Fery79.wordpress.com telah di rubah menjadi fery79.com
Filed under: Fery's_column | 1 Comment »
Fery79.wordpress.com telah di rubah menjadi fery79.com
Filed under: Fery's_column | 1 Comment »
Sedikit rekaman camera saku diantara indahnya hamparan sajadah di malam nisfu sa’ban.


Diantara bait do’a yang diminta, … Yaa Allah yaa tuhanku.. berilah kami umur yang panjang agar kami dapat melaksanakan ibadah kepadaMu…. dan menjauhi laranganMu..dan apabila Engkau matikan kami… maka matikan kami dalam beribadah kepadaMu, Yaa Allah Yaa Rabbi.. pertemukanlah kami lagi dengan Malam Nisfu Sa’ban berikutnya dan berilah kami kesehatan agar dapat melaksanakan ibadah kepadaMu..
Filed under: Home | 9 Comments »
Malam itu sehabis menyantap makan malam, persiapan memenuhi janji, segera dilaksanakan. Secepatnya berganti pakaian dan dalam hitungan menit sudah siap duduk manis diatas kendaraan roda dua yang akan mengantar kami ke tempat hiburan malam (dibawah 17 thn boleh baca).
Tempat hiburan malam disini bukan diartikan dengan seluas-luasnya, hanya merupakan tempat hiburan bagi keluarga yang memiliki anak, maupun juga yang belum berkeluarga. Karena pada saat dilokasi juga terdapat beberapa pasangan anak ABG, baik yang sekedar jalan berdua sambil menyaksikan, atau ikut serta dalam permainan.
Memang hiburan seperti ini masih memiliki pasar tersendiri, terbukti masih bisa bertahan hidup diantara maraknya hiburan yang lebih canggih yang berteknologi tinggi. Sementara hiburan ini masih bertenaga GENSET, dan bahkan ada salah satu permainannya yang masih menggunakan tenaga manusia.
Semoga permainan ini tetap terus eksis diantara permainan yang lebih canggih.


Filed under: Home | 5 Comments »
Sekedar mengisi kertas kosong, iseng ku coret dengan tulisan tak keruan. Atau sekedar gerak tangan tak beraturan, karena pembawaan hati yang lagi tidak nyaman.
Sungguh …. Hari ini sangat tidak menyenangkan bagiku. Suara diujung telp sana seakan menghakimiku. Dan suatu hal yang sangat tidak kusuka, bila aku diposisikan pada tempat keharusan menerima pernyataan yang dia buat, dan meminta aku untuk membenarkan serta menerima pernyataannya, yang jelas-jelas tidak sesuai kenyataan dan berlawanan dengan hati nuraniku. Egois namanya, kalau pernyataannya benar (sesuai dengan kenyataan) sementara aku berusaha keras mau benar sendiri.
Sebagai penutup Bukan Tulisan Penting ini, ku kutip suatu kalimat dari postingan di salah satu blog, yang kalau tidak salah berbunyi :
Dan bila tidak salah pengertiannya : ” Jika kita suka menghakimi orang-orang, tidak akan ada waktu tersisa untuk mencintai mereka” (Mother Theresa).
Filed under: Home | 12 Comments »

Teman, saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.
Cara menangkapnya sederhana saja.
Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya, agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa ? Tentu kita sudah tahu jawabnya. Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !
Teman, kita mungkin akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenarnya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita sering mengenggam erat-erat setiap pikiran yang mengganjal hati kita layaknya monyet menggenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap penyakit pikiran dan hati yang akut.
Teman, sebenarya monyet-monyet itu bisa bebas dan selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Dan, kita pun akan terbebas dari pikiran yang mengganjal dan penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepaskan semua pikiran yang mengganjal dan “rasa tidak enak” terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum…. Jadi, kenapa kita tetap menggenggam pikiran yang mengganjal dan juga perasan tidak enak itu ? – (NN)
source : iwandahnial
Filed under: Home | 12 Comments »