Kurelakan Kesucianku Demi Ibu

Mei 20, 2009 at 10:33 am (Uncategorized)

tidak ada bulan, bahkan tidak ada bintang. jauh diatas sana hanya segerombolan awan gelab yang seakan menghukumku. kupandang keatas sekali lagi ” dasarrrr,,,malam,,yang tak punya hati” teriaku keras, berharap sang awan mendengarku. aku terduduk di tengah derasnya hujan. dan keramaian jalan raya. sebuah bus yang membawa segerombolan pelajar melihat aku bagai seekor babi hutan yang kesasar atau seperti mak lampir yang kehilangan kesaktianya. ” apa ,,lho lihat-lihat” bentakku keras ketika seorang anak mengeluarkan kepalanya. dia semakin heran, kini matanya melihahtku bagai api neraka yang sebentar lagi tubuhnya akan dimasukkan dan di panggang disana. bus itu melaju dan semakin jauh. aku menengadah ke atas hingga butiran2 hujan terasa sakit jatuh di kelopak mataku.
setelah sampai di rumah aku langsung berlari ke kamar mandi. kuambil sabun dan kuguyur tubuhkku dengan air. ” kurang ajar…..aku benci kamu…aku benci kamu..” teriakku sambil menyirami tubuhku dengan air yang serasa bisa menghapuskan semua kotoran di tubuh sekalian jiwaku. aku menangis, menjerit, sekuat-kuatnya. tubuhku gemetar dan pikiranku tertuju pada kejadian tadi di rumah pak saleh.” kamu cantik skali malan ni Yu!!” katanya dengan senyuman tipis, sambil menyentuh pundakku. aku menjauh dan berusaha menjaga jarak. “makasih pak,,bapak memengil aku kesini untuk apa,?” jawabku dengan sedikit kebinggungan.” oh..aku hanya ingin membantu kamu, aku tahu sudah 2 minggu kamu g kekampus bukan? dan kamu berniat berhenti kuliah karna kamu tak bisa bayar uang kuliah kamu bukan?” katanya sambil mendekat.” lantas bapak mau membayar uang kuliahku?” jawabku penasaran.” tentu saja ia dengan satu syarat kamu harus….” lanjutnya sambil menunjuk kearah kemaluanya. aku terkejuta dan langsung pamitan. tapi aku terhenti ketika dia bilang bahwa dia akan membantu pembiayaan operasi ibuku. aku terhenti sejenak. pikiranku membawa aku terbang jauh dan mengingat kata dokter ” jika ibumu tidak di operasi jumat depan maka dia tidak akan bisa bertahan lagi”. aku berbalik dan memandang lekat2 kemata pak saleh. ” berikan dulu uangnya” kataku sambil gemetaran.” ok..tunggu sebentar”. aku menyerahkan tubuhku dan kesucianku, kubiarkan ganasnya tubuh dosenku sendiri menganas bagai setan, bermain kuda di atas tubuhku.
aku bangun sekitar jam 6 pagi, tanpa serapan aku berlari ke rumah sakit. ini adalah kesempatan terakhir untuk ibuku. sampai dirumah sakit aku menemui dokter Ali. ” pagi dok,,,”. dia mempersilahkan aku duduk, ” gimana apa skarang ibumu sudah bisa di operasi, ini coba baca”. dia menyodorkan selembar surat padaku yang berisikan syarat dan biaya yang harus dikeluarkan. syaratany semua keluarga dekat harus menyetujui dengan tanda tangan.” well aku tidak punya keluarga selain ibu” pikirku. tapi tiba2 aku terkejut denga biaya yang terpampang disana. ada 5 juta sementara pak saleh hanya memberiku 2. aku memandang kearah dokter ” apa ini tidak bisa di kurang dok? tanyuku sambil memandang lekat kearah matanya, berharap dia masih punya rasa kasihan. “maaf dek,, biayanya memang segitu”. katanya sambil mendekat kearahku.
” duit mu kurang ?”
aku menundukkan kepala.s eolah aku tak maumenjawab dengan jujur, namun kenyataanya duitku memang kurang.
“tenang aja ni masih stenga tujuh, aku yakin kamu bisa mendapatkanya” doker mendekat dan duduk di atas mejah menghapa kearahku.
aku terkejut ketika tanganya menyentuhku, kucoba untuk melawan namun hatiku luluh ketika ancaman keselamatn ibu kembali menghantuiku. kubiarkan tubuhku dijadikan sebagai budak untuk yang kedua kalinya.
hidup memang kadang harus hina, bahkan lebih hina dari kotoran anjing sekalipaun. air mataku terjatuh. kini aku bukanlah Ayu yang dulu lagi, yang cuek akan segala hal. kupandangi wajah ibuku yang terbaring lemah. “cepatlah sadar ma,, akumenunggumu, aku merindukanmu. aku memeluk ibuku. memeluknya dalam cinta dan kasih sayang meskipun aku tahu pelukan yang aku berikan tidaklah sebanding dengan semua pelukan kasihnya. iuku adalah harta paling berharga bagiku. dulu setelah ayahku pergi dengan wanita lain ibuku harus berjuang sendiri membesarkan aku. bahkan ketika ibuku sehat dia mampu menyekolahkan aku sampai perguruan tinngi. namun sayang 3 bulan yang lalu ibu sakit. dokter bilang di kepala ibuku ada kanker.
kini hidup harus kujalani sendiri meskipun kesucianku tiada lagi bersamaku namun akumasih bersyukur bahwa ibu yang paling berharga bagiku masih akan tetap berada didekatku.

