RSS

Gembrit Awards 2025

Tradisi akhir tahun di Twitterland Indonesia is back! Diadakan mepet akhir tahun (di weekend terakhir tahun ini!) karena sang founder disibukkan dengan urusan duniawi banyak hal di dunia nyata, tapi alhamdulillh tahun ini masih bisa terlaksana. Terima kasaih tak terhingga untuk semua yang sudah menunggu-nunggu acara ini, juga teman-teman juara Gembrit Awards tahun-tahun lalu yang rela meluangkan waktunyaa untuk membacakan nominasi di tiap kategori Gembrit Awards 2025.

Untuk penyelenggaraan ke-16 kalinya di tahun ini, jumlah kategori yang tampil di #GembritAwards2025 adalah 6 kategori, yaitu

AKUN RANDOM yang dibacakan oleh @acipanser, juara Gembrit Awards 2023 kategori Random Female

@aipsnbrp
@andikamalreza
@Torriosh

AKUN TERMODERASI yang dibacakan oleh @qrivasi, juara Gembrit Awards 2024 kategori Akun Termoderasi

@berburusales
@direktoridosen
@IndoPopBase

AKUN TIGA DIGIT yang dibacakan oleh @quirkymeow, juara Gembrit Awards 2023 kategori Akun Tiga Digit

@chitnoey
@rdwnfrmnsyh
@reventhereader

BIDADARI TIMELINE yang dibacakan oleh @klntot, Bidadari Timeline Gembrit Awards 2024

@ceciliatoumahuw
@heyshavvv
@vitasuuu

FILM 2025 merupakan kategori baru yang belum pernah ada di Gembrit Awards sebelumnya

LAGU 2025 merupakan kategori baru yang belum pernah ada di Gembrit Awards sebelumnya

Cara vote bebas yang penting ada hashtag #GembritAwards2025 + Nama Kategori + Akun Jagoanmu + mention @gembrit

Ditunggu sampai Sabtu, 27 Desember 2025 pukul 12.00 WIB,

 
Leave a comment

Posted by on 12/25/2025 in Uncategorized

 

Tukar Takdir: Tragedi Bertabur Bintang

Sebagai penikmat sekaligus pemilik karya-karya Vabyo (yang akrab dipanggil Buphy sama temen²nya) sejak era Joker, mendengar kabar bahwa ada salah satu karyanya yang diangkat ke layar lebar jelas bikin gue excited.

Cerpen berjudul “Dibuang Sayang” dari kumpulan Tukar Takdir yang relatif singkat, diolah menjadi tontonan berdurasi 1 jam 47 menit. Sebagai pembaca, gue langsung kepikiran, “Gimana ya caranya Mouly Surya membuat cerita sekecil itu jadi film yang utuh?”

Film ini terasa relevan banget sama kondisi Indonesia 2025, seolah-olah jadi semacam kapsul waktu budaya. Jadi kalau suatu hari nanti ada orang yang nanya, “Eh, tahun 2025 itu Indonesia kayak gimana, sih?”, mungkin jawabannya bis, “Coba aja nonton Tukar Takdir.”

Sejak awal, film ini udah bikin gue uneasy. Bukan karena jumpscare ala film horor, tapi karena scoring-nya yang mencekam. Ditambah temanya mengenai tragedi kecelakaan pesawat, semuanya terasa intens, tapi tetap grounded.

Kredit juga harus jatuh ke tim produksi dan produsernya. Detail set sampai pemilihan cast yang ciamik banget. Rasanya kayak reuni akbar bintang lawas plus bintang kekinian.

Buat yang belum baca cerpennya, tenang aja, film ini hanya mengambil “saripati” cerita cerpen, bukan adaptasi 100% mentah. Jadi nggak ada kewajiban baca dulu biar ngerti. Ga ada tuh makhluk merah atau bersin “huakchuw” kayak di cerpennya.

Gue pribadi sengaja zero knowledge, nggak liat trailer, nggak baca review, nggak nyari spoiler. Hasilnya ada perasaan priceless itu lho, “the first time you watch it” feeling yang nggak tergantikan.


Seperti judul post ini yang gue bilang bertabur bintang, sekarang gue telaah, ya, para pemainnya.

Nicholas Saputra sebagai Rawa, karakter utama, tampil dingin, dan sedikit cuek. No lebay, no gimmick.

Tapi jujur, spotlight paling terang jatuh ke Marsha Timothy sebagai Dita. Gue ngerasa emosinya langsung tembus layar. Dia marah, gue ikut takut. Dia nangis, gue juga ikutan berkaca-kaca. Kayaknya udah fix lah, tahun depan masuk nominasi Piala Citra.

