Jalan Setapak………Getaran Segitiga Bermuda di Banten

citamanPerjalanan saat itu angin membawaku kembali ke  suatu tempat yang merupakan salah satu situs cagar budaya di Propinsi Banten, yaitu Kolam pemandian mata air Citaman yang terletak di Kampung Cigadung, Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang.  Continue reading

Posted in Cerpen ngawur gogoblogan | Leave a comment

Bakir……….

Alkisah disebuah dusun ditengah hutan yang jauh dari pusat pemerintahan Kota, terdapat sebuah rumah yang sangat sederhana. Adalah Bakir, seorang suami dari Siti ambar yang pekerjaan sehari-harinya hanyalah seorang pemburu Ayam Hutan. Mereka hidup damai didusun yang yang dikelilingi hutan dan lindungi sebuah gunung yang tak terlalu besar ini. Gunung yang indah dan rimbun,  dipenuhi dengan ribuan pepohonan tua dan pohon salak ini adalah tempat yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai Gunung sakral, dan tidak boleh dimasuki oleh siapapun. Bakir dan istrinya Siti Ambar tinggal dirumah yang paling berdekatan dengan gunung ini, tak ada rumah lain setelah rumah Bakir. Rumah ini adalah ujung batas dusun dengan Gunung terlarang. Meskipun rumahnya paling dekat dengan gunung, Bakir bukanlah seorang Kuncen atau Juru kunci dari Gunung yang penuh dengan misteri ini, ia hanyalah seorang rakyat biasa yang kasta nya jauh dibawah tetua adat. Mbah Leuweung, seorang kakek tua dengan perawakan agak gemuk dengan jenggot menyentuh dada yang menjadi Tetua, sekaligus Kuncen dari Gunung ini, namun entah mengapa rumahnya justru yang paling jauh jaraknya dari gunung ini, Rumah pertama didusun Ranca Alas ini.lereng

Setiap pagi Siti ambar bangun lebih awal dari suaminya, untuk mencuci pakaian di sumur yang letaknya terpisah dibelakang rumah panggung ini, lalu dilanjutkan dengan pekerjaan lain seperti halnya ibu rumah tangga lainnya. Meskipun Siti Ambar berpakaian seadanya, bahkan termasuk kategori tidak layak, namun pesona wanita ini tidak dapat hilang hanya dengan Sandang lusuh yang di kenakannya itu, gemulai cara berjalan dan berbicara sangatlah bertolak belakang dengan pakaian yang dikenakannya, mesti memang seperti rakyat jelata lainnya penampilan wanita ini sangatlah tak ter urus.

Pada saat kokok ayam Hutan melengking dari dalam hutan, dan matahari baru kelihatan  sinarnya seperti garis tipis membentang diujung penglihatan, Bakir terbangun dari tidurnya yang lelap. Disebuah tempat tidur yang terbuat dari bambu dan dialasi 4 lembar kain ini,  dijadikan Bakir dan sang istri sebagai tempat melepas lelah dan tempat dimana mereka dapat mengekspresikan cintanya satu sama lain. Seperti layaknya disetiap pagi sebelumnya, Bakir pergi mandi lalu dilanjutkan untuk duduk didepan rumah sambil meminum air teh hangat yang telah disiapkan oleh istrinya. Sambil meminum teh hangat, bakir menyiapkan alat-alat berburunya, ada tali perangkap, sebilah pisau dan sebilah Golok yang sedang ia asah dengan menggunakan batu kecil dalam genggamannya. “Berangkat berburu hari ini pak?” tanya lembut sang istri kepada suaminya. “Iya nong, mudah-mudahan dapat banyak  ayam hutan hari ini, supaya bisa ditukar dengan beras dipasar”, jawab sang suami. “Inikan hari selasa pak” Istrinya lalu menjelaskan bahwa setiap hari selasa di awal bulan didusun ini biasa diadakan acara Sabung ayam. Sabung ayam merupakan salah satu acara hiburan didusun ini, di acara ini banyak sekali warga-warga lain dari luar dusun berdatangan, acara sabung yang hampir menjadi seperti sebuah pesta rakyat rutin diadakan setiap hari selasa di setiap awal bulan. Namun Bakir mungkin satu-satunya lelaki didusun ini yang termasuk jarang sekali bergabung, ia tidak tertarik dengan meriahnya acara Sabung ayam serta makanan dan minuman gratis yang disajikan oleh Tetua dusun selama acara ini berlangsung. “Ya sekali-sekali bergabung lah pak, Gak enak sama Mbah Leuweung, takut ditegur lagi”, sang istri sambil menyuguhkan buah sukun yang baru saja selesai digoreng. Mendengar perkataan dari sang istri Bakir hanya tersenyum sambil terus mengasah goloknya seperti menghiraukan.

Selesai mempersiapkan alat-alatnya Bakir pun pamit pada sang istri untuk berangkat berburu ke Hutan, namun pada saat baru saja beberapa langkah dari rumahnya, terlihat Mbah Leuweung beserta dua anak buahnya memanggil dari jauh, “Hey Bakir, mau absen dari acara dusun lagi ya kamu”, tegur salah seorang anak buah tetua adat kepada Bakir, bakirpun menghentikan langkahnya dan menunggu ketiga orang itu mendekatinya. “Selamat pagi Mbah Leuweung, Kang” Bakir sambil sedikit menundukan kepala kepada ketiga orang itu. Bakir menjelaskan dengan sopan bahwa ia meminta maaf bahwa ia tidak dapat menghadiri acara dusun karena persediaan beras rumahnya sudah hampir habis, untuk itu ia harus berburu untuk nantinya ditukar dengan beras dipasar. Mendengar hal itu Mbah leuweung mengelus janggutnya dengan tangan kiri, dan menyuruh salah satu anak buahnya memberi sekantung beras yang mereka bawa kepada Bakir, “Sudahlah Bakir, beberapa kali aku mengajakmu untuk menjadi anak buahku, hidupmu akan jauh lebih baik”, Ki Leuweung berkata berbarengan dengan disodorkannya sekantung beras oleh anak buah Ki Leuweung. Namun Bakir menolak pemberian itu, ia pun menolak ajakan Ki Leuweung untuk menjadi salah seorang anak buahnya. Dari samping rumah Siti Ambar melihat Bakir dan ketiga orang itu sambil tersenyum menganggukan kepala kepada Ki Leuweung, Ki Leuweung pun balas setengah mengangguk sambil mengelus-elus jenggotnya. “Lihatlah istrimu Bakir, apa kamu tidak mau hidup istrimu itu lebih senang” ucap sang Tetua adat. Ki Leuweung menuturkan bahwa pada acara kali ini akan ada  tamu rombongan dari kerajaan, Sang pangeran dari kerajaan akan hadir sekaligus akan menarungkan ayamnya. Untuk itu semua warga dusun diharuskan hadir tanpa terkecuali. Untuk mencegah perdebatan yang mengarah ancaman terhadap keluarganya, akhirnya Bakir menyetujui untuk nanti hadir di acara tersebut. Ia pun kmbali ke dalam rumahnya, dan ketiga orang itupun meninggalkan kediaman Bakir.

“Maap pak, aku hanya mau tanya, kenapa beras pemberian Tetua adat tidak diterima saja tadi, kan beras kita sudah hampir habis pak” taya sang istri, Bakir lalu menjawab istrinya dengan nada bijaksana, bahwa hidup mereka sudah susah, tak perlu ditambah kesusahannya dengan menerima sekantung beras yang artinya nanti mereka akan berhutang budi pada Ki Leuweung, istrinya pun mengerti maksud sang suami dan tak mendebatkan masalah itu lagi.

Setelah selesai berganti pakaian, Bakir dan istri berangkat menuju Lapangan Balai desa untuk menghadiri pesta rakyat dusun Ranca Alas ini. Bakir mengenakan Baju hitam tangan perempat dengan ikatan kain dikepala, sedangkan Siti Ambar mengenakan kebaya lusuh dengan kain dibagian bawah. Sesampainya dilokasi yang di tuju, istri Bakir tampak senang melihat kerumunan warga yang tampak menikmati hidangan dari Sang Tetua dusun. Dibawah pohon waru terdapat Meja-meja yang diatasnya terdapat hidangan-hidangan. Disisi lain pohon waru ada  satu meja dimana gentong kayu besar berisikan Tuak lengkap dengan gayung dari batok kelapa untuk mengambilnya, semua warga merasa senang dengan hal ini termasuk Siti Ambar. Kecuali Bakir, raut wajahnya menggambarkann kehampaan, tidak ada rasa tertarik terhadap hidangan-hidangan didepan matanya, meski sangat jarang bahkan belum pernah ia temukan makanan dan minuman sejenis itu berada dalam rumahnya.  “Pangeran datang, pangeran datang” bisik-bisik riuh para warga terdengar. Kemudian iring-iringan kerajaan terlihat datang dari ujung jalan dusun ini. Dua kuda mengawal iring-iringan ini, sedangkan pangeran berada dibarisan kedua setelah pengawal tadi. Sebuah tontonan tak lazim di dusun ini, iring-iringan kerajaan lengkap dengan pakaian dan pengawal yang gagah membuat mata warga dusun terbelalak, belum lagi suara bisikan-bisikan wanita warga yang mengagumi kegagahan pangeran kerajaan. Ki Leuwung pun menyambut rombongan dengan ramah, lalu mempersilahkan rombongan untuk duduk dan menikmati hidangan yang telah disediakan. Keadaan kembali seperti sebelumnya, hanya saja memang Sang Pangeran menjadi bahan perhatian karena kegagahannya, sampai salah satu pengawal mengeluarkan ayam jago milik pangeran dari sebuah peti yang terbuat dari kayu jati yang luarnya terdapat ukiran-ukiran lambang kerajaan yang terlihat mewah sekali. Brakkk… ayam jago keluar meloncat dari peti kayu dan langsung mengepak-ngepakan sayap yang suaranya seperti suara kampak menghantam batang pohon, ayam yang sangar dan gagah, pastilah begitu karena ayam ini merupakan ayam kesayangan pangeran. Sang Pangeran pun berdiri dan mengumumkan ke semua yang hadir, bahwa ayam siapa saja yang mampu mengalahkan ayamnya akan diberi hadiah 1kg emas perhiasan. Mendengar hal itu riuh warga terdengar, semua orang pasti sangat menginginkan hadiah itu, sedangkan Bakir tetap tak bergeming menemani istrinya mengicip hidangan.

Mendengar pengumuman dari pangeran, Tetua adat mengeluarkan ayam jago miliknya yang belum pernah terkalahkan sebelumnya, Ayam yang matanya terlihat kosong namun dingin, ayam tetua adat terkenal sadis menghabisi musuhnya, bahkan ada yang bilang, ayam tetua adat pernah menghabisi lawannya hingga terkapar mati, lalu ayam itu memakannya. Mendengar bocoran kehebatan ayam Tetua adat, Sang pangeran terlihat semakin bersemangat, lalu memerintahkan pengawalnya untuk membuka sebuah kotak, yang isinya penuh dengan perhiasan emas. “Wahai Ki Leuwung, bila ayammu bisa mengalahkan ayamku, maka perhiasan emas ini semua jadi milikmu” Sang Pangeran berkata kepada Ki Leuweung, dan akhirnya disepakati bahwa pertandingan akan segera dimulai setelah selesai menyantap hidangan makan siang yang telah disediakan itu.   ===Bersamboeng===

Pada saat menyantap hidangan, Ki Leuweung bertanya pada sang Pangeran, “Wahai paduka Pangeran, bilamana ayamku yang kalah, apa yang paduka minta”, mendengar hal itu Pangeran berpikir sejenak, karena sebagai pangeran semua kebutuhan dan keinginan sudah ia dapatkan, lalu pangeran berbisik pada pengawalnya untuk menanyakan masalah ini, “Bila ternyata ayamku kalah, kamu harus memberi 10 orang laki-laki dari anak buahmu ataupun warga, untuk ikut bersamaku menjadi abdi kerajaan”. Lalu Tetua adat menyanggupinya, ia akan memberikan 10 orang laki-laki untuk dibawa menjadi abdi kerajaan bila ternyata ayamnya kalah.

Waktu pertandinganpun telah tiba, kedua ayam dipersiapkan oleh botoh andalannya masing-masing, kedua botohpun mendekatkan ayam-ayamnya, namun siapa sangka, ayam Pangeran yang gagah itu malah tidak mau bertarung. Pangeran pun berdiri dari tempat duduknya, kejadian memalukan terjadi. Tak pernah ayamnya tidak mau bertarung seperti ini, ayam yang di Nomor satukan diseluruh wilayah kerajaan tidak mau bertarung di Dusun peloksok gunung, pangeran tampak kesal dan marah pada sang botoh.  Disaat pangeran menegur sang botoh, ayam pangeran malah menghampiri Bakir yang sedang duduk di bawah pohon, ayam itu memutar-mutar Bakir sambil meneledeng-neledeng lalu berkokok. Bakir pun memegang ayam itu dan mengelus-elusnya. Kemudian sang botoh menghampiri dan mengambil ayam itu, ia mencoba lagi mendekatkan ayam pangeran kepada lawan, namun kejadian sama tetap terjadi, ayam pangeran malah pergi dari arena dan menyatroni Bakir yang sedang duduk dibawah pohon. Pangeran menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sangat kesal dan malu akan kejadian ini. Lalu pangeran menyuruh dua orang pengawal untuk pulang ke kerajaan mencari ayam pengganti.

Ayam pangeran tetap memutar-mutar Bakir, lama kelamaan Bakir penasaran kepada ayam ini, ia menangkapnya lalu mengelus-elus nya, Sang Botoh yang frustasipun duduk lemas disamping Bakir. “Sial benar nasib saya, bisa dihukum saya bila nanti pulang ke kerajaan” Sang botoh bergumam. Bakirpun menimpali “Ada apa wahai botoh kerajaan?”, lalu botoh itu menceritakan bahwa ayam Nomor satu di Kerajaan ini tidak mau bertarung, sungguh kejadian yang aneh. Bakir tidak mengerti masalah adu ayam, melihat adu ayampun ia sangat jarang, ia terus mengelus elus sambil memandangi ayam itu, ayam yang gagah dan sangar, Bakir sedikit tidak percaya ayam gagah seperti ini tidak berani bertarung. Melihat keadaan sang Botoh, Bakir merasa kasihan, pasalnya sang Botoh akan dihukum 4 tahun dikurungan oleh Pangeran hanya karena kesalahan yang belum tentu ia lakukan. “Wahai Botoh, bolehkah saya mencoba mendekatkan ayam ini ke lawan?” sang botoh pun mempersilahkan Bakir melakukannya. Pada saat suasana ricuh karena ayam rombongan kerajaan tidak berani bertarung, Bakirpun menenteng ayam Pangeran lalu mendekatkan ayam tersebut kepada lawannya, tak disangka….ayam Pangeran jadi beringas dan berusaha lepas dari tangan Bakir, seperti ingin segera menghabisi lawannya. Sang botoh yang frustasi dan duduk dibawah pohon seketika berdiri dan berlari mendekati Bakir, sang botoh kaget sekaligus girang, pada saat botoh membalikan badan untuk memberitahu Pangeran, ternyata pangeran sudah lebih dulu melihat hal ini. Pangeran mendekati Bakir dan ayam itu lalu bertanya “Siapa kamu wahai kisanak?”, “Maaf Pangeran, nama hamba Bakir”, “Apakah kamu seorang Botoh wahai Bakir?”, “Mohon maaf Pangeran, bukan, hamba hanya seorang pemburu”. Kemudian Pangeran memerintahkan pengunjung untuk kembali mengosongkan arena, dan memerintahkan Bakir untuk memegang ayamnya sebelum diadu. Botoh lawanpun kini siap melepaskan Jagoannya, begitupun dengan Bakir. Pada saat kedua ayam dilepaskan, pertarungan pun terjadi, ayam pangeran yang tidak mau bertaung, ditangan Bakir ayam itu jadi beringas, bahkan lebih beringas dari sebelumnya, kini wajah pangeranpun kembali ceria, dan sang Botohpun tidak jadi dihukum karena ayam pangeran kini jadi bertarung.

Kecepatan melontarkan pukulan ayam Pangeran mengundang decak kagum para warga, pukulan demi pukulan dilontarkan oleh ayam pangeran, dengan Taji nya yang runcing beberapa kali mengenai leher dan kepala ayam Ki Leuweung. Ayam Ki leuweung seperti tak mempunyai kesempatan untuk memukul, namun disaat ayam Ki Leuweung terus dihujani pukulan dan Taji, ayam tersebut malah diam berdiri tegak dan berkokok dengan lantang sementara ayam Pangeran terus mencoba menghujaninya dengan Pukulan.

Satu keanehan terlihat, meskipun beberapa kali ayam Ki Leuweung ditikam oleh Taji ayam pangeran, tapi tak setetespun darah yang keluar dari kulitnya, ia tetap tenang dan dingin mencari kesempatan untuk memukul. Dan pada saat itu tiba, saat ayam Pangeran lengah ayam Ki Leuweung langsung memanfaatkannya untuk memukul, pukulan sangat keras sekali, tepat di kepala ayam Pangeran, ayam pangeranpun terpental jauh sekali, tanah dimana tempat jatuhnya ayam Pangeranpun terlihat cekung, bulu-bulu ayam Pangeranpun lepas beberapa karena tergesek dengan tanah. Ayam Pangeran tidak begitu saja runtuh, karena kedua ayam ini bukan merupakan ayam “biasa”, melainkan ayam yang telah diisi dengan ajian-ajian ilmu kanuragan dari kedua pemiliknya. Ayam pangeran sambil terengah engah mencoba berdiri, dengan bulu di pinggang kirinya nyaris hilang seluruhnya, matanyapun berubah menjadi merah, lalu kembali berlari menyerang lawan, kadua ayampun melompat saling bertabrakan sehingga menimbulkan bunyi menggelegar, debu  dari tanahpun berhamburan, sungguh pertempuran yang sangat dahsyat yang tak pernah terjadi sebelumnya. Bakir dan sang istripun terpana melihat adu ayam yang tak lazim ini, Bakirpun memerintahkan istrinya untuk pulang terlebih dahulu, karena ia khawatir bila terjadi hal yang tidak-tidak ditempat ini.

