Manusia di Balik Kaca

MANUSIA DI BALIK KACA

SEBUAH CATATAN DI DEPAN LUKISAN Mas Tatang B.Sp di Galeri Labirin Nuanu City Tabanan

Di dalam lukisan ini, seorang lelaki berjas orange cerah menyala berdiri membelakangi kita, menghadap ke lanskap hijau yang tenang: pepohonan yang rapi, padang rumput hijau yang bersih, pegunungan yang jauh membiru, berlatar langit biru. Terlihat sangat harmonis. Tetapi jika kita cermati, harmoni itu segera terasa sebagai harmoni yang sengaja ditata rapi, bukan harmoni yang dialami. Di depan lelaki itu, terdapat sebuah jendela kaca yang terbagi menjadi tiga panel. Kaca jendela bersekat tiga itu menjadi sebuah batas; batas yang tipis namun tegas, membatasi tubuh manusia dari alam. Dalam lukisan ini, manusia tampil seakan-akan alam hadir hanya sebagai pemandangan. Tidak ada kontak yang mesra antara manusia dengan alam.

Mari kita lihat manusia kita ini dengan lebih dekat. Figur lelaki berjas orange itu tampak seperti konduktor. Ia memegang tongkat kendali di tangan kanan. Ia adalah sosok yang memimpin, mengatur, menentukan nyanyian sesuai dengan partitur yang digubahnya. Ia berdiri di tengah seperti pusat orbit: manusia sebagai puncak hierarki, sebagai kafilah penguasa dunia seisinya.

Ide ini menggema dalam warisan pandangan antroposentris yang amat kuat dalam tradisi Abrahamik: manusia sebagai gambar Tuhan, manusia sebagai pemegang mandat atas bumi, manusia sebagai makhluk yang “lebih tinggi” daripada pepohonan, hewan, burung-burung. Tidak mengherankan jika burung cenderawasih dalam lukisan itu seolah ikut berdansa mengikuti gerak tongkat sang konduktor, bukan terbang liar di alam yang ganas dan luas.

Di sini kritik itu terasa: keagungan manusia adalah hasil proyeksi manusia sendiri, bukan kehendak alam. Dan agama, kadang tanpa sengaja, menawarkan legitimasi metafisik yang memperkukuh ilusi tersebut.

Sekat Kaca: Alienasi yang Nyaris Sempurna

Tiga panel kaca menjadi metafor paling gamblang tentang pemisahan manusia dari alam. Kita melihat, tetapi tidak menyentuh. Kita mengagumi, tetapi tidak menyatu.

Alam berubah dari ruang hidup menjadi ruang visual. Dari hubungan menjadi koleksi. Dari percakapan menjadi ilustrasi. Dari pengalaman tubuh, menjadi tamasya digital.

Kaca juga dapat dibaca sebagai layar modernitas—smartphone, museum, media sosial—tempat alam hanya hadir sebagai latar, bukan relasi. Kita memotret hutan, tetapi lupa mendengar desah anginnya. Kita memajang burung, tetapi lupa gerak liar sayapnya.

Pembagian Ruang: Sekat-Sekat yang Kian Membatasi

Lukisan ini memantulkan kecenderungan manusia modern: segala sesuatu harus dikotakkan, dipetak-petakkan, diberi batas. Ruang spiritual dipisahkan dari ruang biologis. Ruang kota dipisahkan dari ruang hutan. Ruang privat dipisahkan dari ruang publik.

Tiga panel kaca itu pun bisa kita baca sebagai batas-batas yang diciptakan manusia: peta, sertifikat tanah, tembok-tembok vila. Batas yang membatasi manusia dengan makhluk lain. Jangan lupa, agama juga menciptakan tembok yang membatasi manusia dengan manusia lainnya.

Domestikasi: Mengatur Yang Liar

Burung-burung dalam lukisan tampak indah, tetapi keindahan itu berada dalam koreografi manusia. Ia tak lagi menjadi burung yang terbang karena dorongan naluri, tetapi burung yang tampil sebagai ornamen, bagian dari komposisi yang disusun konduktor.

Domestikasi bukan sekadar memelihara hewan; ia adalah proses ideologis: melucuti otonomi alam agar sesuai dengan keinginan manusia. Kicau burung digunakan untuk dilombakan. Untuk itu burung perlu dikurung dan diperlakukan dengan trik-trik tertentu.