Zara Adhisty awalnya bikin gue agak kikuk karena gue masih keinget dia sebagai anak kecil, apalagi ada adegan bareng Nico. Tapi terus gue inget, “Eh, dia udah 22 tahun loh.” Jadi, yaaaa.

Meriam Bellina jadi highlight nostalgia. Lama banget nggak liat dia main film, dan di sini screen time-nya cukup bikin rasa kangen terbayar lunas.

Marcella Zalianty bikin gue deja vu. Di Generasi 90an: Melankolia dia kehilangan anak karena kecelakaan pesawat. Di sini dia kehilangan suami. Aura depresinya dapet banget, bikin film makin dalem.

Revaldo muncul jadi semacam easter egg seru. Bayangin, dua Rangga AADC dalam satu film: Nico versi layar lebar, Revaldo versi series. Dan di hari yang sama, ada film Rangga & Cinta juga rilis. So, 2 Oktober itu tanggal bersejarah karena ada tiga Rangga tayang di bipskop.

Selain itu, parade bintang pendukung bikin gue beberapa kali nyeletuk di bioskop: “Wih, ini kan…!” Ada Teddy Syach, Devy Permatasari, Ariyo Wahab, Hannah Al Rashid, Ringgo Agus Rahman, Tora Sudiro, sampai Roy Sungkono yang sukses bikin oomf pengen daftar kerja di KNKT. Wkwkwk.

Singkatnya, Tukar Takdir adalah film drama investigasi mencekam yang berhasil dikemas dengan storyteling elegan. Nggak cuma sekadar adaptasi cerpen, tapi juga berhasil berdiri tegak sebagai film yang utuh dan relevan.

Kudos untuk Starvision yang berani ngegarap proyek kayak gini. Harapan gue film ini bisa tembus jutaan penonton biar cerpen² lain dalam kumpulan Tukar Takdir juga bisa dijadikan film biar bisa jadi franchise.

Lebih baik lagi kalau karya² Vabyo lainnya juga bisa dibikin film, biar perfilman Indonesia punya BCU (Vabyo Cinematic Universe).

 
Leave a comment

Posted by on 10/04/2025 in Film, Review

 

Superman (2025): Alien yang Humanis

Alkisah pada tahun 2019 ada sebuah serial baru yang menarik perhatian gue di Netflix, judulnya The Politician. Ada salah satu karakter protagonis di situ, namanya River, diperankan oleh David Corenswet, nama baru buat gue, karena belum pernah lihat dia di serial atau film manapun. Walhasil gue ngetwit begini,

Dan boom, beberapa tahun kemudian diumumkan bahwa David Corenswet akan jadi Superman. Dan setelah nonton, terbukti: dia pas. Ada karisma khas Clark Kent yang polos tapi tajam, dan sosok Superman yang tangguh tapi rapuh. Performa dia berhasil bikin karakter ini terasa segar tanpa menghilangkan esensi klasiknya.

Ini reboot ngajak lo balik ke masa kecil karena kita tumbuh bersama Superman, tapi dengan sentuhan modern, political relevan, dan kemanusiaan yang lebih dalam. Film ini Certified Fresh dengan skor 86% (saat review ini dibuat) paling tinggi di antara semua film Superman sejauh ini, Jelas mengungguli Man of Steel (57%), Superman Returns (72%).

Film ini juga jadi tonggak penting karena Superman (2025) adalah pondasi dari DCU Chapter One: Gods and Monsters. Jadi, ini bukan sekadar film standalone, tapi pembuka dari semesta sinematik baru yang semoga lebih konsisten dari sebelumnya. Dan James Gunn tahu betul cara mulai dari dasar yang kuat.
Gunn yang sebelumnya sukses di Marvel dan bikin Suicide Squad versi DC jadi hidup lagi, di sini bawa pendekatan yang lebih tenang, tapi tetap punya nyawa. Film ini punya ritme yang stabil. Tidak terlalu cepat, tidak lambat. Cerita berjalan dengan baik dan memberi ruang untuk karakter berkembang.

Yang bikin film ini beda adalah muatannya yang relevan. Ada konflik geopolitik yang jelas terasa seperti refleksi dari invasi biadab Israel terhadap Palestina. Isunya masuk lewat narasi, bukan sekadar tempelan. Film ini juga menyentil bagaimana opini publik bisa dimanipulasi lewat bot, dan Superman dijadikan target kampanye hitam secara daring. Superman di sini bukan cuma dilawan sama villain fisik, tapi juga sama hoax digital. Kalian bisa bayangin kan, orang sekuat itu bisa kalah sama algoritma? Relate ga sih sama hari-hari kita di medsos?