Pertempuran dahsyat masi terus berlangsung, kedua ayam saling serang, bunyi-bunyi menggeretak geretak terdengar diantara debu yang berterbangan di arena ini. Kini ayam Ki Leuweung mulai kewalahan menerima pukulan-pukulan dari ayam Sang Pangeran, ditarinya bahu ayam Ki Leuweung lalu dipukul dengan keras, sekali, dua kali, tiga kali pukulan mendarat dibahu kanan ayam Ki Leuweung, “Brakkk…Brakkk…Brakkk….suaranya menggema di seluruh arena”, rupanya bahu ayam Ki Leuweung tak mampu menahan pukulan yang begitu keras, sehingga sayap kanannya patah terlepas, terpental jauh keluar lapangan balai desa. Darah dari bahu kanan ayam Ki Leweung pun menyembur keluar membasahi lapangan balai desa. Sorak sorai rombongan kerajaan pun sangat riuh, sambil berteriak “Hidup SonggoBumi….” Yang tak lain adalah nama dari ayam milik Pangeran. Melihat ayamnya yang mengucurkan darah, Ki Leweung tampak kesal, namun ia belum menyerah, ia tidak mau menghentikan pertandingan ini, dengan hanya menggunakan satu sayap, ayam Ki Leuweung hanya mampu berdiri dan menerima serangan-serangan dari SonggoBumi, setiap pukulan yang dilontarkan SonggoBumi disitu pula darah segar tersembur dari ayam Ki Leuwueng, seketika itu pula tontonan menjadi tidak mengasyikan lagi, tontonan berubah drastis menjadi kejadian mengerikan, dimana darah segar tersembur kemana mana, dibarengi dengan terpentalnya bagian-bagian tubuh lain dari ayam Ki Leuweung yang akhirnya tergeletak tak bernyawa tanpa sayap dan tanpa kepala.

Tetua adat pun kalah dan memberikan 10 anak buahnya untuk ikut rombongan kerajaan, dan pangeran pun pamit untuk kembali ke kerajaannya, ia sangat berterima kasih kepada Bakir yang sedang gemetar melihat pertandingan ayam semacam ini. Namun  Lagi-lagi Bakir menolak pemberian hadiah dari Pangeran, ia  hanya duduk kaku dibawah pohon sambil gemetar. Seperginya rombongan kerajaan dan warga sekitar, Bakir ditangkap dan di ikat oleh centeng-centeng Ki Leuweung, ia sangat marah kepada Bakir, dan menuduh Bakir menjadi penyebab kekalahan ayamnya. Bakir di ikat dan ditutup kepalanya dengan kain, lalu diseret menuju rumahnya, sesampainya didepan rumah Bakir, centeng-centeng dan Ki Leweung tidak berhenti, rupa-rupanya mereka tidak bermaksud memulangkan Bakir, melainkan membawa Bakir ke arah Gunung yang terlarang itu. Melihat suaminya diikat, Siti Ambar mengejar rombongan itu, ia berteriak teriak akan dibawa kemana suaminya, dan memohon ampun pada tetua adat. Namun Tetua adat tak menghiraukan, ia malah mendorong Siti Ambar kedalam parit hingga terjatuh. Tangisan Siti Ambar mengundang perhatian warga dusun, ia meronta ronta meminta tolong sambil menangis, namun tak satupun warga dusun berani menolongnya, karena takut akan Ki Leuweung. Warga sekitar hanya menolong Siti Ambar, memapahnya berjalan kedalam rumah, sementara Ki Leweung beserta antek-anteknya terus masuk kedalam hutan Gunung itu. Sesampainya dilereng gunung, Bakir dilepaskan dari tutup kepalanya, tapi sedikitpun Bakir tak memohon dan mengemis untuk kebebasannya, karena ia berteguh pendirian bahwa dirinya tidak bersalah. Kemudian dilereng Gunung, Ki Leuweung membacakan mantra dan seraya menghentakan tongkatnya ke dinding batu, tak lama suara gemuruh terdengar, kemudian dinding batu terbelah.  Bakir lalu dimasukan ke dalam dinding yang terbelah, lalu Ki Leuweung menghentakan tongkatnya sekali lagi dan akhirnya dinding batu kembali menutup rapat. Bakir terperangkap, di pasung didalam dinding batu Gunung yang terjal. Ki Leuweung memasung badan Bakir, hanya kepala Bakir saja yang terlihat dari luar, namun tangan dan seluruh tubuhnya berada didalam dinding batu. Ki Leuweung sengaja tidak membunuh Bakir, karena agar warga dusun tahu, bahwa inilah contoh bagi warga yang melawan Tetua adat. Saat rombongan Ki Leuweung mulai berangkat pergi meninggalkan Bakir sendirian di Lereng Gunung, Bakir berteriak, bahwasanya “Kelak Kamu akan menemukan seseorang yang akan menghancurkanmu Wahai Ki Leuweung”. Mendengar hal itu Ki Leuweung dan antek-antekya tertawa mengejek. Sungguh malang Nasib Bakir, jangankan untuk berdiri, untuk menggerakan badan saja ia tak bisa melakukannya, dengan wajah menengadah ke atas, ia hanya bisa menggerakan kepalanya kekiri dan ke kanan, ia menyadari bahwa ia hanya akan kuat beberapa hari, sampai ahirnya dia akan mati.

Malampun tiba, hujan lebat menyelimuti. Istri Bakir menangis tiada henti dirumahnya, ia tidak mengetahui bagaimana nasib suaminya. Dan ia pun tak dapat melakukan apa-apa, karena kakinya terkilir parah pada saat jatuh ke parit.

Hujan mengguyur dengan lebatnya malam itu, kepala Bakir basah kuyup sambil sesekali tersedak karena air hujan yang masuk dari hidungnya, ia tidak dapat menggerakan kebawah, ia hanya bisa bisa menggerakan kepalanya kekiri dan kekanan, dimana air hujan terus mengguyur daerah tersebut. Penderitaan Bakir bertambah pada saat air dari atas gunung mengalir sangat deras dan jatuh tepat diwajah Bakir, ia pun meronta menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan nafas, dimana air terus mengalir dari puncak Gunung semakin lama aliran air dari atas semakin besar, Bakir pun ter-engah engah karena menahan nafas terlalu lama dan terlalu banyak pula air yang terminum. Beruntung air yang mengalir dari atas tak bertahan lama, yang tersisa hanya tetan-tetesan air, karena curah hujan mulai berkurang, hanya hujan gerimis, Bakir pun terkulai lemas sambil mengedip-ngedipkan matanya yang perih ditetesi gerimis hujan. Air menetes terus dari mata Bakir, entah apakah itu air dari hujan ataukah berasal dari air mata Bakir, yang pasti sesekali Bakir Berteriak teriak seperti kesakitan, yang teriakannya dapat didengar sampai seluruh kampung. Mendengar teriakan suaminya yang hampir terpecah oleh suara gemericik air hujan, Siti Ambar hanya dapat merayap dibale rumah panggung, sambil mencoba berteriak namun suaranya tak dapat keluar karena ia menangis terlalu dalam, lirih suara terdengar dari mulut Siti Ambar, “Suamiku….suamiku…..Lindungi suamiku Bakir ya Tuhan”………….

Semalaman Siti Ambar menangis di bale rumahnya, hingga tanpa ia sadari ia tertidur di bale rumahnya hingga pagi tiba. Ibu-ibu warga  dusun yang akan berangkat kesungai untuk mandi dan mencuci melihat Siti Ambar tidur tergeletak di bale panggung rumahnya, mereka merasa sangat iba melihatnya, lalu mereka menghampirinya dan menolongnya memapah masuk ke dalam rumahnya.

Tiga hari sudah Bakir terperangkap di lereng Gunung. Kondisi kaki Siti Ambar pun mulai membaik, ia mulai bisa  berjalan walaupun kaki kirinya masih sedikit pincang. Siti Ambar menyiapkan makanan dan minuman, ia pun meminta susu kambing ke tetangganya, ia mempersiapkan perbekalan untuk berangkat mencari suaminya, yang entah masih hidup atau sudah tiada, karena dihari kedua teriakan Bakir mulai tidak dapat didengar, hilang begitu saja. Dengan langkah pincang Siti Ambar berangkat mencari suaminya. Dengan terengah-engah ia lewati semak belukar menuju Gunung, sakit dikakinya seakan tak dirasa, demi menemukan suami tercintanya. Beberapa kali Siti Ambar terjatuh  diperjalanan, tapi ia tidak menyerah, ia terus mencari keberadaan suaminya, sampai ia di lereng Gunung lalu beristirahat duduk bersandar di dinding batu. Sambil terus merintih memanggil manggil nama suaminya, ia minum dan mencoba mengumpulkan tenaganya lagi, sampai ia mendengar tetesan air dari sisi kanan lereng gunung yang berada tak jauh di samping kanan nya. Siti Ambar kemudian berjalan menuju suara tetesan air itu, ia hendak mengisi tempat air minumnya yang sudah mulai habis. Betapa kagetnya Siti Ambar, rupa-rupanya tetesan air tadi bukanlah tetesan air dari sumber air gunung, melainkan tetesan air mata Bakir yang mendengar rintihan-rintihan istrinya. Siti Ambar pun memeluk kepala suaminya yang tingginya sekitar hanya satu meter dari atas tanah, istrinya menanyakan mengapa suaminya tidak memanggilnya bila tahu bahwa dirinya berada dibalik sisi lereng. Bakir memaparkan, kenapa ia tidak memanggilnya dan berhenti berteriak dihari kedua, karena Bakir menyadari, tak ada yang dapat membebaskannya dari himpitan lereng batu Gunung ini, Bakir lebih memilih diam menunggu ajalnya, dan ia pun berharap agar istrinya menyangka bahwa ia telah tiada. Betapa senangnya hati Siti Ambar yang menemukan suaminya, ia meminumkan susu kambing yang ia bawa kepada suaminya. Pada awalnya Bakir menolak untuk makan dan minum, karena ia ingin cepat menghadap sang pencipta, dibanding tersiksa terpasung di lereng Gunung. Namun Siti Ambar memberi tahu bahwa dirinya tengah mengandung, untuk itu Bakir harus tetap bertahan hidup biarpun harus terpasung dilereng Gunung, agar anaknya dapat bertemu dengan ayahnya kelak.

Hari demi hari pasangan suami istri ini lalui, setiap hari Siti Ambar mengantarkan susu kambing untuk suaminya di lereng Gunung. Sampai suatu hari Siti Ambar berhenti mengunjungi Bakir, ia pun mulai berteriak-teriak lagi dari lereng Gunung, ia bertanya tanya kemanakah istrinya, mengapa ia tidak mengunjunginya lagi. Untuk terus bertahan menyambung hidupnya, Bakir makan binatang-binatang yang merayap mendekati dirinya, cicak, kecoa bahkan lintah menjadi menu makannya setiap hari. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan bertemu bulan Bakir lalui di lereng gunung. Ia sudah tidak dapat mengingat berapa lama ia terpasung di lereng Gunung. Wajah bakir sudah tidak terlihat seperti kulit manusia pada umumnya, tertempa oleh ganasnya cuaca di pegunungan ini. Rambut Bakir panjang kebawah seperti akar pohon yang merambat didinding batu yang sudah banyak tertutupi lumut. Namun Bakir masih hidup dan bernafas sebagai  manusia.

Di suatu pagi, Bakir terbangun oleh hangatnya sinar mentari yang menyorot wajahnya, lalu seakan mendengar teriakan-teriakan anak kecil ditelinganya, Bakir berpikir, mungkin ia sedang dalam proses kematian. Pada saat Bakir menoleh ke samping, dihalangi silaunya matahari, ia melihat sosok anak kecil mendekati dirinya. Seorang anak laki-laki gagah dan ganteng, yang kemudian disusul oleh kedatangan seorang wanita, wanita itu adalah Siti Ambar, istrinya yang telah berhenti mengunjunginya lama sekali, delapan tahun Siti Ambar memberi tahu kepada Bakir. Selama delapan tahun Siti Ambar dikurung dirumah Tetua adat, karena Ki Leuweung mengetahui bahwa Siti Ambar setiap hari mengantarkan makanan dan minuman ke  lereng Gunung. Selama delapan tahun Siti Ambar menghabiskan waktu di lingkungan rumah Tetua adat yang pagarnya selalu dijaga ketat oleh centeng-centengnya. Namun hari itu Siti Ambar dan putranya dibebaskan, karena Ki Leuweung mengira Bakir telah tiada. Ki Leuweung sengaja mengeluarkan mereka agar mereka tersiksa melihat tengkorak Bakir di lereng Gunung, namun Ki Leuweung salah, Bakir masih bernafas hingga saat istri dan putranya dibebaskan.

Hari hari dilalui Bakir bersama keluarganya, mulai saat itu istri dan anak nya rutin mengantarkan makanan dan susu ke lereng gunung. Hingga putra Bakir yang diberi nama Arya Geni tumbuh menjadi pemuda barbadan tinggi dan gagah. Disenin pagi pada saat Arya Geni bersama ibunya mengunjungi Bakir, Bakir mengucapkan permintaan yang sangat tidak mungkin dapat dikabulkan oleh Anak dan istrinya, yaitu untuk memenggal kepala Bakir. Karena tubuh Bakir sudah semakin rapuh, ia mengungkapkan bahwa dirinya sudah merasakan sakit yang sangat, dan ia sudah tidak kuat lagi tersiksa terpasung dilereng Gunung. Mengetahui hal itu Arya Geni menemani ayahnya siang dan malam di lereng Gunung, betapa sedihnya Arya melihat ayahandanya sering merintih kesakitan, namun ia tak kuasa untuk membunuh ayahnya sendiri. Sampai suatu hari Bakir menjerit-jerit kesakitan, sakit yang sudah sangat menyiksa, lalu Arya bergegas menemui Ibunya dan menceritakan apa yang terjadi pada ayahnya. Arya dan Siti Ambar kemudian bergegas kembali ke lereng gunung, mereka melihat Bakir meronta kesakitan, dan menyuruhnya memenggal kepala Bakir dengan segera. Dengan tangan gemetar Arya mencabut sebilah Golok dari belakang punggungnya, lalu bersimpuh dikaki ibundanya, memohon ampun dan memohon saran. Siti Ambar tak kuasa melihat penderitaan suaminya, ia pun menyuruh putranya Arya Geni untuk segera memenggal kepala ayahnya. Dengan isak tangis dan perasaan iba melihat penderitaan ayahnya, Arya mengayunkan Goloknya yang tajam dan menghujamkannya keleher Ayahandanya hingga terputus. Melihat kepala ayahnya terjatuh ke tanah Arya berteriak-teriak, teriakan yang lebih keras dari Bakir ayahnya, hingga membuat kaget seluruh warga dusun Ranca Alas. Arya dan Siti Ambar kemudian menguburkan kepala ayahnya dilereng Gunung, dengan kejadian ini, warga dusun Ranca Alas menamai gunung ini sebagai “Gunung Bakir”.

Posted in Cerpen ngawur gogoblogan | Leave a comment

Mang Ujer

ujer

Perkenalan

Dalam suatu kampung, pinggiran Kota impian, Adalah mang Ujer mereka menyebutnya. Penampilannya bak kebanyakan warga pada umumnya, hanya saja ada yg sedikit lain bila dilihat dengan seksama. Sehelai bulu ayam selalu terlihat menempel di sela-sela sabuk hijaunya. Bulu ayam ini adalah satu benda yang sangat penting bagi se-orang botoh, yang fungsinya untuk mengeluarkan lendir dari dalam kerongkongan ayam, pernah juga saya melihat darah yg menempel dibulu tersebut pada saat mang Ujer mengeluarkan bulu tersebut dari mulut ayam. Disuatu pagi pada saat saya berangkat bekerja, dan kebetulan rumah Mang Ujer berada tepat di depan kontrakanku, rumahnya tampak sederhana nan terlihat nyaman itu, ia sedang memegang megang ayamnya, ia mengelus bagian kepala sampai leher, lalu pinggang, sampai kebagian kaki. Sepintas lalu saya hanya tertawa dalam hati, kok ada yah orang seperti itu, sampai begitukah ia memperlakukan ayamnya…….. Pagi-pagi dan 5 pagi berlalu, tapi Mang Ujer masih melakukan hal yang sama pada ayamnya, tapi ada suatu pagi saya sedikit terlambat berangkat bekerja, pagi itu mang Ujer tidak ada di tempat biasanya, hanya terlihat ayamnya yang basah kuyup di dalam kurungan ayam yang terbuat dari bambu yang sedang disinari oleh sinar matahari pagi. Dan pada pagi itu saya berhenti sejenak, hanya untuk berpikir tentang perbedaan dari pagi-pagi yang sebelumnya. Hari sabtu adalah hari libur bagi buruh seperti saya, kadang saya melewatkannya hanya dengan tidur puas dirumah untuk istirahat, tapi ada kalanya saya keluar rumah dengan banyak menelusuri jalan-jalan dan tempat tanpa tujuan. Satu hal yang pasti, saya akan tau apa saja yang saya kerjakan di hari dan minggu-minggu kedepan, bukannya saya seorang yang punya indera ke-6, tapi memang begitulah kegiatan saya sebagai buruh, hari demi hari, minggu demi minggu dengan melakukan hal yang sama. Seperti Sebuah kereta yang melaju, mau tidak mau, suka tidak suka, kereta akan terus berjalan bolak balik di jalan dan waktu yang sama sampai ia tua dan tidak bisa melaju lagi. Hari libur telah lewat, dengan sedikit tergesa-gesa saya menyalakan sepeda motor untuk berangkat ke tempat bekerja, saya melihat Mang Ujer sedang duduk di bale-bale bambu depan rumahnya sambil bernyanyi siulan, wajahnya tampak cerah. Tanpa disadari saya tersenyum sambil mencoba menyalakan sepeda motor butut ini. 15 Menit berlalu tetapi Motor butut ini tak kunjung menyala. Penuh keringat putus asa, hari ini sepertinya saya tidak dapat berangkat bekerja, yang artinya hilanglah beberapa bagian gaji saya yang sangat terbatas itu. Sambil meminum air yang saya ambil dari dalam kontrakan, saya melihat Mang Ujer sedang menghisap dengan nikmat rokok kretek berwarna putih bergaris hijau dengan angkaa 234 itu, di depannya ada Secangkir kopi, lalu istrinya keluar membawakan goreng pisang di atas piring kaleng dengan senyuman yang lain dari biasanya, sayang hari ini saya tidak seberuntung kamu Mang, ucap saya dalam hati. Dari pada melamuni nasib dan membiarkan harumnya pisang digoreng dengan diselimuti tepung itu dingin, saya coba membuka percakapan dengan Mang Ujer. “Wah lagi santai nih Mang” ucapku, ia menjawab langsung “ia nih kang, sini kang mampir”, Alhamdulillah…dibalik kesulitan ternyata ada hikmahnya….. “Bu… Kopina Hiji deui”. “Muhun pak”, kata suami istri itu. “Rokok kang…….”, Mang Ujer sambil menyodorkan bungkus rokok. Biarlah para politikus saling berebut kursi, biarlah para artis dan ibu-ibu menggosip, semua aku tak perduli bila ada tawaran seperti ini. Dengan sedikit membuka kata kata, “wah lagi cair nih kayanya Mang Ujer”, dengan sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya dengan sigap, lalu dengan cepat saya menyalakanya……..malu tertutup dengan rokok berwarna putih bergaris hijau itu, dengan tulisan 234. Kapan lagi……. Pada saat saya menyeruput hangatnya kopi nikmat gratis dari istri Mang Ujer, “Huss…husss…” mang Ujer mengusir se-ekor ayam jantan kampung yang datang ke halaman rumahnya. “pengen ngopi juga kayaknya ya mang itu ayam”, saya sambil mengeluarkan kalimat bercanda, “hehehe…..iya tuh, bikin stress ayam saya nanti” Mang Ujer sambil menunjuk ayam jagonya yang dilepas di bagian samping rumahnya. Pada saat itu pula saya tersentak, melihat ayam jago kesayangan Mang Ujer yang selalu di elus-elus setiap pagi dan dimandikan itu penuh dengan luka di bagian mukanya, bagian atas kepalanya tampak botak tak berbulu, yang ada luka-luka dan terlihat darah kering disekitarnya. “Waduh kenapa ayamnya mang?” dengan nada penasaran sambil berdiri dan berjalan mendekati ayam jago tersebut. “Biasa kang, habis nyari duit itu, hehehhe…” Seru Mang Ujer. Lalu saya bertanya-tanya “Nyari duit? Maksudnya Mang?”. Mang Ujer: “Ya di adu atu kang”. Jujur, pada saat itu saya tidak tahu apapun tentang ayam, adu ayam, dan sabung ayam. Dari sinilah percakapan saya dan Mang Ujer tentang ayam Laga dimulai……….

