MANUSIA DI BALIK KACA
SEBUAH CATATAN DI DEPAN LUKISAN Mas Tatang B.Sp di Galeri Labirin Nuanu City Tabanan
Di dalam lukisan ini, seorang lelaki berjas orange cerah menyala berdiri membelakangi kita, menghadap ke lanskap hijau yang tenang: pepohonan yang rapi, padang rumput hijau yang bersih, pegunungan yang jauh membiru, berlatar langit biru. Terlihat sangat harmonis. Tetapi jika kita cermati, harmoni itu segera terasa sebagai harmoni yang sengaja ditata rapi, bukan harmoni yang dialami. Di depan lelaki itu, terdapat sebuah jendela kaca yang terbagi menjadi tiga panel. Kaca jendela bersekat tiga itu menjadi sebuah batas; batas yang tipis namun tegas, membatasi tubuh manusia dari alam. Dalam lukisan ini, manusia tampil seakan-akan alam hadir hanya sebagai pemandangan. Tidak ada kontak yang mesra antara manusia dengan alam.
Mari kita lihat manusia kita ini dengan lebih dekat. Figur lelaki berjas orange itu tampak seperti konduktor. Ia memegang tongkat kendali di tangan kanan. Ia adalah sosok yang memimpin, mengatur, menentukan nyanyian sesuai dengan partitur yang digubahnya. Ia berdiri di tengah seperti pusat orbit: manusia sebagai puncak hierarki, sebagai kafilah penguasa dunia seisinya.
Ide ini menggema dalam warisan pandangan antroposentris yang amat kuat dalam tradisi Abrahamik: manusia sebagai gambar Tuhan, manusia sebagai pemegang mandat atas bumi, manusia sebagai makhluk yang “lebih tinggi” daripada pepohonan, hewan, burung-burung. Tidak mengherankan jika burung cenderawasih dalam lukisan itu seolah ikut berdansa mengikuti gerak tongkat sang konduktor, bukan terbang liar di alam yang ganas dan luas.
Di sini kritik itu terasa: keagungan manusia adalah hasil proyeksi manusia sendiri, bukan kehendak alam. Dan agama, kadang tanpa sengaja, menawarkan legitimasi metafisik yang memperkukuh ilusi tersebut.
Sekat Kaca: Alienasi yang Nyaris Sempurna
Tiga panel kaca menjadi metafor paling gamblang tentang pemisahan manusia dari alam. Kita melihat, tetapi tidak menyentuh. Kita mengagumi, tetapi tidak menyatu.
Alam berubah dari ruang hidup menjadi ruang visual. Dari hubungan menjadi koleksi. Dari percakapan menjadi ilustrasi. Dari pengalaman tubuh, menjadi tamasya digital.
Kaca juga dapat dibaca sebagai layar modernitas—smartphone, museum, media sosial—tempat alam hanya hadir sebagai latar, bukan relasi. Kita memotret hutan, tetapi lupa mendengar desah anginnya. Kita memajang burung, tetapi lupa gerak liar sayapnya.
Pembagian Ruang: Sekat-Sekat yang Kian Membatasi
Lukisan ini memantulkan kecenderungan manusia modern: segala sesuatu harus dikotakkan, dipetak-petakkan, diberi batas. Ruang spiritual dipisahkan dari ruang biologis. Ruang kota dipisahkan dari ruang hutan. Ruang privat dipisahkan dari ruang publik.
Tiga panel kaca itu pun bisa kita baca sebagai batas-batas yang diciptakan manusia: peta, sertifikat tanah, tembok-tembok vila. Batas yang membatasi manusia dengan makhluk lain. Jangan lupa, agama juga menciptakan tembok yang membatasi manusia dengan manusia lainnya.