Kita menanam pohon di halaman agar terlihat rapi, bukan agar hutan tumbuh. Kita memelihara hewan agar indah dipandang, bukan agar mereka hidup sebagai dirinya. Tetangga saya bahkan memakaikan baju dan helm kepada anjing kesayangannya.

Manusia, dalam lukisan ini, memegang tongkat bukan hanya sebagai pemimpin orkestra, tetapi sebagai penjaga stabilitas estetika yang ia ciptakan. Keindahan lebih penting daripada kebebasan, bahkan lebih urgen daripada kehidupan.

Spinoza: Deus Sive Natura

Dunia yang ditampilkan dalam lukisan ini serba tertata; jarak antara manusia dan alam semakin terasa artifisial. Melihat lukisan ini saya teringat kepada Spinoza. Spinoza memberikan pembacaan alternatif tentang Tuhan, alam, dan manusia. Tuhan bukan pribadi yang memberi mandat kekuasaan pada manusia, melainkan substansi tunggal tempat segala sesuatu saling terhubung—manusia, burung, gunung, cahaya, rumput, bahkan kecoak, adalah bagian dari alam semesta, bagian dari Tuhan.

Dengan kacamata Spinoza, lelaki berjas orange itu bukan pusat, melainkan bagian. Bukan pemimpin, melainkan titik kecil dalam jaringan sebab-akibat kosmik.

Ia berdiri menghadap alam, tetapi sebenarnya ia sedang menghadap dirinya sendiri: tubuhnya terbuat dari materi yang sama dengan tanah yang diinjaknya, udara yang dihirupnya, bahkan burung yang terbang di depannya.

Spinoza menawarkan pemulihan: dari manusia sebagai penguasa menjadi manusia yang setara, yang menyadari dirinya hanyalah salah satu modus dari substansi yang sama. Jika gagasan ini meresap, kaca itu akan retak dengan sendirinya. Dan kita menjadi luas, tidak terkurung dalam labirin bersekat-sekat yang kita ciptakan tanpa sengaja, dan yang pada akhirnya membingungkan diri kita sendiri.

Retakan yang Diharapkan

Bagi saya, lukisan Mas Tatang B.SP ini merupakan satir lembut tentang bagaimana kita melihat dunia: dari jauh, dari balik kaca, dari posisi pusat yang kita klaim sendiri.

Tetapi ia juga mengundang harapan—bahwa suatu hari tongkat itu diletakkan, panel kaca itu dilepas, dan manusia mundur selangkah untuk menyadari bahwa ia tidak sendirian, tidak lebih tinggi, tidak lebih suci.

Bahwa alam bukan panggung.
Bahwa burung bukan hiasan.
Bahwa manusia bukan konduktor kosmos.

Bahwa kita semua hanyalah satu not dari irama yang sama: irama semesta yang tidak menunggu pujian, tidak tunduk pada komando, dan tidak pernah berhenti bergerak.

Jika demikian, alih-alih membonsai beringin dan meletakkannya di meja kayu bertaplak putih suci, kita bisa semakin sadar bahwa manusia tidak terpisah dari alam, dari semesta, dari Tuhan. Kita tidak lagi berdiri di depan alam, tetapi berada di dalamnya. Dan itulah sebuah alternatif untuk sebuah jalan pulang.

Sulis Gingsul AS
Tabanan, 8 November 2025
Bersama Tatang Bsp dan Atrari Senudinari

PERJAMUAN

PERJAMUAN

Kasilan menyanggupi mendesain bordir Sulawesi
untuk jubah pastor, dengan dua syarat:
Pertama, jangan buru-buru.
“Santai,” jawab beliau.
Kedua, jawab satu pertanyaan
harus dengan jujur.
“Siap,” tulis beliau.

Kasilan pun bertanya,
“Apakah makanan
yang benar-benar benar
untuk para ikan bermulut ciut?”
Beliau menjawab,
“KFC disuwir-suwir.”
“Demi Zeus?” desak Kasilan,
dan beliau pun mengirimkan
emotikon tertawa guling-guling.

Kasilan menjawab, “Baik.”
Lalu bergegas ke pasar, belanja
kebenaran
yang menjelma pelet ukuran terkecil.

Sore menciptakan beranda lengang,
pas di tengah bangunan kesendirianmu.
Di akuarium mini itu,
gelembung udara naik dan pecah silih berganti.

Dan itu bagus.

Ini perjamuan kecil.
Semua berebut
kebenaran yang mengambang.