Setelah tak terasa kurang lebih satu jam berlalu, sayapun sedikit banyak jadi tahu tentang ayam laga, singkatnya ayam Mang Ujer yang diberi nama Si Gondel itu telah memenangkan pertarungan, dan berhasil memberikan sejumlah uang untuk tuan nya yaitu Mang Ujer, uang yang lumayan banyak menurut saya, yang dihasilkan kurang dari satu jam. Bagi saya untuk menghasilkan uang sebanyak itu, harus bekerja selama berbulan bulan tanpa makan siang. Saya pun pamit ke Mang Ujer, “Buru-buru amat, saya kira libur hari ini” Mang ujer berucap. “Nggak Mang, motor saya ngadat”, sedikit pembicaraan tentang motor sayapun terjadi, dengan diahiri pinjaman uang dari Mang Ujer untuk memperbaiki motor. Sambil berjalan pulang saya berucap “Untuung ada kamu Gondel……….”. Jam 4 sore saya kembali dari bengkel motor, pada saat mematikan mesin saya lihat Mang Ujer sedang memberi makan ayamnya, Saya langsung mendatanginya untuk membantu, sekedar berbuat baik untuk membalas budi baiknya terhadap saya. “Sini pak saya bantu”, saya ambil sebuah ember dan membantu Mang Ujer membawakan se-ember air atas perintah Mang Ujer yang setengah tidak enak kepada saya. “Yuk kita kebelakang rumah” Seru Mang Ujer. Begitu kagetnya saya melihat keadaan halaman belakang rumah mang ujer, penuh dengan ayam yang berwarna warni bulunya. Ada kulihat sang betina sedang ditunggangi oleh sang jantan, yang hanya satu detik proses bercumbunya, ada pula kulihat ayam-ayam berukuran tanggung datang menyerbu kami. Mang Ujer mengaduk makanan ayamnya, lalu di berikannya ke ayam-ayam itu, suasana riuh menyelimuti…..ayam-ayam makan dengan lahapnya, sambil berebut satu sama lain dengan temannya. “Bau ya kang, maklum lah ya”, Mang Ujer sambil mencuci tangannya di keran didekat pintu dapur rumahnya. “Banyak banget Mang ayamnya, seneng saya melihatnya” spontan saya berkata sambil mencoba mengintip bagian kandang yang tertutup rapat. “itu kandang box untuk ayam-ayam muda yang baru beranjak dewasa, yah kayak kamu itulah” Mang ujer sambil tertawa kepadaku. “Ini ayam aduan semua Mang?” saya bertanya, Mang ujerpun menjawab “Bukan, ini ayam bangkok, ya kalau masalah di adu atau tidak kan terserah yang punya nanti” sambil tersenyum. Mang Ujer pun menceritakan tentang ternak ayam bangkoknya, dan tidak sedikit orang yang datang ke rumahnya untuk membeli ayam-ayam itu. Luar biasa ternyata penghasilan Mang Ujer, jauh dengan saya yang setiap hari harus berangkat pagi-pagi pulang petang. Disudut kandang saya melihat ada se-ekor ayam, jantan kliatannya, karena ada warna-warna lain di bagian leher dan pinggangnya, ekornya pendek, dan kelihatan seperti batang-batang sapu lidi. Ayam itu menatapku sebentar, lalu berlari karena ada ayam jantan lain berusaha mengganggunya. “Jangan lama-lama diliatin, nanti seneng lagi”, seru mang Ujer. Sedikit pertanyaan dalam pikiranku yang selalu kotor ini, kok ada yah yang mau membeli se-ekor ayam dengan harga segitu tinggi.

Oh iya saya sampai lupa memperkenalkan diri, Nama saya Joe, asal dari bagian timur jawa barat, dan paling barat dari jawa tengah. Sebenernya sih Orang tua memberi nama Ahmad Juhendi, Cuma ya biar keren aja dipanggil Joe, kurang ajar juga sih, tapi ya bingung juga sama orang tua kenapa gak ngasih nama yang keren gitu lho, peter, michael atau apalah. Ya sudah panggil saja Joe yah, usia masih di bawah 20 tahun. Kembali ke ayam…. Hari demi hari berlalu begitu pula dengan kedekatan saya dengan ayam bangkok, diluar kesadaran saya, saya mulai mencintai dunia ayam bangkok. Terlebih setelah saya diberi sepasang ayam bangkok dari Mang Ujer. Mulai dari sini, saya mulai mengurus ayam bangkok dengan ilmu yang didapat dari mang Ujer. Sampai pada saat ada keinginan saya untuk mengetahui sejauh mana ayam yang saya punya ini dapat berlaga, maka saya membawa ayam ini ke kampung sebelah. Di kampung ini, santer terdengar banyak sekali peng-Hobby ayam aduan. Sesampainya dikampung ini, dimana tidak ada satupun yang saya kenal, saya mendatangi kerumunan orang yang sedang bersenang-senang mengetes kehebatan ayamnya. “Disini bukan tempat sabung ayam mas, Cuma ngabar aja, kalau mau ngadu disana tuh di ujung jalan”, salah seorang berkata. Sayapun memberitahunya kalau saya Cuma mau abar saja, tidak mau taruhan. Selang beberapa waktu, ahirnya saya bisa bersosialisasi dengan mereka. Menjelang sore, giliran ayam saya mendapatkan lawan. Ayam yang gagah, badan berdiri tegap, dengan badan yg kelihatan kekar. Berhubung saya penasaran ingin tahu kehebatan ayam yang saya miliki, maka jadilah. Awal pertandingan berlangsung, ayam lawan sungguh luar biasa, pukul depannya seperti kampak yang menghantam batang pohon beringin. Jual beli pukulan, jual beli gaya tarung, dan jual beli kata-kata dari kami terjadi sangat pelik. Disinilah saya merasakan betapa “nikmatnya” hobby ayam laga. “Hajar terus Rudal!” kata-kata yang sering saya dengar dari riuhnya orang-orang. Rupanya ayam musuh bernama Rudal. Sedangkan saya kebingungan karena ayam saya belum mempunyai sebuah nama. Di antara riuhnya yel-yel menyemangati ayam yang sedang berlaga, terlintaslan satu kata, “Rojer”….

Menjelang sore abaran pun dihentikan, tidak ada yang spesial dalam permainan si Rojer, mungkin karena ini merupakan pertarungan perdana ayam saya, fisik Rojerpun terlihat sangat lembek. Pada saat saya membersihkan Rojer, seorang pemuda mendatangi saya, “bagus ayamnya mas”. Saya pun sedikit tersanjung, sebetulnya sih nggak sedikit malah banyak, Ge-Er mungkin kata yang tepat. Pada saat saya sampai dikontrakan saya yang megah itu, yang ubinnya udah pada pecah, pintu udah ngletek, dan susah membedakan mana jendela mana tembok, yang bayarnya juga setengah mati, Mang Ujer mendekati, “Wih ngadu Joe?”, “nggak mang, cuman abar”. “yang bener….. ancur gini muka ayam, kayak muka kamu”, mang Ujer memang orangnya suka bercanda, terlebih beliau sudah menganggap saya seperti anaknya sendiri, atau mungkin justru saya yang maksa dianggap sebagai anak mang Ujer supaya dapat Rokok dan kopi gratis, sebenarnya muka saya gak ancur-ancur amat kok sumpah, mang Ujer Cuma bercanda, saya yakin. “Ah mang Ujer nih bisa aja becandanya”….. Mang Ujer: “Lha serius, makanya kamu belum punya-punya pacar”. Joe: “Saya kan sibuk kerja mang, mana ada waktu deketin cewek hehehe…”. Mang Ujer: “Walaaaaah gayanyaaa…kerja cuman bersihin kotoran sapi aja”… Saya hanya tersenyum sambil melepas Rojer setelah di Lap. “Bercanda Joe….” Saut mang Ujer. Joe : “Iya Mang, saya tau kok mang Ujer suka becanda, hehhehe”. Yep itulah pekerjaan saya sehari-hari kawan, saya bekerja dipeternakan sapi punya pak Camat, kebetulan saya ditempatkan dibagian sanitasi kandang alias tukang bersihin tai sapi. “Tapi kalau soal muka kamu tadi serius lho ya, huahahahha” Mang ujer sambil berjalan pulang ke rumahnya. Sekali lagi mang Ujer BERCANDA kawan-kawan. “Oh iya Joe, besok kalau gak kemana-kemana, kamu ikut saya yah, Si Gondel siap”, setengah berteriak mang Ujer dari depan pintu rumahnya”, sayapun menjawab, “Aduh ga bisa mang, saya besok ada janji”. Mang Ujer : “Loh mau kemana? Tumben hari minggu mau keluar”, Saya : “Tadi presiden SMS, saya di suruh kerumahnya besok, mau ngerokin sapinya yang masuk angin”. Mang Ujer : “Keracunan tai sapi kamu ya?!”. Begitulah “pertempuran” saya dengan Mang Ujer yang hampir terjadi setiap hari. Besok Si Gondel Turun kalang, mana mungkin saya melewatkannya. Jadi tidak sabar menunggu besok…………….

Hari yang dinantipun tiba, terbangun oleh lantangnya kokok si Rojer, dan obrolan ibu-ibu yg sedang membeli sayur. Seperti hari-hari sebelumnya, saya cuci muka, trus duduk diteras kontrakanku sambil menghisap setengah batang rokok sisa semalam, lumayan pemandangan pagi melihat ibu-ibu beli sayur, kadang lagi rejeki ada saja ibu-ibu yang masi pake baju tidur yang  tipis banget, haruuhhh…..

Sehabisnya  rokok di tangan saya langsung meluncur ke kamar mandi, setelah itu langsung memberi makan di Rojer. Lalu Mang Ujer memanggil saya, saya pun bergegas ke rumah mang Ujer, Kita beres-beres kandang mang Ujer, memberi makan ayam-ayam, dan tak lupa suguhan kopi dan pisang gorengnya, dasar rejeki……..

Jam 10:00, kami bergegas berangkat. Mang  Ujer mengenakan tas pinggang dan topi yang sudah tampak lusuh, diwajahnya tersirat semangat dan keyakinan akan menang di arena nanti. Sesampainya di lokasi, saya melihat banyak sekali orang-orang yang sedang memandangi  ayam-ayam dikurungan, salah satunya langsung menghampiri kami, dan langsung melihat dan mengangkat ngangkat ayam  mang Ujer. Entah apa yang mereka  bicarakan, saya hanya kebagian tugas memarkirkan motor di tempat yang aman. Tau tau mang Ujer memanggil, dan sepertinya si Gondel mendapatkan tanding. Orang orangpun berduyung duyung mendekati “Geber”, sebagian lagi melihat si Gondel dan lawannya yang sedang di airi. Kucur demi kucur air di alirkan ke tubuh si Gondel, disambut luwesnya tangan mang Ujer mengusap usap si Gondel. Suatu saat saya juga akan bisa memandikan ayam seperti mang Ujer.

Saat Gondel dimandikan, saya memperhatikan gerak gerik dan tatapan mata Gondel. Seakan akan dia tahu bahwa  dirinya akan bertarung, sesekali dia berkokok sangat gagahnya. Disitu pula saya yakin, bahwa hari ini kami akan menang!!.

“Mau ikut berapa Joe?” Mang Ujer bertanya. Saya pun kebingungan menjawabnya, bukannya saya takut kalah, bukannya saya gak mau ikutan, tapi Asli saya lagi Bokek!. “Seratus aja Mang” spontan saya menjawab sambil ketar ketir. Di dompet hanya ada KTP, uang 5000 perak selembar, dan poto selfie saya yang memakai topi kupluk sambil menunjukan tanda Metal di jari-jari saya, sungguh menjijikan pokoknya pemirsah…. Tapi melihat tatap mata si Gondel dan kokoknya yang gagah dan pasti, saya yakin kita akan menang, walaupun spontan saya pingin kencing karna saking gugup  dan tegangnya.

Saat kedua ayam memasuki geber, dan kedua botoh mengusap ayamnya, ada satu orang menyetel jam dinding dengan gambar Micky mouse. “Jam bagus, ayam adep langsung adu” teriakan salah seorang. Kedua ayam disodorkan, kedua botohpun keluar dari arena, Pertarunganpun dimulai…..

Kedua ayam saling tebar saling pukul, terlihat kuda-kuda kedua ayam sangat kokoh, mang Ujer pun berbisik kepadaku “Perhatiin langkah dan pukul ayam”, saya pun serius mengamati, sambil sekali kali ikut bersorak karena ikut-ikutan penonton lain saja. 5 menit berlalu, kedua ayam terlihat mulai menyusun strategi, keduanya mulai taktis dalam melakukan pukulan, juga mulai taktis dalam menghindari pukulan lawan. Begitu juga saya, mulai taktis dalam mencari rokok gratisan, dengan gaya sok ngerti sambil mengamati lawan, sambil menggapai rokok putih bergaris hijaunya mang Ujer, lalu saya nyalakan dengan sedikit tak tau malu. “Ayo ondel, ayoo gondeeel” kata-kata mang Ujer sambil menggosokan kedua telapak tangannya, yang sebetulnya tidak kotor, namun seperti membersihkan seesuatu, ternyata begitupun dengan botoh lawan, dia melakukan hal yang serupa.

“Koooook” terdengar suara Gondel yang dipukul lawan sambil jalannya gontai, kepalanya geleng-geleng tapi ia tetap berusaha mendekati lawan. Begitupula dengan kepala saya, seperti Gondel yang dipukul lawan, kepala saya godeg godeg, jantung beletak beletuk, keringat dingin menetes di  samping telinga, jangan sampai kalah Gondel……..

Lagi pukulan keras lawan mendarat tepat dikepala belakang Gondel, Gondelpun jatuh, seperi tak sadarkan diri……. “Bangun gondeel” teriakan mang Ujer dan pendukungnya, sedangkan kubu lawan berteriak girang. 3 Detik kemudian Gondel terbangun, dia terlihat menggibriskan kepalanya, walaupun pukulan terus menghujani. Sesekali Gondel membalas pukulannya, rupanya Gondel telah pulih, begitupun dengan detak jantungku. Namun Gondel telah kehilangan banyak tenaga, karena menahan pukulan yang bertubi tubi tadi.  Terlihat Mang Ujer resah sambil sesekali melihat jam dinding yang di gantung. “Botoh masuk,  ayam air” seseorang bersaut. Rupanya waktu istirahat…….

Mang Ujer memandikan kembali si Gondel, tangannya terlihat gemulai mengusap mesra si Gondel. Sesekali dia “mengenyot” luka Gondel di bagian kepala, agak tabu dilihat, sayapun agak mual melihatnya, maka dari itu  sayapun ambil kembali rokok putih bergaris hijau. Entah apa yang sudah mang Ujer lakukan terhadap Gondel, pada saat gondel di masukan ke dalam geber, gondel terlihat segar, nafas yang engah engah pun hilang, badannya yang gagah seakan tidak sabar menunggu musuhnya datang.  “Ayam adu”……pertarungan ronde kedua pun dimulai.

 

Tak seperti di ronde pertama tadi, gondel terlihat sangat garang di ronde ini. Pukulan demi pukulan sesekali diterimanya, seketika itu pula ia membalasnya. Diluar dugaan, lagi….pukulan keras lawan membikin Gondel kesakitan, kepalanya montong mengarah ke tanah. Selang beberapa detik, Gondel bangkit, dan membalas pukulan lawannya, tampak gondel mematuk leher lawan, lalu ia tarik, kamudian ia pukul, pukulan yang sangat keras…..sampai-sampai lawanpun meloncat keatas lalu terbanting ke arah belakang, tampak lawan meloncat loncat menahan sakit, yang kemudian terjatuh dan tertelungkup, lalu mengepak ngepakan sayapnya, hingga ahirnya tidak bergerak sama sekali. Riuh penonton pun tiba-tiba menghilang, sekejap menjadi sunyi. “mati euy” salah seorang  penonton berucap, disusul riuhnya teriakan kegembiraan orang-orang yang mendukung Gondel. Tepat 5 menit 13 detik dironde ke dua, gondel membunuh lawannya dengan pukulan jitunya. Gondel seakan tahu dengan pasti, kapan dia harus mengeluarkan pukulan jitunya dengan sekuat tenaga, yang menyebabkan lawan pasti jatuh………. Hampir saja saya dipukulin orang sekampung karena tarohan tapi tidak punya uang. Namun seperti saya bilang sebelumya, dari sorot mata Gondel, saya yakin  hari ini, Kita menang…. Bravo Gondel……….kamipun pulang dengan perasaan bungah dan bangga……..

