Dalam suatu kampung, pinggiran Kota impian, Adalah mang Ujer mereka menyebutnya. Penampilannya bak kebanyakan warga pada umumnya, hanya saja ada yg sedikit lain bila dilihat dengan seksama. Sehelai bulu ayam selalu terlihat menempel di sela-sela sabuk hijaunya. Bulu ayam ini adalah satu benda yang sangat penting bagi se-orang botoh, yang fungsinya untuk mengeluarkan lendir dari dalam kerongkongan ayam, pernah juga saya melihat darah yg menempel dibulu tersebut pada saat mang Ujer mengeluarkan bulu tersebut dari mulut ayam. Disuatu pagi pada saat saya berangkat bekerja, dan kebetulan rumah Mang Ujer berada tepat di depan kontrakanku, rumahnya tampak sederhana nan terlihat nyaman itu, ia sedang memegang megang ayamnya, ia mengelus bagian kepala sampai leher, lalu pinggang, sampai kebagian kaki. Sepintas lalu saya hanya tertawa dalam hati, kok ada yah orang seperti itu, sampai begitukah ia memperlakukan ayamnya…….. Pagi-pagi dan 5 pagi berlalu, tapi Mang Ujer masih melakukan hal yang sama pada ayamnya, tapi ada suatu pagi saya sedikit terlambat berangkat bekerja, pagi itu mang Ujer tidak ada di tempat biasanya, hanya terlihat ayamnya yang basah kuyup di dalam kurungan ayam yang terbuat dari bambu yang sedang disinari oleh sinar matahari pagi. Dan pada pagi itu saya berhenti sejenak, hanya untuk berpikir tentang perbedaan dari pagi-pagi yang sebelumnya. Hari sabtu adalah hari libur bagi buruh seperti saya, kadang saya melewatkannya hanya dengan tidur puas dirumah untuk istirahat, tapi ada kalanya saya keluar rumah dengan banyak menelusuri jalan-jalan dan tempat tanpa tujuan. Satu hal yang pasti, saya akan tau apa saja yang saya kerjakan di hari dan minggu-minggu kedepan, bukannya saya seorang yang punya indera ke-6, tapi memang begitulah kegiatan saya sebagai buruh, hari demi hari, minggu demi minggu dengan melakukan hal yang sama. Seperti Sebuah kereta yang melaju, mau tidak mau, suka tidak suka, kereta akan terus berjalan bolak balik di jalan dan waktu yang sama sampai ia tua dan tidak bisa melaju lagi. Hari libur telah lewat, dengan sedikit tergesa-gesa saya menyalakan sepeda motor untuk berangkat ke tempat bekerja, saya melihat Mang Ujer sedang duduk di bale-bale bambu depan rumahnya sambil bernyanyi siulan, wajahnya tampak cerah. Tanpa disadari saya tersenyum sambil mencoba menyalakan sepeda motor butut ini. 15 Menit berlalu tetapi Motor butut ini tak kunjung menyala. Penuh keringat putus asa, hari ini sepertinya saya tidak dapat berangkat bekerja, yang artinya hilanglah beberapa bagian gaji saya yang sangat terbatas itu. Sambil meminum air yang saya ambil dari dalam kontrakan, saya melihat Mang Ujer sedang menghisap dengan nikmat rokok kretek berwarna putih bergaris hijau dengan angkaa 234 itu, di depannya ada Secangkir kopi, lalu istrinya keluar membawakan goreng pisang di atas piring kaleng dengan senyuman yang lain dari biasanya, sayang hari ini saya tidak seberuntung kamu Mang, ucap saya dalam hati. Dari pada melamuni nasib dan membiarkan harumnya pisang digoreng dengan diselimuti tepung itu dingin, saya coba membuka percakapan dengan Mang Ujer. “Wah lagi santai nih Mang” ucapku, ia menjawab langsung “ia nih kang, sini kang mampir”, Alhamdulillah…dibalik kesulitan ternyata ada hikmahnya….. “Bu… Kopina Hiji deui”. “Muhun pak”, kata suami istri itu. “Rokok kang…….”, Mang Ujer sambil menyodorkan bungkus rokok. Biarlah para politikus saling berebut kursi, biarlah para artis dan ibu-ibu menggosip, semua aku tak perduli bila ada tawaran seperti ini. Dengan sedikit membuka kata kata, “wah lagi cair nih kayanya Mang Ujer”, dengan sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya dengan sigap, lalu dengan cepat saya menyalakanya……..malu tertutup dengan rokok berwarna putih bergaris hijau itu, dengan tulisan 234. Kapan lagi……. Pada saat saya menyeruput hangatnya kopi nikmat gratis dari istri Mang Ujer, “Huss…husss…” mang Ujer mengusir se-ekor ayam jantan kampung yang datang ke halaman rumahnya. “pengen ngopi juga kayaknya ya mang itu ayam”, saya sambil mengeluarkan kalimat bercanda, “hehehe…..iya tuh, bikin stress ayam saya nanti” Mang Ujer sambil menunjuk ayam jagonya yang dilepas di bagian samping rumahnya. Pada saat itu pula saya tersentak, melihat ayam jago kesayangan Mang Ujer yang selalu di elus-elus setiap pagi dan dimandikan itu penuh dengan luka di bagian mukanya, bagian atas kepalanya tampak botak tak berbulu, yang ada luka-luka dan terlihat darah kering disekitarnya. “Waduh kenapa ayamnya mang?” dengan nada penasaran sambil berdiri dan berjalan mendekati ayam jago tersebut. “Biasa kang, habis nyari duit itu, hehehhe…” Seru Mang Ujer. Lalu saya bertanya-tanya “Nyari duit? Maksudnya Mang?”. Mang Ujer: “Ya di adu atu kang”. Jujur, pada saat itu saya tidak tahu apapun tentang ayam, adu ayam, dan sabung ayam. Dari sinilah percakapan saya dan Mang Ujer tentang ayam Laga dimulai……….
Setelah tak terasa kurang lebih satu jam berlalu, sayapun sedikit banyak jadi tahu tentang ayam laga, singkatnya ayam Mang Ujer yang diberi nama Si Gondel itu telah memenangkan pertarungan, dan berhasil memberikan sejumlah uang untuk tuan nya yaitu Mang Ujer, uang yang lumayan banyak menurut saya, yang dihasilkan kurang dari satu jam. Bagi saya untuk menghasilkan uang sebanyak itu, harus bekerja selama berbulan bulan tanpa makan siang. Saya pun pamit ke Mang Ujer, “Buru-buru amat, saya kira libur hari ini” Mang ujer berucap. “Nggak Mang, motor saya ngadat”, sedikit pembicaraan tentang motor sayapun terjadi, dengan diahiri pinjaman uang dari Mang Ujer untuk memperbaiki motor. Sambil berjalan pulang saya berucap “Untuung ada kamu Gondel……….”. Jam 4 sore saya kembali dari bengkel motor, pada saat mematikan mesin saya lihat Mang Ujer sedang memberi makan ayamnya, Saya langsung mendatanginya untuk membantu, sekedar berbuat baik untuk membalas budi baiknya terhadap saya. “Sini pak saya bantu”, saya ambil sebuah ember dan membantu Mang Ujer membawakan se-ember air atas perintah Mang Ujer yang setengah tidak enak kepada saya. “Yuk kita kebelakang rumah” Seru Mang Ujer. Begitu kagetnya saya melihat keadaan halaman belakang rumah mang ujer, penuh dengan ayam yang berwarna warni bulunya. Ada kulihat sang betina sedang ditunggangi oleh sang jantan, yang hanya satu detik proses bercumbunya, ada pula kulihat ayam-ayam berukuran tanggung datang menyerbu kami. Mang Ujer mengaduk makanan ayamnya, lalu di berikannya ke ayam-ayam itu, suasana riuh menyelimuti…..ayam-ayam makan dengan lahapnya, sambil berebut satu sama lain dengan temannya. “Bau ya kang, maklum lah ya”, Mang Ujer sambil mencuci tangannya di keran didekat pintu dapur rumahnya. “Banyak banget Mang ayamnya, seneng saya melihatnya” spontan saya berkata sambil mencoba mengintip bagian kandang yang tertutup rapat. “itu kandang box untuk ayam-ayam muda yang baru beranjak dewasa, yah kayak kamu itulah” Mang ujer sambil tertawa kepadaku. “Ini ayam aduan semua Mang?” saya bertanya, Mang ujerpun menjawab “Bukan, ini ayam bangkok, ya kalau masalah di adu atau tidak kan terserah yang punya nanti” sambil tersenyum. Mang Ujer pun menceritakan tentang ternak ayam bangkoknya, dan tidak sedikit orang yang datang ke rumahnya untuk membeli ayam-ayam itu. Luar biasa ternyata penghasilan Mang Ujer, jauh dengan saya yang setiap hari harus berangkat pagi-pagi pulang petang. Disudut kandang saya melihat ada se-ekor ayam, jantan kliatannya, karena ada warna-warna lain di bagian leher dan pinggangnya, ekornya pendek, dan kelihatan seperti batang-batang sapu lidi. Ayam itu menatapku sebentar, lalu berlari karena ada ayam jantan lain berusaha mengganggunya. “Jangan lama-lama diliatin, nanti seneng lagi”, seru mang Ujer. Sedikit pertanyaan dalam pikiranku yang selalu kotor ini, kok ada yah yang mau membeli se-ekor ayam dengan harga segitu tinggi.
Oh iya saya sampai lupa memperkenalkan diri, Nama saya Joe, asal dari bagian timur jawa barat, dan paling barat dari jawa tengah. Sebenernya sih Orang tua memberi nama Ahmad Juhendi, Cuma ya biar keren aja dipanggil Joe, kurang ajar juga sih, tapi ya bingung juga sama orang tua kenapa gak ngasih nama yang keren gitu lho, peter, michael atau apalah. Ya sudah panggil saja Joe yah, usia masih di bawah 20 tahun. Kembali ke ayam…. Hari demi hari berlalu begitu pula dengan kedekatan saya dengan ayam bangkok, diluar kesadaran saya, saya mulai mencintai dunia ayam bangkok. Terlebih setelah saya diberi sepasang ayam bangkok dari Mang Ujer. Mulai dari sini, saya mulai mengurus ayam bangkok dengan ilmu yang didapat dari mang Ujer. Sampai pada saat ada keinginan saya untuk mengetahui sejauh mana ayam yang saya punya ini dapat berlaga, maka saya membawa ayam ini ke kampung sebelah. Di kampung ini, santer terdengar banyak sekali peng-Hobby ayam aduan. Sesampainya dikampung ini, dimana tidak ada satupun yang saya kenal, saya mendatangi kerumunan orang yang sedang bersenang-senang mengetes kehebatan ayamnya. “Disini bukan tempat sabung ayam mas, Cuma ngabar aja, kalau mau ngadu disana tuh di ujung jalan”, salah seorang berkata. Sayapun memberitahunya kalau saya Cuma mau abar saja, tidak mau taruhan. Selang beberapa waktu, ahirnya saya bisa bersosialisasi dengan mereka. Menjelang sore, giliran ayam saya mendapatkan lawan. Ayam yang gagah, badan berdiri tegap, dengan badan yg kelihatan kekar. Berhubung saya penasaran ingin tahu kehebatan ayam yang saya miliki, maka jadilah. Awal pertandingan berlangsung, ayam lawan sungguh luar biasa, pukul depannya seperti kampak yang menghantam batang pohon beringin. Jual beli pukulan, jual beli gaya tarung, dan jual beli kata-kata dari kami terjadi sangat pelik. Disinilah saya merasakan betapa “nikmatnya” hobby ayam laga. “Hajar terus Rudal!” kata-kata yang sering saya dengar dari riuhnya orang-orang. Rupanya ayam musuh bernama Rudal. Sedangkan saya kebingungan karena ayam saya belum mempunyai sebuah nama. Di antara riuhnya yel-yel menyemangati ayam yang sedang berlaga, terlintaslan satu kata, “Rojer”….