aku melangkah menjauh dari gedung rumah sakit. tiba-tiba Heri muncul dan memangilku. dia melihatku dengan mata tajam. belum bicaraapapun dia memasukkan tangan kekantongany dan mengeluarkan sebuah saput tangan yang sangat aku kenal. ” ni punyamu kan” katanya.
” ia kamu dapat dari mana? tanyaku.
” dari jas bapakku,, katanya ini saput tangan gadis impianya”
aku berlari menjauh sambil menghapus air mataku. dunia seakan lebih kejam dari neraka. sambil menghapus air mataku aku tetap berusaha berlari sekuat-kuatku. kini aku baru sadar bahwa saput tangan itu tertinggal di waktu aku kerumah pak saleh 2 minngu yang lalu”.kini duniaku telah hancur. tidak ada lagi ynag bisa aku lakukan. aku memejamkan mata. kumelangkahkan kaki entah mau kemana. berharap ada sebuah tempat yang akan mengubah cerita hidupku. kusandarkan kepalaku di batu nisan nenekku yang dulu selalu membacakan aku dongeng sebelum tidur. ” ne,, aku lelah aku inggin tidur disini malam ini, bacakan aku donggeng ne..)
“non…bangun non..”
aku terkejut ketika penjaga makam membangunkan aku. rupanya aku tertidur semalamn di makam nenek. kulangkahkan secepat mungkin menuju rumah sakit. kutemui ibu duduk-duduk di atas kasur. aku tersenyum ” hari ini dokterbilang ibu sudah bisa pulang”. dengan cepat2 kau membawa ibu pulang kerumah. aku mellihat ada sesuatu di mata ibu. seperti sebuah kesedihan yang tak terucapkan. kucoba bertanya namun ibu diam saja. aku semakin binggung ketika ibu memelukku sesampainya di rumah. dia memelukku begitu erat sambil menaggis, namun dia tidak bicara sekata pun.
besoknya aku memberi ibu serapan lalu aku berangkat kekampus. aku sempat melihat ibu mengintip aku dari gorden ketika aku sudah menaiki bus. sampai dikampus aku terkejut melihat sifat2 kawanku yang sangat beda dari biasanya.
aku tiba2 melihat heri dan aku mengejarnya bagai kesetanan. ” aku ingin bicara denganmu.” kataku
“kau mau bicara apalagi, aku tidak sudi bicara dengan orang kotor seperti kamu”
aku berhenti, air mata menetes membasahi pipiku.” yah,,aku memang kotor tapi dengarkan dulu.penjelasanku”
“apa..penjelasan aku mau tanya dulu sama kamu,,bagaimana rasanya bersetubuh dengan ayah pacarmua sendiri,,, enak nga???” katanya dengan suara keras.
aku berhenti. kurasakan tubuhku terbakar bagai kena petir. kumelihat setiap mata yang tertujupadaku. mereka menunjuk padaku sambil membuang ludah mereka. heri berhenti dia tersadar bahwa dia telah berbicara terlalu keras, sementara itu aku berlari menjauh dan segera ingin pulang. heri sempat mengejarku namun aku tak menghiraukan nya.
sampai dirumah aku langsung berlari kekamar dan menjatuhkan diriku ke tempat tidur. kubiarkan semua hal merasukiku. aku tersadar dan ingat akan ibuku. aku membereskan rambutku dan berjalan menuju kamar ibuku. mataku terbelalak, dunia serasa suda kiamat. aku memeluk ibuku, mengedorgedornay. air mataku mengallir bagai pancuran. aku berteriak sekuat-kuatnya. kutemui sepucuk surat di atsa tempat tidur.
putriku maafkan ibu nak. aku merasa berdosa padamu. aku tak sangup melanjutkan hidupku lagi. aku tahu kau telahmengorbankan semuanya untukku. namun aku tidak kuasa, aku tidak bias melanjutkan hidupku lagi. maafkan yu.suster tina sudah ceritakan apa yang terjadi pada pagi sebelum aku di operasi.
aku tertunduk. aku malu. malu pada siapapun, kini aku tidak berarti lagi, kupandangi baygon sisa ibuku. dan dengan cepat aku eneguknya. hingga aku melihat sesuatu yang gelap. tenang an nyaman. hingga akhirnya aku terlepas dan mengilang. maafkan bu. maafkan Ri

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

seorang anak yang jatuh cinta pada sepotong roti

Mei 20, 2009 at 10:29 am (Uncategorized)

