Karena banyaknya berita yang berasal dari Gedung Putih, banyak yang lupa bahwa Amerika Serikat adalah salah satu kiblat ilmiah dunia.
Lembaga-lembaga pemerintah non kementerian, seperti National Institutes of Health (NIH, Institut Kesehatan Nasional) dan National Institute for Allergy and Infectious Diseases (NIAID, Institut Nasional Untuk Alergi dan Penyakit Menular) bukan hanya bertindak sebagai birokrasi, tetapi juga termasuk institut ilmiah terkemuka dunia di bidangnya. Pimpinannya bukan dipegang politisi, tetapi teknokrat-teknokrat kelas dunia, misalnya Dr. Anthoni Fauci, ilmuwan dan dokter terkemuka dunia di bidang penyakit menular yang menjabat sebagai Direktur NIAID, dan Dr. Francis Collins, Direktur NIH.
6 Juli ini, dr. Collins mewawancara dr. Fauci dalam sebuah video call yang ditayangkan secara livestream. Kedua jenius di bidangnya ini nongkrong dengan obrolan yang yang padat berisi informasi tentang situasi COVID-19 yang saat ini melanda Amerika Serikat dan dunia internasional, tetapi disajikan agar dapat diikuti penonton awam. Video lengkapnya bisa dilihat di sini: Dr. Anthony Fauci discusses the coronavirus with top U.S. health official, dan dibawah ini adalah beberapa poin yang saya sarikan dalam bahasa Indonesia
Bagaimana kondisi COVID-19 di AS sekarang?
Bisa dibilang buruk. Angka kasus dan kematian terus naik, dan tidak bisa disamakan dengan “second wave” yang terjadi di negara lain seperti negara-negara Eropa. Di Eropa gelombang kasus sudah turun drastis dan kenaikan sekarang hanyalah riak-riak kecil karena ekonomi dibuka lagi. Sedangkan di AS baru turun sedikit tapi sudah melonjak lagi, jadi ini masih dihitung “first wave” yang masih terus semakin parah.
Apa yang bisa dilakukan masyarakat?
Selalu menjaga jarak, jangan ke tempat keramaian. Selalu gunakan masker saat di luar rumah dan ada kemungkinan berkontak dengan orang lain. Jika memang harus ada acara kecil-kecilan, lakukan outdoor (luar ruangan), lebih aman dibanding indoor (dalam ruangan)
Apakah kalau muda tidak harus memikirkan menjaga jarak?
Jangan merasa takabur walaupun masih muda. Memang efek COVID-19 untuk anak muda tidak separah untuk orang tua, tetapi tetap saja banyak kasus yang menyebabkan anak muda sakit selama berminggu-minggu sehingga tidak bisa beraktivitas normal. Selain itu, anak muda tetap terinfeksi (walaupun tidak menimbulkan gejala) sehingga acara ngumpul-ngumpul anak muda menjadi perantara penularan bagi setiap orang tua, kakek, nenek, om-tante, dari mereka yang datang.
Bagaimana proses pengembangan vaksinasi saat ini?
Ada banyak yang sedang dikembangkan menggunakan berbagai strategi, dan beberapa melibatkan lembaga-lembaga pemerintah. Pengembangan vaksin selalu bersifat trial-and-error (metode coba-coba, setiap “calon vaksin” memiliki risiko kegagalan), sebelum akhirnya berhasil ditemukan dan dibuktikan calon yang aman dan efektif.
Jika berjalan lancar, mungkin bulan Juli, Agustus, September, Oktober akan ada percobaan tahap 3 (menguji keampuhan/efficacy di lapangan) untuk calon vaksin yang lolos percobaan tahap 1 dan 2 (menguji keamanan dan reaksi antibodi di laboratorium). Baru pada akhir 2020 atau awal 2021 baru akan diketahui hasilnya apakah calon-calon ini terbukti aman dan efektif. Hasilnya tidak bisa dipastikan dari sekarang.
Bagaimana proses produksi vaksin dipercepat?
Metode uji klinis tidak bisa dikompromikan. Vaksin harus bisa membuktikan keamanan dan keampuhannya di lapangan tanpa terkecuali. Untuk mempercepat, perusahaan memproduksi berbagai calon vaksin dari sekarang, walaupun uji klinisnya belum selesai. Kalau ternyata nanti lulus uji, sejumlah besar dosis vaksin bisa langsung dipakai. Untuk yang tidak lulus uji, semua calon vaksin yang telah dibuat itu akan dimusnahkan.
Dengan kata lain, berbagai perusahaan atau lembaga mengambil risiko membelanjakan uang dan sumber daya untuk produksi calon vaksin yang mereka tahu kemungkinan besar akan dimusnahkan, demi mempercepat produksi beberapa bulan kalau-kalau uji vaksinnya berhasil. Yang dikorbankan hanyalah uang investasi, tidak ada kompromi dalam keamanan dan keampuhan.
