Review: Game “Puzzle 5 Dasar”, Tegang tapi Menghibur

Puzzle 5 Dasar adalah judul permainan yang jelas-jelas tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori permainan kasual, karena setiap pemain harus mengerahkan segenap konsentrasi dan kecepatan tangan untuk melalui tantangannya.

Hadir dengan formula baru, permainan ini cukup menjanjikan meski ada beberapa catatan. Berikut ulasan KompasTekno tentang game mobile buatan lokal ini.

Cara mainnya sederhana, pemain hanya perlu menyentuh gambar huruf yang bergerak dari layar bagian atas ke bagian bawah, huruf disentuh secara berurutan untuk membentuk satu kata atau frasa.

Kumpulan kata atau frasa itulah yang disebut soal dan bisa dibuka setelah pemain berhasil menyentuh huruf dalam jumlah tertentu.

Permainan berakhir bila ada huruf yang berhasil sampai di bagian bawah layar tanpa berhasil tersentuh.

Pengalaman KompasTekno, semula permainan ini terasa mudah dan menjemukan, karena huruf yang bergerak di layar dengan mudah disentuh, terlebih mereka keluar secara berurutan sehingga pemain hanya perlu fokus pada huruf yang terlihat pertama kali.

Namun seiring permainan berlangsung, tingkat kesulitan pun ikut bertambah dengan kecepatan huruf yang menjadi berlipat-lipat.

Google Play Store
Game Puzzle 5 Dasar
Jadilah kemudian mata harus awas melihat huruf yang bergerak dalam empat lajur yang membagi layar ponsel atau tablet kita. Jemari tangan harus bergerak cepat dan tepat menyentuh huruf yang kian berlari semakin cepat.

Beruntung, pengembang permainan tidak membuatnya lebih “menyiksa” dengan memasukkan huruf yang tidak dibutuhkan oleh soal.

Permainan ini untuk sementara baru tersedia bagi perangkat yang menggunakan sistem operasi Android dan iOS. Adalah Kardus Imajinasi, nama di balik permainan “Tebak Gambar” yang kembali menyapa sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam pengembangan permainan ini bersama NXN dan Puzzle House.

Dengan masa pengembangan 3 bulan, permanan ini menampilkan karakter Si Udin, seorang pelajar sekolah dasar yang nakal namun banyak akal.

Notifikasi mengganggu

Salah satu keluhan dari permainan ini adalah, keberadaan video iklan yang tidak bisa segera ditutup, sehingga membuyarkan konsentrasi pemain yang ingin melanjutkan permainan. Video iklan yang durasinya sekitar 10 detik bisa mengganggu pengalaman bermain.

Pemain juga sebaiknya mematikan pemberitahuan dari aplikasi lain, misalnya layanan messaging, karena huruf yang muncul dari atas bisa tertutup tiba-tiba oleh pemberitahuan/notifikasi pesan yang masuk.

Mematikan koneksi data bisa jadi opsi, tapi pemain bisa kehilangan opsi untuk meneruskan permainan bila berakhir.

Yang menarik dari permainan ini adalah, strategi kolaborasi sang pembuat dengan karya intelektual (IP) atau situs lainnya, seperti Ghosty Comic, Gadgetren, atau Kartun Ngampus. Setiap nama tadi mewakili satu soal untuk diatasi pemain. Soal-soal lain juga mewakili tema tertentu.

Tegang namun menghibur

Permainan ini akan membuat pengguna tegang, tapi pada akhirnya bisa menghibur.

Game Puzzle 5 Dasar bisa diunduh di toko aplikasi Google Play Store untuk Android di tautan berikut ini.

Untuk versi iOS-nya, game tersebut bisa diunduh di App Store melalui tautan berikut ini.

Begini Efek Ponsel Dipajang di Meja Kerja

Jangan pajang ponsel pintar Anda di meja kerja. Kaspersky bersama Universitas Würzburg dan Nottingham Trent melakukan penelitian mengenai efek ponsel terhadap pekerjaan. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang jauh dari ponselnya ternyata lebih rajin dan produktif.