Menjelang sore abaran pun dihentikan, tidak ada yang spesial dalam permainan si Rojer, mungkin karena ini merupakan pertarungan perdana ayam saya, fisik Rojerpun terlihat sangat lembek. Pada saat saya membersihkan Rojer, seorang pemuda mendatangi saya, “bagus ayamnya mas”. Saya pun sedikit tersanjung, sebetulnya sih nggak sedikit malah banyak, Ge-Er mungkin kata yang tepat. Pada saat saya sampai dikontrakan saya yang megah itu, yang ubinnya udah pada pecah, pintu udah ngletek, dan susah membedakan mana jendela mana tembok, yang bayarnya juga setengah mati, Mang Ujer mendekati, “Wih ngadu Joe?”, “nggak mang, cuman abar”. “yang bener….. ancur gini muka ayam, kayak muka kamu”, mang Ujer memang orangnya suka bercanda, terlebih beliau sudah menganggap saya seperti anaknya sendiri, atau mungkin justru saya yang maksa dianggap sebagai anak mang Ujer supaya dapat Rokok dan kopi gratis, sebenarnya muka saya gak ancur-ancur amat kok sumpah, mang Ujer Cuma bercanda, saya yakin. “Ah mang Ujer nih bisa aja becandanya”….. Mang Ujer: “Lha serius, makanya kamu belum punya-punya pacar”. Joe: “Saya kan sibuk kerja mang, mana ada waktu deketin cewek hehehe…”. Mang Ujer: “Walaaaaah gayanyaaa…kerja cuman bersihin kotoran sapi aja”… Saya hanya tersenyum sambil melepas Rojer setelah di Lap. “Bercanda Joe….” Saut mang Ujer. Joe : “Iya Mang, saya tau kok mang Ujer suka becanda, hehhehe”. Yep itulah pekerjaan saya sehari-hari kawan, saya bekerja dipeternakan sapi punya pak Camat, kebetulan saya ditempatkan dibagian sanitasi kandang alias tukang bersihin tai sapi. “Tapi kalau soal muka kamu tadi serius lho ya, huahahahha” Mang ujer sambil berjalan pulang ke rumahnya. Sekali lagi mang Ujer BERCANDA kawan-kawan. “Oh iya Joe, besok kalau gak kemana-kemana, kamu ikut saya yah, Si Gondel siap”, setengah berteriak mang Ujer dari depan pintu rumahnya”, sayapun menjawab, “Aduh ga bisa mang, saya besok ada janji”. Mang Ujer : “Loh mau kemana? Tumben hari minggu mau keluar”, Saya : “Tadi presiden SMS, saya di suruh kerumahnya besok, mau ngerokin sapinya yang masuk angin”. Mang Ujer : “Keracunan tai sapi kamu ya?!”. Begitulah “pertempuran” saya dengan Mang Ujer yang hampir terjadi setiap hari. Besok Si Gondel Turun kalang, mana mungkin saya melewatkannya. Jadi tidak sabar menunggu besok…………….
Hari yang dinantipun tiba, terbangun oleh lantangnya kokok si Rojer, dan obrolan ibu-ibu yg sedang membeli sayur. Seperti hari-hari sebelumnya, saya cuci muka, trus duduk diteras kontrakanku sambil menghisap setengah batang rokok sisa semalam, lumayan pemandangan pagi melihat ibu-ibu beli sayur, kadang lagi rejeki ada saja ibu-ibu yang masi pake baju tidur yang tipis banget, haruuhhh…..
Sehabisnya rokok di tangan saya langsung meluncur ke kamar mandi, setelah itu langsung memberi makan di Rojer. Lalu Mang Ujer memanggil saya, saya pun bergegas ke rumah mang Ujer, Kita beres-beres kandang mang Ujer, memberi makan ayam-ayam, dan tak lupa suguhan kopi dan pisang gorengnya, dasar rejeki……..
Jam 10:00, kami bergegas berangkat. Mang Ujer mengenakan tas pinggang dan topi yang sudah tampak lusuh, diwajahnya tersirat semangat dan keyakinan akan menang di arena nanti. Sesampainya di lokasi, saya melihat banyak sekali orang-orang yang sedang memandangi ayam-ayam dikurungan, salah satunya langsung menghampiri kami, dan langsung melihat dan mengangkat ngangkat ayam mang Ujer. Entah apa yang mereka bicarakan, saya hanya kebagian tugas memarkirkan motor di tempat yang aman. Tau tau mang Ujer memanggil, dan sepertinya si Gondel mendapatkan tanding. Orang orangpun berduyung duyung mendekati “Geber”, sebagian lagi melihat si Gondel dan lawannya yang sedang di airi. Kucur demi kucur air di alirkan ke tubuh si Gondel, disambut luwesnya tangan mang Ujer mengusap usap si Gondel. Suatu saat saya juga akan bisa memandikan ayam seperti mang Ujer.
Saat Gondel dimandikan, saya memperhatikan gerak gerik dan tatapan mata Gondel. Seakan akan dia tahu bahwa dirinya akan bertarung, sesekali dia berkokok sangat gagahnya. Disitu pula saya yakin, bahwa hari ini kami akan menang!!.
“Mau ikut berapa Joe?” Mang Ujer bertanya. Saya pun kebingungan menjawabnya, bukannya saya takut kalah, bukannya saya gak mau ikutan, tapi Asli saya lagi Bokek!. “Seratus aja Mang” spontan saya menjawab sambil ketar ketir. Di dompet hanya ada KTP, uang 5000 perak selembar, dan poto selfie saya yang memakai topi kupluk sambil menunjukan tanda Metal di jari-jari saya, sungguh menjijikan pokoknya pemirsah…. Tapi melihat tatap mata si Gondel dan kokoknya yang gagah dan pasti, saya yakin kita akan menang, walaupun spontan saya pingin kencing karna saking gugup dan tegangnya.
Saat kedua ayam memasuki geber, dan kedua botoh mengusap ayamnya, ada satu orang menyetel jam dinding dengan gambar Micky mouse. “Jam bagus, ayam adep langsung adu” teriakan salah seorang. Kedua ayam disodorkan, kedua botohpun keluar dari arena, Pertarunganpun dimulai…..
Kedua ayam saling tebar saling pukul, terlihat kuda-kuda kedua ayam sangat kokoh, mang Ujer pun berbisik kepadaku “Perhatiin langkah dan pukul ayam”, saya pun serius mengamati, sambil sekali kali ikut bersorak karena ikut-ikutan penonton lain saja. 5 menit berlalu, kedua ayam terlihat mulai menyusun strategi, keduanya mulai taktis dalam melakukan pukulan, juga mulai taktis dalam menghindari pukulan lawan. Begitu juga saya, mulai taktis dalam mencari rokok gratisan, dengan gaya sok ngerti sambil mengamati lawan, sambil menggapai rokok putih bergaris hijaunya mang Ujer, lalu saya nyalakan dengan sedikit tak tau malu. “Ayo ondel, ayoo gondeeel” kata-kata mang Ujer sambil menggosokan kedua telapak tangannya, yang sebetulnya tidak kotor, namun seperti membersihkan seesuatu, ternyata begitupun dengan botoh lawan, dia melakukan hal yang serupa.
“Koooook” terdengar suara Gondel yang dipukul lawan sambil jalannya gontai, kepalanya geleng-geleng tapi ia tetap berusaha mendekati lawan. Begitupula dengan kepala saya, seperti Gondel yang dipukul lawan, kepala saya godeg godeg, jantung beletak beletuk, keringat dingin menetes di samping telinga, jangan sampai kalah Gondel……..
Lagi pukulan keras lawan mendarat tepat dikepala belakang Gondel, Gondelpun jatuh, seperi tak sadarkan diri……. “Bangun gondeel” teriakan mang Ujer dan pendukungnya, sedangkan kubu lawan berteriak girang. 3 Detik kemudian Gondel terbangun, dia terlihat menggibriskan kepalanya, walaupun pukulan terus menghujani. Sesekali Gondel membalas pukulannya, rupanya Gondel telah pulih, begitupun dengan detak jantungku. Namun Gondel telah kehilangan banyak tenaga, karena menahan pukulan yang bertubi tubi tadi. Terlihat Mang Ujer resah sambil sesekali melihat jam dinding yang di gantung. “Botoh masuk, ayam air” seseorang bersaut. Rupanya waktu istirahat…….
Mang Ujer memandikan kembali si Gondel, tangannya terlihat gemulai mengusap mesra si Gondel. Sesekali dia “mengenyot” luka Gondel di bagian kepala, agak tabu dilihat, sayapun agak mual melihatnya, maka dari itu sayapun ambil kembali rokok putih bergaris hijau. Entah apa yang sudah mang Ujer lakukan terhadap Gondel, pada saat gondel di masukan ke dalam geber, gondel terlihat segar, nafas yang engah engah pun hilang, badannya yang gagah seakan tidak sabar menunggu musuhnya datang. “Ayam adu”……pertarungan ronde kedua pun dimulai.
Tak seperti di ronde pertama tadi, gondel terlihat sangat garang di ronde ini. Pukulan demi pukulan sesekali diterimanya, seketika itu pula ia membalasnya. Diluar dugaan, lagi….pukulan keras lawan membikin Gondel kesakitan, kepalanya montong mengarah ke tanah. Selang beberapa detik, Gondel bangkit, dan membalas pukulan lawannya, tampak gondel mematuk leher lawan, lalu ia tarik, kamudian ia pukul, pukulan yang sangat keras…..sampai-sampai lawanpun meloncat keatas lalu terbanting ke arah belakang, tampak lawan meloncat loncat menahan sakit, yang kemudian terjatuh dan tertelungkup, lalu mengepak ngepakan sayapnya, hingga ahirnya tidak bergerak sama sekali. Riuh penonton pun tiba-tiba menghilang, sekejap menjadi sunyi. “mati euy” salah seorang penonton berucap, disusul riuhnya teriakan kegembiraan orang-orang yang mendukung Gondel. Tepat 5 menit 13 detik dironde ke dua, gondel membunuh lawannya dengan pukulan jitunya. Gondel seakan tahu dengan pasti, kapan dia harus mengeluarkan pukulan jitunya dengan sekuat tenaga, yang menyebabkan lawan pasti jatuh………. Hampir saja saya dipukulin orang sekampung karena tarohan tapi tidak punya uang. Namun seperti saya bilang sebelumya, dari sorot mata Gondel, saya yakin hari ini, Kita menang…. Bravo Gondel……….kamipun pulang dengan perasaan bungah dan bangga……..
