Kuliah di Universitas Pemberi Hadiah Nobel!

Pekan ini adalah Nobel Week! Artinya, dalam pekan ini pemenang hadiah nobel dari semua kategori: Kedokteran & Fisiologi, Fisika, Kimia, Literatur, Ekonomi, dan Perdamaian diumumkan antara 7-14 Oktober 2019. Penghargaan nobel ini diberikan oleh beberapa institusi di Swedia dan Norwegia. Untuk nobel Kedokteran & Fisiologi diberikan oleh kampus saya, Karolinska Institutet (KI).

Universitas Pemberi Hadiah Nobel?

Yap, pada Senin lalu, 7 Oktober 2019, ada banyak orang mengantri di depan salah satu gedung di kampus saya, Nobel Forum. Karena di gedung itulah penghargaan nobel akan diumumkan. Acara pemberiannya tertutup, namun selain tamu undangan yang datang akan diarahkan ke ruangan dan menontonnya dari layar TV.

Baca selengkapnya di: Blog PPI Swedia

Cerita Dibalik (S2 di) Swedia

Halo!

Saat ini saya sudah hampir satu bulan tinggal di Stockholm, Swedia, dan melanjutkan pendidikan S2. Beberapa teman yang bertanya tentang pilihan dan pengalaman saya disini, dan meminta saya untuk menuliskannya dalam blog. Jadi, beginilah ceritanya………..

S2 itu Spesialis?

Bukan, S2 itu pendidikan akademik, sementara Spesialis adalah pendidikan profesi. Lulus S2 gelarnya Master (Magister), bukan Spesialis.

Kenapa sekolah S2, bukan Spesialis?

Saya sudah berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang master sejak semester 7. Awalnya bahkan saya berpikir untuk tidak koas, langsung S2 (hehe). Karena saya menyadari bahwa kedokteran bukan tempat saya.

Saya menikmati praktik klinis dan hubungan dokter-pasien selama menjalaninya. Tetapi, ketika saya tidak sedang praktik dan melihat kehidupan dalam jangka panjang, kira-kira pilihan saya adalah sekolah spesialis (4 sampai 6 tahun paling singkat), atau S2 di bidang nonklinis.

Dan saya memilih yang kedua.

Setelah pertimbangan yang sangat panjang, pada akhirnya saya tetap melanjutkan koas dan internsip sebelum sekolah S2. Kalau kata dosen saya disini: Sometimes you have to stay in a situation you don’t like, to embrace the experience and build relationships.

Kenapa Swedia? Bukannya dingin ya disana?

Ini pertanyaan pendamping internsip saya ketika saya ceritakan niat saya. Teman-teman pun menanyakan hal yang sama. Yap, Swedia memang dingin, dan sinar matahari merupakan anugerah yang langka saat musim dingin nanti, karena terbit pukul 8 dan tenggelam 2.30, at the shortest.

Namun, saya ingin challenge diri saya untuk ke tempat yang betul-betul berbeda (dari khatulistiwa ke lingkaran arktik), dan negara yang bahasanya saya tidak tahu; life begins at the end of your comfort zone, and I want to teach myself to not take things for granted.

Plus, setelah saya sampai disini baru menyadari bahwa Stockholm adalah kota yang sangat-sangat cantik. Dengan kombinasi bangunan khas Eropa dan kepulauannya yang indah.

Bioentrepreneurship? Keren. Itu apa ya?

Hehe, ini juga respon kebanyakan orang ketika saya menyebutkan judul jurusan saya. Singkatnya, bioentrepreneurship adalah ilmu tentang kewirausahaan, dan manajemen bisnis di bidang industri kesehatan.

Kok bisa nemu jurusan itu?