KOPER ATRARI

Puluhan lembar pakaian dilipat satu per satu, dimasukkan ke dalam koper berwarna biru. Lagu-lagu melow melantun pelan dari speaker hitam yang berdebu,
seperti mengiringi perpisahan yang tak pernah benar-benar selesai.

Lalu sebuah pesan masuk.

“Pagi, Kaka. Mungkin Kaka punya waktu untuk jadi MC di nikahan kami tanggal 18 Juli.”

Pesan itu bikin hati nelangsa. Saya harus menolaknya. Bukan karena tak punya waktu,tapi karena saya sudah tidak di Ruteng lagi.

Beberapa minggu terakhir, tawaran datang bertubi-tubi— undangan jadi MC dan moderator, kerjasama dengan sebuah WO ternama, dan pelatihan untuk remaja.
Kesempatan yang dulunya saya kejar, kini justru datang ketika saya memilih berhenti.
Dan saya harus menolaknya satu per satu.

Mestinya sudah lebih pandai menjelaskan. Mestinya lebih luwes menjawab.Mestinya sudah terbiasa. Tapi tetap saja, hati ini nelangsa.

Ada perasaan ganjil yang sulit dijelaskan:
perasaan seperti meninggalkan sesuatu
justru saat hampir sampai di puncak.
Saat semua  mulai berbuah, saat pengakuan mulai datang, saat saya merasa—“Ah, mungkin ini titiknya.” Tapi saya memilih turun, karena ada hal lain yang tak kalah penting dan mungkin lebih bermakna menunggu di rumah.

Ingatan kembali ke beberapa tahun lalu,
saat saya menangis tersedu-sedu keluar dari kantor setelah menyerahkan surat pengunduran diri dari profesi yang saya peluk erat bertahun-tahun: jurnalis. Pekerjaan yang saya cintai sepenuh hati,
meski tiap hari penuh tekanan, adrenalin, dan gejolak.

Pun saat ini. Tiga tahun terakhir, saya mencoba membangun sesuatu yang baru dari rumah. Tertatih-tatih. Belajar lagi dari nol. Pelan, tapi terus berjalan.

Dan dalam proses itu, saya menemukan sisi diri yang baru. Selama ini saya pikir saya orang yang egois— keras kepala, penuh ambisi, dan selalu mementingkan keinginan sendiri.
Tapi ternyata tidak juga. Ternyata saya bisa melepaskan.Ternyata saya bisa menunda keinginan diri demi orang-orang yang saya cintai.

Hari ini, saya ingin bilang:
Terima kasih untuk diriku sendiri.
Terima kasih sudah berani berhenti.
Sudah belajar perlahan-lahan untuk tidak terikat pada kesenangan.
Sudah belajar bahwa tidak semua hal yang kita cintai harus kita kejar sampai akhir.
Beberapa cukup dikenang, lalu dilepas dengan tenang.

Dan suatu hari nanti, saya hanya ingin Tosodimar tahu, bahwa pengorbanan seorang ibu bukan hanya soal bertaruh nyawa saat melahirkan.
Tapi juga soal memilih pulang saat dunia memanggil. Soal menolak tawaran-tawaran besar dengan lembut, karena sedang ingin bersamanya di rumah dalam kehangatan keluarga yang utuh.

Saya percaya,  cinta bukan soal seberapa tinggi kita bisa terbang, tapi seberapa sering kita mau kembali turun dan hadir sepenuhnya sebagai ibu.

SLILIT DI TENGAH PIRING

SLILIT DI TENGAH PIRING MELELEH

Kasilan memandang piring itu
lama sekali
seperti memandang nasib sendiri.

Di atas balok hitam
piring putih itu meleleh
kental lelehannya
seperti es krim

Tusuk gigi emas berbaring di tengahnya
sebercak darah segar pada ujung runcingnya
entah darah siapa.

“Upacara apa lagi ini?”
Tanya Kasilan pada dirinya sendiri.

Angin lewat, membawa harum dupa
dan dengung malas sebuah lagu pop
Kasilan menekuk kakinya
jongkok, menatap lebih dekat:
air mata piring itu
terlalu kental untuk jatuh
menggantung di sisi balok hitam.

Di kejauhan
penjor-penjor Galungan
meliuk lunglai digoyang angin
Rasanya kok makin kurus saja
seperti lansia terhisap habis usia

“Ini piring… atau pulau… atau
inikah aku?” gumam Kasilan.