Langit berganti kulit menjadi biru cerah. Namun udara pagi tetap tidak bisa menyembunyikan keriputnya. Dan harapan yang selalu dibawa bersamanya, kini serasa hanyut oleh aliran got di pinggir kota. Tiang lampu jalan berdiri kokoh, menutupi ketidaksanggupannya untuk menaburi bumi dengan cahaya. Hanya suara kicau burung yang masih terdengar hidup. Atau mungkin saja masih tersisa sedikit napas kehidupan di gedung toko tak bernyawa ini yang sering dihampiri oleh sapuan debu. Dengan lantai-lantai kering dan dingin, ditinggalkan oleh hasratnya untuk mencicipi kembali kesegaran sentuhan kain pel. Di emper toko mati ini, mungkin saja masih terbentang sulur-sulur kehidupan. Karena di sanalah kini aku terbaring meringkuk. Dalam kekakuan. Lemah bersama lalat-lalat kotor.
Pagi ini semakin tegas menyiratkan api lilinku yang mulai meredup. Yang kunyalakan sebagai napas yang kuhembus. Yang kutarik dengan tali dari keringat. Namun tak dapat kusimpan dengan erat di dalam saku celanaku karena pada akhirnya, dengan pasrah harus aku hembuskan lagi. Kulihat sang mentari hadir memerintahkan seisi dunia. Merekahlah bunga-bunga di taman, merekahlah jiwa-jiwa muda yang baru bangun, merekahlah napas yang berpencar, namun yang menggema di sisi telingaku adalah beratnya suara detik sang waktu. Seakan aku ini mangsanya, dan dia adalah singa betina, mengawasiku dari kejauhan.
Apa yang kugenggam kali ini sama dengan perasaanku. Hampa. Tangan-tangan kecilku yang kurus, tak berdaya, tersisa hanya tinggal kulit dan tulang belulang. Seluruh tubuhku hanya tinggal kulit dan tulang belulang. Darah mungkin sudah hijrah entah kemana. Jantungku pun rasanya tengah berusaha menyeruak keluar. Hanya syaraf perasa yang tampaknya belum mengubur dirinya hidup-hidup karena deretan gigiku bergetar kedinginan, menghasilkan ritme terakhir yang masih dapat kudengar. Dalam keadaan seperti ini, kelaparan seperti ini, semakin meyakinkanku bahwa hidup tidak akan melangkah jauh lagi. Aku teronggok seperti bangkai tikus. Aku ini makanan anjing.
Hari bergerak melambat, sama seperti halnya waktu. Aku tak mengenali hari ini. Mungkin sekarang hari minggu, mungkin hari Lebaran, atau mungkin sekarang adalah hari ulang tahunku yang ke-8 atau bisa jadi yang ke-9. Namun bagiku, ini adalah hari penderitaanku yang lain. Tidak beda dengan yang sudah-sudah, hanya saja sekarang aku berdiri di puncaknya. Dengan satu kaki. Orang payah sepertiku tentunya hanya bisa menunggu. Orang miskin tidak berguna dengan gaya hidup menggelandang tanpa akhir, mengantri di barisan terbelakang di loket kenikmatan dunia. Aku dilahirkan sebagai ahli waris dari segala ketidakpunyaan untuk selamanya! Akulah ahlinya dalam menahan lapar. Jagoan kelaparan nomor satu. Hanya maut yang berani menantangku.
Perutku berteriak untuk yang keseribu kalinya. Bergerak naik turun. Usus besar dan lambung seolah-olah sedang menguping dari dalam, menanti jawabanku atas makanan yang mereka pesan. Aku tidak memiliki pulpen dan kertas untuk menuliskan pesanan kalian. Bukankah selama ini, batupun kalian makan? Tanahpun kalian kunyah? Dan rumput-rumput kalian kulum sampai hancur? Mereka terus memberontak dari dalam, mengeluhkan ”lalat di mangkuk supnya”, mencaci-maki pelayananku yang buruk dan ini dan itu. Aku semakin kuat menekan perutku. Mengapa kalian tidak bersikap seperti lambung dan usus besar sapi yang nyaman hanya dengan rerumputan dan tanah?
Aku bergerak dengan hati-hati. Permukaan lantai yang keras bersentuhan dengan tulang-tulangku. Aku mencoba bangkit dari tidur untuk melihat apa yang bisa kulihat pagi ini. Dalam hati, kuharap angin segera datang dan menerbangkan badanku ke laut. Dan anak-anak hiu akan berdesakan datang menyambutku. Sungguh, perasaan bosan ini tidak dapat tertahan lagi. Kehidupan ini sudah tidak dapat menjanjikan apapun lagi padaku. Waktu sudah seharusnya berhenti. Uang bukan lagi permintaanku. Aku mengemis pada roda waktu untuk menggilasku dalam tidur. Sehingga aku tidak merasakan apa-apa, dan terbangun bersama cacing dan semut merah. Aku tak keberatan berada di dalam tanah, asalkan di sana ada banyak makanan yang mengenyangkan. Namun, kini aku terbangun di suatu pagi, masih di alam tak berperasaan yang sama, dengan misteri hidup yang tak bisa kumengerti, dan enggan melepaskan kepergianku. Mungkinkah Tuhan tuli tidak dapat mendengarkan do’a-ku? Atau do’a-do’a itu hanya melayang lalu hilang tanpa sempat sampai di tujuannya.
Napasku memburu. Kurasakan paras manusia telah luntur dari wajahku. Sinar matahari dengan pelan menyentuh keningku, rasa hangatnya sedikit merembes lewat pori-pori kulit. Sinar matahari ini tidak seperti biasanya. Menurutku sebentar lagi akan segera hilang, ditutupi oleh awan gelap. Pagi yang cerah ini akan segera diguyur oleh hujan gerimis. Aku tak tahu mengapa, tapi sepertinya aku tahu bahwa hari ini akan turun hujan, walaupun matahari baru saja muncul. Aroma kumuh menyengat di hidung. Dari mataku yang setengah terbuka, aku melihat tempat ini sama menderitanya dengan aku.
Kain rombeng yang kupakai adalah pertahanan terakhirku terhadap udara dingin. Aku duduk bersandar pada tembok, mencoba menghilangkan hawa semalam yang masih mengitariku. Aku lapar ya Tuhan. Aku ingin makan. Tak sanggup lagi aku memandang keringnya tubuh ini. Kulayangkan sorot redup mataku pada langit di mana matahari melayang di sana dengan gagah. Andaikan aku bisa melahap matahari pasti rasanya hangat seperti tahu goreng atau jagung bakar yang telah lama sekali dirindukan lidahku.
Lalat-lalat berputar di atas kepala seperti burung pemakai bangkai. Aku melihat-lihat ke sekeliling. Di depanku, sebuah jalan raya yang mulai ramai dipenuhi oleh mobil-mobil. Mereka lewat dengan aneka warna dan bentuk. Sekali-kali terlihat pula motor-motor yang melesat bagai peluru. Kilatan suara mesin beriringan membentuk melodi jalanan yang tak putus-putus. Asap knalpot mencoret-coret biru langitku. Sekelebat aku melihat sesuatu di seberang sana. Samar-samar tersembunyi di balik wujud kendaraan yang lalu-lalang. Sebuah benda di depan sana yang mengundang mataku dan liurku untuk mencairkan diri.
Sampai sekarang, kedua mataku adalah sesuatu yang aku percayai dengan sangat. Mereka tak pernah menipuku barang sekalipun. Dari baliknya segala hal yang kulihat tentang kehidupan, yang ternyata dipenuhi oleh ilusi dan dunia fantasi, membuat imanku tegap dari topan godaan. Dan sekarang yang terpantul dari kedua mataku adalah bayangan sepotong roti di atas piring putih yang bercahaya di seberang jalan sana. Jantungku berdegup kencang, seakan bangkit dari kuburnya. Tak kubayangkan pesta meriah yang terjadi di dalam perutku saat ini. Dari sini, hidungku dapat mencium aroma roti itu dengan tegas. Otakku berputar seperti roda keberuntungan, dan berhenti dengan tepat di kata ”Pergi dan Ambil!”. Aku langsung berdiri, memenuhi panggilan perutku yang kosong.

