
Belakangan ini kaummu membuatku takut. Di saat kita sedang terpisah jarak beribu mil seperti ini, mereka mendatangiku. Dalam berbagai bentuk dan cara, mereka mencoba mengeluarkan kartu namamu dalam kotak penyimpananku. Mereka memang mengaku sebagai tamu, tapi bagiku mereka tak lebih dari pencuri.
Kau mungkin tak tahu, bahkan berkesan tak peduli dalam jarak ini. Tapi aku bisa apa? Sebisa mungkin ku pertahankan kartu namamu dalam kotakku dengan sejuta alasan. Namun tamu-tamu itu terus berdatangan ke rumah kita.
Lalu katamu, “Tinggalkan rumah. Aku akan menjemputmu sore ini.”
Satu jam, dua jam, hingga sore berubah senja berubah malam.
Hei, aku menggigil kedinginan di luar rumah. Menunggumu menjemputku mengantar kotakmu.
Tapi kemana saja kau? Kau bahkan tak menjawab panggilanku. Akhirnya, aku kembali masuk ke dalam rumah. Kusimpan lagi kartu namamu dalam kotakku rapat-rapat.
Lantas kau datang. Kau tertawa mendengar ceritaku soal tamu-tamu itu.
Katamu, “Tamu-tamu penting kok ditolak.”
Kau bahkan mengejekku yang bersedih mendapati banyak tamu penting.
“Seharusnya kamu bersyukur bisa sepopuler itu. Hahahaha.”
Ya ampun, rasanya ingin mati saja mendengar tawamu.
Kau tahu bagaimana malu dan terhinanya aku mendapati tamu-tamu itu hadir di rumah kita? Bagaimana mereka bisa tahu kediaman kita? Bagaimana mereka tidak menghargai kebersamaan kita?
Aku menangis mendengar candaanmu, yang tak kusangka kau produksi demi mendengar tawaku setelah tugas meninggalkan kita dalam jarak.
“Udah deh, nggak usah cengeng. Yang penting sekali lagi kamu udah berhasil jadi keeper yang baik. Makasih yaa. Nih, buat kamu. Iyaa, kamuuu.”
Masih sambil tertawa, kau ulurkan satu boks es krim vanila choco chips favoritku. Tiba-tiba saja senyum dan tawamu hangatkan malam itu. Dan dengan boks es krim di tangan, aku siap mengembalikan mood yang hampir dicuri para tamu sialan itu.
Ah, kamu. Iyaa, kamuuu. Terima kasih sudah menjadi kapten super keren untukku :’)