Mendengar itu, Ketut tertawa
Tawa itu hanya bisa dipahami
oleh mereka yang pernah
benar-benar kehilangan diri
dan pura-pura tidak mengerti.

Kasilan meliukkan lidahnya
mencari Slilit sisa nasi tadi siang
yang nyangkut dan menolak dibuang
Mengganggu sekali
seperti harapan-harapan kecil
dibiarkan membusuk di sudut hati.

Di atas langit Bali,
matahari terasa menjauh
seolah tak melirik Dewi Sri

Kasilan berdiri
mengangkat piring meleleh itu
menyerahkannya kepada Ketut

“Kasilan,” kata Ketut,
“jangan terlalu dipikirkan. Ingat,
tugas kita cuma mengelap!”

“Haha…Dan itu bagus!’

Kasilan meletakkan piring cair itu
di tumpukan tersendiri, dengan hati.

Ketut menggoda:
“Eh, bukankah di puisi lain
kamu yang menulis begini:
“Datanglah kepadaku,
kamu yang berbeban berat…?'”

Kasilan menyentil tusuk gigi emas
Jarinya berdarah. “Ya, datanglah…
Asal bayar kontan!”

Ketut pulang lebih awal izin upacara
Dan Slilit di gigi Kasilan belum lepas juga


Lumbung Padi Tabanan, 2025
Ditulis pada hari raya galungan
Berlatar penjor-penjor kian kurus

Sulis Gingsul AS

Catatan:
Instalasi Slilit ini karya I Ketut Putrayasa
Dipamerkan di Neka Art Museum
Bersama kelompok Galang Kangin
bertajuk Metastomata.

SEBUAH CARA UNTUK MATI

Sebuah Cara untuk Mati

Kasilan gelisah, mondar-mandir
di antara motor-motor, mendengar:

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya,
jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati,
ia tetap satu biji saja;
tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”
—Yohanes 12:24

Kasilan haus, beli es teh
Membayangkan Yesus berkata:

“Sesungguhnya, jika penyair
tak membaca dan mati,
ia tinggal seorang penyair uzur
Tetapi jika ia mati,
dan tumbuh sebagai pohon baru,
ia akan menghasilkan buah-buah baru.”

Ia bosan mendengar kotbah
ingin segera rebahan
menaruh kitab sucinya
di atas tumpukan daun palem layu

Menulis di halaman kosongnya:
“Silahkan ambil, gratis.
Kalau punya buku lain
apa aja, DM 082147033xxx
Resep masak boleh
Enny Arrow oke juga”

Terdengar kor Haleluia
gubahan George Frideric Handel
(yang hidup 400-an tahun yg lalu)
Semangat meriah tidak berubah

“Selamat Paskah”

“Yeah!”


Parkiran Gereja Santa Maria
Tabanan

CENUT-CENUT LAGI

CENUT-CENUT LAGI

Menurut Kasilan
puisi adalah gigi berlubang
terus berdenyut di mulut bahasa

“YEAH!”
akhirnya aku bisa merasakan
sakit gigi. Dan itu bagus!

Kasilan mengerang
memegang pipi bengkak
ia meringis: “PENCERAHAN!”
Ternyata aku punya gigi

Pada hidup selucu ini
kekalahan cuma ilusi
dalam cenut senyata ini
hidup tak menunda apa.

Dokter gigi dan puisi
bermula dari satu fenomena:
cenut-cenut yang mendalam

Gigi cuma gigi
puisi cuma puisi
dan seberantakan apa pun barisan gigi
seompong apa pun sebuah bait
sangat berguna bagi pemiliknya

Diam adalah
gigi emas
berguna
dan mahal
dan em…agak lain

Memperbaiki hubungan retak
sama seperti menambal gigi
hilang rasa sakitnya tetapi
selalu ada yang “ngganjel”
kayak sajak nyangkut
di sela-sela gigi atas
sulit diungkit lepas

Jika temanmu sering dapat karunia
sakit gigi yang hebat, jangan kau iri
bersabarlah, tunggu giliranmu
dan jika ia mengejekmu
sewaktu kamu sakit gigi
balaslah dengan mendoakannya:
semoga kepadanya dikaruniakan
cenut-cenut yang mencerahkan
sehingga ia segera bersyukur:

“YEAH!”
Akhirnya aku bisa
ngerasain sakit gigi juga
Ternyata
Sakit gigi adalah sakit kepala
yang berpindah ke gigi
terus balik ke kepala
terus balik lagi ke gigi
begitu seterusnya

Jika kamu tak bisa
menghibur orang sakit hati
mana mungkin mampu
menghibur orang sakit gigi
yang sedang sakit hati

Diam, Mas!
diam adalah
gigi emas
berguna untuk ngunyah
dan mahal

Dokter:
“Gigi Anda berantakan sekali!”
Saya:
“Puisi saya lebih berantakan, Dok!”