***

Oh roti di ujung sana. Betapa aku mencintaimu. Sungguh-sungguh ingin mencumbumu. Segenap isi perutku adalah milikmu seutuhnya. Aku meniti keseimbangan di atas kedua kaki mungilku. Mencoba berjalan dengan tenaga yang masih tersisa. Darahku mulai mengalir lagi dari hulu ke hilir. Langkah pertamaku terasa begitu canggung, seperti ini adalah langkah pertama manusia di atas permukaan bulan. Bola mataku tidak mau beralih dari roti itu, begitupun dengan arah yang hendak kutempuh.
Dengan tertatih-tatih, dan gairah yang menggedor pintu hawa nafsuku, aku melangkah dari emper toko menuju tepi jalan. Menapaki kerikil dan tanah legam tempat para semut dan bangsa serangga membaur dalam damai. Jalanku sedikit berkelok-kelok, kepalaku agak pusing, namun itu tak cukup untuk membuatku berhenti. Roti itu memanggil-manggil di antara desingan deru mesin. Telingaku bergetar menangkap sinyal yang dikirmkan olehnya padaku, hanya untuk diriku seorang.
Tepi jalan tidak terlalu sulit untuk digapai. Aku tak menyangka tenagaku masih dapat menutup kelemasan dalam tubuhku dan menggiringku berjalan sampai sejauh ini. Mungkin karena semangat telah menyebar di dalam. Tinggal beberapa langkah lagi maka aku dapat segera menyantap hidangan roti itu dengan nikmat. Berarti aku harus menunggu mobil-mobil dan motor-motor ini menyingkir dari hadapanku. Lalu lintas tampak sibuk dilewati orang-orang yang rapih berdasi, anak-anak dengan pakaian seragamnya, surat kabar yang masih hangat, dan sekelumit aktivitas manusia lainnya. Dengan sabar aku mengamati mereka semua lewat di depanku dengan mimik yang angkuh. Salah satu dari mereka mungkin adalah orang yang berhutang banyak padaku. Yang telah membuat hidupku melarat seperti ini. Tapi aku tak peduli, setidaknya untuk saat ini. Ada hal penting yang lebih aku prioritaskan. Aku tak peduli karena merekapun tak pernah peduli.
Penantian ini menjadi terlalu lama bagiku. Rasa lapar sudah mendekam dengan betahnya di dalam perut, dan sepertinya sulit bagi rasa toleransi untuk kukembang-biakkan. Aku tak bisa menunggu lagi. Walaupun beberapa detik saja. Lagipula kupikir mobil-mobil ini pasti akan berhenti bila di depannya ada seorang anak melintas. Dan menunggu jalan sepi di pagi hari sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan. Maka, kuputuskan untuk mulai melangkahkan kaki lagi. Semua akan kulakukan demi rotiku tersayang. Kita sudah ditakdirkan untuk bertemu.
Keringat meluncur dari ubun-ubun. Permukaan aspal sehalus kulit bayi dan menjalari telapak kakiku yang sedikit terkelupas. Betapa beraninya aku menyeberangi jalan yang ramai ini. Suara klakson dan decit rem menyambut tiap langkah yang kuambil. Aku tak peduli. Tahu apa mereka tentang perutku? Penderitaanku? Kisah hidupku? Selama ini mereka hanya melihat orang-orang sepertiku lewat televisi, lewat berita di koran, lewat kaca jendela mobil ber-AC mereka, lewat syair lagu Iwan Fals, dan statistik pemerintah. Apa yang mereka tahu tentang kehidupan jalanan adalah nol besar. Dan sekarang tutup mulut kalian! Biarkan aku menyeberang dengan tenang.
Mataku memberi sinyal sekitar lima langkah lagi yang harus kutempuh menuju surga dunia. Roti mungil yang bercahaya oleh lampu sorot dari langit seperti sosok selebritis termasyhur dengan kepungan lampu blitz kamera. Bagiku, dia melebihi ketenaran siapapun di dunia. Dia lebih berkilau dari intan permata. Aku melangkah tahap demi tahap dengan badan oleng. Air liurku menetes. Sinar matahari pelan-pelan menipis. Kini, jantungku tak terkendali. Aku berdiri di hadapannya. Kucoba menjulurkan tanganku yang menderita gugup. Aku ingin menyentuh kerut-kerut roti itu, merasakan keempukannya dalam genggamanku. Memeluknya dengan penuh perasaan dan memperkenalkannya pada lidahku. Kucoba menyentuh dambaan hatiku itu dengan jari-jari tipisku. Kemarilah, sayang.

***

Aku merasakan perasaan yang sangat aneh, sangat baru, menghinggapi ragaku. Berputar-putar di dalam hati, naik menuju otak, dan bergerak cepat bersama darah ke setiap jengkal jaringan yang ada di dalam badan. Dunia ini muncul dalam aneka warna yang lahir dari campur aduk perasaanku. Suatu keindahan yang telah lama luput dari kedua mata. Roti di depanku mewujud dalam ratusan dimensi dan memanjakan indera penglihatanku, seperti sebuah manipulasi tanpa henti yang memabukkan. Aku terbius. Mabuk oleh pemandangan indah di dalam batin. Tubuh yang ringan ini seperti terangkat ke taman firdaus.
Apakah ini buah kerinduanku terhadap makanan? Buah hasratku terhadap roti cantik ini? Aku tidak tahu. Yang jelas semburat hawa dingin merambati diriku dan aku bisa merasakan matahari menyunggingkan senyum padaku. Kebahagiaan hidup mengeras. Beban-beban berat telah rubuh dari pundak dan hangus menjadi abu. Dengan heran, kuperhatikan roti bercahaya itu perlahan memudar, mencairkan diri, dan berubah wujud menjadi sebongkah batu kehitaman. Fatamorgana ini merayapi pikiranku dan terpantul dari ekspresi wajah yang diwarnai kebingungan.
Aku diam mematung dengan sempurna. Tak percaya atas kedua mata yang selama ini menjadi temanku, kini mengkhianati dan menipuku sampai sejauh ini. Telah kuperjuangkan nyawaku dengan berjalan sekuat tenaga hanya demi batu tak berguna ini yang juga mematung tanpa berdosa di depanku. Aku dibodohi oleh diriku sendiri. Kalau begini siapa lagi yang akan aku percayai? Dunia telah menunjukkan wajah aslinya padaku, dan itu sangat menyakitkan. Air liur di bibir menguap dan terbang menuju matahari. Pesta lambung dan usus besar telah dibatalkan. Perjuangan telah usai, dan agaknya hidupku telah benar-benar dijauhi oleh harapan.
Sambil membalikkan badan, aku ditemani oleh gerutu yang membisu. Kemarahan sepertinya hanya akan membuang energiku lebih banyak lagi. Aku lebih memilih diam seribu bahasa dan menghadapinya dengan pasrah. Mobil dan motor menghentikan lajunya seakan memberi ruang bagiku untuk menyeberang jalan. Orang-orang berkerumun di sebelahku, memperbanyak diri dalam hitungan detik. Keributan tumpah dari mulut-mulut segar mereka. Seorang ibu berkata dalam nada mengiba,“Oh Tuhan, ampunilah dia.“ Suara lain muncul meminjam nada yang sama,“…Anak yang malang.“ Dan terus menerus suara-suara manusia itu bermunculan seperti desing kawanan lebah menyatu dalam lagu yang menyedihkan.
Aku mendekat dihantui rasa penasaran. Melewati badan-badan tegap mereka dan membaur seperti gula dalam air. Dengan mudahnya aku menembus partikel-partikel padat manusia dan sampailah aku di tengah kerumunan. Seorang anak kecil tergeletak bersimbah darah dari kepala menyebar menuju pakaian kumalnya. Perutnya tidak lagi bergerak naik turun, hidungnya tidak lagi memburu udara untuk bernapas. Anak itu kosong, kehilangan jiwanya dan tersisa menjadi daging makanan cacing. Ubun-ubunnya retak, menyemburkan darah lebih banyak lagi. Anak yang malang, mati dengan mengenaskan. Tontonan bagi sifat jalang dunia.
Namun, aku tidak bisa lagi menutup rapat rasa sedihku. Rembesannya menetes dengan deras. Bagaimanapun, anak kecil itu adalah aku sendiri. Begitu sakitnya aku mengakui kejujuran ini. Tanganku berubah menjadi halus, putih bersinar, otot-ototnya, sel-selnya, dan pori-porinya terlihat eksotis dan menakjubkan. Badanku seperti melayang di atas tanah karena terasa ringan sekali. Perasaan aneh ini menemukan jawabannya sendiri. Sebuah mobil telah menghempaskan badanku, menghancurkan kepalaku, dan mengirimku ke alam roh.
Seseorang merengkuh pundak kananku. Cahaya dengan intensitasnya yang tinggi menutupi paras wajahnya. Orang ini dengan mengenakan pakaian serba putih, mentransfer rasa hangat melalui tangannya. Ia begitu putih, begitu rapih, dan begitu suci. Aroma segar terpancar dari mukanya saat ia berkata, ”Maaf, aku datang terlambat.” Tanpa kusadari, dia mengangkatku ke angkasa. Menjauhi kerumunan orang di sana. Menjauhi badan manusiaku yang pasrah. Menjauhi dunia yang telah menjauhiku lebih dulu. Menjauhi kisah hidupku yang penuh derita. Aku terbang bebas. Menuju tempat yang tak bisa kujelaskan.
Di langit, sebelum melewati atmosfer bumi, aku menyimpulkan akhir hidupku. Cintaku pada roti itu berada dalam keabadian. Roti itu sengaja menampakkan dirinya agar aku bisa segera hidup bersamanya selamanya. Rasa lapar mendorong kepergianku lebih cepat. Inilah jawaban dari setumpuk do’aku yang selama ini kutunggu dengan penuh kesabaran dan ketidakpastian. Hari esok kini telah berakhir dan tak lagi berarti. Roti bercahaya telah menjemput keresahanku. Orang dengan pakaian putih yang membawaku terbang sekarang ini mungkin adalah utusan dari roti itu yang khusus untuk mengantarku ke nirwana.
Pagi berganti kulit menjadi kelabu. Gema nyanyian burung tenggelam dalam dinding kemuraman. Kuasa sang mentari tak berdaya digoyahkan oleh gemuruh awan hitam yang bergumul. Kilat dan petir mengantri di ruang tunggu, menanti saat untuk terjun bersama tetes-tetes air. Semut-semut berlari dan menyembunyikan kepalanya. Detik-detik berlalu, awan berubah mendung, dan langitpun mengencingi dunia yang fana dengan tenangnya