Penelitian tersebut menggunakan sampel 95 orang berusia antara 19 hingga 56 tahun. Rentang usia ini dipilih dengan alasan untuk menyeimbangkan kondisi serta jenis kelamin dalam setiap lokasi laboratorium.

Orang-orang yang secara sukarela menjadi partisipan itu diminta untuk bekerja di laboratorium dengan situasi berbeda-beda. Ada yang diminta bekerja sambil mengantungi ponselnya, menaruh ponsel di atas meja, menyimpan ponsel di laci yang terkunci, dan bekerja sementara ponsel dipindahkan dari ruangan tersebut.

Selanjutnya, peneliti mengukur tingkat konsentrasi partisipan saat bekerja. Hasilnya, diketahui bahwa orang menyimpan ponsel di atas meja cenderung kurang konsentrasi. Namun konsentrasi tersebut dapat bertambah baik seiring makin jauhnya jarak antara seseorang dengan ponsel.

Secara keseluruhan, konsentrasi seorang pekerja meningkat 26 persen saat ponsel miliknya tidak berada di ruangan tempatnya bekerja. Saat ponsel tidak ada di sampingnya, ternyata pemilik ponsel tidak merasa gelisah.

“Sebelumnya, penelitian menunjukkan bahwa di satu sisi, seseorang yang terpisah dengan smartphonenya membuat orang merasa gelisah. Namun di sisi lain, penelitian ini menunjukkan bahwa smartphone dapat menjadi gangguan,” terang anggota tim penelitian tersebut, Jens Binder dari Universitas Nottingham Trent.

Dengan kata lain, imbuh Binder, penelitian kehadiran dan ketidakhadiran ponsel sama-sama bisa mempengaruhi konsentrasi seseorang. Efek yang paling bagus adalah peningkatan konsentrasi saat seseorang jauh dari ponselnya.

Kesimpulan lain penelitian itu adalah, wanita cenderung lebih mudah gelisah ketimbang pria. Namun menurut peneliti, hal ini dipengaruhi masalah jender, bukan soal ada atau tidak adanya ponsel di dekat pemilik.

Kaspersky menganggap hasil penelitian yang dikerjakan bersama dua universitas tersebut berguna bagi pebisnis yang ingin meningkatkan produktivitas dan mengamankan diri dari masalah keamanan cyber.

“Alih-alih mengharapkan akses permanen ke smartphone mereka, produktivitas karyawan kemungkinan dapat ditingkatkan jika saja mereka memiliki waktu khusus untuk ‘smartphone free’,” ujar Vladimir Zapolyansky, Head of SMB Marketing, Kaspersky Lab melalui keterangan resmi pada KompasTekno, Minggu (4/9/2016).

“Salah satu cara untuk melakukan ini dengan menerapkan ‘peraturan rapat’ yaitu tidak boleh ada ponsel, dan tidak boleh ada komputer – di lingkungan kerja yang normal,” imbuhnya.

Zenfone 2 Akhirnya Kebagian Android “Marshmallow”

Asus akhirnya merilis pembaruan sistem operasi Android 6.0 Marshmallow untuk Zenfone 2 (ZE551ML). Pembaruan ini mesti dilakukan secara manual oleh pengguna.

Pada saat perilisan perdananya, Asus membekali Zenfone 2 dengan sistem operasi Android 5.0 Lollipop dan mereka berjanji akan merilis pembaruan ke Android 6.0 Marshmallow pada Februari 2016. Meskipun terlambat, akhirnya perusahaan asal Taiwan itu menepati janjinya pada pengguna.

Pembaruan sistem operasi Asus Zenfone 2 ke Android Marshmallow dapat Anda unduh secara manual melalui tautan ini.

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari GSM Arena, Senin (5/9/2016), pembaruan ke Android Marshmallow akan membatalkan pre-load berbagai aplikasi di Zenfone 2.

