![]()
![]()
![]()
![]()
Jika kita melintas di jalan dan melewati agen/pangkalan minyak tanah di kota Bogor akhir-akhir ini maka kita akan mendapati pemandangan antrian panjang warga masyarakat beserta jeriken untuk membeli minyak tanah.Pemandangan seperti itu tidak hanya terjadi di satu agen/pangkalan tetapi terjadi hampir di seluruh agen/pangkalan minyak tanah di kota Bogor. Beberapa hari terakhir kebutuhan bahan bakar minyak tanah semakin sulit di peroleh di kota maupun kabupaten Bogor. Menurut beberapa pemilik agen/pangkalan minyak tanah kelangkaan minyak tanah ini mulai terjadi semenjak beberapa bulan yang lalu ketika pemerintah mencanangkan program konversi minyak tanah ke gas elpiji.
Walaupun program tersebut baru di mulai di beberapa daerah dan sifatnya masih uji coba namun di lapangan keberadaan minyak tanah sudah sulit di temukan. Kalaupun ada minyak tanah di pangkalan pasti akan habis di serbu oleh warga masyarakat hanya dalam beberapa jam.Menurut salah satu pemilik pangkalan minyak tanah di Pancasan Bogor minyak tanah yang di kirim pagi hari akan habis pada siang hari. Koordinator Hiswana Migas daerah Bogor, Hedi Hedian sejak bulan oktober pasukan dari Pertamina memang di kurangi, makanya wajar sekarang ini terjadi kelangkaan minyak tanah di masyarakat, Warga masyarakat harus rela antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter minyak tanah, belum lagi melambungnya harga dipangkalan yang di beberapa tempat jauh dari HET yang di tetapkan pemerintah.
Program konversi minyak tanah ke gas elpiji adalah program jangka panjang, program yang bertujuan untuk penghematan penggunaan bahan bakar minyak di karenakan stok cadangan minyak mentah kita semakin menipis. Kalau kita lihat program ini memang program yang harus kita dukung bersama tetapi masalahnya pada persiapan dan pelaksanaannya. Karena di lapangan banyak sekali di temukan fakta yang terjadi kurang siapnya pelaksaaan program tersebut baik dari pertamina ataupun dari warga masyarakat.Banyak kalangan pengamat dan masyarakat menilai program konversi ini sebaiknya di tunda, sampai persiapan program tersebut benar-benar matang.
Pemerintah harus melakukan inventarisasi tentang jumlah masyarakat yang menggunakan minyak tanah yang bersubsidi. Karena selama ini pemerintah tidak mengetahui secara pasti jumlah masyarakat yang menggunakan minyak tanah bersubsidi. Belum lagi soal kesiapan warga masyarakat untuk beralih dari minyak tanah ke gas elpiji, karena tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat yang telah puluhan tahun menggunakan minyak tanah.Ketika semua itu sedang di lakukan maka pasokan minyak tanah jangan di kurangi dulu sehingga tidak terjadi kelangkaan di tengah masyarakat, Oleh karena itu sekali lagi ternyata kuncinya adalah di pemerintah, di perlukan sosialisasi yang lebih panjang dan persiapan yang lebih matang sebelum program konversi ini di lakukan. Kita tentu tidak ingin program yang ber tujuan baik tetapi di lapangan justru semakin memberatkan rakyat kecil. Karena di masyarakat sekarang banyak terjadi pengangguran baru. Bagaimana tidak, contohnya banyak diantara para tukang gorengan yang sekarang membiarkan gerobaknya terpakir di halaman rumah alias tidak lagi berjualan karena sulitnya memperoleh minyak tanah sebagai salah satu bahan pokok untuk berjualan, kalaupun harus mengganti dengan gas elpiji mereka bingung cara mendapatkan dan menggunakanya, belum lagi masalah keuntungan. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah banyaknya ibu-ibu rumah tangga di beberapa daerah yang kembali menggunakan bahan bakar kayu bakar untuk memasak. Mudah-mudahan fakta di lapangan ini menyadarkan pemerintah untuk memikirkan secara matang sebelum program tersebut di laksanakan.
Komentar Terbaru