Tepat 20 tahun lalu, di tahun 2005, lahirlah sebuah album tribut yang bukan cuma jadi penghormatan, tapi juga jadi penanda cinta lintas generasi: From Us to U. Album ini adalah proyek kolaboratif dari musisi-musisi besar tanah air, yang bersatu untuk merayakan sosok Titiek Puspa, penyanyi, pencipta lagu, dan ikon musik Indonesia yang baru saja berpulang.
Album ini adalah salah satu album Indonesia favorit saya sepanjang masa. Alasannya sederhana: From Us to U bukan sekadar album cover, tapi album cinta. Cinta kepada karya, kepada warisan budaya, dan tentu saja kepada seorang perempuan yang pernah menyuarakan isi hati bangsa lewat lagu-lagunya.
Dari Peterpan ke Chrisye, Dari Rock ke Balada: Tribut dengan Spektrum Penuh Warna
Album ini berisi 10 lagu yang dulunya dinyanyikan atau diciptakan oleh Titiek Puspa. Lagu-lagu tersebut kemudian dihidupkan kembali oleh sederet musisi lintas genre—dari pop, rock, jazz, sampai komedi musikal. Dan uniknya, tidak ada satupun yang terasa dipaksakan atau setengah hati.
Mari kita mulai dari favorit pribadi saya:
“Cinta” – Rossa
Balada tentang cinta segitiga ini terasa seperti menerima surat pengakuan dari orang yang paling kamu percaya. Liriknya mengiris, melodinya menyayat, dan suara Rossa seperti meneteskan air mata ke dalam telinga pendengarnya. Kalau ada versi lagu yang bisa disebut “menusuk dengan sopan”, ini dia.
“Bimbi” – Ungu
Aslinya lagu centil dengan gaya khas 60-an, tapi oleh Ungu diubah menjadi rock ballad dramatis. Dan anehnya, berhasil. Lagu ini seperti melihat karakter kartun ceria tiba-tiba bermain dalam film drama psikologis, mengejutkan, tapi tetap memikat.
“Kupu Kupu Malam” – Peterpan
Lagu ini selalu memilukan, tak peduli siapa yang membawakannya. Tapi dengan karakter suara Ariel, ditambah aransemen khas Peterpan, lagu ini terasa seperti monolog batin seorang perempuan yang dunia sudah terlalu kejam padanya, tapi ia tetap berjalan dengan kepala tegak. Tak heran, versi ini sampai direkam ulang oleh NOAH beberapa tahun kemudian.
“Jatuh Cinta” – Project Pop
Ceria, ringan, tapi tetap “kena”. Project Pop tahu betul cara membawakan lagu ini tanpa kehilangan nuansa aslinya. Mereka tidak sekadar cover, mereka bermain peran di dalamnya. Dengarkan sambil tersenyum, silakan.
“Marilah Kemari”: Lagu Puncak dari Semua Puncak
Dan tentu saja, lagu penutup Marilah Kemari yang dibawakan oleh semua artis di album ini adalah semacam konfeti musikal. Lagu ini begitu penuh warna dan energi positif, sehingga tak heran jika ia menjadi lagu favorit saya dari semua lagu favorit di album ini. Bahkan almarhum Chrisye dan Iwan Fals ambil bagian dalam lagu ini, membuatnya bagaikan mini konser lintas zaman. Klip video-nya pun ceria, enerjik, dan mood-boosting maksimal, benar-benar pesta untuk merayakan warisan Titiek Puspa.
Lebih dari Sekadar Tribut
From Us to U adalah contoh bagaimana sebuah karya penghormatan bisa terasa hidup, bernyawa, dan punya karakter sendiri. Ini bukan proyek amal musik, bukan pula sekadar nostalgia. Ini adalah bukti bahwa lagu-lagu besar bisa menyeberangi waktu dan tetap relevan.
Dan sekarang, dua dekade setelah album ini dirilis dan beberapa waktu setelah kepergian Ibu Titiek Puspa, kita tahu satu hal:
warisan sejati bukan hanya dikenang, ia akan terus dinyanyikan.
Saya merasa sangat bersyukur bisa menyaksikan langsung beliau di panggung Synchronize Festival 2024, airmata haru pun tak sadar menetes melihat penampilan artis legendaris tiga jaman ini.
Dan pada Java Jazz 2025 pun ada sebuah sesi tribut untuk beliau yang dibawakan dengan sangat apik oleh Krisdayanti, Bilal Indrajaya, Danilla, dan Adikara.
Selamat jalan, Eyang Titiek. Terima kasih sudah mengajari kami bahwa lagu bisa jadi pelukan, bisa jadi pelipur, dan bisa jadi warisan paling indah dari seorang seniman kepada bangsanya.
From us, to you.