Have you ever fallen in love before?
Gue tertegun.
Kalimat ini muncul di halaman paling awal google ketika gue sedang iseng browsing fanfiction selagi gue lagi dalam waktu luang.
Gue berniat mengklik fanfiction itu, tapi kepala gue berhenti berfikir. Seakan-akan waktu berputar terbalik. Seperti jam pasir melupakan gravitasinya dan menerbangkan pasir-pasir waktu kembali ke atas. Gue tersenyum sebentar sambil kembali membaca kalimat tersebut.
Have you ever fallen in love before?
Secara otomatis isi kepala gue menjawab: Yep, For maaaany times.
Tapi di antara ‘for many times’ itu, ada satu yang paling berkesan.
But first, I’ll tell ya somethin’. Gue adalah tipe cewek yang so easy to fall in love with someone. Dan semudah itu juga gue untuk melepas rasa suka gue.
Beberapa kali gue menganggap rasa itu cuma ‘penasaran’. Karena setelah gue menyadari sesuatu yg bisa membuat gue puas, rasa suka itu menguap. Sekiranya itu kata-kata yang paling cocok untuk menggambarkan semudah apa rasa itu hilang.
Tapi gue masih ingat benar, satu kali gue percaya bahwa suka seseorang bisa selama itu dan sesulit itu untuk melupakannya.
Cuma sekali. Dan gue yakin ga akan terjadi lagi. Mungkin.
Seperti yang sebelum-sebelumnya, hal yang bikin gue tertarik dengan cowok spesial ini cukup sepele. Dia bantu gue ngerjain PR Matematika gue pas kelas 10. Dia ga sekelas dengan gue, dan gue lari kesana-kemari mencari jawaban PR Matematika yang cukup bikin gue gila. Dan dia, dia adalah pahlawan gue satu-satunya ketika gue sedang dalam masalah besar saat itu.
Sangat simpel, tapi gue masih inget gimana rasa gugup dan tegangnya gue ketika badannya duduk sangat dekat dengan gue, sampai parfumnya tercium.
Gue tersenyum. “Oh, jatuh cinta lagi?” Begitulah respon hati gue.
Gue masih ga ngerti. Cuma gugup dan tegang, lo langsung menyadari kalau itu cinta?
Ya mungkin begitu.
Gue bukan cewek yang gampang mengingat wajah seseorang, apalagi namanya. Tapi cowok yang satu ini, wangi parfumnya, semacam wangi segar yang sampai sekarang nalar gue bilang itu adalah wangi jeruk, wanginya selalu nempel di hidung gue dan tersimpan di otak gue. Tersimpan sebagai memori ga penting lain yang terpaksa gue inget seumur hidup.
Wangi jeruk itu, wangi yang spesial.
Gue sempat ke toko parfum buat nyari parfum yang mungkin wanginya sama seperti yang dia pakai. Dan gue ga nemu. Gue sempat terkekeh mengingat hal ini. Gue hampir mirip dengan cewek pervie yang cuma mengingat wangi tubuhnya aja. Bukan wajahnya. Gue hampir merasa seperti cewek murah yang mengingat seorang cowok dari wangi tubuhnya.
Aneh ya? Begitulah.
Gue cukup ragu apa gue jatuh cinta dengan dia, atau cuma dengan parfumnya aja.
Suatu hari, gue duduk di angkot seperti biasa, sambil memakai headset dan menyalakan lagu rock kesukaan gue, Guns and Roses – Garden of Eden. Gue melihat ke arah luar jendela sambil ga melihat keadaan sekitar gue sedikit pun.
Tiba-tiba wangi itu menyeruak ke dalam hidung gue lagi.
Otomatis gue menoleh, dan mencari. Wangi yang ga asing itu, wangi yang selama itu tersimpan di dalam memori gue…kini ada di samping gue. Melihat gue dengan wajah heran.
“Lo yang dari kelas sebelah itu kan?”
Gue tertegun. Lidah gue masih kaku untuk menjawabnya.
“I..ya…. yang nyontek matematik lo itu..” Jawab gue. sok cool. Masih ingat benar betapa gue mencoba untuk calm tapi hati gue serasa memberontak.
“Oh ternyata bener, pantes aja gue ga asing liat muka lo..” Katanya sambil menyeringai. Satu lagi yang kini masuk kedalam memori gue secara paksa, menekan seluruh memori-memori lain untuk dibuang keluar, menyeruak masuk di kepala dan menjadi kenangan gue sampai saat ini, senyumnya dengan gigi taring gingsulnya yang menganggu deretan rapih gigi lainnya.