Malam harinya, perut terisi dengan  makanan enak, rokok di kantong penuh, berkat si gondel. Kemenangan Gondel menjadi buah bibir di seantero jagad perayaman, karena pasalnya lawan terahir Gondel merupakan ayam yang dimiliki oleh pejabat kota seberang, yang selalu menang cepat disetiap pertarungan. Tetapi saat bertemu Gondel, ayam itu harus mengakui kekuatan Gondel, dan langsung berpulang ke sang pencipta, alias Modiarr…

Minggu berganti minggu, begitupun dengan sepak terjang si Gondel. Hampir setiap 3 minggu sekali Gondel dibawa ke arena, dan menambah rekornya dengan gemilang. Tiga  kali sudah saya ikut merasakan kenikmatan dari si Gondel. Sampai suatu  pagi di hari minggu, saat saya dan mang Ujer sedang asik menikmati kopi hitam dicampur sedikit susu, terdengarlah lagu Goyang drible yang di tembangkan oleh penyanyi duo srigala, saya hapal betul lagu ini karena di HP sayapun terdapat video clip lagu ini, duo serigala yang mempunyai tembolok besar, yah namanya pemuda, lumayan kadang-kadang butuh video seperti ini untuk materi 😀 .

Ternyata lagu duo srigala itu berasal dari HP Mang Ujer, ia pun mengangkat HP nya, “Haloooo….yaaaa….siapa ini?, weii lama amat nih, kemana aja” Mang Ujer sambil berjalan menjauhiku. Mungkin mang Ujer tidak mau percakapannya saya dengar, dan sayapun sebenarnya tidak mau dengar, yang saya mau dengar Cuma ring tone nya HP mang Ujer, sambil ngebayangin bola basketnya duo srigala. Tak lama selesai mengangkat telpon, mang ujer kembali duduk didepanku, dan bertanya “tau gak tadi siapa?”, saya: “taulah, duo srigala”. Mang Ujer: “yang nelpon saya maksudnya”, “mana saya tau mang, lha wong mang Ujer yg ngangkat telponnya”.

Mang Ujer menceritakan bahwa yang nelpon tadi adalah kawan lamanya, yang sekarang bekerja sebagai pengurus ayam seorang pejabat di Kota ini. Dia menuturkan bahwa Boss nya ingin mengetest kekuatan Gondel dengan ayamnya. Berat sebenarnya mang Ujer menerima tantangan ini, tapi mang Ujer menuturkan, bahwa dunia perayaman laga itu keras, jadi apa boleh buat, seperti tai kambing yang bulat-bulat, mang Ujer menerima tantangan ini. Rupa-rupanya Bapak pejabat  mendengar gema kekuatan si Gondel, dan sebagaimana seseorang yang berkuasa, ia tidak mau ada kekuatan lain yang menandingi ayam-ayamnya, harus ayam dialah yang menjadi yang terbaik. Pertandingan dijadwalkan 3 minggu dari sekarang, di arena desa sebrang. Alasan si Pejabat ingin pertandingannya dikalang adalah supaya orang-orang banyak yang menyaksikan pertandingan ini, karena ia yakin bahwa ayamnya lah yang terbaik. Mang Ujer terlihat sedikit melamun, sedangkan saya tetap dengan tak tahu malu nyomot rokok putih bergaris hijau dengan tulisan kecil 234 itu.

Siang malam mang Ujer menyiapkan Gondel untuk pertarungan akbar itu. Gumpal demi gumpal, pil demi pil mang Ujer mencekok si gondel. Dalam dua minggu, badan Gondel menjadi merah, sorot mata tajam, dengan jalu sebagai senjata yang terseting sempurna. Saat saya pegang, badan gondel terasa keras sekali, seperti senjata keperjakaan saya setiap pagi. Lalu kopi cap tengkiu pun datang dihidangkan oleh istri mang Ujer. Tak lama HP mang Ujer pun berbunyi lagi, kali ini bukan duo srigala, tapi mbuh lagu apa, bahasa inggris ora ngarti, sangat disayangkan duo srigala tersingkirkan, bola basket oh bola basket….materiku….

Rupanya telpon tadi dari kubu lawan, mereka memajukan pertandingannya esok, karena minggu depan Bapak pejabat akan keluar kota, rapat kerja katanya, biasalah urusan orang-orang besar. Melihat kesiapan si Gondel mang Ujer menyetujui perubahan jadwal itu. Seketika itupun saya langsung bergegas mencari cari pinjaman, gadai barang-barang, gadai Hp, gadai VCD apa saja yang sekiranya bisa menghasilkan uang pinjaman, harga diripun kalau laku saya gadaikan untuk pertarungan Si Gondel, sang juara. Gondel, ayam gagah berbulu jalak, badan yang tegap, mata yang tajam, ekor yang panjang terurai, kakinya yang panjang berwarna hijau sesuai dengan badannya, yang telah banyak mengundang decak kagum para penggemarnya.

Puji syukur, hasil dari gadai menggadai menghasilkan uang sebesar 500.000. Saya  siap mendukung Gondel dengan sepenuh hati.

Hari itupun tiba…..di kalang ayam, saya dan mang Ujer memesan Kopi, karena  hari masih terlalu pagi kami belum sempat meminum kopi setetespun dirumah. Terlihat seorang gadis menyodorkan nampan berisi dua gelas kopi, gadis yang sangat manis yang berada ditengah tengah serigala. “Kopinya pak”, suara yang merdu, halus seperti sutra, legit seperti kue lapis, pulen seperti nasi dari beras cianjur. Pingin rasanya membuka obrolan, tetapi saya bukan Gondel sang pejuang, saya Cuma senyum setengah sambil menganggukan kepala, “mukamu leee le….” Mang ujer mengolok, “namanya juga anak muda Maaang, hehehhe……”. Duo srigala pun kalah ganas nya dengan si “neng” tukang kopi, bibirnya yang tipis, kulit yang putih menggambarkan kehalusannya, diam-diam saya mengambil foto si neng dari HP ku, lumayan buat materi Baru.

Satu jam berlalu, sang lawan belum terlihat kedatangannya. Untuk menghilangkan bosan, mang Ujer menonton pertandingan ayam lain, sedangkan saya cukup duduk di warung kopi menonton pertandingan Si Neng melawan angan-angan saya yang mungkin sudah keterlaluan.

Tak lama kemudian, sedan hitam ber-plat Nomor  cantik datang. Terlihat tiga orang keluar dari mobil itu, salah satunya menenteng kisa ayam. Yang dua orang terlihat berjalan menuju kurungan ayam untuk mengeluarkan ayam dari kisa, sedangkan orang yang satu lagi, datang bergabung duduk dimeja tepat didepanku. Terlihat sedikit disudut gubuk warung kopi si Neng sedang merapihkan rambut, merapihkan baju, dan berdandan. Lalu bergegas datang ke meja orang tadi, sambil membereskan gelas gelas kosong sisa kopi, “Kopinya satu ya Neng, yang sperti biasa”, Iya  “Pak” jawa si Neng dengan halus. sambil mencubit genit dagu  indah si Neng orang itu sambil berkata “duh makin cantik aja nih”, si Neng pun klamar klemer masam mesem gak puguh lalu  menjawab “ah bisa aja si bapak nih” sambil menepuk genit dada orang tadi. “Wanjinggg” saya bergegas berjalan mendekati Mang Ujer dengan muka kesal, Mang Ujer pun bertanya Tanya ada  apa dengan saya, saya hanya menjawab: “Dunia ayam laga itu keras Mang!”.

Kedua orang tadi menghampiri saya dan Mang Ujer, rupa-rupanya mang Ujer mengenalinya, tak disangka tak diduga justru merekalah group musuh kami. Kami pun d ajak kedua orang tadi untuk menuju ke warung kopi, untuuuuk bersalaman dengan berandal tua yang menggodai si Neng tadi, rupa-rupanya inilah Bapak pejabat yang dimaksud. Seorang lelaki sekitar umur 50-an menurutku, perutnya buncit, kulitnya  hitam, dengan banyak uban di rambutnya, dasar babi hutan.. Mohon maaf pemirsa agak kasar, Emosi soalnya.

Perbincangan dan tawar menawar tarohan berlangsung antara Mang Ujer dan Bpk pejabat, Babibu babibu sampai pada kesepakatan tarohan. Sayapun berbisik ke Mang Ujer “kiteu melu rongatus Mang”. Alasan kenapa saya tidak mempetaruhkan semua uang saya, karena yang 300 ribu lagi, saya siapkan untuk mem”Beri” ayam bapak pejabat itu.

Mang Ujer dan kedua botohpun menenteng ayamnya untuk dimandikan. Perasaan dak dik duk kembali terulang di dadaku, namun kali ini sedikit berbeda dari yang sebelumnya, dak dik duk bukan karena takut kalah, tapi dak dik duk menahan Emosi yang siap dan akan saya tumpahkan pada saat ayam pejabat itu terkaparrrr  tak berdaya menahan pukulan si Gondel. Akan kunantikan saat saat itu…… Emosi cuuuuy.

Sambil nongkrong menemani Mang Ujer memandikan si Gondel, terlihat suasana kalang semakin ramai, Puluhan orang mulai mendatangi kalang ini, motor-motor berderet diparkiran dibawah pohon kecapi, di sisi lain kalang terlihat beberapa Mobil juga terparkir. Lalu tiba-tiba  saya melihat dua motor pergi meninggalkan kalang, agak terburu-buru yang saya lihat, dan beberapa orang terlihat berlari meninggalkan kalang, seketika itu pula, tangan saya digenggam dengan sangat erat oleh seseorang, “Jangan bergerak! Polisi”. Suasana kalangpun makin riuh, suara-suara kenalpot meraung raung, puluhan orang berlari tunggang langgang. Ada yang berlari sambil terjatuh jatuh di sawah, ada yang tertelungkup jatuh, “ampun pak, ampun pak”. Ada pula yang nekad menerobos hadangan polisi  dengan motor. Ya….rupanya kalang ini di grebek polisi.  Beberapa orang dari kami yang kurang beruntung, termasuk saya dan Mang Ujer dikumpulkan di dalam dua geber yang berdampingan. “Nongkrong!!!, tangan dikepala!!!” terdengar sentakan seseorang berambut cepak, dengan kumis tebal dengan pistol ditangannya. Saya melihat disekitar ada yang celananya sobek, ada yang lututnya berdarah, ada pula yang menangis dengan mencoba mengeluarkan air mata buayanya. Perasaan bingung, kaku, takut, bercampur baur menjadi satu saat itu, lututpun gemetar, keringat dingin mengguyur. “Mang….” bisiku kepada mang Ujer, tenggorokan terasa kering. mang Ujer hanya menjawab dengan cara menepuk nepuk bahuku tak berbicara sedikitpun. Saya tak tahu apa yang akan terjadi nanti, bagaimana nasib saya, nasib pekerjaan saya, dan bagaimana nasib ayamku di kostan, tak ada yang memberi makan ayamku, bahkan segenggam beras merah pun tak mungkin dapat dinikmati ayamku……………………

 

Ahmad Juhendi Nama saya, biasa dipanggil Joe. Pengalaman 2 malam menginap di Polsek akibat ke-gerebek di kalang ayam merupakan lompatan kisah hidup saya. Tidak banyak yang banyak diceritakan selama dalam proses hukum. Dimulai dari disuruh buka baju dan berbaris dilapangan kantor polsek, sambil dibina dan diterangkan pasal-pasal tentang perjudian, sampai dinginnya lantai dibalik jeruji. Memalukan? Memang, namun selama 2 malam itu, saya banyak mendengar cerita dari rekan-rekan lain yang senasib. Namun anehnya saya tau betul bahwa pada saat kejadian penggerebekan terjadi, bapak pejabat ada dilokasi, namun dimulai dari kalang sampai kantor polsek, saya tidak melihatnya.  Yah sebut saja dia lebih beruntung nasibnya dari saya dan rekan-rekan lain. Pada hari sebelum pembebasan, seorang petugas memanggil nama “Jeremy iskandar”, tak lama kemudian Mang Ujer menyahut dan keluar dari sel. Terlihat dimeja ruangan sebelah Mang Ujer sedang berbincang dengan petugas, tak lama Mang Ujer kembali kedalam sel, dan berbisik kepadaku “Sabar, Besok kita keluar”. Setengah bingung sayapun mengangguk saja.

Esok harinya kami keluar, 2 malam  didalam sana sangat menguras pikiran. Setibanya di kostan, saya langsung mandi dan tidur, tidur yang sebenarnya, untuk melepas  stress dan tekanan-tekanan dari dalam pikiran dari mulai penangkapan  sampai pembebasan. Sebelum tidur hanya satu pertanyaan didalam otak yang paling terulang, “Jeremy Iskandar”……… Akan kutanyakan esok tentang ini kepada mang Ujer.

Suara bising knalpot, dan obrolan-obrolan orang mulai terdengar, mata yang sangat  berat ini terbuka perlahan, silau sekali, matahari sudah meninggi rupanya. Lama kelamaan mata ini mulai beradaptasi, mulai terbuka penuh. Namun hanya memandang kosong sambil merentangkan tangan dan kaki yang kaku. Sambil tangan menyasar nyasar Hp, kulihat jam di HP menunjukan pukul 10:15 pagi. Perlahan memasuki kamar mandi, untuk melanjutkan hari.

Selesai mandi dan beres-beres, kuhampiri si Rojer, Rojer yang terlihat lemas karena 3 hari puasa tatap matanya seakan mengatakan bahwan aku telah menghianatinya, meninggalkannya selama 3 hari tanpa makan dan minum, namun begitu ia terlihat rindu kepadaku….hehehehe…. Segera saya berikan air minum yang telah dicampur gula merah, agar Rojer kembali segar dan bugar. Tak lupa saya beri beras merah, Rojer terlihat nafsu sekali menikmatinya. Melihat Rojer kembali segar, saya langsung berangkat ke tempat kerjaku. Namun sesampainya disana, kulihat wajah baru yang tidak saya kenal sedang membersihkan kotoran-kotoran sapi yang seharusnya sayalah yang melakukan itu. Tak lama Pak Camat datang mendekat. Beliau mengetahui apa yang terjadi pada saya selama 3 hari ini, dan beliau sangat tidak senang dengan apa yang saya lakukan. Perjudian bukan hanya melanggar hukum, tapi juga melanggar Norma-norma yang berlaku dimasyarakat, hanya itu kata-kata yang teringat jelas dari kata-kata beliau. Setelah memberikan amplop yang berisi uang tunai Rp. 2.000.000 sayapun pulang, tanpa motor…karena motor butut itu adalah motor yang dipinjamkan pak Camat kepadaku. Aku di pecat dari tempat kerja, dari kandang sapi pak Camat, kandang yang memberikan kehidupan padaku selama ini, selama 4 taun. Banyak mamang Ojek menawariku untuk menumpang sampai kostan, tapi saya memilih untuk berjalan kaki, sambil berpikir dengan pikiranku yang kosong ini. Kehidupan mulai berat saya rasakan, namun saya coba untuk menghilangkan kesedihan, hanya berpikir bagaimana saya dapat melanjutkan hidup dengan pesangon sebesar 2000.000 dari Pak camat, walaupun mata merintih. Namun memang kusadari perbuatanku ini memang melanggar hukum, saya harus siap menerima konsekuensinya.

Sesampainya di Kostan, saya langsung simpan amplop berisi uang di bawah tumpukan baju lemari yang diberi alas Koran, lalu langsung berangkat ke rumah mang Ujer. Sesampainya dirumah mang Ujer, saya langsung duduk di bale-bale bambu, sambil memperhatikan mang Ujer membersihkan kandang. “Ngopi Joe?” Mang Ujer bertanya, “Boleh mang”….. Ada sedikit perbedaan pada hari ini, yang membuakan kopi bukan istrinya, melainkan mang Ujer sendiri yang membuat kopi untuk kami. “Biasalah, lagi sewot ibu negaranya, hehehhe”. Rupanya istri mang Ujer kesal akan kejadian penggerebekan yang lalu.  Mang Ujerpun bercerita tentang Jeremy Iskandar, yang tak lain adalah nama asli  dari Mang Ujer. Beliau pensiunan salah satu perusahaan BUMN, karena bosan dengan kehidupan di Ibu Kota, ia mengontrak rumah di Desa ini sambil mengurusi ayam Bangkok. Mang Ujer tak bercerita apa persisnya posisi dia di perusahaan itu, Cuma yang saya tangkap dari ceritanya, sepertinya beliau mempunyai posisi yang cukup tinggi. Sayapun bercerita kepada mang Ujer tentang yang saya alami hari ini, dengan nada sedih saya bercerita, tapi tak lupa saya tetap mengambil rokok mang Ujer yang berwarna putih bergaris hijau itu. Mang Ujer  meminta maaf kepadaku karena sudah mengajak saya untuk mengadu ayam, namun semua itu bukan salah siapa-siapa, melainkan roda kehidupan yang memang tidak bisa kita hindari. “Saya gak kapok Mang, ada uang pesangon 2 juta siap mendukung kembali si Gondel” kataku sambil menghisap nikmatnya rokok….. Mang Ujer hanya tersenyum, “Besok saya pindah Joe, saya harus kembali ke Ibu Kota, anak-anak saya marah mendengar kejadian kemarin, mereka menyarankan saya untuk pulang” Mang Ujer sambil melepas kedua sandalnya, lalu duduk bersila  di bale bambu.

Hancur sudah kopi, rokok dan pisang goreng gratisku….. haruskah saya juga pulang kampung, pekerjaan tak punya, kawanpun tak ada, yang ada hanya Mang Ujer yang sedang bersiap-siap untuk pindah. Mang Ujer bilang, sebenarnya rumah yang dikontrak ini statusnya sudah dibayar untuk 2 tahun kedepan, dan jikalau mau saya boleh mengisinya secara Cuma-Cuma, berikut kandang ayam sederhana dan beberapa ekor ayam didalamnya, namun Gondel tidak ada disini lagi, Mang Ujer kehilangan jejak Si Gondel saat terjadi penggerebekan. Ada yang bilang Gondel di ambil petugas, ada juga yang bilang lari ke hutan.  Sungguh tawaran yang sangat sangat mulia dari mang Ujer, aku tak tau bagaimana bilang “ya” tak sanggup pula bilang “tidak”, mungkin ini salah satu bagian juga dari Roda kehidupan yang harus aku jalani, petualangan saya dan ayam-ayamku bermula dari sini, Selamat jalan mang Ujer, smoga suatu saat kita akan bertemu lagi. And my story begin………..