Satu adegan yang berkesan buat gue adalah saat monolog Superman di hadapan Lex Luthor dan menyampaikan bahwa dia adalah manusia, bukan secara biologis (karena dia alien dari planet Krypton), tapi secara nilai dan empati. Monolognya sederhana, tanpa dramatisasi berlebihan, tapi pernyataan yang tegas tentang kemanusiaan.

Dari segi aksi, film ini tampil mantap. Koreografi pertarungannya rapi dan seru, cukup intens tapi nggak bikin pusing. Visualnya bersih, efeknya bagus tanpa terasa berlebihan. Dan seperti yang diharapkan dari James Gunn, ada momen humor yang ringan dan mengalir natural. Beberapa kali gue ketawa karena timing-nya pas, bukan karena maksa lucu.

Yang bikin puas, film ini akhirnya kasih kita Superman yang terasa hidup. Bukan sekadar simbol kekuatan, tapi karakter yang punya konflik batin, punya posisi moral, dan tetap berusaha jadi baik meskipun dunia nggak selalu adil.

Kesimpulan:
Superman (2025) bukan cuma film superhero. Ini fondasi baru yang dibangun dengan pemahaman bahwa dunia sekarang butuh pahlawan yang lebih manusiawi.
Ini film yang layak ditonton di bioskop karena kemegahannya.

 
Leave a comment

Posted by on 07/12/2025 in Film, Review

 

From Us to U: Tribut dari 20 Tahun Lalu

Tepat 20 tahun lalu, di tahun 2005, lahirlah sebuah album tribut yang bukan cuma jadi penghormatan, tapi juga jadi penanda cinta lintas generasi: From Us to U. Album ini adalah proyek kolaboratif dari musisi-musisi besar tanah air, yang bersatu untuk merayakan sosok Titiek Puspa, penyanyi, pencipta lagu, dan ikon musik Indonesia yang baru saja berpulang.

Album ini adalah salah satu album Indonesia favorit saya sepanjang masa. Alasannya sederhana: From Us to U bukan sekadar album cover, tapi album cinta. Cinta kepada karya, kepada warisan budaya, dan tentu saja kepada seorang perempuan yang pernah menyuarakan isi hati bangsa lewat lagu-lagunya.


Dari Peterpan ke Chrisye, Dari Rock ke Balada: Tribut dengan Spektrum Penuh Warna

Album ini berisi 10 lagu yang dulunya dinyanyikan atau diciptakan oleh Titiek Puspa. Lagu-lagu tersebut kemudian dihidupkan kembali oleh sederet musisi lintas genre—dari pop, rock, jazz, sampai komedi musikal. Dan uniknya, tidak ada satupun yang terasa dipaksakan atau setengah hati.

Mari kita mulai dari favorit pribadi saya:

“Cinta” – Rossa

Balada tentang cinta segitiga ini terasa seperti menerima surat pengakuan dari orang yang paling kamu percaya. Liriknya mengiris, melodinya menyayat, dan suara Rossa seperti meneteskan air mata ke dalam telinga pendengarnya. Kalau ada versi lagu yang bisa disebut “menusuk dengan sopan”, ini dia.

“Bimbi” – Ungu

Aslinya lagu centil dengan gaya khas 60-an, tapi oleh Ungu diubah menjadi rock ballad dramatis. Dan anehnya, berhasil. Lagu ini seperti melihat karakter kartun ceria tiba-tiba bermain dalam film drama psikologis, mengejutkan, tapi tetap memikat.

“Kupu Kupu Malam” – Peterpan

Lagu ini selalu memilukan, tak peduli siapa yang membawakannya. Tapi dengan karakter suara Ariel, ditambah aransemen khas Peterpan, lagu ini terasa seperti monolog batin seorang perempuan yang dunia sudah terlalu kejam padanya, tapi ia tetap berjalan dengan kepala tegak. Tak heran, versi ini sampai direkam ulang oleh NOAH beberapa tahun kemudian.

“Jatuh Cinta” – Project Pop

Ceria, ringan, tapi tetap “kena”. Project Pop tahu betul cara membawakan lagu ini tanpa kehilangan nuansa aslinya. Mereka tidak sekadar cover, mereka bermain peran di dalamnya. Dengarkan sambil tersenyum, silakan.