Malam harinya, perut terisi dengan makanan enak, rokok di kantong penuh, berkat si gondel. Kemenangan Gondel menjadi buah bibir di seantero jagad perayaman, karena pasalnya lawan terahir Gondel merupakan ayam yang dimiliki oleh pejabat kota seberang, yang selalu menang cepat disetiap pertarungan. Tetapi saat bertemu Gondel, ayam itu harus mengakui kekuatan Gondel, dan langsung berpulang ke sang pencipta, alias Modiarr…
Minggu berganti minggu, begitupun dengan sepak terjang si Gondel. Hampir setiap 3 minggu sekali Gondel dibawa ke arena, dan menambah rekornya dengan gemilang. Tiga kali sudah saya ikut merasakan kenikmatan dari si Gondel. Sampai suatu pagi di hari minggu, saat saya dan mang Ujer sedang asik menikmati kopi hitam dicampur sedikit susu, terdengarlah lagu Goyang drible yang di tembangkan oleh penyanyi duo srigala, saya hapal betul lagu ini karena di HP sayapun terdapat video clip lagu ini, duo serigala yang mempunyai tembolok besar, yah namanya pemuda, lumayan kadang-kadang butuh video seperti ini untuk materi 😀 .
Ternyata lagu duo srigala itu berasal dari HP Mang Ujer, ia pun mengangkat HP nya, “Haloooo….yaaaa….siapa ini?, weii lama amat nih, kemana aja” Mang Ujer sambil berjalan menjauhiku. Mungkin mang Ujer tidak mau percakapannya saya dengar, dan sayapun sebenarnya tidak mau dengar, yang saya mau dengar Cuma ring tone nya HP mang Ujer, sambil ngebayangin bola basketnya duo srigala. Tak lama selesai mengangkat telpon, mang ujer kembali duduk didepanku, dan bertanya “tau gak tadi siapa?”, saya: “taulah, duo srigala”. Mang Ujer: “yang nelpon saya maksudnya”, “mana saya tau mang, lha wong mang Ujer yg ngangkat telponnya”.
Mang Ujer menceritakan bahwa yang nelpon tadi adalah kawan lamanya, yang sekarang bekerja sebagai pengurus ayam seorang pejabat di Kota ini. Dia menuturkan bahwa Boss nya ingin mengetest kekuatan Gondel dengan ayamnya. Berat sebenarnya mang Ujer menerima tantangan ini, tapi mang Ujer menuturkan, bahwa dunia perayaman laga itu keras, jadi apa boleh buat, seperti tai kambing yang bulat-bulat, mang Ujer menerima tantangan ini. Rupa-rupanya Bapak pejabat mendengar gema kekuatan si Gondel, dan sebagaimana seseorang yang berkuasa, ia tidak mau ada kekuatan lain yang menandingi ayam-ayamnya, harus ayam dialah yang menjadi yang terbaik. Pertandingan dijadwalkan 3 minggu dari sekarang, di arena desa sebrang. Alasan si Pejabat ingin pertandingannya dikalang adalah supaya orang-orang banyak yang menyaksikan pertandingan ini, karena ia yakin bahwa ayamnya lah yang terbaik. Mang Ujer terlihat sedikit melamun, sedangkan saya tetap dengan tak tahu malu nyomot rokok putih bergaris hijau dengan tulisan kecil 234 itu.
Siang malam mang Ujer menyiapkan Gondel untuk pertarungan akbar itu. Gumpal demi gumpal, pil demi pil mang Ujer mencekok si gondel. Dalam dua minggu, badan Gondel menjadi merah, sorot mata tajam, dengan jalu sebagai senjata yang terseting sempurna. Saat saya pegang, badan gondel terasa keras sekali, seperti senjata keperjakaan saya setiap pagi. Lalu kopi cap tengkiu pun datang dihidangkan oleh istri mang Ujer. Tak lama HP mang Ujer pun berbunyi lagi, kali ini bukan duo srigala, tapi mbuh lagu apa, bahasa inggris ora ngarti, sangat disayangkan duo srigala tersingkirkan, bola basket oh bola basket….materiku….
Rupanya telpon tadi dari kubu lawan, mereka memajukan pertandingannya esok, karena minggu depan Bapak pejabat akan keluar kota, rapat kerja katanya, biasalah urusan orang-orang besar. Melihat kesiapan si Gondel mang Ujer menyetujui perubahan jadwal itu. Seketika itupun saya langsung bergegas mencari cari pinjaman, gadai barang-barang, gadai Hp, gadai VCD apa saja yang sekiranya bisa menghasilkan uang pinjaman, harga diripun kalau laku saya gadaikan untuk pertarungan Si Gondel, sang juara. Gondel, ayam gagah berbulu jalak, badan yang tegap, mata yang tajam, ekor yang panjang terurai, kakinya yang panjang berwarna hijau sesuai dengan badannya, yang telah banyak mengundang decak kagum para penggemarnya.
Puji syukur, hasil dari gadai menggadai menghasilkan uang sebesar 500.000. Saya siap mendukung Gondel dengan sepenuh hati.
Hari itupun tiba…..di kalang ayam, saya dan mang Ujer memesan Kopi, karena hari masih terlalu pagi kami belum sempat meminum kopi setetespun dirumah. Terlihat seorang gadis menyodorkan nampan berisi dua gelas kopi, gadis yang sangat manis yang berada ditengah tengah serigala. “Kopinya pak”, suara yang merdu, halus seperti sutra, legit seperti kue lapis, pulen seperti nasi dari beras cianjur. Pingin rasanya membuka obrolan, tetapi saya bukan Gondel sang pejuang, saya Cuma senyum setengah sambil menganggukan kepala, “mukamu leee le….” Mang ujer mengolok, “namanya juga anak muda Maaang, hehehhe……”. Duo srigala pun kalah ganas nya dengan si “neng” tukang kopi, bibirnya yang tipis, kulit yang putih menggambarkan kehalusannya, diam-diam saya mengambil foto si neng dari HP ku, lumayan buat materi Baru.
Satu jam berlalu, sang lawan belum terlihat kedatangannya. Untuk menghilangkan bosan, mang Ujer menonton pertandingan ayam lain, sedangkan saya cukup duduk di warung kopi menonton pertandingan Si Neng melawan angan-angan saya yang mungkin sudah keterlaluan.
Tak lama kemudian, sedan hitam ber-plat Nomor cantik datang. Terlihat tiga orang keluar dari mobil itu, salah satunya menenteng kisa ayam. Yang dua orang terlihat berjalan menuju kurungan ayam untuk mengeluarkan ayam dari kisa, sedangkan orang yang satu lagi, datang bergabung duduk dimeja tepat didepanku. Terlihat sedikit disudut gubuk warung kopi si Neng sedang merapihkan rambut, merapihkan baju, dan berdandan. Lalu bergegas datang ke meja orang tadi, sambil membereskan gelas gelas kosong sisa kopi, “Kopinya satu ya Neng, yang sperti biasa”, Iya “Pak” jawa si Neng dengan halus. sambil mencubit genit dagu indah si Neng orang itu sambil berkata “duh makin cantik aja nih”, si Neng pun klamar klemer masam mesem gak puguh lalu menjawab “ah bisa aja si bapak nih” sambil menepuk genit dada orang tadi. “Wanjinggg” saya bergegas berjalan mendekati Mang Ujer dengan muka kesal, Mang Ujer pun bertanya Tanya ada apa dengan saya, saya hanya menjawab: “Dunia ayam laga itu keras Mang!”.
Kedua orang tadi menghampiri saya dan Mang Ujer, rupa-rupanya mang Ujer mengenalinya, tak disangka tak diduga justru merekalah group musuh kami. Kami pun d ajak kedua orang tadi untuk menuju ke warung kopi, untuuuuk bersalaman dengan berandal tua yang menggodai si Neng tadi, rupa-rupanya inilah Bapak pejabat yang dimaksud. Seorang lelaki sekitar umur 50-an menurutku, perutnya buncit, kulitnya hitam, dengan banyak uban di rambutnya, dasar babi hutan.. Mohon maaf pemirsa agak kasar, Emosi soalnya.
Perbincangan dan tawar menawar tarohan berlangsung antara Mang Ujer dan Bpk pejabat, Babibu babibu sampai pada kesepakatan tarohan. Sayapun berbisik ke Mang Ujer “kiteu melu rongatus Mang”. Alasan kenapa saya tidak mempetaruhkan semua uang saya, karena yang 300 ribu lagi, saya siapkan untuk mem”Beri” ayam bapak pejabat itu.
Mang Ujer dan kedua botohpun menenteng ayamnya untuk dimandikan. Perasaan dak dik duk kembali terulang di dadaku, namun kali ini sedikit berbeda dari yang sebelumnya, dak dik duk bukan karena takut kalah, tapi dak dik duk menahan Emosi yang siap dan akan saya tumpahkan pada saat ayam pejabat itu terkaparrrr tak berdaya menahan pukulan si Gondel. Akan kunantikan saat saat itu…… Emosi cuuuuy.
Sambil nongkrong menemani Mang Ujer memandikan si Gondel, terlihat suasana kalang semakin ramai, Puluhan orang mulai mendatangi kalang ini, motor-motor berderet diparkiran dibawah pohon kecapi, di sisi lain kalang terlihat beberapa Mobil juga terparkir. Lalu tiba-tiba saya melihat dua motor pergi meninggalkan kalang, agak terburu-buru yang saya lihat, dan beberapa orang terlihat berlari meninggalkan kalang, seketika itu pula, tangan saya digenggam dengan sangat erat oleh seseorang, “Jangan bergerak! Polisi”. Suasana kalangpun makin riuh, suara-suara kenalpot meraung raung, puluhan orang berlari tunggang langgang. Ada yang berlari sambil terjatuh jatuh di sawah, ada yang tertelungkup jatuh, “ampun pak, ampun pak”. Ada pula yang nekad menerobos hadangan polisi dengan motor. Ya….rupanya kalang ini di grebek polisi. Beberapa orang dari kami yang kurang beruntung, termasuk saya dan Mang Ujer dikumpulkan di dalam dua geber yang berdampingan. “Nongkrong!!!, tangan dikepala!!!” terdengar sentakan seseorang berambut cepak, dengan kumis tebal dengan pistol ditangannya. Saya melihat disekitar ada yang celananya sobek, ada yang lututnya berdarah, ada pula yang menangis dengan mencoba mengeluarkan air mata buayanya. Perasaan bingung, kaku, takut, bercampur baur menjadi satu saat itu, lututpun gemetar, keringat dingin mengguyur. “Mang….” bisiku kepada mang Ujer, tenggorokan terasa kering. mang Ujer hanya menjawab dengan cara menepuk nepuk bahuku tak berbicara sedikitpun. Saya tak tahu apa yang akan terjadi nanti, bagaimana nasib saya, nasib pekerjaan saya, dan bagaimana nasib ayamku di kostan, tak ada yang memberi makan ayamku, bahkan segenggam beras merah pun tak mungkin dapat dinikmati ayamku……………………
Ahmad Juhendi Nama saya, biasa dipanggil Joe. Pengalaman 2 malam menginap di Polsek akibat ke-gerebek di kalang ayam merupakan lompatan kisah hidup saya. Tidak banyak yang banyak diceritakan selama dalam proses hukum. Dimulai dari disuruh buka baju dan berbaris dilapangan kantor polsek, sambil dibina dan diterangkan pasal-pasal tentang perjudian, sampai dinginnya lantai dibalik jeruji. Memalukan? Memang, namun selama 2 malam itu, saya banyak mendengar cerita dari rekan-rekan lain yang senasib. Namun anehnya saya tau betul bahwa pada saat kejadian penggerebekan terjadi, bapak pejabat ada dilokasi, namun dimulai dari kalang sampai kantor polsek, saya tidak melihatnya. Yah sebut saja dia lebih beruntung nasibnya dari saya dan rekan-rekan lain. Pada hari sebelum pembebasan, seorang petugas memanggil nama “Jeremy iskandar”, tak lama kemudian Mang Ujer menyahut dan keluar dari sel. Terlihat dimeja ruangan sebelah Mang Ujer sedang berbincang dengan petugas, tak lama Mang Ujer kembali kedalam sel, dan berbisik kepadaku “Sabar, Besok kita keluar”. Setengah bingung sayapun mengangguk saja.
