Sepakbola outdoor, yang sering disebut dengan sepakbola, adalah olahraga terpopuler di kolong jagat. Hampir di setiap pelosok dunia orang mengenal sepakbola, yang di situs purbakala Yunani disebut sebagai sphaira atau ollis di zaman Romawi.
Sejalan dengan perkembangan zaman, sepakbola tak melulu dimainkan di lapangan terbuka. Orang mulai melihat sepakbola dimainkan di lapangan tertutup (indoor). Rintisan itu dilakukan pada tahun 1930 saat Piala Dunia digelar di Uruguay. Olahraga baru itu dinamai futebol de salao (bahasa Portugis) atau futbol sala (bahasa Spanyol) yang maknanya sama, yakni sepakbola ruangan. Dari kedua bahasa itu muncullah singkatan yang lebih mendunia: futsal!
Fenomena futsal luar biasa. Baru-baru ini ESPN-Star Sports menggelar event yang diklaim sebagai turnamen dengan hadiah terbesar di dunia. Hampir setengah miliar rupiah diberikan kepada Brasil, yang akhirnya menjadi tim terbaik dengan memukul Argentina 4-0 di final.
“Bermain futsal bisa meningkatkan skill bermain bola,” ungkap David Beckham, Ronaldinho, dan Robinho yang lantas diamini legenda hidup Pele. Di futsal, pemain menyentuh bola 210% lebih sering dibanding sepakbola. Bahkan seorang pefutsal memiliki ball possession setiap 29,5 detik. Di Italia, jumlah pefutsal lebih banyak dibanding pesepakbola.
Futsal juga adalah global brand. Penciuman taipan-taipan bisnis olahraga Asia mengarah ke sana. Karena itu tak jadi soal mereka keluarkan dana miliaran rupiah untuk menyulap Stadium Negara – yang sebenarnya sudah tak layak itu – untuk menjadi tuan rumah event level dunia.
Penciuman yang tajam tak hanya milik taipan bisnis olahraga Asia. Pemerintah Malaysia pun melihat futsal sebagai peluang setelah sepakbola outdoor mereka tak kepalang berprestasi internasional. Asal tahu pembaca, di Malaysia sepakbola masuk dalam prioritas pertama pengembangan olahraga.
”Prestasi sepakbola kami tak kunjung bagus. Namun, olahraga ini adalah olahraga rakyat dan memiliki peran besar sebagai alat pemersatu bangsa. Karena itu kami pun tetap menempatkan sepakbola sebagai prioritas dalam rencana strategis pengembangan olahraga Malaysia,” ungkap Datuk Zolkples Embong, Ketua Komite Olahraga Malaysia (MSN).
Jadilah sepakbola mendapatkan porsi dana besar dari negara dalam Ninth Malaysia Plan 2006-2010 bersama cabang ’kelas satu’ lainnya seperti bulutangkis, hoki, balap sepeda, taekwondo, menembak, panahan, senam, layar, angkat besi, dan renang. Cabang kelas satu adalah prioritas Malaysia mendapatkan medali di Olimpiade.
”Futsal adalah fenomena menarik. Saya sedang menelitinya di Malaysia. Olahraga ini sedang booming dan menjadi bagian dari gaya hidup,” ujar Profesor Dr. Mhd. Saleh Aman, sahabat saya yang juga tokoh Sports Center di Universiti Malaya. ”Saya yakin di Indonesia pun sama,” kata Pak Saleh sembari ngobrol di mobil usai menjemput anaknya dari sekolah dasar di kawasan Damansara.
Beda Perlakuan
Ups, tertutup mulut saya mendengar pernyataan spontan Pak Saleh. Bagaimana tidak? Setahu saya tim nasional futsal Indonesia berangkat atas biaya sendiri. Mereka curhat bagaimana futsal justru dipandang sebelah mata oleh PSSI. Saat saya konfirmasi ke Yeriko Umbas, wakil Badan Futsal Nasional yang datang juga di Kuala Lumpur, perhatian itu masih ala kadarnya.
Inilah bedanya cara pandang orang Indonesia dan Malaysia terhadap brand global bernama futsal. Di Indonesia, komunitas futsal yang terbentuk belum dianggap sebagai peluang bisnis. Padahal, secara alamiah, gerakan sport for all dilakukan dengan sendirinya oleh masyarakat penggemar olahraga. Mereka tak perlu menunggu willing dari pemerintah yang masih sekadar bangga punya Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional Nomor 3/2005.
Di Malaysia, mereka melihat futsal sebagai peluang berprestasi ataupun bisnis. ”Olahraga ini akan meningkatkan gerakan masyarakat berolahraga,” tutur Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Datuk Sri Azalina Othman Said. ”Jika terus menerus dimainkan masyarakat, juara Asia bukan tak mungkin akan kami raih,” tegas Pak Saleh.
Di Thailand futsal dimainkan di level anak-anak usia dini dan berlapis. Jadi, saya tak heran jika akhirnya Thailand berhasil menjinakkan juara Asia Iran 2-1. Pemain Thailand sepostur dengan pemain Indonesia, tapi tendangannya kencang dan keras bak rudal Exocet yang pernah ditakuti Inggris pada perang Malvinas melawan Argentina.
Masyarakat yang berolahraga adalah sumber bibit atlet andal. Itu benar sekali. Paling tidak dalam buku Sport in Asia and Africa: A Comparative Handbook, Eric A. Wagner dkk. membenarkan bahwa prestasi olahraga akan muncul jika masyarakatnya aktif berolahraga. Satu kata kunci lagi menurut Wagner: prestasi itu bukanlah produk instan, melainkan hasil sebuah proses!
Nah, masyarakat Indonesia sudah melakukan proses alamiah dengan memainkan futsal. PSSI mestinya bersyukur sebab effort mereka tak sebesar jika harus ’memaksa’ masyarakat menggemari futsal. Apakah gerakan mereka dibiarkan begitu saja lantas menguap dan tak berbekas? Ataukah justru PSSI intens menggarap futsal yang memang termasuk lahan kering tapi lebih menjanjikan prestasi ini?
-taken from bolanews.com
Posted in Football
Recent Comments