“Pesawat Luar Angkasa” Apple Mulai Hidup

Apple Campus 2 yang berdiri di atas lahan 70 hektar mulai “hidup”. Beberapa pohon ditancapkan di area-area tertentu. Arsitektur tamannya pun sudah terlihat.

Bangunan yang berbentuk pesawat luar angkasa tersebut terletak sekitar 1,6 kilometer ke arah timur kantor pertama Apple di Cupertino, California, AS.

Jika dibandingkan September 2015 lalu, sudah ada beberapa peningkatan pembangunan per September 2016, sebagaimana terekam dalam video drone yang dilaporkan BGR dan dihimpun KompasTekno, Senin (5/9/2016).

Perbedaan paling mencolok tampak pada dinding dan atap bangunan. Instalasi kaca yang menyelimuti kampus kedua Apple ini hampir rampung.

Sementara itu, pemasangan panel matahari alias solar panel sudah menutupi hampir setengah sisi atas bangunan. September tahun lalu, belum ada satu pun solar panel yang terpasang.

Beberapa bangunan terpisah dari gedung baru Apple juga mulai gagah berdiri. Masing-masing adalah pusat fitnes, dua garasi yang mampu menampung 8.000 mobil, lorong bawah tanah, auditorium bawah tanah, serta bangunan khusus riset dan pengembangan alias R&D.

Saat sudah beroperasi nanti, Apple Campus 2 diperkirakan bisa menampung sekitar 12.000 orang pekerja.

Apple Campus 2 tak berwujud gedung utuh, melainkan kombinasi dengan ruang terbuka hijau. Rencananya sekitar 80 persen dari komplek perkantoran tersebut merupakan ruang hijau berisi 7.000 pohon.

Inikah Wujud Redmi 4?

Xiaomi Redmi 4 digadang-gadang meluncur bersamaan dengan Redmi Note 4 beberapa pekan lalu. Nyatanya, varian tanpa Note itu masih “disimpan” hingga waktu yang belum dipastikan.

Tampaknya waktu tersebut tak bakal lama lagi. Pasalnya, “bocoran” wujud Redmi 4 telah beredar di situs TENAA yang tak lain merupakan pusat sertifikasi perangkat telekomunikasi di China.

Ada dua perbedaan fisik paling mencolok yang membedakan Redmi Note 4 dengan bocoran gambar Redmi 4, sebagaimana dilaporkan Gizmochina dan dihimpun KompasTekno, Senin (5/9/2016).

Pertama, Redmi 4 terlihat lebih kecil dibandingkan Redmi Note 4. Hal itu wajar sebab varian Note memang selalu dibuat lebih jumbo.

Kedua, lengkungan alias curve pada Redmi 4 tak sama dengan curve pada Redmi Note 4. Pada varian Note, lengkungannya lebih tegas.
TENAA
Bocoran gambar Xiaomi Redmi 4

Sama seperti sang kakak, Redmi 4 juga memiliki fitur pemindai sidik jari alias fingerprint scanner. Letaknya di bawah kamera utama yang memiliki flash LED pada sisi kirinya.

Logo Mi ditaruh beberapa inci dari landasan garis antena di sisi bawah. Tombol volume dan on/off masih di sisi kanan ponsel, sementara slot kartu SIM di sisi kiri.

Beberapa bocoran spesifikasi Redmi 4 antara lain RAM 3GB, memori 32GB, tampilan Full HD, MIUI 8, Android 6.0.1, dan prosesor Helio P10.

Harganya diisukan berkisar 105 dollar AS atau senilai Rp 1,3 jutaan. Benar atau tidaknya belum bisa diketahui hingga Redmi 4 benar-benar dirilis.

Galaxy Note 7 Versi China Dijamin Anti-meledak

Penarikan kembali Galaxy Note 7 dari pasaran dunia menimbulkan kehebohan. Bagaimana tidak, permasalahan baterai menyebabkan ponsel ini rawan meledak atau terbakar saat sedang di-charge.

