Kaidah pencacahan. Peluang. Bab ini biasanya dikenal sebagai tukang PHP (pemberi harapan palsu) di ujian karena soalnya seringkali saat dibaca terlihat mudah namun saat dikerjakan ternyata lebih sulit dari yang diperkirakan.
Sepintas, bab ini rumusnya sedikit, sederhana, mudah dihafal, dan tidak melibatkan operasi hitung-menghitung yang aneh (selain faktorial, yang sebenarnya hanya perkalian). Akan tetapi, ketika mengerjakan soal latihan maupun ujian, entah mengapa soalnya jadi begitu kompleks dan rasanya perlu turun ilham dari langit agar bisa mengerjakan soal tersebut.
Namun jika diamati, biasanya ada segelintir orang yang kelihatannya menguasai benar bab ini. Sepertinya orang-orang yang seperti ini selalu mendapat ilham untuk mengerjakan soal-soal di bab ini. Sepertinya soal kaidah pencacahan dan peluang sekompleks apa pun bisa dijawabnya. Lantas bertanyalah kita kepada orang-orang semacam ini, berharap kebagian ilham mereka.
“Itu sih jelas banget,” katanya. Jelas dari mana, kalau memang jelas tanpa perlu bertanya pun sudah ketemu juga jawabannya.
“Tinggal gini aja kan, gampang!” kata yang lain. Kalau dibahas memang jadi gampang, masalahnya, ide untuk mengerjakannya, dari mana datangnya? Kok bisa kepikiran? Nanti kalau sendirian pas ujian apa bakal kepikiran?
“Untuk soal semacam ini, caranya begini saja,” kata yang lain. Minggu berikutnya ketika ulangan, soalnya tampak mirip, namun ternyata cara yang kita gunakan di soal sebelumnya ternyata menyesatkan kita di soal yang satu ini, menghasilkan jawaban yang tidak ada di opsi. Mengapa di soal itu, caranya bisa digunakan? Mengapa tidak bisa digunakan untuk soal yang ini?
Kok orang lain bisa sih selalu dapet ide buat ngerjain soal peluang? Kok saya nggak dapet ya? Gimana caranya sih kak supaya bisa ngerjain soal peluang, supaya dapet idenya, supaya kepikiran?
Bongkar kebiasaan lama Anda dalam mengerjakan soal, serta susun ulang semua yang Anda ketahui tentang kaidah pencacahan dan peluang.
Read More »