Ini merupakan perjalanan dan riset panjang tentang jurusan apa yang ingin saya ambil. Nah, jurusan yang diambil pun berubah-berubah. Berikut ini kronologisnya:

  1. Global Health. Orang-orang terdekat saya tahu, saya tertarik pada Public Health dan Global Health. Nah, maka dari awal jurusan ini yang saya incar. Pada akhir 2016, setelah IELTS dan UKMPPD, saya pun mencoba apply ke The University of Edinburgh. Alhamdulillah dapat Letter of Acceptance. Namun, karena saya ingin mencari beasiswa, maka saya pun menunda dulu.
  2. Health Communication. Ketertarikan saya di bidang jurnalistik membuat saya tertarik pada bidang ini. Terlebih, saya dipercaya Ivan dan kawan-kawan untuk menjadi koordinator bidang Edukasi di Globular Health Initiative. Universitas yang memiliki Master di bidang ini antara lain University of Sydney, dan beberapa kampus Ivy League di Amerika Serikat. Saya berniat apply ke UoS, dan sambil apply beasiswa Australia Awards. Karena aplikasinya berbayar dan saya tidak lolos beasiswa tersebut, akhirnya saya mengurungkan niat untuk apply (hehe).
  3. Management in Health Industry. Setelah lulus, perspektif saya terhadap kehidupan (dan karir) mulai berubah. Sempat magang dan freelance sana-sini, sudut pandang saya lebih praktis dan realistis. Ditambah pengalaman saat internsip, membuat saya semakin sadar bahwa ketersediaan fasilitas dan teknologi menjadi salah satu tantangan di industri kesehatan. Maka, saya mulai mencari S2 di bidang industri kesehatan.

Program yang saya apply sejak akhir 2017 lalu antara lain Medical Technology in Business Management di The University of Warwick, Management of Bioeconomy, Innovation, and Governance di The University of Edinburgh (lagi), dan Master in Bioentrepreneurship di Karolinska Institute. Prioritas pertama saya adalah Karolinska Institute, karena kurikulumnya yang memberikan practical placement (alias magang) sebanyak 3 kali dan total durasi kira-kira satu tahun. Plus, KI adalah lembaga kesehatan yang memberikan penghargaan Nobel di bidang kesehatan dan faal.

Persyaratan di ketiga universitas tersebut antara lain IELTS, Ijazah dan Transkrip (dalam bahasa Inggris), surat rekomendasi (Warwick), dan Proof of Leadership, Working, and Research Experience (KI). Detailnya bisa dilihat di website masing-masing universitas.

Persiapan IELTS dan GRE

Yap, IELTS atau TOEFL adalah salah satu ketentuan wajib untuk sekolah diluar negeri. Umumnya skor yang dibutuhkan adalah overall score 6.0-7.0, dengan minimum skor beragam mulai 6.0 sampai 7.0 dalam masing-masing aspek.

Saya mempersiapkan IELTS sejak 2016, diantara koas dan UKMPPD.  Rotasi koas saya selesai pada bulan Juli, sementara saya ikut UKMPPD bulan November, jadi saya punya 1-2 bulan spare time sebelum mulai intensif untuk UKMPPD.

Belajar darimana? Beli buku di salah satu e-commerce karena jauhh lebih murah dibandingkan dengan di toko buku :p

Selain itu saya coba latihan dengan online material seperti IELTS Liz etc. dan materi2 IELTS intensif yang dulu saya ikut (5 tahun sebelumnya).

GRE adalah Graduate Record Examination, suatu ujian terstandar untuk sebagian universitas  Eropa dan di Amerika Serikat. Seperti IELTS, tetapi lebih analitikal plus hitung-hitungan. The Univerisity of Warwick, The University of Edinburgh, dan Karolinska Institute tidak memiliki persyaratan GRE. Namun, karena ada rencana untuk daftar ke universitas lain, awalnya saya pun berencana untuk tes GRE.

Saya belajar GRE dengan teman-teman SMA yang juga punya rencana S2. Juggling between internship life and studying GRE was tough, and I was desperate. Jadi ketika teman saya daftar tesnya, saya menunda. Rencana saya saat itu: jika saya tahun ini tidak diterima di KI, saya akan lebih serius belajar dan ikut tesnya.

Beasiswa?