“Marilah Kemari”: Lagu Puncak dari Semua Puncak

Dan tentu saja, lagu penutup Marilah Kemari yang dibawakan oleh semua artis di album ini adalah semacam konfeti musikal. Lagu ini begitu penuh warna dan energi positif, sehingga tak heran jika ia menjadi lagu favorit saya dari semua lagu favorit di album ini. Bahkan almarhum Chrisye dan Iwan Fals ambil bagian dalam lagu ini, membuatnya bagaikan mini konser lintas zaman. Klip video-nya pun ceria, enerjik, dan mood-boosting maksimal, benar-benar pesta untuk merayakan warisan Titiek Puspa.


Lebih dari Sekadar Tribut

From Us to U adalah contoh bagaimana sebuah karya penghormatan bisa terasa hidup, bernyawa, dan punya karakter sendiri. Ini bukan proyek amal musik, bukan pula sekadar nostalgia. Ini adalah bukti bahwa lagu-lagu besar bisa menyeberangi waktu dan tetap relevan.

Dan sekarang, dua dekade setelah album ini dirilis dan beberapa waktu setelah kepergian Ibu Titiek Puspa, kita tahu satu hal:
warisan sejati bukan hanya dikenang, ia akan terus dinyanyikan.


Saya merasa sangat bersyukur bisa menyaksikan langsung beliau di panggung Synchronize Festival 2024, airmata haru pun tak sadar menetes melihat penampilan artis legendaris tiga jaman ini.

Dan pada Java Jazz 2025 pun ada sebuah sesi tribut untuk beliau yang dibawakan dengan sangat apik oleh Krisdayanti, Bilal Indrajaya, Danilla, dan Adikara.


Selamat jalan, Eyang Titiek. Terima kasih sudah mengajari kami bahwa lagu bisa jadi pelukan, bisa jadi pelipur, dan bisa jadi warisan paling indah dari seorang seniman kepada bangsanya.

From us, to you.

 
Leave a comment

Posted by on 06/10/2025 in Album, Review

 

Final Destination: Bloodlines – Setelah Belasan Tahun

Sebagai penikmat franchise Final Destination sejati yang mulai kenal film ini dari era VCD bajakan kualitas 480p (dengan subtitle yang suka ngaco) gue ngerasa kayak ketemu mantan toxic yang akhirnya ngajak balikan setelah 14 tahun ghosting. Terakhir kali franchise ini tayang di bioskop itu tahun 2011.

Sesuai judulnya yang edgy, Final Destination: Bloodlines ngajak kita ngulik teori “kutukan keturunan”. Plotnya? Yaaa standar lah khas FinDest, ada satu orang yang dapat penglihatan, menyelamatkan sekelompok orang dari kematian massal, dan sisanya tinggal nunggu giliran dijemput Mbah Maut pakai metode DIY yang absurd tapi brilian.

Di film ini Death lebih spesifik, dia ternyata punya prinsip cuma yang blood-related. Jadi kalau ada spoiler alert mantu atau anak haram, mereka aman, tapi kalau lo cucu kandung si korban selamat tahun 1960-an? Ya udah, siap-siap ngeliat tumpahan cairan pembersih yang berujung terbakarnya satu toko.

Soal pemain ga ada yang bener-bener familiar. Aktingnya standar, tapi let’s be honest—kita semua nonton Final Destination bukan buat ngelihat Oscar-worthy performance, tapi buat ngelihat orang ketimpuk bola sepak, terus masuk ke tong sampah, terus meninggoy kegencet alat pemadat sampah, kan??

Film franchise Final Destination ini klimaksnya justru di awal film. Jadi jangan telat masuk bioskop cuma karena ngantri popcorn, lo bakal nyesel ga liat adegan meninggoy massal di layar lebar.

Kenapa gue cinta sama franchise ini? Karena kematiannya tuh kreatif banget. Gak kayak film horor atau thriller lain yang nyiksa dulu setengah jam sambil puter lagu serem, di Final Destination itu dar-der-dor, efisien, dan kadang absurd tapi logis. Jadi bikin mikir, “Oh iya ya… itu bisa bikin mati juga ternyata.”

Abis nonton? Ya seperti biasa, keparnoan meningkat. Duduk di toilet takut tiba-tiba kloset meledak. Nyetrika baju sambil keringetan takut kabelnya kesamber air galon. Tapi ya itulah serunya, parno tapi nagih.

