Makassar, 29 Februari 2008, Pukul 12.55
“Hai Salma!!!, sudah tiba waktumu!!”
“Siapa Kau??, mau menolong atau mengumpat segala keterbatasan ku ??” ucap Salma, setengah sinis, melihat bayangan hitam, serupa pria berbadan tegap yang telah mengagetkan tubuhnya yang sedang terkapar lemas di atas ranjang reot dari bambu berukuran 2×2,5 meter tersebut.
“Maafkan saya, saya hanya menjalankan tugas, bahwasannya saya harus menjemputmu sekarang juga, ya sekarang”
5 jam 45 menit sebelumnya, 29 Februari Pukul 7.10
Nama saya Salma, terlahir sebagai seorang wanita, 27 tahun yang lalu, saya tidak pernah berpikir sebelumnya untuk dilahirkan ke dunia ini dengan banyak kefakiran kelas akut yang menempel dalam diri saya bersamaan dengan darah-darah rahim ibu saya. Tanpa rasa ingin menvonis bersalah terhadap kedua orang tua saya maupun kepada Tuhan tapi seandainya kelahiran itu bisa dipilih, maka saya akan memilih dilahirkan sebagai salah seorang anak dari Pak Jono, seorang pejabat pemerintahan yang bergelar manusia terkaya di Republik ini, sehingga disaat pagi yang indah ini, saya bisa menikmati secangkir kopi hangat dan roti selai coklat hangat yang tersedia di meja hidang saya, sembari baca koran The Jakarta Post, ditemani anak-anak yang lucu-lucu, sehat, dan montok-montok itu sedang bermain air bersama para susternya. Okey, saya tidak boleh iri mengenai hal itu, karena memang hidup di dunia itu menganut hukum kesetimbangan, ada yang baik ada yang buruk, ada yang kaya ada yang miskin, dan dalam hal ini saya kebagian yang miskin, saya terima.
2 Jam 20 Menit Setelahnya, 29 Februari Pukul 09.30
Tiga hari ini, adalah tiga hari yang sangat panjang dan berat bagi saya dan mungkin juga bagi keluarga saya, bersama-sama terkapar berserakan dalam ruangan pengap, berbau sengak berukuran kecil 2×3 meter ini. Kami sekeluarga memang sering menghabiskan waktu di dalam ruangan ini, ruangan multifungsi, kadang berfungsi sebagai kamar tidur, ruang makan, sekaligus ruang menerima tamu juga. Dan selama tiga hari ini pun kami meretas waktu bersama-sama lagi di ruangan ini, bersama adik, dua kakak saya, dan juga Ibuku Salma yang sedang mengandung calon adikku yang kedua, bukan untuk tidur, bukan untuk makan, juga bukan menerima tamu, tapi hanya sekedar terkapar lunglai, terhempas dalam ketidakberdayaan. Tidak berdaya melawan waktu, Tidak berdaya terhadap himpitan ekonomi, tidak berdaya menghadapi kenyataan bahwa kami manusia, yang membutuhkan makan untuk bisa menyambung nafas.
Saya tengok Ibu disebelah saya, terlentang memegang perutnya yang sudah membesar, menghadap langit-langit rumah, mencoba tegar, bibirnya bergetar, dengan air mata yang terus mengalir walaupun matanya tetap terpejam. Tak lama waktu berselang tadi, Ibu saya, Salma namanya, mengelus rambutku, dan mencium dahiku, lalu dengan mata teduhnya ia memandangku sembari tersenyum berkata “Hilmi anakku, tabahlah, kita bisa melewatinya, tapi jikalau terlalu berat perutmu menahan rasa lapar itu, maka pejamkan matamu, tidurlah, bermimpilah yang indah, maka rasa itu akan hilang sayang….”
44 Menit yang lalu, 29 Februari Pukul 08.46
Saya pandangi satu persatu anak-anak saya, sesak rasanya hati ini, tak kuat melihat kondisi mereka yang kurus kering, perut membuncit, dengan berbagai penyakit kulit yang menempel dalam tubuh mereka.
“aku harus tegar, lebih tegar dari mereka”, begitulah aku menguatkan diriku sendiri.