Salah satu alasan mengapa saya ‘menunda’ studi sejak mulai apply tahun 2016 adalah karena saya berusaha mencari beasiswa. Beasiswa yang saya apply sepanjang 2017 antara lain:

  • Australia Awards
  • LPDP
  • Chevening
  • Swedish Institute

Pada akhirnya, saya pun berangkat dengan pendanaan pribadi.

And, that’s it 🙂

Pilih Sehat, Bukan Rokok

Sebut saja namanya Pak Toto, pria berusia 65 tahun yang dikenal oleh semua staf IGD. Ia merupakan pengunjung rutin IGD karena penyakit paru-paru yang dideritanya, membuatnya sering kali datang dengan keluhan sesak napas. Hampir setiap minggu ia datang untuk diberi terapi uap (nebulisasi). Terkadang, bisa lebih dari satu kali sehari. ‘Asma’ yang ia derita ini muncul beberapa tahun belakangan, bukan sejak kecil. Ia mengaku biasa merokok 1-2 bungkus sehari selama lebih dari 30 tahun.

Pak Toto bukan satu-satunya pasien langganan IGD dengan penyakit ’asma’ yang disebabkan oleh rokok. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) seringkali disebut orang awam sebagai asma karena gejalanya yang mirip. PPOK merupakan salah satu akibat jangka panjang yang cukup sering diderita oleh perokok.

Permasalahan rokok merupakan isu kesehatan masyarakat yang terbesar di dunia. Celakanya, 80 % perokok di dunia merupakan penduduk negara dengan pendapatan rendah dan sedang, dimana angka kematian dan kejadian penyakitnya paling tinggi.

Selengkapnya di globularhi.com

Pekan Imunisasi Dunia: Mengupas Lima Mitos Imunisasi

Penyakit infeksi merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Padatnya pemukiman dan keterbatasan fasilitas membuat kuman begitu cepat menyebar. Anak-anak merupakan kelompok yang rentan tertular, dan karena sistem imun yang belum sempurna, seringkali berakibat fatal.

Salah satu cara mencegah fatalitas penyakit menular adalah imunisasi. Dengan memasukkan toksin atau bakteri yang telah dilemahkan, tubuh kita akan memproduksi kekebalan. Sehingga apabila kita terjangkit kuman kemudian hari, akibatnya tidak fatal.

Berkurangnya kejadian dan kematian akibat penyakit campak, hepatitis, polio, cacar, difteri, dan lain-lain menandakan keberhasilan imunisasi. Variola, atau small pox, yang membunuh jutaan orang kala pandemi pun telah berhasil dilenyapkan di seluruh dunia.

Sayangnya, karena penyakit-penyakit tersebut semakin jarang, banyak orang justru enggan melakukan imunisasi. Kita telah melihat akibatnya di masyarakat; kemunculan kembali polio dan difteri. Jika dibiarkan, keengganan ini akan menyebabkan kemunduran kesehatan, dan membunuh semakin banyak korban.

Simak lebih lanjut mengenai 5 Mitos Imunisasi yang umum di masyarakat pada website Globular Health Initiative.

Report on “Air Pollution” Meeting

I have joined Globular Health Initiative for almost two years now. It’s exciting to meet people who have concerns on global health, despite their educational background. We believe that public health is an interdisciplinary matter. Thus, to create an impact, we need interdisciplinary collaboration.

Together with Ivan, the founder of GHI, I got a chance to meet two professor from Cardiff University, UK. Ivan wrote a full report about the meeting on our website, Report on “Air Pollution” Meeting.

This being human is a guest house.
Every morning a new arrival.

A joy, a depression, a meanness,
some momentary awareness comes
as an unexpected visitor.

Welcome and entertain them all!
Even if they are a crowd of sorrows,
who violently sweep your house
empty of its furniture,
still, treat each guest honorably.
He may be clearing you out
for some new delight.

The dark thought, the shame, the malice.
meet them at the door laughing and invite them in.

Be grateful for whatever comes.
because each has been sent
as a guide from beyond.

– Rumi

The Roads Not Taken

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
—Robert Frost

Never Have You Ever

At this age, some of my friends said they are going through a quarter life crisis. After a few years graduated from college and started working in real life, they often re-ask themselves about what they want to do in their life. Probably it is s part of life transition. Because I’ve been there, too.

Until yesterday I watched a Jubilee Project recent video, where a mother and son playing a Never Have You Ever Game. A simple and thoughtful game, which going to make you tell the truth about something. Then there was a question:

“Never have you ever asked your purpose in life?”

For once, I was like…..‘Well, who doesn’t?’ I guess, most people should’ve been through life crisis life crisis.

Surprisingly, the mother and son said they have never. Wow.

I always saw those who can think simply as the gifted ones. As for me, I always over-think and over-worry about things.  I know some of my friends sometimes over think and over worry too, so I considered myself as normal.

However, AJ and his mother on the video gave a bang to my mind: ‘Oh right, why do I have to worry much about my life?’

Like a lightning, a quote from from a preach I read somewhere popped up in my mind:
When you are worrying about your life tomorrow, you actually doing a blasphemy.

Right. Right. Right.

It may sound simple, but believe me….it does not. It is not that easy to overcome the anxiety we are facing day to day.

Knowing one of your friend is going abroad for another degree, starting a fancy job, or finally settling down in a commitment—-literally everyday, it’s difficult to calm yourself down. Moreover, in this era of social media. Modernization s*cks, I know.

This era of social media made us envy what other people have, without realizing that we have something they do not. My advice, when you are going through on a crisis in life, you need to stop a while and rest. Re-evaluate and filter your activity; if you spent too much time on social media, they will only make you worse.

“Flowers teach us that nothing is permanent: not their beauty, not even the fact that they will inevitably wilt, because they will still gave seeds. Remember this when you feel joy, pain, or sadness. Everything passes, grows old, dies, and is reborn.

Even the tallest trees are able to grow from tiny seeds . Remember this, and try not to rush time.” – A dialogue from The Spy by Paulo Coelho

I try to truly believe that everything about us and our lives had been written down: God only want to know how we react to His plan. So, isn’t worrying mean we do not fully trust Him? Hu Allah hu alam.

🙂

 

Dokter Cip Si Cabe Rawit

Siapa yang tidak pernah mendengar Dokter Cipto Mangunkusumo? Dalam buku pelajaran Sejarah ia disebut-sebut sebagai salah satu pelopor pergerakan kemerdekaan.  Dalam ujian pun yang ditanyakan adalah tanggal dan tempat. Maka yang kita ingat tentang Dr. Cipto Mangunkusumo adalah beliau merupakan salah satu anggota tiga serangkai yang mendirikan Indische Partij; partai politik pertama di Hindia. Pelajaran sejarah tidak menceritakan sosok Pak Cip yang sesungguhnya: keras kepala dan kegigihan beliau dalam perjuangannya.

Saya menemukan buku berjudul Dr. Cipto Mangunkusumo yang ditulis oleh Emdeman (Mohammad Dahlan Mansoer) di salah satu toko buku bekas. Buku tersebut menjawab rasa penasaran saya mengenai sosok Pak Cip yang saya tahu namanya diabadikan sebagai rumah sakit rujukan nasional.

img_4606.jpg

Soetjipto Mangunkusumo merupakan putra sulung dari seorang priyayi, seorang guru kepala ‘Inlandsche School’. Cipto yang suka bermain bebas dengan anak-anak gembala, merasa tidak senang ketika ayahnya ditugaskan menjadi seorang ‘wedono guru’ di kota Semarang.  Habislah kesempatan bermainnya.

Kakek Cipto merupakan seorang guru agama yang sangat disegani di suatu desa dekat Ambarawa. Neneknya tidak ingin Ayah Cipto menjadi seorang guru pula, maka disekolahkanlah Ayah Cipto ke Sekolah Guru di Yogyakarta.

Saat Cipto diterima di Dokter Djawa School, embahnya berpesan: “Jangan kau lupakan sembahyang! Orang yang melalaikan sembahyang, meruntuhkan agama!”

Setelah lulus dokter, Cipto sempat mengabdi di Banjarmasin, dekat muara Sungai Mahakam sebagai dokter pemerintah. Kesiagaannya yang siap dipanggil kapan saja dan dibayar berapa saja tidak disukai oleh dokter tentara Belanda yang juga bertugas di Banjarmasin. Cipto dianggap sebagai saingan karena praktiknya semakin sepi. Masyarakat lebih suka datang ke praktik Dokter Cip yang seringkali menggratiskan obat dan pelayanan untuk rakyat miskin. Dokter tentara Belanda tersebut kemudian membujuk residen agar Cipto dipindahkan dari Banjarmasin.

Dari Banjarmasin, Cipto pindah ke Sala. Di Sala pun kerapkali ia ditegur karena enggan membuka topi dan sandalnya setiap melewati alun-alun depan Kromo. “Mereka punya banyak kewajiban pada kita!” Serunya. Suasana yang memanas ini membuatnya kemudian memilih menetap di Bandung.

Bersama (Raden Mas) Suwardi (Suryaningrat), Cipto lebih aktif menulis dalam harian De Ekspres di Bandung. Suwardi, Cipto dan Abdul Muis kemudian dipenjarakan oleh Belanda di Banceuy karena salah satu tulisannya, Andai Aku Seorang Belanda. Belanda kemudian hendak mengasingkan Cipto keluar Jawa. Maka ia pun berangkat ke Belanda dan mendalami ilmu penyakit tropis selama setahun di Rotterdam. Cipto kembali ke Jawa tepat sebelum Perang Dunia ke-I dimulai.

Perjuangan Cipto bukan tidak menuai tentangan dari keluarganya sendiri. Ayah Cipto yang merupakan pegawai pemerintah tidak ingin pekerjaannya terganggu oleh tingkah sulungnya. Dengan Cipto menjadi dokter mulanya diharapkan bisa membantu membiayai adik-adiknya. Dengan watak yang sama-sama keras, Cipto pun berseteru dengan ayahnya. Karena wataknya pula lah perkawinan Cipto dengan anak Bupati Temanggung yang dijodohkan orang tuanya kandas.

Cipto kemudian menikah dengan seorang janda Indo pilihannya sendiri di usia 30 tahun. Bu Cip kemudian setia mendampingi Pak Cip saat Cipto kembali dibuang oleh pemerintah Belanda ke Banda Neira, bersama dengan tiga anak angkatnya,

Di Banda kemudian Pak Cip bertemu dengan  Iwa Kusuma Sumantri, Bung Hatta dan Syahrir oleh pemerintah Belanda. Dalam pengasingannya, Pak Cip sempat putus asa. Melintasi luasnya nusantara dan perjuangannya selama ini, akankah bangsanya akan bertahan?

“Generasi kita, Pap, ialah perintis jalan. Generasi kita sebagai landasan yang menerima pukulan untuk menempa generasi sesudah kita! Mereka generasi penerus. Mereka bertugas meneruskan perjuangan yang telah kita pelopori.”

“Generasi kita, Pap, adalah generasi landasan. Rumah yang akan dibangun, mengendaki landasan yang kokoh. Bertambah besar rumah yang akan di bangun, harus bertambah kokoh pula landasan yang diperlukan. Landasan itu kemudian ditimbun. Tiada orang yang melihatnya, walaupun semua orang tahu tentang adanya. Itulah peranan generasi kita, Pap! Kita akan hilang dari pandangan! Orang tidak akan ingat lagi pada segala korban dan jasa kita! Walaupun mereka tahu, kita pernah ada!”

Karena asmanya yang semakin parah, Pak Cip kemudian dipindahkan ke Makassar. Kepergiannya dilepas oleh ratusan rakyat Banda yang memenuhi pelabuhan. Cipto tidak membayangkan sebelumnya akan terasa begitu berat meninggalkan tanah pengasingan.

Hingga akhir hayatnya, Cipto bersikeras menolak bantuan dari pemerintah Belanda, Empat Serangkai, bahkan dari keluarganya walau mengalami kesulitan finansial. Pak Cip, Bu Cip, dan anak-anak angkatnya menempati rumah sangat sederhana di suatu gang kecil. Cipto menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Yang Seng Ie tanggal 8 Maret 1943. Walaupun telah tiada, semangat dan kegigihan Pak Cip akan terus dikenang dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Diving The Tip of Celebes

“How many of your friends have traveled to Bunaken?” I mumbled to my buddy when our boat docked to the pier.

“Two, as far as I know.” She replied.

“Mine’s two as well, or maybe three.” I counted myself.

In fact, flight to North Sulawesi was neither short nor cheap. It took us 3 hours and almost 2.5 million IDR for round trip ticket, even though it was not a high season to travel. Maybe that’s the reason why majority of our acquaintances prefer Thailand or any other country as their travel destination.

Bunaken
My suggestion: Take left side window seat (A). You can see the island even before you land in Sam Ratulangi Airport.

But we did not regret our decision. Bunaken was totally worth.

DSC_0104
Marvelous sunset

We stayed in Bastianos Dive Resort, willing to pay some more than to commute 45 minute each way from mainland to the national park. I would recommend you to stay there too, since they provide warm hospitality and more importantly, delicious food.

The underwater view of Bunaken was fantastic. Colorful corals, school of fish everywhere, and a lot of sea turtles. If you’re lucky, you will meet sharks, too. The best time to visit: late April to November.

After 2 days and 6 dives, we are going back to the mainland. This time we will walk, instead of swim, to meet some other creatures in Tangkoko Nature Reserve.

Tangkoko Batuangus Nature Reserve is a lowland rainforest, 2 hours drive from Manado. Here you can meet the ‘fusion’ of Asian and Australian Faunas: the tarsiers, the black macaque monkeys, maleo birds, cuscus and the hornbills who make this their habitat. Unfortunately, as the land diminished, some animals have become endangered or even extinct.

Wasn’t lucky enough to meet the big monkeys but still, worth the 8 km hike. Here are some Pals I met during my visit (too bad I did not bring a tele):

Again, we were the only local tourist visited. Our guide, Meldy, said that almost all of the visitor are foreigners. It was a shame, that even his relative from Manado, did not know that Tarsius lived on the same island as theirs. Well, some road are less traveled for some reasons, right?

If you are wondering, how I arranged this tour. I googled about Tangkoko, then found contact of a recommended guide in Lonely Planet forum. He already had a reservation on our wished date, however he referred his friend to us. On the date of our visit, Meldy and a driver picked us up on the port.

DSC_0012

We were back to the city at the end of the day.

It felt weird to be surrounded by a lot of people, after being secluded on the island and forest. We missed the solitude already.

On the final day, we explored the city and of course, the culinary~

First stop of our city tour was the North Sulawesi Museum. They provide nice information about the province’s history and culture as well as basic information about human evolution. It is currently the only museum in Manado.

Second stop, Nasi Kuning Seroja. It is located on a walking distance from the museum. They provide a fancy leaf-wrap if you order take away.

Then we head to the chinese area to visit Ban Hin Kiong temple. Actually there were a bunch of temple on the area,but Ban Hin Kiong is the largest temple. We still saw some Cap Gomeh decoration along the street.

Not far from the temple, there were Wakeke Culinary area where you can find a lot of kiosk selling Manadonese traditional food: Mie Cakalang, Tinutuan (Bubur Manado), etc. Despite of its relatively cheap price, they serve quite big portion.

On our way to visit Christ Blessing Monument, we stopped in Merciful Building to buy some souvenir. They provide a wide variety of this, including outside North Sulawesi.

DSC_0335
Christ’ Blessing Monument

Unfortunately it was raining when we arrived at the monument. The statue located in a real estate residential area. On top of a hill, facing the city. It is the third largest statue of Jesus Christ after the first in Brazil and the second in Poland.

Lastly, we stopped in Christin’s Klapertaart on the way to the airport . We forgot to take pictures because the tart was too good. Yumm 😀

Design a site like this with WordPress.com
Get started