Namun, konsumen di China agaknya bisa berlega hati. Samsung mengatakan bahwa unit-unit ponsel Galaxy Note 7 yang mulai dijual di Negeri Tirai Bambu tersebut pada 1 September lalu dijamin tak bakal meledak.

“Versi (Galaxy Note 7) untuk pasaran China menggunakan baterai dari pemasok berbeda,” sebut Samsung dalam sebuah pernyataan bertanggal 2 September 2016 yang dirangkum KompasTekno dari GSM Arena, Senin (5/9/2016).

Sebelumnya, The Korea Herald sempat memberitakan bahwa sejumlah Galaxy Note 7 yang terbakar memakai baterai buatan ITM Semiconductor, sebuah perusahaan rekanan Samsung.

Merujuk penyataan di atas, Galaxy Note 7 yang dipasarkan di China menggunakan baterai dari pabrikan lain.

Menurut Samsung, hingga minggu lalu tercatat sudah ada 35 kasus Galaxy Note 7 terbakar akibat baterai yang kepanasan saat di-charge. Permasalahan baterai diperkirakan hanya menimpa 0,1 persen Galaxy Note 7 yang beredar di pasaran.

Namun, Samsung tak mau ambil risiko. Raksasa elektronik asal Negeri Ginseng itu pun menarik kembali sebanyak 2,5 juta unit Galaxy Note 7 yang kadung dikirim ke 10 negara.

Baca: Samsung Resmi Recall Galaxy Note 7

Pesanan Galaxy Note 7 di Tanah Air ikut terimbas dan dibatalkan lewat mekanisme refund. Untuk mengobati kekecewaan pembeli, Samsung Indonesia menyiapkan kompensasi berupa voucher belanja dan potongan harga, apabila konsumen tetap ingin membeli Galaxy Note 7 saat kembali tersedia dengan perbaikannya.

Android Tanpa “Bezel” Nubia Z11 Bersiap Masuk Indonesia

Nubia, anak perusahaan ZTE, berencana merilis smartphone terbarunya Z11 ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Smartphone ini dirancang memiliki layar tanpa bezel (bingkai di bagian tepi) dan masuk ke segmen premium.

Sebenarnya Nubia Z11 telah dirilis sejak beberapa waktu lalu. Namun saat itu, ketersediaannya hanya dibatasi untuk wilayah China saja.

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari Engadget, Senin (5/9/2016), Nubia Z11 dibekali dengan spesifikasi yang cukup tinggi.

Ciri khasnya adalah layar 5,5 inci Full HD 1080p dengan screen to body ratio 81 persen. Artinya, bagian depan ponsel ini terlihat seolah tak memiliki bingkai, hanya layar saja seutuhnya.

Namun Nubia tidak hanya ingin mengandalkan layarnya saja. Nubia Z11 dilengkapi dengan spesifikasi teranyar, seperti “otak” pemrosesan berupa chipset Qualcomm Snapdragon 820, memori internal 64 GB, dan RAM 4 GB.

Jika tidak puas dengan RAM tersebut, masih tersedia lagi satu versi Z11 yang dibekali dengan RAM 6 GB.

Selain itu, Nubia Z11 juga dijagokan dalam aspek fotografi. Kamera utamanya memiliki ketajaman 16 megapiksel dengan aperture f/2.0 dan berbagai kombinasi hardware, serta software penstabil gambar.

Ada juga fitur yang membuat kamera utama ponsel bisa mengatur durasi paparan cahaya (exposure) hingga 72 detik. Perusahaan asal China ini menjanjikan kualitas jepretan kamera utama yang mendekati kamera DSLR.

Nubia Z11 juga memiliki kamera depan setajam 8 megapiksel. Tidak ada fitur yang terlalu mencolok di bagian ini.

Pengguna bisa mendapatkan Nubia Z11 dalam dua jenis berbeda. Jenis standar, dengan RAM 4 GB, dibanderol 557 dollar AS atau sekitar Rp 7,3 juta.

