• Tulisan ini telah dimuat dalam Koran Harian Banjarmasin Post tanggal Kamis, 30 Oktober 2025, berisi pandangan Fatimah Juhra, seorang Dosen Teknik Lingkungan ULM, tentang dampak program unggulan Makan Bergizi Gratis yang berpotensi meningkatkan timbulan sampah makanan dan solusi alternatif guna menanggulangi timbulan dimaksud.

    Oleh: Fatimah Juhra

    Dosen Teknik Lingkungan ULM

    Program makan bergizi gratis (MBG) bagi siswa sekolah dasar dan menengah menjadi kebijakan populer dan yang paling disorot dalam beberapa waktu terakhir. Tujuan program ini memastikan seluruh anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup agar tumbuh sehat dan cerdas. Di tengah tantangan ekonomi keluarga, program ini tentunya memberi harapan besar bahwa tidak ada lagi anak yang belajar dengan perut kosong. Namun, di balik niat baik tersebut, muncul persoalan baru yang jarang dibicarakan, yaitu meningkatnya timbulan sisa makanan atau food waste.

    Dalam pelaksanaan di lapangan, kebijakan ini sering kali hanya difokuskan pada aspek gizi, logistik dan distribusi, tetapi masih belum mempertimbangkan dampak lingkungan dari kegiatan penyediaan makanan massal setiap hari.

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2024 saja tercatat bahwa sisa makanan menjadi penyumbang timbulan sampah terbesar yakni 39,36%, jauh melampaui timbulan sampah plastik 19,64%. Tentunya timbulan sampah tersebut nantinya akan mengalami peningkatan seiring program makan bergizi gratis di tahun 2025bila tidak disertai sistem pengelolaan limbah yang memadai.

    (lebih…)
  • Tulisan ini telah dimuat dalam Koran Harian Radar Banjarmasin tanggal Senin, 7 April 2025, berisi pandangan saya mengenai Kota Banjarmasin yang memiliki keunikan karena dikelilingi sungai dan kanal, serta masyarakat Banjar masa dulu yang memiliki kearifan lokal berupa manabuk dan melabur untuk menjaga ruang air tetap sama dan terhindar dari banjir.

    ***

    Kota Banjarmasin pada masa kolonial Hindia Belanda sempat mendapatkan julukan Venesia dari Timur. Kota ini menurut para ahli bukan kota sungai biasa, ia adalah kota sungai pasang surut.

    Kota ini kini mendapatkan predikat sebagai kota seribu sungai, walaupun menurut perhitungan jumlahnya hanya sekitar 200 sungai. Akan tetapi ratusan sungai itu pun bukanlah sungai alami, ia adalah aliran buatan hasil dari kemampuan Urang Banjar yang luar biasa dalam membuat kanal.

    (lebih…)
  • Tulisan ini telah dimuat dalam Koran Harian Banjarmasin Post tanggal Rabu, 26 Maret 2025, berisi pandangan saya, mengenai mudik angkutan lebaran tahun 2025, berupa: prediksi hari puncak dan moda transportasi yang dipilih, strategi kebijakan dari Kementerian Perhubungan dan himbauan untuk masyarakat yang akan menjalani mudik lebaran.  

    ***

    Di negeri ini mudik lebaran menjadi keajaiban sosial dan budaya. Tak satu pun ritus sosial budaya yang dapat menyamai dalam hal skala pergerakan massa. Mobilitas ratusan juta orang terjadi dalam kurun waktu singkat, mungkin inilah fenomena mobilisasi manusia terbesar di dunia dalam hitungan hari, dilakukan dengan damai dan disambut dengan riang gembira.

    Hasil Survei dari Kementerian Perhubungan pada momentum lebaran saat ini diperkirakan sebesar 52 persen penduduk Indonesia atau sebayak 146,48 juta orang berencana akan melakukan mudik ke kampung halamannya.

    Jika dibandingkan dengan tahun lalu, pergerakan pemudik mengalamai penurunan yang signifikan dari sebelumnya sebesar 71,7 persen atau 193,6 juta orang. Hal ini tentunya akan berdampak pada perputaran uang selama Idul Fitri yang diprediksi hanya 137,9 Triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 157,3 Triliun.

    (lebih…)
  • Banyak orang saat ini mungkin sudah lupa rasanya menggunakan transportasi laut. Berpergian dengan kapal laut. Menghabiskan waktu belasan jam, untuk perjalanan yang dapat ditempuh hanya satu jam ketika menggunakan pesawat.

    Perubahan zaman turut mengubah kebiasaan, waktu seakan dipangkas dengan hebatnya. Perjalanan yang dulu dilalui hitungan hari, hanya menyisakan hitungan jam.

    Tapi rasa itu mungkin perlu dikenang, ketika sinyal hp tidak ditemukan, ketika sejauh mata memandang hanyalah laut, ketenangan menghinggap, hirup pikuk penumpang hanyalah gaung yang dihiraukan.

    Mungkin kita perlu merasakan kembali ketenangan itu, sudah seberapa sering kita mendapatkan sesuatu dengan instan. Menempuh jarak dengan singkat. Perlu kiranya kembali untuk menempuh jarak dengan waktu yang lambat.

    Di Terminal Penumpang Trisakti ini aku menemui perasaan tempo dulu, ketika banyak manusia memadati ruang tunggu, menunggu kapal yang sandar. Berangkat dini hari dan sampai lagi di keesokan harinya.

    Tak banyak manusia yang mengikuti jalan ini, tapi jika sesekali sepertinya seru juga.

  • 1

    Brain rot atau pembusukan otak, ini bukanlah makna harfiah dari suatu penyakit yang membuat otak mengalami pembusukan.

    Hal ini bermula dari kita yang selalu mengisi hari-hari dengan menonton konten-konten remeh yang tidak membutuhkan analisa kerja otak. Scrolling media sosial membuat otak kita tidak bekerja, hanya mencari video tanpa tujuan dan tidak berbobot dan tanpa upaya untuk berpikir, sehingga otak tidak mendapatkan rangsangan, yang mengakibatkan otak mengalami kesulitan untuk berpikir kritis dan akhirnya berdampak pada kesehatan mental.

    Ternyata istilah brain rot sudah lama diangkat oleh Henry David Thoreau di tahun 1854, ia menggambarkan kemunduran intelektual akibat pilihan ide dan pemikiran masyarakat di sekitarnya yang hanya disibukkan hal-hal sederhana dibandingkan ide yang lebih kompleks.

    (lebih…)
  • Tulisan ini telah dimuat dalam Koran Harian Banjarmasin Post tanggal 5 September 2024, berisi pandangan saya, bahwa Kota Banjarmasin memiliki potensi untuk mengembangkan wisata sungai, dan upaya untuk menghidupkan sungai sebagai urat nadi Masyarakat Banjar.  

    ***

    Pasar Terapung Lok Baintan di Kalimantan Selatan (Instagram @pasarterapunglokbaintan)Masyarakat Banjar tempo dulu menganggap sungai sebagai urat nadi hidupnya. Tidak hanya sebagai sarana transportasi, sungai saat itu menjadi halaman depan rumah mereka. istilah modern saat ini menyebutnya sebagai, waterfront city.

    Ketergantungan akan sungai membuat Masyarakat Banjar membangun rumah panggung yang menghadap sungai dan rumah-rumah lanting (rumah terapung) di atas tepian sungai.

    Sungai pada masa itu juga berfungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan konsumsi air minum. Sehingga wajar, sungai bagi Masyarakat Banjar tempo dulu ibarat sebuah rumah yang harus selalu bersih dan lestari. (lebih…)