Tentang Dua Lelaki

 

WhatsApp-Image-20160503Suatu ketika di penghujung Januari, melalui perantaraan nasib, bertemulah kembali dua orang teman semasa kecil setelah lama tidak terdengar rimbanya.

Dan melalui perantaraan nasib yang sama, di hari itu pula mereka sama sama mendapat kabar bahwa mereka dikeluarkan dari tempat dimana mereka mengumpulkan kepingan rupiah selama ini. Sebuah kebetulan yang luar biasa.

“Bro, apa kabar? Denger denger kamu kena jatah ya? “ kata seorang lelaki yang pertama.

“Iya nih, aku kedapetan jatah. Kamu sendiri bagaimana?” balas lelaki yang kedua.

“Wah, senasib kita ini, kompakan banget sih kita ini, hahahaha” tawa lelaki yang pertama.

“Senasib gimana bro, kamu mah lebih enak, belum punya tanggungan bini, hla aku, masih harus ngehidupin keluarga nih!” jelas lelaki yang pertama.

“Hehe, lebih enak kamu lah, saat saat susah gini, sudah ada yang bias diajak mikir bareng dan saling dukung. Kalo aku, siapa coba yang mau ama pengangguran luntang luntung.” Balas lelaki yang kedua.

Ketika sudah cukup lama hening, pembicaraaan pun berhenti dan beralih ke topik yang lain… Ternyata hidup masing masing menjadi lebih indah, ketika kita menjadi orang lain.

 

Nb : kemiripan cerita terdapat unsur kesengajaan

Tomorrow then Never

Today I just realized a phrase “tomorrow then never”. Some weeks ago i said to myself,”It can be done tomorrow!”. Then, it repeated so many times untill today. And what i see today is. It’s just too late. I am not gonna make it. If I try hard, it may ruin a lot of things and of course feeling.

If i said i am not gonna make it, it means statistically, it doesn’t mean i don’t belive at God.

after long time hibernate (read : emotionally stable), i wrote again….

Foto dan Kenangan

Dahulu, saya bukan termasuk orang yang sering mengabadikan foto bersama keluarga. Pikir saya toh tiap hari bertemu. Namun lambat tapi pasti, seiring berjalannya waktu frekwensi pertemuan itu berkurang. Mulai dari nomer satu yang pergi ke lain dunia lebih dulu beberapa waktu yang lalu, kemudian nomer dua yang pergi merantau ke lain kota,  kini yang nomer tiga merantau ke lain pulau, dan menyisakan nomer empat yang masih melanjutkan kuliah.

Beruntung di penghujung Ramadhan ini, sebelum nomer tiga memulai perantauan di lain pulau kami masih mendapatkan nikmat berkumpul bersama dan mengabadikan salah satu kenangan.

Ibarat kopi tubruk yang kasar secara penampilan. Ia lugu, sederhana, tapi sangat memikat kalau mau mengenalinya lebih dalam (Dee, Filosofi kopi). Kita tidak selalu mendapatkan tampilan yang terbaik dari apa apa yang kita usahakan.

Sometimes we can’t capture good photo, but memory.

lebaran 1436

Lagi, tentang Hujan

Bagi saya, puisi Hujan Bulan Juninya pak Sapardi Djoko Damono memang tiada duanya.

Tapi, Menunggu Hujannya mbak Mutia tentang kisah anak kota hujannya nggak kalah soal personifikasinya.

menunggu hujan

kau tau mengapa menunggu hujan itu menyenangkan?
karena tak tentu. menunggu jadi menyenangkan saat kita tak tahu.

dan aku tak tahu.
kapan kau jatuh.
di mana kau jatuh.
pada tanah seperti apa kau jatuh.
dari awan yang mana kau jatuh.
itu—menyenangkan.

menyenangkan karena kau adalah kepastian dan ketidakpastian secara bersamaan.
kau pasti jatuh.
dan—tak pasti jatuh kepadaku.

kau tau sesuatu?
itulah mengapa aku hadir dalam keteraturan waktu.
aku terbit dan tenggelam untukmu.
saat aku ada kujadikan kau berwarna-warni.
saat aku tiada kujadikan kau bening dan murni.

aku tak hanya menunggumu.
aku menungguimu. selalu.
maka jatuhlah.
jatuhlah kepadaku.

sekali saja.
kujadikan kau indah selamanya.

by : Mutia Prawitasari

Saya juga Munafik

Dulu sewaktu kecil, mengenai proses penciptaan manusia, saya berpemahaman bahwa tulang itu terbentuk terlebih dahulu sebelum adanya daging. Tapi kini saya meyakini bahwa tulang tercipta setelah kemunculan daging.

