Tukang Parkir

 

parkir

Satu satu kendaraan pergi sempat hadirkan sedih dalam sepi yang tak sejenak.

Hanya beberapa jenak sebelum kesadaran itu sampai padaku:

Kau hanyalah seorang tukang parkir terpilih!”

Kau jaga deret kendaraan itu, menata mereka agar selalu pada baris yang benar, merawat mereka penuh kasih.

Bukan karena kau memiliki mereka, melainkan demi menjawab pertemuan tugas dan tanggung jawab.

Tukang parkir tak patut beri rasa pada deretan kendaraan itu;

bukan hanya karena ia tak bisa miliki semuanya.

Sebab ketika satu satu mereka pergi menemu pemiliknya, kabahagiaan tukang parkir barulah bermula;

Pada deret senyum, doa, dan terima kasih,

menggantikan sederet silau kendaraan titipan dengan satu—ya, satu saja—kendaraan untuk tukang parkir itu.

Tetap berjaga dalam baris, dan bersiap melepas demi bahagia lah, Tukang Parkir Langit!”

Penjaga Etalase

etalase

Ketika harus melepas yang bukan seharusnya dimiliki, meskipun berkata biasa saja, nyatanya masih ada rasa mengendap. Karena ini semua tidak mungkin berlalu tanpa uji, meski hanya mata atau telinga yang berjuang. Hati yang satu, cukup diam dalam doa.

Kalau memang bahagia menghimpun dan menata barang temuan, tak perlu girang ketika menemu pujian.
Pun saat tangan-tangan itu mulai meraih mereka satu per satu, menyimpan dengan baik dalam kotak pribadi mereka.
Bukan etalase sepertimu.

Sudah, sudah. Biasa saja lah. Kemas semua dalam satu koper besar. Simpan di lemari teratas.
Kelak, ketika hati yang satu itu hendak kau simpan rapi dalam kotak, turunkan koper itu dan berikan sentuhan rasa atasnya.

Kelak, bukan hari ini.

P.S: jangan main-main dengan barang temuan, Penjaga Etalase!

G a z a

Ampuni aku, Tuhan. Karena aku hanya bisa berdoa dalam diam, ketika kepala-kepala itu berjatuhan demi menyebut nama-Mu.

Aku tahu Tuhan, ini bukan semata perkara Langit. Tapi mereka yang ciptakan Asasi dan menempatkan kemanusiaan sebagai sainganmu, kan? Dan aku masih diam di hadap layar. Menatap nanar sementara jalan-jalan mewarna darah.

Sementara di sini aku tergetar dalam padatnya aliran merah dan bisingnya jalan paska pesta rakyat (katanya), manusia-manusia itu berjalan dalam merah yang darah. Dan aku masih diam dalam kaku yang angkuh.

Apakah nyaliku sekecil itu bahkan untuk sekadar tampakkan kepedulian pada sesama? Pun jika bukan karena ikatan atas-Mu, aliran ini akan terus ada atas rasa malu terhadap-Mu.

Pejuang langit mana yang terhenti di hadapan layar gadget ketika kabar kemanusiaan itu sampai padanya?

Bisa jadi, ketulusan mereka, kecintaan mereka, dan perjuangan mereka, lebih berarti bagi-Mu. Bergerak yang tidak hanya menanti janji atau berlindung dalam pembenaran dalil-dalil.

Tuhan, maafkan hamba. Yang masih diam dan merasa menang ketika lusinan manusia nyata menjemput undangan-Mu menuju rumah cinta langit di bulan penuh cinta-Mu ini. Faghfirlanaa..

tolong selamatkan agama-Mu dari prasangka manusia, Allah.

Ihdinassiratalmustaqiim.

Ihdinassiratalmustaqiim.

 

 

Happy Waiting!

chair1-320x200

Manusia mana yang suka menunggu?

Dalam menunggu ada ragu juga belenggu. Meskipun bukan tidak mungkin menunggu yang jadikanku kagum padamu.

Hari ini banyak sekali hal yang harus kutunggu. Tanpa kepastian, membuang waktu dan produktivitas.

Hanya manusia penuh ide yang bisa membunuh penantian, katamu.

Tapi ide besar macam apa yang kubutuhkan demi membunuh penantianku atasmu?

 

Menunggu Minggu.

Tamu

 istock_000011710477xsmall11

Belakangan ini kaummu membuatku takut. Di saat kita sedang terpisah jarak beribu mil seperti ini, mereka mendatangiku. Dalam berbagai bentuk dan cara, mereka mencoba mengeluarkan kartu namamu dalam kotak penyimpananku. Mereka memang mengaku sebagai tamu, tapi bagiku mereka tak lebih dari pencuri.

Kau mungkin tak tahu, bahkan berkesan tak peduli dalam jarak ini. Tapi aku bisa apa? Sebisa mungkin ku pertahankan kartu namamu dalam kotakku dengan sejuta alasan. Namun tamu-tamu itu terus berdatangan ke rumah kita.

Lalu katamu, “Tinggalkan rumah. Aku akan menjemputmu sore ini.”

Satu jam, dua jam, hingga sore berubah senja berubah malam.
Hei, aku menggigil kedinginan di luar rumah. Menunggumu menjemputku mengantar kotakmu.
Tapi kemana saja kau? Kau bahkan tak menjawab panggilanku. Akhirnya, aku kembali masuk ke dalam rumah. Kusimpan lagi kartu namamu dalam kotakku rapat-rapat.

Lantas kau datang. Kau tertawa mendengar ceritaku soal tamu-tamu itu.
Katamu, “Tamu-tamu penting kok ditolak.”
Kau bahkan mengejekku yang bersedih mendapati banyak tamu penting.
“Seharusnya kamu bersyukur bisa sepopuler itu. Hahahaha.”

Ya ampun, rasanya ingin mati saja mendengar tawamu.

Kau tahu bagaimana malu dan terhinanya aku mendapati tamu-tamu itu hadir di rumah kita? Bagaimana mereka bisa tahu kediaman kita? Bagaimana mereka tidak menghargai kebersamaan kita?

Aku menangis mendengar candaanmu, yang tak kusangka kau produksi demi mendengar tawaku setelah tugas meninggalkan kita dalam jarak.

“Udah deh, nggak usah cengeng. Yang penting sekali lagi kamu udah berhasil jadi keeper yang baik. Makasih yaa. Nih, buat kamu. Iyaa, kamuuu.”

Masih sambil tertawa, kau ulurkan satu boks es krim vanila choco chips favoritku. Tiba-tiba saja senyum dan tawamu hangatkan malam itu. Dan dengan boks es krim di tangan, aku siap mengembalikan mood yang hampir dicuri para tamu sialan itu.

Ah, kamu. Iyaa, kamuuu. Terima kasih sudah menjadi kapten super keren untukku :’)