Nubia Z11 dengan warna hitam dan emas dijual lebih tinggi karena dilengkapi RAM 6 GB. Produk versi ini dijual 668 dollar AS atau sekitar Rp 8,8 juta.

Pihak Nubia berkata bahwa produk ini akan disebar ke luar China mulai September ini. Meski begitu, tidak disebutkan waktu pasti kehadirannya di Indonesia.

Tidak disebutkan juga, apakah Nubia akan merilis dua versi tersebut atau salah satunya saja.

Revisi UU ITE dan Nasib Anak-anak Kita

Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) telah lama dianggap sebagai momok, terutama bagi kalangan penggiat kebebasan berpendapat. Sebabnya, banyak sekali kasus UU ITE digunakan untuk memenjarakan seseorang karena mengemukakan sesuatu melalui internet.

Situs Southeast Asia Freedom of Expression Network (safenetvoice.org) mencantumkan 152 kasus terkait UU ITE. Mulai dari Narliswandi Piliang dan Prita Mulyasari di 2008 hingga Haris Azhar dan beberapa kasus lain di Agustus 2016.

Di sisi lain, saat ini sedang berlangsung proses revisi UU ITE. Salah satunya konon bisa membuat undang-undang itu tak lagi menyeramkan seperti sebelumnya. Ancaman hukuman yang diajukan lebih rendah (4 tahun) membuat tidak ada perlunya penahanan langsung, seperti yang dialami oleh Prita Mulyasari.

Apa hubungannya? Ini karena Pasal 21 ayat 4 huruf a, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, menyebutkan bahwa penahanan dilakukan pada tersangka yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih.

Lalu, apakah sudah boleh bersorak-sorai atas revisi yang sedang dalam proses ini?

Di satu sisi, arahnya mungkin sudah benar. Penahanan pada tersangka adalah hal yang sangat memberatkan secara psikologis. Pengurangan ancaman hukuman mungkin bisa mengurangi hal ini.

Namun tetap saja ada ancamannya. Tidak ada yang bisa menghentikan UU ITE tetap digunakan dalam berbagai kasus seperti yang terdaftar di SAFEnet itu. Hanya penanganan status tersangkanya saja yang mungkin berbeda.

Perundungan Siber

Pasal yang kerap digunakan dalam kasus-kasus itu adalah Pasal 27, mengenai pencemaran nama baik. Namun itu bukan satu-satunya, ada juga Pasal 28 (kebencian) dan Pasal 29 (kekerasan).

Nah, bersamaan dengan revisi yang sedang dalam proses dan dikabarkan sudah menjelang tuntas itu, ternyata ada pula perubahan di Pasal 29. Selain diturunkan ancamannya, ada istilah “baru” yang masuk ke pasal tersebut.

Istilah itu adalah cyberbullying atau bisa juga disebut perundungan siber.

Ist
Ilustrasi cyber bullying
Sulit untuk menebak bagaimana ceritanya istilah cyberbullying bisa masuk ke dalam percakapan (dan kemudian draft) revisi UU ITE. Soal ini pun baru diketahui belakangan, di akhir Agustus 2016, saat pembahasannya dianggap sudah mau selesai.

Mau misuh-misuh pun rasanya seperti tidak akan mencapai apa-apa. Jadi, apa dong yang bisa dilakukan?

Pertama-tama, mungkin, adalah kita sama-sama berusaha memahami apa yang dimaksud dengan cyberbullying itu. Pemahaman dimulai dari kata tersebut, yang merupakan “perkawinan” dua kata: cyber dan bullying.

Bullying (atau kerap disebut perundungan) dijelaskan oleh Dan Olweus dalam bukunya di tahun 1993, Bullying at School: What We Know and What We Can Do. Menurut Olweus, seseorang telah menjadi korban perundungan jika “ia terpapar, berulang-kali dan selama kurun waktu tertentu, pada tindakan negatif yang dilakukan satu atau lebih orang, dan dia mengalami kesulitan membela dirinya.”