Gue nonton ini di hari pertama tayang, bahkan di negara asalnya aja film ini tayang dua hari setelah di Indonesia, saking excited-nya nunggu 14 tahun buat sekuel ini.
Terus nonton ini pun lagi dalam fase depresi yang udah berminggu-minggu, jadi setelah nonton ini akhirnya bisa melihat indahnya hidup dan betapa berartinya sebuah kehidupan.
Ada quote yang gue suka banget di film ini,
“Life is precious. Enjoy every single second. You never know when. Good luck.”

Temen gue bilang, kalau film ini rilis di Indonesia, judulnya pasti “Koin Pembawa Sial”. Dan gue setuju soalnya emang semua berawal dari satu koin yang ngeganjel.

Akhir kata, selamat menonton, setelah itu lo bakal mulai parno sama ventilasi AC, pintu otomatis, dan bahkan sendok garpu.

 
Leave a comment

Posted by on 05/15/2025 in Film, Review

 

Jumbo: Mahakarya Animasi Indonesia

Menonton film ini dengan ekspektasi cukup tinggi mengingat hype-nya di masyarakat. Beragam review positif dan negatif pun gue baca. Dan saat menonton filmnya, memang film ini layak menjadi film animasi terlaris se-region SEA dengan jumlah penonton (saat tulisan ini dibuat) lima juta lebih. Tak berlebihan jika film jni bisa disebut mahakarya animasi Indonedia.

Cerita Jumbo sebenarnya sederhana, tapi justru di situ letak kekuatannya. Karena meskipun narasinya mudah diikuti, konflik yang diangkat cukup kompleks. Buat anak-anak, bisa jadi ini akan memunculkan banyak pertanyaan yang nggak bisa dijawab dengan “iya” atau “enggak” aja. Jadi siap-siap ya, apalagi kalau kalian nonton bareng keponakan, anak, atau adik.

Dari semua karakter, Atta adalah yang paling bikin hati gue campur aduk. Dia antagonis, tapi bukan tipe yang jahat semata. Di balik sikap pahitnya, ada banyak hal yang bisa kita pahami, bahkan mungkin relate. Bahkan Atta pun mau meminta maaf duluan kepada Don, sungguh sebuah sikap ksatria dari seorang anak kecil. Dan kakaknya, Acil, menurut saya karakter terbaik di film ini. Penuh kasih, tabah, dan jadi pengingat bahwa keluarga bisa jadi tempat pulang meski dunia nggak selalu ramah. Angga Yunanda selaku pengisi suara Acil adalah suara favorit saya di sepanjang film ini.
Harus ada spin-off ini buat Atta dan Acil!

Dengan segala kontroversi dan perdebatan soal temanya, Jumbo tetap layak ditonton oleh semua umur. Justru film ini bisa jadi pembuka buat banyak obrolan penting dalam keluarga. Tapi kalau ga mau ditonton karena merqsa bertentangan dengan prinsip-prinsip Anda, ya ga masalah.

Jarang ada film yang bisa bikin gue nangis, apalagi animasi. Namun film ini bikin gue berkali-kali nangis karena ada beberapa adegan yang bener-bener kena:
– Saat Atta dan Acil makan nasi telor kecap, adegan yang sederhana tapi emosinya dapet banget. Di situ gue jadi ngerti kenapa Atta tumbuh dengan rasa pahit yang begitu kuat.


– Waktu pementasan seni dan lagu “Selalu Ada di Nadimu” dibawakan. Suaranya indah, liriknya menyentuh, dan entah kenapa bikin mata langsung berkaca-kaca. Lagu ini berpotensi jadi klasik dan gue langsung suka dari pertama kali dengar.
– Adegan Oma yang selalu senang saat Don datang, meski Don kadang bikin pusing. Mirip emak gue yang selalu seneng kalau kedatangan cucu-cucunya. Rasanya hangat, dan gue jadi ingat betapa hadirnya seseorang yang kita sayangi itu seringkali lebih penting daripada semua tingkahnya. Being present is the best gift you can give to someone you love.
– Lagu terakhir yang bikin gue nangis jelek. Filmnya udah selesai, kredit udah jalan, tapi saya (dan SEMUA penonton lain di row yang sama) masih duduk diam. Mungkin masih mencerna emosi, mungkin karena sedang menahan tangis, atau karena film ini berhasil menyentuh sisi ruang hati yang jarang disentuh.


Jumbo adalah film klasik yang akan selalu diingat. Dan Selalu Ada di Nadimu adalah lagu klasik yang akan kita dengar senandungnya di banyak tempat.

Terima kasih Ryan Adriandhy dan team yang sudah menghadirkan film yang indah ini. Semoga Allah selalu mudahkan jalanmu, Kak Ryan.

