Dialog seorang profesor dengan muridnya mengenai teodisi atau upaya untuk merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan telah menyebar luas di dunia maya. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan profesor yang digambarkan “sombong.” Biasanya di akhir kata ditambahkan embel-embel “murid itu adalah Albert Einstein,” yang jelas salah karena Einstein tidak percaya Tuhan personal, namun kepada Tuhannya Baruch […]
Apakah benar Einstein pernah membantah seorang profesor tentang keberadaan Tuhan?
LELAKI DI TEPI PANTAI.
“Ayo pulang, mas,” bujuk Mirna pada suaminya yang senang duduk di bangku tua. Di bawah pohon nyiur setiap hari menjelang petang. Mirna yang dinikahinya tak pernah paham mengapa ia senang berlama-lama menghabiskan waktu di bibir pantai. Sama seperti dirinya juga yang tak paham, mengapa tidak ada keberanian melaut lagi sejak kejadian waktu itu yang membuat tubuhnya gemetar. Beberapa kali ia pernah mencoba mendorongkan sampannya, namun hatinya selalu kecut bahkan untuk sekedar mengayuh beberapa depa. Sejak saat itu, kedua anak lelakinya lah yang menggantikan dirinya pergi melaut untuk mencari ikan agar bisa dijual.
Jiwanya sebagai nelayan memang sudah mendarah daging, Ayahnya, kakeknya, bahkan kakek dari kakeknya adalah nelayan sekaligus petualang ulung yang mampu berkelit setiap kali ombak berusaha menggulung. Bahkan penduduk kampung menaruh hormat atas keberaniannya melawan ombak dan hujan disertai badai ketika ia bersama teman-temannya terperangkap di antara pusaran. Waktu itu, mereka sangat bergairah melihat hasil tangkapan yang melimpah, namun rasa tidak puas membuat mereka terus berlayar semakin menjauh dari area yang biasa mereka jelajahi. Ia sendiri sebenarnya sudah curiga, perubahaan cuaca yang amat drastis membuat hatinya gamang dan memutuskan untuk segera pulang. Tapi keinginan teman-temannya yang sangat bergairah itu tak bisa ia tolak.
Dan benar saja, tiba-tiba badai disertai hujan lebat datang tanpa permisi. Kejadian yang begitu cepat membuatnya tersentak dan segera berbalik arah. Hanya dalam sekejap pusaran air ada di mana-mana. Sementara dibelakang perahunya, semua teman-temannya sangat ketakutan, panik, dan bahkan sampai menangis. Beberapa di antaranya berusaha membuang ikan hasil tangkapan agar beban perahu tidak membuat mereka tenggelam. Penuh sigap, ia segera memimpin barisan paling depan menyusuri jalur pulang, di mana pusaran air ada di sisi kanan kiri perahu mereka. Beberapa kali juga ia dan teman-temannya berjuang menahan gempuran ombak. Sampai pada beberapa saat kemudian, tiba-tiba tubuhnya gemetar hebat ketika melihat sekumpulan bocah nampak asik berlarian di atas permukaan air di bawah guyuran hujan lebat itu. Ia sangat ketakutan sampai menangis sejadinya. Namun ia sadar. Ia tak punya pilihan lain selain terus mengayuh bergerak maju memimpin teman-temannya menuju pulang. Tak dihiraukan lagi beberapa tong ikan hasil tangkapannya yang hanyut entah kemana. Sama seperti teman-temannya juga. Sesampainya di bibir pantai menjelang pagi, mereka segera pulang meninggalkan perahu mereka yang tertambat.
Mirna tersentak melihat wajah suaminya yang nampak pucat pasi berdiri di depan pintu. Bibirnya gemetar entah karena kedinginan atau kehabisan kata-kata atas kejadian yang menimpanya. Sejak saat itulah ia memutuskan untuk tidak melaut lagi. Barangkali pada suatu ketika nanti, entah kapan, ia akan mencoba melaut. Sebab ingatannya belum sepenuhnya padam, wajah bocah-bocah yang berlarian di tengah badai hujan pada saat kejadian itu, mirip dengan wajahnya dan wajah teman-temannya waktu kecil.