Tiga hal yang digarisbawahi:
Perundungan itu merupakan perilaku agresif, yang melibatkan tindakan yang tidak dikehendaki dan negatif.
Perundungan menyangkut sebuah pola, yang berulang dan bukan hanya sesaat (diulangi lagi dan lagi, selama kurun waktu tertentu).
Perundungan melibatkan sebuah ketidakseimbangan kekuasaan, dalam hal ini korbannya pada kondisi tidak sanggup melawan.

Nah, coba tambahkan hal di atas dengan pemahaman soal kata cyber, yang boleh dibilang merujuk pada “perbuatan yang dilakukan secara online alias di dunia maya atau dengan perantara internet”. Jadilah cyberbullying, perundungan yang dilakukan online.

Makna “bullying” yang kabur

Tapi kalau melihat pada percakapan sehari-hari, baik yang terjadi online atau tidak, istilah bullying kerap digunakan dalam kosa kata seperti: mem-bully atau di-bully. Konteksnya, ini menjadi semacam ameliorasi makna (yang buruk dibuat lebih baik).

Karena, dalam konteks percakapan sehari-hari, kata di-bully merujuk pada aksi yang dilakukan terhadap seseorang dengan maksud bersenda-gurau. Perbedaan signifikannya ada pada ketidakseimbangan kekuasaan.

Misalnya, ketika ada yang berkata “Wah, Jokowi lagi di-bully netizen!” itu tidak serta-merta bermakna Presiden Joko Widodo sedang jadi korban perundungan. Di sini ada ketidakseimbangan kekuasaan yang mungkin bisa dibilang terbalik. Justru kekuasaan Presiden terhadap para netizen lebih besar, sehingga bukan dalam kondisi tidak sanggup melawan.

Atau, ketika ada yang bilang “Wah, gue di-bully deh!” dalam percakapan di social media. Hal yang dimaksud bisa jadi sekadar, bahwa ia menjadi bahan olok-olok sementara teman-temannya. Kekuasaan bukan tidak seimbang, karena antara “dia” dan “temannya” sama-sama bisa melawan.

Canda Kanak-kanak

Satu hal yang, entah luput atau memang sudah diketahui, kata-kata bullying lebih banyak mengacu pada kanak-kanak sampai remaja. Ini karena, setelah dewasa tindakan seperti itu sudah tidak lagi bullying, karena orang dewasa harusnya sudah paham baik-buruk dan semacam itu.

Bagi remaja, seperti dituturkan peneliti Shaheen Shariff dari McGil University, ada kebutuhan besar untuk bisa diterima di teman sebayanya. “Hormon yang bergejolak, kesadaran sosial dan seksual, membuat reputasi mereka di antara teman sebaya sebagai hal paling penting bagi harga diri dan rasa percaya diri remaja,” sebut Shariff dalam sebuah artikel.

Masalahnya, para muda-mudi tersebut, internet adalah tempat yang sangat bising. Salah satu cara mereka untuk menonjol di antara kebisingan itu, untuk memancing tawa dan perhatian rekannya, adalah dengan melakukan kegiatan online yang ekstrim.

Ya, dalam kasus-kasus tertentu ini bisa berarti mengunggah atau berbagi foto yang tidak senonoh atau menjelek-jelekkan orang lain. Dan, parahnya, ini bisa juga berarti tindakan yang mereka ambil masuk dalam kategori cyberbullying.

Jadi, mana yang dimaksud cyberbullying dalam revisi UU ITE tersebut? Istilah dalam percakapn sehari-hari? Atau yang merujuk pada tindakan anak-anak? Atau, ada yang lain?

Lalu, apakah anak-anak kemudian harus dipenjara? Empat tahun lamanya, jika mengikuti ancaman pada rancangan revisi Pasal 29 UU ITE.

Ruang ketiga

Orang tua memang akan sangat mudah mengambil jalan pintas dengan melarang. Harus diakui, saya pun merasakan hal yang sama. Reaksi pertama akan bahaya adalah menjauhkan sejauh-jauhnya. Tapi, melarang anak dari akses internet bukanlah solusi jangka panjang yang efektif.