Esok harinya kami keluar, 2 malam didalam sana sangat menguras pikiran. Setibanya di kostan, saya langsung mandi dan tidur, tidur yang sebenarnya, untuk melepas stress dan tekanan-tekanan dari dalam pikiran dari mulai penangkapan sampai pembebasan. Sebelum tidur hanya satu pertanyaan didalam otak yang paling terulang, “Jeremy Iskandar”……… Akan kutanyakan esok tentang ini kepada mang Ujer.
Suara bising knalpot, dan obrolan-obrolan orang mulai terdengar, mata yang sangat berat ini terbuka perlahan, silau sekali, matahari sudah meninggi rupanya. Lama kelamaan mata ini mulai beradaptasi, mulai terbuka penuh. Namun hanya memandang kosong sambil merentangkan tangan dan kaki yang kaku. Sambil tangan menyasar nyasar Hp, kulihat jam di HP menunjukan pukul 10:15 pagi. Perlahan memasuki kamar mandi, untuk melanjutkan hari.
Selesai mandi dan beres-beres, kuhampiri si Rojer, Rojer yang terlihat lemas karena 3 hari puasa tatap matanya seakan mengatakan bahwan aku telah menghianatinya, meninggalkannya selama 3 hari tanpa makan dan minum, namun begitu ia terlihat rindu kepadaku….hehehehe…. Segera saya berikan air minum yang telah dicampur gula merah, agar Rojer kembali segar dan bugar. Tak lupa saya beri beras merah, Rojer terlihat nafsu sekali menikmatinya. Melihat Rojer kembali segar, saya langsung berangkat ke tempat kerjaku. Namun sesampainya disana, kulihat wajah baru yang tidak saya kenal sedang membersihkan kotoran-kotoran sapi yang seharusnya sayalah yang melakukan itu. Tak lama Pak Camat datang mendekat. Beliau mengetahui apa yang terjadi pada saya selama 3 hari ini, dan beliau sangat tidak senang dengan apa yang saya lakukan. Perjudian bukan hanya melanggar hukum, tapi juga melanggar Norma-norma yang berlaku dimasyarakat, hanya itu kata-kata yang teringat jelas dari kata-kata beliau. Setelah memberikan amplop yang berisi uang tunai Rp. 2.000.000 sayapun pulang, tanpa motor…karena motor butut itu adalah motor yang dipinjamkan pak Camat kepadaku. Aku di pecat dari tempat kerja, dari kandang sapi pak Camat, kandang yang memberikan kehidupan padaku selama ini, selama 4 taun. Banyak mamang Ojek menawariku untuk menumpang sampai kostan, tapi saya memilih untuk berjalan kaki, sambil berpikir dengan pikiranku yang kosong ini. Kehidupan mulai berat saya rasakan, namun saya coba untuk menghilangkan kesedihan, hanya berpikir bagaimana saya dapat melanjutkan hidup dengan pesangon sebesar 2000.000 dari Pak camat, walaupun mata merintih. Namun memang kusadari perbuatanku ini memang melanggar hukum, saya harus siap menerima konsekuensinya.
Sesampainya di Kostan, saya langsung simpan amplop berisi uang di bawah tumpukan baju lemari yang diberi alas Koran, lalu langsung berangkat ke rumah mang Ujer. Sesampainya dirumah mang Ujer, saya langsung duduk di bale-bale bambu, sambil memperhatikan mang Ujer membersihkan kandang. “Ngopi Joe?” Mang Ujer bertanya, “Boleh mang”….. Ada sedikit perbedaan pada hari ini, yang membuakan kopi bukan istrinya, melainkan mang Ujer sendiri yang membuat kopi untuk kami. “Biasalah, lagi sewot ibu negaranya, hehehhe”. Rupanya istri mang Ujer kesal akan kejadian penggerebekan yang lalu. Mang Ujerpun bercerita tentang Jeremy Iskandar, yang tak lain adalah nama asli dari Mang Ujer. Beliau pensiunan salah satu perusahaan BUMN, karena bosan dengan kehidupan di Ibu Kota, ia mengontrak rumah di Desa ini sambil mengurusi ayam Bangkok. Mang Ujer tak bercerita apa persisnya posisi dia di perusahaan itu, Cuma yang saya tangkap dari ceritanya, sepertinya beliau mempunyai posisi yang cukup tinggi. Sayapun bercerita kepada mang Ujer tentang yang saya alami hari ini, dengan nada sedih saya bercerita, tapi tak lupa saya tetap mengambil rokok mang Ujer yang berwarna putih bergaris hijau itu. Mang Ujer meminta maaf kepadaku karena sudah mengajak saya untuk mengadu ayam, namun semua itu bukan salah siapa-siapa, melainkan roda kehidupan yang memang tidak bisa kita hindari. “Saya gak kapok Mang, ada uang pesangon 2 juta siap mendukung kembali si Gondel” kataku sambil menghisap nikmatnya rokok….. Mang Ujer hanya tersenyum, “Besok saya pindah Joe, saya harus kembali ke Ibu Kota, anak-anak saya marah mendengar kejadian kemarin, mereka menyarankan saya untuk pulang” Mang Ujer sambil melepas kedua sandalnya, lalu duduk bersila di bale bambu.
Hancur sudah kopi, rokok dan pisang goreng gratisku….. haruskah saya juga pulang kampung, pekerjaan tak punya, kawanpun tak ada, yang ada hanya Mang Ujer yang sedang bersiap-siap untuk pindah. Mang Ujer bilang, sebenarnya rumah yang dikontrak ini statusnya sudah dibayar untuk 2 tahun kedepan, dan jikalau mau saya boleh mengisinya secara Cuma-Cuma, berikut kandang ayam sederhana dan beberapa ekor ayam didalamnya, namun Gondel tidak ada disini lagi, Mang Ujer kehilangan jejak Si Gondel saat terjadi penggerebekan. Ada yang bilang Gondel di ambil petugas, ada juga yang bilang lari ke hutan. Sungguh tawaran yang sangat sangat mulia dari mang Ujer, aku tak tau bagaimana bilang “ya” tak sanggup pula bilang “tidak”, mungkin ini salah satu bagian juga dari Roda kehidupan yang harus aku jalani, petualangan saya dan ayam-ayamku bermula dari sini, Selamat jalan mang Ujer, smoga suatu saat kita akan bertemu lagi. And my story begin………..
Pertemuan
Rumah baru, bagi saya menjadi tantangan yang besar. Karena ini rumah, maka sudah pasti perawatan, listrik dll harus diperhitungkan. Rumah yang cukup besar bagi saya, karena biasanya cuman hidup di Kontrakan yang penuh derita. Terima kasih seperti apa yang harus saya ucapkan kepada mang Ujer ya….mungkin suatu saat nanti aku bisa membalas budi baiknya.
Seperti halnya para kaum pengangguran lainnya, setiap pagi bangun tidur, langsung nongkrong di depan kandang, ngopi, urus kandang, urus-urus ayam, begitu seterusnya tiap hari. Seminggu sudah aku menempati rumah ini, namun aku tidak bisa begini terus, aku harus melakukan sesuatu yang dapat menghidupi. Yang kupunya sekarang hanya ayam-ayam peninggalan mang Ujer, tinggal bagaimana cara memanfaatkan ayam-ayam ini ya. Setelah berpikir cukup panjang yang tetap tidak mendapatkan suatu hasil, akhirnya aku sadari, ayam-ayam ini adalah petarung, sudah GEN mereka untuk bertarung, inilah yang bisa aku manfaatkan dan maksimalkan. Berbekal ilmu merawat ayam adu dari mang Ujer, aku perlahan merawat 2 ayam, yang satu adalah si Rojer, yang satu lagi belum aku kasih nama, masih bingung.
Kedua ayam itu kini sudah hampir siap, besok atau lusa pasti ayam-ayam ini dalam keadaan maksimal. Aku mulai wara wiri mencari tempat “sompokan” untuk mencoba keberuntungan ayam-ayamku dan tentu saja keberuntunganku. Sampai akhirnya aku sampai pada tempat sompokan di desa tetangga, tempat yang tak terlalu ramai, geber terlihat tergelar dibawah pohon sukun. Terlihat ada 6 orang disana yang sedang menonton pertarungan, akupun merapat untuk ikut nonton dan mencari-cari informasi tentang tempat ini. Sambil menonton pertarungan informasi yang didapat bahwa ditempat ini berapapun taruhannya tetap diadu, cocok untuk kantong pemula seperti saya. Berbekal sisa uang pesangon, saya bertekad bahwa disinilah tempat ayam-ayamku bertarung esok.
Dengan membawa dua ekor ayam dan sisa uang pesangon sebesar 1,5 juta rupiah perak aku melangkahkan kaki berangkat dari rumah. “Bismillah”, walaupun aku tidak tau apakah kata itu pantas aku ucapkan sebagai do’a untuk berangkat mengadu ayam, tapi yang jelas aku punya perut, dan ayam-ayamku punya tembolok yang harus diisi setiap harinya. Busa, korokan, tas pinggang,Ojek, lengkap sudah, berangkaaaaat……..
Setibanya dilokasi, aku langsung mengeluarkan ayam-ayamku dari kisa, dan segera bergabung dengan orang-orang yang sedang nongkrong sambil ngopi. Tak lama kemudian ayamku yang satu mendapatkan tanding, bukan Rojer. Tanding yang menurutku sesuai, sama-sama ayam muda. 500 ribu team lawan menginginkan partai ini, ada 3 orang di team lawan, sedangkan aku hanya seorang diri dengan kedua ayamku. Keadaan yang kurang menyenangkan sendirian diarena adu ayam, terbayang aku memberi semangat ayam sendirian, mengairi ayam sendirian, apalagi kalau kalah, duit amblas, ngelamun sendirian. Tapi aku tak kan gentar, jangankan sendirian, setengah diri pun saya tak kan mundur, karena nasib perutku dan ayam-ayamku bergantung pada Tuannya. Pertarungan ronde pertamaun dimulai….
