“A beautiful death is for people who lived like animals to die like angels—loved and wanted”. – Mother Teresa
Malam natal lalu saya sempat menyaksikan salah satu film dokumenter tentang perjalanan Bunda Teresa memperjuangkan kaum papa di India. Hari-harinya, pergumulan batinnya, kecemasan dan kegelisahannya, kekuatannya, semua tergambar jelas di film berdurasi satu jam tersebut. Dari film itu juga saya belajar satu hal penting dari Bunda Teresa, yaitu caranya memandang manusia.
Tahukah kau, semasa di India, Bunda Teresa tak hanya memperjuangkan makanan, pendidikan, dan kesehatan bagi kaum yang terpinggirkan. Tapi juga kesempatan bagi mereka untuk mati dengan terhormat.
Saya ulangi. Kesempatan untuk mati dengan terhormat.
Para gelandangan yang sekarat dipinggir jalan satu persatu diangkutnya ke sebuah bekas kuil yang ia namai Kalighat. Disana orang-orang yang nyaris mati tersebut dibersihkan, diobati dan dibantu untuk mati sesuai dengan agamanya masing-masing. Bagi penganut agama islam dibacakan Quran, yang Hindu menerima air gangga, dan yang Katolik menerima pengampunan terakhir dari pastor.
Padahal, jika saya berpikir sinis, apalah artinya sebuah proses kematian. Untuk orang yang terpinggirkan dan terlupakan seumur hidupnya, apalah artinya beberapa detik, menit, atau jam terakhir. Berselimutkan debu atau berbaring di atas dipan, toh maut akan datang menjemput juga, bukan?
Tapi tidak untuk Bunda Teresa. “Walau hidup seperti binatang, manusia harus meninggal seperti malaikat - dicintai dan diinginkan,” katanya. Baginya, kematian yang cocok untuk seorang manusia adalah kematian yang indah. Kematian yang terhormat.
Buat saya hal ini menunjukkan betapa Bunda Teresa memiliki gambaran yang sempurna tentang manusia didalam benaknya. Tidak hanya untuk Tuhan, apa-apa yang ia lakukan di India adalah perjuangannya untuk mewujudkan gambaran manusia yang hakiki dalam dunia ini.
Sayangnya berpikir dan berbicara tentang manusia jadi hal sudah lama kita lupakan. Jika saja para pejabat atau pemerintah memiliki gambaran apa itu manusia, saya menduga banyak kebijakan yang bisa jadi jauh lebih baik. Karena, mengutip salah satu dosen saya, berbicara tentang masyarakat tidak akan pernah lepas dari berbicara tentang manusia.