Karena itu saya dibilang tidak konsisten.

Dulu sewaktu kecil, yang saya mengerti adalah udara yang bergerak lebih cepat memiliki tekanan lebih tinggi dari udara yang diam. Seiring bertambahnya umur  saya melihat pesawat dapat  terbang ke atas justru karena  udara diam atau bergerak lebih lambat tekanannya lebih tinggi dari udara yang bergerak lebih cepat. Dan kemudian saya meyakininya.

Lalu saya dibilang plin-plan.

Dulu sewaktu kecil saya mengira bahwa Photo Voltaic cell mengubah panas matahari menjadi listrik. Namun semenjak mengerjakan skripsi ketika menempuh pendidikan sarjana, kini  saya meyakini bahwa yang dirubah menjadi listrik dalam PV cell adalah foton-foton dalam panjang gelombang tertenntu, sementara panasnya hanya dibuang menjadi rugi-rugi.

Kemudian saya disebut tak punya prinsip.

Mungkin saya masih beruntung, setelah kemudian saya sadar di luar sana lebih banyak orang yang memiliki pengalaman analog dengan apa yang saya miliki namun saya juluki dengan julukan yang lebih kasar, munafik misalnya.

segolongan perkumpulan yang dulunya sangat getol menentang subsidi BBM namun sekarang menolak subsidi BBM karena telah mengkajinya lebih lanjut,

kemudian juga sekelompok manusia yang dulunya menilai bahwa politik itu kotor sekarang terjun langsung dalam dunia politik praktis karena ingin memberikan perbaikan pada politik itu sendiri.

Beberapa waktu lalu saya mendapat nasehat dari quraish shihab  melalui tulisan orang lain,

“Kebohongan adalah informasi yang bertentangan dengan keyakinan, bukan yang bertentangan dengan kenyataan.”

— Quraish Shihab

Bila kebohongan itu ditentukan pada keyakinan, sungguh sukar menerka apa yang ada di dalam hati. Mengkritisi itu harus, tapi menghakimi itu tidak baik.

Kemudian saya tersadar, ada banyak hal yang mungkin tidak kita ketahui dari hidup orang lain dan proses pengetahuan mereka. Itulah kenapa, sebaiknya jangan menghakimi pilihan orang lain hanya dengan persepsi kita sendiri.

Semoga kita bisa lebih arif dalam mengkritik dan memberi masukan.

Pusaka Kebajikan

Tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan: merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah, dan merahasiakan sodaqah.

HR. Ath Thabrani
Hasil blogwalking di wiken ini… Harus banyak belajar lagi…

Menyusun Itinerary

Setelah tujuan besar ditetapkan, masih banyak pilihan yang terpaksa harus dikorbankan. Untuk memudahkan pengambilan keputusan, akhirnya saya memutuskan untuk membagi perjalanan saya menjadi 3 fase. Fase di Turki, fase di eropa tengah, dan fase di Spanyol yang masing-masing berdurasi 5-6 hari.

Berhubung training saya cukup menyita waktu, akhirnya sampai detik terakhir keberangkatan pun itinerary belum tersusun dengan detil.  Ada hal yang sebenarnya cukup merepotkan dalam menyusun itenarary dalam perjalanan berbudget rendah. Salah satunya mengenai lokasi bandara, hotel, terminal, dan tujuan wisata. Semua harus disinkronkan. Apa lagi kalau waktu yang dipunyai terbatas. Kebanyakan tiket pesawat murah berujung pada bandara antah berantah nan jauh dari pusat kota. Kalo waktu kita terbatas dan penginapan pun jauh, maka waktu kita hanya akan habis di jalan. Namanya sih emang jalan-jalan, tapi itu menyakitkan.. haha.