Menit-menit awal belum terlihat keunggulan masing-masing ayam, 5 menit barulah mulai pertarungan sesugguhnya. Setengah kaget, melihat permainan dan pukulan ayam lawan yang sangat mewah, pukulan yang berbobot, tapi ayamku juga tidak dapat diremehkan, beberapa kali ayamku memukul hingga membuat lawannya hilang keseimbangan. Jual beli pukulan terus terjadi, hingga terlihat kedua ayam itu kelelahan, terutama ayamku, nafasnya mulai bersuara. “Grok Grok….” Suara nafas ayamku terdengar, tingkat pukulan dan gaya tarungnya menurun drastis, hanya menerima pukulan dari lawan yang ia dapatkan. Samping kiri, samping kanan sesekali dari belakang ayamku terpukul, terus dan terus. Langkahnya mulai gontai, bahaya……… suara suara penonton dan team lawan terdengar gaduh main luaran, namun aku tidak memperdulikan, yang aku hanya perdullikan hanya keadaan ayamku, “ayo nak, tahan nak” kata-kata yang keluar dari mulutku. Ingin sekali aku mengangkat ayamku dari arena, tak tega rasanya ia dipukul terus menerus, namun bagaimana nasib aku dan ayam-ayamku nanti, dan akupun yakin, ayamku juga masih ingin bertarung terus, ia pun ingin menunjukan bahwa ia dapat diandalkan. Pukulan keras bertubi tubi berlanjut, sampai akhirnya ronde pertama berakhir. Wajah-wajah lawan terlihat sangat senang, sedangkan saya hanya terdiam sambil mengusap darah ayamku sambil sesekali memijit-mijitnya. “Tolong saya nak, jangan kalah hari ini” bisiku, seperti orang gila yang mengajak bicara kepada binatang.
Ronde dua dimulai, setelah kena air ayamku terlihat segar kembali. Namun sayang, hanya 3 menit, keadaan kembali dibawah, pukulan demi pukulan mendarat di kepala ayamku, ia terlihat sangat kepayahan, sampai akhirnya aku harus merelakan kekalahan ini dengan mengangkat ayamku dari geber, “maaf nak, aku tahu kamu sudah berusaha maksimal, namun nasib baik belum berpihak pada kita, bagaimanapun aku harus menyelamatkanmu dengan menghentikan pertandingan ini di menit ke 8 ronde ke-2 ini”.
Sambil memandangi ayamku yang mengigil kedinginan karena sudah dimandikan, ku sruput kopi hangat, tak bisa ku sesali kekalahan ini, 500 ribu yang melayang, sulit memang, namun aku tak bisa menyesalinya, karena aku lihat dan aku saksikan sendiri bagaimana ayamku berjuang di arena, meskipun pukulan demi pukulan menghujani, dia tetap berusaha menyelesaikan pertarungannya. Pertandingan demi pertandingan terjadi di arena, namun Rojer belum juga mendapatkan lawan, setengah putus asa aku terus menunggu, minimal balik modal yang saya kejar, itu sudah cukup.
Sampai saat aku membuang puntung rokok, terdengar suara halus dengan sedikit bergetar berbicara “Ayam itu binatang yang istimewa, makanya banyak orang-orang jaman dulu menggunakan ayam untuk keperluan-keperluan penting”, seeorang kakek sambil tersenyum melihat keadaanku dan ayamku. “maksudnya?” tanyaku sambil kebingungan. Kakek tua itu hanya tersenyum, lalu membuka topinya, kemudian nongkrong tepat didepan ayamku yang mengigil sambil menahan sakit itu. Kakek tua itu memandang mata ayamku dengan tajam, dan tiba-tiba ayamku terduduk pelan dan kepalanya merunduk ke tanah tak bergerak. Kaget stengah mati, aku langsung mengangkat ayamku dan mencoba membuatnya berdiri, namun siapa sangka, ayamku tak bergerak sedikitpun, matanya terpejam, rupanya dia mati. Kehilangan uang 500 ribu, kekalahan telak di arena, ditambah ayam mati karna di pelototi kakek tua ini, membuat emosiku memuncak. Tanpa pikir panjang, ku tarik baju lusuh kakek tua itu dengan tangan kiri, tangan kanan terkepal siap meninju sekuat tenaga, kakek itu lalu berbicara dengan tenang, “sabar…..”. entah bagaimana jalan pikiran kakek tua itu aku tak mengerti, bagaimana aku harus sabar dengan keadaan yang seperti ini, perasaan sangat kesal tak terbendung, lalu kudorong kakek tua itu, sampai terpental ke batang pohon, akupun menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan diri. Lalu kakek itu dengan entengnya berkata : “yang namanya mahluk hidup pasti nanti mati juga to?”, aku pun menjawab sambil menunjuk muka kakek tua itu “Diem…diem, ngomong sekali lg kuhantam kamu”. Kakek tua itupun hanya duduk tersenyum sambil memandangku menghisap rokok dengan tangan gemetar karena menahan emosi. Setelah emosiku agak menurun setengah, kakek tua itupun berkata lagi: “Gondel juga sama, kalau sudah beres ya pulang”….. seketika aku terkejut, roko d tanganpun jatuh tak terasa jatuh, bagaimana kakek tua ini tahu Si Gondel, sedangkan tak pernah sekalipun aku melihat dia datang ke tempat mang Ujer. Kakek tua itupun berdiri sambil berjalan membalikan badan, sambil berkata “kalau mau tahu ya ikut, kalau gak mau ya gapapa, tapi aku yakin kamu mau ikut”. Siapa sebenarnya kakek tua ini, bagaimana ia tahu si Gondel, luapan emosi berubah drastis menjadi berjuta pertanyaan.
Menunggu tanding yang tak jelas dan sedih menahan kekalahan, akhirnya aku ikuti kakek tua itu. Dengan menenteng si Rojer, kami berjalan kaki yang aku pun tak tau akan kemana kakek tua ini membawaku. Kami tidak mengambil jalur jalan raya, kami masuk kejalan setapak dibelakang kalang. Melewati galengan sawah, meloncati parit-parit irigasi. “Mau kemana kita kek?”, tanyaku sambil berjalan disamping kakek tua itu, kakek itu menjawab: “kamu mau kemana?”. Diperjalanan aku mulai bercerita tentang kehidupanku, dan tekad-tekadku tentang ayam-ayam peninggalan mang Ujer, tak lupa akupun bertanya tentang Gondel. Gondel sudah mati menurut keterangan kakek ini, namun ia tak bercerita bagaimana ia tahu dan dimana ia menemukan gondel. Ia hanya mengatakan kalau Gondel sudah selesai. Banyak sekali aku bercerita kepada kakek itu, namun sedikit sekali ucapan keluar dari mulut kakek tua itu. Semakin lama aku berjalan, lelah mulai terasa dikaki, tak begitu cepat aku berjalan, karena memang seperti kakek-kakek yang lain, kakek yang inipun berjalan tak begitu cepat, namun ia kelihatan seperti belum lelah, ia terus berjalan dengan statis. Selama kami berjalan, aku belum temukan rumah penduduk, melainkan kami malah masuk terus ke hutan, hutan yang tak terlalu besar, pohon-pohon besar pun tak terlalu banyak, hanya alang-alang dan pohon-pohon kecil banyak terdapat disepanjang jalan. Kamipun melewati sungai, sungai yang dangkal dan jernih, batu-batuan terlihat di dasar sungai yang dalamnya hanya setengah betisku, kamipun terus berjalan. Sampai aku sadari, setelah kami menyebrangi sungai itu, pohon-pohon disekitar mulai besar-besar, yang artinya kami masuk kehutan yang dalam. Sesekali kulihat se-ekor monyet meloncat dari pohon satu ke pohon lain, pemandangan yang tak biasa buatku, belum pernah aku melihat langsung monyet liar dihutan, dan kukira memang tak ada monyet liar dikota ini.
“masih jauh kek?” tanyaku kebingungan karena hutan semakin lebat, dan tangan mulai jemper menenteng si Rojer, “sebentar lagi” kakek menyaut sambil terus berjalan. Sampai kami pada sebuah pohon besar, yang dibawahnya keluar akar, kakek tua itupun berhenti, “kita istirahat dulu disini sebentar” ucap kakek tua itu, akupun duduk sambil di akar besar itu sambil meluruskan kaki. Sambil istirahat kakek itu menunjukan jalan selanjutnya, bahwa tak jauh lagi kita akan sampai ke jalan umum, lalu belok kiri, setelah itu sampailah kita di rumahnya. Kakek itupun berkata bahwa ia mau cari kayu bakar dulu untuk memasak, aku duluan ke rumah itu karena kasian si Rojer kepanasan di Kisa yang saya tenteng ini. Selang lima menit aku meneruskan perjalanan sendirian, tak sampai 3 menit aku sampai dijalan umum, jalan yang sepi, yang hanya muat satu mobil dan sangat rusak, tanpa batu tanpa aspal, hanya jalan tanah. Aku belok kiri dan kemudian sampai di rumah yang dituju. Rumah yang menyendiri, tak ada rumah-rumah lain di skitar ini, rumah panggung dengan halaman luas dan terdapat 3 pohon cengkeh dengan hamparan rumput yang kurang terawat. Udaranya sejuk, sunyi sekali, sangat nyaman menghirup udara disini. Aku berjalan kebelakang rumah dan melihat ada kandang ayam kosong yang sudah rusak, dan aku lepaskan rojer dikandang ini. Tak lama seseorang keluar dari pintu belakang rumah panggung ini, “Milarian saha jang?” yang artinya “mencari siapa kang?”, seorang bapak yang hanya mengenakan celana sontog muncul dari pintu belakang rumah ini. Akupun bingung menjawabnya, karena saya lupa menanyakan nama kakek tua itu tadi. Aku hanya bilang bahwa aku bersama seorang kakek, tapi kakek itu sedang mencari kayu bakar dulu, dan saya minta ijin untuk menyimpan ayam di kandang belakang rumah. “mangga kapayun atuh”, silahkan kedepan bapak itu mempersilahkan, dan menyuruhku duduk di depan rumah panggungnya itu, dan beliau membawakan gelas dan air dalam kendi yang warnanya kehitaman. Beliau menuangkan air kedalam gelas dan memberikan kepadaku, air ini bukan air biasa, tapi air kendi!!!….air yang sangat segar, dingin alami bukan dari lemari es, 3 gelas sudah aku minum, maklum tadi sudah berjalan kaki sekitar 45 menit jadi rada-rada lebay nemu air minum yang segar ini.