 
Leave a comment

Posted by on 04/19/2025 in Film, Review

 

Back in Action: Cameron D Beraksi Kembali

“Back in Action” adalah film aksi-komedi dari Netflix yang menandai kembalinya Cameron Diaz ke dunia akting setelah lebih dari satu dekade absen. Film ini mengisahkan sepasang mantan agen CIA, Emily (Cameron Diaz) dan Matt (Jamie Foxx), yang telah pensiun dari dunia spionase dan menjalani kehidupan normal. Namun, ketika identitas mereka terbongkar dan masa lalu mulai menghantui mereka, keduanya terpaksa kembali ke dunia yang telah mereka tinggalkan untuk bertarung demi keselamatan mereka sendiri.

Setelah 11 tahun vakum dari dunia akting, Cameron Diaz akhirnya balik ke layar lebar (atau lebih tepatnya, layar Netflix) lewat “Back in Action.” Dan jujur aja, ini kayak reuni manis buat yang kangen lihat dia beraksi ala “Charlie’s Angels” atau “Knight and Day.” Diaz tetap lincah, tetap charming, dan tetap jagoan cewek yang seru untuk ditonton.

Sementara itu, Jamie Foxx? Well… dia di sini lebih ke mode santai. Enggak ada tuh kualitas akting kelas Oscar yang dia punya di “Ray” atau “Django Unchained.” Tapi mungkin memang bukan itu tujuan film ini—”Back in Action” lebih ke film keluarga yang fun, jadi Foxx main aman dengan gaya komedi aksinya yang tetap menghibur.

Yang bikin film ini makin menarik adalah kehadiran Glenn Close dan Andrew Scott. Dua aktor kaliber ini bikin peran pendukung terasa lebih berbobot. Close tetap karismatik seperti biasa, dan Scott? Ya, siapa pun yang pernah lihat dia jadi Moriarty di “Sherlock” pasti tahu dia bisa mencuri perhatian setiap kali muncul di layar.

Oke, soal cerita, kita nggak bisa bilang ini film dengan twist mind-blowing. Gue udah bisa nebak siapa musuh utamanya bahkan sebelum film masuk ke babak kedua. Tapi tahukah kalian? Gue tetap menikmati setiap momennya! Aksi yang seru, pacing yang cepat, dan chemistry para pemain bikin film ini nagih buat ditonton dalam sekali duduk. Biasanya gue suka potong-potong film saat nonton di layanan OTT, tapi kali ini? Enggak. Beneran keterusan sampai habis.

Buat yang cari tontonan asyik buat libur Lebaran, “Back in Action” ini bisa jadi pilihan yang pas. Seru, nggak berat, dan bisa dinikmati sekeluarga. Welcome back, Cameron Diaz! Semoga ini bukan film comeback sekaligus perpisahan lagi.

Dan yang paling bikin gue excited? Ending-nya ngasih petunjuk kalau bakal ada sekuel! Dengan dunia spionase yang makin luas dan konflik yang belum benar-benar tuntas, gue nggak sabar nunggu “Back in Action 2.” Netflix, jangan PHP ya, lanjutkan ini jadi franchise yang seru!

 
Leave a comment

Posted by on 03/24/2025 in Film, Review

 

Late Night with the Devil: Talkshow yang Mencekam

Late Night with the Devil: Talkshow yang Mencekam

Ada film horor yang menakutkan karena jumpscare. Ada juga yang bikin merinding lewat atmosfer dan konsep cerdas. Late Night with the Devil jelas masuk kategori kedua. Dengan ide brilian yang membalut kengerian dalam format talkshow tahun 70-an, film ini bukan sekadar tontonan biasa, melainkan pengalaman.

Sejak awal, kita diajak melihat acara TV seperti penonton di era itu—komposisi layar 4:3 saat siaran di TV dan 16:9 saat menampilkan suasana di balik layar. Detail ini bukan cuma estetika, tapi juga trik psikologis yang bikin kita merasa terjebak dalam realitas acara tersebut. Rasanya seperti kita benar-benar sedang menonton sebuah rekaman talkshow lawas yang berubah menjadi mimpi buruk.

Yang membuat Late Night with the Devil begitu kuat adalah nuansa horornya yang merambat perlahan, tanpa mengandalkan jumpscare murahan. Ketegangan terus dibangun dengan sangat rapi, dari awal hingga klimaks, bikin kita betah nonton dan selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini tipe film yang semakin lama ditonton, semakin membuat kita gelisah.