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam Perjamuan Cinta

Mei 20, 2009 at 10:21 am (Uncategorized)

“Cinta.”Ya. Cinta. Kata itu tiba-tiba terlontar dengan derasnya dari mulut si Gadis bagiakan peluru yang muntah dari selongsong senapan. Sangat cepat, meyakinkan, dan langsung menembus jantung sasaran. “Cinta?” kata ketiga lelaki itu serempak, persis seperti ucapan aamiin yang keluar dari mulut orang-orang yang sedang shalat berjamaah. “Ketahuilah, cinta sangat penting bagi kalian semua. Cinta sangat penting bagi seorang wartawan. Anda, hai Wartawan, apa anda akan membantah bahwa berita paling menghebohkan di abad keduapuluh adalah cinta Raja Inggris kepada Lady Simpson, cinta yang membuatnya harus turun dari singgasana kerajaannya? Anda, wahai Penyair, apa Anda hendak membantah bahwa cintalah yang menyebabkan terjadinya Perang Troya dan memberi inspirasi Homerus untuk membuat syair perang yang selalu dikenang sepanjang zaman? Anda, wahai Musisi, apa Anda hendak membantah kenyataan bahwa sejak ditemukannya seruling dan biola, maka keduanya tak pernah berhenti menyenandungkan lagu cinta?”kata si Gadis. “Ya.Kau benar!” Si Gadis terdiam sejenak, diam kemenangan. Sementara ketiga lelaki di depannya hanya bisa terpaku. Namun tidak lama kemudian, ketiga lelaki itu serempak bertanya, “Dan bagaimana dengan kamu?” “Aku!?” kata si Gadis gugup dan bingung. Apakah mereka sudah gila? Seorang perempuan seperti dirinya yang sudah mengerti tentang cinta masih perlu ditanya lagi tentang kepentingannya terhadap cinta? Sesaat si Gadis menenangkan diri kemudian berkata, “Cinta? Aku tidak tahu apa arti cinta? Hai Wartawan, dan kau, wahai Penyair dan Musisi, coba katakan padaku tentang arti cinta? Siapa yang bisa memberikan jawaban yang tepat untukku, dialah yang bisa menjadi kekasihku!” Si Gadis menundukkan kepalanya untuk bersiap mendengar pendapat mereka tentang arti cinta. Sementara ketiga lelaki itu berebut untuk berpendapat terlebih dulu, demi meraih anugerah terbesar; menjadi kekasih idaman hati si Gadis.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Cara membuat Virus Worm

Mei 20, 2009 at 10:16 am (Uncategorized)

WARNING : GUNAKAN UNTUK MENAMBAH PENGETAHUAN, BUKAN UNTUK MERUGIKAN ORANG LAIN

Bro … Kamu pasti inget dengan virus worm yang sempat menghebohkan Tampilan awal program Vbs WGinternet beberapa waktu yang lalu : Anna Kournikova. Worm yang menginfeksi Windows beserta Outlook Exressnya, akan mengirim sendiri pesan virus ke seluruh email yang terdapat pada address book.

Sebenarnya untuk membuat worm semacam itu kamu tidak harus menjadi seorang programmer handal. Cukup bisa njalanin komputer dan punya softwarenya. Lalu apa softwarenya ? VBS Worm Generator !! Dengan program yang dibuat oleh hacker Argentina berusia 18 tahun itu kamu dapat membuat virus yang sama dahsyatnya dengan Anna Kournikova, cukup dengan melakukan beberapa klik.

Program VBSWG memungkinkan kamu untuk membuat worm dengan nama sesukamu. Kamu juga bisa memilih efek dari worm tersebut, seperti misalnya menampilkan pesan atau memaksa seseorang untuk menuju situs tertentu. Akibat yang paling parah tentunya jika worm tersebut kamu setting supaya membikin crash komputer.

