Selasa pagi yang mendung, 20 Januari ’09
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat ini barangkali sudah sangat sering Anda dengar. Nikmat Allah sungguh tak akan habis. Saya sangat tergugah oleh film “Sang Murabbi” pada saat dialog antara pemeran (alm.) Ust. Rahmat dengan istrinya.
“Nai, Nai seneng ngga tinggal disini?” tanya sang Ustadz.
“Senang, Abi. Tapi ‘afwan Abi jangan marah, ya. Saya masih bingung besok mau masak apa. Uang yang Abi kasih sudah habis.” kata sang istri
“Kalau uang sudah habis, minta lagi aja sama Allah,”
“Kan Allah ngasihnya lewat Abi. Jadi saya mintanya sama Abi,”
“(Tertawa kecil) Kalau uang udah abis, itu tandanya rezeki sudah akan datang lagi. Kaya sumur aja. kalau sumurnya kering, berarti ujan udah mau dateng.”
Dialog ini begitu menghibur saya ketika kondisi makrofinansial saya menurun (beuh…). Inflasi meningkat (>_<‘). Kiriman orang tua belum juga datang, hehe. Dan sudah sangat sering saya alami, nikmat Allah datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Kedatangannya pun tak tanggung-tanggung. Sungguh, Allah sangat menyayangi makhluk-Nya.