Aku lalu bertanya pada bapak ini, “Bapak ieu adine atawa anakna kakek anu tadi?” dengan menggunakan bahasa sunda yang muaksa, sampe lidahpun hampir melintir, bapak itupun heran mendengar bahasaku kacau balau, mungkin ia berpikir ternyata bukan hanya mukaku yang ancur, tetapi bahasa sundakupun sama hancurnya, tapi pasti bapak itu berpikir tetap mukaku paling ancur dari bahasa sundaku. “Ujang teh timana?” tanya bapak itu seperti keheranan. Akupun mengulang ceritaku dari awal, bahwa aku datang berjalan kaki dari Desa sebrang hutan bersama kakek tua, dan aku disuruh kerumahnya duluan. Bapak itupun lalu menerangkan bahwa rumah ini miliknya, dan sudah 15 tahun dia hidup sendiri, ia pun tidak mengenal kakek tua yang saya sebut-sebut itu. Sudah kalah ngadu ayam, ayam nya juga mati satu, jalan jauh capek-capek ternyata aku dibohongi oleh kakek-kakek tua, lengkap sudah kenikmatanku hari ini. Akupun meminta maaf kepada bapak ini, karena sudah lancang memasuki lingkungan rumahnya, dan mungkin aku dibohongi oleh kakek tua gak jelas itu. Untungnya bapak ini berbaik hati, ia memperbolehkanku beristirahat dulu, bahkan memberikanku singkong rebus, singkong yang pulen, sedaaap. Akupun bertanya nama Desa ini dan bapak itu menerangkan bahwa nama Desa ini adalah “Kadu Hejo”. “baru tau saya ada nama desa kadu hejo di kabupaten brebes ini pak” ucapku dengan mulut penuh singkong rebus gratis. Bapak itupun keheranan dan tertawa, mungkin karena melihat cara bicaraku yang monyong-monyong karena mulut penuh dengan singkong. Lalu sambil tertawa bapak itu pun menjawab “perasaan ngaran kabupaten teu pernah rubah didieu jang, masih kabupaten Pandeglang ti baheula”, dengan mulutku yang penuh singkong rebus akupun tersentak, butiran-butiran singkong setengah terkunyah menyembur dari mulutku sambil terbatuk batuk, akupun menyemburkan sisa singkong dimulutku ke bawah rumah panggung sambil terus batuk, beberapa butiran singkong rebus pun keluar dari hidung berbarengan dengan lendir ingusku, dengan mulut dan bagian bawah hidung penuh dengan butiran singkong rebus aku mengambil gelas yang didalamnya air putih yang sudah bercampur dengan butiran-butiran singkong rebus yang tersembur dari mulutku tadi, akupun minum dan mencoba menenangkan diri sambil membersihkan sisa-sisa singkong dari wajahku, “kunaon jang? Keseleknya” tanya bapak itu, akupun melihat di kening bapak itupun terdapat butiran-butiran singkong, rupanya bapak itupun tak luput dari semburanku, tapi aku membiarkannya, mau memberitaunya pun aku tak enak hati, entah butiran singkong itu tersembur dari mulut, atau dari hidungku aku tak tahu. Biarin ajalah……..
Walaupun aku hanya lulusan Sekolah dasar, tapi aku tahu bahwa Pandeglang adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Banten, yang terdapat di bagian barat pulau jawa, sedangkan saya 45 menit lalu berada di daerah kabupaten Brebes, entah bagaimana ini bisa terjadi. Bapak itupun mulai khusuk mendengarkan ceritaku, sambil sedikit kelihatan bingung dan berpikir ia melinting tembakau di lembaran daun kering lalu menyalakannya, ia menghisapnya sangat dalam, kelihatan nikmat sekali ia merokok. Kemudian ia menceritakan bahwa sebetulnya ia pernah mengalami kejadian ini, sekitar 8 tahun lalu, ia menceritakan pernah menemui orang seperti saya, yang datang berjalan kaki dari tempat yang sangat jauh bersama seorang kakek tua, mirip sekali ceritanya dengan yang barusan saya alami. Hanya saja tentu tanpa semburan singkong rebus dari mulut dan hidungku tadi ya. Sungguh aneh, mengherankan, memikirkannya pun otaku tak sampai, yang hanya aku pikirkan adalah bagaimana caranya aku bisa pulang, aku berpikir sambil bingung, tapi singkong rebus tetap aku lanjutkan, enaknya singkong rebus ini.
Bapak itupun memperkenalkan diri, namanya adalah Gulunding, pak Gulunding, lalu ia pamit untuk melaksanakan sholat dhuhur dl. Hmm… nama yang aneh, bagaimana coba orang-orang memanggilnya, pak Gul, pak nding, apa pak Gulun. Sebentar….tadi Pak Gul bilang mau sholat Dhuhur dl, apa beliau gak salah, dari kalangpun aku mulai berjalan jam 2 siang, kok sekarang Dhuhur lagi, makin bingung makin lahap aku memakan singkong rebus, aku menyisakan sepotong singkong dipiring untuk menutupi malu, walaupun sebetulnya aku sangat ingin menyantapnya juga, tapi Jaim lah, malu kalau dihabiskan.
“Tanggung hiji deui se’epkeun jang” Pak Gul keluar selesai sholat dengan pakaian rapih memakai sarung, “Tos Pak, wareg” jawabku munafik. Pak Gul tetap memaksaku menghabiskannya, maka dengan semangat aku menghabiskannya juga. Namun setelah aku perhatikan wajah Pak Gul, aku terheran-heran, ternyata di keningnnya masih terdapat sisa semburan butiran singkong, aku sekarang yakin bahwa butiran singkong yang menempel di kening Pak Gul bukan berasal dari semburan mulutku, melainkan terpental dari dalam hidungku, karena mempunyai daya rekat kuat, yang tak dapat lepas dengan hanya terkena air.
“Sayah bingung Pak Gul”….. ucapku seperti menyerah pada keadaan, Pak Gul pun menjawab untuk tidak memperpanjang kebingungan kita, karena entah apa dan bagaimana pun prosesnya, mungkin hal ini sudah menjadi jalan kehidupan, dengan kejadian ini, aku dan Pak Gul bisa bertemu, walaupun dengan cara yang tidak masuk di akal. Akupun bertanya tentang bagaimana caraku memanggilnya, Pak Gul Pak nding atau bagaimana, Pak Gul menjawab kalau orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Ki Honje. Honje adalah tanaman yang biasa dijadikan lauk atau lalap atau bumbu, sambal atau apalah sesuai orang-orang mengolahnya, karena Pak Gul hidup sendirian di dalam kampung, maka makan pun seadanya hasil dari alam dan yang paling sering adalah makanan dari Pohon Honje, begitulah Pak Gul garis miring Ki Honje menerangkan. Yo Wis lah ra’ urus, aku ikut saja memanggil “Ki Honje”.
Sambil bersantai di depan rumah panggung Ki Honje, aku bertanya kelanjutan orang yang kejadiannya mirip denganku 8 tahun silam, Ki Honje pun melanjutkan ceritanya. 8 tahun silam ada yang datang ke rumah ini, mirip kejadiannya seperti yang aku alami, ki Honje menceritakan bahwa orang tersebut ingin memperdalam pengetahuan dan ilmunya mengenai ayam adu. Karena memang jauh di sebelah desa ini terdapat satu tempat yang dipercaya masyarakat sekitar merupakan tempat “keramat” khusus nya didunia ayam adu. Konon ditempat ini, dijadikan tempat melatih atau “mengisi” ayam-ayam aduan dengan ilmu-ilmu sebelum ayam di adu untuk menunjukan ilmu siapa yang terkuat. Jaman dahulu ayam aduan memang salah satu dari sekian banyak sarana ajang adu kekuatan antar jawara pada jaman itu. Menurut cerita Ki Honje, orang itu berhasil “mengambil” Ilmu atau sesuatu dari tempat keramat tersebut. Ki Honje pun memberitahu bahwa seingat dia nama orang itu adalah Iskandar. Yap aku yakin Iskandar yang dimaksud disini adalah Jeremy Iskandar alias Mang Ujer. Wedhussss……tak ku sangka ternyata Mang Ujer mempunyai “sesuatu” untuk ayamnya, pantas saja ia selalu menang saat pertandingan adu ayam, mungkin kini saatnya aku melakukan hal yang sama seperti mang Ujer, akupun mulai menggali informasi dari Ki Honje mengenai hal ini.
Ki Honje memaparkan tak mudah untuk melakukan hal Mistis ini, tak banyak memang yang mengetahui dan berani menguak keberadaan tempat itu, mungkin dari 8 tahun terahir ini hanya 3 orang mencoba melakukan hal ini, namun tidak ada yang berhasil, yang ada malah ketiga orang itu tidak pernah kembali. Mendengar hal itu tekad saya makin bulat, hidup sebatangkara tanpa penghasilan, hanya ayam-ayam yang jadi harapan terahir, maka dengan semangat aku mengatakan kepada Ki Honje bahwa ingin Pulang……!! Aku tak mau ambil resiko, aku tak mau nasibku seperti ke-3 orang tadi yang hilang entah kemana, entah dimakan hewan buas apa, Wis poko’e balik, Wedilah….Ora Ki, Ora……
Untuk menemukan kendaraan umum, Ki Honje menerangkan bahwa aku harus berjalan kaki 3 jam untuk sampai di tepi sungai tempat perahu dari bambu sebagai sarana transportasi, itupun adanya hanya seminggu sekali, karena memang sangat jarang atau hampir tidak ada orang yang bepergian kedaerah sini. 4 hari lagi perahu itu datang kata Ki Honje….aduh emak tulung urip, alamat terjebak ditempat ini selama 4 hari kedepan.
Hari sudah mulai senja, akupun melepas baju dan celanaku yang kotor ini, dan hanya menggunakan celana pendek yang “soek” dibagian pantat kiri, dan kaos dalam yang “doer” ini. Aku pun mandi di pancuran air belakang rumah, sueger sangat, mudah2an dengan mandi di pancuran air ini setelahnya aku akan menjadi ganteng, seperti dongeng2 orang2 tua dulu, hehehhe….. selesai mandi Ki Honje meminjamkan baju, lalu kupakainya. Baju dari peninggalan orang-orang yang hilang di cerita tadi, agak risih, tapi dari pada hanya memakai celana pendek soek dan kaos dalam yg doer, ya aku pakai. Malam datang, malam yang sejuk, gelap, lampu totok satu-satunya penerangan di rumah ini, yang bikin kotoran hidung sekejap menjadi penuh dan hitam. Dikesunyian malam aku banyak berpikir, setelah ini apa yang bisa aku lakukan untuk menyambung hidup, melanjutkan perjuangan ayam Mang Ujer pun aku tak mampu, aku berpikir terus terus dan terus hingga matapun terpejam sampai pagipun tiba. Dalam guyuran dinginnya air mancur aku masih berpikir, sepertinya tidak ada jalan lain dikehidupanku selain mengambil jejak Mang Ujer. Melamar jadi PNS tak mungkin karena kendala Ijazah SD yang sekarang akupun tak tahu entah dimana, mau jadi Foto Model apalagi, foto Rontgen (Ronsen) pun rusak apalagi jadi foto model. Akhirnya aku bicara kepada Ki Honje untuk mencoba mengambil jejak mang Ujer, Ki Honje pun menegaskan, bahwa keputusan harus yakin, karena sekali aku maju, tidak akan ada jalan untuk mundur, dan segala konsekuensi aku harus menanggungnya sendiri. Ki Honje pun menyuruh saya bersiap siap, siap-siap fisik dan mental maksud Ki Honje, karena sehabis Ashar, beliau akan mengantarkannya ke lokasi yang dituju. Aku siap………..
