Tahun 2020 menjadi sebuah titik balik yang penuh kejutan, mendapati diri dalam peran yang membahagiakan namun rasanya seperti kehilangan. Kehilangan terbesar yang dirasakan yaitu kehilangan jati diri. Bingung dan asing dengan peran baru yang dijalani bersamaan dengan hadirnya pandemi. Mulai dari disapa pandemi, baby blues berkepanjangan dan menapaki peran baru di kepengurusan Ibu Profesional Bandung. 

Semua persiapan sebelum lahiran lenyap begitu saja dari pikiran dan menyisakan perasaan-perasaan tidak berharga, merasa sendirian dan kebingungan. Ditambah dengan peran baru sebagai Manager Hubungan Masyarakat (ManHumas) yang seharusnya fokus pada berbagi kebahagiaan dari dalam komunitas untuk masyarakat luas, justru hanya mojok sebagai kurir approval. Ikut nimbrung program dan tugas peran orang lain. Semakin merasa tidak berguna.

Ya, bagaimana diri ini mampu berbagi kebahagiaan sedang tak ada rasa bahagia dalam hati?

Sampai suatu hari laman instagram mengingat diri ini dengan sebuah event yang diikuti tahun sebelumnya, Konferensi Ibu Profesional. Sebuah cikal bakal yang menghangatkan semangat diri untuk turut berbagi dan melayani, pikiran pun nostalgia sejenak pada momen sekamar dengan Ibu-ibu luar biasa. Mereka hadir dengan anak-anaknya selama 3 hari 2 malam. Sebuah kenangan hadir kembali dan melahirkan harapan baru, ada banyak ilmu dan kebaikan yang saya dapatkan saat itu, kenapa saya tak coba melangkah dengan sebuah karya?

Tapi lagi-lagi persepsi diri membelenggu potensi, memangnya saya bisa apa? Tangan saya tidak terampil, ide saya standar-standar saja dan sudah banyak digunakan oleh yang lain. Hingga suatu hari, sebuah ide terlintas di benak saya setelah mendengar petuah dari Bu Septi Peni untuk All ManHumas Ibu Profesional. Akhirnya saya terpikir untuk membuat e-magazine Ibu Profesional Bandung namun gayung tak selalu bersambut. Ide itu ditolak.

Saya berupaya mencari tim sendiri, mengumpulkan massa bahasa kerennya mah. Saya mencoba ‘menjual’ ide dari satu chatroom ke chatroom lain. Sampai mendapatkan sebuah nama yang sampai sekarang masih deg-degan menyebutnya, WANOJA yang lahir dari pemikiran Teh Evi Sefiani. Setelahnya saya mengajukan kembali ide tersebut dan disambut lebih baik. Akhirnya tim dengan format resmi pun dibentuk. 

Berbekal semangat dan harapan, dengan ragu saya terima peran pemimpin redaksi untuk menyiapkan e-magazine kurang dari satu bulan. Betul-betul tanpa dasar sistem apapun. Saya bahkan tak punya dasar keilmuannya. Beruntung sekali, saya ditemani tim yang keren. Sehingga gagasan sederhana itu kini menjadi ruang belajar dan berkarya untuk member Ibu Profesional Bandung. 

WANOJA telah hadir dengan memuat unsur kebahagiaan, kebermanfaatan dan kehangatan. Menyematkan makna dalam setiap halamannya sehingga hadir pula slogan barunya yaitu binar makna berdaya dan berbudaya. Lekat dengan istilah Basa Sunda, e-magazine ini menunjukan jati dirinya sebagai karya kelahiran Bandung, tanah pasundan. Di dalamnya pernah mampir tokoh-tokoh inspiratif diantaranya yaitu Siti Muntamah Oded, Septi Peni Wulandani dan Atalia Praratya. Apresiasi member pun menjadi salah satu fokus WANOJA dengan menghadirkan informasi seputar prestasi member dan kegiatan yang telah dilaksanakan. Ada banyak rubrik membahagiakan di dalamnya, untuk selengkapnya dapat dibuka melalui website Ibu Profesional Bandung bagian menu WANOJA.

Setelah 3 edisi dengan rollercoaster produksi dan pergantian peran tim, edisi keempat nanti saya tak lagi menemani. Karena lahirnya WANOJA melahirkan banyak kesempatan dan tantangan baru pula untuk saya. Dengannya saya pun menyadari kapasitas diri dan mampu menumbuhkan banyak potensi yang sebelumnya tidak saya sadari. Selain itu, regenerasi diperlukan untuk menjaga warna value tetap netral tanpa konflik kepentingan pribadi.

Dalam edisi ketiga bulan kemarin memuat tema Merdeka Berdaya; menyelami asa diri, memecah belenggu potensi dan menenun untai inspirasi dalam setiap peran kebermanfaatan. Sebuah intisari yang juga menggambarkan kondisi diri saat ini. 

Tenyata dengan memeluk rasa-rasa yang ada dan menyapa jiwa-jiwa yang juga haus akan karya, diri ini mampu berdaya. Memberi dampak melalui sajian apik hasil kolaborasi dengan tim redaksi. Akumulasi itu semua adalah perasaan bertumbuh menjadi jiwa yang lebih bahagia. Terima kasih tim dan Panoja, pembaca WANOJA.

Kebanggaan saya terus mengalir karena semua peran di tim redaksi diisi oleh Para Ibu dan dari tempat yang sulit ditinggalkannya, rumah. Menemukan keistimewaan tersebut saya pun tidak sabar untuk ikut aktif dalam event Konferensi Ibu Pembaharu, menyiapkan gelas kosong untuk diisi dengan rasa-rasa baru. Rasa yang menyapa kembali jiwa saya untuk terus berkarya dan berdaya, dari rumah untuk dunia. 

Pemintal ide, penenun makna

Aku berdaya, aku berkarya

Febby Noor Fadhillah

#1dekadeibuprofesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu2021

#ibuprofesional

#semestakaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia

#sayembaracatatanperempuanKIP2021

#sayembaracatatanperempuan

Sayembara Catatan Perempuan KIP 2021; Memeluk Rasa Menyapa Jiwa