 

Pertemuan

 

Rumah baru, bagi saya menjadi tantangan yang besar. Karena ini rumah, maka sudah pasti perawatan, listrik dll harus diperhitungkan. Rumah yang cukup besar bagi saya, karena biasanya cuman hidup di Kontrakan yang penuh derita. Terima kasih  seperti apa yang harus saya ucapkan kepada mang Ujer ya….mungkin suatu saat nanti aku bisa membalas budi baiknya.

Seperti halnya para kaum pengangguran lainnya, setiap pagi bangun tidur, langsung nongkrong di depan kandang, ngopi, urus kandang, urus-urus ayam, begitu seterusnya tiap hari. Seminggu sudah aku menempati rumah ini, namun aku tidak bisa begini terus, aku harus melakukan sesuatu yang dapat menghidupi. Yang kupunya sekarang hanya ayam-ayam peninggalan mang Ujer, tinggal bagaimana cara memanfaatkan ayam-ayam ini ya. Setelah berpikir cukup panjang yang tetap tidak mendapatkan suatu hasil, akhirnya aku sadari, ayam-ayam ini adalah petarung, sudah GEN mereka untuk bertarung, inilah yang bisa  aku manfaatkan dan maksimalkan. Berbekal ilmu merawat ayam adu dari mang Ujer, aku perlahan merawat 2 ayam, yang satu adalah si Rojer, yang satu lagi belum aku kasih nama, masih bingung.

Kedua ayam itu  kini sudah hampir siap, besok atau lusa pasti ayam-ayam ini dalam keadaan maksimal. Aku mulai wara wiri mencari tempat “sompokan” untuk mencoba keberuntungan ayam-ayamku dan tentu saja keberuntunganku. Sampai akhirnya aku sampai pada tempat sompokan di desa tetangga, tempat yang tak terlalu ramai, geber terlihat tergelar dibawah pohon sukun. Terlihat ada 6 orang disana yang sedang menonton pertarungan, akupun merapat untuk ikut nonton dan mencari-cari informasi tentang tempat ini.  Sambil menonton pertarungan informasi yang didapat bahwa  ditempat ini berapapun taruhannya tetap diadu, cocok untuk kantong pemula seperti saya. Berbekal sisa uang pesangon, saya bertekad bahwa disinilah tempat ayam-ayamku bertarung esok.

Dengan membawa dua ekor ayam dan sisa uang pesangon sebesar  1,5 juta rupiah perak aku melangkahkan kaki berangkat dari rumah. “Bismillah”, walaupun aku tidak tau apakah kata itu pantas aku ucapkan sebagai do’a untuk berangkat mengadu ayam, tapi yang jelas aku punya perut, dan ayam-ayamku punya tembolok yang harus diisi setiap harinya. Busa, korokan, tas pinggang,Ojek,  lengkap sudah, berangkaaaaat……..

Setibanya dilokasi, aku langsung mengeluarkan ayam-ayamku dari kisa, dan segera bergabung dengan orang-orang yang sedang nongkrong sambil ngopi. Tak lama kemudian ayamku yang satu mendapatkan tanding, bukan Rojer. Tanding yang menurutku sesuai, sama-sama ayam muda. 500 ribu team lawan menginginkan partai ini, ada 3 orang di team lawan, sedangkan aku hanya seorang diri dengan kedua ayamku. Keadaan yang kurang menyenangkan sendirian diarena adu ayam, terbayang aku memberi semangat ayam sendirian, mengairi ayam sendirian, apalagi kalau kalah, duit amblas, ngelamun sendirian. Tapi aku tak kan gentar, jangankan sendirian, setengah diri pun saya tak kan mundur, karena nasib perutku dan ayam-ayamku bergantung pada Tuannya. Pertarungan ronde pertamaun dimulai….

Menit-menit awal belum terlihat keunggulan masing-masing ayam, 5 menit barulah mulai pertarungan sesugguhnya. Setengah kaget, melihat permainan dan pukulan ayam lawan yang sangat mewah, pukulan yang berbobot, tapi ayamku juga tidak dapat diremehkan, beberapa kali ayamku memukul hingga membuat lawannya hilang keseimbangan. Jual beli pukulan terus terjadi, hingga terlihat kedua ayam itu kelelahan, terutama ayamku, nafasnya mulai bersuara. “Grok Grok….” Suara nafas ayamku terdengar, tingkat pukulan dan gaya tarungnya menurun drastis, hanya menerima pukulan dari lawan yang ia dapatkan. Samping kiri, samping kanan sesekali dari belakang ayamku terpukul,  terus dan terus. Langkahnya mulai gontai, bahaya……… suara suara penonton dan team lawan terdengar gaduh main luaran, namun aku tidak memperdulikan, yang aku hanya perdullikan hanya keadaan ayamku, “ayo nak, tahan nak” kata-kata yang keluar dari mulutku. Ingin sekali aku mengangkat ayamku dari arena, tak tega rasanya ia dipukul terus menerus, namun bagaimana nasib aku dan ayam-ayamku nanti, dan akupun yakin, ayamku juga masih ingin bertarung terus, ia pun ingin menunjukan bahwa ia dapat diandalkan. Pukulan keras bertubi tubi berlanjut, sampai akhirnya ronde pertama berakhir. Wajah-wajah lawan terlihat sangat senang, sedangkan saya hanya terdiam sambil mengusap darah ayamku sambil sesekali memijit-mijitnya. “Tolong saya nak, jangan kalah hari ini” bisiku, seperti orang gila yang mengajak bicara kepada  binatang.

Ronde dua dimulai, setelah kena air ayamku terlihat segar kembali. Namun sayang, hanya 3 menit, keadaan kembali dibawah, pukulan demi pukulan mendarat di kepala ayamku, ia terlihat sangat kepayahan, sampai akhirnya aku harus merelakan kekalahan ini dengan mengangkat ayamku dari geber, “maaf nak, aku tahu kamu sudah berusaha maksimal, namun nasib baik belum berpihak pada kita, bagaimanapun aku harus menyelamatkanmu dengan menghentikan pertandingan ini di menit ke 8 ronde ke-2 ini”.

Sambil memandangi ayamku yang mengigil kedinginan karena sudah dimandikan, ku sruput kopi hangat, tak bisa ku sesali kekalahan ini, 500 ribu yang melayang, sulit memang, namun aku tak bisa  menyesalinya, karena aku lihat dan aku saksikan sendiri bagaimana ayamku berjuang di arena, meskipun pukulan demi pukulan menghujani, dia tetap berusaha menyelesaikan pertarungannya. Pertandingan demi pertandingan terjadi di arena, namun Rojer belum juga mendapatkan lawan, setengah putus  asa aku terus menunggu, minimal balik modal yang saya  kejar, itu sudah cukup.

Sampai saat aku membuang puntung rokok, terdengar suara halus dengan sedikit bergetar berbicara “Ayam itu binatang yang istimewa, makanya banyak orang-orang jaman dulu menggunakan ayam untuk keperluan-keperluan penting”, seeorang kakek sambil tersenyum melihat keadaanku dan ayamku. “maksudnya?” tanyaku sambil kebingungan. Kakek tua itu hanya tersenyum, lalu membuka topinya, kemudian nongkrong tepat didepan ayamku yang mengigil  sambil menahan sakit itu. Kakek tua itu memandang mata ayamku dengan tajam,  dan tiba-tiba ayamku terduduk pelan dan kepalanya merunduk ke tanah  tak bergerak. Kaget stengah mati, aku langsung mengangkat ayamku dan mencoba membuatnya berdiri, namun siapa sangka, ayamku tak bergerak sedikitpun, matanya terpejam, rupanya dia mati. Kehilangan uang 500 ribu, kekalahan telak di arena, ditambah ayam mati karna di pelototi kakek tua ini, membuat emosiku memuncak. Tanpa pikir panjang, ku tarik baju lusuh kakek tua itu dengan tangan kiri, tangan kanan terkepal siap meninju sekuat tenaga, kakek itu lalu berbicara dengan tenang, “sabar…..”. entah bagaimana jalan pikiran kakek tua itu aku tak mengerti, bagaimana aku harus sabar dengan keadaan yang seperti ini, perasaan sangat kesal tak terbendung, lalu kudorong kakek tua itu, sampai terpental ke batang pohon, akupun menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan diri. Lalu kakek itu dengan entengnya berkata : “yang namanya mahluk hidup pasti nanti mati juga to?”, aku pun menjawab sambil menunjuk muka kakek tua itu “Diem…diem, ngomong sekali lg kuhantam kamu”. Kakek tua itupun hanya duduk tersenyum sambil memandangku menghisap rokok dengan tangan gemetar karena menahan emosi. Setelah emosiku agak menurun setengah, kakek tua itupun berkata lagi: “Gondel juga sama, kalau sudah beres ya pulang”….. seketika aku terkejut, roko d tanganpun jatuh tak terasa jatuh, bagaimana kakek tua ini tahu Si Gondel, sedangkan tak pernah sekalipun aku melihat dia datang ke tempat mang Ujer. Kakek tua itupun berdiri sambil berjalan membalikan badan, sambil berkata “kalau mau tahu ya ikut, kalau  gak mau ya gapapa, tapi aku yakin kamu mau ikut”. Siapa sebenarnya kakek tua ini, bagaimana ia tahu si Gondel, luapan emosi berubah drastis menjadi berjuta pertanyaan.

Menunggu tanding yang tak jelas dan sedih menahan kekalahan, akhirnya aku ikuti kakek tua itu. Dengan menenteng si Rojer, kami berjalan kaki yang aku pun tak tau akan kemana kakek tua ini membawaku. Kami tidak mengambil jalur jalan raya, kami masuk kejalan setapak dibelakang kalang. Melewati galengan sawah, meloncati parit-parit irigasi. “Mau kemana kita kek?”, tanyaku sambil  berjalan disamping kakek tua itu, kakek itu menjawab: “kamu mau kemana?”. Diperjalanan aku mulai bercerita tentang kehidupanku, dan tekad-tekadku tentang ayam-ayam peninggalan mang Ujer, tak lupa akupun bertanya tentang Gondel. Gondel sudah mati menurut keterangan kakek ini, namun ia tak bercerita bagaimana ia tahu dan dimana ia menemukan gondel. Ia hanya mengatakan kalau Gondel sudah selesai. Banyak sekali aku bercerita kepada kakek itu, namun sedikit sekali ucapan keluar dari mulut kakek tua itu. Semakin lama aku berjalan, lelah mulai terasa dikaki, tak begitu cepat aku berjalan, karena memang seperti kakek-kakek yang lain, kakek yang inipun berjalan tak begitu cepat, namun ia kelihatan seperti belum lelah, ia terus berjalan dengan statis. Selama kami berjalan, aku belum temukan rumah penduduk, melainkan kami malah masuk terus ke hutan, hutan yang tak terlalu besar, pohon-pohon besar pun tak terlalu banyak, hanya alang-alang dan pohon-pohon kecil banyak terdapat disepanjang jalan. Kamipun melewati sungai, sungai yang dangkal dan jernih, batu-batuan terlihat di dasar  sungai yang dalamnya hanya setengah betisku, kamipun terus berjalan. Sampai aku sadari, setelah kami menyebrangi sungai itu, pohon-pohon disekitar mulai besar-besar, yang artinya kami masuk kehutan yang dalam. Sesekali kulihat se-ekor monyet meloncat dari pohon satu ke pohon lain, pemandangan yang tak biasa buatku, belum pernah aku melihat langsung monyet  liar dihutan, dan kukira memang tak ada monyet liar dikota ini.

“masih jauh kek?”  tanyaku kebingungan karena  hutan semakin lebat, dan tangan mulai jemper menenteng si Rojer, “sebentar lagi”  kakek menyaut sambil terus berjalan. Sampai kami pada sebuah pohon besar, yang dibawahnya keluar akar, kakek tua itupun berhenti, “kita istirahat dulu disini sebentar” ucap kakek tua itu, akupun duduk sambil di akar besar itu sambil meluruskan kaki. Sambil istirahat kakek itu menunjukan jalan selanjutnya, bahwa tak jauh lagi kita akan sampai ke jalan umum, lalu belok kiri, setelah itu sampailah kita di rumahnya. Kakek itupun berkata bahwa ia mau cari kayu bakar dulu untuk memasak, aku duluan ke rumah itu karena kasian si Rojer kepanasan di Kisa yang saya tenteng ini. Selang lima menit aku meneruskan perjalanan sendirian, tak sampai 3 menit aku sampai dijalan umum, jalan yang sepi, yang hanya muat satu mobil dan sangat rusak, tanpa batu tanpa aspal, hanya jalan tanah. Aku belok kiri dan kemudian sampai di rumah yang dituju. Rumah yang menyendiri, tak ada rumah-rumah lain di skitar ini, rumah panggung dengan halaman luas dan terdapat 3 pohon cengkeh dengan hamparan rumput yang kurang terawat. Udaranya sejuk, sunyi sekali, sangat nyaman menghirup udara disini. Aku berjalan kebelakang rumah dan melihat ada kandang ayam kosong yang sudah rusak, dan aku lepaskan rojer dikandang ini. Tak lama seseorang keluar dari pintu belakang rumah panggung ini, “Milarian saha jang?” yang artinya “mencari siapa kang?”, seorang bapak yang hanya mengenakan celana sontog muncul dari pintu belakang rumah ini. Akupun bingung menjawabnya, karena saya lupa menanyakan nama kakek tua itu tadi. Aku hanya bilang bahwa aku bersama seorang kakek, tapi kakek itu sedang mencari kayu bakar dulu, dan saya minta ijin untuk menyimpan ayam di kandang belakang rumah. “mangga kapayun atuh”, silahkan kedepan bapak itu mempersilahkan, dan menyuruhku duduk di depan rumah panggungnya itu, dan beliau membawakan gelas dan air dalam kendi yang warnanya kehitaman. Beliau menuangkan air kedalam gelas dan memberikan kepadaku, air ini bukan air biasa, tapi air kendi!!!….air yang sangat segar, dingin alami bukan dari lemari es, 3 gelas sudah aku minum, maklum tadi sudah berjalan kaki sekitar 45 menit jadi rada-rada lebay nemu air minum yang segar ini.

Aku lalu bertanya pada bapak ini, “Bapak ieu adine atawa anakna kakek anu tadi?” dengan menggunakan bahasa sunda yang muaksa, sampe lidahpun hampir melintir, bapak itupun heran mendengar bahasaku kacau balau, mungkin ia berpikir ternyata bukan hanya mukaku yang ancur, tetapi bahasa sundakupun sama hancurnya, tapi pasti bapak itu berpikir tetap mukaku paling ancur dari bahasa sundaku. “Ujang teh timana?” tanya bapak itu seperti keheranan. Akupun mengulang ceritaku dari awal, bahwa aku datang berjalan kaki dari Desa sebrang hutan bersama kakek tua, dan aku disuruh kerumahnya duluan. Bapak itupun lalu menerangkan bahwa rumah ini miliknya, dan sudah 15 tahun dia hidup sendiri, ia pun tidak mengenal kakek tua yang saya sebut-sebut itu. Sudah kalah ngadu ayam, ayam nya juga mati satu, jalan jauh capek-capek ternyata aku dibohongi oleh kakek-kakek tua, lengkap sudah kenikmatanku hari ini. Akupun meminta maaf kepada bapak ini, karena sudah lancang memasuki lingkungan rumahnya, dan mungkin aku dibohongi oleh kakek tua gak jelas itu. Untungnya bapak ini berbaik hati, ia memperbolehkanku beristirahat dulu, bahkan memberikanku singkong rebus, singkong yang pulen, sedaaap. Akupun bertanya nama Desa ini dan bapak itu menerangkan bahwa  nama Desa ini adalah “Kadu Hejo”. “baru tau saya ada nama desa kadu hejo di kabupaten brebes ini pak” ucapku dengan mulut penuh singkong rebus gratis. Bapak itupun keheranan dan tertawa, mungkin karena melihat cara bicaraku yang monyong-monyong karena mulut penuh dengan singkong. Lalu sambil tertawa bapak itu pun menjawab “perasaan ngaran kabupaten teu pernah rubah didieu jang, masih kabupaten Pandeglang ti baheula”, dengan mulutku yang penuh singkong rebus akupun tersentak, butiran-butiran singkong setengah terkunyah menyembur dari mulutku sambil terbatuk batuk, akupun menyemburkan sisa singkong dimulutku ke bawah rumah panggung sambil terus batuk, beberapa butiran singkong rebus pun keluar dari hidung berbarengan dengan lendir ingusku, dengan mulut dan bagian bawah hidung penuh dengan butiran singkong rebus aku mengambil gelas yang didalamnya air putih yang sudah bercampur dengan butiran-butiran singkong rebus yang tersembur dari mulutku tadi, akupun minum dan mencoba menenangkan diri sambil membersihkan sisa-sisa singkong dari wajahku, “kunaon jang? Keseleknya” tanya bapak itu, akupun melihat di kening bapak itupun terdapat butiran-butiran singkong, rupanya bapak itupun tak luput dari semburanku, tapi aku membiarkannya, mau memberitaunya pun aku tak enak hati, entah butiran singkong itu tersembur dari mulut, atau dari hidungku aku tak tahu. Biarin ajalah……..

Walaupun aku hanya lulusan Sekolah dasar, tapi aku tahu bahwa Pandeglang adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Banten, yang terdapat di bagian barat pulau jawa, sedangkan saya 45 menit lalu berada di daerah kabupaten Brebes, entah bagaimana ini bisa terjadi. Bapak itupun mulai khusuk mendengarkan ceritaku, sambil sedikit kelihatan bingung dan berpikir ia melinting tembakau di lembaran daun kering lalu menyalakannya, ia menghisapnya sangat dalam, kelihatan nikmat sekali ia merokok. Kemudian ia menceritakan bahwa sebetulnya ia pernah mengalami kejadian ini, sekitar 8 tahun lalu, ia menceritakan pernah menemui orang seperti saya, yang datang berjalan kaki dari tempat yang sangat jauh bersama seorang kakek tua, mirip sekali ceritanya dengan yang barusan saya alami. Hanya saja tentu tanpa semburan singkong rebus dari mulut dan hidungku tadi ya. Sungguh aneh, mengherankan, memikirkannya pun otaku tak sampai, yang hanya aku pikirkan adalah bagaimana caranya aku bisa pulang, aku berpikir sambil bingung, tapi singkong rebus tetap aku lanjutkan, enaknya singkong rebus ini.