Catatan penting: kalau kamu belum nonton, JANGAN lihat trailernya. Serius, jangan. Ada beberapa adegan dari bagian akhir film yang entah kenapa dimasukkan ke dalam trailer. Sayang banget kalau pengalaman menontonnya jadi kurang maksimal karena sudah dapat spoiler.

Tips nonton untuk pengalaman maksimal:

  • Pakai TV layar lebar.
  • Matikan semua lampu.
  • Tutup semua gorden.
  • Biarkan atmosfernya menyelimuti kamu.

Sayangnya, menurut gue ada satu hal yang agak mengecewakan—endingnya. Setelah seluruh nuansa horor dibangun dengan rapi dan mantap, film ini seperti kehilangan arah di bagian akhirnya. Tidak jelas apakah ini memang disengaja untuk meninggalkan misteri atau sekadar kurang eksekusi yang kuat. Tapi tetap, perjalanan menuju akhir itu luar biasa seram dan menghipnotis.

Kesimpulan: Late Night with the Devil adalah horor yang unik, cerdas, dan atmosferik. Tidak butuh jumpscare untuk membuatmu merinding. Sebuah rekomendasi wajib bagi pecinta horor yang lebih mengutamakan atmosfer daripada kejutan murahan.

Jangan tonton sendirian… atau justru harus?

 
Leave a comment

Posted by on 02/03/2025 in Film, Review

 

SaKaTuPo: Remake Sinetron yang Berhasil!

Nostalgia manis bercampur drama keluarga yang bikin hati hangover—itulah kesan pertama gue tentang 1 Kakak 7 Ponakan. Diangkat dari sinetron jadul dengan judul sama, film ini membuktikan bahwa cerita klasik gak perlu ribet buat nyentuh hati. Kayak nge-repost meme lama, tapi tetep bikin ketawa dan meleleh.

Ceritanya sederhana, tapi dalem. Fokusnya adalah Moko (karakter utama greenflag sejati) yang terjebak jadi sandwich generation—ngurusin tujuh ponakan sambil menghadapi kakak ipar yang redflag-nya nyala terang kayak lampu darurat. Buat lo yang sering bilang “hidup ini berat,” film ini bakal bikin lo bilang, “Ternyata bisa lebih berat.”

Dialog-dialognya natural banget, kayak lagi denger obrolan grup WhatsApp keluarga lo—real, relatable, dan gak ada yang maksa. Aktingnya pun mantap, bukan cuma Moko yang bersinar, bahkan peran pendukung dapet banget momennya.

Dan jangan lupa sama cameo David Gadgetin yang jadi scene-stealer! Momen dia muncul bikin satu studio ngakak karena vibes-nya santai tapi ngenak. Kayak liat meme hidup yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah drama.

Lo yang sekarang jungkir balik antara ngurus keluarga dan ngejar mimpi pribadi bakal nangis ugly cry pas nonton ini. Ada adegan yang sedih banget, tapi beberapa momen lain justru bikin lo nangis bahagia.

Tapi yang paling bikin gue keinget itu adalah gimana film ini kasih pesan soal pentingnya dukungan keluarga. Meskipun hidup Moko kayak roller coaster yang mogok di jalur terjal, dia tetep kuat karena hatinya gede. Kayak lagu-lagu hits yang selalu bikin semangat pas lagi down.

Oh ya, jangan lupa sama lagu temanya yang bikin nostalgia level 1000! Gue sampe sekarang masih bisa nyanyi-nyanyi sendiri lagunya, padahal udah dari dulu banget lagunya ada. Kayak denger lagu itu, semua kenangan sama sinetron jadulnya langsung berasa lagi.

1 Kakak 7 Ponakan bukan cuma film. Ini surat cinta buat keluarga, sandwich generation, dan mereka yang selalu berusaha meski dihimpit beban. Dari tawa sampai air mata, semuanya ada di sini. Yandi Laurens berhasil bikin film yang gak cuma berkesan, tapi juga bikin lo pulang ke rumah pengen peluk keluarga.


Siapin tisu, filmnya tearjerker.

 
Leave a comment

Posted by on 01/27/2025 in Film, Review

 

Ambyar Mak Byar: Fairy Tale yang Bikin Terharu, Ketawa, dan Karaoke Bareng

Tanggal 9 Januari 2025 bakal jadi hari spesial buat pecinta film Indonesia. Ambyar Mak Byar, film drama komedi romantis yang lagi nge-hype, siap mengajak kita semua hanyut dalam kisah cinta klise yang surprisingly… eksekusinya mantap banget!