Konon, anak butuh “ruang ketiga” dalam proses menuju kedewasaan. Konsep “ruang ketiga” ini merujuk pada wilayah tempat anak bisa berkumpul di luar pengawasan pihak berwenang (orangtua dan guru). Disebut ruang ketiga karena ruang pertama adalah rumah dan ruang kedua adalah sekolah.

Di ruang ketiga, anak-anak (dan remaja) mengatur dirinya sendiri. Mereka mendapatkan “kebebasan” dan (harapannya) belajar bagaimana bertindak di lingkungan sosial, seperti saling menghargai.

Seiring perkembangan teknologi, banyak media sosial dan jejaring sosial yang kemudian menjadi ruang ketiga bagi mereka. Terutama, layanan media sosial atau jejaring sosial yang tidak digemari generasi orangtua mereka. Misalnya saja Snapchat atau Line.

Selain media sosial, ruang ketiga lain yang juga bisa dimanfaatkan adalah permainan. Contohnya adalah Minecraft, sebuah game yang kini dimiliki Microsoft yang banyak dijadikan contoh penerapan ruang ketiga yang relatif aman.

Tentu, tidak ada yang sepenuhnya aman. Namun pondasi dasar dari Minecraft adalah kebebasan pemain untuk membuat berbagai hal, potensi kreativitas yang sangat luas ditambah aturan yang relatif minim membuat game itu menarik untuk dijelajahi.

Selanjutnya Bagaimana?

Adanya soal cyberbullying dalam draft revisi UU ITE yang sedang dalam proses itu seharusnya membuat kita berpikir. Apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi masalah cyberbullying tersebut.

Ya, pertama kita harus mengakui bahwa memang ada masalah. Terutama bagi anak-anak dan remaja. Kedua, kita harus mau mencari solusi yang tidak instan. Ini soal masa depan lho! Seperti kata iklan jaman dahulu: “buat anak kok coba-coba?”

Pikirkan hal-hal seperti “ruang ketiga” yang aman dan nyaman. Pikirkan bahwa anak butuh untuk bermain, sebagai bagian dari proses memahami posisinya dalam dunia. Mengikat anak pada meja belajar dan membatasi kegiatannya jangan-jangan malah berdampak negatif pada masa depannya.

Tulisan ini tidak menawarkan solusi. Saya pun sedang mencari cara paling baik untuk membantu anak-anak saya tumbuh. Psikolog Alison Gopnik mengatakan, orang tua lebih mirip tukang kebun daripada tukang kayu.

Tukang kebun merawat tanaman agar tumbuh baik, dengan memberikan apa yang dibutuhkan tanaman itu. Hasil tukang kebun, biasanya, akan lebih besar dari aslinya.

Tukang kayu memahat kayu sesuai keinginannya, dengan membuang bagian yang tidak sesuai. Hasil tukang kayu, biasanya, akan berkurang dari aslinya.

Timbul Tenggelam Pemeran “Ghostbusters” dan “YouTuber” Kondang di Twitter

Komedian Leslie Jones kembali ke jagat Twitter. Sebelumnya, Jones sudah dua kali merajuk dan hengkang dari platform mikroblog berlogo burung tersebut.

Undur diri Jones pertama kali terjadi pada Juli lalu. Kala itu performa Jones di film Ghostbusters dikatakan buruk oleh blogger teknologi, Milo Yiannopolous, via Twitter.

Yiannopolous juga melontarkan kicauan-kicauan bernada rasis terkait warna kulit Jones. Sang komedian agaknya tak tahan dan pamit dari Twitter.

Baca: Aktris Ghostbusters Ngambek, Akun Selebtwit Ini Diblokir Selamanya

Saat itu Twitter membela Jones dan memblokir Yiannopolous. Alhasil Jones kembali berkicau, sebagaimana dilaporkan Gizmodo dan dihimpun KompasTekno, Senin (5/9/2016).