Bapak itupun memperkenalkan diri, namanya adalah Gulunding, pak Gulunding, lalu ia pamit untuk melaksanakan sholat dhuhur dl. Hmm… nama yang aneh, bagaimana coba orang-orang memanggilnya, pak Gul, pak nding, apa pak Gulun. Sebentar….tadi Pak Gul bilang mau sholat Dhuhur dl, apa beliau gak salah, dari kalangpun aku mulai berjalan jam 2 siang, kok sekarang Dhuhur lagi, makin bingung makin lahap aku memakan singkong rebus, aku menyisakan sepotong singkong dipiring untuk menutupi malu, walaupun sebetulnya  aku sangat ingin menyantapnya juga, tapi Jaim lah, malu kalau dihabiskan.

“Tanggung hiji deui se’epkeun jang” Pak Gul keluar selesai sholat dengan pakaian rapih memakai sarung, “Tos Pak, wareg” jawabku munafik. Pak Gul tetap memaksaku menghabiskannya, maka dengan semangat aku menghabiskannya juga. Namun setelah aku perhatikan wajah Pak Gul, aku terheran-heran, ternyata di keningnnya masih terdapat sisa semburan butiran singkong, aku sekarang yakin bahwa butiran singkong yang menempel di kening Pak Gul bukan berasal dari semburan mulutku, melainkan terpental dari dalam hidungku, karena mempunyai daya rekat kuat, yang tak dapat lepas dengan hanya terkena air.

“Sayah bingung Pak Gul”….. ucapku seperti menyerah pada keadaan, Pak Gul pun menjawab untuk tidak memperpanjang kebingungan kita, karena entah apa dan bagaimana pun prosesnya, mungkin hal ini sudah menjadi jalan kehidupan, dengan kejadian ini, aku dan Pak Gul bisa bertemu, walaupun dengan cara yang tidak masuk di akal. Akupun bertanya tentang bagaimana caraku memanggilnya, Pak Gul Pak nding atau bagaimana, Pak Gul menjawab kalau orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Ki Honje. Honje adalah tanaman yang biasa  dijadikan lauk atau lalap atau bumbu, sambal atau apalah sesuai orang-orang mengolahnya, karena Pak Gul hidup sendirian di dalam kampung, maka makan pun seadanya hasil dari alam dan yang paling sering adalah makanan dari Pohon Honje, begitulah Pak Gul garis miring Ki Honje menerangkan. Yo Wis lah ra’ urus, aku ikut saja memanggil “Ki Honje”.

Sambil bersantai di depan rumah panggung Ki Honje, aku bertanya kelanjutan orang yang kejadiannya mirip denganku 8 tahun silam, Ki Honje pun melanjutkan ceritanya. 8 tahun silam ada yang datang ke rumah ini, mirip kejadiannya seperti yang aku alami, ki Honje menceritakan bahwa orang tersebut ingin memperdalam pengetahuan dan ilmunya mengenai ayam adu.  Karena memang jauh di sebelah desa ini terdapat satu tempat yang dipercaya masyarakat sekitar merupakan tempat “keramat” khusus nya didunia ayam adu. Konon ditempat ini, dijadikan tempat melatih atau “mengisi” ayam-ayam aduan dengan ilmu-ilmu sebelum ayam di adu untuk menunjukan ilmu siapa yang terkuat. Jaman dahulu ayam aduan memang salah satu dari sekian banyak sarana ajang adu kekuatan antar jawara pada jaman itu. Menurut cerita Ki Honje, orang itu berhasil “mengambil” Ilmu atau sesuatu dari tempat keramat tersebut. Ki Honje pun memberitahu bahwa seingat dia nama orang itu adalah Iskandar. Yap aku yakin Iskandar yang dimaksud disini adalah Jeremy Iskandar alias Mang Ujer. Wedhussss……tak ku sangka ternyata Mang Ujer mempunyai “sesuatu” untuk ayamnya, pantas  saja ia selalu menang saat pertandingan adu ayam, mungkin kini saatnya aku melakukan hal yang sama seperti mang Ujer, akupun mulai menggali informasi dari Ki Honje mengenai hal ini.

Ki Honje memaparkan tak mudah untuk melakukan hal Mistis ini, tak banyak memang yang mengetahui dan berani menguak keberadaan tempat itu, mungkin dari 8 tahun terahir ini hanya 3 orang mencoba melakukan hal ini, namun tidak ada yang berhasil, yang ada malah ketiga orang itu tidak pernah kembali. Mendengar hal itu tekad saya makin bulat, hidup sebatangkara tanpa penghasilan, hanya ayam-ayam yang jadi harapan terahir, maka dengan semangat aku mengatakan kepada Ki Honje bahwa  ingin Pulang……!! Aku tak mau ambil resiko, aku tak mau nasibku seperti ke-3 orang tadi yang hilang entah kemana, entah dimakan hewan buas apa, Wis poko’e balik, Wedilah….Ora Ki, Ora……

Untuk menemukan kendaraan umum, Ki Honje menerangkan bahwa aku harus berjalan kaki 3 jam untuk sampai di tepi sungai tempat perahu dari bambu sebagai sarana transportasi, itupun adanya hanya seminggu sekali, karena memang sangat jarang atau hampir tidak ada orang yang bepergian kedaerah sini. 4 hari lagi perahu itu datang kata Ki Honje….aduh emak tulung urip, alamat terjebak ditempat ini selama 4 hari kedepan.

Hari sudah mulai senja, akupun melepas baju dan celanaku yang kotor ini, dan hanya menggunakan celana pendek yang “soek” dibagian pantat kiri, dan kaos dalam yang “doer” ini. Aku pun mandi di pancuran air belakang rumah, sueger sangat, mudah2an dengan mandi di pancuran air ini setelahnya aku akan menjadi ganteng, seperti dongeng2 orang2 tua dulu, hehehhe….. selesai mandi Ki Honje meminjamkan baju, lalu kupakainya. Baju dari peninggalan orang-orang yang hilang di cerita tadi, agak risih, tapi dari pada hanya memakai celana pendek soek dan kaos dalam yg doer, ya aku pakai. Malam datang, malam yang sejuk, gelap, lampu totok satu-satunya penerangan di rumah ini, yang bikin kotoran hidung sekejap menjadi penuh dan hitam. Dikesunyian malam aku banyak berpikir, setelah ini apa yang bisa aku lakukan untuk menyambung hidup, melanjutkan perjuangan ayam Mang Ujer pun aku tak mampu, aku berpikir terus terus dan terus hingga matapun terpejam sampai pagipun tiba. Dalam guyuran dinginnya air mancur aku masih berpikir, sepertinya tidak ada jalan lain dikehidupanku selain mengambil jejak Mang Ujer. Melamar jadi PNS tak mungkin karena kendala Ijazah SD yang sekarang akupun tak tahu entah dimana, mau jadi Foto Model apalagi, foto Rontgen (Ronsen) pun rusak apalagi jadi foto model. Akhirnya aku bicara kepada Ki Honje untuk mencoba mengambil jejak mang Ujer, Ki Honje pun menegaskan, bahwa keputusan harus yakin, karena sekali aku maju, tidak akan ada jalan untuk mundur, dan segala konsekuensi aku harus menanggungnya sendiri. Ki Honje pun menyuruh saya bersiap siap, siap-siap fisik dan mental maksud Ki Honje, karena sehabis Ashar, beliau akan mengantarkannya ke lokasi yang dituju. Aku siap………..

 

Setelah Dzuhur, Ki Honje memberikan briefing singkat mengenai perjalanan yang akan ditempuh. Bahwa saya harus akan masuk kedaerah hutan dan pegunungan. “Batu Tapak Kotok” nama tempatnya, berada di sebelah barat tak jauh dari puncak Gunung Haseupan Pandeglang Banten. Perjalanan dari sini memakan waktu kira-kira 9 jam perjalanan menggunakan sikil alias jalan kaki. Itupun kalau lancar katanya, karena konon bagi yang punya niat seperti aku ini akan banyak menemui halangan, yang salah satunya terkadang gunung ini akan dipenuhi kabut, sehingga pandangan sulit untuk melihat trek jalan. Wew…..mungkin ini alasan nama gunung ini diberinama haseupan, karena mungkin selain bentuk nya seperti haseupan (alat memasak nasi yg bentuknya kerucut) juga mungkin karena sering ada nya asap di gunung ini (haseup=asap). Sebelum berangkat aku juga harus menyelesaikan beberapa Ritual yang dipimpin oleh Ki Honje, aku juga di suruh untuk menghapalkan semacam kalimat mantra yang tidak bisa aku paparkan disni, sebut saja sebagai contoh bunyi mantranya “nanapugun titisel” alias naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali hehehe….

Mohon maaf bukannya aku tidak mau menulis kalimat mantranya disini, karena yang dikhawatirkan akan menimbulkan polemik (mbuh opo iku artine polemik). Akupun disuruh mandi dengan air yang telah di “proses” oleh Ki Honje, selesai mandi dengan hanya sehelai kain berwarna hitam, akupuh merapalkan mantra “nanagun titisel” sebanyak “sekian” kali Sambil menghadap ke timur. Setelah itu kembali berpakaian seperti biasa. Ritual sebelum keberangkatan selesai, dan ahirnya aku teringat akan si Rojer, kejadian-kejadian kemarin sangat menyita otaku, hingga aku lupa akan binatang peliharaan yang paling aku sayangi. Betapa kagetnya aku melihat kandang reot dibelakang rumah Ki Honje Kosong melompong bagaikan kepompong bolong digotong-gotong,  kandang ini memang sudah reot, tapi tidak ada bagian bolong ataupun terbuka yang tak mungkin bila Rojer dapat keluar dari kandang ini, namun dibagian sudut kandang tempat dimana kemarin aku melihat Rojer, kudapati sepotong kayu sepanjang kira-kira satu jengkal, taksturnya sangat halus, berwarna coklat kehitaman, yg ukuran diameternya sekitar se-ibu jari orang dewasa. Akupun langsung memberitahu masalah ini ke Ki Honje, namun beliau hanya tersenyum, dan menyarankan agar tidak mencari rojer, beliau juga menyuruh agar kayu ini aku bawa dalam perjalananku, akupun menurut karena dalam otaku saat ini hanya konsentrasi pada perjalananku menuju Gunung Haseupan. Maafkan aku Rojer, sepulangnya dari  sana, akan kucari kamu. Jam di dinding bilik rumah Ki Honje menunjukan pukul 4 sore kurang 10 menit, yang artinya aku dan Ki Honje harus mulai berangkat ke lokasi UKA-UKA alias Ujer KAmpret-Ujer KAmpret. Kamipun berangkat dengan berbekal beberapa potong “godogan” singkong dan tempat minum yang terbuat dari bambu. Gembolan kain berisi perbekalan saya yang bawa, dengan tempat minum yang terbuat dari bambu dengan tali dari kulit pohon tergantung dipinggangku, serasa aku menjadi orang London untuk hari ini, sedangkan Ki Honje hanya membawa rokok dari daun kaung yang menyala terselip di jarinya, wenak tenan ya…..

Perjalanan dimulai dari jalan setapak di sebrang jalan rumah Ki Honje alias Pak Gulunding, jalan tanah merah yang kering, untung saja sekarang musim panas, sehingga jalanan kami lalui tidak becek dan licin. Selang 15 menit kami berjalan stelah kami sebrangi hamparan sawah, sampailah kami pada  bibir hutan, Ki Honje pun berhenti, “Ngan sampe dieu Ki Honje Tiasa nganteur nya jang” yang artinya cuman sampai sini beliau bisa antar, selebihnya aku harus melakukan semua sendiri. Beliau menunjuk pada Gunung yang harus ku tempuh, dan posisi tempat lokasi Batu Tapak Kotok berada, akupun pamit, dan mulai berjalan memasuki Hutan. Hutan yang asri, udara sejuk dengan irama kicauan burung dan bunyi serangga menemani langkahku, aku terus  berjalan menuju gunung Haseupan. Menurut cerita Ki Honje, gunung ini sangat jarang didaki, entah kenapa aku tak tahu, tapi itu berarti kemungkinan besar aku tak dapat menemukan jalan setapak disana, tapi mudah-mudahan saja ada lah.

Gunung haseupan merupakan gunung yang berada di tengah-tengah antara 2 gunung besar, Gunung Karang dan Gunung Pulosari. Bila kita lihat dari kejauhan, Gunung haseupan seperti gunung penghubung antara kedua Gunung besar ini. Namun entah kenapa keberadaan gunung haseupan ini kurang tenar dibanding kedua gunung besar itu. Tak terasa aku telah sampai dikaki gunung Haseupan, aku beristirahat sambil minum dan melemaskan kaki-kaki, lalu kembali melanjutkan perjalanan karena kulihat matahari mulai tenggelam, aku harus mencari tempat untuk bermalam, tempat yang sekiranya aman dari ancaman hewan buas pada saat ku tertidur pulas. Tak terlalu jauh dari kaki gunung akhirnya aku menemukan tempat untuk bermalam, dibawah tebing batu yang menjorok ke luar, sehingga dapat memayungiku dari jatuhan embun dimalam hari. Akupun mulai mengumpulkan kayu bakar untuk membuat perapian, hari mulai gelap, api pun mulai menyala, banyak sekali kukumpulkan kayu dan dahan-dahan kering, persiapan bila mata tak mau diajak tidur, kan serem kalau gelap, hehe……  Malam pun semakin tua, suara-suara binatang hutan riuh terdengar, sesekali aku di kagetkan oleh monyet liar yang melompat dari dahan ke dahan, namun aku tetap mencoba berpikir positif, bahwa gunung ini indah dan nyaman, tak ada yang perlu ditakuti, sambil sedikit clingak clinguk tentunya. Sambil menikmati hangatnya api, aku menikmati bekal singkong yang kubawa  tadi, entah kenapa di tempat ini selera makanku serasa meningkat, makanku agak banyak ditempat ini walaupun hanya makan singkong, padahal kalau ditempat lain makanku juga lebih banyak lagi. Tak kusangka sebelumnya, semakin larut kukira akan semakin gelap, tapi ternyata sebaliknya, lingkungan sekitar mulai terlihat jelas, penerangan yang berasal dari cahaya bulan, dirikupun mulai santai beradaptasi dengan lingkungan, untuk membunuh rasa sepi aku sambil bernyanyi, Rembulaaaan bersinar laaagi..ii..ii….. dan seterusnya sampai satu album lengkap. Kini aku tak takut lagi, berkat abah Mansyur S.  Terima kasih ku ucapkan untuk Abah Mansyur S.

Sudah hampir tengah malam kukira, tapi mata rupanya belum mau terpejam, Api unggun pun mulai redup, lalu kutambah lagi kayu-kayu kering agar api tetap besar, karena kurasakan malam makin semakin dingin, semakin lembab. Badanpun mulai mengigil kedinginan, karena kalau kepanasan bukan menggigil namanya. Suara suara bianatang d hutan ini semakin malam semakin berisik,  mungkin karena mereka kedinginan juga seperti saya, namun mendadak aku dikagetkan oleh suara lumayan keras, “Kuku ruyuuuuuuuk kuekkkk…….Kuku ruyuuuuuuk kuekkk”…… mendadak suara binatang-binatang lain terhenti, seketika menjadi sunyi, tak ada suara binatang satupun kudengar, bahkan suara kentut jangkrik pun tak ada. Suara Kokok ayam jago yang menggelegar dari arah sekitar puncak gunung, suaranya berat sekali, membungkam semua binatang yang ada di sekitar gunung ini. Entah aku harus takut atau bagaimana, aku memang takut, jujur takut, namun sisi lain aku sedikit ingin tertawa, karena baru kali ini aku mendengar kokok ayam jago dengan bunyi “Kuekkk” di belakangnya, tak kuasa aku menahan tawa, ahirnya kulepaskan juga, Buakakkakakakka…… Entah ayam seperti apa itu, kokok nya terdengar se’antero Gunung dengan suara “kuekkk” dibelakangnya. Macem-macem aja gumamku, sambil duduk bersandar di dinding batu. Setelah itu terdengar suara kepakan burung malam, dan suara grasak gresek binatang-binatang yang menggambarkan berlari, suara-suara itu bergerak menjauhiku, apakah binatang itu takut dengan keberadaanku, untuk membuang pikiran-pikiran lain, kutembangkan lagi lagu “Rembulan bersinar lagi……. “ sampai pada lirik “hampir saja, hampir saja” aku  berhenti karena dikejutkan  oleh bayangan berkelebat-kelebat, tanpa mencoba memikirkan apa-apa kulanjutkan lagu itu sampai mungkin 3 kali ku ulang lagu itu, semakin banyak kelebatan bayangan, tak terasa  lagu ini semakin cepat aku dendangkan, saat lirik “Putus asa bunuh diri” diulangan ke 4, mulutku tak dapat mengeluarkan suara, hanya berjarak sekitar 7-8 meteran se-ekor anjing Hutan besar yang terlihat sangat buas memandangku tajam, lalu datang lagi satu, datang lagi, dan lagi, sehingga ada sekitar 5 ekor anjing besar mengelilingiku, Abah Mansyur S saat ini tak dapat lagi membantuku, bagaimana ini…..