Tapi beruntung banyak tujuan yang saya pilih kebanyakan menggunakan mode bus yang lokasi keberangkatan dan pemberhentiannya tidak jauh dari tempat yang ingin saya kunjungi. Atas saran seorang teman di Turki yang menyarankan untuk membeli tiket on the spot, maka itinerary saya buat sefleksibel mungkin selama di Turki. Sementara untuk di eropa tengah dan spanyol saya sengaja membeli tiket bus jauh-jauh di awal karena ada tiket dengan harga promo apabila dibeli sebulan-dua bulan sebelum perjalanan.

Perihal hostel, sebenarnya untuk lokasi tertentu, hostel yang tersedia cukup banyak dengan harga yang cukup setara. Untuk kasus demikian kalo saya pribadi tak perlu terburu-buru, karena beberapa sistem booking ada semacam uang dp nya. Kecuali kalau hostel yang tersedia tidak cukup banyak untuk suatu lokasi atau tidak ada semacam system DP,  booking hostel dari jauh-jauh hari pun tak mengapa.

Sebenarnya masih terlalu banyak missing item, but show must go on… Khawatir yang pas dosisnya seringkali bermanfaat untuk menimbulkan rasa kewaspadaan yang tinggi.

 

itinerary

Awal Perjalanan

Awalnya ingin menuliskan kisah ini dengan segera, namun pada kenyataannya selalu ada saja alasan untuk menunda. Jadi teringat sebuah mutiara jawa dari teman saya ketika masih aktif di pecinta alam SMA dulu,

“Alas ki jembar, tapi luweh jembar le jenenge Alasan!”.

Namun akhirnya, setelah beberapa hari belakangan ada yang menanyakan mengenai cerita perjalanan eurotrip  saya beberapa waktu lalu, maka saya putuskan untuk segera menuliskannya. Keburu lupa dimakan usia, karena saya masih manusia.

Pada bagian pertama ini, saya mau cerita tentang mengapa. Sebab, kata nietzche,

” he who has a ‘why’ to live for, can bear almost any ‘how’.”

Meskipun travelling itu menyenangkan, tapi ada momen dimana rasa malas situ muncul. Kemudian beberapa rencana tidak dilaksanakan, kemudian kehilangan momen, kemudian menyesal sesenggukan di ujung kamar.

Semua bermula ketika training saya di Melun, France disetujui oleh Pak manajer. Kesempatan yang tidak selalu datang dua kali ini langsung saya follow up dengan pengajuan cuti sampai batas visa saya berakhir, sekitar 2 mingguan. Kemudian tibalah waktu untuk menentukan tujuan. Ada beberapa lokasi di sekitara eropa yang ingin sekali saya kunjungi selama ini. Beberapa diantaranya :

Yang pertama adalah islandia. Setelah nonton film secret of walter mitty, pengen banget ke Reykjavik lalu menyusuri jalanan sepi disana dengan sepeda sambil liat pemandangan yang oke punya.

Yang kedua adalah Switzerland, di jungfraujoch, ada salju yang masih jadi obsesi pribadi untuk disentuh dan dicumbu.

Yang ketiga adalah kumpulan fjord di Norway dan northern hemispherenya.

Yang keempat menyusuri kota-kota di eropa tengah

Yang kelima pengin menyusuri jejak Islam di spanyol dan menikmati Turki dengan segala kekuatan sejarahnya.

Sempat bingung memilih opsi-opsi tersebut. Ada banyak  keterbatasan waktu dan sumberdaya yang membuat kesemuanya tidak bisa diambil pada kesempatan ini.  Ketika harus memilih secara realistis, akhirnya opsi keempat dan kelima lah yang bisa diambil. Sisanya, disimpan sebagai motivasi suatu saat akan kembali ke sana, insya Allah.start

Pay it Forward, di kala kasih berbalas tidak selalu pada yang mengasihi

Sepanjang perjalanan dari Sorong menuju Jakarta via Makassar kemaren saya beruntung  bisa menikmati suguhan film “lawas” melalui kotak hiburan yang disediakan oleh pihak masakapai penerbangan. Film yang berjudul “Pay it Forward” (2000) itu seolah membuat saya kembali teringat pada beberapa kejadian yang saya alami pada perjalanan saya seusai training di Melun beberapa waktu yang lalu.