Rawatlah gigimu melebihi hatimu
gigi patah tidak bisa tumbuh lagi
hati patah bersemi patah bersemi
auto bersemi

“Sttt!”
jangan keraskan optimisme Anda
gigi Tuhan sedang berbaris
di gusi saya yang cenut-cenut

Rindu dan sakit gigi serta
puisi, kukira sama semata:
cenut-cenut personal
hakiki

Ah, Anda mengada

Luka geraham melahirkan makna
mungkin sakit menjelma cinta
atau sekadar menjadi aksara
yang terselip di sela tawa


Dentis sebelah Kampus Sastra
Denpasar

NAJIS

NAJIS

Ia duduk di pinggir jalan
tak berdoa
tak paham pasal
tak punya status
tak ikut pemilu
tak mencuri
tak menghakimi

Ia menjilati tanganku
yang dulu melemparnya batu
seperti lupa
bahwa manusia bisa kejam
tanpa alasan

Ia tidur di bawah kolong
tak tahu membedakan celana
yang cocok untuk tidur, renang
bekerja, atau berperang

Ia kawin di musimnya
untuk reproduksi
Tidak seperti budaya kita
“having fun” untuk rekreasi
Belum pernah kudengar
kabar pelecehan seksual
di antara mereka

Tanpa restu tanpa resepsi
Bunting begitu saja
lalu menyusui anak-anaknya
yang langsung najis sejak lahir

Ia tak paham HAM
tak bicara kesetaraan
tak pernah menyiksa
siapa pun yang beda
warna bulu atau aroma kencing
Yang lemah menyingkir. Sederhana.

Ia duduk di pinggir gang
menunggu aku pulang
begitu mendengar motorku
melonjak kegirangan
menyambutku bak pahlawan
padahal aku cuma keluar sebentar
beli terasi

Ia mengencingi motorku
Aku membentaknya
Kakinya gemetar
seperti tak kuat
menahan tubuhnya
Ia diam di depan pintu
tak pernah minta maaf
tak paham
apa pentingnya kesucian

Di depan kaca
aku menggendongnya
Matanya bening
sumur yang tak pernah kering
Aku mengamati moncong kami
Ketika menatap moncongku sendiri
sesuatu seperti mengganjal di leherku
tapi bukan doa

BUKU PUISI SETIPIS DOMPET

Menari di Atas Lubang Bumi:
Tafsir Luka dan Cahaya dari Dua Pekerja yang Terpisah

👹

Di sebuah titik tak bernama, seorang pekerja menulis puisi dari ruang bawah tanah proyek.


Elitz Pertama

Kuasku menari di atas lubang bumi
crane dan bekisting mencari nyala
dalam gelap sesaat, dan serigala menantiku

di basement kedua, dengan mulut menganga
lapar daging muda, kuasku bersama seribu

kuli yang berbaris sepanjang titian besi
di puncak tower lima puluh lantai
kucipta kata tak terbaca
anagram hitam sepanjang dinding kaca

yang membatasi kami dengan borjuasi
dan hantu di koridor anti cahaya

menjlati peluh keruh yang menetes dari
tulang lengkung matahari uzur.

Kim Al Ghozali AM


Di titik lain yang jauh, seorang pekerja lain menggurat garis-garis tajam di atas kertas, membentuk tubuh yang mendorong bola duri ke tengah cahaya. Mereka tak saling mencari, tapi suara mereka saling menemukan, dalam satu gelombang yang lahir dari tubuh yang sama-sama letih dan jiwa yang sama-sama belum selesai menanggung beban.