Selang beberapa waktu, situs Jones diretas oleh kelompok yang identitasnya belum diketahui. Foto-foto bugil Jones beredar di ranah maya bersamaan dengan foto paspor dan lisensi mengemudinya.

Kejadian itu ramai dibahas di Twitter dan kembali memicu Jones untuk angkat kaki dari layanan tersebut. Sebelas hari menghilang dari radar Twitter (23 Agustus sampai 3 September), Jones akhirnya kembali muncul pada Sabtu lalu.

Tidak diketahui apa alasan kembalinya Jones ke dunia Twitter. Yang pasti, kicauan pertamanya pasca hengkang membahas soal serial televisi bergenre komedi, The Golden Girls. Leslie mengaku sangat menyukai tayangan tersebut.
Follow
Leslie Jones ✔ @Lesdoggg
I love Golden Girls!
1:46 AM – 4 Sep 2016
1,088 1,088 Retweets 6,614 6,614 likes

YouTuber kondang juga diblokir

Kebebasan beropini di Twitter sangat dijunjung tinggi. Meski demikian, lambat laun kebebasan itu dirasa perlu memiliki batas.

Beberapa kali Twitter memblokir akun pengguna karena kicauannya bernada kasar. Terakhir, Twitter juga sempat memblokir YouTuber kawakan Felix Kjellberg alias Pewdiepie dari platform-nya.

Akun @pewdiepie dijegal setelah ia melontarkan kicauan guyonan yang berkaitan dengan organisasi radikal ISIS. Pewdiepie mengatakan akun Twitternya tak diverifikasi karena ia dan temannya baru bergabung dengan ISIS.

Follow
Felix Kjellberg 🌐 @pewdiepie
Me and @Jack_Septic_Eye have joined isis. Which is why we both got unverified.
12:41 AM – 31 Aug 2016
8,024 8,024 Retweets 41,064 41,064 likes
Pasca diblokir, Pewdiepie mengatakan di channel YouTube-nya bahwa kicauan tersebut hanya sebuah kelakar. Intinya ia kesal dengan sistem verifikasi akun di Twitter yang dinilai absurd.

Saat ini akun Twitter Pewdiepie sudah kembali berkicau. YouTuber tersebut tampaknya telah berdamai dengan Twitter, meski akunnya tetap belum terverifikasi.

DJI Osmo Mobile, Tongkat Peredam Goyangan untuk “Smartphone”

DJI, pabrikan drone seri Phantom, memperkenalkan produk handheld stabilizer bernama Osmo Mobile yang khusus ditujukan untuk smartphone.

Berbentuk tongkat, Osmo Mobile bisa digunakan untuk mengambil foto atau video bebas goyangan dengan smartphone berkat stabilisasi gimbal 3-axis dan teknologi SmoothTrack DJI.

Ada juga fitur ActiveTrack yang bisa membuat layar smartphone senantiasa menghadap pengguna untuk merekam video selfie lewat aplikasi DJI GO App yang terpasang di smartphone.

“Anda tak lagi harus memilih antara merekam momen atau terlibat di dalamnya,” sebut DJI mengenai Osmo Mobile, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari PetaPixel, Senin (5/9/2016).

Selain menyambungkan ponsel ke Osmo Mobile, aplikasi DJI Go App juga menyediakan berbagai macam parameter pengaturan gambar seperti ISO, shutter speed, dan White Balance.

Aplikasi ini turut digunakan sebagai pusat pengendali Osmo Mobile. Melakukan double tap pada layar, misalnya, akan mengembalikan posisi gimbal ke tengah, sementara triple tap akan mengganti kamera mana yang aktif, depan, atau belakang.

DJI Osmo Mobile bisa digunakan bersama sebagian besar smartphone berbasis Android dan iOS yang lebarnya antara 5,8 cm hingga 8,4 cm. Di pasaran internasional, produk tersebut telah tersedia dengan harga 299 dollar AS atau sekitar Rp 3,9 juta.