Gue cuma balas senyum. Dan kemudian obrolan mengalir begitu saja, seperti gue terus menghirup wangi parfum jeruknya dan menangkap senyum gigi gingsulnya.
Satu persatu potongan memori itu mulai sepeti puzzle, semakin banyak, namun belum berbentuk. Potongan puzzle pertama berupa wangi parfumnya, kemudian senyum gigi gingsulnya, dan kemudian yang paling indah di antara yang lain, mata kucingnya.
Benar-benar seperti kucing, tajam, tapi lembut dan penuh kemanjaan. Matanya seperti akan menyerang, menerkam, tapi bisa juga hanya akan mengacuhkan. Penuh dengan arti dan tak bisa ditebak. Apa yang dia pikirkan tidak bisa terlihat di matanya, karena dia memantulkan 2 arti di matanya: tertarik atau tidak tertarik. Dan karena itu sampai saat itu, gue belum menemukan jawaban dari pertanyaan simple gue; dia tertarik, atau ga tertarik dengan gue?
Beberapa kalimat mulai sering ‘terpaksa’ masuk di kepala gue, terutama satu pendapat tentangnya dari seorang cewek kelas sebelah; “Dia itu ga keliatan sukanya sama yang mana, banyak yang jadi korban ‘php’ dia, mana dia temen ceweknya banyak, lagi!”
Dari kalimat itu, puzzle-puzzle tentangnya mulai tersusun rapi.
Gue sudah mengingat seperti apa rupanya hingga detailnya di memori gue saat itu, gue sudah hampir menemukan kepingan-kepingan puzzle itu, dan gue sudah mengingat bagaimana sifatnya yang ramah dan sering disalah artikan pada yang lain, cuma satu puzzle yang belum ditemukan; bagaimana pendapat dia tentang gue?
Seketika gue pingin berhenti menyusun puzzle di otak gue.
Gue takut. Gue takut ketika gue tau tentang perasaannya, puzzle yang dicipatakan otak gue akan membuat rasa ‘puas’ di hati gue tumbuh, dan menguapkan rasa sayang dan suka gue yang udah gue jaga selama 5 bulan. Waktu yang cukup lama untuk gue ‘jatuh cinta’.. ga seperti yang sebelumnya yang cuma berakhir dalam waktu kurang dari sebulan.
Dan beberapa saat kemudian, seiring dengan jawaban atas pertanyaan gue terjawab, kepingan puzzle yang hilang itu mau-ga-mau masuk ke dalam kepala gue.
Gue merasa kosong. Hampa. Tapi beda dari yang biasanya, gue merasa sakit.
Dia menggandeng tangan orang lain. Perempuan, pastinya. Dengan senyum khas gigi gingsulnya, mata kucingnya yang seolah ‘hanya menatap padanya’, dan wangi jeruk yang akan ikut menyeruak menyelimuti gadis beruntung itu.
Gue tersenyum.
“Nanti juga hilang..” Batin gue.
Tapi sakit itu masih ada.
Beberapa kali gue terpaksa menumpahkan air mata gue ke bantal tidur gue. Gue memang sering nangis, tapi air mata ini cukup asing buat gue.
Puzzlenya udah lengkap. Terus gimana?
Harusnya rasa ini ikut menguap. Seperti yang dulu-dulu itu.
Tapi kenapa yang ini masih susah dihilangkan?
Apa karena kepingan puzzle yang sulit didapatkan?
Dan gue merasa, puzzle ini ga cukup lengkap untuk bikin gue puas. Apa yang bikin gue puas? Jadi pacarnya? Jadi orang yang dia cintai?
Otak gue memberontak, “Jangan egois, hidup ini bukan drama, bukan sinetron, jangan di persulit, kalau memang bukan elo orang yang dia sayang, mau gimana lagi? Terima yang ada aja lah.”
Hati gue pun terselamatkan kembali.
Meskipun bekas lukanya masih ada di hati, tapi paling ga gue udah bersifat realistis untuk yang ini.
Kisah yang simple, tapi harum jeruknya masih ga bisa terlupakan. Terlanjur di telan mentah-mentah oleh kenangan. Meresap. Pahit. Namun berarti. Karena belum ada lagi puzzle yang bisa gue rangkai seindah itu.
Have you ever fallen in love before?
————————————————————————————–
Oke, ini bukan cerita tentang gue tapi gue mencoba untuk jadi orang lain, tapi seenggaknya, cara gue jatuh cinta ga beda dengan karakter di cerpen gue diatas. gue secara ga sengaja ‘menyusun’ puzzle memori gue tentang orang itu. terus tersusun sampai rapih, dan kemudian bingung mau di apain lagi.
Coba komen dong di post ini, have you ever fallen in love before? 😉