Bagaimana sih pengujian tahap 3 itu dilakukan?
Pengujian melibatkan 30.000 orang di daerah yang terkena penyebaran virus. 15.000 orang menerima calon vaksin, dan 15.000 orang lagi menerima placebo (suntikan palsu). Dari membandingkan kedua kelompok inilah bisa diketahui apakah vaksin itu benar-benar berfungsi dan bukan cuma sugesti atau kebetulan untuk segelintir orang saja. Pengujian dilakukan di berbagai tempat di AS dan mancanegara.
Partisipasi masyarakat dibutuhkan untuk menjadi sukarelawan, terutama dari kelompok-kelompok yang rawan dan seberagam mungkin. Dari percobaan tahap 1 dan 2, keamanan vaksin sudah dibuktikan, sehingga tidak perlu takut menjadi “kelinci percobaan”. Fungsi tahap 3 adalah membuktikan keampuhan di lapangan.
Bagaimana dengan pengobatan?
Ada beberapa obat yang sudah terbukti secara klinis dan diterima oleh berbagai lembaga regulasi, tetapi untuk kondisi tertentu saja dan efeknya juga terbatas. Sedang dicari obat yang ampuh untuk orang yang berada dalam tahap awal penyakit, karena biasanya semakin cepat ditangani, semakin baik peluang kesembuhannya.
Apakah vaksinasi akan menimbulkan kekebalan seumur hidup?
Belum tahu. Belum tentu vaksin COVID akan seperti vaksin campak yang sekali divaksinasi akan kebal seumur hidup. Masih perlu diteliti apakah nanti akan perlu dosis rutin, misalnya setiap siklus penyakit (6 bulan atau 1 tahun). Tetapi paling tidak, vaksinasi akan memberikan kekebalan selama satu siklus.
Apakah orang yang sembuh dari COVID bisa kena lagi?
Belum tercatat ada kasus orang yang sembuh terus terkena infeksi lagi, dalam artian virus kembali memperbanyak diri di dalam tubuh. Yang ditemukan selama ini, hanyalah orang sembuh lalu masih ada sisa-sisa virus yang terdeteksi dalam tes PCR, dan ini wajar. Menurut perkiraan Fauci, sangat kecil kemungkinan orang yang sudah sembuh untuk sakit kembali, kecuali untuk kasus yang sangat langka.
Bagaimana dengan mutasi virus?
Golongan virus RNA (termasuk COVID) memang selalu bermutasi, tetapi tidak semua mutasi itu berbahaya. Sejauh ini, mutasi-mutasi yang ditemukan pada COVID-19 tidak menimbulkan “konsekuensi fungsional” yang berarti, menurut Fauci.
Apakah siswa akan bisa kembali ke sekolah di tahun ajaran depan? (keterangan: Sekarang sekolah-sekolah AS sedang libur tengah tahun atau musim panas)
Untuk sekolah lokal, seperti SD dan SMP, tergantung kondisi setempat. Ada kabupaten-kabupaten di AS yang kasusnya memang 0, jadi bisa aman untuk membuka sekolah. Tetapi untuk daerah dalam situasi COVID19 aktif, menutup sekolah terus menerus ada efek negatifnya juga, yang tidak bisa diabaikan. Kalau memang ingin membuka sekolah, harus kreatif dalam mengubah kondisi sekolah untuk menghindari penyebaran. Misal: mengubah jadwal, menjauhkan tata letak meja, mewajibkan masker, mengizinkan sebagian siswa (yang lebih rentan penyakit) untuk memilih belajar online.
Intinya, semua tergantung kondisi perkembangan COVID di lokasi setempat. Artinya, testing (pengujian) harus benar-benar ditingkatkan sehingga setiap daerah bisa tahu dengan jelas kondisi masing-masing.
Apakah para pakar kesehatan masyarakat cenderung mengabaikan ekonomi dan kondisi sosial, dengan selalu menggalakkan metode-metode seperti menjaga jarak dan menghindari aktivitas?
Jangan dianggap begitu. Semua pihak, termasuk pakar kesehatan, juga sangat ingin agar roda ekonomi berjalan lagi. Metode-metode seperti lockdown dan menjaga jarak bukan bertujuan mematikan ekonomi, justru itulah jalan yang akan membawa ekonomi bergerak lagi. Fauci lalu meminta masyarakat untuk bersabar menunggu sementara para pakar kesehatan menggunakan sains untuk menemukan jalan keluar dari kondisi sekarang ini.

















