بسم الله الر حمن الرحيم
APROKSIMASI TERBAIK DAN KUADRAT TERKECIL
-
APROKSIMASI TERBAIK
istilah aproksimasi sering kita dengar pada mata kuliah yang mengandung konsep ketakberhingaan. Misalnya dalam perhitungan luas suatu daerah yang dibatasi oleh sebuh kurva dan sumbu X, hanya dengan mempartisi daerah tersebut kemudian luas partisi tersebut kita lakukan aproksimasi(pendekatan) dengan luas suatu segi panjang, lalu dengan mengintegrasikan hasil aproksimasi tersebut sesuai dengan batas atas dan batas bawahnya kita sudah menemukan luas dari daerah tersebut. Jadi dapat kita artikan bahwa aproksimasi merupakan suatu proses pendekatan atau hampiran pada suatu objek tertentu untuk mengurangi suatu kesalahan.
Proyeksi Ortogonal Dipandang sebagai Aproksimasi

Pandang u sebagai sebuah vektor tetap yang hendak kita aproksimasikan dengan menggunakan sebuah vektor pada W. Setiap aproksimasi w semacam ini akan menghasilkan sebuah “vektor kesalahan ” (“error vector”) yang bisa kita tulis
u – w
u – w tidak dapat dijadikan sama dengan 0, terkecuali jika u terletak pada W. Akan tetapi, dengan memilih
w = projw u
kita dapat menjadikan panjang vektor kesalahan
||u – w|| = ||u – projw u|| (lihat gambar diatas)
sekecil mungkin. Sehingga, kita dapat mendeskripsikan projwu sebagai
“aproksimasi terbaik“ bagi u relatif terhadap vektor-vektor pada W.
Teorema Aproksimasi Terbaik
Jika W adalah sebuah subruang berdimensi terhingga dari suatu ruang hasil kali dalam V, dan jika u adalah sebuah vektor pada V, maka projw u adalah aproksimasi terbaik (best approximation) bagi u pada W, dalam pengertian bahwa
||u – projw u|| < ||u – w||
untuk setiap vektor w pada W yang bukan projw u.
Bukti:
Untuk setiap vektor w pada W, kita dapat menuliskan
u – w = (u – projw u)+( projw u – w) (1)
Namun projw u – w, karena merupakan selisih dari dua buah vektor pada W, terletak pada W; dan u – projw u ortogonal terhadap W, sehingga kedua suku pada sisi kanan (1) saling ortogonal. Dengan demikian, melalui Teorema pythagoras (liat dibuku Howard Anton 6.2.4),
||u – w||2 = ||u – projw u||2 + ||projw u – w||2
Jika w ≠ projw u, maka suku kedua dari penjumlahan di atas akan bernilai positif, sehingga
||u – w||2 > ||u – projw u||2
atau secara ekuivalen,
||u – w|| > ||u – projw u|| ▄
-
KUADRAT TERKECIL
Metode Kuadrat terkecil, yang lebih dikenal dengan nama Least-Squares Method, adalah slah satu metode ‘pendekatan atau aproksimasi’ yang paling penting dalam dunia keteknikan untuk: (a). regresi ataupun pembentukan persamaan dari titik data diskritnya (dalam pemodelan), dan (b). analisis sesatan pengukuran (dalam validasi model).
Metode kuadrat terkecil termasuk dalam keluarga metode-metode pendekatan kesalahan terdistribusi (“distributed error” approximation methods), berdsarkan karakteristik kerjanya yang melakukan pengurangan kesalahan menyeluruh (global error) yang terukur berdasarkan interval pendekatan keseluruhan (whole approximation interval) sesuai dengan order pendekatan yang mengikat. Metode ini berbeda dengan metode-metode asimptotis khususnya yang dikembangan melalui pendekatan deret ‘Taylor’, karena metode asimptotis memiliki karakteristik kerja yang memperkecil sesatan pada beberapa titik tertentu, sesuai dengan order pendekatan yang mengikat.
Pengertian Solusi Kuadrat Terkecil dari Sistem Linear
Solusi kuadrat terkecil (least square solution) merupakan suatu vector x pada suatu sistem linear Ax = b yang terdiri dari m persamaan dengan n faktor yang tidak diketahui, sedemikian hingga vector tersebut dapat meminimalkan nilai||Ax – b|| merujuk pada hasil kali dalam Euclidean pada Rm.
Penyelesaian masalah solusi kuadrat terkercil dari sistem linear

