta, dengan Bathara Kresna sebagai saisnya. Di depan kereta, delapan ekor kuda yang melambangkan delapan unsur berlari kencang dan mengantarkan dua ksatria itu menuju medan perang Baratayudha. Ya, tepat di seberang patung itulah aku berdiri sekarang.

 

“Kau kenapa, anak muda?” suara cempreng bapak penjual kopi yang sedang menuntun sepedanya itu tiba-tiba muncul dari belakangku. Aku tersentak, kemudian menatapnya curiga dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Saya hanya.. Hmm.. nyasar.”

“Nyasar? Memangnya kau mau ke mana?” tanya bapak itu menyelidik.

“Dua hari yang lalu, di depan gedung itu…”

“Jadi kau sudah nyasar sejak dua hari yang lalu? My God!” kata bapak itu sambil menepuk jidat dengan kedua tangannya. Untung dua detik kemudian dia langsung sadar karena sepedanya akan roboh jika tangannya terus digunakan untuk menepuk jidat.

 

“Bukan. Dengar dulu saya bicara, pak.” kataku sambil menahan senyum.

“Oh, baik.”

“Dua hari yang lalu, di depan gedung itu,” ulangku sambil menunjuk ke gedung tinggi berbentuk aneh yang terletak persis di seberang tempatku berdiri itu. “Saya bertemu seorang perempuan.”

“Lalu?”

“Yang pasti dia cantik, saya jatuh cinta, dan saya yakin kalau dia juga merasakan hal yang sama.”

“Hebat! Percaya dirimu sangat hebat! Lanjutkan ceritamu, nak.” Kata bapak itu sambil bertepuk tangan.

 

Plok! Plok! Plok!

 

Kali ini sepedanya tidak bergerak. Bapak itu rupanya sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. Sepeda tua itu kini sudah terparkir di pinggir trotoar dengan standar diturunkan.

 

“Waktunya saat menjelang senja, saat banjir dan macet memporakporandakan Jakarta. Saya membantunya menyeberang ke sana.” Jelasku. Tanganku kembali menunjuk ke sebuah arah.

“Jadi kau jatuh cinta pada nenek-nenek buta?”

“Tolong ya, pak. Dengarkan dulu cerita saya!”

“Oh, maaf.”

 

“Dia sepertinya sedang tidak sehat.” Lanjutku. “Mungkin darah rendahnya kambuh, mungkin juga sedang PMS, atau semacam itu. Waktu itu dia tampak gelisah, gemetaran, pucat dan berkeringat dingin. Lalu saya membantunya menyeberang.”

“Kalian bergandengan tangan?”

“Tentu saja tidak, Pak. Mana mungkin saya berani menjamah perempuan yang baru saya kenal? Saya hanya mengajaknya berkenalan, menawarkan menyeberang jalan bersama-sama, lalu berjalan di sampingnya. Melindunginya dari mobil lalu lalang dan pengendara motor yang saat itu semuanya terlihat seperti gila.”

“Wajar. Banjir dan macet memang selalu membuat gila.”

“Tapi saya hanya mengantarnya sampai ke sana,” jelasku. Tanganku kembali menunjuk ke sebuah arah.

“Ke mana?”

“Ke sana.”

“Barat? Timur? Utara? Selatan?”

“Pokoknya ke sana.” Sahutku tak sabar. Lagi-lagi tanganku menunjuk ke sebuah arah. “Saya mengantarnya ke sana, dia menolak saat saya tawarkan menemani berjalan sampai ke rumahnya.”

“Lalu, untuk apa kau bengong di sini sekarang?”

“Saya merindukannya, saya ingin bertemu dia. Tadinya saya berharap akan menemukannya di sini, tapi sekarang saya tak tahu ke mana harus mencarinya, Pak.”

“Kalian tak saling menyebutkan nama? Nomor telepon? Account facebook?”

“Kami berkenalan, Pak. Saya tahu namanya, dia juga tahu nama saya.”

“Siapa?”

“Namanya Aura.”

”Ooh, Aura.”

“Bapak kenal?”

“Tidak.”

“…….”

 

Bapak itu menyalakan rokoknya, menghisapnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan asapnya perlahan.

 

“Kau lihat patung itu, Nak?” bapak itu menunjuk ke patung Arjuna Wijaya.

“Ya. Apa maksudnya?”

“Kira-kira, ke arah mana kereta itu akan bergerak?”

“Tentu saja ke sana, pak.” Jawabku.

“Ya. Ke mana?”

“Ke sana!” ulangku.

“Barat? Timur? Utara? Selatan?”

“Begini, Pak. Saya memang tak paham arah. Saya sering kesulitan menyebutkan mana barat, timur, utara dan selatan. Tapi mata saya masih bisa melihat dengan baik. Tentu saja kereta itu akan bergerak ke sana.” Jawabku.

“Berarti kau belum paham, nak.”

“Belum paham bagaimana?”

“Kalau tentang arah saja kau tak mengerti, bagaimana kau bisa tahu ke mana harus mengejar cinta?”

 

***

 

Design a site like this with WordPress.com
Get started