Saya, Sulis Gingsul AS, pernah belajar menulis puisi bersama Kim Al Ghozali. Kami berguru kepada Frans Nadjira, bersama tiga sahabat lainnya. Saya sangat senang setiap kali ada kegiatan di rumah Frans Nadjira. Istri beliau, Unda, sangat ramah dan tak jarang menyediakan makanan 😂. Kami membaca puisi kami masing-masing dan membicarakannya. Hehe, jeda sejenak. Sekarang kita kembali kepada tulisan yang “mendera”

Waktu tidak memberi kami kesempatan untuk tumbuh bersama di tempat yang kami sukai selamanya. Jika waktu memberi itu, pasti saya tolak. Kim itu membosankan buat saya. Haha. Puji Alam Semesta, suatu hari, tubuh kami direnggut oleh tangan yang besar dan kasar. Kim dilempar ke barat selat, dan saya tercampak ke timur selat. Sejak itu, hanya puisi dan lukisan yang masih menyambungkan kami, dengan seutas kawat panjang yang dicolokkan diam-diam ke dalam perut malam.

Lukisan dan puisi ini tidak dimaksudkan untuk sebuah kolaborasi. Tidak ada perjanjian di antara kami. Kami tidak pernah berjanji. Kami tidak percaya kepada janji. Kami percaya kepada tubuh. Tubuh yang lelah, tubuh yang tidak sempat bersandiwara, tubuh yang tak tahan menahan muatan dunia dan akhirnya tumpah dalam bentuk yang paling sederhana: kata dan goresan.

Kim membuka puisinya dengan baris: “Kuasku menari di atas lubang bumi.” Sebuah kalimat yang tampak ringan, bahkan indah, tapi segera bergulir menjadi pengakuan yang kelam dan perih: “crane dan bekisting mencari nyala dalam gelap sesaat, dan serigala menantiku.” Di sini, kuas bukan lagi lambang kebebasan, melainkan instrumen rapuh yang menari di atas kehancuran. Bayangkan begini. Keadaan normal kuas adalah kering dan bersih. Seperti Anda sehabis mandi dan ngopi. Lalu kuas itu diangkat, dicelupkan ke dalam cairan kental dan lengket, lalu digosok-gosokkan ke tembok atau plafon gypsum dengan arah bolak balik monoton sampai akhir hayatnya, sebelum rusak berat sehingga dibuang. Bayangkan tubuhmu adalah kuas itu. Ngeri.
Dunia konstruksi yang digambarkan Kim adalah ruang yang rakus, sebuah dunia teknis yang dingin dan menindas, tempat pekerja hanya bayang-bayang yang diabaikan.

Secara artistik, puisinya menggabungkan diksi teknis dari dunia konstruksi: crane, tower, bekisting, basement—dengan imajinasi gotik dan surealis: serigala, anagram hitam, hantu, matahari uzur. Kontras ini menciptakan tegangan antara yang material dan spiritual, antara tubuh nyata dan dunia gaib yang ditarik oleh derita. Bentuk puisinya mengalir tanpa tanda baca, seolah tak sempat berhenti, seolah napasnya tersengal-sengal tapi tetap dipaksa bekerja. Dilarang berhenti. Soalnya sudah ditungguin sama serigala.

Lukisan saya ini, sketsa tepatnya, karena hanya saya sket di buku sketsa. Gelap, keras, penuh guratan yang tajam. Seorang manusia berjongkok, menunduk, mendorong bola Berar dan masif, yang dibuat dari paku, dari serpihan logam, dari segala beban dunia yang tidak bisa dilipat. Latar biru gelap, hampir hitam, menindih bidang gambar, tapi di satu titik saya beri cahaya kuning. Ini bukan cahaya dari langit, tapi dari gesekan logam-logam yang bergerak tiada henti di ruang kerja. “Bekerja dengan cinta bagai sang pencipta” tidak ada di sini.
Saya menggambar dengan tangan yang sudah kaku. Tidak ada garis lembut dalam lukisan itu. Semua luka. Semua tajam. Saya tidak sedang menggambar kerja. Saya sedang menunjukkan bagaimana dunia menghancurkan tubuh, dan bagaimana tubuh mencoba bertahan hanya dengan satu alat: kuas. Cahaya dalam lukisan saya bukan hadiah. Ia muncul karena pergesekan. Karena tubuh terus mendorong walau tahu tak akan sampai.

Yang menarik, baik saya maupun Kim berbicara dengan kuas. Kuas sebagai lambang—bukan keindahan, tapi ketegangan. Kuas yang menari di atas lubang, kuas yang menciptakan luka di atas bidang. Kuas yang tidak menuliskan harapan, tapi mencatat perlawanan.