-
Secara geometric, menyelesaikan persoalan kuadrat terkecil berarti menentukan sebuah vector x pada Rn, sedemikian rupa sehingga Ax merupakan vector terdekat ke b didalam W.
-
Berdasarkan teorema aproksimasi terbaik bahwa vector terdekat dari b didalam W adalah proyeksi orthogonal b pada W. sehingga, agar sebuah vector x dapat menjadi solusi kuadrat terkecil dari Ax = b, vector ini harus memenuhi
Ax = proyw b (gmbr. a)
-
Dari teorema proyeksi kita dapat mengetahui bahwa vektor
B – Ax = b – proyw
b (gmbr.b)
orthogonal terhadap W, karena W merupakan ruang kolom dari A, sehingga berdasarkan teorema 6.2.6, vector b–Ax terletak pada ruang null dari AT. akibatnya, b-Ax orthogonal ruang kolom dari A
( b – Ax ).A = 0
AT( b – Ax ) = 0
AT b – ATAx = 0
ATb = ATAx
Sistem persamaan terakhir inilah yang disebut sebagai sistem normal yang diasosiakan dengan Ax = b, tiap-tiap persamaan didalam sistem normal disebut persamaan normal yang diasosiakan dengan Ax = b, dan semua solusi dari sistem normal merupakan solusi kuadrat terkecil dari Ax = b
Solusi kuadrat terkecil juga akan di jelaskan oleh teorema berikut ini.

Keunikan Solusi Kuadrat Terkecil
Syarat-syarat yang menjamin suatu sistem linear memiliki sebuah solusi kuadrat terkecil yang unik (melalui pemahan teorema-teorema berikut).

Solusi kuadrat terkecil dari Ax = b paling baik dihitung dengan menggunakan eliminasi Gauss atau eliminasi Gauss-Jordan untuk menyelesaikan persamaan-persamaan normalnya, dan proyeksi ortogonal b pada ruang kolom dari A paling baik didapatkan dengan cara menghitung Ax, di mana x adalah solusi kuadrat terkecil dari Ax= b.
Contoh mencari solusi kuadrat terkecil
Tentukan solusi kuadrat terkecil dari sistem linear Ax = b yang diberikan oleh
x1 – x2 = 4
3x1 + 2x2 = 1
-2x1 + 4x2 = 3
dan tentukan proyeksi ortogonal b pada ruang kolom dari A.
Penyelesaian.
Disini

Perhatikan bahwa A memiliki vektor-vektor kolom yang bebas linear, sehingga kita dapat mengetahui sejak awal bahwa terdapat sebuah solusi kuadrat terkecil yang unik bagi sistem ini. Kita memperoleh




Sehingga sistem normal ATAx = ATb dalam kasus ini adalah

Dengan menyelesaikan sistem ini kita akan memperoleh solusi kuadrat terkecil


Dari (5), proyeksi ortogonal b pada ruang kolom dari A adalah


Definisi diatas menjelaskan bahwa proyeksi orthogonal Rm pada W adalah transformasi yang di definisikan oleh
P(x) = proywRm = proywx
Sehingga, Dari teorema sebelumnya (rumus 3) kita dapat memperoleh matriks standar untuk proyeksi ortogonal Rm pada W adalah
Proywx = P(x) = A(AT A)-1 AT
x
[P]= A(AT A)-1 AT (4)
Dimana A di bentuk dengan menggunakan basis sebarang untuk W sebagai vektor-vektor kolomnya.
Contoh: membuktikan rumus 4
Kita tahu bahwa matriks standar untuk proyeksi orthogonal R3 pada bidang XY adalah
Untuk mengetahui bahwa matriks ini konsisten dengan rumus 4, ambillah vector-vektor satuan di sepanjang sumbu X dan sumbu Y positif sebagai sebuah basis untk bidang xy, sehingga
Yang konsisten dengan (5)

الحمد لله ربالعا لمين
Filed under: Uncategorized | Leave a comment »