Kemampuan lain dari VBSWG adalah melakukan enkripsi terhadap source code worm yang dibuat. Kemampuan lainnya bisa kamu coba sendiri Pokoknya cukup hebatlah program ini.

Tapi seperti yang dikatakan oleh pembuatnya, VBS Worm Generator hanya boleh digunakan untuk belajar, bukan untuk merugikan orang lain. Untuk itu jika Anda memang berniat mencobanya, ingat-ingat peringatan tersebut.

Atau gunakan search engine google.com dan masukkan keyword vbswg2bfix.zip, Vbswg2B.zip, worm generator, dan keyword semacamnya

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ketika Hawa tidak mencintai Adam

April 27, 2009 at 2:27 pm (Uncategorized)

Kutinggalkan Indonesia, negeri indah penuh bajingan itu. Bajingan yang bisa berkamuflase, dalam segala bentuk dan suasana. Terbang menuju negeri baru yang mungkin akan memberikan nasib lebih baik bagiku. Posisiku sudah cukup lumayan di rumah sakit tempat aku bekerja, cukup kalau hanya sekedar menghidupi diriku sendiri, tapi untuk menghidupi keluarga, apalagi untuk menghidupi anak2ku nanti, aku tidak tahu. Setelah kupikir lama dan atas persetujuan keluarga, akhirnya aku berangkat juga. Hanya saja ada torehan luka yang tersayat menjelang saat2 keberangkatanku, tunanganku memutuskan untuk tidak memberikan lagi curahan cintanya kepadaku, jarak yang terlalu jauh katanya, alasan klise yang membuat hatiku hancur, perjuanganku selama ini ternyata sia2, pengorbananku terhadapnya terlempar begitu saja. Tapi aku hanya bisa menangis, sampai kacamataku harus rela basah oleh deritaku. Memalukan mungkin, bagaimana mungkin aku menangis di saat usiaku yang sudah menjelang kepala tiga.

Tertatih2 di negeri baru, aku tidak perduli, hidup kuanggap sebagai permainan judi, kalah dan menang adalah keniscayaan. Kehidupan baruku terisi dengan kerja dan kerja, profesi perawat di sini ternyata tidak semudah di Indonesia, aku harus mengurus orang2 tua yang praktis sudah tidak bisa apa-apa, orang2 tua yang sudah tidak diurus oleh anak2nya,
yang hanya didatangi jika mereka sudah mati, hanya demi mendapatkan beberapa dari peninggalannya yang masih berarti.

Aku pun bisa menabung, penghasilan yang kudapatkan jelas jauh lebih besar daripada yang kudapatkan di Indonesia, tak lupa setiap bulan aku akan mengirim sebagian ke keluargaku dan sebagian lagi aku sumbangkan untuk pembangunan masjid di RW-ku yang setahuku sejak aku masih SMP sudah mulai dilakukan pembangunan dan sampai sekarang belum selesai. Keluargaku begitu bahagia, itu terlihat dari surat2 yang mereka kirimkan, tak lupa juga ada salam dari ketua RW segala, yang sangat berterima kasih telah menyelamatkannya dari coreng moreng cemooh atas tertunda2nya pembangunan masjid itu.

1 tahun berlalu……………………..

Queen’s Day, Koningin Dag, orang sini bilang. Semua orang keluar dari rumah, merayakan hari kelahiran ratu. Dan hari ini telah tertradisikan menjadi sebuah pasar terbuka di seluruh pelosok negeri, semua barang2 rumah yang sudah jarang dipakai ataupun sudah tidak dipakai akan dipajang di depan rumah atau di pusat2 kota untuk dijual murah, mungkin bisa dibilang hampir gratis. Rumah jompo tempat aku bekerja berinisiatif untuk menghibur para bewoners* dengan apa yang kami bisa. Aku dan para teman2 sekerja pun mulai berunding, ada yang menginginkan pemutaran film, ada yang drama, ada yang ballet, ada yang ingin diadakan sekedar pesta kecil2an, ada pula yang tidak mau mengadakan acara mengingat kami kekurangan orang.

Tapi akhirnya diputuskan untuk membuat dua acara, ballet dan drama. Hampir semua dari kami diharuskan bermain, bahkan Eric satu2nya laki2 di antara kami pun diwajibkan ikut. Untuk ballet dipilih bagian terakhir dari cerita “Romeo and Juliet” yang mengharukan itu, setelah berdebat seru karena sebagian yang lain ingin “Don Quixote”, karena kisahnya lebih heroik. Untuk drama kami memutuskan untuk memainkan “The Inspector-General” sebuah drama komedi ala Rusia. Aneh2 saja memang, ternyata Rusia mempunyai permasalahan yang hampir sama dengan bangsaku Indonesia, penuh dengan pejabat yang korup dan sewenang2, berteriak2 seakan komunis**tetapi berjiwa oligark***. Eric membisiku begitu, setelah melihat aku hanya melongo saja, karena aku tidak tahu apa isi drama Rusia itu.

Aku kebagian peran menjadi Juliet, dan setelah beberapa lama berdebat, Janice kebagian peran Romeonya. Sebenarnya peran itu ditugaskan ke Eric, tapi Eric dengan mentah2 menolaknya, selidik punya selidik, ternyata dia seorang gay, yang mungkin jijik jika berciuman dengan lawan jenisnya seperti aku ini. Rumor itu ternyata benar, Eric yang akrab sekali dengan dunia malam itu, sepertinya sudah bosan dengan perempuan dengan segala tetek bengeknya.

Siang itu pertunjukan begitu meriah, kulihat lagi senyum2 bahagia di antara orang2 tua itu, yang biasanya sehari2 cuma bisa memerintah dan teriak2 minta tolong. Dan pertunjukan balletku sebagai Juliet adalah pertunjukan pamungkas, dengan adegan ciuman Romeo kepada Juliet, Janice menciumku dengan lembut, lembut sekali, getaran yang bertransformasi menjadi sensasi indah. Aku kaget campur bingung, ciuman itu terasa sangat lain. Geletarnya merambat ke seluruh tubuh…., aku sampai meneteskan air mata.

Setelah acara selesai, Janice menghampiriku, menanyakan apakah aku baik2 saja, karena melihat aku menangis tadi. Aku bilang baik2 saja, karena aku menangis bukan karena sedih, tapi karena ada sesuatu yang tak terkatakan dalam ciuman tadi. Janice mengundangku datang ke rumahnya malamnya, sekedar untuk masak bersama dan keluar ke pusat kota untuk sekedar cuci mata.