Kami bicara soal kerja. Tapi bukan kerja sebagai kebanggaan sosial atau janji masa depan. Ini kerja yang mereduksi tubuh menjadi alat. Wajah tidak penting. Yang penting adalah postur dan tekanan. Dalam puisi Kim, kata-kata menjadi “kata tak terbaca”. Bahasa ikut hancur bersama tulang. Dalam lukisan saya, warna menjadi berat, garis menjadi kasar—karena dunia tidak lagi bisa digambarkan dengan lembut.

Namun meski begitu, kami tetap menyisakan nyala. Kim menyebut “nyala dalam gelap sesaat”, dan saya menyelipkan cahaya kuning dari balik dinding. Ini bukan harapan yang utuh. Tapi mungkin cukup. Secercah nyala yang lahir bukan dari luar, melainkan dari tubuh itu sendiri. Tubuh yang masih mencipta, meski nyaris hancur. Tubuh yang percaya kepada luka, karena hanya luka yang benar-benar nyata.

Tulisan ini bukan pembacaan atas puisi dan lukisan. Ini adalah surat tubuh. Surat dari dua tempat yang jauh, yang pernah berbagi meja, lalu dipisahkan oleh dunia. Kami tidak saling berjanji. Kami bahkan tidak saling bertanya. Tapi kami percaya, bahwa tubuh bisa saling menjawab, lewat kuas, lewat kata, lewat guratan.

Dan mungkin, dari situ pula, kita mulai bisa membayangkan dunia yang lebih manusiawi, tempat di mana kuas tak lagi menari di atas lubang bumi, tapi di atas tanah yang memberi napas. Tempat di mana tubuh tak lagi jadi alat, tapi jadi awal dari segala bentuk cahaya.

Saya sudah membaca kumpulan buku ini hingga selesai. Di dalam buku ini ada 10 kata “darah” dan 11 kata “hantu”. Saya bahas puisi pertamanya saja, sekedar untuk bersenang-senang di sedikit senggang. Selamat ya, Kim Al Ghozali AM, buku kamu ini setipis dompet, deh. Tapi keren sih menurutku.

🔥

Semoga senang.

DESAIN TATO KERIS

DESAIN TATO KERIS
Sulis Gingsul AS

Keris, dulu menusuk
Kini sekadar gambar di kulit
non permanen

Dulu darah segar
kini tinta hitam sekedar
merekam warisan amarah
yang tak kunjung sembuh

Leluhur menempa besi
dengan bara dan mantra
dentang palu bergema
menjadi “klik”
para klien Instagram

Kita tawarkan narasi
“ini tradisi. ini cinta
yang tak lurus
inilah, wahai Dedesku
bilah kekerasan berpamor halus”
Mari kita rebut hak kita
untuk menyakiti dengan indah
tanpa beban rasa salah

Kekerasan diam
di bawah kulit ari
sebagai tato cantik
Siapa melukai tanpa menusuk
mewarisi darah penguasa licik

Tapi kekuatanmu, jelata
bukanlah menoreh luka
membiarkan luka membusuk
melata sendirian diinjak gerombolan

Kita rayakan dari kamar
kekerasan yang estetik ini
Tinggal tambah filter
Upload
Tunggu

Jempol asing
berhenti sedetik
di bangku lapuk sejarah
yang “hoyag-hayig”

Android,
Histori foto 3 tahun lalu

Cara Mencintai

Cara Mencintai

puisi Atrari Senudinari SG

Aku mencintaimu dengan cara ini;
Mendoakanmu sebelum tidur agar kau berumur panjang. Mendoakan agar tubuhmu kuat dan sehat, jiwamu merdeka. Kelak kita menua dan tahu bahwa cinta telah mencukupi hidup kita.

Aku mencintaimu dengan cara ini;
Menyampaikan perasaanku dengan terbuka tanpa takut kau terluka. Memuntahkan semua kalimat dalam pikiran dan menjadikanmu teman yang paling bisa menerima ceritaku. Kelak, hanya kau satu-satunya manusia di bumi ini yang rela mendengar ceritaku meski berulang-ulang kau dengar.

Aku mencintaimu dengan cara ini;
Mengkhawatirkanmu saat kau sakit lalu aku diam-diam menangis memeluk takutku sendiri. Kelak, kau satu-satunya yang kuandalkan dalam hidup. Kau yang menyajikan sukacita setiap hari dan aku ingin menyantapnya seumur hidup.

Aku mencintaimu dengan cara ini;
Mencintaimu dengan caraku sendiri.