Setelah Dzuhur, Ki Honje memberikan briefing singkat mengenai perjalanan yang akan ditempuh. Bahwa saya harus akan masuk kedaerah hutan dan pegunungan. “Batu Tapak Kotok” nama tempatnya, berada di sebelah barat tak jauh dari puncak Gunung Haseupan Pandeglang Banten. Perjalanan dari sini memakan waktu kira-kira 9 jam perjalanan menggunakan sikil alias jalan kaki. Itupun kalau lancar katanya, karena konon bagi yang punya niat seperti aku ini akan banyak menemui halangan, yang salah satunya terkadang gunung ini akan dipenuhi kabut, sehingga pandangan sulit untuk melihat trek jalan. Wew…..mungkin ini alasan nama gunung ini diberinama haseupan, karena mungkin selain bentuk nya seperti haseupan (alat memasak nasi yg bentuknya kerucut) juga mungkin karena sering ada nya asap di gunung ini (haseup=asap). Sebelum berangkat aku juga harus menyelesaikan beberapa Ritual yang dipimpin oleh Ki Honje, aku juga di suruh untuk menghapalkan semacam kalimat mantra yang tidak bisa aku paparkan disni, sebut saja sebagai contoh bunyi mantranya “nanapugun titisel” alias naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali hehehe….
Mohon maaf bukannya aku tidak mau menulis kalimat mantranya disini, karena yang dikhawatirkan akan menimbulkan polemik (mbuh opo iku artine polemik). Akupun disuruh mandi dengan air yang telah di “proses” oleh Ki Honje, selesai mandi dengan hanya sehelai kain berwarna hitam, akupuh merapalkan mantra “nanagun titisel” sebanyak “sekian” kali Sambil menghadap ke timur. Setelah itu kembali berpakaian seperti biasa. Ritual sebelum keberangkatan selesai, dan ahirnya aku teringat akan si Rojer, kejadian-kejadian kemarin sangat menyita otaku, hingga aku lupa akan binatang peliharaan yang paling aku sayangi. Betapa kagetnya aku melihat kandang reot dibelakang rumah Ki Honje Kosong melompong bagaikan kepompong bolong digotong-gotong, kandang ini memang sudah reot, tapi tidak ada bagian bolong ataupun terbuka yang tak mungkin bila Rojer dapat keluar dari kandang ini, namun dibagian sudut kandang tempat dimana kemarin aku melihat Rojer, kudapati sepotong kayu sepanjang kira-kira satu jengkal, taksturnya sangat halus, berwarna coklat kehitaman, yg ukuran diameternya sekitar se-ibu jari orang dewasa. Akupun langsung memberitahu masalah ini ke Ki Honje, namun beliau hanya tersenyum, dan menyarankan agar tidak mencari rojer, beliau juga menyuruh agar kayu ini aku bawa dalam perjalananku, akupun menurut karena dalam otaku saat ini hanya konsentrasi pada perjalananku menuju Gunung Haseupan. Maafkan aku Rojer, sepulangnya dari sana, akan kucari kamu. Jam di dinding bilik rumah Ki Honje menunjukan pukul 4 sore kurang 10 menit, yang artinya aku dan Ki Honje harus mulai berangkat ke lokasi UKA-UKA alias Ujer KAmpret-Ujer KAmpret. Kamipun berangkat dengan berbekal beberapa potong “godogan” singkong dan tempat minum yang terbuat dari bambu. Gembolan kain berisi perbekalan saya yang bawa, dengan tempat minum yang terbuat dari bambu dengan tali dari kulit pohon tergantung dipinggangku, serasa aku menjadi orang London untuk hari ini, sedangkan Ki Honje hanya membawa rokok dari daun kaung yang menyala terselip di jarinya, wenak tenan ya…..
Perjalanan dimulai dari jalan setapak di sebrang jalan rumah Ki Honje alias Pak Gulunding, jalan tanah merah yang kering, untung saja sekarang musim panas, sehingga jalanan kami lalui tidak becek dan licin. Selang 15 menit kami berjalan stelah kami sebrangi hamparan sawah, sampailah kami pada bibir hutan, Ki Honje pun berhenti, “Ngan sampe dieu Ki Honje Tiasa nganteur nya jang” yang artinya cuman sampai sini beliau bisa antar, selebihnya aku harus melakukan semua sendiri. Beliau menunjuk pada Gunung yang harus ku tempuh, dan posisi tempat lokasi Batu Tapak Kotok berada, akupun pamit, dan mulai berjalan memasuki Hutan. Hutan yang asri, udara sejuk dengan irama kicauan burung dan bunyi serangga menemani langkahku, aku terus berjalan menuju gunung Haseupan. Menurut cerita Ki Honje, gunung ini sangat jarang didaki, entah kenapa aku tak tahu, tapi itu berarti kemungkinan besar aku tak dapat menemukan jalan setapak disana, tapi mudah-mudahan saja ada lah.
Gunung haseupan merupakan gunung yang berada di tengah-tengah antara 2 gunung besar, Gunung Karang dan Gunung Pulosari. Bila kita lihat dari kejauhan, Gunung haseupan seperti gunung penghubung antara kedua Gunung besar ini. Namun entah kenapa keberadaan gunung haseupan ini kurang tenar dibanding kedua gunung besar itu. Tak terasa aku telah sampai dikaki gunung Haseupan, aku beristirahat sambil minum dan melemaskan kaki-kaki, lalu kembali melanjutkan perjalanan karena kulihat matahari mulai tenggelam, aku harus mencari tempat untuk bermalam, tempat yang sekiranya aman dari ancaman hewan buas pada saat ku tertidur pulas. Tak terlalu jauh dari kaki gunung akhirnya aku menemukan tempat untuk bermalam, dibawah tebing batu yang menjorok ke luar, sehingga dapat memayungiku dari jatuhan embun dimalam hari. Akupun mulai mengumpulkan kayu bakar untuk membuat perapian, hari mulai gelap, api pun mulai menyala, banyak sekali kukumpulkan kayu dan dahan-dahan kering, persiapan bila mata tak mau diajak tidur, kan serem kalau gelap, hehe…… Malam pun semakin tua, suara-suara binatang hutan riuh terdengar, sesekali aku di kagetkan oleh monyet liar yang melompat dari dahan ke dahan, namun aku tetap mencoba berpikir positif, bahwa gunung ini indah dan nyaman, tak ada yang perlu ditakuti, sambil sedikit clingak clinguk tentunya. Sambil menikmati hangatnya api, aku menikmati bekal singkong yang kubawa tadi, entah kenapa di tempat ini selera makanku serasa meningkat, makanku agak banyak ditempat ini walaupun hanya makan singkong, padahal kalau ditempat lain makanku juga lebih banyak lagi. Tak kusangka sebelumnya, semakin larut kukira akan semakin gelap, tapi ternyata sebaliknya, lingkungan sekitar mulai terlihat jelas, penerangan yang berasal dari cahaya bulan, dirikupun mulai santai beradaptasi dengan lingkungan, untuk membunuh rasa sepi aku sambil bernyanyi, Rembulaaaan bersinar laaagi..ii..ii….. dan seterusnya sampai satu album lengkap. Kini aku tak takut lagi, berkat abah Mansyur S. Terima kasih ku ucapkan untuk Abah Mansyur S.
Sudah hampir tengah malam kukira, tapi mata rupanya belum mau terpejam, Api unggun pun mulai redup, lalu kutambah lagi kayu-kayu kering agar api tetap besar, karena kurasakan malam makin semakin dingin, semakin lembab. Badanpun mulai mengigil kedinginan, karena kalau kepanasan bukan menggigil namanya. Suara suara bianatang d hutan ini semakin malam semakin berisik, mungkin karena mereka kedinginan juga seperti saya, namun mendadak aku dikagetkan oleh suara lumayan keras, “Kuku ruyuuuuuuuk kuekkkk…….Kuku ruyuuuuuuk kuekkk”…… mendadak suara binatang-binatang lain terhenti, seketika menjadi sunyi, tak ada suara binatang satupun kudengar, bahkan suara kentut jangkrik pun tak ada. Suara Kokok ayam jago yang menggelegar dari arah sekitar puncak gunung, suaranya berat sekali, membungkam semua binatang yang ada di sekitar gunung ini. Entah aku harus takut atau bagaimana, aku memang takut, jujur takut, namun sisi lain aku sedikit ingin tertawa, karena baru kali ini aku mendengar kokok ayam jago dengan bunyi “Kuekkk” di belakangnya, tak kuasa aku menahan tawa, ahirnya kulepaskan juga, Buakakkakakakka…… Entah ayam seperti apa itu, kokok nya terdengar se’antero Gunung dengan suara “kuekkk” dibelakangnya. Macem-macem aja gumamku, sambil duduk bersandar di dinding batu. Setelah itu terdengar suara kepakan burung malam, dan suara grasak gresek binatang-binatang yang menggambarkan berlari, suara-suara itu bergerak menjauhiku, apakah binatang itu takut dengan keberadaanku, untuk membuang pikiran-pikiran lain, kutembangkan lagi lagu “Rembulan bersinar lagi……. “ sampai pada lirik “hampir saja, hampir saja” aku berhenti karena dikejutkan oleh bayangan berkelebat-kelebat, tanpa mencoba memikirkan apa-apa kulanjutkan lagu itu sampai mungkin 3 kali ku ulang lagu itu, semakin banyak kelebatan bayangan, tak terasa lagu ini semakin cepat aku dendangkan, saat lirik “Putus asa bunuh diri” diulangan ke 4, mulutku tak dapat mengeluarkan suara, hanya berjarak sekitar 7-8 meteran se-ekor anjing Hutan besar yang terlihat sangat buas memandangku tajam, lalu datang lagi satu, datang lagi, dan lagi, sehingga ada sekitar 5 ekor anjing besar mengelilingiku, Abah Mansyur S saat ini tak dapat lagi membantuku, bagaimana ini…..
Langsung ku ambil batang kayu dari api unggun, kugunakan untuk menakuti Anjing-anjing itu, kugibas-gibaskan api didepan mereka, namun sepertinya mereka tidak takut sedikitpun, namun dengan nyala api di ujung kayu yang kupegang, aku dapat melihat jelas Anjing-anjing itu, anjing yang aneh, tak seperti anjing-anjing pada umumnya, ada yang janggal di ke-empat kaki anjing-anjing itu. Jari kaki anjing-anjing itu bukan menghadap kedepan, melainkan menghadap kedalam sehingga jari kakinya saling berhadapan antara kiri dan kanan. Teringat pesan guru ngajiku dikampung, bila menemukan sesuatu yang janggal seperti ini, kita harus tenang, sebetulnya mahluk-mahluk seperti itu hanya halusinasi kita saja, mereka bisa berubah bentuk menjadi apapun dan bagaimanapun, dan sesungguhnya mahluk seperti ini tidak dapat melukaiku, hanya menakut-nakuti saja. Akupun menghirup nafas dalam agar menenangkan pikiran, kuturunkan batangkayu yang menyala dari tanganku, sambil santai aku coba bertanya kepada anjiing-anjing aneh itu, “Ente siapa? Kita masing-masing ajalah, anne tau ente itu sebenernya gak bisa nyakitin anne, pergi dah sono” begitu selesai mengucapkan kata-kata itu dari sebelah kiri anjing yang satu menabraku sambil mencakarku, anjing yang besarnya tak lazim menabrak pundak kiriku, seperti ditumbuk kerbau rasanya, d tambah tusukan kukunya di pangkal tanganku, untungnya tidak terlalu dalam, aku terjatuh tapi langsung berdiri lagi mengangkat kayu, remuk rasanya pundak kiriku, teori guru ngajiku ternyata tak berlaku saat ini, boro-boro tidak bisa menyakiti, puguuuh remukkk badan rasanya di tabrak anjing aneh yg besar sekali. Akupun teringat dengan batang kayu yang kutemukan dikandang ayam, siapa tau batang kayu kecil ini bisa membantu, kuambil batang kayu kecil itu dari sabuk di punggungku, kugenggam pasti sambil kuangkat ke atas, berharap batang kayu ini bisa berubah mejadi pedang atau cambuk atau sesuatu seperti di film-film, dan akhirnya batang kayu ini tetap menjadi batang kayu kecil, tak berubah menjadi apa-apa. Tak ada jalan lain kalau begini, mau tak mau aku harus menghadapi mereka, kulemparkan tempat minum dari bambu yang melintang di pinggangku, kubuka baju pinjaman dari Ki Honje lalu kulilitkan di telapak tangan, untuk nanti menahan tajamnya taring dan kuku-kuku mereka, namun siapa sangka, mereka malah mundur, dan ahirnya berlari menjauhiku hingga tak terlihat lagi. Mungkin mereka takut padaku atau takut karena bau badanku, sampai kusadari, tempat minum yang terbuat dari bambu tadi jatuh tepat didepan mereka saat kulemparkan, rupa-rupanya mereka takut akan tempat air minum ini, tak disangka, Ki Honje pun tak berkata apa-apa mengenai tempat air minum ini, tapi apa benar anjing-anjing itu takut dengan tempat air minum ini? Ataukah justru takut dari bau mulutku yang menempel di tempat air minum ini? Ya sudahlah, apapun itu kini keadaan sudah kembali aman, lega rasanya, kukenakan lagi baju yang tadi kubuka, dan mencoba tidur, lama kelamaan akhirnya mata ini bisa terpejam juga, suara-suara binatang hutan inipun telah kembali normal, menandakan keadaan sudah aman, akupun tertidur dengan lelap.