Kalau dipikir-pikir memang semua ini adalah kesalahan kami, malapetaka dalam keluarga ini adalah kecerobohan kami dalam merencanakan kehidupan berumahtangga kami. Dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan ini kami tetap saja berkembangbiak tanpa ada kendali
“Kenapa tidak mengikuti program KB bu Salma??”, kata pak RT beberapa tahun yang lalu setelah kelahiran anak ketiga kami, Hilmi. Yaaa bagaimana mau KB pak, wong kami nggak ngerti cara dan juga manfaatnya, lagian satu-satunya hiburan ditengah-tengah kondisi yang terbatas akan akses ini ya hubungan hormonal itu. Saya tidak mengerti teori Malthus, dalam buku An Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society karya seorang begawan bernama Thomas Robert Malthus yang terkenal itu, yang mengatakan bahwa suatu saat nanti akan terjadi kemiskinan dan kelaparan karena pertumbuhan pangan sejatinya menganut hukum deret hitung, sedangkan pertumbuhan penduduk berdasarkan deret ukur. Saya tidak mengerti hal itu, dan untuk saat ini saya tidak mau tahu urusan itu, saya saat ini hanya ingin meyakinkan kepada anak-anak saya, bahwa kondisi ini akan segera berakhir dengan baik, saya pandangi sekali lagi, saya cium dahi mereka satu-persatu berharap bisa menguatkan mereka dan mencoba mengalihkan perhatian mereka.
4 Jam 9 Menit kemudian, 29 Februari 2008Pukul 12.55
Saya dibangunkan oleh rasa perih dalam ulu hati saya, seolah ingin muntah tapi tidak ada yang bisa dimuntahkan, badan saya sudah terlampau lemas, bahkan untuk menggerakkan kaki pun aku tak punya tenaga, Saya juga sudah tidak merasakan adanya pergerakan janin di rahim saya. Di tepi ranjang sekilas saya lihat beberapa orang termasuk suami saya sudah menunggu, menangis, tak tahu kenapa, ingin rasanya memanggil tapi saya tak bisa. Tiba-tiba ada sekelebat sosok bayangan hitam, tegap, dengan suara sedikit parau menakutkan, menyapaku.. “Hai Salma!!!, sudah tiba waktumu!!”
“Apa maksudmu!?, aku tak mengenalmu, Siapa Kau??, Mau menolong atau mengumpat segala keterbatasanku”, ulu hatiku semakin terasa perih, nafasku tersengal-sengal menahan rasa sakit itu, kakiku pun terasa mulai kesemutan dan mati rasa
Pandangan saya menghitam ketika sosok itu semakin mendekat, samar-samar terdengar suara dari sebelah kanan telinga saya “Maafkan saya, saya hanya menjalankan tugas, bahwasannya saya harus menjemputmu sekarang juga, ya sekarang”, lalu ……..
9 Menit Kemudian, 29 Februari 2008 Pukul 13.04
Saya kaget dan terbangun ketika melihat orang-orang disekililingku sudah mengerubungi Ibuku, yang terbujur kaku, dengan mulut pucat sedikit ternganga, masih belum kering bekas air mata diujung matanya. Saya sesungguhnya percaya bahwa hari ini cepat atau lambat akan datang, tapi saya masih belum siap apabila harus secepat ini.
Tiba-tiba muncul bayangan kejadian waktu Ibuku masih memangku aku dan adikku, sore hari, beliau menyuapi kami beberapa potong roti, indah sekali waktu itu, kami memang miskin tapi tidak terbayang sama sekali bahwa kami harus mengalami hal tragis semacam ini. Sebuah kejadian yang sangat langka terjadi, kalau melihat kenyataan bahwa kami tinggal dan hidup di sebuah negara agraris, gemah ripah loh jinawi, yang berpenghunikan manusia-manusia yang peduli. Tak lama bayangan semacam itu buyar oleh sesosok yang memegang ujung kepala saya dan berkata “saya juga akan menjemputmu..”
Makassar, 29 Februari Pukul 13.05
“saya sudah berjuta-juta kali mencabut nyawa manusia, tak ada kesan, karena memang itulah tugas saya. Hidup dan Mati adalah hal yang biasa dan memang merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari manusia, tapi kematian yang dialami hilmi dan salma adalah kematian yang terlampau berat saya lakukan, kematian karena kelaparan adalah kematian yang belum bisa diterima, mengingat manusia adalah makhluk-makhluk yang seharusnya sempurna”
* Judul “Hungry Planet” dikutip dari sebuah diskusi Soegeng Sarjadi Forum pada tanggal 26 Maret 2008 dengan judul yang sama.
*Tulisan ini terinspirasi oleh kisah nyata ini