Langsung ku ambil batang kayu dari api unggun, kugunakan untuk menakuti Anjing-anjing itu, kugibas-gibaskan api didepan mereka, namun sepertinya mereka tidak takut sedikitpun, namun dengan nyala api di ujung kayu yang kupegang, aku dapat melihat jelas Anjing-anjing itu, anjing yang aneh, tak seperti anjing-anjing pada umumnya, ada yang janggal di ke-empat kaki anjing-anjing itu. Jari kaki anjing-anjing itu bukan menghadap kedepan, melainkan menghadap kedalam sehingga jari kakinya saling berhadapan antara kiri dan kanan. Teringat pesan guru ngajiku dikampung, bila menemukan sesuatu yang janggal seperti ini, kita harus tenang, sebetulnya mahluk-mahluk seperti itu hanya halusinasi kita saja, mereka bisa berubah bentuk menjadi apapun dan bagaimanapun, dan sesungguhnya mahluk seperti ini tidak dapat melukaiku, hanya menakut-nakuti saja. Akupun menghirup nafas dalam agar menenangkan pikiran, kuturunkan batangkayu yang menyala dari tanganku, sambil santai aku coba bertanya kepada anjiing-anjing aneh itu, “Ente siapa? Kita masing-masing ajalah, anne tau ente itu sebenernya gak bisa nyakitin anne, pergi dah sono” begitu selesai mengucapkan kata-kata itu dari sebelah kiri anjing yang satu menabraku sambil mencakarku, anjing yang besarnya tak lazim menabrak pundak kiriku, seperti ditumbuk kerbau rasanya, d tambah tusukan kukunya di pangkal tanganku, untungnya tidak terlalu dalam, aku terjatuh tapi langsung berdiri lagi mengangkat kayu, remuk rasanya pundak kiriku, teori  guru ngajiku ternyata tak berlaku saat ini, boro-boro tidak bisa menyakiti, puguuuh remukkk badan rasanya di tabrak anjing aneh yg besar sekali. Akupun teringat dengan batang kayu yang kutemukan dikandang ayam, siapa tau batang kayu kecil ini bisa membantu, kuambil batang kayu kecil itu dari sabuk di punggungku, kugenggam pasti sambil kuangkat ke atas, berharap batang kayu ini bisa berubah mejadi pedang atau cambuk atau sesuatu seperti di film-film, dan akhirnya batang kayu ini tetap menjadi batang kayu kecil, tak berubah menjadi apa-apa. Tak ada jalan lain kalau begini, mau tak mau aku harus menghadapi mereka, kulemparkan tempat minum dari bambu yang melintang di pinggangku, kubuka baju pinjaman dari Ki Honje lalu kulilitkan di telapak tangan, untuk nanti menahan tajamnya taring dan kuku-kuku mereka, namun siapa sangka, mereka malah mundur, dan ahirnya berlari menjauhiku hingga tak terlihat lagi. Mungkin mereka takut padaku atau takut karena bau badanku, sampai kusadari, tempat minum yang terbuat dari bambu tadi jatuh tepat didepan mereka saat kulemparkan, rupa-rupanya mereka takut akan tempat air minum ini, tak disangka, Ki Honje pun tak berkata apa-apa mengenai tempat air minum ini, tapi apa benar anjing-anjing itu takut dengan tempat air minum ini?  Ataukah justru takut dari bau mulutku yang menempel di tempat air minum ini? Ya sudahlah, apapun itu kini keadaan sudah kembali aman, lega rasanya, kukenakan lagi baju yang tadi kubuka, dan mencoba tidur, lama kelamaan akhirnya mata ini bisa terpejam juga, suara-suara binatang hutan inipun telah kembali normal, menandakan keadaan sudah aman, akupun tertidur dengan lelap.

Mentari dengan hangat membelai wajahku, suara burung-burung beserta kotorannya menyambut pagi yang cerah ini, tepat di pelipis kananku burung menjatuhkan ampas dari perutnya  yang kecil, kotoran burung baru yang hangat dan lembut dipagi hari, menandakan aku akan dapat rejeki hari ini. Selesai cuci muka dan berkemas-kemas, aku melanjutkan perjalananku. Berjalan terus menuju puncak gunung Haseupan. Semakin mendaki ke atas, semakin padat pula pohon-pohon di Gunung ini, ranting-ranting dana semak belukar menjadi sangat padat, hampir menutupi seluruh  jalan setapak yang kulalui ini. Perasaan tenang dan lega saatku sampai pada hamparan pohon pakis yang tingginya hampir merata, hijau sekali terhampar seperti karpet mesjid yang sedang di jemur dilapangan Volley. Udara sejuk dan gemericik air dari tebing batu sebelah selatan menambah nikmatnya singkong rebus yang kumakan yang sudah agak basi ini. Saat aku sampai pada satu genangan air di tengah-tengah hamparan pohon pakis, kudengar siraman-siraman air, bukan suara air yang menetes dari ketinggian, tapi seperti suara air yang  d siram-siramkan menggunakan gayung, aku yakin. Siapa yang cebok digenangan air yang jernih dan indah ini, untung saja aku belum masuk dan berkumur-kumur di dalam kolam ini. Saat aku melihat dibalik batu, kutemukan sesosok wanita yang ternyata bukan sedang cebok, tapi sedang berendam di kolam sambil memainkan air kolam dengan tangannya. Wanita yang sangat cantik dan mempunyai kulit yang putih dan kelihatan lembut, tanpa busana sedang mandi ditengah-tengah surga dunia ini, karena memang tak mungkin orang mandi dengan busana Dinas PNS lengkap dengan sepatu dan tas kerjanya kan? Pastilah kalau orang mandi itu tanpa busana, yak……wanita tanpa busana. Dengan tampang yang pura-pura bego dan tak meihat, aku cuci mukaku dikolam, sekali-kali kuhirup airnya dengan mulutku untuk berkumur, sesekali juga ku telan air kolam ini saat mataku memandang wanita itu, air kolam yang jernih yang didalamnya terdapat wanita cantik sedang mandi, air yang segar dan wangi. Kulit punggung wanita itu terlihat sangat bening tersorot oleh matahari pagi, tak tahan rasanya ingin ku langsung mandi besar  bersama wanita itu. Tapi lagi-lagi aku teringat akan pesan guru ngajiku di kampung, bahwa godaan terbesar seorang lelaki yang sukses adalah “Wanita”, bila kita kalah dengan nafsu setan, maka celakalah kita. Namun sekarang ini kukira bukan nafsu setan, melainkan nafsu diriku sendiri, nafsu pingin……ehm. Mungkin inilah tempat yang disebut Ki Honje pada saat briefing sebagai tempat yang bernama  “Ci Parawan” yang artinya Air perawan. Ci Parawan merupakan salah satu tempat dimana orang-orang yang mempunyai maksud sepertiku ini gagal melanjutkan perjalanan, tergoda oleh sejuk dan lembutnya air kolam yang jernih, mulus dan nikmat ini. Aku tak tahu bagaimana tempat ini dapat menghentikan perjalanan orang-orang seperti saya ini, ingin aku mengetahui bagaimana bila aku masuk kekolam dan mandi bersama wanita cantik itu, apa yang terjadi. Setelah aku timbang-timbang langkah mana yang harus aku ambil, ahirnya aku memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan, dan menghiraukan wanita cantik yang mandi tanpa busana dikolam yang indah ini. Karena aku tahu bahwa  hal ini merupakan kenikmatan yang sesaat, yang mungkin akan kusesali seumur hidupku. Kukencangkan ikat pinggang yang sempat agak melorot pada saat melihat wanita itu mandi, lalu bersiap melanjutkan perjalanan, tapi tak ada salahnya aku melihatnya dulu selama 5 menit lagi, lumayan lagi nanggung.

Tanpa menoleh kebelakang hanya menolah ke samping kiri aku lanjutkan perjalanan, karena memang kolam dan wanita itu ada disebelah kiriku. Sebetulnya dengan tampang dan kemampuan yang pas-pasan mungkin ini kesempatan seumur hidupku untuk mandi dengan wanita sangat cantik, tapi ya sudahlah, cukup kurekam kolam dan wanita itu di otaku, untuk bekal ngelamun nanti dirumah, lumayan untuk materi.

Dengan berat  hati aku terus melanjutkan perjalanan, masuk lagi kedalam hutan untuk mendaki dan mencapai Gunung haseupan. Selang beberapa lama diantara rimbunnya pohon-pohon dan jalan yang menukin ke atas, kulihat ada sebuah sebuah tanah datar yang terang karena sinar matahari masuk tanpa terhalang pohon, rupanya aku sudah sangat dekat dengan puncak gunung. Puncak Gunung yang indah, yang tak terlalu luas, hanya kurang lebih 23 Meter persegi luasnya. Kulihat disebelah kanan, terdapat kuburan tua bertuliskan Ki Mxx xxxA. Menurut informasi di Ki Honje, “Batu tapak kotok” berada beberapa ratus meter di arah barat dari puncak gunung, akupun langsung mencari lokasi itu. Ditengah tengah gagahnya pohon-pohon tua dan besar, aku lihat sebuah pondok, pondok yang mengeluarkan asap dibagian dibelakang, pertanda ada kehidupan dipondok tengah Gunung ini. Didepan pondok itu terdapat gundukan batu yang tingginya kurang lebih selutut orang dewasa. Perlahan kudekati pondok itu, dan perlahan kudengar langkah kaki dari dalam pondok menuju keluar, lalu seorang kakek tua keluar dari dalam pondok, kakek tua yang telah menuntunku sampai ke Rumah Ki Honje, kakek tua itu menatapku, akupun hanya terdiam dengan memasang raut wajah yang terkesan kecewa dan bertanya-tanya. “duduk, istirahat dulu” kakek tua itu berkata.  Akupun menurut saja, tak mau aku membahas kejadian-kejadian di luar nalar pada saat aku di ajak berjalan oleh kakek tua ini. Memang Ki Honje memberitahuku, bahwa di lokasi batu tapak kotok  aku akan berjumpa dengan seseorang, tapi tak pernah ku kira bahwa orang yang di maksud adalah kakek tua ini. “Dimana Batu Tapak Kotok ?” tanyaku, namun kakek tua malah berbalik bertanya kepadaku: “Apa kamu tidak mau tahu kejadian-kejadian yang kamu alami sebelumnya?”, aku hanya menjawab untuk apa aku mempermasalahkan hal itu, hal yang terpenting sekarang adalah dimana aku bisa menemukan batu tapak kotok berada, agar maksud dan tujuan ku kesini membuahkan hasil. Mendengar hal itu kakek tua itu tersenyum, lalu menunjuk pada tumpukan batu yang berada didepan pondok ini, tumpukan batu yang biasa kelihatannya, bentuknya tidak menggambarkan tapak ayam, bahkan menggambarkan kotoran ayampun tidak. Pokoknya hanya tumpukan batu yang tidak ada mirip-miripnya sama sekali dengan semua bagian tubuh ayam, namun kakek Tua itu menegaskan bahwa itulah yang namanya Batu Tapak Kotok.  Aku pun berjalan mendekati tumpukan batu itu, kuputari, kamudian bertanya kepada kakek tua itu : “lalu bagaimana ini kek?”, sang kakek kemudian memanggil seseorang dari belakang pondok, kemudian keluarlah Ki Honje dengan menggendong se-ekor ayam jago, ayam yang gagah berwarna jalak, badannya tegap, matanya tajam, ekornya panjang terurai, kakinya yang panjang berwarna hijau sesuai dengan badannya, akupun kaget, bukan hanya kaget karena bertemu Ki Honje ditempat ini, tapi kaget bahwa aku kenal dengan ayam yang di gendong Ki Honje, Gondel…… aku sangat yakin itu Gondel, meskipun dengan penampilan lebih muda dari sebelumnya. Ki Honje tersenyum kepadaku, “Kenal kan kamu sama ayam ini?” tanya Ki Honje kepadaku, akupun mengangguk sambil tersenyum lebar, seakan tak percaya, aku ambil Gondel dari gendongan Ki Honje, lalu menaruhnya di tanah sambil mengelus-elus leher Si Gondel, Gondel Pun berkokok dengan gagah, kokokan yang dulu sering kudengar, kokokan yang membawa kemenangan. Aku pun bertanya kepada kedua orang tua itu, tentang kayu sepanjang satu jengkal tangan, mereka menjawab itu bukan kayu apa-apa, itu kayu biasa, mau kuusimpan ya silahkan, mau dibuang ya silahkan, orang Cuma kayu biasa, sial aku dikerjain, tapi tak apalah, semua kejadian semua kesusahan terbalas dengan memegang Gondel ditangan. Singkat cerita, akupun pulang ke Brebes bersama Si Gondel, namun kali ini bukan berjalan cepat seperti sebelumnya, kali ini aku pulang naik kendaraan umum dengan ongkos sendiri tentunya dengan membawa tekad dan semangat bahwa aku akan menaklukan dunia ayam laga.

 

TAMAT

“Semua kejadian, nama tokoh, dan nama tempat di cerita ini hanya karangan belaka, mohon maaf bukan maksud menyinggung apapun atau siapapun, Just 4 Fun”

By KI Boga on Friday, August 28, 2015 at 10:26pm

Posted in Cerpen ngawur gogoblogan | Leave a comment

Tulisan pertama di Lauh Mahfuz, (The Power of Bismillah)

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda, “Ketika Allah menciptakan qolam, kemudian lauh, Allah memerintahkan qolam untuk mendatangi lauh.

Allah berfirman kepada qolam, “Wahai qolam”.

Qolam menjawab, “Aku sambut panggilan-Mu dan aku siap menerima perintah-Mu Ya Robbi”

Allah memberi perintah, “Tulislah pertama kali Bismillaahir rohmaanir rohiimi”.

Ketika qolam menulis “ba” keluarlah darinya cahaya yang menyinari segala sesuatu di malakut dari mulai ‘arsy sampai bumi. Bertanyalah qolam, “Ya Robbi ! Apakah “ba” ini ?”

Allah menjawab, “Ba ini adalah bariun liummati Muhammadin (pembebas untuk umat Muhammad)”

Allah memerintahkan pula qolam menulis “sin”.

Ketika qolam menulisnya, keluarlah dari lekukan-lekukannya beberapa cahaya. Cahaya yang satu memancar ke ‘arsy, yang satu ke kursi dan yang satu ke surga. Ketika qolam melihat ketiga cahaya ini, ia bertanya, “Ilahi, Apakah cahaya-cahaya ini ?”

Allah menjawab, “Ini adalah cahaya umat Muhammad ‘alahissolatu wassalam. Adapun cahaya yang memancar ke ‘arsy adalah cahaya al-sabiqin, cahaya yang memancar ke kursi adalah cahaya al-muqtasidin dan cahaya yang memancar ke surga adalah cahaya al-‘asin dan az-zolimin di antara mereka”.

Allah memerintahkan pula Qolam menulis “mim”.

Ketika qolam menulisnya, keluarlah darinya cahaya yang lebih terang dan lebih bersinar dari cahaya “ba” dan “sin” sehingga menyinari segala se-suatu dari ‘arsy sampai bumi. Terdiamlah qolam dalam ketakjuban seribu tahun. Setelah itu bertanyalah qolam, “Ya Robbi, Apakah cahaya ini ?”

Allah menjawab, ”Ini adalah Nur Muhammad ‘alaihissolatu wassalam. Dia adalah kekasih-Ku, pilihan-Ku dan rosul-Ku. Ini Sayyid seluruh nabi dan rosul. Dan tidak Aku ciptakan segala sesuatu, kecuali karenanya”.

Ketika Qolam mendengarnya maka berkeinginanlah untuk menyampaikan salam pada Nur Muhammad ‘alahissolatu wassalamu, kemudian meminta idzin melakukannya. Kemudian berkatalah qolam, “Assalamu ‘alaika (salam bagimu) wahai Rosulalloh – wahai Habiballoh dan wahai Nurolloh.

Allah berfirman, “Wahai qolam ! engkau telah menyampaikan salam kepada kekasih dan rosul-Ku padahal ia saat ini tidak ada, sedangkan apabila ia hadir pastilah ia akan menjawab salammu, karena itu Aku jawab padamu karenanya. Bagimu salam dari-Ku wahai qolam”.

Allah memerintahkan qolam menulis Allah Ar-Rohman Ar-Rohim. Bertanyalah qolam, “Ya Robbi, Apakah nama-nama ini bagi-Mu ?”

Allah Yang Maha Tinggi menjawab, “Aku – Allah – untuk as-sabiqin, Aku – Ar-Rohman – untuk al-muqtasidin dan Aku – Ar-Rohim – untuk al-‘asin dan az-zolimin”.

Dalam sebagian keterangan disebutkan bahwa As-Sabiqin adalah orang yang kebaikannya amat banyak – jauh melebihi keburukannya. Al-Muqtasidin adalah orang yang kebaikan dan keburukannya berbanding. Al-‘Asin adalah orang yang keburukannya jauh melebihi kebaikan yang dilakukan.

(H.R. Tirmidzi)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Garam kehidupan Part II

2.15 am, Saturday early morning………

Bingung mau ngapain, mau tidur kayaknya ga rela. Perasaan tadi baru bangun pagi, eh sekarang udah pagi lg. Cepat memang waktu bergulir, bila tidak pintar-pintar menaikinya, ia akan meninggalkan kita.

Flash back dikit ah….

Jadi ingat masa-masa suram nan luar biasa di saat masih belum tumbuh bulu di ketiak. Pohon sawo besar di depan rumah, dan sumur tua di belakang rumah, terpisah euy dari rumah. Saya lebih memilih pipis di depan rumah ketimbang harus jalan ke belakang rumah yang gelap gulita, mana di belakangnya pohon bambu lagi, wadohhh……..

Di situlah saya berawal, mulai dari malam bantuin mama ngelecek lecek plastik es mambo, supaya gampang masukin corong, ampe balik2in es sebelum tidur supaya es nya jadi besok paginya. Bedug subuh bangun gara-gara bunyi berisik dari es yang di masukin plastik sama bapa, mau di anter ke warung-warung. Niatnya cuman mau pipis, eh di suruh solat terus nganter babeh ngirim es. Ngejinjing es dah jadinya di vespa, mana berat, di pangku dinginnya audubillah, mata sepet…….ampoen dah.

Balik ngirim es, siap siap sekola di Es De Ingpres. Mandi, pake seragam, sarapan, siap berangkat, eeeh di suru nenteng termos es lagi, dagang dah di skola’an. Temen-temen sedep maen pas istirahat, la kite nungguin es, settt dah.

Pedih untuk diingat, tapi kok bsa bikin senyum. Memang Allah mah maha besar lah, kami mulai dari kecil, eh tau-tau saya udah begini, udah ganteng, kaya, baik hati, tidak sombong lagi, hehehe….(ngising.com)

Kalo aja rumah tua itu ga di pugar, dan vespa buluk ga di jual, bakal saya pajang itu vespa di depan rumah, dan di beri podium.

Saya ini ternyata salah satu dari sekian banyak orang yang sangat beruntung, dari cilik sudah di ajari orang tua untuk usaha, untuk bertahan hidup. Sorry mah, pak, dulu-dulu sering ngambek ngurusin es. Semua itu pelajaran paling berharga buat saya. Entah apa bisa saya mengajarkan hal kayak gitu ke anak-anak saya, dimana saya mah masi mentingin kesombongan disamping manfaatnya kelak. Kan malu tau anak gua jualan es…….