Mentari dengan hangat membelai wajahku, suara burung-burung beserta kotorannya menyambut pagi yang cerah ini, tepat di pelipis kananku burung menjatuhkan ampas dari perutnya yang kecil, kotoran burung baru yang hangat dan lembut dipagi hari, menandakan aku akan dapat rejeki hari ini. Selesai cuci muka dan berkemas-kemas, aku melanjutkan perjalananku. Berjalan terus menuju puncak gunung Haseupan. Semakin mendaki ke atas, semakin padat pula pohon-pohon di Gunung ini, ranting-ranting dana semak belukar menjadi sangat padat, hampir menutupi seluruh jalan setapak yang kulalui ini. Perasaan tenang dan lega saatku sampai pada hamparan pohon pakis yang tingginya hampir merata, hijau sekali terhampar seperti karpet mesjid yang sedang di jemur dilapangan Volley. Udara sejuk dan gemericik air dari tebing batu sebelah selatan menambah nikmatnya singkong rebus yang kumakan yang sudah agak basi ini. Saat aku sampai pada satu genangan air di tengah-tengah hamparan pohon pakis, kudengar siraman-siraman air, bukan suara air yang menetes dari ketinggian, tapi seperti suara air yang d siram-siramkan menggunakan gayung, aku yakin. Siapa yang cebok digenangan air yang jernih dan indah ini, untung saja aku belum masuk dan berkumur-kumur di dalam kolam ini. Saat aku melihat dibalik batu, kutemukan sesosok wanita yang ternyata bukan sedang cebok, tapi sedang berendam di kolam sambil memainkan air kolam dengan tangannya. Wanita yang sangat cantik dan mempunyai kulit yang putih dan kelihatan lembut, tanpa busana sedang mandi ditengah-tengah surga dunia ini, karena memang tak mungkin orang mandi dengan busana Dinas PNS lengkap dengan sepatu dan tas kerjanya kan? Pastilah kalau orang mandi itu tanpa busana, yak……wanita tanpa busana. Dengan tampang yang pura-pura bego dan tak meihat, aku cuci mukaku dikolam, sekali-kali kuhirup airnya dengan mulutku untuk berkumur, sesekali juga ku telan air kolam ini saat mataku memandang wanita itu, air kolam yang jernih yang didalamnya terdapat wanita cantik sedang mandi, air yang segar dan wangi. Kulit punggung wanita itu terlihat sangat bening tersorot oleh matahari pagi, tak tahan rasanya ingin ku langsung mandi besar bersama wanita itu. Tapi lagi-lagi aku teringat akan pesan guru ngajiku di kampung, bahwa godaan terbesar seorang lelaki yang sukses adalah “Wanita”, bila kita kalah dengan nafsu setan, maka celakalah kita. Namun sekarang ini kukira bukan nafsu setan, melainkan nafsu diriku sendiri, nafsu pingin……ehm. Mungkin inilah tempat yang disebut Ki Honje pada saat briefing sebagai tempat yang bernama “Ci Parawan” yang artinya Air perawan. Ci Parawan merupakan salah satu tempat dimana orang-orang yang mempunyai maksud sepertiku ini gagal melanjutkan perjalanan, tergoda oleh sejuk dan lembutnya air kolam yang jernih, mulus dan nikmat ini. Aku tak tahu bagaimana tempat ini dapat menghentikan perjalanan orang-orang seperti saya ini, ingin aku mengetahui bagaimana bila aku masuk kekolam dan mandi bersama wanita cantik itu, apa yang terjadi. Setelah aku timbang-timbang langkah mana yang harus aku ambil, ahirnya aku memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan, dan menghiraukan wanita cantik yang mandi tanpa busana dikolam yang indah ini. Karena aku tahu bahwa hal ini merupakan kenikmatan yang sesaat, yang mungkin akan kusesali seumur hidupku. Kukencangkan ikat pinggang yang sempat agak melorot pada saat melihat wanita itu mandi, lalu bersiap melanjutkan perjalanan, tapi tak ada salahnya aku melihatnya dulu selama 5 menit lagi, lumayan lagi nanggung.
Tanpa menoleh kebelakang hanya menolah ke samping kiri aku lanjutkan perjalanan, karena memang kolam dan wanita itu ada disebelah kiriku. Sebetulnya dengan tampang dan kemampuan yang pas-pasan mungkin ini kesempatan seumur hidupku untuk mandi dengan wanita sangat cantik, tapi ya sudahlah, cukup kurekam kolam dan wanita itu di otaku, untuk bekal ngelamun nanti dirumah, lumayan untuk materi.
Dengan berat hati aku terus melanjutkan perjalanan, masuk lagi kedalam hutan untuk mendaki dan mencapai Gunung haseupan. Selang beberapa lama diantara rimbunnya pohon-pohon dan jalan yang menukin ke atas, kulihat ada sebuah sebuah tanah datar yang terang karena sinar matahari masuk tanpa terhalang pohon, rupanya aku sudah sangat dekat dengan puncak gunung. Puncak Gunung yang indah, yang tak terlalu luas, hanya kurang lebih 23 Meter persegi luasnya. Kulihat disebelah kanan, terdapat kuburan tua bertuliskan Ki Mxx xxxA. Menurut informasi di Ki Honje, “Batu tapak kotok” berada beberapa ratus meter di arah barat dari puncak gunung, akupun langsung mencari lokasi itu. Ditengah tengah gagahnya pohon-pohon tua dan besar, aku lihat sebuah pondok, pondok yang mengeluarkan asap dibagian dibelakang, pertanda ada kehidupan dipondok tengah Gunung ini. Didepan pondok itu terdapat gundukan batu yang tingginya kurang lebih selutut orang dewasa. Perlahan kudekati pondok itu, dan perlahan kudengar langkah kaki dari dalam pondok menuju keluar, lalu seorang kakek tua keluar dari dalam pondok, kakek tua yang telah menuntunku sampai ke Rumah Ki Honje, kakek tua itu menatapku, akupun hanya terdiam dengan memasang raut wajah yang terkesan kecewa dan bertanya-tanya. “duduk, istirahat dulu” kakek tua itu berkata. Akupun menurut saja, tak mau aku membahas kejadian-kejadian di luar nalar pada saat aku di ajak berjalan oleh kakek tua ini. Memang Ki Honje memberitahuku, bahwa di lokasi batu tapak kotok aku akan berjumpa dengan seseorang, tapi tak pernah ku kira bahwa orang yang di maksud adalah kakek tua ini. “Dimana Batu Tapak Kotok ?” tanyaku, namun kakek tua malah berbalik bertanya kepadaku: “Apa kamu tidak mau tahu kejadian-kejadian yang kamu alami sebelumnya?”, aku hanya menjawab untuk apa aku mempermasalahkan hal itu, hal yang terpenting sekarang adalah dimana aku bisa menemukan batu tapak kotok berada, agar maksud dan tujuan ku kesini membuahkan hasil. Mendengar hal itu kakek tua itu tersenyum, lalu menunjuk pada tumpukan batu yang berada didepan pondok ini, tumpukan batu yang biasa kelihatannya, bentuknya tidak menggambarkan tapak ayam, bahkan menggambarkan kotoran ayampun tidak. Pokoknya hanya tumpukan batu yang tidak ada mirip-miripnya sama sekali dengan semua bagian tubuh ayam, namun kakek Tua itu menegaskan bahwa itulah yang namanya Batu Tapak Kotok. Aku pun berjalan mendekati tumpukan batu itu, kuputari, kamudian bertanya kepada kakek tua itu : “lalu bagaimana ini kek?”, sang kakek kemudian memanggil seseorang dari belakang pondok, kemudian keluarlah Ki Honje dengan menggendong se-ekor ayam jago, ayam yang gagah berwarna jalak, badannya tegap, matanya tajam, ekornya panjang terurai, kakinya yang panjang berwarna hijau sesuai dengan badannya, akupun kaget, bukan hanya kaget karena bertemu Ki Honje ditempat ini, tapi kaget bahwa aku kenal dengan ayam yang di gendong Ki Honje, Gondel…… aku sangat yakin itu Gondel, meskipun dengan penampilan lebih muda dari sebelumnya. Ki Honje tersenyum kepadaku, “Kenal kan kamu sama ayam ini?” tanya Ki Honje kepadaku, akupun mengangguk sambil tersenyum lebar, seakan tak percaya, aku ambil Gondel dari gendongan Ki Honje, lalu menaruhnya di tanah sambil mengelus-elus leher Si Gondel, Gondel Pun berkokok dengan gagah, kokokan yang dulu sering kudengar, kokokan yang membawa kemenangan. Aku pun bertanya kepada kedua orang tua itu, tentang kayu sepanjang satu jengkal tangan, mereka menjawab itu bukan kayu apa-apa, itu kayu biasa, mau kuusimpan ya silahkan, mau dibuang ya silahkan, orang Cuma kayu biasa, sial aku dikerjain, tapi tak apalah, semua kejadian semua kesusahan terbalas dengan memegang Gondel ditangan. Singkat cerita, akupun pulang ke Brebes bersama Si Gondel, namun kali ini bukan berjalan cepat seperti sebelumnya, kali ini aku pulang naik kendaraan umum dengan ongkos sendiri tentunya dengan membawa tekad dan semangat bahwa aku akan menaklukan dunia ayam laga.
TAMAT
“Semua kejadian, nama tokoh, dan nama tempat di cerita ini hanya karangan belaka, mohon maaf bukan maksud menyinggung apapun atau siapapun, Just 4 Fun”