Sudah agak larut ketika kami pulang dari tempat kerja kami, aku dan Janice yang kebetulan tinggal tidak terlalu jauh pulang bersama2. Dingin musim semi masih semilir menebarkan nuansanya, masih membuat bunga2 sedikit malu untuk menawarkan indahnya. Kami berjalan agak bergegas, diantara gedung2 kuno dan museum yang memang menjadi ciri khas kota yang aku tinggali. Janice berjalan sambil menggenggam tanganku, dingin yang tadi aku rasakan, berubah menjadi hambar atau mungkin netral, aku tidak tahu. Yang pasti aku seperti cawan anggur yang telah kehilangan isinya, berisi partikel2 udara dan siap dimasuki oleh tuangan selanjutnya.

Sekitar jam 7 malam, aku ke dapur untuk memasak. Tak lama kemudian Janice pun datang, dia sudah berpakaian rapi, agak lain dari biasanya. Kami pun masak Tagliatelle*********, salah satu makanan favorit yang hampir disukai semua orang di tempat kerja kami.

Diam2 Janice merangkulku dari belakang dan membisikkan..
“I love you…”
aku segera menyibakkan tangannya, dan berbalik arah.
“Kamu gila ya……” dengan nada ketus aku mengucapkannya, tak tahu apa ada kata lain yang lebih bagus.
“Kebahagiaan orang yang dicintai adalah kebahagiaan orang yang mencintai” dengan tatapan matanya yang nanar ke arahku, Janice dengan geragapan mengucapkan kalimat itu.
Aku terdiam…………………………………………

Kami tinggal serumah sekarang, sedari awal aku sudah berusaha menyembunyikan berita ini. Tapi gosip dengan santernya beredar, apalagi di kalangan kelompok pengajian PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang sering aku ikuti. Aku menjadi terasing di forum yang biasanya syarat pesan2 moral itu. Anggapan bahwa aku seorang lesbi membuat mereka berhati2 terhadapku, dan dari pandangan mata mereka tampak sekali bahwa mereka seakan jijik melihatku. Itupun ditambah dengan sindiran2 halus nan menyakitkan ketika ada ceramah, tentang berbahayanya homoseksual (menyukai sesama jenis kelamin) baik itu gay ataupun lesbi. Bahkan Hasan, yang selama ini sangat dekat denganku, dan aku tahu dia memang menyukaiku, berubah 180% menjadi memusuhiku.

Hatiku hancur, arus yang biasanya ramah kepadaku, kini semakin deras menyeretku dan merobek2 pertahananku dengan pusaran2nya yang dahsyat dan mematikan. Tapi aku berusaha menguasai diriku, apapun yang terjadi, akal harus selalu berada di atas perasaanku. Kala sendiri di rumah dan Janice sedang kerja, aku sering menangis, mengapa Tuhan membalas ketaatanku selama ini dengan perasaan seperti ini. Tapi sekali lagi aku tidak perduli, apakah Tuhan yang katanya penuh cinta itu akan melarang makhluknya untuk mencintai makhluk lainnya walaupun itu sesama jenis. Dan aku tahu bahwa aku tidak sendiri, Janice yang berasal dari keluarga Katolik Ortodoks itupun menghadapi permasalahan yang sama. Keluarganya sangat marah begitu mendengar bahwa kami samen leven, menginjak2 ajaran Bible katanya. Sodom dan Gomora sudah diratakan dengan tanah, karena Tuhan geram atas tindakan penghuninya, dan sekarang anaknya yang melakukan hal yang sama. Tak jauh beda denganku yang dituduh makar terhadap ajaran Al-Quran, melakukan liwath**** dengan terang2an.

Janice sudah mengatakan tentang hubungan kami kepada orangtuanya, dan dia sekarang menuntutku untuk melakukan hal yang sama, liburan summer ini dia ingin aku memperkenalkan dia ke keluargaku. Aku shock berat, tak tahu harus berbuat apa, berpikirpun aku tak berani, aku yang sudah sedemikian terisolir di kalangan sahabat2ku itu, tak mau membayangkan jika juga harus terdepak dari keluargaku yang sangat aku cintai. Sedemikian pedih penderitaanku, dan tidak ada yang bisa aku ajak membagi cerita, apalagi membagi duka. Kalutku semakin memuncak, sampai aku sakit, beberapa hari ini aku tidak masuk kerja. Kadang ada pikiran untuk mengakhiri saja hidup ini, tapi ketika kupikir lagi, bukannya menyelesaikan masalah, malah akan tambah memperparah. Tiba2 ada keinginan untuk memainkan hp-ku, dan mataku terantuk pada sebuah nama, Ahmad, dia yang selalu diam ketika ceramah itu dan seketika berubah menjadi play maker dengan canda dan kata2nya sehabis ceramah. Aku meneleponnya…
“Met Ahmad *****…….” terdengar suara merdunya di ujung sana.
“Assalamu alaykum, Ahmad kamu bisa datang ke rumahku sore ini”
“Hhmmm, aku kerja sampai jam 5 sore, gimana klo agak malam, jam 7an gitu, tidak apa2 kan..?”
“Oke deh, klo kamu capek ya jangan, tapi klo tidak terima kasih sekali. Tot vanavond..******”

Ahmad datang tepat waktu, sudah menjadi kebiasaannya, justru karena dia tidak pernah memakai arloji. Gatal katanya kalau pakai arloji, dasar orang kampung hehehe…, tapi konon Ahmad ini pinter, dan religius juga, puasa senin kamisnya gak pernah ketinggalan walau udah lama di negeri orang. Tapi persetan dengan itu semua, mau dia puasa, mau dia sholat, mau dia bajingan, aku tidak perduli, aku hanya ingin curhat. Meminta sekedar pendapat tentang masalahku.

“Tuhan menghukum kaum Luth di Sodom dan Gomora, karena mereka mau melakukan homoseksual itu dengan paksa, dan waktu itu akan dilakukan kepada tamu nabi Luth, sebenarnya jika dengan baik2 dan tidak memaksa, mungkin kejadiannya akan berakhir lebih bagus”
aku kaget bukan alang kepalang, kata2 menyejukkan pertama kali yang kudengar dari orang yang kubayangkan beragama. Setelah aku cerita panjang lebar tentang diriku, aku hanya bisa berharap bahwa Ahmad menasihatiku baik2 bahwa perbuatanku salah dan sebagainya, atau menjelaskan bahwa perbuatanku adalah salah satu mental disorder ( kelainan jiwa).