MEJA MAKAN.
Apa yang kau tahu tentang meja makan selain tempat bersantap kemudian pergi entah ke mana. Bagiku, meja makan adalah segalanya. Mulai dari bentuknya yang unik ketika aku beli di pasar loak pinggir kota, aroma bau kayunya yang khas, ukirannya, dan tentu saja bentuknya. Di meja makan inilah kami sering berdiskusi banyak hal, bertengkar untuk hal yang kadang sangat sepele, bahkan beberapa kali pernah bercinta di atasnya. Terlebih-lebih istriku, ia sangat telaten merawat meja makan itu dari segala kemungkinan yang bisa menimbulkan kerusakan. Ia lebih suka aku memperbaiki meja makan itu (jika ada yang rusak) daripada menggantinya dengan yang baru. Baginya, meja makan kesayangannya itu seperti tubuhnya sendiri. Dan seiring berjalannya usia, ketika anak-anak kami yang dulunya mungil, kini tumbuh bagai semerbak aroma pagi di meja makan. Istriku yang pandai memasak selalu menyirami serbuk-serbuk doa pada setiap masakan di meja makan sebelum kami santap.
Kini 70 tahun berlalu, tubuh kami menyerupai senja yang memanggil pulang kicau burung kembali ke sarang, atau derap langkah ratusan bebek yang berjejer membentuk barisan panjang beranjak pulang dari pematang sawah, demikianlah untuk terakhir kalinya istriku menutup matanya saat sedang duduk di bangku meja makan. Salah satu keinginannya ingin menyatu dengan meja makan kadangkala sering membuatku melongo. Namun aku hanya mengangguk pelan. Paham apa yang ia mau. Semoga saja anak-anakku tidak protes. Atau kalau perlu, aku rahasiakan rencana ini dari mereka untuk sementara waktu. Akan ada aaatnya mereka akan tahu dan paham akan keinginan kami.
Di penghujung usiaku yang tak lama lagi ini, segera kukumpulkan semua anak-anakku yang telah berpisah dan tinggal dengan keluarga masing-masing. Di meja makan yang telah menjadi ruang berembuk keluarga ini, aku mulai memberi wejangan dan sebuah permintaan terakhir untuk mereka. “Barangkali ini terdengar aneh atau mengerikan buat kalian. Permintaan papa untuk kalian bertiga hanya satu, jika suatu ketika nanti papa meninggal, dan mungkin tidak lama lagi sesuai vonis dokter. Papa minta dikrenasi. Kalian buatkan satu kaki meja yang baru dan masukan abu papa di dalamnya. Sama seperti apa yang papa pernah perbuat usai mama kalian dikremasi. Itu saja. Setelah itu terserah kalian, siapa yang mau ambil meja makan ini.”
Sontak saja ketiga anakku kaget setengah mati. Aku bisa memaklumi dari sorot mata mereka yang tajam penuh selidik. Tidak ada satupun yang menolak Mereka berjanji akan memenuhiku permintaan terakhirku. Dan anakku paling bungsu lah yang ingin menyimpan meja makan kami. Di sela perbincangan kami, sesekali ku elus salah satu kaki meja makan yang telah aku ganti, sambil menyebut nama istriku dalam hati, “Keinginanmu sudah aku penuhi, Lastri. Tinggal satu bagian kaki yang lain untuk tubuhku nanti.”
REMOTE TV.
Ada kejadian luar biasa tadi malam. Untuk pertama kalinya kami melihat Bapak dan ibu bertengkar. Bagi kami anak-anaknya, pemandangan ini terasa sangat janggal karena mereka hampir tidak pernah bertengkar selama ini, apalagi sudah menjurus saling bantah. Padahal perkaranya cukup sepele. Remote TV. Jika kami yang saling berebut barangkali sudah wajar. Mungkin bapak merasa berhak karena ia pikir setelah seharian bekerja di luar rumah, ia lebih berhak santai sejenak sambil menikmati acara kesayangannya yang baru, film sinetron. Ini terdengar sangat janggal di telingaku. Aneh sekali? Sejak kapan bapak suka film sinetron?
Sementara ibu juga tak mau ketinggalan acara talk show yang baru saja jadi bahan perbincangan ibu-ibu tetangga sebelah tadi siang. Segala hal yang baru dan menarik perhatian, sudah tentu ibu tidak mau ketinggalan. Dan jadilah kami asyik menonton mereka di balik tirai kamar. Aksi bagaimana bapak dan ibu saling berusaha menguasai benda yang menjadi maha penting itu di depan televisi itu sangat menggoda tawaku sambil kututup dengan kedua tangan. Dan inilah yang memantik rasa penasaranku sekaligus curiga ada apa dibaliknya. Setelah sekian lama aku selidiki, aku mengambil kesimpulan. Rupanya mereka sama-sama penasaran dengan penampilan mantan kekasihnya masing-masing.
PULANG.
#ceritasatuparagraf
Pagi ini terlihat cerah. Sama seperti suasana hatiku yang begitu hangat usai mengantar suamiku berangkat kerja di depan pintu gerbang. Masak apa hari ini? batinku sambil mengingat jenis masakan apa yang belum pernah aku buat. Adakalanya sesuatu yang direncanakan sering berakhir dengan eksperimen yang tak perlu. Tapi, siapa peduli? Toh suamiku selalu suka apapun yang aku masak. Sampai beberapa saat kemudian, tiba-tiba nampak seorang pengemis cilik datang meminta-minta berdiri di depan pintu gerbang. Hatiku langsung tersentuh melihat wajahnya, lalu segera ku ajak dia masuk lewat pintu dapur dan duduk di bangku meja makan. Awalnya dia nampak malu-malu. Namun setelah melihat ketulusanku, akhirnya dia mau ku ajak. Beberapa saat kuperhatikan wajahnya ketika ia sangat lahap menikmati santapannya. Tiba-tiba saja aku menggigil dan segera berlari ke kamar mandi. Sebuah tanda lahir dibagian lehernya membuatku menangis sejadinya-jadinya. “Ya, Tuhan. Kau bekerja dengan cara misterius. Tidak salah lagi, dia anakku..”
MUDIK.
Aku begitu bersemangat bisa pulang kampung tahun ini. Usahaku yang tak patah arang meluluhkan hati atasanku akhirnya berhasil. Sudah berapa tahun aku tidak menengok orangtuaku? Peduli amat! Namun satu hal yang pasti, aku ingin memberikan hadiah kejutan buat mereka. Meskipun tidak seberapa nilainya, namun kerinduan kami bertahun-tahun harus terobati dengan buah tangan yang aku bawa. Setidaknya bisa membuat suasana rumah di kampung halaman kian dramatis. Kenapa? Aku suka bau hal-hal yang sifatnya dramatis.
Seperti perjalanan ini yang memakan waktu 5 jam namun terasa seperti seminggu lamanya, dan ini termasuk dramatis bagiku. Tidak sabar ingin cepat sampai ke rumah juga sesuatu dramatis menurutku juga. Dramatis adalah bumbu pada setiap suasana baik senang, sedih, marah, bahagia, dll. Kecepatan bis yang stabil justru membuatku terkantuk-kantuk di bangku paling depan. Tak berapa lama kemudian tiba-tiba kenek bis berteriak, aku tergeragap dan segera bangun. Tanpa pikir panjang, aku langsung lompat dari bis. Akhirnya, tiba di kampung halaman membuat hatiku kecut sekaligus dramatis pula. Gapura pintu desa yang berdiri megah nampak terlihat beberapa puluh meter dari tempatku berdiri. Tidak sabar rasanya ingin cepat sampai di rumah. Aku membayangkan betapa terkejutnya orangtuaku melihatku datang tanpa kabar sebelumnya. Namanya saja kejutan, ya harus diam-diam. Tiba-tiba saja timbul rasa geram sesampainya aku di depan gapura pintu masuk menuju desa. “Sial! Seharusnya penulis ini konsultasi denganku. Jangan lancang main ganti halaman baru dalam ceritaku!” batinku sambil kubanting ranselku.h
Kumpulan Fiksimini Bag. VII
1. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TIGA KALI LEBARAN TIDAK PERNAH PULANG. Bang Toyib makin ketagihan.
2. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: SATU JAM SETELAH DIPERIKSA. Aku keluar ruangan, tanpa nama.
3. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: BANJIR PUJIAN. Jiwaku hanyut, entah ke mana.
4. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: SENIN YANG INDAH. Dia ungkapkan cinta. Setelah tahu aku benar-benar patah hati.
5. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TEKADNYA HANYA SATU. Mengumpulkan nekat.
6. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TURUN TAHTA. Mahkota di atas kursi Raja itu tertawa terbahak-bahak.
7. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: DI MEJA MAKAN. “Gulai ayam buatanmu enak sekali, Ratih.” Ibu terharu, Ayah tak salah lagi sebut nama.
8. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PULANG TENGAH MALAM. “Ambil lembur lagi?” “Iya, sampai kasus pembunuhan kita terungkap.”
9. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PENGUMUMAN MENDADAK. “Mohon maaf, pintu teater susah dibuka.” Para penonton mulai cemas menatap layar.
10. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: KURANG MACHO. “Pakai tubuh siapa lagi, ya?”
11. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: BAKAT TERPENDAM. Tiga orang preman terkapar. Sambil berlalu, gadis cilik itu membersihkan tangannya.
12. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: MEMORI PENUH. Satu lagi aplikasi dalam ponselku mengembuskan napas.
13. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: KAPAN NIKAH? Mama duluan, deh.
14. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TERSESAT. “Terus bernyanyi, Nak?” ujar Ibu sambil mencari asal suara adik di dapur.
15. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TAKUT. Tukang martabak bingung saat gerobaknya bergerak mundur. Di tikungan, gerobak tua itu menatap tajam.
16. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: KALAH SAINGAN. Sebisa mungkin aku beranjak keluar dari dalam hatinya, tanpa bersuara.
17. @fiksimini:RT @Harry_Bawole: GERAM. Ibu bergegas menuju kamar 202. Penasaran, siapa yang memakai tubuh suaminya untuk selingkuh.
18. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: DI RUANG KELAS. “Siapa yang bolos hari ini!” | “Dini, Bu. Dia yang selamat dari kecelakaan bis kemarin”.
19. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: DI RUANG PEMERIKSAAN. “Sudah berapa korban yang ditemukan?” | “Baru 3, Pak. | “Suruh dia terus mengupil!”
20.@fiksimini: RT @Harry_Bawole: LOLOS DARI SERANGAN. Hujan bom di mana-mana. Para tentara sembunyi di belakang gadis cilik berpayung itu.
21. @fiksimini: RT @Harry_Bawole : LOLOS SELEKSI “Siapa yang buka pintu belakang?”
22. @fiksimini: RT @Harry_Bawole : MEMASUKI MUSIM KEMARAU Pohon-pohon mulai berkeringat.
23. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PERCOBAAN PERTAMA. “Bagaimana rasanya?” | “Tidak jauh beda waktu kita masih hidup.”
24. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: USAI MENDONGENG. Ibu tersenyum melihat Adik tidur pulas, di dalam buku Cinderella.
25. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: USAI DIKTATOR TUMBANG. Suntikan dana mengalir deras, desa-desa tertinggal bangkit dari dalam tanah.
26. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TEMU KANGEN. Usai palu diketuk, hakim itu turun dari panggung, menghampiri anaknya di kursi pesakitan.
27. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PENGAGUM RAHASIA. Usai biduan dangdut itu bernyanyi, sekeping koin emas meluncur, dari langit.
28. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: SUARA GENTA TUA BERBUNYI. Desaku mendadak sepi.
29. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: “OM, TELOLET OM!” teriak Adik sambil melambaikan tangannya, dari dalam jendela pesawat.
30, @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PROTES. Setelah menerima surat pemotongan gaji, aku segera masuk ke ruangan direktur, menemui istriku.
31. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: NEGOSIASI KIAN ALOT. “Tambah lagi apinya!”
32. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TERLAMBAT 5 MENIT. Tiket bioskop di genggamannya terlepas. Wajahnya merah padam, musuhnya lenyap di dalam layar.
DI MEJA MAKAN.
“Ibu sudah tidak lapar lagi, kalian makan saja duluan,” katanya seraya menatap kami. Sambil berdiri, ia melirik tajam kepada Ayah. Aku bisa membaca matanya. Antara jengkel, benci dan sedih. Sementara Ayah acuh tak acuh sambil mengambil nasi. Semua terjadi karena Ayah salah menyebut namanya. Hal sepele yang ternyata merambat ke mana-mana.
Itulah perselisihan yang terjadi beberapa bulan ini antara Ayah dan Ibu. Kami memang tidak bisa ikut campur. Belakangan ini Ayah sering bertingkah aneh. Aku pernah melihatnya tertawa sendiri di halaman belakang ketika sedang asik ber-sms ria. Dan sudah tentu bukan aku saja yang merasakan, Ibu juga. Seperti juga keributan-keributan di dalam kamar mereka yang bersebelahan dengan kamarku sudah menjadi santapanku setiap malam.
“Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar rumah. Tapi jangan kau kira aku diam saja!”
“Kenapa jadi curiga begitu, sih!”
“Sudah, jangan mengelak. Siapa pun perempuan yang selalu kau sebut-sebut itu, suatu saat aku pasti tahu.”
“Perempuan yang mana?”
“Jangan berlagak polos!”
“Terserah, aku capek. Aku mau tidur di kamar tamu malam ini.”
Setelah itu hening. Hanya suara pintu kamar yang terdengar dibanting.
Suatu pagi, Ibu memanggil kami berdua setelah Ayah berangkat ke kantor.
“Mel, Anne. Ibu mau bicara.”
“Ada apa, Bu?” jawab kami serentak.
“Hari ini dan seminggu ke depan Ibu ada keperluan sebentar. Kalau perlu apa-apa, telepon saja. Ibu sudah minta tolong pembantu tetangga sebelah untuk siapkan makanan di atas meja. Tolong rahasiakan ini dari Ayahmu, ya?”
“Baik, Bu.”
Aku tahu apa yang sedang Ibu lakukan. Tak ada percakapan di meja makan yang berakhir menyenangkan. Ayah yang latah (atau mungkin sedang puber) dan Ibu si pencemburu. Persis seperti kisah dalam novel yang pernah aku baca. Aku pernah bertanya pada Ibu dari hati ke hati. Kenapa ia begitu penasaran hanya karena Ayah salah menyebut nama? Dengan ringan Ibu menjawab, bahwa kejadian di meja makan adalah puncak dari kekesalannya. Jauh sebelum itu, Ayah sering menyebut nama-nama lain selain nama itu ketika sedang tidur. Bukan hanya menyebut nama saja, tapi juga dibalut kata-kata rayuan. Sontak saja aku kaget mendengarnya. Rupanya inilah alasannya mengapa Ibu mulai ambil tindakan. Permainan kucing-kucingan antara mereka juga mewarnai hari-hari kami setiap pagi. Setiap 10 menit setelah Ayah pergi ke kantor, Ibu menyiapkan diri. Dandan sebentar, lalu menghilang. Pernah pada sore hari ketika aku pulang ke rumah, tanpa sengaja aku melewati kamar Ibu. Pintu kamarnya memang sedikit terbuka, aku pikir mungkin Ibu sudah pulang. Begitu aku masuk ke dalam kamarnya, tak ada siapa-siapa. Di atas meja rias, aku melihat banyak gambar sketsa wajah perempuan dan beberapa foto yang aku perkirakan mereka adalah nama-nama yang sering disebutkan Ayah. Entah dari mana Ibu bisa mendapatkan semua itu. Sepertinya Ibu memang sedang membuntuti kegiatan Ayah selama di luar rumah.
Seminggu kemudian.
Sore hari aku dan Anne sedang asyik bermain di taman komplek, nampak dari kejauhan Ibu memanggil kami untuk segera masuk. Katanya, hari ini ia telah membuat masakan spesial.
“Kalian segera mandi. Sebentar lagi Ayah pulang. Ibu ingin membuat kejutan buat Ayahmu di hari ulang tahunnya kali ini.”
“Wah, pantas saja Ibu kelihatan lebih cantik?”
“Hush! Ayo, cepat mandi sana.”
Di dalam kamar mandi, pikiranku melayang. Sambil berharap semoga tidak ada keributan-keributan lagi seperti yang sudah terjadi beberapa minggu ini. Mungkin dengan cara ini, Ibu berhasil meluluhkan hati Ayah.
Malam itu kami berkumpul di meja makan. Sementara itu Ibu nampak terlihat sibuk menyiapkan masakan di dapur. Ayah, aku dan Anne asyik mengobrol sambil menunggu hidangan. Tak lama kemudian Ibu datang membawa semua masakannya ke atas meja. Termasuk cake kecil dengan dua lilin yang membentuk angka dan gulai ayam kesukaan Ayah. Wajah kami berseri-seri, bukan karena masakan, tapi melihat penampilannya yang begitu anggun dan cantik malam ini. Ayah sampai terkesima. Acara pun dimulai. Ibu tahu Ayah sangat menyukai gulai ayam. Ketika ia letakkan masakan itu di hadapannya, tanpa menunggu lebih lama Ayah langsung menyantapnya.
“Wah, masakanmu enak sekali, Ratih!” katanya. Betapa girangnya Ibu mendengar pujian Ayah. Kami berdua menarik napas lega, artinya tidak ada lagi keributan-keributan setelahnya seperti yang pernah terjadi belakangan ini. Ibu memandang kami dengan bibir tersenyum. Wajahnya nampak bahagia sekaligus haru. Acara di meja makan jadi begitu meriah. Sesekali Ayah melontarkan candaan dan terus memuji kecantikan Ibu dan masakannya dihadapan kami. Wajah Ibu nampak berseri.
“Ibu ke belakang sebentar ya, sayang?” katanya sambil berdiri lalu pergi.
Tak lama kemudian, aku ikut pamit mau ke kamar mandi. Di lorong jalan, sayup aku mendengar suara Ibu asyik berbicara melalui ponsel dengan seseorang. Aku dekati dibalik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Penasaran.
“Baiklah. Kirim nomor rekeningmu sekarang. Aku tunggu. Pastikan mereka benar-benar jera dan berjanji tak akan mengganggu suamiku lagi. Besok siang kita bicara di tempat biasa.”
Lututku gemetar. Dari celah pintu yang terbuka, aku mengintip Ibu yang sedang sibuk mengutak-atik ponselnya. Nampak beberapa foto di atas meja yang diberi tanda silang.
RT @Harry_Bawole: DI MEJA MAKAN. “Gulai ayam buatanmu enak sekali, Ratih.” Ibu terharu, Ayah tak salah lagi sebut nama.
Kumpulan Fiksimini Bag. VI
1. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PANGGILAN MENDADAK. “Ada waktu sebentar? Saya mau bicara,” ujar Ibu Direktur. “Tentang perceraian kita?”
2. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: GENTAR. Massa mulai bergerak maju. “Kenapa diam saja?” | “Para perempuan di barisan depan itu ibu kami.”
3. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: KORAN PAGI • Usai membaca, ayah meletakkannya di atas meja. “Sial! Pembunuh kita belum tertangkap, Bu.”
4. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: USAI MENGERJAKAN PR. “Sudah boleh bermain, Bu?” | “Silakan.” Melalui jendela, kami berlarian di atas awan.
5. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PASAR MODAL MULAI MENGGELIAT. Papan angka itu miring sebelah.
6. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PESAN IBU. “Biasakan bilang permisi kalau lewat di depan tamu, Nak. Ibu tak mau lagi ada yang hilang.”
7. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PENUNJUK JALAN. “Di perempatan, langsung belok kiri”. Usai menyampaikan pesan, perempuan itu membuka pahanya.
8. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: LULUH. Umpan ibu dengan sepiring nasi goreng telur akhirnya membuahkan hasil, adik mau keluar dari tubuhku.
9. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: BEBAS TUGAS. “Akhirnya bisa kembali ke dunia nyata,” ujar Menkominfo lega.
10. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: 10 TAHUN BERLALU. Tatapan mata ibu selalu ke langit. Sejak pamor ayah meroket, ia tak pernah pulang.
11. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TERBONGKAR. Di depan wartawan, Polisi itu memajang barang bukti kejahatan tersangka. Termasuk kepalanya.
12. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: KAGET. “Sejak kapan kakakmu mendadak jadi tuli?” | “Tadi siang, Bu. Waktu disapa mantannya.”
13. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TERSESAT. Di simpang jalan, aku dan kompas saling berdebat.
14. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: DESEMBER KEDUA. Boneka salju itu masih juga kedinginan.
15. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: 1000 CANDI. “Ayo Bandung Bondowoso, kamu pasti bisa!” ujar Roro Jonggrang sambil mengikat mulut ayam jantan.
16. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PENASARAN. Ku tunggu martabak keliling itu di tikungan. Aku kenal betul wajahnya, saat malam pertama kami.
17. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: SETELAH SEPULUH TAHUN BERPISAH. Akhirnya, aku dan ibu bertemu dengan adik dan bapak di pembagian angpau.
18. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: ACARA DOA SEMALAM SUNTUK. Di teras, kami berjaga-jaga. Saling curiga.
19. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TIM MAWAR BELUM KEMBALI. Sang Komandan gelisah, ketika melihat gadis cilik itu menggenggam seikat bunga.
20. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: RAYUAN MANIS. Gadis itu terpukau, puluhan mawar berterbangan keluar dari dalam mulut kekasihnya.
PERTEMUAN TERAKHIR.
Kau tahu, sayang? Jauh sebelum kita saling menjatuhkan cinta, aku telah lama menetap dalam ingatanmu. Kutelusuri jejak-jejak yang kau rekam pada setiap moment pulang dan pergi, yang kau sembunyikan dari sepasang lambaian tanganmu. Dan aku semakin paham, perpisahan bagimu hanyalah bayang-bayang, sembunyi dibalik kesedihan.
Menuliskan ini, aku jadi teringat pada sebuah buku puisi yang pernah aku baca. Bukan hanya karena isi buku itu menarik, juga judulnya. “Ciuman Yang Menyelamatkan Dari Kesedihan”. Indah, bukan? Sama seperti yang kita lakukan ketika saling melabuhkan ciuman seminggu yang lalu, pada malam-malam basah, di salah satu sudut kafe yang memutarkan lagu-lagu jazz kesayangan. Dan yang ku ingat, waktu itu kau tersenyum, aku jadi salah tingkah. Sejak saat itu kita sepakat untuk tidak melakukannya lagi.
Seperti pagi ini, entah apa yang merasuki dalam pikiranku, hal-hal sederhana seperti ciuman ternyata bukan saja membuat kita lupa diri, tapi juga sebagai tamparan telak. Ternyata, kita masih saja dibodohi oleh perasaan lama. Perasaan yang seharusnya kita kubur dalam-dalam. Maaf jika aku telah menyeretmu ke dalam khilaf yang sama.
Aku paham pesan terakhir yang kau ucapkan sebelum kita pulang. Sebelum kita kembali ke keluarga kita masing-masing.
Kalimat terakhir yang kau sampaikan akan selalu membekas dalam ingatanku. “Perpisahan hanyalah bayang-bayang, kerap sembunyi dibalik kesedihan.”
#30HariMenulisSuratCinta