Fairy Tale yang Klise, tapi Eksekusinya Beda

Oke, kita jujur dulu. Kisah cinta di Ambyar Mak Byar mungkin nggak jauh dari dongeng yang sering kita dengar: sepasang kekasih yang harus menghadapi berbagai rintangan sebelum akhirnya (spoiler alert: maybe?) bahagia. Tapi yang bikin beda, film ini nggak maksa kita buat percaya sama keajaiban cinta. Semuanya terasa smooth, natural, dan relatable.

Dengan durasi hampir 2 jam, film ini nggak bikin bosan. Ceritanya ringan, ngalir kayak obrolan santai di kafe, tapi tetap punya momen-momen yang bikin jantung deg-degan atau hati meleleh.

Chemistry ala Real-Life Couple yang Bikin Percaya Cinta Itu Ada

Gilga Sahid dan Happy Asmara, pasangan suami istri di dunia nyata, sukses banget bikin kita percaya kalau cinta sejati itu nyata. Chemistry mereka di layar bener-bener kuat, sampai rasanya kayak lagi nonton temen sendiri yang lagi kasmaran. Tiap adegan mereka terasa genuine, nggak dibuat-buat, dan pastinya bikin iri.

Evan Loss: Si Tukang Marah yang Nggak Bisa Dibenci

Kalo ada yang pantas dapet standing ovation, itu adalah Evan Loss. Sebagai karakter pendukung yang sering marah-marah, dia nggak cuma bikin kita tegang, tapi juga bikin emosi naik turun. Hebatnya lagi, walau sering ngamuk, dia tetap charming! Ada sisi kompleks dari karakternya yang bikin kita nggak bisa benci. Kalau dia nggak masuk nominasi Piala Citra tahun ini, rasanya nggak adil.



Karaoke Bareng di Bioskop: Serius, Ini Pengalaman Baru Nonton Film Indonesia!

Salah satu highlight dari Ambyar Mak Byar adalah elemen musiknya. Walau nggak bisa dibilang film musikal full karena lagu-lagunya cuma muncul di momen-momen tertentu, film ini punya cara unik buat ngajak penonton terlibat.

Setiap lagu yang dinyanyikan, ada teks ala karaoke yang muncul di layar! Yes, kamu bisa ikutan nyanyi di bioskop, bahkan di-encourage buat seru-seruan bareng. Gue pribadi nggak tahan buat ikutan nyanyi di dua lagu hits: Nemen dan Full Senyum Sayang, yang memang udah populer sebelum film ini rilis. Lagu-lagunya easy listening dan bikin suasana makin hidup.

Subtitle untuk Penonton Non-Jawa: Nggak Usah Takut Nyasar!

Satu lagi yang bikin film ini ramah untuk semua kalangan adalah subtitlenya. Mengingat beberapa dialog menggunakan bahasa Jawa, ada subtitle yang membantu penonton memahami apa yang diomongin. Jadi, buat kamu yang nggak ngerti Jawa, nggak usah khawatir bakal bingung.

Bisa Ketawa, Bisa Nangis, Semua Dalam Satu Paket

Yang bikin film ini spesial, kamu bisa ngalamin semua emosi sekaligus. Ada adegan-adegan lucu yang bikin ngakak sampai perut sakit, dengan komedi yang relevan sama kehidupan kita sekarang. Tapi di sisi lain, siap-siap juga buat tisu karena ada momen yang bikin mata mendadak berkaca-kaca, bahkan di adegan bahagia sekalipun.

Tapi Sayang, Endingnya Terlalu Terburu-buru

Meski banyak yang bisa diacungi jempol, Ambyar Mak Byar tetap punya kekurangan. Bagian endingnya terasa terlalu cepat dan gampang diselesaikan, padahal konflik yang dibangun sejak awal lumayan bikin menderita. Kalau eksekusi akhirnya dibuat lebih dramatis atau menantang, mungkin film ini bakal naik level lagi.

Kesimpulan: Worth Watching dan Siap-Siap Nyanyi di Bioskop!

Overall, Ambyar Mak Byar adalah salah satu film Indonesia yang layak masuk daftar tonton awal tahun kamu. Ini bukan cuma soal cerita cinta klise, tapi soal bagaimana eksekusi yang ciamik bisa mengubah sesuatu yang biasa jadi luar biasa.

Jadi, siap-siap buat baper, ketawa, dan karaoke bareng di bioskop. Jangan lupa, film ini tayang 9 Januari 2025. Jangan sampai kelewatan, ya!

 
Leave a comment

Posted by on 12/28/2024 in Film, Review

 
 
Design a site like this with WordPress.com
Get started