Oleh: firdansyah | Januari 20, 2009

REZEKI

Selasa pagi yang mendung, 20 Januari ’09

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Ayat ini barangkali sudah sangat sering Anda dengar. Nikmat Allah sungguh tak akan habis. Saya sangat tergugah oleh film “Sang Murabbi” pada saat dialog antara pemeran (alm.) Ust. Rahmat dengan istrinya.

“Nai, Nai seneng ngga tinggal disini?” tanya sang Ustadz.
“Senang, Abi. Tapi ‘afwan Abi jangan marah, ya. Saya masih bingung besok mau masak apa. Uang yang Abi kasih sudah habis.” kata sang istri
“Kalau uang sudah habis, minta lagi aja sama Allah,”
“Kan Allah ngasihnya lewat Abi. Jadi saya mintanya sama Abi,”
“(Tertawa kecil) Kalau uang udah abis, itu tandanya rezeki sudah akan datang lagi. Kaya sumur aja. kalau sumurnya kering, berarti ujan udah mau dateng.”

Dialog ini begitu menghibur saya ketika kondisi makrofinansial saya menurun (beuh…). Inflasi meningkat (>_<‘). Kiriman orang tua belum juga datang, hehe. Dan sudah sangat sering saya alami, nikmat Allah datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Kedatangannya pun tak tanggung-tanggung. Sungguh, Allah sangat menyayangi makhluk-Nya.

Oleh: firdansyah | Januari 20, 2009

ADA SAJADAH PANJANG TERBENTANG

Sembari mendengarkan lagu “Sajadah Panjang”-nya Bimbo, sekonyong-konyong (hahaha…ngga enak banget bahasanya…) saya teringat sesuatu ketika saya menjalankan sholat Jum’at. Ketika itu kebetulan saya tidak membawa sajadah karena memang di masjid tujuan sudah disediakan sajadah super panjang warna hijau seperti masjid-masjid pada umumnya. Lagipula praktis rasanya tidak menenteng sajadah, hehe…

Khutbah dimulai.

Belasan menit kemudian khutbah pun selesai. Tibalah saatnya untuk shalat. Setiap orang merapikan barisannya. Saya pun tengok sana sini untuk meluruskan posisi dalam shaf. Bismillahirrahmaanirrahiim…

Ternyata saya berada di posisi yang tidak ada sajadah hijau yang menjadi trademark masjid-masjid itu. Di depan saya terhampar lantai berubin putih tanpa sajadah. Ah, kebetulan orang di sebelah kanan saya membawa sajadah. Dan memang orang Indonesia itu ramah tamah sekali. Dengan sukarela ia membagi sajadahnya. Ia hamparkan secara horisntal.

Selesai sholat saya sadari bahwa bagian sajadah yang ada di hadapan saya adalah bagian sajadah untuk kaki. Tampak tidak lebih bersih jika dibanding bagian kepala. Tapi masih bisa dikategorikan bersih sih. Terlintas dalam pikiran saya, andai bagian kaki ini cukup kotor untuk dijadikan ‘persungkuran” wajah saya ketika sujud. Pastilah sholat saya akan terganggu.

Saya berpikir, alangkah baiknya jika kita membagi sajadah kita pada bagian kepala untuk orang di sebelah kita. Sedangkan bagian kaki untuk kita. Bukannya saya tidak bersyukur bahwa saya telah diberikan alas kepala untuk bersujud. Tapi saya takut jika saya jadi orang tersebut dan ternyata kaki saya tidak cukup untuk dikategorikan tidak berbau…^_^. Salah-salah orang yang saya bagi itu tidak bangun lagi dari sujudnya, pingsan hehe…Barangkali ada yang lebih penting lagi kenapa kita sebaiknya membagi sajadah bagian atas (kepala). Bagian atas sajadah adalah bagian yang kita jadikan tempat kepala bersujud. Itu adalah bagian terbaik dari sebuah sajadah. Bukan bagian bawah yang sering diinjak kaki.

Barangkali ini pelajaran kecil yang saya dapat dari orang di sebelah saya itu. Trims, Bang! Jadi, berikanlah yang terbaik bagi saudara kita. Saya teringat lagi iklan Oreo, ada anak kecil yang membagi bagian ber-krim dari sebuah biskuit oreo-nya. Dan masih banyak cerita-cerita sejenis lainnya. Sebagai epilog, saya sajikan sebuah hadist,

Oleh: firdansyah | Januari 20, 2009

SEBERAPA TAJAM OBSERVASI ANDA ?

Coba tebak, apa warna lampu lalu stop-an yang paling atas? Merah atau Hijau? Barangkali pertanyaan ini Anda pikir dapat dengan cepat untuk dijawab. Tetapi bayangkan jika Anda saat ini ditanya ketika sedang mengikuti kuis berhadiah jutaan rupiah. Tentunya Anda akan mulai menimbang-nimbang manakah jawaban yang benar. Merah atau Hijau, ya? Mudah tapi harus hati-hati.

Jawabannya tentu saja, Merah selalu berada di warna paling atas dan Hijau di bawah, sedangkan Kuning di tengah-tengah. Pada kenyataanya sebagian besar orang tidak bisa menjawab pertanyaan ini, dengan yakin. Hanya beberapa orang saja yang yakin. Tapi, jika Anda termasuk orang yang yakin menjawab “Merah”, jangan dulu berbangga hati. Masih ada pertanyaan selanjutnya.

Jangan lihat jam tangan Anda! Jangan lihat jam tangan Anda! Mudah-mudahan Anda sekarang sedang memakai jam tangan. Kalau tidak ya, apa yang mau dilihat?

Kira-kira angka 6 di jam tangan Anda itu, angka Romawi (VI) atau Latin (6)? Hmm, pikirkan sejenak sebelum menjawab. Sekali lagi, bayangkan Anda sedangkan menjawab pertanyaan bernilai jutaan rupiah.

OK, sekarang apa jawaban Anda? Kemudian lihat baik-baik pada jam tangan Anda. Jawabannya benar? Atau bahkan barangkali ternyata jam tangan Anda tidadk memiliki angka enam! Jam digital, mungkin. Barangkali saya perlu tanyakan yang lain. Barusan saja Anda melihat jam tangan Anda. Jam berapa sekarang – jam dan menit? Cek jawaban Anda.

Hmm, kalau Anda tidak menjawab dengan tepat barangkali Anda tadi hanya mengecek apakah jawaban bahwa jam Anda berangka Romawi atau tidak. Anda sama sekali tidak melakukan observasi lebih jauh lagi. Pikiran Anda sedikit teralihkan. Cobalah trik ini pada teman Anda.

Hal ini menggambarkan bagaimana Anda melihat sesuatu hal. Seberapa tajam Anda melakukan observasi pada suatu benda. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh seorang penyidik seperti polisi, pengacara, atau detektif.

Disadur dari : Super Power Memory, Tony Buzan

Kategori

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai