Halo!
Saat ini saya sudah hampir satu bulan tinggal di Stockholm, Swedia, dan melanjutkan pendidikan S2. Beberapa teman yang bertanya tentang pilihan dan pengalaman saya disini, dan meminta saya untuk menuliskannya dalam blog. Jadi, beginilah ceritanya………..
S2 itu Spesialis?
Bukan, S2 itu pendidikan akademik, sementara Spesialis adalah pendidikan profesi. Lulus S2 gelarnya Master (Magister), bukan Spesialis.
Kenapa sekolah S2, bukan Spesialis?
Saya sudah berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang master sejak semester 7. Awalnya bahkan saya berpikir untuk tidak koas, langsung S2 (hehe). Karena saya menyadari bahwa kedokteran bukan tempat saya.
Saya menikmati praktik klinis dan hubungan dokter-pasien selama menjalaninya. Tetapi, ketika saya tidak sedang praktik dan melihat kehidupan dalam jangka panjang, kira-kira pilihan saya adalah sekolah spesialis (4 sampai 6 tahun paling singkat), atau S2 di bidang nonklinis.
Dan saya memilih yang kedua.
Setelah pertimbangan yang sangat panjang, pada akhirnya saya tetap melanjutkan koas dan internsip sebelum sekolah S2. Kalau kata dosen saya disini: Sometimes you have to stay in a situation you don’t like, to embrace the experience and build relationships.
Kenapa Swedia? Bukannya dingin ya disana?
Ini pertanyaan pendamping internsip saya ketika saya ceritakan niat saya. Teman-teman pun menanyakan hal yang sama. Yap, Swedia memang dingin, dan sinar matahari merupakan anugerah yang langka saat musim dingin nanti, karena terbit pukul 8 dan tenggelam 2.30, at the shortest.
Namun, saya ingin challenge diri saya untuk ke tempat yang betul-betul berbeda (dari khatulistiwa ke lingkaran arktik), dan negara yang bahasanya saya tidak tahu; life begins at the end of your comfort zone, and I want to teach myself to not take things for granted.
Plus, setelah saya sampai disini baru menyadari bahwa Stockholm adalah kota yang sangat-sangat cantik. Dengan kombinasi bangunan khas Eropa dan kepulauannya yang indah.
Bioentrepreneurship? Keren. Itu apa ya?
Hehe, ini juga respon kebanyakan orang ketika saya menyebutkan judul jurusan saya. Singkatnya, bioentrepreneurship adalah ilmu tentang kewirausahaan, dan manajemen bisnis di bidang industri kesehatan.
Kok bisa nemu jurusan itu?
Ini merupakan perjalanan dan riset panjang tentang jurusan apa yang ingin saya ambil. Nah, jurusan yang diambil pun berubah-berubah. Berikut ini kronologisnya:
- Global Health. Orang-orang terdekat saya tahu, saya tertarik pada Public Health dan Global Health. Nah, maka dari awal jurusan ini yang saya incar. Pada akhir 2016, setelah IELTS dan UKMPPD, saya pun mencoba apply ke The University of Edinburgh. Alhamdulillah dapat Letter of Acceptance. Namun, karena saya ingin mencari beasiswa, maka saya pun menunda dulu.
- Health Communication. Ketertarikan saya di bidang jurnalistik membuat saya tertarik pada bidang ini. Terlebih, saya dipercaya Ivan dan kawan-kawan untuk menjadi koordinator bidang Edukasi di Globular Health Initiative. Universitas yang memiliki Master di bidang ini antara lain University of Sydney, dan beberapa kampus Ivy League di Amerika Serikat. Saya berniat apply ke UoS, dan sambil apply beasiswa Australia Awards. Karena aplikasinya berbayar dan saya tidak lolos beasiswa tersebut, akhirnya saya mengurungkan niat untuk apply (hehe).
- Management in Health Industry. Setelah lulus, perspektif saya terhadap kehidupan (dan karir) mulai berubah. Sempat magang dan freelance sana-sini, sudut pandang saya lebih praktis dan realistis. Ditambah pengalaman saat internsip, membuat saya semakin sadar bahwa ketersediaan fasilitas dan teknologi menjadi salah satu tantangan di industri kesehatan. Maka, saya mulai mencari S2 di bidang industri kesehatan.
Program yang saya apply sejak akhir 2017 lalu antara lain Medical Technology in Business Management di The University of Warwick, Management of Bioeconomy, Innovation, and Governance di The University of Edinburgh (lagi), dan Master in Bioentrepreneurship di Karolinska Institute. Prioritas pertama saya adalah Karolinska Institute, karena kurikulumnya yang memberikan practical placement (alias magang) sebanyak 3 kali dan total durasi kira-kira satu tahun. Plus, KI adalah lembaga kesehatan yang memberikan penghargaan Nobel di bidang kesehatan dan faal.
Persyaratan di ketiga universitas tersebut antara lain IELTS, Ijazah dan Transkrip (dalam bahasa Inggris), surat rekomendasi (Warwick), dan Proof of Leadership, Working, and Research Experience (KI). Detailnya bisa dilihat di website masing-masing universitas.
Persiapan IELTS dan GRE
Yap, IELTS atau TOEFL adalah salah satu ketentuan wajib untuk sekolah diluar negeri. Umumnya skor yang dibutuhkan adalah overall score 6.0-7.0, dengan minimum skor beragam mulai 6.0 sampai 7.0 dalam masing-masing aspek.
Saya mempersiapkan IELTS sejak 2016, diantara koas dan UKMPPD. Rotasi koas saya selesai pada bulan Juli, sementara saya ikut UKMPPD bulan November, jadi saya punya 1-2 bulan spare time sebelum mulai intensif untuk UKMPPD.
Belajar darimana? Beli buku di salah satu e-commerce karena jauhh lebih murah dibandingkan dengan di toko buku :p
Selain itu saya coba latihan dengan online material seperti IELTS Liz etc. dan materi2 IELTS intensif yang dulu saya ikut (5 tahun sebelumnya).
GRE adalah Graduate Record Examination, suatu ujian terstandar untuk sebagian universitas Eropa dan di Amerika Serikat. Seperti IELTS, tetapi lebih analitikal plus hitung-hitungan. The Univerisity of Warwick, The University of Edinburgh, dan Karolinska Institute tidak memiliki persyaratan GRE. Namun, karena ada rencana untuk daftar ke universitas lain, awalnya saya pun berencana untuk tes GRE.
Saya belajar GRE dengan teman-teman SMA yang juga punya rencana S2. Juggling between internship life and studying GRE was tough, and I was desperate. Jadi ketika teman saya daftar tesnya, saya menunda. Rencana saya saat itu: jika saya tahun ini tidak diterima di KI, saya akan lebih serius belajar dan ikut tesnya.
Beasiswa?
Salah satu alasan mengapa saya ‘menunda’ studi sejak mulai apply tahun 2016 adalah karena saya berusaha mencari beasiswa. Beasiswa yang saya apply sepanjang 2017 antara lain:
- Australia Awards
- LPDP
- Chevening
- Swedish Institute
Pada akhirnya, saya pun berangkat dengan pendanaan pribadi.
And, that’s it 🙂