Ada beberapa kejadian yang sebenarnya sangat berkesan pada perjalanan selepas training kemaren. Salah satu diantaranya adalah bertemu dengan orang-orang yang belum pernah kenal sebelumnya, tapi mau banyak memberikan pertolongan seolah sebelumnya sudah saling kenal, berinteraksi, dan saling memberi. Seperti mas Yudha di Paris yang mau menyediakan apartemennya buat koper besar saya yang saya tinggal selama dua mingguan, atau seperti Firdaus di Istanbul yang mengguide, meminjami sim-card turki, dan memfasilitasi perjalanan saya selama di Istanbul.

Ada juga orang-orang yang sudah saya kenal sebelumnya yang mana sampai sekarang jarang sekali saya memberikan sesuatu buat mereka namun mereka memberikan bantuan yang sangat banyak. Seperti Fauzi di Ankara, Ajid-Hadiyan di Dresden, dan mas Hifni di Tarragona. Mereka semua bahkan menyediakan apartemennya sebagai tempat singgah saya, tempat saya mandi dan laundry bahkan sampai mentraktir dan menjamu berbagai hidangan.

Pernyataan menarik keluar dari mas Yudha ketika saya mencoba mencari tau motif perbuatannya. Bahwa dulu ternyata dia juga banyak menerima bantuan dari teman-teman yang lain, termasuk dari Sally, teman yang mengenalkan saya pada mas Yudha. Sebuah nilai yang pada akhirnya sangat berkaitan dengan film yang barusan saya tonton tersebut.

Dalam film itu, konsep “pay it forward” dimunculkan oleh Trevor, seorang siswa dalam sebuah kelas sosial. Menurut Trevor, dunia akan jadi lebih baik, jika setiap orang saling membantu. Idenya, satu orang memberikan bantuan pada tiga orang, namun ketiganya tak harus membalas kebaikannya tersebut langsung padanya. Yang harus mereka lakukan adalah memberikan bantuan berikutnya kepada tiga orang yang lain. Dan begitu seterusnya. Tentunya dengan keyakinan bahwasanya dunia yang lebih baik itu akan memberikan keuntungan bagi dirinya nantinya.

Dalam ajaran agama saya, saya jadi teringat sebuah hadis Riwayat Muslim,

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat…” (Hadis Riwayat Muslim).

Jadi mungkin intinya percaya saja, Tuhan pasti membalas amal baik kita, namun kadang Tuhan memberikan balasan kasih tidak melalui orang yang sering kita kasihi.

Buat semuanya yang sudah sering saya repoti dan sering membantu saya, maaf kalau saya belum bisa membalasnya langsung. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang jauh lebih baik.

Ngisi Pertamax

“Sekeren-kerennya kapal, sebesar apapun layar atau mesinnya, setangguh apapun abk nya tetaplah juga butuh tempat berlabuh…”

Rutinitas hidup dan kehidupan merupakan suatu fungsi yang memetakan produktivitas hidup terhadap waktu. Seiring berjalannya waktu, ada titik-titik tertentu dimana apa-apa yang dilakukan tidak memberikan dampak produktivitas terhadap lahir maupun batin. Semakin banyak yang dilakukan, semakin banyak energi yang semakin terbuang tanpa hasil yang signifikan. Disaat itulah kemudian kapal harus dilabuhkan. Diisi perbekalan, amunisi dan disegarkan kembali.

 Minggu ketiga di bulan November, mengarungi jeram-jeram kehidupan kali Cicatih merupakan salah satu pelabuhan untuk beberapa hal tersebut. Terima kasih diucapkan kepada kawan-kawan yang rela berkorban waktu untuk mengurusi kegiatan ini. Terima kasih bapak Aris yang telah mengkoordinatori acara ini,Pak Irfan dan Pak Adib yang telah menyediakan tumpangan pulang pergi, serta teman-teman(Tulus, Ridwan, Fajri, Taufiq, Iqbal, Hugo, Apri, dan Yohan) yang juga memberikan kontribusinya masing-masing.

Image

Design a site like this with WordPress.com
Get started