“APA (American Psychiatric Association) sudah menerangkan bahwa homoseksual bukan kelainan, begitupun WHO. Kita menjadi gay, lesbi, biseks ataupun hetero bisa jadi karena memang dari sananya sudah begitu, naturenya kita sudah diciptakan begitu. Aku sebagai seorang hetero tidak berhak menyalahkanmu atas pilihanmu, karena cinta adalah ungkapan tulus seorang anak manusia, siapapun itu bahkan Tuhan sekalipun tidak berhak melarangmu”

pernyataan keduanya lebih membuat aku kaget lagi, seorang Ahmad yang selama ini diam ternyata menyimpan pernyataan2 toleran dan egaliter semacam itu.

“Tapi aku pernah juga mencintai seorang laki2 Ahmad, aku takut kalau aku mengingkari kodratku” aku masih kurang percaya apa yang dikatakan Ahmad, aku hanya ragu mungkin saja dia hanya ingin mengurangi deritaku dengan ucapan2nya.

“Memang, karena memang homoseksualitas tidak hanya dari nature saja, tapi juga dari nurture, lingkungan yang membentuk kita. Setiap orang bisa berbeda dalam tahap identifikasinya, teman sekolahku, seorang cowok yang sejak kecil tinggal bersama neneknya dan dikasih main boneka2 an akhirnya dia mempunyai sifat gay juga”
Krinnggg….Kringgg…Kringg………..
suara bel dipencet, rupanya Janice sudah selesai kerja. Aku segera bangkit meninggalkan Ahmad dan membuka pintu untuk Janice.
“Goede avond schatje..*******” suara serak Janice langsung keluar begitu pintu terbuka.
“Kom binnen mijn lieveling..********”
Janice langsung mencium aku di bibir. Setelah bibirnya lepas, aku segera ingin memperkenalkan Janice pada Ahmad, Ahmad rupanya agak melengos, mungkin baru pertama kali bagi dia menonton adegan ciuman dua cewek secara langsung di depan matanya, sehingga sifatnya yang malu2 menuntunnya untuk lebih baik tidak melihat.

Setelah perkenalan basa basi, Janice langsung pergi ke kamar mandi, dan aku melanjutkan percakapanku dengan Ahmad di kamar. Aku lebih suka di kamar karena pembicaraan kami memang rahasia, dan Janice tahu itu. Dia tidak cemburu kalau aku memasukkan cowok ke kamarku, tapi kalau cewek, dia pasti akan marah habis2an.

Rupanya dibalik diamnya, Ahmad adalah sahabat yang sangat hangat dan charming, pendengar yang baik dan pengertian. Sehingga dengan itu, aku mendapatkan perasaan untuk bebas mengungkapkan segala keluh kesahku. Akupun cerita panjang lebar tentang masa laluku di pesantren, dimana aku merasa bahwa kehidupanku sangat dikekang. Apalagi kalau masalah cinta2an, menerima surat saja disensor habis2an. Jika tidak dari keluarga, kemungkinannya kecil sekali untuk sampai ke tangan yang dituju. Mungkin aku menikmati hubungan sesama jenis sejak aku di pesantren, karena nafsu yang menggebu dan tanpa ada penyaluran sama sekali walaupun lewat surat, banyak di antara kami yang bercinta di antara kami sendiri. Aku tidak tahu angka pasti berapa yang melakukannya, tapi yang pasti cukup banyak di antara sekitar 3.000 an santriwati yang belajar di pesantren itu. Ahmad masih mendengarkan dengan setia, sambil kadang mengangguk, atau menerawang tak tahu ke mana.

“Struktur dan paham institusi religi memang perlu saatnya banyak dirombak, kejadian yang kamu alami tidak hanya terjadi di pesantren wanita, di pesantren laki2 pun seperti itu, bahkan bukan rahasia lagi banyak pula terjadi di kepastoran atau di paroki, di wihara dan sebagainya, dimana pengekangan seks telah melampaui batas normal.”

Lagi2 Ahmad membuatku tersentak, darimana dia tahu kalau kasus homoseksual itu terjadi di banyak lembaga2 suci itu. Jangan2 dia ngarang cerita saja, tapi aku tidak berani bertanya. Sepertinya dia bersungguh2 dengan ucapannya, dan aku tahu dia orang yang tidak suka berbohong.

“Ahmad, Janice meminta aku untuk memperkenalkannya pada keluargaku summer ini, sebagai pasanganku tentunya, karena dia sudah melakukannya pada keluarganya, bagaimana menurut pendapat kamu…? ”

” Aku tidak tahu, itu terserah kamu, kalau kamu rasa orang tuamu siap, tidak masalah. Tapi maafkan kalau aku salah, menurut pertimbanganku, bapakmu yang kiai itu pasti akan shock berat. Sebaiknya jangan secara frontal memberitahu hubungan kalian, datanglah dulu apa adanya, biarlah Janice menjadi sedikit bagian dari keluargamu, mungkin kedatangan selanjutnya ketika suasana sudah cukup cair, baru kamu bilang terus terang”.

Aku memeluk Ahmad, dia rupanya kali ini yang kaget….

“Terima kasih ya…….”

tubuh Ahmad begitu hangat, tiba2 saja aku mengarahkan bibirku ke bibirnya, dia semula mengelak ke belakang, tapi aku segera menarik tubuhnya kembali.

“Kamu gila ya..” bisik Ahmad pelan-pelan.

“Cinta itu tidak sesederhana yang kita rasa” aku kembali memagut bibirnya

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Artikel Olahraga

April 20, 2009 at 10:01 am (Uncategorized)

Kemalasan dalam melakukan atau menyelesaikan sesuatu adalah hal yang umum dan pasti dialami oleh semua orang. Dalam hal berolahraga, malas adalah hal yang cukup sering ditemui juga. Hal ini biasanya disebabkan oleh 2 hal.

Pertama, ketakutan akan sakit dari olahraga. Rasa pegal yang muncul 1-2 hari sesudah latihan biasanya merupakan suatu pengalaman yang membuat jera, sehingga orang berpikir 2 kali kalau diajak untuk kembali berolahraga. Sesi latihan dengan intensitas yang terlalu tinggi yang melebihi kapasitas tubuh adalah biang keladinya, ibarat bayi yang masih merangkak harus dipaksa berlari.

Kedua, kurangnya kesadaran terhadap pentingnya kesehatan dan kebugaran. Orang yang tidak merasa perlunya menjadi pintar biasanya memang tidak rajin belajar. Sama juga dengan orang yang tidak menyadari pentingnya kebersihan biasanya akan malas untuk mandi. Demikian juga orang yang kurang menyadari pentingnya hidup sehat dan bugar akan malas untuk berolahraga.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai