Cerita DSS Setelah UTS

Habis break UTS, setelah sebelumnya belajar teori keputusan secara umum dan juga AHP, sekarang ini hal yang dipelajarin adalah ANP atau Analytical Network Process. Sebetulnya, AHP itu adalah bagian dari ANP yang lebih sederhana. Nah, berarti kebayangkan kalo ANP itu pasti jauh lebih rumit dari AHP. Bedanya ANP dengan AHP adalah kalo AHP itu cuma berbentuk sekedar analisa hierarki aja dari goal utama sampe sub-sub criteria yang terendah, sementara itu ANP ini berbentuk seperti jaringan yang ngehubungin satu criteria dengan alternative ataupun dengan criteria lain. Jadi misalnya kalo kita punya 3 kriteria, setiap criteria ini punya 3 node yang beda-beda satu sama lainnya, trus dari node yang beda criteria itu dimungkinkan untuk punya hubungan. Jadi, pembobotan perbandingannya jauh lebih banyak dari AHP tergantung dari banyaknya hubungan antar objek-objek yang ada di model ini. Pemilihan alternative untuk ANP juga cukup unik, soalnya setiap alternative bisa juga saling mempengaruhi.

Tugas-tugas yang diberikan selama masa-masa setelah UTS ini lumayan sedikit berkurang dibandingkan sebelum UTS. Walau sebenernya tetep lumayan pusing juga sih ngerjainnya. Soalnya pembuatan ANP ini rumit banget apalagi kalo perbandingannya banyak banget. Tugas-tugasnya itu ada nyari jurnal mengenai aplikasi ANP, definisi ANP secara umum sampe penggunaan keputusan dengan menggunakan permodelan. Tentunya dilengkapi dengan resumenya di powerpoint. Selain itu, kita juga dapet tugas bikin model ANP pake Super Decision dari jurnal yang didapat dan juga buat sendiri sesuai keinginan pribadi. Nah, bikin model ini yang makan waktu lumayan banyak soalnya pembobotan yang dilakuin ini banyaknya minta ampun. Walau akhirnya selesai juga sih.

Nah, setelah semua tugas udah selesai saatnya buat ujian DSS. Wah, rada-rada serem juga sih tadinya. Soalnya kan gak ada bayangan ujiannya bakal kayak gimana. Akhirnya saat-saat ujian pun tiba, saya udah nyiapin model AHP dan juga ANP. Walau dalam hati berharap yang keluar AHP, soalnya kalo ANP bakal makan waktu banyak ngerjainnya. Alhamdulillah pas ujian yang keluar itu AHP, kita disuruh bikin criteria baru yang bobotnya 30%. Karena udah cukup lancar kalo masalah AHP gini, saya bisa bikin modelnya jadi punya criteria baru yang bobotnya 30% deh. Akhirnya mata kuliah DSS ini berakhir dengan senang hati soalnya bisa ngerjain ujiannya.

Yah,,, mudah-mudahan aja nanti pas nilainya keluar, dapet nilai A.

Comments (3) »

Tugas Keenam DSS (Expert Choice… Better Understand Now…)

Tugas keenam ini buat file expert choice yang isinya itu pengambilan keputusan dengan 5 kriteria dan masing-masing criteria dibagi lagi jadi 3 sub criteria. Nah, tema yang dibuat ini katanya sih boleh bebas. Jadi, saya buat aja pengambilan keputusan untuk pemilihan film Indonesia terbaik yang bakal dikirim ke piala OSCAR di amerika sana. Alasan knapa saya ngambil tema kayak gini, karena saya seneng banget sama yang namanya film. Jadi sedikit banyak saya taulah detail-detail mengenai proses penjurian dari suatu festival film ataupun data-data teknis mengenai proses pembuatan dan hasil akhir film itu sendiri. Waktu dikelas, saya agak deg-degan juga, takutnya topic yang saya buat ini ga boleh, soalnya awalnya saya kira yang bersifat keteknisan bukan yang sifatnya hiburan. Tapi waktu saya jelasin tugas saya di depan kelas, dan pa Dahyar gak nyuruh ganti topic expert choice yang saya buat tentunya saya seneng banget dong. Ternyata metode pengambilan keputusan ini bisa dibuat untuk segala jenis topic mulai dari topic yang sifatnya ilmiah banget sampe yang hiburan kayak milih film atau bahkan milih pasangan segala seperti yang sering banget pa Dahyar bicarain di kelas.

Comments (13) »

Tugas Kelima DSS – Weighting AHP

Tugas kelima dari kuliah DSS ini mengenai proses pembobotan untuk AHP. Dari sumber-sumber yang saya dapetin, proses pembobotan di AHP itu kebanyakan sangat subjektif dari orang yang menganalisanya. Pembobotan yang dilakukan ini ada beberapa macamnya, kayak pembobotan denga perbandingan angka, perbandingan persentase ataupun perbandingan kualitatifnya. Pembobotan ini gunanya buat menentukan pengambilan keputusan dari hasil akhir yang nantinya didapetin. Oh iya, pembobotan ini salah satu kunci utama keberhasilan dari pengambilan keputusan lho. Jadi, buat pembobotan dari setiap criteria yang ada sebaiknya objektif.

Comments (6) »

Tugas Keempat DSS (Expert Choice.. Apaan nih??)

Minggu ini, tugasnya ada dua. Yang pertama membuat penjelasan mengenai AHP. Karena di tugas sebelumnya saya udah pernah ngebahas mengenai AHP, jadi untuk tugas ini sumbernya gak perlu dicari lagi. Selain itu, pemahaman mengenai AHP jadi semakin bagus dan manteplah. Buat tugas yang kedua itu disuruh cari file expert choice di internet. Nah, awalnya buat nyari file ini susahnya minta ampu.. Sampe-sampe sempet nyari lewat wifi jurusan sampe jam 8 malem tapi belum dapet juga.. Aduh, akhirnya keesokan harinya dapet juga. File yang saya dapetin itu mengenai Analytic Hierarchy Process to Choose Best Research Topic dan Analytic Hierarchy Process to Riparian. Walaupun udah dapet filenya, tapi tetep aja belum tau cara pake expert choice kayak gimana.

Comments (2) »

Tugas Ketiga DSS Kualitatif

Tugas ketiga ini merupakan penggunaan pengambilan keputusan secara kualitatif. Jurnal yang saya dapatkan berisi pengambilan keputusan di rumah sakit yang seringkali membuat pasien sedikit kecewa. Disitu dibahas mengenai perspektif pasien mengenai pengambilan keputusan di rumah sakit. Pengambilan keputusan kualitatif yang digunakan adalah dengan teknik wawancara personal dengan pasien, kemudian hasil wawancara yang dilakukan di analisa oleh pakar-pakar transkip wawancara sehingga hasil wawancara bisa dibuat analisanya. Analisa yang ada ini kemudian dibuat transkip penilaian yang akan menentukan kesimpulan dari penelitian ini. Dari tugas ini, saya dapat gambaran mengenai pengambilan keputusan yang gak semuanya didasarkan sama angka-angka aja.

Comments (1) »

Tugas Kedua DSS… (masih bingung..)

Tugas DSS Kedua, diharuskan menjelaskan mengenai langkah-langkah pengerjaan dari jurnal untuk tugas pertama. Dari jurnal tugas pertama, penjelasan mengenai AHP rada kurang jelas, jadi saya cari lagi bahan referensi lain yang lebih jelas dalam penjelasan mengenai AHP ini. Setelah baca dan buat lagi penjelasan AHP ini, wawasan saya mengenai AHP jadi semakin luas dan jelas. Langkah-langkah penggunaan AHP mulai dari penjabaran masalahnya sampai sintesis penelitian udah saya mengerti dan mulai sedikit kerasa kalo teori buat pengambilan keputusan itu penting banget.

Comments (4) »

Tugas Pertama DSS…

Tugas DSS Pertama, cari jurnal mengenai DSS secara umum. Jurnal yang didapatkan mengenai pengambilan keputusan untuk penempatan waduk air untuk meningkatkan potensi pertanian di daerah Afrika Selatan. Dari jurnal ini, sebetulnya sudah sedikit kebayang, kayak apa sih pengambilan keputusan yang ilmiah itu. Jurnal ini pake metode AHP yang kayaknya paling banyak banget digunain di penelitian-penelitian. Walau habis ngerjain tugas ini masih bingung tentang langkah-langkah pengerjaan metode AHP, tapi tugas ini tetep berguna banget buat pendahuluan mengenai teori keputusan.

Leave a comment »

GIS & ANALYTIC HIERARCHY PROCESS FOR SITING

Jurnal ini dibuat oleh: W.M. Jabr dan F.A. El-Awar

Dalam jurnal ini, sebuah metode digunakan untuk penempatan waduk air dan diaplikasikan pada 300 km2 wilayah Irsal-Libanon untuk, meningkatkan potensi pertanian wilayah tersebut. Pada metode ini digunakan tiga langkah Hydro-Spatial Analytical Hierarchy Process (AHP). Langkah pertama Arc GIS digunakan untuk menghasilkan ulasan mengenai ruang penempatan yang bersangkutan. Lalu dilanjutkan dengan Watershed Modeling System (WMS) untuk mensimulasikan pengurangan batas air. Terakhir pada langkah ketiga, sebuah hierarki keputusan menggunakan AHP digunakan dan diimplementasikan untuk memeringkatkan potensi penempatan waduk berdasarkan tingkat kecocokan mengacu pada Reservoir Suitability Index.

Komponen GIS

            Pertama, semua data mengenai ruang terbuka, analisa dan representasinya dilakukan dengan GIS yang digunakan untuk menghasilkan ulasan mengenai ruang penempatan. Termasuk ke dalamnya yaitu, dasar, topografi, kondisi tanah dan peta pertanahan. Teknik GIS sangat berguna untuk pemilihan lokasi berkaitan dengan kemampuannya dalam hal menyimpan, menganalisa dan menampilkan distribusi data berdasarkan spesifikasi yang diminta oleh penggunanya.

Komponen Hydrological Modeling

            Pada tahap kedua, software WMS digunakan untuk mensimulasikan pengurangan volume air dalam waduk. WMS merupakan model hidrologis yang komprehensif yang menggunakan pendekatan konseptual. Model ini dipilih terutama karena mendukung model Rainfall-Runoff HEC-1. Software ini menyediakan peralatan untuk semua fase permodelan termasuk komputasi parameter geometris, komputasi parameter hidrologis dan analisa pengurangan setiap outletnya. Selama dua bulan, model konseptual yang bukan merupakan data intensif dipilih untuk mengkomputasi budget air (pengurangan langsung, aliran, pencairan salju dan evapotranspirasi) pada tingkatan di bawah waduk.

Komponen AHP

            Langkah terakhir yaitu sebuah hierarki keputusan menggunakan AHP digunakan dan diimplementasikan untuk memeringkatkan potensi penempatan waduk berdasarkan tingkat kecocokan mengacu pada Reservoir Suitability Index. Prosedur penggunaan AHP mengkalkulasikan atribut yang bertujuan untuk memeringkatkan lokasi yang potensial berdasarkan kecocokan untuk penempatan waduk air.

i)              Identifikasi pemilihan kriteria

Untuk factor hidrologi dan geologi, terdapat tiga sub-factor yaitu budget air, topografi dan tipe tanah. Sedangkan untuk factor land cover dari waduk, dua sub-factornya adalah dekatnya dengan lahan pertanian dan area peruntukan tanah.

ii)             Pengembangan struktur hierarki yang memadai

Pemilihan criteria diatur dalam struktur keputusan hierarki multilevel. Level pertama memperlihatkan objektif yang paling utama dari proses keputusan. Kriteria pemilihan utama ditempatkan pada tingkatan kedua dari struktur hierarki. Kriteria utama ini selanjutnya dirinci dan dikategorikan pada subcriteria yang berbeda.

iii)            Penentuan bobot kepentingan setiap subfactors

Kriteria yang dipilih, subkriteria dan kelas atribut dibandingkan satu sama lain untuk menentukan bobot nilai atau relative importance weights (RIW) untuk setiap elemen dari struktur hierarki keputusan. Dibawah ini merupakan tabel skala yang digunakan untuk merepresentasikan derajat pilihan dari pembelajaran kasus serta tabel hasil RIW setelah perbandingan berpasangan dari setiap macam criteria pada setiap tinglatan struktur hierarki.

iv)           Kalkulasi RSI untuk semua lokasi yang diuji untuk semua kontribusi kriteria

v)            Pemeringkatan lokasi berdasarkan hasil kalkulasi

Komputasi nilai RSI dikelompokkan dalam beberapa kelas dan lokasi yang potensial diurutkan berdasarkan kelas RSI. Peringkat yang didapatkan adalah sebagai berikut,

Aplikasi penggunaan metode ini memperlihatkan hasil yang efisien untuk penentuan lokasi waduk. Lebih lanjut, metode ini sangat fleksibel berkenaan dengan nomor, jumlah, tipe, nilai awal dan RIW dari criteria pemilihan untuk setiap waduk. Bagaimanapun pengembanga criteria RIW ini berdasarkan pilihan subjektif para ahli. Kurangnya data historis atau cuaca dan hidrologis menimbulkan penggunaan waktu yang cukup lama untuk analisa dan teknik perkiraan. Namun metode ini tetap menyediakan sebuah alat penilaian untuk pemilihan tempat dalam wilayah yang terpencil.

Comments (3) »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »

Design a site like this with WordPress.com
Get started