Tapi ternyata…….pas lagi iseng-iseng browsing, ada penawaran wirausaha jajanan es. Entah kenapa kok langsung tertarik, padahal belum tau bakal bagus atau nggaknya. Yah mungkin buat Nostalgila aja, biarpun rugi, tapi untung di sisi nostalgilanya. Makanya bagi para orang tua seharusnya membekali anaknya dengan perjuangan, bukan membekali dengan semua ke-enakan2 fasilitas, agar nanti kelak anak2nya siap bertahan di dunia (*padahal sndirinya jg blm bsa kayak gtu).  “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, maka dari itu sebelum jatuh bekali dengan segudang ilmu, Buah kecil dengan segudang ilmu akan lebih cepat tumbuh menjadi pohon ketimbang buah besar dengan segudang cadangan makanan didalamnya, karena membutuhkan waktu untuk mengurai cadangan makanannya tersebut”. “Yang bakal menjadikan pohon itu bijinya, bukan dagingnya”.

Posted in Jeritan daging dan kulit | Leave a comment

The true Power of POWERLESS

Kata ini berasal dari dua kata. Power dan Less. Power mempunyai arti kekuatan, atau bisa juga kita tempatkan sebagai Kekuasaan, tenaga dan beberapa arti lainnya. Sedangkan Less berarti sedikit, atau jarang. Sehingga bila digabungkan, PowerLess mempunyai arti tak berdaya/tak mempunyai kekuatan. Secara harfiah PowerLess memang selalu diartikan seperti itu didunia ini. Tetapi apakah kita pernah mengetahui, meneliti bahwa sebenarnya didalam PowerLess jutru tersimpan kekuatan yang sangat besar yang sebenarnya tidak pernah disadari oleh diri kita.

Pernahkah kita mendengar berita tentang seorang isteri yang sering dianiaya oleh suaminya? Contoh lain katakanlah seorang pelajar yang cupu, selalu di kerjain oleh teman-temannya, dan dia tidak melawan karena takut. Powerless, yah seperti itulah dunia memberi gelar.

Berita tentang isteri yang sering dianiaya suami, berujung pada kematian sang suami  yang dibunuh oleh isterinya yang sudah tak tahan akan perlakuan suaminya tersebut. Dan begitupun pada kisah pelajar cupu. Apakah dalam kejadian ini, sang istri dan pelajar masi dikategorikan sebagai Powerless?. Tidak, untuk melakukan suatu pembunuhan dibutuhkan suatu kekuatan luar biasa baik fisik maupun mental, yang kuat yang hidup, yang lemah akan mati. Itulah hukum rimba yang telah di adopsi oleh kita. Sang isteri dan pelajar tadi hanyalah mengalami gejala overload kekuatan, Power dalam diri mereka, sehingga mereka tidak dapat mengendalikannya.

Siksaan, hujatan atau sejenisnya yang dialami isteri dan pelajar tersebut justru memberi kekuatan, semakin banyak siksaan maka semakin  besar pula lah kekuatan yang tertanam dalam diri kedua orang tersebut. Hanya saja kedua orang ini lebih memilih jalan pintas untuk mengeluarkan power tersebut. Dalam kondisi ini terdapat beberapa cara untuk memanage kekuatan yang didapat, yang pertama adalah cara yang dilakukan isteri dan pelajar tadi, dan yang kedua melalui jalan pemikiran. Bila saja isteri tersebut melaporkannya ke Polisi, ibu ini dapat keuntungan dari ganti rugi, dan sang suami dipenjara. “Tapikan isterinya takut kalau lapor polisi justru siksaan dari suami makin parah”, ini menandakan power yang diterima masi kurang untuk melakukan itu. Jika saja power itu sudah cukup, pasti ia akan berani.

“Bagaimana kalau justru pada saat pengumpulan Power tersebut justru berujung kematian pada sang isteri?”.  Dari 5 orang pejuang Negara, 2 gugur di peperangan, 3 selamat. Beritanya menyebar seantero negeri. Ke dua pejuang yang gugur tersebut akan menjadi pahlawan, dan jasadnya pun akan diperlakukan istimewa oleh pemerintah. Sedangkan ketiga orang yang selamat, pada masa pensiun mereka akan hidup seperti rakyat biasa. Disinilah pengaplikasian Power dari kedua pejuang yang gugur.

Kubangan air kotor di dataran rendah selalu tersisih dibandingkan air terjun di puncak gunung. Percikan air terjun bersuka ria, dan ampasnya dibuang ke kubangan air kotor di dataran  rendah. Para air terjun tidak pernah sadar bahwa mereka telah menanam sedikit demi sedikit kekuatan pada si kubangan air kotor yang lama kelamaan akan menjadi lautan yang dapat menenggelamkan seluruh air terjun air terjun di seluruh pegunungan.

Beberapa manusia pasti pernah merasa tertekan, teraniaya, merasa aneh sendiri dari Populasi umum. Tetapi kita harus ingat, Powerless bukan berarti kita tak berdaya, justru dengan powerless kita akan dapat dengan mudah mempunyai kekuatan yang tak terhingga jika kita dapat memanagenya. Laut adalah contoh bagi orang  berhasil memanage powernya, begitu banyak sungai dekil dan parit kotor memberinya limbah, tetapi ia tidak pernah menolak, ia  terima dengan tenang dan lapang dada, jutru menjadikannya air kotor menjadi biru bersih, indah dipandang, menjadi andalan bagi semua mahluk.

“It just the matter of time, When it’s Full filled, it’ll all be yours”.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Segelas air putih

Menyegarkan memang, meminum segelas air putih dingin di tengah ganasnya sinar matahari di siang bolong. Selintas saja memang, tidak ada yang istimewa dari pada segelas air ini. Suatu ketika saya membuang segelas air putih yang tergeletak di meja depan pelataran rumah ke tanah, Ia menghilang dengan cepat. Ada sebagian yang menguap (kita sebut bagian ini sebagai “X”), dan sebagian meresap kedalam tanah (sebut saja bagian ini sebagai “Y”). Bagian yang menguap yang dibantu oleh panas matahari, akan terus bergerak ke atas untuk bertemu dengan uap-uap air yang lain di atas sana. Sehingga uap-uap yang berkumpul ini akan memadat membentuk awan yang nantinya berkumpul pulalah awan-awan satu sama lainnya, terombang ambing angin kesana kemari, menunggu proses terjadinya hujan.

Sedangkan bagian yang meresap ke tanah tadi (Y) akan terus turun, turun, sehingga ia akan sampai ke sungai bawah tanah. Disitu ia bertemu dengan teman-temanya, bercengkrama sambil berdo’a  agar bagian dari dirinya tadi datang menjemput, meskipun tak tahau dan bagaimana hal itu akan terlaksana.

Keesokan harinya hujan turun, sebagian air digelasku yang menjadi awan tadi (X) ahirnya turun menjadi air hujan. Sesampainya di bumi, ia ingat akan belahan dirinya yang terpisah pada saat proses evaporasi, ia melihat kesana kemari dan ahirnya dia sadar bahwa tanah yang di hinggapinya bukan lagi jenis tanah yang ketika dahulu dia terpisah, dia telah jauh terpisah. Dahulu tanah yang dia diami terasa padat, dengan dihiasi rumput-rumput hijau nan indah, tetapi yang ia hinggapi sekarang hanyalah hamparan pasir yang sangat luas dan gersang, ia pun menangis, bukan saya melupakanmu, hanya rasa keingin tahuanku yang sangat besar tentang negeri di atas sana, awan-awan yang bertebaran dilangit nan indah yang selalu mendorongku untuk terbang kesana.

Diatas permukaan tanah yang didalamnya terdapat “Y” yang sedang menunggu. Hujan pun turun. Banyak air-air yang bergabung di sungai bawah tanah, sementara itu si “Y” dengan tertatih tatih mencari “X” dengan semangat luar biasa, setiap tetes, setiap percik, ia perhatikan dengan seksama, tetapi “X” tak kunjung jua….sehingga akhirnya hujanpun berhenti. Didalam renungannya “Y” bersedih, apakah “X” sudah melupakannya. Akan tetapi dia membuang jauh-jauh fikiran itu, ia terus menunggu, di celah-celah rongga sungai bawah tanah ia berpegangan dari derasnya air yang mengalir di sungai bawah tanah itu. Menunggu….

Dibelahan bumi lain “Y” ahirnya meresap ke dalam tanah, sekuat tenaga dia menolak, tetapi sang panas matahari tak dapat membantunya kembali ke awan, dikarenakan terlalu gelap dan besarnya hujan yang turun ke bumi. Ia pun tersentak sentak akan kerasnya bebatuan didalam tanah, hingga akhirnya sampailah ia di sungai bawah tanah, di belahan bumi yang lain tentunya, yang sangat jauh dengan sungai si “X”. Dengan perih dan kotornya tubuh, sang jagoan “Y” tersadar, mungkin aku dapat menemukan “X” didalam sini, wowww ternyata  banyak sekali sebangsaku disini….ia mulai mencari, dari ujung hingga ujung, dari tepi hingga tepi, tapi nihil. “X” berada jauh dibelahan bumi lainnya, ia pun mulai mengetahuinya. Akan kah saya dipertemukan kembali dengan “X” ya tuhan, sambil merintih diantara sesaknya air-air yang berlalu lalang.

Hari demi hari, minggu demi minggu, hujan demi hujan, “X” dan “Y” terus berharap akan suatu ketika mereka di pertemukan. Hingga suatu ketika di bulan November, Hujan turun dengan derasnya pada hampir di seluruh penjuru bumi. Seketika itupun semua sungai bawah tanah mengalami banjir dahsyat.

Saat itu “X” maupun “Y” sangat takut, kalau saya terbawa arus, bagaimana aku akan menemukannya, kedua air itu berpikiran yang sama. Baik “X” ataupun “Y” mereka berjuang, mereka mencoba meraih, mencoba berpegangan didinding dinding sungai bawah tanah, namun derasnya air terlalu kuat, mereka ahirnya terbawa tergulung gulung hingga menuju tempat yang sama sekali tak mereka kenal, hamparan air yang sangat tenang, penuh dengan senyuman bahagia. Seketika tubuh mereka terasa asin, berwarna biru. Tempat apakah ini…..sepanjang penglihatan indah kerlip air yang memantulan sinar matahari bak untaian permata. Yang dibawahnya banyak tumbuh-tumbuham dan karang-karang yang indah. Ditempat ini semua bergembira, semua indah.

Didalam sejuta keindahan ini “Y” tetap ingat akan si “X” yang selalu bersama sama ketika dahulu. begitupun sebaliknya terhadap diri si “X”. Rupanya berjuta keindahan di tempat barunya, berjuta kenikmatan tak dapat menggantikan kesunyian yang mereka rasakan. Kerinduan yang teramat sangat.

Waktupun berlalu, baik “X” maupun “Y” tak henti-hentinya berteriak diantara jutaan, milyaran sebangsanya, meneriakan kerinduan yang selalu menang di antara berjuta riuh kenikmatan.

Hingga ahirnya saat itu tiba. Ahirnya “Y” melihat “X” yang sedang terdiam diantara batuan karang, yang sedang sembunyi dari keramaian. “Y” seketika tidak dapat bergerak, tak dapat berbicara, hanya dentuman denyut jantung yang berbunyi keras, semakin keras. “X” tersentak!!! Aku rasa aku kenal dentuman denyut jantung seperti ini, entah bagaimana saat itu juga denyut jantung “X” berdentum sangat keras. Kedua dentuman jantung ini saling bersautan satu sama lain, membentuk pola, hingga tercipta nada yang indah. Akhirnya “X” menoleh, dan melihat “Y” yang sedang tersenyum berlinang air mata kebahagiaan.

Secelumit cerita dari air dalam gelas dipagi hari……………….

 

Posted in Cerpen ngawur gogoblogan | Leave a comment

Surat untuk anak-anaku

Hari ini selasa, 18 January 2011. UAE mendung seharian, yang sewaktu waktu turun hujan. Kerinduan akan anak-anak makin mendalam seiring dengan dentingan air hujan di atas atap kantor, yang setiap tetesnya terdengar suara kalian memanggilku…Prikitiiiieww 😀 . hampir 2 bulan saya telah meninggalkan anak dan istri saya, seperti rel kereta api yang tak berujung.

Seif, Avanty, sayang 🙂 , bukan tanpa alasan samudera membentang, bukan tanpa alasan gurun pasir tergelar. Detik berganti langkah, menit berganti derap, hari berganti keluh. Kesemuanya hanya proses didalam satu cerita di tengah kabut, kadang suara terdengar, kadang langkah tersingkab. Hari ini terdengar gemuruh, gemuruh Seif yg sedang menangis, ada apa nak? Sesekali dada ini tersesak, yang dikarenakan energy yg di hasilkan massa dikalikan laju cahaya dalam vakum terlalu besar.

Andaikan 17 tahun yang akan datang kalian membaca ini, pastilah mengerti, mungkin saja hanya ego duniawi papa, atau memang semata mata mencoba memberikan yang terbaik dari saya untuk kalian. Setiap tetes keringat dan air mata ini akan mengkristal dan menjadi hiasan dalam kehidupan kita, saya yakin itu. Tugas kalian lah yg kelak akan memberi siluet siluet indah yang akan menghiasi Kristal Kristal kehidupan kita, yang berpendar se-antero Horizon. “there’s nothing impossible if we always try and pray”. Jangan sekali kali kalian memisahkan dua kata ini “try and pray”. Try tanpa pray akan membawa kalian ke jurang yang kamu sndiri tidak akan duga sebelumnya, dengan pray kalian mempunyai pagar dimana kalian harus memacu kuda kalian hingga garis finish dengan tetap berada di dalam lintasan. Begitu pagar ini terbuka, besar kemungkinan kuda kalian akan membawa kalian ke tempat yang seharusnya tidak di kunjungi :).

Begitu juga pray tanpa try, Don’t be like those people, yakinlah akan setiap tetes keringat terdapat Kristal Kristal yang berkelip indah, meskipun harus merangkak dalam panasnya pasir sekalipun. Tanpa keringat Kristal Kristal itu tidak akan terbentuk. Justru sebaliknya Kristal Kristal itu akan bersarang di hati dan kulit kalian yang lambat laun akan mematikan rasa. Pada titik ini kalian tidak akan mengetahui panasnya bara, dinginnya es dan lembutnya sentuhan orang tua.

Bukan tanpa sebab kita lahir didunia ini, mungkin hanya 60 tahun, 70, 80 bahkan lebih atau justru kurang. Sangat singkat sekali, kemarin saya dibelikan seragam putih merah, sekarang justru membelikan. Contohlah komet halley, kemunculannya hanya beberapa detik, tetapi namanya selalu dikenang selamanya. Walaupun  setiap abad banyak komet berperiode panjang yang muncul dengan lebih terang dan dahsyat, Halley adalah satu-satunya komet dengan periode pendek yang tampak dengan mata telanjang. So… selemah apapun kita, seburuk apapun kita, sebaik apapun kita, tetap jaga sinarnya agar dikenang selamanya.

Seseorang yang telah disepakati manusia dengan kata,

Papa

Posted in Jeritan daging dan kulit | Leave a comment

Garam kehidupan. Part I

Akan jadi apakah kita nanti…..kehidupan seperti apakah yang dijalani sama kita nanti, Pertanyaan saya sewaktu duduk di bangku skolahan. Sekarang pertanyaannya berubah menjadi, apa yg kira2 nanti  saya tinggalkan pd saat datang “waktunya” untuk anak dan istri saya.

Sungguh merupakan suatu dilemma yg besar dalam diri saya ketika memikirkan apa sih sbenernya tujuan hidup saya didunia. Berjuta jawaban datang silih berganti, yg kesemuanya justru menimbulkan satu Tanda Tanya yg besar yg tidak di akhiri dengan titik. Satu waktu dengan sambil menghisap beberapa batang rokok di tengah malam ketika istri dan anaku tertidur dengan pulas, terlintas di benak bahwa “inilah tujuan hidupku”, anak dan istri yg harus saya hidupi  yang harus saya beri makan, yang hrs saya bahagiakan. But again pada saat saya meninggalkan mereka untuk tugas kembali jauh dr rumah selama berbulan-bulan, timbul pertanyaan lain, “kok ada yg aneh yah?”, kayaknya ga bsa seperti ini, berarti materi bkn tujuan, hanya bagian dari arus. Lalu apalagi?

Ah mungkin saya harus pulang, dan menggantungkan obsesi2 kehidupan manusia didunia, untuk berkumpul dengan keluarga, tapi nanti makan apa….ah ngewarung ke apa kek, yg penting bisa berkumpul dengan keluarga, dan dapur terus ngebul.

Pertanyaan lain timbul, wah nanti istriku tidak  bisa jalan ke mall, beli baju, anakku jg ga bsa dong mempunyai benda2 aneh, seperti teman2nya masing2. Kasian jg sih, mereka kan tidak bsa seperti saya, bsa makan cuman tahu tempe setiap hari, ikan asin….beuh makanan pusaka. Entah hanya pikiran saya saja atau mereka jg sebenarnya bsa. Atau…ini hanya sebagian dr ego saya saja yang ingin mereka tampil lebih baik dr yang lain. Entahlah…

Oh iya saya seorang muslim, seharusnya saya membuka aturan2 dalam muslim. Dalam al-Quran disebutkan:

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri.Allah-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ankabut: 60)

Tuh, binatang aja dikasi rizki, apalagi kita yang punya akal. Jadi apa yg harus d takutkan?, asal manusia berusaha. Tapi kan saya jg dsini sedang berusaha. OK sekarang bgini, kita kerja dari pagi sampe malam, yah kira2 katakanlah 10 jam mengurusi dunia, solat satu hari 5 waktu, yang skali sholat kurang lebih 5 menit, jaid total waktu buat Allah 25 menit perhari (itu jg klo lg inget), sedangkan untuk urusan kita 10 jam/hari. Apa adil yah? Apakah kita termasuk bagian dari kacang yang lupa akan petani kacang… Apakah yg seperti ini contoh berusahanya manusia menurut agama.

Wah nambah bingung amat ieu. Untuk sementara saya ikut dulu ajalah sama kayu yang hanyut di sungai, sambil mencari ide untuk membuat sungai sendiri. Sesekali kalau ada daun, batang atau pelepah pisang yg lewat saya ikut menumpang jg….sambil menangis dalam senyuman :).

Posted in Jeritan daging dan kulit | Leave a comment