Recent Posts

Monday, January 10, 2011

Berbicara Manusia

“A beautiful death is for people who lived like animals to die like angels—loved and wanted”. – Mother Teresa

Malam natal lalu saya sempat menyaksikan salah satu film dokumenter tentang perjalanan Bunda Teresa memperjuangkan kaum papa di India. Hari-harinya, pergumulan batinnya, kecemasan dan kegelisahannya, kekuatannya, semua tergambar jelas di film berdurasi satu jam tersebut. Dari film itu juga saya belajar satu hal penting dari Bunda Teresa, yaitu caranya memandang manusia.

Tahukah kau, semasa di India, Bunda Teresa tak hanya memperjuangkan makanan, pendidikan, dan kesehatan bagi kaum yang terpinggirkan. Tapi juga kesempatan bagi mereka untuk mati dengan terhormat.

Saya ulangi. Kesempatan untuk mati dengan terhormat.

Para gelandangan yang sekarat dipinggir jalan satu persatu diangkutnya ke sebuah bekas kuil yang ia namai Kalighat. Disana orang-orang yang nyaris mati tersebut dibersihkan, diobati dan dibantu untuk mati sesuai dengan agamanya masing-masing. Bagi penganut agama islam dibacakan Quran, yang Hindu menerima air gangga, dan yang Katolik menerima pengampunan terakhir dari pastor.

Padahal, jika saya berpikir sinis, apalah artinya sebuah proses kematian. Untuk orang yang terpinggirkan dan terlupakan seumur hidupnya, apalah artinya beberapa detik, menit, atau jam terakhir. Berselimutkan debu atau berbaring di atas dipan, toh maut akan datang menjemput juga, bukan?

Tapi tidak untuk Bunda Teresa. “Walau hidup seperti binatang, manusia harus meninggal seperti malaikat - dicintai dan diinginkan,” katanya. Baginya, kematian yang cocok untuk seorang manusia adalah kematian yang indah. Kematian yang terhormat. 

Buat saya hal ini menunjukkan betapa Bunda Teresa memiliki gambaran yang sempurna tentang manusia didalam benaknya. Tidak hanya untuk Tuhan, apa-apa yang ia lakukan di India adalah perjuangannya untuk mewujudkan gambaran manusia yang hakiki dalam dunia ini. 

Sayangnya berpikir dan berbicara tentang manusia jadi hal sudah lama kita lupakan. Jika saja para pejabat atau pemerintah memiliki gambaran apa itu manusia, saya menduga banyak kebijakan yang bisa jadi jauh lebih baik. Karena, mengutip salah satu dosen saya, berbicara tentang masyarakat tidak akan pernah lepas dari berbicara tentang manusia.

Friday, January 07, 2011

Tentang Menulis

Sore ini saya iseng membaca postingan di awal-awal blog ini baru berdiri. Tulisan-tulisan di tahun 2005, yang jumlahnya memang sedikit, hampir habis saya lalap.

Oh, Tuhan. Saya sakit mata melihatnya. 

Entah apa yang dipikirkan oleh saya diwaktu itu, menggunakan banyak sekali ”...” hampir disetiap kalimat. Belum lagi pemakaian tanda baca yang sangat sangat sangat sembarangan. Jelas sekali saya tak mengerti apa itu koma, titik, tanda hubung atau tanda kutip. Bukan berarti sekarang saya bisa menulis dengan sempurna. Tapi saya sedikit malu dengan tingkat keacuhan saya, kala itu seorang mahasiswa, terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Semoga dengan munculnya keinginan untuk kembali menulis, 5 tahun kemudian saya bisa tersenyum membaca blog ini tanpa perlu sakit mata.

Tuesday, January 04, 2011

Jangan Kasihani Mereka

Ada sedikit keanehan yang saya lihat saat berlangsungnya Piala AFF lalu. Salah satunya adalah kemunculan tulisan-tulisan bernada mengasihani Timnas. Bahwa mereka terlalu dijadikan tumpuan “harga diri” bangsa ini. Bahwa hal-hal berbau politik terlalu mengganggu konsentrasi mereka. Bahwa di lapangan hijau mereka seharusnya bermain saja dengan keceriaan dan kegembiraan tanpa memikirkan embel-embel garuda atau nama Indonesia.

Buat saya terserah saja kalau orang-orang tersebut mau mengkritik PSSI, Nurdin Halid, atau Nugraha Besoes. Toh memang banyak agenda-agenda tidak penting yang disisipkan di jadwal timnas. Timnas dijadikan alat untuk memasarkan satu partai politik atau satu tokoh tertentu pun memang benar adanya.

Tapi tolong jangan kasihani para pemain Timnas.

Orang yang berjuang sebaik mungkin itu didukung, dihormati, dan ditiru. Bukan untuk dikasihani. Sepakbola dan olahraga itu medannya orang-orang yang berusaha sekuat tenaga untuk menembus batas kemampuan diri sendiri. Sepakbola dan olahraga itu ajangnya orang berkompetisi dan mencari kemenangan. Di masa depan, seberat apapun beban yang dipikul dipundak mereka, sebanyak apapun faktor-faktor teknis yang dihadapi, tolong jangan kasihani mereka.

Seperti kata Winston Churchill…”if you’re going through hell, keep going”. Sudah saatnya bangsa ini berhenti mengasihani dirinya sendiri.

Friday, July 31, 2009

Maju

Ayo. Maju. Maju.
Jadi manusia itu harus maju.
Jangan terlalu cepat.
Nanti tak bisa menikmati perjalanan,
atau tak bisa menyapa orang sekitar.
Tapi jangan terlalu lambat.
Nanti lamban bergerak.
Maju. Ayo. Maju.