Domestikasi: Mengatur Yang Liar
Burung-burung dalam lukisan tampak indah, tetapi keindahan itu berada dalam koreografi manusia. Ia tak lagi menjadi burung yang terbang karena dorongan naluri, tetapi burung yang tampil sebagai ornamen, bagian dari komposisi yang disusun konduktor.
Domestikasi bukan sekadar memelihara hewan; ia adalah proses ideologis: melucuti otonomi alam agar sesuai dengan keinginan manusia. Kicau burung digunakan untuk dilombakan. Untuk itu burung perlu dikurung dan diperlakukan dengan trik-trik tertentu.
Kita menanam pohon di halaman agar terlihat rapi, bukan agar hutan tumbuh. Kita memelihara hewan agar indah dipandang, bukan agar mereka hidup sebagai dirinya. Tetangga saya bahkan memakaikan baju dan helm kepada anjing kesayangannya.
Manusia, dalam lukisan ini, memegang tongkat bukan hanya sebagai pemimpin orkestra, tetapi sebagai penjaga stabilitas estetika yang ia ciptakan. Keindahan lebih penting daripada kebebasan, bahkan lebih urgen daripada kehidupan.
Spinoza: Deus Sive Natura
Dunia yang ditampilkan dalam lukisan ini serba tertata; jarak antara manusia dan alam semakin terasa artifisial. Melihat lukisan ini saya teringat kepada Spinoza. Spinoza memberikan pembacaan alternatif tentang Tuhan, alam, dan manusia. Tuhan bukan pribadi yang memberi mandat kekuasaan pada manusia, melainkan substansi tunggal tempat segala sesuatu saling terhubung—manusia, burung, gunung, cahaya, rumput, bahkan kecoak, adalah bagian dari alam semesta, bagian dari Tuhan.
Dengan kacamata Spinoza, lelaki berjas orange itu bukan pusat, melainkan bagian. Bukan pemimpin, melainkan titik kecil dalam jaringan sebab-akibat kosmik.
Ia berdiri menghadap alam, tetapi sebenarnya ia sedang menghadap dirinya sendiri: tubuhnya terbuat dari materi yang sama dengan tanah yang diinjaknya, udara yang dihirupnya, bahkan burung yang terbang di depannya.
Spinoza menawarkan pemulihan: dari manusia sebagai penguasa menjadi manusia yang setara, yang menyadari dirinya hanyalah salah satu modus dari substansi yang sama. Jika gagasan ini meresap, kaca itu akan retak dengan sendirinya. Dan kita menjadi luas, tidak terkurung dalam labirin bersekat-sekat yang kita ciptakan tanpa sengaja, dan yang pada akhirnya membingungkan diri kita sendiri.
Retakan yang Diharapkan
Bagi saya, lukisan Mas Tatang B.SP ini merupakan satir lembut tentang bagaimana kita melihat dunia: dari jauh, dari balik kaca, dari posisi pusat yang kita klaim sendiri.
Tetapi ia juga mengundang harapan—bahwa suatu hari tongkat itu diletakkan, panel kaca itu dilepas, dan manusia mundur selangkah untuk menyadari bahwa ia tidak sendirian, tidak lebih tinggi, tidak lebih suci.
Bahwa alam bukan panggung.
Bahwa burung bukan hiasan.
Bahwa manusia bukan konduktor kosmos.
Bahwa kita semua hanyalah satu not dari irama yang sama: irama semesta yang tidak menunggu pujian, tidak tunduk pada komando, dan tidak pernah berhenti bergerak.
Jika demikian, alih-alih membonsai beringin dan meletakkannya di meja kayu bertaplak putih suci, kita bisa semakin sadar bahwa manusia tidak terpisah dari alam, dari semesta, dari Tuhan. Kita tidak lagi berdiri di depan alam, tetapi berada di dalamnya. Dan itulah sebuah alternatif untuk sebuah jalan pulang.
Sulis Gingsul AS
Tabanan, 8 November 2025
Bersama Tatang Bsp dan Atrari Senudinari







